Author: Perawanku

  • Titipan Berhadiah Khusus

    Titipan Berhadiah Khusus


    492 views

    Cerita Sex ini berjudulTitipan Berhadiah KhususCerita Dewasa,Cerita Hot,Cmerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Namaku Karina, usiaku 17 tahun dan aku adalah anak kedua dari pasangan Menado-Sunda. Kulitku putih, tinggi sekitar 168 cm dan berat 50 kg. Rambutku panjang sebahu dan ukuran dada 36B. Dalam keluargaku, semua wanitanya rata-rata berbadan seperti aku, sehingga tidak seperti gadis-gadis lain yang mendambakan tubuh yang indah sampai rela berdiet ketat. Di keluarga kami justru makan apapun tetap segini-segini saja.

    Suatu sore dalam perjalanan pulang sehabis latihan cheers di sekolah, aku disuruh ayah mengantarkan surat-surat penting ke rumah temannya yang biasa dipanggil Om Robert. Kebetulan rumahnya memang melewati rumah kami karena letaknya di kompleks yang sama di perumahan elit selatan Jakarta.

    Om Robert ini walau usianya sudah di akhir kepala 4, namun wajah dan gayanya masih seperti anak muda. Dari dulu diam-diam aku sedikit naksir padanya. Habis selain ganteng dan rambutnya sedikit beruban, badannya juga tinggi tegap dan hobinya berenang serta tenis. Ayah kenal dengannya sejak semasa kuliah dulu, oleh sebab itu kami lumayan dekat dengan keluarganya.

    Kedua anaknya sedang kuliah di Amerika, sedang istrinya aktif di kegiatan sosial dan sering pergi ke pesta-pesta. Ibu sering diajak oleh si Tante Mela, istri Om Robert ini, namun ibu selalu menolak karena dia lebih senang di rumah.

    Dengan diantar supir, aku sampai juga di rumahnya Om Robert yang dari luar terlihat sederhana namun di dalam ada kolam renang dan kebun yang luas. Sejak kecil aku sudah sering ke sini, namun baru kali ini aku datang sendiri tanpa ayah atau ibuku. Masih dengan seragam cheers-ku yang terdiri dari rok lipit warna biru yang panjangnya belasan centi diatas paha, dan kaos ketat tanpa lengan warna putih, aku memencet bel pintu rumahnya sambil membawa amplop besar titipan ayahku.

    Ayah memang sedang ada bisnis dengan Om Robert yang pengusaha kayu, maka akhir-akhir ini mereka giat saling mengontak satu sama lain. Karena ayah ada rapat yang tidak dapat ditunda, maka suratnya tidak dapat dia berikan sendiri.

    Seorang pembantu wanita yang sudah lumayan tua keluar dari dalam dan membukakan pintu untukku. Sementara itu kusuruh supirku menungguku di luar.
    Ketika memasuki ruang tamu, si pembantu berkata, “Tuan sedang berenang, Non. Tunggu saja di sini biar saya beritahu Tuan kalau Non sudah datang.”
    “Makasih, Bi.” jawabku sambil duduk di sofa yang empuk.

    Sudah 10 menit lebih menunggu, si bibi tidak muncul-muncul juga, begitu pula dengan Om Robert. Karena bosan, aku jalan-jalan dan sampai di pintu yang ternyata menghubungkan rumah itu dengan halaman belakang dan kolam renangnya yang lumayan besar. Kubuka pintunya dan di tepi kolam kulihat Om Robert yang sedang berdiri dan mengeringkan tubuh dengan handuk.

    “Ooh..” pekikku dalam hati demi melihat tubuh atletisnya terutama bulu-bulu dadanya yang lebat, dan tonjolan di antara kedua pahanya.
    Wajahku agak memerah karena mendadak aku jadi horny, dan payudaraku terasa gatal. Om Robert menoleh dan melihatku berdiri terpaku dengan tatapan tolol, dia pun tertawa dan memanggilku untuk menghampirinya.

    “Halo Karin, apa kabar kamu..?” sapa Om Robert hangat sambil memberikan sun di pipiku.
    Aku pun balas sun dia walau kagok, “Oh, baik Om. Om sendiri apa kabar..?”
    “Om baik-baik aja. Kamu baru pulang dari sekolah yah..?” tanya Om Robert sambil memandangku dari atas sampai ke bawah.
    Tatapannya berhenti sebentar di dadaku yang membusung terbungkus kaos ketat, sedangkan aku sendiri hanya dapat tersenyum melihat tonjolan di celana renang Om Robert yang ketat itu mengeras.

    “Iya Om, baru latihan cheers. Tante Mella mana Om..?” ujarku basa-basi.
    “Tante Mella lagi ke Bali sama teman-temannya. Om ditinggal sendirian nih.” balas Om Robert sambil memasang kimono di tubuhnya.
    “Ooh..” jawabku dengan nada sedikit kecewa karena tidak dapat melihat tubuh atletis Om Robert dengan leluasa lagi.
    “Ke dapur yuk..!”

    “Kamu mau minum apa Rin..?” tanya Om Robert ketika kami sampai di dapur.
    “Air putih aja Om, biar awet muda.” jawabku asal.
    Sambil menunggu Om Robert menuangkan air dingin ke gelas, aku pindah duduk ke atas meja di tengah-tengah dapurnya yang luas karena tidak ada bangku di dapurnya.
    “Duduk di sini boleh yah Om..?” tanyaku sambil menyilangkan kaki kananku dan membiarkan paha putihku makin tinggi terlihat.
    “Boleh kok Rin.” kata Om Robert sambil mendekatiku dengan membawa gelas berisi air dingin.

    Namun entah karena pandangannya terpaku pada cara dudukku yang menggoda itu atau memang beneran tidak sengaja, kakinya tersandung ujung keset yang berada di lantai dan Om Robert pun limbung ke depan hingga menumpahkan isi gelas tadi ke baju dan rokku.
    “Aaah..!” pekikku kaget, sedang kedua tangan Om Robert langsung menggapai pahaku untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
    “Aduh.., begimana sih..? Om nggak sengaja Rin. Maaf yah, baju kamu jadi basah semua tuh. Dingin nggak airnya tadi..?” tanya Om Robert sambil buru-buru mengambil lap dan menyeka rok dan kaosku.

    Aku yang masih terkejut hanya diam mengamati tangan Om Robert yang berada di atas dadaku dan matanya yang nampak berkonsentrasi menyeka kaosku. Putingku tercetak semakin jelas di balik kaosku yang basah dan hembusan napasku yang memburu menerpa wajah Om Robert.
    “Om.. udah Om..!” kataku lirih.

    Dia pun menoleh ke atas memandang wajahku dan bukannya menjauh malah meletakkan kain lap tadi di sampingku dan mendekatkan kembali wajahnya ke wajahku dan tersenyum sambil mengelus rambutku.

    “Kamu cantik, Karin..” ujarnya lembut.

    Aku jadi tertunduk malu tapi tangannya mengangkat daguku dan malahan menciumku tepat di bibir. Aku refleks memejamkan mata dan Om Robert kembali menciumku tapi sekarang lidahnya mencoba mendesak masuk ke dalam mulutku.

    Aku ingin menolak rasanya, tapi dorongan dari dalam tidak dapat berbohong. Aku balas melumat bibirnya dan tanganku meraih pundak Om Robert, sedang tangannya sendiri meraba-raba pahaku dari dalam rokku yang makin terangkat hingga terlihat jelas celana dalam dan selangkanganku.

    Ciumannya makin buas, dan kini Om Robert turun ke leher dan menciumku di sana. Sambil berciuman, tanganku meraih pengikat kimono Om Robert dan membukanya. Tanganku menelusuri dadanya yang bidang dan bulu-bulunya yang lebat, kemudian mengecupnya lembut. Sementara itu tangan Om Robert juga tidak mau kalah bergerak mengelus celana dalamku dari luar, kemudian ke atas lagi dan meremas payudaraku yang sudah gatal sedari tadi.

    Aku melenguh agak keras dan Om Robert pun makin giat meremas-remas dadaku yang montok itu. Perlahan dia melepaskan ciumannya dan aku membiarkan dia melepas kaosku dari atas. Kini aku duduk hanya mengenakan bra hitam dan rok cheersku itu. Om Robert memandangku tidak berkedip. Kemudian dia bergerak cepat melumat kembali bibirku dan sambil french kissing, tangannya melepas kaitan bra-ku dari belakang dengan tangannya yang cekatan.

    Kini dadaku benar-benar telanjang bulat. Aku masih merasa aneh karena baru kali ini aku telanjang dada di depan pria yang bukan pacarku. Om Robert mulai meremas kedua payudaraku bergantian dan aku memilih untuk memejamkan mata dan menikmati saja. Tiba-tiba aku merasa putingku yang sudah tegang akibat nafsu itu menjadi basah, dan ternyata Om Robert sedang asyik menjilatnya dengan lidahnya yang panjang dan tebal. Uh.., jago sekali dia melumat, mencium, menarik-narik dan menghisap-hisap puting kiri dan kananku.

    Tanpa kusadari, aku pun mengeluarkan erangan yang lumayan keras, dan itu malah semakin membuat Om Robert bernafsu.
    “Oom.. aah.. aah..!”
    “Rin, kamu kok seksi banget sih..? Om suka banget sama badan kamu, bagus banget. Apalagi ini..” godanya sambil memelintir putingku yang makin mencuat dan tegang.
    “Ahh.., Om.. gelii..!” balasku manja.

    “Sshh.. jangan panggil ‘Om’, sekarang panggil ‘Robert’ aja ya, Rin. Kamu kan udah gede..” ujarnya.
    “Iya deh, Om.” jawabku nakal dan Om Robert pun sengaja memelintir kedua putingku lebih keras lagi.
    “Eeeh..! Om.. eh Robert.. geli aah..!” kataku sambil sedikit cemberut namun dia tidak menjawab malahan mencium bibirku mesra.

    Entah kapan tepatnya, Om Robert berhasil meloloskan rok dan celana dalam hitamku, yang pasti tahu-tahu aku sudah telanjang bulat di atas meja dapur itu dan Om Robert sendiri sudah melepas celana renangnya, hanya tinggal memakai kimononya saja. Kini Om Robert membungkuk dan jilatannya pindah ke selangkanganku yang sengaja kubuka selebar-lebarnya agar dia dapat melihat isi vaginaku yang merekah dan berwarna merah muda.

    Kemudian lidah yang hangat dan basah itu pun pindah ke atas dan mulai mengerjai klitorisku dari atas ke bawah dan begitu terus berulang-ulang hingga aku mengerang tidak tertahan.
    “Aeeh.. uuh.. Rob.. aawh.. ehh..!”
    Aku hanya dapat mengelus dan menjambak rambut Om Robert dengan tangan kananku, sedang tangan kiriku berusaha berpegang pada atas meja untuk menopang tubuhku agar tidak jatuh ke depan atau ke belakang.

    Badanku terasa mengejang serta cairan vaginaku terasa mulai meleleh keluar dan Om Robert pun menjilatinya dengan cepat sampai vaginaku terasa kering kembali. Badanku kemudian direbahkan di atas meja dan dibiarkannya kakiku menjuntai ke bawah, sedang Om Robert melebarkan kedua kakinya dan siap-siap memasukkan penisnya yang besar dan sudah tegang dari tadi ke dalam vaginaku yang juga sudah tidak sabar ingin dimasuki olehnya.

    Perlahan Om Robert mendorong penisnya ke dalam vaginaku yang sempit dan penisnya mulai menggosok-gosok dinding vaginaku. Rasanya benar-benar nikmat, geli, dan entah apa lagi, pokoknya aku hanya memejamkan mata dan menikmati semuanya.
    “Aawww.. gede banget sih Rob..!” ujarku karena dari tadi Om Robert belum berhasil juga memasukkan seluruh penisnya ke dalam vaginaku itu.
    “Iyah.., tahan sebentar yah Sayang, vagina kamu juga sempitnya.. ampun deh..!”
    Aku tersenyum sambil menahan gejolak nafsu yang sudah menggebu.

    Akhirnya setelah lima kali lebih mencoba masuk, penis Om Robert berhasil masuk seluruhnya ke dalam vaginaku dan pinggulnya pun mulai bergerak maju mundur. Makin lama gerakannya makin cepat dan terdengar Om Robert mengerang keenakan.
    “Ah Rin.. enak Rin.. aduuh..!”
    “Iii.. iyaa.. Om.. enakk.. ngentott.. Om.. teruss.. eehh..!” balasku sambil merem melek keenakan.

    Om Robert tersenyum mendengarku yang mulai meracau ngomongnya. Memang kalau sudah begini biasanya keluar kata-kata kasar dari mulutku dan ternyata itu membuat Om Robert semakin nafsu saja.

    “Awwh.. awwh.. aah..!” orgasmeku mulai lagi.

    Tidak lama kemudian badanku diperosotkan ke bawah dari atas meja dan diputar menghadap ke depan meja, membelakangi Om Robert yang masih berdiri tanpa mencabut penisnya dari dalam vaginaku. Diputar begitu rasanya cairanku menetes ke sela-sela paha kami dan gesekannya benar-benar nikmat.

    Kini posisiku membelakangi Om Robert dan dia pun mulai menggenjot lagi dengan gaya doggie style. Badanku membungkuk ke depan, kedua payudara montokku menggantung bebas dan ikut berayun-ayun setiap kali pinggul Om Robert maju mundur. Aku pun ikut memutar-mutar pinggul dan pantatku. Om Robert mempercepat gerakannya sambil sesekali meremas gemas pantatku yang semok dan putih itu, kemudian berpindah ke depan dan mencari putingku yang sudah sangat tegang dari tadi.

    “Awwh.. lebih keras Om.. pentilnya.. puterr..!” rintihku dan Om Robert serta merta meremas putingku lebih keras lagi dan tangan satunya bergerak mencari klitorisku.
    Kedua tanganku berpegang pada ujung meja dan kepalaku menoleh ke belakang melihat Om Robert yang sedang merem melek keenakan. Gila rasanya tubuhku banjir keringat dan nikmatnya tangan Om Robert di mana-mana yang menggerayangi tubuhku.

    Putingku diputar-putar makin keras sambil sesekali payudaraku diremas kuat. Klitorisku digosok-gosok makin gila, dan hentakan penisnya keluar masuk vaginaku makin cepat. Akhirnya orgasmeku mulai lagi. Bagai terkena badai, tubuhku mengejang kuat dan lututku lemas sekali. Begitu juga dengan Om Robert, akhirnya dia ejakulasi juga dan memuncratkan spermanya di dalam vaginaku yang hangat.

    “Aaah.. Riin..!” erangnya.

    Om Robert melepaskan penisnya dari dalam vaginaku dan aku berlutut lemas sambil bersandar di samping meja dapur dan mengatur napasku. Om Robert duduk di sebelahku dan kami sama-sama masih terengah-engah setelah pertempuran yang seru tadi.

    “Sini Om..! Karin bersihin sisanya tadi..!” ujarku sambil membungkuk dan menjilati sisa-sisa cairan cinta tadi di sekitar selangkangan Om Robert.
    Om Robert hanya terdiam sambil mengelus rambutku yang sudah acak-acakan. Setelah bersih, gantian Om Robert yang menjilati selangkanganku, kemudian dia mengumpulkan pakaian seragamku yang berceceran di lantai dapur dan mengantarku ke kamar mandi.

    Setelah mencuci vaginaku dan memakai seragamku kembali, aku keluar menemui Om Robert yang ternyata sudah memakai kaos dan celana kulot, dan kami sama-sama tersenyum.

    “Rin, Om minta maaf yah malah begini jadinya, kamu nggak menyesal kan..?” ujar Om Robert sambil menarik diriku duduk di pangkuannya.
    “Enggak Om, dari dulu Karin emang senang sama Om, menurut Karin Om itu temen ayah yang paling ganteng dan baik.” pujiku.
    “Makasih ya Sayang, ingat kalau ada apa-apa jangan segan telpon Om yah..?” balasnya.
    “Iya Om, makasih juga yah permainannya yang tadi, Om jago deh.”
    “Iya Rin, kamu juga. Om aja nggak nyangka kamu bisa muasin Om kayak tadi.”
    “He.. he.. he..” aku tersipu malu.

    “Oh iya Om, ini titipannya ayah hampir lupa.” ujarku sambil buru-buru menyerahkan titipan ayah pada Om Robert.
    “Iya, makasih ya Karin sayang..” jawab Om Robert sambil tangannya meraba pahaku lagi dari dalam rokku.
    “Aah.. Om, Karin musti pulang nih, udah sore.” elakku sambil melepaskan diri dari Om Robert.
    Om Robert pun berdiri dan mencium pipiku lembut, kemudian mengantarku ke mobil dan aku pun pulang.

    Di dalam mobil, supirku yang mungkin heran melihatku tersenyum-senyum sendirian mengingat kejadian tadi pun bertanya.
    “Non, kok lama amat sih nganter amplop doang..? Ditahan dulu yah Non..?”
    Sambil menahan tawa aku pun berkata, “Iya Pak, dikasih ‘wejangan’ pula..”
    Supirku hanya dapat memandangku dari kaca spion dengan pandangan tidak mengerti dan aku hanya membalasnya dengan senyuman rahasia. He..he..he..

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Cerita Sex Lagi Belajar Ngentot

    Cerita Sex Lagi Belajar Ngentot


    39 views

    Perawanku – Aku anak tunggal namaku Dani umruku saat ini 17 tahun aku duduk di bangku SMU swasta di kotaku, sering aku tinggal di rumah sendirian diman Bapakku adalah pengusaha sukses yang cukup sibuk dalam mengelola bisnisnya skadang ibuku juga ikut bersama bapak.

    Aku akan berbgai pengalaman pertama hubungan seks dengan wanita dan ini untuk pertama kalinya, aku
    tinggal di komplek kelas menengah di sampingku rumah di diami oleh kepala RT orangnya cukup
    berpengaruh di komplek tersebut.

    Umurnya sekitar 60 tahun. tapi masih kelihatan gagah. Pak RT mempunyai dua orang istri. Yang pertama
    namanya Tante Is, wanita keturunan arab, kulitnya hitam manis, bodinya langsing. Meskipun usianya
    sudah 40-an, Tante Is masih kelihatan cantik, dia sangat pintar merawat diri.

    Dengan Tante Is, Pak RT mempunyai dua orang putri yang cantik-cantik, yang sulung namanya Erni
    sedangkan adiknya namanya Ana, umur keduanya hampir sebaya denganku. Istri keduanya namanya Tante
    Rena, orang Bandung, kulitnya putih bersih.

    Wajahnya mirip bintang sinetron Titi Kamal. Bodynya aduhai, montok, padat berisi. Mungkin karena dia
    sering fitness, apalagi Tante Rena senang berpakaian sexy yang menonjolkan lekuk-lekuk tubuhnya.
    Membuat laki-laki yang memandangnya terangsang dan ngeres.

    Tante Rena orangnya supel dan pintar bergaul, sering dia ngobrol-ngobrol dengan anak muda seusiaku,
    termasuk aku.  Agen Obat Kuat Pasutri

    Kejadian ini bermula ketika orang tuaku pergi seminggu keluar kota untuk keperluan bisnisnya. Aku
    ditinggal sendirian dirumah. Sedangkan pembantuku dipecat ibuku tiga hari sebelumnya karena ketahuan
    mencuri uang ibuku. aku yang sendirian merasa kesepian.

    Aku duduk diruang tamu sambil berkhayal. Untuk menghilangkan kesepianku, kuputar VCD porno yang baru
    aku pinjam dari temanku. Filmnya tentang seorang cewek bule yang sedang disetubuhi dua orang negro.

    Satu orang negro sedang dikulum kontolnya, sedangkan yang satunya lagi sedang ngentot cewek bule itu
    dari belakang dengan posisi nungging. Sekitar 20 menit mereka berganti posisi, satu orang negro sedang
    rebahan diranjang sambil memasukkan kontolnya kelubang anus cewek bule itu, yang telentang diatasnya.

    Sedangkan negro yang satunya lagi sedang menggenjot vagina cewek itu. Desahan dan erangan mereka
    membuatku terangsang. Kuraba-raba celana pendekku (aku sudah tidak pakai celana dalam), kontolku
    mengeras.

    Semakin lama kuraba semakin keras. Kukocok-kocok naik turun. Birahiku memuncak ingin disalurkan, tapi
    aku tidak tahu harus kemana menyalurkannya.

    “Lagi ngapain Dan?” suara seorang wanita mengejutkanku.

    Cerita Sex Lagi Belajar Ngentot

    Cerita Sex Lagi Belajar Ngentot

    Ternyata Tante Rena sudah berdiri disamping pintu. Dia berpakaian sangat sexy, dengan kaos ketat dan
    rok super mini. Dia memandang karah celanaku. Saking terkejutnya aku lupa menaikkan celanaku, sehingga
    dia dengan bebas bisa melihat kontolku yang sedang tegang penuh, mengacung-acung.

    “Maaf.. maaf.. Tante” sahutku terbata-bata.

    “Akh, nggak apa-apa kok, kamu khan udah gede”.

    “Wah, kontolmu gede banget, udah pernah dimasukkin kevaginanya cewek belum?” tanyanya cuek.

    “Be.. belum pernah Tante” sahutku.

    “Mau nggak dimasukin ke punya Tante?, Tante pingin nih ngerasain kontolmu” katanya meminta.
    Kemudian dia menutup pintu dan menguncinya. Dia berjalan mendekat kearahku. Duduk disampingku.

    “Tapi saya belum pernah Tante” jawabku.

    “Tante ajarin, mau khan?” katanya sedikit memaksa.

    Tanpa menunggu jawabanku, dia menaikkan kedua kakinya kepangkuanku. Tangannya meraba-raba kontolku,
    aku gemetar. Baru kali ini kontolku dipegang seorang wanita. Dia mendekatkan wajahnya kewajahku,
    diciumnya bibirku.

    Lidahku diisapnya. Aku membalas isapannya. Lidahku dan lidahnya tumpang, tindih saling isap. sesekali
    isapannya diarahkan keleherku. ditariknya tanganku, diletakannya dikedua buah dadanya yang sudah
    mengeras.

    Kuremas-remas buah dadanya, dia menggelinjang keenakan. Kutarik kaos ketatnya, aku terperangah, dia
    tidak memakai BH, buah dadanya padat dan kenyal. Kulepaskan isapan lidahnya, kuisap buah dadanya, dia
    melenguh, sambil tangannya terus mengocok-ngocok kontolku.

    Beberapa menit berlalu, dia berdiri, lalu melepaskan rok mininya. Maka terpampanglah pemandangan yang
    luar biasa. Aku bisa melihat dengan jelas vaginanya yang merah merekah, sangat indah. dicukur rapi dan
    bersih.

    Kemudian dia berlutut dilantai, dihadapanku. Wajahnya didekatkan keselangkanganku. Ditariknya celana
    pendekku. Bibirnya mendekati kepala kontolku, dan mulai menjilati kepala kontolku, terus kepangkalnya.

    “Akkh.. aow.. oohh.. nikmat Tante, enakk.. sekali” aku mengerang ketika dia mulai mengulum kontolku.

    Hampir seluruh batang kontolku masuk kemulutnya yang sexy. Kontolku keluar masuk dimulutnya. Nikmat
    sekali. Tak ketinggalan, buah pelirkupun diseruputnya. Puas mengulum kontolku, kemudian Tante Rena
    berdiri dihadapanku.

    Vaginanya berada pas diwajahku. Dia menarik kepalaku, mendekatkannya pada vaginanya. Aku mengerti
    maksudnya, minta dijilati vaginanya. Kujulurkan lidahku. Aku mulai dengan menjilati pangkal pahanya,
    terus mendekati bibir vaginanya.

    “Aow.. oohh.. nikmat.. sayang, teruss.. terus” dia mendesah-desah ketika aku memasukkan lidahku ke
    lubang vaginanya.

    Kusedot-sedot, kugigit-gigit kelentitnya. Dijepitnya kepalaku. Hampir seluruh isi vaginanya kujilati,
    vaginanya basah.

    “Akkhh.. akuu.. nggak kuatt.. sayang, kita mulai aja” ajaknya. cerita hot tante

    Dia menurunkan tubuhnya perlahan-lahan kepangkuanku. Dipegangnya kontolku, diarahkannya tepat kelubang
    vaginanya. Dia mulai memasukkan kontolku sedikit demi sedikit. Semakin lama semakin dalam.

    Sudah setengah batang kontolku masuk. Sampai disini dia berhenti sejenak mengatur posisi. Kakinya
    berlutut disofa. Aku tak mau ketinggal, kuambil kesempatan. Kusodokkan kontolku.

    Dia menjerit ketika kontolku amblas dilubang vaginanya. Dia mulai menaikturunkan pantatnya
    dipangkuanku. Kontolku serasa dijepit dan dipijit-pijit lubang vaginanya yang sempit.

    “Gimana sayang enak khan?” tanyanya.

    “Enakk sekali Tante, vagina Tante sempit sekali” jawabku.

    “Sudah lama sekali Tante tidak merasakannya sayang”.

    “Pak RT tak pernah memberiku kepuasan” dia menggerutu.

    “Emangnya Pak RT impoten Tante?” tanyaku.

    “Iya, iya sayang” jawabnya singkat.

    Kupeluk pinggangnya erat-erat. Bibirku menghisap-hisap buah dadanya. Kubantu gerakkannya dengan
    menyodok-nyodokan pantatku keatas. Dia mengerang-erang merasakan nikmat. Matanya merem melek.

    Semakin lama semakin cepat dia menggerak-gerakkan pantatnya, sesekali pantatnya diputar-putar. Aku
    merasakan nikmat yang tiada tara. Kontolku serasa dipelintir vaginanya. Sudah sekitar 30 menit kami
    berpacu dalam kenikmatan. Nafasnya dan nafasku saling memburu. Peluh kami bercucuran.

    “Akh.. oohh.. aku tidak kuat sayang, akuu.. mauu.. keluarr” dia menjerit-jerit.

    Kurasakan vaginanya berkedut-kedut.

    “Akuu.. juga Tante” sahutku ngos-ngosan.

    “Keluarin didalem aja sayang, aku ingin punya anak darimu” pintanya memelas.

    Crott! Crott! Crott! Aku menumpahkan sperma yang sangat banyak di lubang vaginanya.

    “Kamu puas khan sayang?” tanyanya.

    “Puas sekali Tante” sahutku pendek.

    Kami beristirahat sejenak. Kemudian kekamar mandi untuk membersihkan badan. Siraman air membuat
    badanku segar kembali.

    “Aku pingin lagi sayang, kamu mau khan?” tanyanya meminta..

    Aku tidak menjawabnya. Kubopong tubuhnya, kubawa kekamarku dan kurebahkan diranjangku. aku merangkak
    diatas tubuhnya dengan posisi ssungsang. Selangkanganku berada diatas wajahnya, sedangkan wajahku
    tepat diatas vaginanya.

    Aku mulai menjilati dinding vaginanya. Dia menggerinjal-gerinjal dan menjepit kepalaku. Seluruh
    dinding vaginanya kujilati. Kucari-cari tititnya. Kusedot-sedot dengan lidahku. Sesekali kugigit. Dia
    meringis.

    Dengan jari-jariku kutusuk-tusuk lubang anusnya. Sesekali kujilati lubang anusnya. Tante Rena tak mau
    ketinggalan. Dia menjilati kontolku, dari kepala sampai pangkal kontolku tak luput dari jilatannya.

    Sstt! Aku mendesah ketika dia mengulum kontolku. Dia sangat lihai memainkan lidahnya. Kontolku yang
    tadi mengecil, sedikit demi sedikit mengeras didalam mulutnya. luar biasa kenikmatan yang kudapatkan.
    Tante Rena memang benar-benar profesional. Seluruh batang kontolku dijilatinya.

    “Oohh.. aku tidak tahan sayang, kita mulai aja” pintanya.

    Kuturunkan tubuhku dari tubuhnya. Aku berdiri dipinggir ranjang. Kutarik tubuhnya kepinggir, hingga
    kedua kakinya menjuntai. Aku mendekatkan kontolku kelubang vaginanya. Sedikit demi sedikit kontolku
    masuk kelubang vaginanya.

    Sstt! Dia mendesis. Sudah seluruh batang kontolku amblas ditelan lubang vaginanya yang basah dan
    memerah. Kugoyang-goyangkan pantatku. Tante Rena membantuku dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya. aku
    merasakan sensasi yang luar biasa. 10 menit berlalu, kuganti posisi. Kutarik kontolku. Kakinya
    kunaikkan keduanya. Aku memasukkannya lagi. Dan mulai menggenjotnya.

    “Akhh.. akuu.. mauu.. keluarr.. sayang” dia mengerang.

    Vaginanya berkedut-kedut. Vaginanya menjepit kontolku.

    “Akhh.. aku keluarr.. sayang” dia melenguh.

    kurasakan vaginanya basah oleh cairan. Tante Rena telah mencapai orgasme sedangkan aku belum apa-apa.
    Kubalikkan tubuhnya. Kuminta dia menungging. dia menuruti aja perintahku. Kudekatkan kontolku yang
    masih tegang ke lubang anusnya.

    “Kamu mau apain anusku sayang” tanyanya ketika kepala kontolku menyentuh lubang anusnya.

    “Jangan, jangan di lubang itu sayang, sakit” teriaknya.

    Aku tidak mempedulikannya. Kumasukkan kepala kontolku kelubang anusnya. Mulanya agak susah tapi
    akhirnya masuk juga. Kutekan pelan-pelan hingga seluruh batang kontolku amblas. Aku mulai menggerakkan
    pantatku maju mundur. Kutuk-tusuk lubang anusnya.

    “Oohh.. enakk.. sayang, kamu pintar” pujinya ketika dia sudah mulai merasakan nikmatnya disodomi.

    Sekitar 30 menit kontolku keluar masuk dilubang anusnya. Kurasakan kontolku berkedut-kedut.
    “Akkhh.. aku mau keluarr.. Tante” aku berteriak histeris.

    Crott! Crott! Crott! Kutumpahkan spermaku lubang anusnya. Kudiamkan beberapa saat. Lalu kutarik
    kontolku. Kuarahkan ke wajahnya. Kuminta dia menjilati spermaku. Dengan lahapnya Tante Rena menjilati
    sisa-sisa spermaku, sampai bersih dijilatinya. Tanpa rasa jijik sedikitpun.

    “Kamu hebat sayang, aku puas sekali” pujinya.

    “Kamu mau khan memberiku kepuasan seperti ini lagi?” pintanya.

    Aku mengangguk aja. Menyetujui permintaannya.

    “Kalo kamu pengin lagi, datang aja ke kamarku”.

    “Masuknya lewat jendela ya! Kalo lampu kamarku mati, berarti Pak RT nggak di rumah”.

    “Ketok kaca jendela tiga kali, akan kubukakan untukmu, OK” dia menerangkannya untukku.

    Kurebahkan tubuhku disampingnya. Kami tertidur setelah mencapai puncak kenikmatan yang luar biasa.
    Malam itu Tante Rena menginap dikamarku. Sampai pagi kami merengkuh kenikmatan.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Hujan Membawa Gairah Nikmat

    Cerita Sex Hujan Membawa Gairah Nikmat


    136 views

    Perawanku – Cerita Sex Hujan Membawa Gairah Nikmat, Aku bekerja disitu sebagai seorang juruteknik, Masa tu aku baru bekerja, Aku jatuh hati pada seorang gadis yang bernama Sue. Sue ni memang cantik, iras-iras sofea-jane.. Body dia.. Fulamak!! buah dada yang bulat, agak tajam dan besar walaupun body dia lansing.. Kulit dia memang putih.. Aku ingat kalau dia dok kat KL lama sudah jadi artis.. Tapi dia dok kat kampung je.. Keluar rumah pun susah.. Mak dia agak control.. So aku ngorat dia.. Maklom lah.. Muka dia lawa.. Jual mahal sikit..

    Mula-mula memang aku target nak buat bini.. Tapi (ada tapinya) pemikiran dia kurang matured.. Takpalah pasal dia lawa.. So aku ayat dia ajak dia keluar ngan aku.. Susah enggak!!sampai banyak kali aku ajak dia.. Sampai satu hari tu.. Dia dapat kelentong mak dia.. Kata dia keluar dengan member/jiran dia.. Kelentong mak dia kata pergi kerumah kawan.. Balik lewat petang.. So dia keluarlah gan jiran dia sampai kat tempat janji nak jumpa aku.. Dia dengan jiran dia split.. Jiran dia ikut member lain.. Dia naik moto dengan aku..

    Alamak, hari tu dia pakai baju kebarung.. Yang agak nipis kainnya, jelas nampak warna coli dia, merah jambu.. So dia pun naik moto ngan aku.. Kami terus ke botinical garden penang, sampai sana terus masuk dalam.. Kena pulak hari makin mendung.. So kami masuk ke dalam.. Jalan laju-laju.. Macam race jalan kaki

    Cari tempat yang terlindung dari hujan.. Aku tengok banyak pengunjung lain berjalan kaki keluar dari taman tu.. Balik kot.. Hari nak hujan.. So kami pun jumpa satu tempat terlindung.. Bawak pokok yang agak rimbun.. Masa kami baru lepak je.. Hujan sudah turun.. Kat situ nampaknya orang takde.. So kepala otak aku mula terfikir blue je.. Dan mata aku asyik-asyik dok perhati pangkal buah dada Sue yang terdedah.. Putih melepak.. Hujan turun mula lebat.. Tempat kami cuma tempias sikit.. Sue mula sejuk.. Aku pun sejuk jugak.. Tapi takkan aku nak terus peluk dia.. Baru first time keluar.. So kami borak-borak sambil aku buat lawak bodoh!

    Tah macamana tah Sue tertampar paha aku.. Aku pulak tak pakai underwear.. Dia tampar tersentuh batang aku yang sememangnya sudah keras sebab tengok pangkal buahdada dia yang putih tu.. Aku tengok dia terkejut bila terkena pada bahagian keras tu.. Tapi tangan dia tak bergerak dari peha aku.. Masih kat peha aku.. Dan mata dia, aku perhatikan terlirik ke bahagian batang aku.. Aiseh!!aku cakap dalam hati.. Sue sudah stim kot.. So tangan kiri aku bergerak kepinggangnya.. Kami masa tu tengah lepak atas rumput.. Bawah pokok merimbum.. Tangan aku peluk pinggangnya.. Dia tak kata apapun.. Masih dok sembang pasal cerita apatah.. Aku dok anggukngguk kepala je..

    Walaupun kepala otak aku dok fikir macamana aku nak kiss bibir dia.. So aku buat trick.. Aku ambik batu-batu kecil kat tepi-tepi aku, aku gengam gan tangan kanan aku.. Aku baling atas kain dia/peha dia.. Masa tu dia duduk bersimpuh.. Lepas baling.. Aku buat-buat terkejut..

    “Alamak Sue.. Sorry-sorry.. Abang.. Terlalu asyik dengar cerita Sue.. Sampai tak sedar baling batu-batu kecik ni atas kain Sue”..

    Aku pun sapu batu-batu dari kainnya.. Sapuan aku lebih pada mengusap paha Sue.

    “Sue.. Tak mau hilanglah kotoran ni.. Melekat!”, aku buat trick, aku usap lagi peha dia..

    Sementara kepala aku merapat kepaha dia.. Buat-buat tengok kotoran atas kainnya.. Lepas tu kepala aku/rambut aku aku biar bergesel dengan dada dia.. Sue tersentak.. Aku tarik kepala aku bertemu dengan muka Sue.. Sambil tangan kiri aku perlahan-lahan menarik tubuh Sue ke arah aku.. Bila muka aku berdepan dengan wajah Sue.. Aku cakap..

    “Sue.. Memang cantik hari ni, abang sememangnya menyintai Sue sejak mula bertemu Sue” lepas tu bibir aku menyentuh bibir Sue..

    Dia agak kaget.. Tapi membiarkan aku meneruskan pelakuan.. Aku gigit dan hisap bibir Sue atas bawah.. Sue tak membuka bibir dia.. Tapi aku tahu dia pun sudah naik syok.. Sebab tangan dia mula tarik tubuh aku rapat ketubuh dia.. Kena dengan hujan bertambah lebat.. Sue tersandar kebatang pokok.. Dan bibir aku mula main peranan ke arah lehernya.. Hisap dan gigit dengan manja.. Sue makin memeluk erat.. Dan kakinya dari bersimpuh ke kedudukan melipat terkangkang dan badan aku dicelah kangkangannya itu.. Tangan kanan aku mula menyelak kainnya sementara bibir aku masih menyerang rakus leher Sue dan mula menurun kedadanya.. Sue mengeliat sambil mengerang kecil.

    “Abaang!! Abaang.. Geli.. Emm.. Abaang!!”

    Sementara tangan kanan aku yang menyelak kainnya meramas rakus bahagian pehanya.. Tangan kiri aku mula membuka butang atas baju kebarung Sue.. Sue mengeluh.

    “Jangan Baang.. Sue tak biasa.. Ahh”

    Dia masih dalam nikmat sebab sambil buka butang baju dia bibir aku terus menhisap bahagian pangkal buah dadanya.. Lepas terbuka bahagian atas bajunya maka terdedahlah dua puncak bukit yang putih melepak dan disaluti hanya dengan coli nipis berwarna merah jambu.. Aku terus menyerang ke arah itu dengan bibirku.. Sue mengerang.

    “Apa Abang buat nii.. Emm.. Abaangg”

    Aku menghisap buah dada Sue setelah menarik coli nipisnya kebawah dengan bibirku.. Aku melihat Sue semakin memeluk aku erat dan kakinya semakin terkangkang, matanya pula terpejam, sementara bibirnya mengetap-getap.. Tangan kanan aku yang masih didalam kainnya mula bergerak perlahan ke arah apamnya.. Dan mengosok perlahan.. Sue seolah-olah seperti terkena karan.. Membuka kelopak matanya yang kuyu..

    “Abaang.. Apani geli.. Kat situ.. Geli sangat abang buat camtu” dia mengeluh manja..

    Aku buat tak peduli.. Aku hisap buah dadanya.. Isap putingnya yang semakin menegang.. Sambil tangan kanan aku mengusap apamnya yang masih disaluti underwear.. Kankangan kakinya semakin meluas..

    “Ahh.. Emm.. Abaang.. Geliinyaa.. Emm”

    Aku menarik tangan kirinya yang memeluk aku.. Memasukkannya ke dalam seluar jeans aku.. Sambil bibir aku masih menghisap buahdadanya.. Bila tangan Sue tersentuh batang aku yang menegang..

    “Emm.. Apa ni bang.. Emm.. Kerasnya.. Panas” sambil tangannya terus mengurut dan meramas batang aku..
    “Panasnya.. Abang punya.. Besaar.. Apasal basah!!?”

    Air mazi ku mula keluar.. Tangan Sue seperti tak mahu melepaskan batang aku.. Aku buka butang seluar jeans aku dengan tangan kiri ku.. Terjojol batang ku yang menegang dalam gengaman tangan Sue..

    “Emm.. Abaang.. Besaarnya.. Takut Sue.. Emm”

    Aku menarik tangan Sue dari terus mengurut batang aku.. Sebab takut terpancut.. Batang aku yang terdedah tu aku sengajakan menekan ke arah apamnya.. Sue semakin stim.. Bibir aku mula menjalar ke pusatnya.. Setelah butang baju Sue semuanya dibuka.. Bahagian atas tubuh nya terdedah tanpa seurat benang.. Colinya yang nipis masa bila aku tanggalkan? Entah aku tak sedar!! Sambil bibir aku masih dipusatnya tangan aku rakus membuka butang kainnya.

    Cerita Sex Hujan Membawa Gairah Nikmat

    Cerita Sex Hujan Membawa Gairah Nikmat

    “Abaang..” Sue terdiam disitu..

    Setelah selesai membuka butang kainya.. Aku terus menyelak kainnya ke atas mendedahkan bahagian betis, peha dan underwearnya berdepan betul-betul dengan muka aku.. Kakinya masih tak menanggalkan kasut tumit tingginya.. Aku terus menjilat apamnya yang dibaluti underwear nipisnya.. Sambil kedua-dua tangan aku meramas lembut buahdadanya yang sememangnya menjadi kegilaan aku..

    “Emm.. Emmhh” Sue mengerang lembut..

    Seluar jeans aku terlucut hingga keparas lutut.. Dengan peha Sue yang terus mengangkang aku membenamkan bibir aku ke apamnya dan menarik underwear nipisnya dengan gigiku.. Underwear Sue aku lucutkan hingga ketengah pehanya.. Wow!!terdedah di depan ku.. Apam idaman ku selama ni.. Putiih.. Dengan bulu-bulu halus.. Apam yang tembam.. Aku terus menjilat.. Sue semakin mengeliat.

    “Esskk.. Esskk.. Isskkahh” Sue mengeluh perlahan sambil nafasnya mula berombak..

    Dan matanya terpejam rapat.. Bila aku mula menghisap lembut apamnya.. Badannya makin melentik ke atas.. Sue sekarang terbaring penuh atas rumput yang agak basah.. Hujan masih lebat.

    “Abaang.. Esskk.. Isskk.. Emm.. Gelii.. Sedaappnya.. Emm.. Abaangg.. Ahh!!”

    Selesai menjilat/menhisap apamnya kepalaku naik ketas perlahan-lahan sambil lidahku tidak tanggal menjilat dari apamnya kepusatnya.. Kedadanya terus keleher dan kebibirnya.. Tubuh ku betul-betul berada diatas Sue.. Dan kaki Sue terkangkang luas.. Kali ni Sue memeluk erat aku dan apabila bibir aku sampai kebibirnya dia terus menarik kepala aku dan mencium aku.. Walaupun dia tak pandai berasmara mengunakan bibir lagi tapi aku sudah stim gila.. Batang aku yang tegang habis tertenyeh dengan apamnya.. Sue aku tahu masa tu pun stim abiss.

    “Ehh.. Emm” Sue mengeluh sambil kami beromen dengan bibir..

    Tiba-tiba tangan kanan Sue bergerak dari pelukan dipinggang ku mencari batang ku.. Sue mengenggam batang ku sambil mengarah batang ku ke arah apamnya.. Seolah-olah ingin merasa kemasukan batang aku ke dalam apamnya.

    “Emm.. Abaang” Sue mengeluh manja..

    Genggaman tangan kanannya masih menarik batang ku ke arah apamnya.. Tiba-tiba.. Batangku terus menembus masuk ke arah apamnya dengan perlahan.. Aku merasa kemasukan batang aku ke dalam apam Sue.. Agak ketat. Sue mengeluh..

    “Ehh.. Besaar.. Sakitt.. Iehh.. Abaang” batangku mula bermain setengah masukan.. Perlahan-lahan.. Semakin ke dalam-ke dalam.
    “Abaang.. Abaang.. Sakit sikit.. Abaang”

    Selepas tu batang aku makin bergerak ke dalam.. Hingga Sue mengerang

    “Ahh.. Isskk.. Emm.. Esskk.. Abaanng.. Sedaap.. Gelinyaehh.. Ahh”

    Pergerakan aku mula laju.. Laju.. Laju

    “Abaang.. Ahh.. Ahh” pergerakan tubuh Sue semakin berombak.. Nafas Sue makin turun naik.. Matanya terpejam rapat.. Pehanya mengangkang seluas-luasnya sambil mengepit kuat pehaku
    “Isskk.. Esskk.. Ahh.. Abaang.. Ahh”

    Makin laju pergerakan aku.. Dan bibir aku terus mengucup bibir Sue dengan rakus.. Dada ku menindih rapat buahdadanya.. Bunyi hujan walaupun masih lebat tak kedengaran ditelinga ku.. Aku betul-betul dalam kemuncak.. Begitu juga dengan Sue.. Pelukan Sue semakin rapat menarik aku.. Kekadang kuku jarinya seperti mencengkam tubuhku..

    “Ahh.. Abaang ” batangku bermain disetiap sudut dalam apam Sue. Tengah.. Kiri.. Kanan..

    Kelembutan wajah dan sikap Sue.. Selama ni tenggelam dengan sikap yang agak ganas juga bila Sue stim habis.. Tu yang buat aku lagi bertambah stim.. Kekuatan aku tah macamana boleh agak lama enggak mendayung dengan Sue walaupun pergerakan batang aku ke dalam apam Sue semakin licin.. Disebabkan air Sue yang keluar banyak

    “Abaang.. Ahh.. Ahh.. Abaang”

    Kesedapan yang aku tak dapat lupakan.. Dan sekarang ni aku lakukannya setiap hari dengan Sue.. Sue sudah jadi isteri aku. Dan pemikirannya makin matured termasuk aksi-aksinya yang semakin advance hari-kehari sebab setiap malam minggu kekadang kami menonton vCD blue bersama.. Dan kekadang aku ajak dia enjoy nite life kat penang ni.. Macam gi disko.. Nengok midnight cinema just untuk bagi dia tambah matured.. Dan dia sememangnya pasangan/isteriku yang perfect!!

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Skandal Sex Tubuh ku Yang Telah Di Kuasai – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Skandal Sex Tubuh ku Yang Telah Di Kuasai – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    864 views

    Perawanku – Kehidupan dalam rumah tanggaku berjalan baik baik saja untunglah aku mendapat suami yang pengertian dan saying terhadap keluarga semua kebutuhan hampir dari kahir dan batin terpenuhi, aku dibesarkan dari lingkungan yang taat agama adat jawanya selanjutanya aku dan mas Abraham setelah kuliah memutuskan untuk menikah kerena sudah 4 tahun kita pacaran jadi melanjutkan ke jenjang yang serius.

    Bersyukur kehidupanku berkecukupan ayahku yang pekerjaannya sebagai pamong di daerahku dan orang tua mas Abraham adalah bisnismen di kota dan menetap di Jakarta, akhirnya kita menikah dan selama 1 tahun kami merencanakan untuk menunda momongan memang rencananya begitu mas Abraham masih ingin beduaan dan aku serius juga dalam pekerjaanku tanpa diganggu oleh momongan dulu.

    Mas Abraham ingin aku mencurahkan perhatianku kepada pekerjaan dan ingin tetap menikmati kehidupan berdua dulu tanpa di ganggu anak dulu. Saat ini usiaku menginjak 27 tahun. tinggiku 158cm dan rambut sebahu. kulitku kata teman2ku sawo matang, karena jika putih pasti kalah denagn orang chines.

    Tidak heran selama aku kuliah dulu di daerah surakarta,banyak teman sekampusku yang coba endekati, namun hatiku terpaut pada Mas Abraham saja. Bukan materi yang aku kejar pada dirinya, namun karena sikapnya yang santun thdp aku.

    Teman2 bilang aku terlalu pilih2,namun semua itu salah, dan kebetulan Mas Abraham datang kekostku slalu pake BMW kadang mercy milik orang tuanya. Tapi aku lebih suka jika ia datang dan jemput pake sepeda motor saja.

    Bukan apa2, di kampungku orangtuaku juga punya mobil seperti itu. Kehidupan sexualku normal dan Mas Abrahampun tau ttg seleraku. Ia amat mengerti kapan kami bisa berhubungan badan dan kapan tidak. Akupun tidak mau Mas Abraham terlalu memporsir tenaganya untuk melakukan kewajibannya. Sebagai wanita jawa aku dituntut untuk nrimo dan pasrah saja.

    Kami tinggal di surakarta dan menempati rumah pemberian orang tua Mas Abraham. Di rumah yang luas dan asri ini, kami tinggal dan ditemani dua orang pembantu suami istri.

    Kedua pembantu itu telah lama ikut dengan orang tua Mas Abraham. Umur mereka kira2 65 tahun. yang perempuan bernama mak imah dan pak bidin. Kami mempercayakan rumah kepada mereka jika kami pergi kerja.

    Setiap hari aku kekantor kadang diantar Mas Abraham dan kadang aku nyetir sendiri. Suatu saat aku pulang kantor dan mau kerumah, aku tanpa sengaja menyerempet sebuah sepeda yang dikemudikan oleh seorang pria paro baya.

    Pria itu jatuh dan aku karena takut dan kaget, maka aku larikan saja mobilku kearah rumah. Sesampai dirumah aku, masukkan mobil dan diam di kamar. Masih terbayang olehku saat, pria itu jatuh dan memanggil manggil aku untuk berhenti, namun aku tancap gas.

    Dirumah perasanku tak tenang dan itu aku diamkan saja dari Mas Abraham. setelah kejadian itu besoknya aku minta diantar kekantor dengan Mas Abraham. hampir tiap malam aku bermimpi bertemu dengan pria yang ku tabrak itu. sampai2 Mas Abraham heran akan sikapku yang berubah dingin dan gelisah.

    Lalu Mas Abraham menanyakan sebab perubahan sikapku itu. Akupun berterus terang dan Mas Abraham memahaminya. Lalu ia sarankan aku untuk menagmbil seorang sopir, untuk mengantarku. Akupun setuju, sebab aku memang trauma sejak saat itu menyetir sendiri.

    Beberapa hari kemudian, datanglah sopir yang dicari Mas Abraham itu. Alangkah kagetnya aku, soalnya itu adalah orang yang aku tabrak tempo hari. Iapun kaget, namun aku berusaha menagatur sikapku, aku yakin iapun masih ingat denganku saat ku tabrak.

    Supaya Mas Abraham tak curiga pada orang yang ku tabrak itu, maka aku setuju saja jika ia jadi sopirku. Aku pikir itung2 balas jasa ataskesalahanku saat itu. Namanya Pak Hardi, umurnya kira2 66 tahun, namun masih kuat dan sehat.

    Sejak saat itu aku slalu diantar Pak Hardi kemana aku pergi, baik kekantor atau belanja. Setiap pagi ia telah ada di rumah, dan siap2 membersihkan mobilku.

    Sedang suamiku telah akrab dgn Pak Hardi. Suatu hari saat mengantar aku kekantor sambil bincang2 Pak Hardi, bilang padaku. Bu.. kalau ndak salah ibu dulu, nabrak saya dengan mobil ini kan?.. tanyanya.

    Aku terdiam dan Pak Hardipun berkata, ibu,,, kejam dan tidak bertanggung jawab. Lalu ku jawab… maaf pak.. waktu itu memang saya salah,, saya tergesa gesa saat itu, jawabku.

    Alahhhh kalian orang kaya memang begitu.. menganggap orang lain sampah, lanjutnya.. Lalu ku jawab.. jangan gitu pak? saya waktu itu benar2 khilaf kataku lagi. Lalu ia diam… Aku… pun diam saja saat itu, hingga sampai di rumah.

    Sejak kejadian itu sikapnya terhadapku jadi lain dan aku tidak ambil pusing. Aneh memang kenapa sejak saat Pak Hardi bertanya kepadaku saat itu, aku merasakan adanya sensasi tersendiri dalam hatiku saat menatap matanya.

    Perasaanku kepada Pak Hardi serasa ingin terus bersama dengannya. Jika ia pulang sore harinya,aku merasa ada yang hilang dalam hidupku. Dan pagi jika ia datang untuk mengantarku rasa itu jadi senang dan seperti kasmaran. Perasanku kepada Mas Abraham biasa saja.

    Jum’at sore saat ia menjemputku, entah kenapa aku minta Pak Hardi untuk mampir dulu untuk singgah di sebuah restoran. Disitu aku mengambil tempat agak kesudut dan suasananya amat romantis.

    Pak Hardi kuajak makan. kami duduk berhadap hadapan, ia pandangngi terus mataku. Akupun demikian seperti aku memandang mas hedra. Tanpa ada kata2 ia genggam jemariku saat itu, aku merasa tenang seperti gadis remaja dengan pasangannya.

    Pak Hardi lalu meraih tanganku dan menciumnya. Baru kali ini, tanganku di pegang orang selain suamiku dan ada rasa hangat yang mengalir di sekujur tubuhku. Beberapa saat kami menikmati suasana yang tak aku hendaki itu terjadi.

    Setelah itu kami keluar dari restoran itu dan menuju kemobil. Dalam mobiku itu, aku terdiam dan bingung akan kejadian barusan, otakku tidak berjalan sebagai mana mestinya, soalnya aku bermesraan dengan sopirku yang tidak sepadan denganku dan ia dengan bebasnya meraih dan meremas tanganku.

    Dalam mobil sebelum berjalan, Pak Hardi menoleh kearahku,dan kembali meraih jemariku dan lalu ia rengkuh tubuhku lalu ia kecup bibirku. aku kembali seperti orang linglung. Sesampai dirumah aku terus terbayang sensasi kejadian tadi sore itu.
    Alangkah kurang ajarnya sopirku itu, bisik hatiku. Malam harinya, dengan separo hati, aku layani suamiku dengan apa adanya. Tidak ada lagi rasa nikmat yang aku rasakan saat Mas Abraham mencumbuku dan mensebadaniku. Hatiku slalu terbayang wajah Pak Hardi.

    Kalau pikiranku sehat saat itu, aku berpikir apa istimewanya Pak Hardi? gak ada rasanya. tapi aku slalu terbayang wajahnya, sampai2 saat suamiku saat berada diatas tubuhku saat melakukan hubungan badan, aku kira Pak Hardi yang diatas tubuhku, tapi untunglah aku masih bisa mengusai diri.

    Besoknya aku seperti biasa diantar olehnya, dan ia tambah berani dengan meraba paha dan dadaku, tangannya aku tepiskan, namaun ia hanya senyum. Setiap hari, matanya tidak luput memandangku dari ujung rambut sampai kaki.

    Entah kenapa setiap hari, ada2 saja yang ia pegang dari tubuhku, kadang dadaku, paha, kadang ia cium bibirku. Namun aku tidak berontak. Suatu ketika saat pulang kantor, mobil tidak ia arahkan kerumah tapi, kerumahnya di kawasan kartosuro.

    Disana, suasananya sepi dan jarang ada rumah penduduk. Entah kenapa akau, mau saja diajak turun dan amsuk kerumahnya, yang dikelilinggi pohon2 besar. Rumahnya terbuat dari kayu dan beratap genteng yang telah tua.

    Dalam rumah itu hanya ada dipan beralaskan tikar dan sebuah bantal. Lalu Pak Hardi menutup pintu rumah itu dan menyilahkan aku duduk di pinggiran dipan itu. Kalau dilihat, gubuknya seperti rumah dukun dan didindingnya ada semacam tulang2 dan bau menyan.

    Pak Hardi kebelakang dan tidak lama kemudian muncul dan duduk di sampingku. Bu… beginilah keadaan saya, katanya… oooo.. ndak apa lah pak? jawabku. Lalu tiba2 saja ia lingkarkan tangannya di bahuku.

    Aku merasa tidak enak.. buk… saya,,, ingin… merasakan kehanagatan tubuh ibu,,, katanya. Dulunya istri saya masih hidup jika tidak ibu tabrak saya saat itu, saya masih bisa menolongnya, namun ibu, membuat saya terlambat.. dan istri saya mati, terangnya.

    Sekarang ibu,, lah yang menggantikannya… lanjutnya lagi. Aku diam saja saat itu, aku begitu karena pikiranku sudah kosong dan dalam diriku ada semacam gairah yang menghentak untuk dituntaskan dan lepaskan.

    Setelah berkata begitu, satu persatu pakainanku jatuh kelantai dan setiap inci tubuhku ia raih dan remah hingga aku tidak berpenutup lagi.

    Aku ia baringkan di dipan kayu itu, lalu ia buka pakaiannya hingga, sama2 bugil denganku. saat itu aku sebelumnya hanya berpakaian kantor. lalu ia raih inci demi inci setiap rongga di tubuhku.

    Dan akhirnya ia hujamkan kejantanannya kekemaluanku berkali kali. ,hingga derit dipan itu terdengar. Aku hanya mendengus dan merasa terus dijadikan kuda pacu.

    Tubuh mulusku dijamah Pak Hardi berulang ulang, hingga akhirnya ia pancarkan cairan hangat itu didalam kemaluanku, ada rasa hangat dan tegang saat ia sampai klimaks. Aku pun tanpa kusadari dari tadi telah pula klimax.

    Tubuhku saat itu penuh dengan keringat dan bercampur dengan keringat Pak Hardi. Aku mersakan perih dan nyilu pada selangkanganku karena kejantanan Pak Hardi panjang dan besar juga. hampir seluruh kulit tubuhku merah2 dan putingku serasa panas akibat gigitan Pak Hardi.

    Beberapa saat kemudian aku di suruh berpakaian dan berbenah seperti biasa lagi. Lalu aku pulang diantarkanya dengan mobilku.

    Dalam mobil aku merasa sesal telah mengkhianati Mas Abraham, namun apa dayaku, sebab Pak Hardi amat berkuasa terhadap tubuhku, hingga ia berhasil menelanjangngi dan menyetubuhi ku.

    Sejak saat itu, bila ada waktu saat aku pulang kantor, Pak Hardi slalu menytubuhiku dan kadang jika suamiku ke jakarta, ia dengan seenaknya tidur di rumahku dan kamipun bersebadan dengan Pak Hardi di atas ranjang kami dengan Mas Abraham.

    Setiap ia menggauliku aku slalu merasakan puas dan pegal2 pada selangkangannku. Para pembantuku tidak curiga atas tindakan kami itu. Pak Hardi pun tampaknya bisa menutup mulut kedua pembantuku.

    Hampir selama 6 bulan aku menjadi bulan2an nafsu Pak Hardi, itu, akupun merasakannya. Namun aku sedikit tenang, aku tidak bakalan hamil, karena aku sudah memasang spiral.

    Dan itu aku sadari, karena hampir setiap berhubungan sex dengan Pak Hardi, ia slalu mengeluarkan air maninya dalam rahimku.

    Dan memang aku sempat mencium bau tidak enak saat ia berada diatas tubuhku. Bau keringatnya amat busuk, namun aku slalu mengganti sprei ranjangku setiap ia meniduriku, sebab bau keringatnya akan tinggal di kain sprei itu. kamarpun aku semprot dengan wewangian dan acnya slalu menyala.

    Dan sekian lama barulah aku mengetahui dari seorang teman bahwa Pak Hardi adalah seorang dukun dan aku telah di guna- gunainya.

    Atas saran dan bantuan seorang orang pintar di tempat rekan kerjaku itu, kini aku telah terbebas dari guna-guna Pak Hardi. Iapun lalu, aku pecat dan ia sempat mengancamku, akan membongkar hubungan sexku dengan ku kepada suamiku.

    Dengan minta duit sekitar 10 juta dari tabunganku aku, minta dia keluar. Sejak saat itu ia tidak pernah muncul lagi.

  • Cerita Sex Sedarah Mbak Desy Pelampiasan Seks – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Sex Sedarah Mbak Desy Pelampiasan Seks – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    966 views

    Perawanku – Nama aku Randi 19 tahun, aku dua bersaudara, aku anak kedua dimana kakakku perempuan berusia 5 tahun lebih tua dariku. Aku ngin menceritakan kejadian yang menimpa kehidupan seks aku 3 tahun yang lalu.

    Pada waktu itu aku berumur 16 tahun masih 1 smu, sedangkan kakak aku berusia 22 tahun dan sudah kuliah. Kakakku orangnya memakai jilbab. Meskipun kakakku memakai jilbab dia sangat sexy, orang bilang mukanya sexy banget, demikian pula postur tubuhnya, tinggi 160 cm, kulit putih dan bra aku kira 36-an, tapi yang paling menyolok dari dia adalah pantatnya yang bulat besar dan bahenol, ini dapat aku nilai karena aku sering mengintip dia waktu dia sedang mandi atau sedang ganti pakaian. Jika berjalan ke mal ataupun kemanapun dia pergi, dia selalu pakai baju yang agak ketat meskipun dia memakai jilbab, orang selalu memandang goyangan pinggul dan pantatnya.

    Sampai-sampai aku sebagai adik kandungnyapun sangat menyukai pantat dan pinggul kakakku itu.Meskipun kakakku memakai jilbab, kebetulan kakakku menyukai baju-baju model agak ketat dan celana agak ketat pula sehingga agak mencetak kemontokan dan keindahan tubuhnya. Apalagi jika dirumah, meskipun dia selalu memakai jilbab atau kerudung, dia selalu memakai baju tidur yang panjang tapi agak tipis sehingga agak terlihat belahan pantat dan celana dalamnya. Sebagai remaja yang baru puber dan juga olok-olok dari teman-temanku diam-diam aku sangat terangsang bila melihat pinggul kakakku. Sebaga efek sampingnya aku sering melakukan onani di kamarku atau di kamar mandi sambl membayangkan gimana rasanya kemaluanku dijepit diantara pantat montoknya.Keinginan itu kurasakan sejak aku duduk di bangku 1 smu ini, aku sering mencuri-curi pandang untuk mengitip CD-nya apabila dia memakai rok. Dia mempunyai pacar yang berumur setahun lebih muda dari padanya. Aku sering memergoki mereka pacaran di ruang tamu, saling meremas tangan sampai mereka berciuman. Suatu hari aku memergoki pacarnya sedang menghisap buah dada kakakku di kamar tamu meskipun baju dan jilbabnya tetap terpasang di badannya, kakakku hanya mengeluarkan buah dadanya dari kancing yang terlepas sebagian, mereka langsung belingsatan buru-buru merapihkan bajunya.

    Malam harinya kakakku mendatangi kamarku dan memohon kepadaku agar tidak menceritakan apa yang aku lihat ke orang-orang terutama pada ayah dan ibuku.Dik, jangan bilang-bilang yah, abis tadi si Hendra (pacarnya) memaksa Mbak, katanya. Aku Cuma mengganguk dan melongo karena kakakku masuk kekamarku menggunakan jilbab dan baju yang longgar(daster) tetapi agak tipis sambil membawa sebuah novel, sehingga paha dan dadanya yang montok terlihat karena dikamarku agak gelap sedangkan diluar lampu terang benderang. “hai, kok melongo???? “ …aku jadi gelagapan dan bilang “ia- ia mbak, aku ngga akan bilang-bilang” kataku.Tiba-tiba dia rebahan di ranjangku dengan tertelungkup sambil membaca novel, aku memandanginya dari belakang membuat kemaluanku ngaceng karena pantat kakakku seolah-olah menantang kemaluanku.

    Berkali-kali aku menelan ludah. Dan pelan-pelan aku meraba kemaluanku yang tegang. Sampai kira-kira lima menit, dia menoleh ke arahku dan aku langsung melepas tanganku dari kemaluanku dan berpura-pura belajar. Kakakku mengajakku lari pagi besok hari dan dia memintaku menbangunkannya jam 5 pagi. Aku mengiakannya. Ketika dia keluar kamarku, aku melihat goyangan pinggulnya sangat sexy, dan begitu dia menutup pintu, aku langsung mengeluarkan kemaluanku dan mengocoknya, tapi sialnya tiba-tiba kakakku balik lagi dan kali ini da melihatku mengocok kemaluanku. Dia pura-pura tidak melihat dan berkata “jangan lupa bangunin mbak jam 5 pagi “. Lagi-lagi aku gelagapan “ia- ia – ia” kataku. Kakakku langsung pergi lagi sambil ngelirik ke-arah kemaluanku dan tersenyum. Malam itu aku ngga jadi beronani karena malu dipergoki kakakku.Pagi harinya jam 5 pagi aku ke kamarnya dan kudapari dia sedang tidur mengakang…. Lagi-lagi aku melotot melihat pemandangan itu dan aku mulai meraba-raba pahanya, sampai kira-kira 2 menit dan ku-remas paha montoknya dia terbangun danku buru-buru melepaskan tanganku dari pahanya.

    Singkat cerita kami lari pagi, dia mengenakan jilbab atau kerudung sedangkan bajunya dia mengenakan training yang agak ketat sehingga setiap lekuk pinggul dan pantatnya terlihat sexy sekali dan tiap laki-laki yang berpapasan selalu melirik pantat itu. Begitu selesai lari pagi, kita pulang naik angkutan bus dan kebetulan penuh sesak, akibatnya kita berdesak-desak. Entah keberuntungan atau bukan, kakaku berada di depanku sehingga pantat montoknya tepat di kemaluanku . Perlahan-lahan kemaluanku berdiri dan aku yakin kakakku merasakannya. Ketika bus semakin sesak, kemaluanku makin mendesak pantatnya dan aku pura-pura menoleh ke-arah lain. Tiba-tiba kakakku mengoyangkan pantatnya, karuan aku kenikmatan. ‘dik, kamu kemarin ngapain waktu mbak ke kamar kamu?” katanya “kamu onani yah??? Katanya lagi aku diam seribu basa karena malu. ‘makanya buru-buru cari pacar” katanya. “emang kalo ada pacar bisa digini yah?” kataku nekat sabil menonjokkan kemaluanku dipantatnya. “setidaknya ada pelampiasan” timpal kakakku. . “wah enak dong mbak ada pelampiasan?”tanyaku. “tapi ngga sampe gini” kata kakakku lagi sambil menggoyangkan lagi pantatnya. “kenapa” tanyaku.

    Sebelum dia menjawab kami sudah sampai tempat tujuan.Pada sore hari itu, ketika aku pulang sekolah, kudapat rumah sepi sekali dan perlahan-lahan aku masuk rumah dan ternyata kakakku dan pacarnya sedang diruang tamu saling cium dan saling raba. Aku terus mengintip dari balik pintu, selembar demi selembar pakaian pacar kakakku terlepas sedangkan kakakku masih memakai jilbab dan baju jubahnya masih terpasang tetapi sudah tersingkap sampai sebatas perut, sehingga terlihat CD hitamnya yang mini dan sexy dan pacarnya sudah tinggal memakai CD saja. Kulihat tangan kakakku menelusup ke dalam CD pacarnya dan meremas serta mengocok kemaluan pacarnya yang tegang.Pelan-pelan tangan pacarnya membuka CD kakakku dan terbukalah pantat bahenol nan montok milik kakakku. Pacarnya meremas-remas sambil meringis karena kocokan kakakku pada kemaluannya. ‘oh, aku udah ngga tahan” kata pacarnya “aku pengen masukin ke memekmu” katanya sambil mendorong kakakku sehingga tertelungkup di sofa. Ku lihat dia semakin mengangkat baju kakakku tetapi jilbabnya tetap terpasang tetapi sudah agak kusut dan menindihinya dari belakang kan berusaha menyodokan kemaluannya ke kemaluan kakakku dari arah belakang.

    Tapi begitu nempel di pantatnya, kuliha ar maninya tumpah ke pantat kakakku. “ohhh” dia melenguh dan kakakku menoleh kebelakang” kok udah” tanyanya Pacarnya bilang “maaf aku ngga tahan” katanya . Tiba-tiba lampu padam dan telepon HP sang pacar berdering dan di balik pintu aku sedang beronani ria sambil melihat kemontokan tubuh kakakku. Setelah menerima HP, sang pacar menyalakan sebatang lilin kecil diatas lemari dan dia berpakaian dan buru-buru pamit. “Aku ngga anterin kedepan pintu yah “ kata kakakku sambil tetap tertelungkup di sofa…..

    Begitu sang pacar hilang , nafsuku sudah ke ubun-ubun, di kegelapan remang-remang aku mendekati kakakku dan setelah dekat, dari jarak kira-kira satu meter aku memandangi bagian belakang tubuh telanjang kakakku, berkali-kali menelan ludah melihat pantat bahenol kakakku.Karena udah ngga tahan, aku pelan-pelan membuka celanaku sampai copot dan kulihat kemaluanku yang besar dan panjang (itu menurut teman-temanku sewaktu kami berenang dan membandingkan kemaluan kami) berdenyut-denyut minta pelampiasan.

    Aku langsung menindihinya dari belakang, dan untungnya kakakku mengira sang pacar belum pulang dan masih ingin ngentot dia. “aw…., dra (nama pacarnya hendra) kok ngga jadi pulang” tanyanya , karena kondisi ruangan sangat gelap sehingga dia tidak menyadari bahwa adiknya sedang berusaha menempelkan kemaluannya ke kemaluanya. “aw dra jangan dimasukan aku masih perawan katanya ditempelin aja dra aku masih perawan’ katanya memohon. Karena aku udah tahan, maka pelan-pelan ku bimbing tangannya untuk menggengam kemaluanku dan agar ditutun ke kemaluannya. Begitu dia megang “dra, kok gede amat sih”katanya heran (soalnya punya pacarnya jauh lebih kecil daripada punyaku)sambil membimbing kemaluanku dan menempelkan kekemaluannya. “gosok pelan-pelan dra”, aku menekan dan gila bener-bener nikmat. Setelah kira kira dua menit aku menggosokkan kemaluanku ke kemaluan kakakkut akhirnya aku mencapai klimaksnya dan crot…crot..crot…spermaku menyembur ke pantat kakakku.Aku tetap memeluk tubuh kakakku dan pelan-pelan aku meninggalkannya. “dra, mau kemana?” teriaknya aku buru-buru memungut celana dan memasuki kamarku dan masih celana dan CD ku belum kupakai aku rebahan di ranjangku sambil kututupi dengan selimut tipis membayangkan kenikmatan yang barusan terjadi.

    Tba-tiba telepon berdering dan lampu menyala. kudengar kakaku menerima telepon itu dia herannya setengah mati karena yang menelepon adalah pacarnya si henra. “dra, kok kamu udah ada di rumah lagi jangan main-main yah kamu dimana, udah enak langsung lari” Beberapa saat kemudian kudengar bunyi telpon dibanting. Dan dikamarku, aku cepat-cepat mematikan lampu dan pura-pura tidur. Semenit kemudian kakakku masuk ke kamarku dan melihat aku tidur berselimut dia menghampriku dan duduk di tepi ranjangku. Di kegelapan kamarku kuintip kakakku masih memakai pakai dan jilbab yang tadi dia pakai,dia ngga berani membagunkanku malahan rebahan disampingku. Kesunyian sekitar 15 menit, kemudian kuintip ternyata kakakku tertidur. Akupun tertidur sampai keesokan harinya.Setelah kejadian hari itu aku selalu membayangkan betapa enaknya tubuh kakakku meskipun hanya menempelkan dan menggosokan kemaluanku pada kemaluannya saja.

    Pada suatu siang, aku ingin meminjam kaset lagunya. Karena sudah biasa, aku pun masuk tanpa mengetuk pintunya. Dan betapa terkejutnya aku ketika kulihat mbak Desi kakakku sedang tidur-tiduran sambil memejamkan matanya. Tangannya masuk kedalam CD nya sedangkan jilbab dan bajunya masih terpasang, hanya bajunya sudah tersingkap sebatas perut. Spontan, ia terkejut ketika melihatku. Aku segera keluar.Tak sampai satu menit, mbak Desi keluar (pakaiannya sudah rapi meskipun jilbabnya agak kusut). Ia memintaku agar merahasiakan hal itu dari ayah ibuku.

    Lalu kujawab:“Aku janji ga bakal bilangin hal ini ke ayah ibu koq.”“Thank’s ya dik.”“Eh, emangnya onani itu dosa ya?”Bukan jawaban yang kudapatkan, malah tatapan kakaku yang lain dari biasanya. Bagai disihir, aku diam saja saat dia menempelkan bibirnya ke bibirku. Dilumatnya bibirku dengan lembut. Dikulumnya, lalu lidahnya mulai menembus masuk ke dalam mulutku. Aku segera menarik diri darinya, tapi ia malah memegang tanganku lalu mengarahkannya ke dadanya dan kurasakan betapa empuknya buah dada kakakku. Refleks aku berontak karena aku malu. Tetapi kakakku bilang,”lakukanlah dik seperti yang kau lakukan tempo hari padaku”.Aku kaget “ja..jadi mbak tahu apa yang kulakukan pada mbak tempo hari.” jawabku gugup.“ya” jawab kakakku.“maafkan aku mbak…” ucapkuBelum selesai aku berkata, ia sudah melumat bibirku.

    Dan kali ini lidahnya berhasil memasuki mulutku. Kami berciuman sangat lama. Setelah puas berciuman, Ia malah menarikku ke kamarnya. Disana aku direbahkan, dan ia membuka celana dan CD ku. Kakakku tersenyum melihat kemaluanku yang sudah mengacung tegak. Ukurannya sekitar 18 cm. Lebih panjang dari punya pacar kakakku, Hendra.Melihat kakakku tersenyum, aku mulai menarik ke atas baju kakakku. Rupanya kakakku sudah membuka Branya sehingga akupun bisa langsung melihat payudaranya yang berukuran 36B itu. Kumulai menyentuh dan meremas Payudara kakakku yang lembut, sementara baju dan jilbabnya masih terpasang walaupun agak kusut. Kakakku menggelinjang merasakan kenikmatan dan mendesah keenakan.

    Setelah aku melihat kakaku sudah terangsang, Aku membuka CD warna hitam kakakku sehingga kini terpangpanglah kemaluan kakakku yang berbulu lebat tapi halus itu.Sekarang aku memegang kemaluanku dan mengarahkan kemaluanku ke mulutnya. Dia menutup mulutnya rapat-rapat.“Ayo donk mbak! Isep! Kayak mbak ngelakuinnya buat pacar mbak.”“Koq kamu tahu?”“Ya tahu donk..kan aku sering ngintipin mbak begituan ama pacar mbak”“Ayo mbak.” Rengekku.Kakakku pun mulai tertantang mempraktekkan kemampuan lidahnya. Kemaluanku segera diaremas-rems. Setelah itu dijilati dengan penuh gairah, seolah itu adalah lollipop yang manis. Kakakku pun mulai memasukkan kemaluanku ke dalam mulutnya. Tidak bisa semua, tapi setidak-tidaknya sudah setengah yamg masuk. Di gigit-gigit kecil kepala kemaluanku sambil memainkan buah pelirnya. Akupun memejamkan mata keenakan.Kakakku melepaskan kemaluanku dari mulutnya, tangannya mengangkat baju panjangnya dan menempelkan kemaluanku ke payudaranya aku pun membuka mataku. Lalu meraih kuraih kemaluanku, kuarahkan kemaluan itu ke kekemaluannya yang sedari tadi sudah basah. Kugosok-gosoknya ke klitorisnya, aku jadi merinding dibuatnya. Desahan tak karuan pun keluar dari mulutku.

    Di satu sisi aku tahu ini salah, tapi di sisi lain, aku benar-benar menikmatinya.Setelah puas bermain-main dingan klitorisnya, kemaluanku segera ku arahkan ke lubang kemaluannya. Tetapi kakakku bilang “Jangan dimasukan, aku masih perawan. Ditempelkan dan digosokan aja seperti tempo hari”Akupun mengangguk dan segera ku tempelkan dan kugosokan kemaluanku ke kemaluan kakakku. Setelah beberapa saat kemaluanku ku tekan tekan ke lubang kemaluan kakakku maka crot…crot.. crott spermaku menyembur di perut kakakku.Dengan kemaluan masih menempel di perut kakakku, kami mulai bercumbu lagi, kujilat payudara kakaku sampai perutnya. Setelah itu kami mengambil posisi 69. Aku pun mulai menjilati kemaluannyanya yang sudah basah oleh cairan kewanitaannya. Sementara ia menjilati kemaluanku.

    Kami saling berpelukan bugil, setelah puas bermain, kami pun menuju kamar mandi, namun belum sempat bermain di kamar mandi, kudengar suara mobil orangtuaku. KAmi cepat-cepat kembali ke kamar dan berpakaian. Saat orangtua kami masuk, aku sudah berpakaian lengkap sedang kakaku pun sudah berpakaian lengkap dengan jilbabnya. Sejujurnya saat itu aku sedang tegang dan gugup. Untunglah orangtuaku tak curiga. Kami pun ternsenyum berdua dengan penuh arti. Sejak saat itu kami saling memuaskan walupun tidak sampai memasukan kemaluanku kedalam kemaluannya karena aku takut kakakku kehilangan keperawanannya. Kadang-kadang kami juga main di sofa, di lantai, dan kamar mandi.

  • Menggenjot Pepek Tebal-nya si Cewek SPG dengan Penuh Gairah – Cerita Sex Dewasa Terbaru 2018

    Menggenjot Pepek Tebal-nya si Cewek SPG dengan Penuh Gairah – Cerita Sex Dewasa Terbaru 2018


    815 views

    Perawanku – Perkenalkan nama ku Andy. Aku pernah bekerja di salah satu swalayan terkemuka di kota M. Awal-nya penempatan aku hanya di bag receiving barang. Dari sana kemudian beranjak ke posisi yg lbh lumayan…. nach,1/2 taon di receiving,aku dipindahkan ke lapangan,dlm arti di tmpatkan di store. Disinilah awal perjalanan cinta-ku dgn mahkluk yg namanya SPG.

    Terus terang aku sangat menyukai posisi ini berhubung setiap harinya aku bisa menikmati setiap kecantikan SPG yg bertugas di swalayan ini. Singkat cerita,dari sekian byk-nya SPG yg bertugas,aku sangat tertarik dgn SPG product susu,namanya Tari. Tari berwajah bukan hanya cantik,tp body-nya jg semok bngt…

    Umurnya 19 taon. Dgn tinggi 165,bra 34B,ditambah dgn jenjang kakinya yg putih mulus bngt,maka komplit lah sudah Tari yg perfect bngt menurut versi-ku. Aku mencoba mendekatkan diri dgn-nya,setiap hari selalu aja rapat hingga kedekatan kami semakin nyata. Tp berhubung lokasinya di swalayan,aku jg hrs menjaga image agar issue-nya tdk sampai ke telinga atasanku.

    Sering pd jam2 makan aku memberinya cemilan ato makanan tambahan yg rada2 enak dimakan,dan dari sikapku itulah,timbul rasa simpati Tari terhadapku. Jumat sore itu,ku dekatin Tari seraya berkata”say,pulang nanti ku antar ya….” Dan Tari pun mengganguk setuju.

    Bayangkan,rasanya sudah ga sabaran menanti jam2 pulang kerja krn di otak-ku sdh tersusun beberapa rencana mantap,he..he… Ga tau np belakangan ini selalu membayangkan mulusnya tubuh Tari,ga tahan pengen bngt menikmatinya…

    Jam yg ditunggu pun akhirnya tiba,bergegas aku turun ke basement bwh mengambil mtr kesayanganku. Kutunggu Tari di pinggir jalan pas pintu keluar dari mall. Ga lama ku liat Tari keluar bareng tmn-nya 3 org,dan bgt meliatku,dia pamitan duluan ama tmn-nya di barengi canda tmn2nya yg usilin Tari. Kuberikan helm dan Tari segera melompat duduk di sadel belakang sambil berpegangan pinggangku.

    “Say,kita langsung pulang ato mo jalan2 duku sambil cari makan?” kataku kenceng.

    Itu sech hy pura2ku aja pdhal uda byk rencana di otkku ini,hehhee… Ternyata jawaban Tari bertepatan dgn keinginanku,”kita jalan2 aja dulu baru ntar mlm-an makannya ya”. Aroma wangi di tubuhnya serasa menimbulkan nafsuku,sehingga makin kupacu mtr-ku semakin kencang. Tari memeluk ketau pinggangku sehingga menempellah buah dadanya yg kenceng padat di belakang punggungku. Celanaku makin sesak kejepit pula,hehheeeee….

    Sengaja aku membawanya jalan aga ke pinggiran kota,biar segala rencanku rampung. Setelah puas keliling,akhirnya sampailah kami di rumah makan yg bernuansa klasik dimana rumah makan tsbt mempunyai alun2 seperti pondok pribadi,jadi apa yg akan kulakuin nanti lbh privacy dan tertutup dr pandangan org krn pondoknya memang bersekat.

    “kamu pesan apa say?” kataku mesra.
    “Tari pesan pecel lele aja bang”.

    Aku pun segera memesan pada pelayannya… Apa aja yg mau ditambah kutambahkan aja sayuran laen biar banyakan,karna setelah makan nanti,aku juga mau makan lg,tp tentu makan menu ISTIMEWA yang plus plus nantinya,ha..ha…

    Karena sudah laper bngt,kami makan dgn lahapnya sambil sekali kali kusuap nasi ke mulut Tari. Awal-nya dia keliatan malu,tp akhirnya dia tertawa geli. Selesai makan kami duduk ngobrol dan perlahan tp pasti arah bicaraku memancing ke arah sex sambil tanganku merangkulnya…

    Perlahan kucium bibirnya,hmmm…lidahku menjelajah ke dalam dan melilit lidahnya. Tari membalas dgn panasnya,shg penisku makin mencuat rasanya… akhhh….Tari mendesis nikmat. Semakin kuberanikan diri dgn memasukkan tanganku ke dlm bilik baju seragam-nya dan kuraba payudaranya yg padat sekal.

    Tari merintih nikmat merasakan belaianku pd payudaranya. Kusingkapkan BH-nya dan perlahan memelintir putingnya,ssshh…Tari makin merintih. Aku semakin ga tahan,ku keluarkan penisku yg sudah mengacung tegak dgn diameter 4 panjang kbh kurang 17cm. Tari terkejut sekali ketika melihat penisku yg mengacung tegak itu.

    “Ihh,gede bngt py abang,takut Tari bang”
    “Tari blm pernah iat yg bgt-an bang” kata Tari.
    “Gpp koq say,biasa aja lg,hehhe…” aku menjawab sekenanya.

    Kembali kurangsang Tari dgn ciumanku,perlahan ke telinga dan turun ke leher. Ku kecup pelan penuh perasaan dan Tari semakin mendesah. “akhhh..bang” sstttttt,ouugghh….” Tari semakin ga tahan. Perlahan kuraba pahanya yg terbuka dan segera jariku mendarat di ujung selangkanganya.

    CD-nya msh blm kuturunkan,cuma jariku hanya mengesek belahan vag-nya. Tari mendesis lirih membuat aku semakin bergairah.. Ada lendir basah mengalir merembes keluar… Tari semakin ga tahan sehingga tangannya menggengam penisku dan mengocok ngocok kan nya. Tiba2 kuhentikan serangan ku sehingga membuat Tari terpana heran,nafsunya yg uda di ubun2 terhenti seketika..

    “ada apa bang?”
    ”bntr ya say,jgn disini,bahaya tuch,hehe.e..” jawabku

    Tari baru tersadar kalo kami masih di pondok rumah makan.

    “kita pulang aja ya bang,Tari takut kemalaman dan jujur Tari blm pernah melaukan yg seprt td.Tari takut bang”. “ok dech,kita pulang aja ya say”kataku membisik di telinganya”. Dalam hati aku merasa tanggung nech,dan ku teruskan rencanaku. Kami merapikan pakaian kami masing2 dan berjalan keluar….

    Setelah menghidupkan mtr-ku,kami melanjutkan perjalanan pulang,dan jam sudah menunjukkan pukul 21,20. Di tengah perjalanan,aku berpura2 sakit perut. “aduh say,sakit bngt perutku hbs makan td,aduh,ini sept-nya ga bisa lg bw mtr”,Tari kebingungan melihat sikapku yg menahan sakit,pghal hy pura2 saja,hehhehehe…

    ”kita cari tmp istirahat bntr ya say,abang ga tahan lg sakit bngt perutnya”,Tari berkata
    ” ya udalah bang,kita cari tmp istirahat dulu,ntar ga sakit g baru jalan.”

    Aku bersorak girang dalam hati siasatku berhasil ternyata. Ku pacu mtr-ku ke arah motel yg ga jauh lg lokasinya dan segera mengambil kamar. Kita istirahat bngt ya say,gpp,jgn kuatir,ntar ga sakit lg kita segera jalan ya say..”Tari hanya menganguk pelan kuatir dgn sakit ku.

    Di dlm kamar aku segera merebahkan badan di tmp tdr sambil berpura2 merintih memegang perutku,dan Tari semakin kuatir aja rasanya meliahat keadaanku. Kupanggil Tari mendekat dan kuminta dia mengelus elus perutku supaya aga reda sakitnya,dan Tari menurutinya… ena bngt pijitan Tari,shingga mataku merem melek jadinya,hahhaa…

    Tiba2 aku bangkit dan merangkul Tari. Tari terkejut sekali dan langsung ku dekap tubuhnya sambil ku cium bibirnya…Tari gelagapan sambil membalas jg dan perlahan kembali kurangsang dan kucumbu abiz2an. Kubuka kancing baju Tari bagian atas dan kubelai dadanya segera. Ku cium perlahan putingnya dan skali x kusedot. sshhh….Tari mendesah nikmat.

    tanpa sadar kubuka seluruh pakaianya dan CD-nya sambil trs ku jilat lembut dadanya. Ku buka lebar kakinya mengangkang dan pelan2 ku elus lembut. Pepek tebal-nya uda basah bngt,licin lagi. aku berkata kepadanya abg suka bau pepek tebal-nya Tari… perlahan tapi pasti aku pun mengeluarkan Penis ku yang lumayan besar, den menyodor ke arah mulut nya..

    dia malu-malu tapi mau menghisap penisku, dengan nikamt yang tak terhingga aku pun mengatakan kepadanya kamu sangat luar biasa Tari..aahhh…. sudah puas dengan kuluman bibir nya aku pun mengelus pepek tebal nya yang begitu putih mulus dengan bulu yang jarang-jarang..dan perlahan aku masukan penis ku ke pepek tebal nya..

    dia berkata sakitttttt banggggggg…dengan penuh kasihan aku pun menggoyang pelan-pelan dulu.. sudah masuk separuh penisku baru dia tidak merasa sakit lagi.. dan dengan gairah yang sangat besar aku menggoyang pinggang ku ke pepek tebal-nya yang begitu montok..


    ahhh..ahh… ohh desah si Tari pas aku menggoyang begitu cepat nya..pinggang ku.. 10 menit telah berlau aku pun mengeluarkan sperma yang begitu kental keatas pepek Tari, tepat nya dibulu atas pepek tebal-nya. Ah nikmatnyaaaa..

  • Cerita Sex Istri Paman Istimewa

    Cerita Sex Istri Paman Istimewa


    674 views

    Cerita Sex ini berjudulCerita Sex Istri Paman IstimewaCerita Dewasa,Cerita Hot,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Umurku yang masih muda dan baru lulus SMA memaksa diri untuk pergi ke ibu kota aku dari pulau jawa dan ingin mengadu nasib, dengan saudara yang sudah ada disana paman bibiku tinggal di Jakarta dengan memegang ketas yang bertuliskan alamat rumahnya paman aku langsung menuju kesana dengan tranportasi darat.

    Tiba di kota B sudah menjelang sore hari, kedatanganku disambut dengan baik oleh Paman dan bibiku, sudah sebulan aku tinggal dirumah mereka dan aku diperlakukan sangat baik oleh mereka maklum mereka tidak memiliki anak, sehari-hari kusibukan diriku dengan membantu bibik berbelanja kebutuhan warung di agen sambil menunggu panggilan kerja

    Selama aku tinggal dirumah mereka ku perhtikan Pamanku sangat jarang berada di rumah tekadang dalam seminggu hanya sekali pamanku berada di rumah, saat itu tidak ada dalam pikiranku kalau paman memiliki dua isteri karena yang kutahu hanya Bibik lah isteri Paman satu-satunya dan aku pikir mungkin karena kesibukan Paman sebagai sopir Ekspedisi lah yang membuat Paman jarang pulang, menginjak bulan kedua aku mulai merasakan ada perubahan di rumah paman dan bibiku,

    Pada suatu malam ketika Pamanku pulang kerumah setelah seminggu tidak pulang, ku dengar keributan antara Paman dan Bibiku saat itu kudengar Bibi menuduh Paman telah membohongi dirinya dan telah kawin lagi dengan wanita lain, hanya itu yang aku dengar dari keributan antara bibi dan pamanku selebihnya aku tutup kuping dan ngeloyor masuk kamar untuk tidur.

    Hari-hari berikutnya kulihat Bibiku tampak murung dan lebih banyak mengurung diri di kamarnya sedangkan Pamanku sebagaimana kebiasaannya tidak pernah ada dirumah otomatis kegiatan toko kelontong dirumah aku yang ngurus,

    Pada Suatu malam setelah menutup pintu toko kulihat bibiku keluar dari kamarnya menggunakan daster tipis dengan wajah sendu memanggilku mengajak aku ngobrol sambil nonton TV, pada saat ngobrol tersebut ku coba menghibur Bibiku sambil melaporkan keuangan toko,

    Namun kulihat sepertinya Bibiku kurang respon terhadap obrolanku dan lebih banyak melamun, kemudian kuberanikan diriku untuk bertanya kepada Bibiku apa yang sebenarnya terjadi dengan harapan aku dapat membantunya,

    Tiba-tiba Bibiku menangis kemudian menceritakan kejadian yang sebenarnya bahwa ternyata Pamanku telah kawin lagi dengan wanita lain dan sudah memiliki anak umur 2 tahun dari wanita tersebut, sambil mendekatinya kucoba menghibur bibiku untuk bersabar,

    Tiba-tiba bibiku memeluku da tangisnya makin menjadi-jadi dalam tangisnya ia berkata lebih baik mati daripada dimadu dengan Jablay, kuusap-usap punggungnya sambil ku menasehatinya agar bersabar, bibiku makin memelukku dengan kencang,

    Aku yang selama ini gak pernah dipeluk perempuan, pelukan erat bibiku tersebut membuat nafsuku berdiri, aku yang selama ini sering membayangkan bibiku dan mengintip bibiku ketika mandi, di usianya yang ke 37 bibiku masih terlihat gempal dan cantik mungkin karena bibi belum pernah hamil dan melahirkan,

    Hilang ras ibaku terhadap bibi dan aku mulai berani untuk mengalihkan usapanku dari pungung dan kerambutnya dan daerah leher, dari cerita teman-temanku sewaktu SMA bahwa wanita apabila dibelai didaerah leher dan daerah sekitar kuping maka akan terangsang dan trik tersebut aku coba pada bibi,

    Dibelai seperti itu bibi hanya diam namun tidak berapa lama tiba-tiba bibiku mendorongku sehingga tertidur disopa kemudian menarik celana pendekku berikut kolornya sehingga kontolku yang sudah berdiri tegak keluar dan tanpa basa-basi lagi kemudian memegang dan mengulum kontolku,

    Aku sempat kaget dengan ulah bibiku tersebut, aku gak mengerti apa sebab bibiku berbuat seperti itu apakah karena belianku atau sebab lain, karena kuluman bibi dikontolku sangat nikmat akhirnya kuputuskan untuk mnikmati saja toh selama ini hal ini yang aku inginkan,

    Setelah puas mengulum kontolku kira-kira 5 (lima) menit lamanya kemudian bibiku melepaskan kulumannya dan berdiri melepaskan daster berikut celana dalam dan BH yang dikenakannya, aku hanya tertegun menikmati pemandangan indah tubuh bibiku, kulihat memeknya yang dihiasi bulu yang agak tebal dan buah dadanya yang masih tegak berdiri maklum gak pernah dipake untuk nyusui bayi,

    Kemudian bibiku meminta aku untuk berdiri dari sopa setelah aku berdiri bibiku gentian rebahn di sopa sambil mengangkangkn pahanya terlihat lubng memeknya yang merah merekah dan telihat sudah basah, kemudian bibiku meminta aku untuk segera memasukkan kontolku kelubang memeknya,

    Karena aku sebelumnya gak pernah punya pengalaman dalam hal ngentot tanpa ba.. bi ..bu lagi aku masukkan kontoku kedalam memek bibiku sesuai dengan perintahnya, ketika kontolku masuk terasa memek bibi enak sekali,

    Hangat dan sempit, sambil mendesah nikmat bibiku meminta aku untuk memompa kontolku didalam memeknya setelah menggenjotnya kurang lebih 10 menit tiba-tiba kurasakan ada desakan dari dalam kontolku yang ingin keluar setengah tersengal-sengal menahan nikmat kukatakan pada bibiku akua mau keluar,

    Shut bibiku keluarkan didalam saja Wan ….aaah bibi juga ah…ahh mau keluar, bebarengan dengan semprotan air maniku yang menyembur didalam memeknya, bibi mergang dan mendesah ahh…ahh bibi keluar saying, setelah itu kami berpakaian dan duduk di sopa seperti semula dengan perasaan tak karuan kucoba memint maaf kepada bibi karena aku telah berani berbuat lancang menyetubuhinya,

    Namun dijawab Bibi …gak perlu minta maaf Wan, Bibi juga menikmati kok, toh selama ini bibi juga kesepian karena sering ditinggal Pamanmu, selain itu Bibi juga ingin balas dendam sama Pamanmu dan ingin membuktikan bahwa Bibi juga bias Hamil dan tidak mandul, mendengar hal tersebut aku hanya tertegun,

    Tiba-tiba bibiku menepuk pundakku kamu menyesal ya Wan keperjakaanmu bibi renggut, enggak kok Bik selama ini aku sering menghayal dapat meniduri bibik bahkan kalau onani juga yang Iwan hayalkan adalah Bibi, habis bibi cantik dan montok sih jawbaku, dengan manja bibiku mencubit pahaku ih…

    Kamu nakal masak bibik sendiri kamu hayalin, … ya udah mulai sekarng kamu gak usah ngayal lagi kamu bias langsung ngajak Bibi begituan kata bibiku, yang benar bik aku boleh gitu lagi dengan bibik kataku,…. Iya jawab bibiku mulai malam ini kamu tidur sama bibik,

    Selanjutnya bibiku mengajakku ke kamar mandi untuk buang air kecil, sampai dikmr mandi tanpa menutup pintu dan tanpa segan segan lagi bibiku langsung jongkok dan pipis didepanku kulihat memeknya yang tadi aku sogok-sogok pake kontolku merekah indah mengeluarkan air kencing membuat kontolku bangun kembali,

    ih..ih pengen lagi yah kok bangun udah nanti di kamar aja tolong ambilkan air untuk cebok Bibik Wan kata bibiku mengagetkan aku yang lagi horni melihat memeknya, selesesai buag air kecil sambil berpelukan kami masuk kedalam kamar tidur ku yang letaknya tidak jauh dari kamar mandi didalam kamar kami masing-masing langsung membuka pakaian yang dikenakan kemudian bibi rebahan di atas ranjang dengan

    posisi kaki mengangkang kemudian diikuti aku dengan posisi diatas seperti akan menindihnya tidak seperti sebelumnya yang langsung memasukan kontolku kedalam memeknya kali ini aku mulai dengan mencium bibirnya dan dibalas oleh bibik sedangkan tnganku meremas buah dadanya dan tangan bibi membelai mesra kontolku,

    Setelah puas berciuman kemudian aku turun menghisap putting susu bibik, bibik hanya bias meracau Huh… hah… hah enak saying terus hisap saying setelah puas menghisap dan meremas kedua putting susunya perhatianku mulai tertuju kepada memeknya yang sudah banjir dengan cairan yang keluar dari memeknya kemudian kudekatkan hidungku tercium bau memek yang sangat merangsang aku selanjutnya kujilat memeknya dan terasa asin putting susu kemudian sambil ku rojok-rojok memeknya menggunakan dujari tangan kanan ku kuhisap itil Bibik ,

    Akibat perbuatan ku terhadap memeknya, gerakan Bibik tubuh makin gak karuan sambil menggelinjal kekanan dn kekiri bibik meracau Aduh… Wan enak sekli Bibik Gak tahan sayng Bibik gak pernah diginiin sama Pamanmu sayang cepat sayang masukkan kontomu Bibik udah gak tahan ahh…ahh…ahh, setelah puas menghisap itil dan merojok-rojok lubang memek Bibik kemudian kuarahkan kontolku yang berdiri tegak ke memek Bibik dan menekannya pelan,

    Pada saat ****** ku masuk kedalam memeknya, Bibik meracau dengan mengatakan “Teruss.. Wan..! Tekan..! Huh.. hah.. huh.. hahh.. ditekan.. enakk sekali.. Bibik rasanya.. nikmatt.. teruss.., Bibik udah mau nyampen nih.. peluk Bibik yang erat Wan..!” desahnya mengiringi gerakan kami.

    Sementara itu saya merasakan makin kencang jepitan vagina Bibik.

    “Saya udahh.. mauu.. jugaa.. Bik..! Goyang.. Bik.., goyang..!”

    Dan akhir.., pembaca dapat merasakannya sendiri. Akhirnya kami terkulai lemas sambil tidur berpelukan.

    Jam 7 Pagi kami bangun, dan kemudian mandi bersama. Saya meminta Bibik menungging, dan saya mengusap pantat dan vaginanya dengan baby oil. Rupanya usapan saya tersebut membuat Bibik kembali horny, dan meminta saya untuk memasukkan kembali ****** saya dengan posisi menungging. Tangan saya mempermainkan kedua putingnya.

    “Teruss.. ohh.. teruss.. yang dalam Wan..! Kok begini Bibik rasa lebih enak..!” katanya.

    “Bibik goyang dong..!” pinta saya.

    Sambil pantatnya digoyangkan ke kiri dan ke kanan, saya melakukan gerakan tarik dan masuk.

    “Oohh.. ahh.. uhh.. nikmat Wan.. terus..!” desahnya.

    Akhirnya Bibik minta ke kamar, dan mengganti posisi saya telentang. Bibik duduk sambil menghisap putingnya.

    “Ohh.. uhh.. nikmat Wan..!” katanya.

    Kadang dia menunduk untuk dapat mencium bibir saya.

    “Bibik.. udahh.. mau nyampe lagi Wan.. uhh.. ahh..!” katanya menjelang puncak kenikmatannya.

    Dan akhirnya saya memuntahkan sperma saya, dan kami nikmati orgasme bersama. Hari itu kami lakukan sampai 3 kali, dan Bibik benar-benar menikmatinya seangkan toko hari itu sengaja tidak buka

    Tak terasa sudah tiga bulan perselingkuhan aku dengan Bibik tersebut sudah berjalan tanpa diketahui oleh Pamanku atau orang lain karena sejak kejadian rebut dengan Pamanku, Paman hanya sekali datang kerumh untuk meminta maaf sama Bibik namun Bibik tidak mau memaafkannya dan mengusir Pamanku untuk pergi,

    Sejak kepergian Pamanku, aku dan Bibik semakin bebas, hamper setiap ada kesempatan kami melakukannya hinga akhirnya Bibik hamil karena aku, aku meminta bibiku untuk menggugurkan kandungannya namun bibik menolaknya dengan alasan sudah lama dia mendambakan seorang anak dan dia senang dapat membuktikan ke pada Pamanku bahwa yang mandul sebenarnya bukan Bibik tapi Paman dan anak yang lahir dari isteri kedua Paman tersebut bukan anak Paman melainkan anak orang lain tetapi hingga anak aku dan bibiku tersebut lahir dan sekarang sudah berumur 2 tahun Paman tidak pernah kembali kerumah.

    Sampai sekarang aku masih setia menemani Bibikku dan sesuai dengan permintaan Bibikku, aku tidak kerja melainkan mengurus toko yang sekarang sudah menjadi Toko besar atau Agen, dari penghasilan toko tersebut aku dapat membiayai kehidupan ku dengan bibik dan anakku bahkan sekarang aku sudah hidup mapan.

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Cerita Sex Tak Kuasa Menahan Rayuan Tante Genit

    Cerita Sex Tak Kuasa Menahan Rayuan Tante Genit


    164 views

    Perawanku – Cerita Sex Tak Kuasa Menahan Rayuan Tante Genit, Pagi ini aku sedang membereskan pakaianku untuk dimasukkan ke dalam koper. Ayahku memperhatikan dengan wajah sedih karena aku satu-satunya anak lelakinya harus pergi demi meraih masa depanku. Aku akan tinggal di Surabaya bersama Tante dan Oomku.

    “Papa harap kamu bisa menjaga diri dan berbuat baik, menurut pada Oom Benny dan Tante Lenny…” kata papaku.

    Aku hanya diam menoleh menatap papaku yang nampak kurang bersemangat karena kepergianku, lalu kupeluk papaku. “Saya tidak akan mengecewakan Papa..” kataku sambil menuju ke pintu.

    Aku naik angkot menuju ke terminal bus. Ketika sudah di atas bus, aku membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya sambil berharap semoga cita-citaku dapat tercapai. Sesampainya di terminal, aku melanjutkan dengan naik angkot menuju perumahan mewah di daerah Darmo.

    “Apa ini rumahnya..?” kataku dalam hati.
    Nomornya sih bener. Maklum aku belum pernah ke rumahnya.
    “Gila.., ini rumah apa istana..?” gumamku bicara pada diriku sendiri.

    Aku segera menekan bel yang ada pada pintu gerbang. Beberapa saat kemudian pintu gerbang dibuka. Seorang satpam berbadan gemuk mengamatiku, lalu menegurku.

    “Cari siapa ya..?” tanyanya.
    “Apa betul ini rumah Oom Benny..?” tanyaku balik.
    “Ya betul.. sampean siapa?” tanyanya lagi.
    “Saya keponakan Oom Benny dari Jember.”
    “Kenapa nggak bilang dari tadi, Sampean pasti Den Wellly, kan..? Tuan sedang keluar kota, tapi Nyonya ada lagi nungguin.”

    Sekejap aku sudah berada di ruangan dalam rumah mewah yang diisi perabotan yang serba lux. Tak lama kemudian seorang wanita cantik berkulit putih bersih dan bertubuh seksi muncul dari ruang dalam. Kalau kutebak usianya sekitar 35 tahunan, tapi bagikan seorang gadis yang masih perawan.

    Dia tersenyum begitu melihatku, “Kok terlambat Well..? Tante pikir kamu nggak jadi datang..” ucap wanita seksi itu sambil terus memandangiku.

    “Iya Tante.. maaf…” jawabku pendek.
    “Ya sudah.., kamu datang saja Tante sangat senang.. Pak Bowo.., antarkan Welly ke kamarnya..!” perintah Tante Lenny pada Bowo.

    Lalu aku mengikuti Pak Bowo menuju sebuah kamar yang ada di bagian bawah tangga. Aku cukup senang menempati kamar itu, karena aku langsung tertidur sampai sore hari. Ketika bangun aku segera mandi, lalu berganti pakaian. Setelah itu aku keluar kamar hendak jalan-jalan di halamanbelakang yang luas.

    Ketika sedang asik menghayal, tiba-tiba suara lembut dan manja menegurku. Aku agak kaget dan menoleh ke belakang. Ternyata tanteku yang sore itu mengenakan kimono dengan rokok di tangannya, rupanya ia baru bangun tidur.

    “Oh Tante…” sapaku kikuk.

    Tante tersenyum, dan pandangan yang nakal tertuju pada dadaku yang bidang dan berbulu lebat. Badanku memang cukup atletis karena sering berenang, fitness, dan aku memang mempunyai wajah yang lumayan ganteng.

    “Kamu sudah mandi ya, Wel..? Tampan sekali kamu..” kata tanteku memuji.
    Aku kaget bukan main ketika ia mendekatiku, tangannya langsung mengelu-elus kontolku, tentu saja aku jadi salah tingkah.

    Cerita Sex Tak Kuasa Menahan Rayuan Tante Genit

    Cerita Sex Tak Kuasa Menahan Rayuan Tante Genit

    “Saya mau ke kamar dulu Tante..” kataku takut kalau nanti dilihat Oom Benny.
    “Tunggu sebentar Wel, Tante ingin minta tolong mijitin kaki Tante.., soalnya keseleo waktu turun tadi..” kata Tante Lenny sambil merengek.

    Lalu dia duduk seenaknya, hingga kimono yang tidak dikancing seluruhnya tersingkap, dan bagian dalam tante terlihat olehku. Gila.., ternyata ia tidak memakai CD, sempat juga kulihat bulu-bulu tipis di sekitar memeknya seperti habis dicukur.

    Aku menahan nafas dan mencoba mengalihkan pandangan, tapi Tante Lenny yang tahu hal itu malah menarik lenganku dan mengangkat kaki kanannya menunjukkan bagian yang sakit. Aku terpaksa melihat betis dan paha tante yang mulus dan padat itu.

    “Tolong diurut ya Wel.., tapi pelan-pelan aja ya..” ucapnya lembut.

    Terpaksa aku memijit betis tanteku, meskipun hatiku cemas dan bingung. Apalagi ketika aku mencuri pandang melihat paha dan selangkanganya, sehingga nampak sekilas bagian yang berwarna merah muda itu. Tanteku melirik ke arahku sambil tersenyum genit, aku semakin bingung dan malu.

    Itu pengalamanku di hari pertama di rumah Oom Benny. Sudah tiga Hari Oom Benny belum pulang juga, padahal aku ingin bertemu dengannya, sedangkan tiap malam aku diminta oleh tante untuk menemaninya ngobrol, bahkan tidak jarang disuruh menemani menonton VCD porno. Benar-benar gila.Hingga pada suatu malam tanteku merintih kesakitan. Waktu itu tante sedang nonton TV sendirian.

    Tiba-tiba wanita itu memekik, “Achhhh.., aduh.., tolong Wel..!” keluhnya sambil memegangi keningnya.

    “Kenapa Tante..?” tanyaku kaget dan khawatir.
    “Kepala Tante agak pusing.., aduh… tolong bawa Tante ke kamar Wel..!” keluh tante sambilmemegangi kepalanya.

    Aku jadi kebingungan dan serba salah.
    “Saya panggil Pak Bowo dulu ya Tante..?” usulku sambil ingin pergi.
    Tapi dengan cepat tanteku melarangnya, “Nggak usah, lagi pula Pak Bowo Tante suruh ke Pasuruan ngawal barang.”

    Aku jadi bertambah bingung. Terpaksa kutuntun tanteku untuk naik ke ruang atas. Tante merebahkan kepalanya pada pelukanku, aku jadi gemeteran sambil terus menaiki tangga.Sesampainya di dalam kamar, tante merebahkan tubuhnya yang seksi itu dengan telentang. Aku menarik napas lega dan bermaksud meninggalkan kamar. Baru saja kubalikkan tubuh, suara lembut itu melarangku.

    “Kamu mau kemana..? Jangan tinggalkan Tante.., tolong pijitin Tante.. Wel..!”

    Mendengar itu seluruh tubuhku jadi teringat pesan papa agar menuruti perkataan Oom dan Tanteku. Perlahan kubalikkan badan, ternyata tanteku telah melepas kimononya. Dan kini hanya tinggal CD saja.

    Tubuhnya yang masih padat membuat nafsuku naik, payudara yang masih montok dan menantang itu membuat kontolku mulai tegang, karena aku belum pernah melihat keindahan tubuh wanita dalam keadaan telanjang seperti ini, apalagi tanteku menggeliat perlahan. Desahan bibirnya yang tipis mengundang nafsu dan birahiku, dan kontolku semakin dibuatnya tegang. Kuberanikan diri melangkah menuju ranjang.

    Begitu sampai, tanteku yang pura-pura pusing itu tiba-tiba bangkit, lalu memelukku dan mencium bibirku dengan penuh nafsu. Wanita yang hipersex itu dengan cepat melucuti seluruh pakaianku.

    “Jangan Tante.., jangan, saya takut..” pintaku sambil mau memakai pakaianku kembali.
    “Kalo kamu menolak, Tante akan teriak dan mengatakan pada semua orang bahwa kamu mau memperkosa Tante…” ancam tanteku.

    Aku hanya terdiam dan pasrah. Wanita itu kembali mencumbuku, diciuminya dan dijilatinya tubuhku. Begitu tangan halusnya mengenggam kontolku, aku langsung membalas ciumannya dan mulai menjilati payudaranya, lalu kukulum putingnya yang berwarna merah agak kecoklatan itu. Tanteku mendesah perlahan.

    Selanjutnya kami memainkan posisi 69, sehingga kontolku dihisap dan dikemutnya. Nikmat sekali,kurenggangkan kedua pahanya sambil kujilat-jilat memeknya yang mulai basah itu.

    “Ahhhh.., aahhh.., ayo terus jilat Wel..! Jangan berhenti..!” erang tanteku keenakan.

    Rupanya tanteku mengeluarkan cairan dari dalam liang memeknya. Cairan itu memuncrat di wajahku, lalu kuhisap dan kutelan semua. Aku semakin terangsang, kujilati lagi kali ini lebih dalam, bahkan sampai ke duburnya. Kemudian kami berganti posisi, kali ini aku berdiri dan tante jongkok sambil mengulum kontolku yang sudah sangat tegang.

    Ternyata tanteku pandai sekali menjilat kontol, tidak sampai lima menit aku sudah keluar.

    “Ahhh.., ayo Tante.., terus jilat sayang.., acchhh..!” desahku sambil kudorong keluar masuk di mulutnya kontolku yang besar ini.
    “Tante mau keluar nih.., achhh.. yeahhh..!” erangku sambil kumuncratkan maniku di mulutnya.

    Tante menelan semua maniku, bahkan masih mengocoknya berharap masih ada sisanya.

    Setelah beberapa saat kontolku mulai bangun kembali. Setelah tegang dibimbingnya kontolku masuk ke liang memeknya. Kali ini aku di atas dan tante di bawah. Agak susah sih, mungkin sudah lama tidak service oleh Oom Benny. Setelah kepalanya masuk, kudorong perlahan hingga masuk semuanya ke dalam.

    “Ayo Wel..! Gerakin dong Sayang..!” pinta tanteku sambil menggerakkan pantatnya ke atas dan ke bawah karena ia sekarang berada di bawah.

    Akhirnya kudorong keluar masuk kontolku dengan gerakan yang cepat, sehingga semakin keras erangan tanteku. Beberapa saat kemudian aku sudah ingin keluar, “Aahhh..! Tante.., Welly udah mau keluar.., ahhh..!” kataku.

    “Sabar Sayang.., Tante sebentar lagi nih..! Yeahh.. ohh.. ahh.., **** me Wel..! Kita barengan ya Sayang..? Oh.. yeah..!”

    Rupanya tanteku juga hampir orgasme. Rasanya seperti ada yang memijat-mijat kontolku dan kakinya dilingkarkan ke pantatku. Tante bergetar hebat dan memelukku sambil memeknya mengeluarkan cairan yang menyemprot kontolku. Tidak lama aku juga mengeluarkan air mani dan spermaku di dalam memeknya. Terasa begitu nikmatnya dunia ini. Akhirnya kami berdua terkapar lemas.

    “Hebat bener kamu Wel.., Tante nggak nyangka baru kali ini Tante merasakan kenikmatan yang luar biasa..!” tuturnya dengan nafas terengah-engah.

    Aku diam tak menjawab, tapi dalam hati aku merasa bersalah telah berhubungan dengan tanteku dan takut ketahuan Oom Benny. Tante turun dari ranjang tanpa busana, lalu dia menyalakan sebatang rokok.

    “Bagaimana kalau Oom Benny sampai tahu, Tante..? Saya takut.., saya merasa berdosa…” kataku lemah.

    Tapi tanteku malah tersenyum dan memelukku dengan mesra.

    “Asal kamu tidak memberitahu orang lain, perbuatan kita aman. Lagi pula Oommu itu udah nggak bisa melakukan hubungan badan sejak lama. Dia itu impotent, Wel..!” tutur wanita tanpa busana yang penuh daya tarik itu.

    “Jadi semua ini Tante lakukan karena Oom Benny tidak bisa menggauli Tante lagi, ya..?” tanyaku.
    “Ya. Bukan sekali ini saja Tante melakukan hal seperti ini.., sebelum sama kamu, Tante pernah melakukannya dengan beberapa teman bisnis Oommu. Terus terang Tante nggak tahan kalau seminggu tidak disentuh atau dipeluk laki-laki..” tutur Tante.

    Aku jadi geleng kepala mendengar penjelasan tanteku. Lalu aku bergerak mau pergi, tapi dengan cepat tante menahanku dan mengusap-usap dadaku yang berbulu.

    “Well.., kamu harus bersihkan badanmu dulu.., mandilah supaya segar..!” ucapnya lembut.

    Aku tak menjawab hanya menarik nafas panjang, lalu melangkah ke kamar mandi. Tubuhku terasa letih namun puas juga.

    Begitulah pengalaman di Surabaya yang kualami. Dan sampai saat ini aku telah mempunyai istri dan seorang anak.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Sex Buah Terlarang

    Cerita Sex Buah Terlarang


    191 views

    Perawanku – Cerita Sex Buah Terlarang, Istri sudah punya. Anak juga sudah sepasang. Rumah, meskipun cuma rumah BTN juga sudah punya. Mobil juga meski kreditan sudah punya. Mau apalagi Pada awalnya aku cuma iseng-iseng saja. Lama-lama jadi keterusan juga. Dan itu semua karena makan buah terlarang.

    Kehidupan rumah tanggaku sebetulnya sangat bahagia. Istriku cantik, seksi dan selalu menggairahkan. Dari perkawinan kami kini telah terlahir seorang anak laki-laki berusia delapan tahun dan seorang anak cantik berusia tiga tahun, aku cuma pegawai negeri yang kebetulan punya kedudukan dan jabatan yang lumayan.

    Tapi hampir saja biduk rumah tanggaku dihantam badai. Dan memang semua ini bisa terjadi karena keisenganku, bermain-main api hingga hampir saja menghanguskan mahligai rumah tanggaku yang damai. Aku sendiri tidak menyangka kalau bisa menjadi keterusan begitu.

    Awalnya aku cuma iseng-iseng main ke sebuah klub karaoke. Tidak disangka di sana banyak juga gadis-gadis cantik berusia remaja. Tingkah laku mereka sangat menggoda. Dan mereka memang sengaja datang ke sana untuk mencari kesenangan. Tapi tidak sedikit yang sengaja mencari laki-laki hidung belang.

    Terus terang waktu itu aku sebenarnya tertarik dengan salah seorang gadis di sana. Wajahnya cantik, Tubuhnya juga padat dan sintal, Kulitnya kuning langsat. Dan aku memperkirakan umurnya tidak lebih dari delapan belas tahun. Aku ingin mendekatinya, tapi ada keraguan dalam hati. Aku hanya memandanginya saja sambil menikmati minuman ringan, dan mendengarkan lagu-lagu yang dilantunkan pengunjung secara bergantian.

    Tapi sungguh tidak diduga sama sekali ternyata gadis itu tahu kalau aku sejak tadi memperhatikannya. Sambil tersenyum dia menghampiriku, dan langsung saja duduk disampingku. Bahkan tanpa malu-malu lagi meletakkan tangannya di atas pahaku. Tentu saja aku sangat terkejut dengan keberaniannya yang kuanggap luar biasa ini.
    Sendirian aja nih…, Omm.., sapanya dengan senyuman menggoda.
    Eh, iya.., sahutku agak tergagap.
    Perlu teman nggak.. dia langsung menawarkan diri.

    Aku tidak bisa langsung menjawab. Sungguh mati, aku benar-benar tidak tahu kalau gadis muda belia ini sungguh pandai merayu. Sehingga aku tidak sanggup lagi ketika dia minta ditraktir minum. Meskipun baru beberapa saat kenal, tapi sikapnya sudah begitu manja. Bahkan seakan dia sudah lama mengenalku. Padahal baru malam ini aku datang ke klub karaoke ini dan bertemu dengannya.

    Semula aku memang canggung, Tapi lama-kelamaan jadi biasa juga. Bahkan aku mulai berani meraba-raba dan meremas-remas pahanya. Memang dia mengenakan rok yang cukup pendek, sehingga sebagian pahanya jadi terbuka.

    Hampir tengah malam aku baru pulang. Sebenarnya aku tidak biasa pulang sampai larut malam begini. Tapi istriku tidak rewel dan tidak banyak bertanya. Sepanjang malam aku tidak bisa tidur. Wajah gadis itu masih terus membayang di pelupuk mata. Senyumnya, dan kemanjaannya membuatku jadi seperti kembali ke masa remaja.

    Esoknya Aku datang lagi ke klub karaoke itu, dan ternyata gadis itu juga datang ke sana. Pertemuan kedua ini sudah tidak membuatku canggung lagi. Bahkan kini aku sudah berani mencium pipinya. Malam itu akau benar-benar lupa pada anak dan istri di rumah. Aku bersenang-senang dengan gadis yang sebaya dengan adikku. Kali ini aku justru pulang menjelang subuh.

    Mungkin karena istriku tidak pernah bertanya, dan juga tidak rewel. Aku jadi keranjingan pergi ke klub karaoke itu. Dan setiap kali datang, selalu saja gadis itu yang menemaniku. Dia menyebut namanya Reni. Entah benar atau tidak, aku sendiri tidak peduli. Tapi malam itu tidak seperti biasanya. Reni mengajakku keluar meninggalkan klub karaoke. Aku menurut saja, dan berputar-putar mengelilingi kota Jakarta dengan kijang kreditan yang belum lunas.

    Entah kenapa, tiba-tiba aku punya pikiran untuk membawa gadis ini ke sebuah penginapan. Sungguh aku tidak menyangka sama sekali ternyata Reni tidak menolak ketika aku mampir di halaman depan sebuah losmen. Dan dia juga tidak menolak ketika aku membawanya masuk ke sebuah kamar yang telah kupesan.

    Jari-jariku langsung bergerak aktif menelusuri setiap lekuk tubuhnya. Bahkan wajahnya dan lehernya kuhujani dengan ciuman-ciuman yang membangkitkan gairah. Aku mendengar dia mendesah kecil dan merintih tertahan. Aku tahu kalau Reni sudah mulai dihinggapi kobaran api gairah asmara yang membara.

    Perlahan aku membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan satu persatu aku melucuti pakaian yang dikenakan Reni, hingga tanpa busana sama sekali yang melekat di tubuh Reni yang padat berisi. Reni mendesis dan merintih pelan saat ujung lidahku yang basah dan hangat mulai bermain dan menggelitik puting payudaranya. Sekujur tubuhnya langsung bergetar hebat saat ujung jariku mulai menyentuh bagian tubuhnya yang paling rawan dan sensitif. Jari-jemariku bermain-main dipinggiran daerah rawan itu. Tapi itu sudah cukup membuat Reni menggerinjing dan semakin bergairah.

    Tergesa-gesa aku menanggalkan seluruh pakaian yang kukenakan, dan menuntun tangan gadis itu ke arah batang penisku. Entah kenapa, tiba-tiba Reni menatap wajahku, saat jari-jari tangannya menggenggam batang penis kebanggaanku ini, Tapi hanya sebentar saja dia menggenggam penisku dan kemudian melepaskannya. Bahkan dia melipat pahanya yang indah untuk menutupi keindahan pagar ayunya.
    Jangan, Omm…, desah Reni tertahan, ketika aku mencoba untuk membuka kembali lipatan pahanya.

    Cerita Sex Buah Terlarang

    Cerita Sex Buah Terlarang

    Kenapa tanyaku sambil menciumi bagian belakang telinganya.
    Aku…, hmm, aku… Reni tidak bisa meneruskan kata-katanya. Dia malah menggigit bahuku, tidak sanggup untuk menahan gairah yang semakin besar menguasai seluruh bagian tubuhnya. Saat itu Reni kemudian tidak bisa lagi menolak dan melawan gairahnya sendiri, sehingga sedikit demi sedikit lipatan pahanya yang menutupi vaginanya mulai sedikit terkuak, dan aku kemudian merenggangkannya kedua belah pahanya yang putih mulus itu sehingga aku bisa dengan puas menikmati keindahan bentuk vagina gadis muda ini yang mulai tampak merekah.

    Dan matanya langsung terpejam saat merasakan sesuatu benda yang keras, panas dan berdenyut-denyut mulai menyeruak memasuki liang vaginanya yang mulai membasah. Dia menggeliat-geliat sehingga membuat batang penisku jadi sulit untuk menembus lubang vaginanya. Tapi aku tidak kehilangan akal. Aku memeluk tubuhnya dengan erat sehingga Reni saat itu tidak bisa leluasa menggerak-gerakan lagi tubuhnya. Saat itu juga aku menekan pinggulku dengan kuat sekali agar seranganku tidak gagal lagi.

    Berhasil!, begitu kepala penisku memasuki liang vagina Reni yang sempit, aku langsung menghentakkan pinggulku ke depan sehingga batang penisku melesak ke dalam liang vagina Reni dengan seutuhnya, seketika itu juga Reni memekik tertahan sambil menyembunyikan wajahnya di bahuku, Seluruh urat-urat syarafnya langsung mengejang kaku. Dan keringat langsung bercucuran membasahi tubuhnya. Saat itu aku juga sangat tersentak kaget, aku merasakan bahwa batang penisku seakan merobek sesuatu di dalam vagina Reni, dan ini pernah kurasakan pula pada malam pertamaku, saat aku mengambil kegadisan dari istriku. Aku hampir tidak percaya bahwa malam ini aku juga mengambil keperawan dari gadis yang begitu aku sukai ini. Dan aku seolah masih tidak percaya bahwa Reni ternyata masih perawan.

    Aku bisa mengetahui ketika kuraba pada bagian pangkal pahanya, terdapat cairan kental yang hangat dan berwarna merah. Aku benar-benar terkejut saat itu, dan tidak menyangka sama sekali, Reni tidak pernah mengatakannya sejak semula. Tapi itu semua sudah terjadi. Dan rasa terkejutku seketika lenyap oleh desakan gairah membara yang begitu berkobar-kobar.

    Aku mulai menggerak-gerakan tubuhku, agar penisku dapat bermain-main di dalam lubang vagina Renny yang masih begitu rapat dan kenyal, Sementara Reni sudah mulai tampak tidak kesakitan dan sesekali tampak di wajahnya dia sudah bisa mulai merasakan kenikmatan dari gerakan-gerakan maju mundur penisku seakan membawanya ke batas ujung dunia tak bertepi.

    Malam itu juga Reni menyerahkan keperawannya padaku tanpa ada unsur paksaan. Meskipun dia kemudian menangis setelah semuanya terjadi, Dan aku sendiri merasa menyesal karena aku tidak mungkin mengembalikan keperawanannya. Aku memandangi bercak-bercak darah yang mengotori sprei sambil memeluk tubuh Reni yang masih polos dan sesekali masih terdengar isak tangisnya.
    Maafkan aku, Reni. Aku tidak tahu kalau kamu masih perawan. Seharusnya kamu bilang sejak semula…, kataku mencoba menghibur.

    Reny hanya diam saja. Dia melepaskan pelukanku dan turun dari pembaringan. Dia melangkah gontai ke kamar mandi. Sebentar saja sudah terdengar suara air yang menghantam lantai di dalam kamar mandi. Sedangkan aku masih duduk di ranjang ini, bersandar pada kepala pembaringan.

    Aku menunggu sampai Reni keluar dari kamar mandi dengan tubuh terlilit handuk dan rambut yang basah. Aku terus memandanginya dengan berbagai perasaan berkecamuk di dalam dada. Bagaimanapun aku sudah merenggut kegadisannya. Dan itu terjadi tanpa dapat dicegah kembali. Reni duduk disisi pembaringan sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk lain.

    Aku memeluk pinggangnya, dan menciumi punggungnya yang putih dan halus. Reni menggeliat sedikit, tapi tidak menolak ketika aku membawanya kembali berbaring di atas ranjang. Gairahku kembali bangkit saat handuk yang melilit tubuhnya terlepas dan terbentang pemandangan yang begitu menggairahkan datang dari keindahan kedua belah payudaranya yang kencang dan montok, serta keindahan dari bulu-bulu halus tipis yang menghiasi di sekitar vaginanya.

    Dan secepat kilat aku kembali menghujani tubuhnya dengan kecupan-kecupan yang membangkitkan gairahnya. Reni merintih tertahan, menahan gejolak gairahnya yang mendadak saja terusik kembali.
    Pelan-pelan, Omm. Perih…, rintih Reni tertahan, saat aku mulai kembali mendobrak benteng pagar ayunya untuk yang kedua kalinya. Renny menyeringai dan merintih tertahan sambil mengigit-gigit bibirnya sendiri, saat aku sudah mulai menggerak-gerakan pinggulku dengan irama yang tetap dan teratur.

    Perlahan tapi pasti, Reni mulai mengimbangi gerakan tubuhku. Sementara gerakan-gerakan yang kulakukan semakin liar dan tak terkendali. Beberapa kali Reni memekik tertahan dengan tubuh terguncang dan menggeletar bagai tersengat kenikmatan klimaks ribuan volt. Kali ini Reni mencapai puncak orgasme yang mungkin pertama kali baru dirasakannya. Tubuhnya langsung lunglai di pembaringan, dan aku merasakan denyutan-denyutan lembut dari dalam vaginanya, merasakan kenikmatan denyut-denyut vagina Reni, membuatku hilang kontrol dan tidak mampu menahan lagi permainan ini.. hingga akhirnya aku merasakan kejatan-kejatan hebat disertai kenikmatan luar biasa saat cairan spermaku muncrat berhamburan di dalam liang vagina Renny. Akupun akhirnya rebah tak bertenaga dan tidur berpelukan dengan Reni malam itu.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Sex Hubungan Gelap Dengan Selingkuhanku

    Cerita Sex Hubungan Gelap Dengan Selingkuhanku


    131 views

    Perawanku – Cerita Sex Hubungan Gelap Dengan Selingkuhanku, Aku seorang wanita berusia 32 tahun menjalin hubungan dengan seorang pria muda beumur 23 tahun. hubungan yang kami lakukan sudah berjalan kurang lebih tiga bulan atau kurang karena aku tidak pernah menghitung kapan tepatnya aku menjalin hubungan serius ini. Aku bilang hubungan serius karena kami sering melakukan adegan layaknya dalam cerita seks.

    Namaku Putri dan pria muda yang aku cinta itu biasa aku panggil Yan, sebenarnya aku seorang wanita yang sudah menikah dan Yan adalah laki-laki selingkuhanku. Tapi aku begitu mencintainya tapi saat ini yang aku sesali adalah egonya padaku, masih aku ingat akan janji manisnya yang selalu tergiang di telingaku kalau dia bersedia mengajakku lari jika hubungan kami sampai ketahuan.

    Aku tergiur dengan semua janji manisnya bahkan aku rela menyerahkan semua yang aku punya untuknya, begitu juga dengan hatiku. Sejak kejadian pertama kali kami melakukan adegan seperti dalam cerita seks dia bersikap seolah punya hak atas diriku, apabila dia memintaku untuk meleyaninya akupun memenuhi keinginannya untuk melakukan hal itu.

    Tidak terkecuali jika kami bertemu di tempat biasa kami melakukan hubungan intim layaknya dalam cerita seks. Diapun bersikap dewasa di depanku tapi jika aku melakukan kesalahan sekecil apapun dia terlalu membesar-besarkannya, tanpa mengerti perasaanku yang hampir setiap waktu selalu memikirkannya dan aku juga ingin selalu bersamanya kapanpun dan dimanapun.

    Tapi Yan tidak menghargai aku meskipun sering kali kami melkaukan adegan cerita seks itu. Aku bingung dengan sikapnya bahkan aku takut jika dia sampai meninggalkan aku tapi aku harus mencoba belajar kalau suatu saat hal itu akan terjadi juga, dan aku harus bersiap-siap dnegan hatiku tapi kali ini tanpa alasan yang jelas kali ini dia tidak menghubungiku.

    Mungkin kali ini dia benar-benar benci padaku, tanpa dia tahu kalau saat ini aku selalu mengisinya dan terasa sesak dalam hatiku setiap mengenang apa yang telah kami laukan berdua. Sepertinya baru kemaren kami melakukan adegan seperti dalam cerita seks, meskipun aku merasa kurang puas dengannya tapi aku bersikap seolah aku puas dengan permainan sex yang dia berikan padaku.

    Hari itu seperti biasa aku menemuinya di tempat yang telah kita janjikan. Di sana kami langsung berciuman begitu kami sudah mendekat satu sama lain, dengan mesra juga aku kulum bibir manisnya diapun membalas kulumanku dengan hangat. Semakin bergairah hatiku ketika tangannya meremas tetekku bahkan aku menggelinjang di buatnya akupun merasakan nikmat tiada terkira.

    Dengan penuh kelembutan aku terus memainkan lidahku di dalam rongga mulutnya, diapun melakukan hal yang sama padaku ” Ooouuuggghhh…. oooouuuuggghh….. eeeeuuummmppphhh….. eeeeuuuummmppphh…. aaaaaggghh….. ” Desahku menikmati kuluman bibir manisnya aku begitu bergairah mendapatkan ciuman mesra darinya kini dia berani melakukan hal yang lebih memuaskan padaku.

    Dia benamkan wajahnya untuk menghisap putingku kembali aku mendesah sambil membelai rambutnya ” OOouuuggggghhhhh…. ooouuugggghhh…. oooouuugghh….. aaaaagggghhhh…. aaaaaggghhh…… ” Dengan lebih keras Yan terus memainkan putingku bahkan dia meremas kedua tetekku dengan gemasnya dan aku hanya bisa menikmati permainan tangannya.

    Bagai pemain dalam adegan cerita seks, diapun memintaku untuk menindih tubuhnya. Dengan mencoba mnyibak rokku akupun menuntun kontolnya untuk dapat menyelinap masuk dalam lubang memekku, tapi aku merasa kontolnya masih belum berdiri tegak juga namun Yan mencoba terus memasukan dalam memekku sedangkan aku merasa sudah agak kecewa pada kontolnya.

    Tapi aku bersikap biasa saja di depannya, kasihan juga jika aku harus mengatakan hal itu. Lama kelamaan akhirnya kontol Yan menegang juga saat itulah aku bergerak di atas tubuhnya, kembali aku mendesah karena nikmatnya ” OOOuuuuuuuuuggghhh…. oooouuuggghh….. ooouuggghhh….. aaaaaggghhh…. terus….. aaaaaggghhh… ” Serasa hangat dan nikmat dalam memekku.

    Kini Yan memintaku untuk membalikan tubuhku, dengan posisi dia berada di atas tubuhku akupun terlentang di bawah tubuhnya ” OOouuugghhh….. ooouuugggghh…. aaaagggghhh…. aaaaggggghh…. ” Semakin cepat juga Yan menggoyangkan pantatnya dan aku terus mencoba mengimbanginya dengan cara melebarkan pahaku dari bawah tubuhnya yang terus bergerak cepat.

    Aku merasa ada sesuatu yang nikmat menjalar dari dalam tubuhku, semakin cepat Yan bergerak semakin nikmat rasa yang ada dalam tubuhku. Hingga akhirnya tidak berapa lama kemudian dia menumpahkan lendir kentalnya dalam memekku dan akupun menyuruhnya untuk segera bangun daripada sampai ketahuan orang lain, tapi aku puas dengan adegan layaknya dalam cerita seks yang baru kami lakukan.

    Aku melihat Yan masih terbaring lemas di atas tempat tidur sedangkan aku langsung membersihkan diri pergi ke kamar mandi. Tidak ada rasa sesal sama sekali dalam hatiku tapi jika mengingat apa yang telah dia lakukan pada hatiku ingin rasanya aku hilang di hadapanya tapi aku tidak tahu harus melakukan apa, karena masih ada yang harus aku lakukan yakni merawat anakku.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Hot Bergambar Di Kapal Bersama Cindy – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Hot Bergambar Di Kapal Bersama Cindy – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    737 views

    Perawanku – Kulit aku yang cukup gelap , badan aku yang cukup atletis , dan yang pasti batang kemaluan aku yang cukup ukurannya . Namun mungkin sebab secara naluri aku sungguh-sungguh senang melayani orang lain , sehingga aku menjadi seperti sekarang ini dengan segala kelebihan yang aku miliki .

    Awal cerita di kala tahun 2018 , aku berangkat dari kampung halaman aku dengan menumpang salah satu kapal milik PELNI , KM Rinjani . Karena waktu itu aku di terima sebagai seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggu di kota Yogyakarta , kota yang sekarang menjadi daerah tinggal aku .

    Sebagai seorang mahasiswa baru dari keluarga yang berkecukupan , aku sungguh-sungguh bangga apalagi untuk berangkat ini aku di bekali cukup uang dan tiket di kelas satu . Dan juga aku di bolehkan untuk mampir di rumah paman yang tinggal di jakarta dan jalan-jalan di sana sebelum daftar ulang sebagai mahasiswa baru di Jogja .

    Saat naik kapal pada hari keberangkatan , hati ini terasa senang sekali . Aku seketika menuju kamar aku . Kamar kelas satu , yang pasti sudah terbayang aku sungguh-sungguh enak rasanya . Namun aku kaget sekali , sebab di dalam kamar sudah ada seorang wanita . yang terus terang saja ada sedikit rasa senang juga sebab wanita tersebut tersenyum dengan manis nya di kala memperhatikan aku agak kaget .

    ” Ohh maaf , mungkin mabk ini salah kamar .. ? ” tanya aku agak ragu .
    karena setahu aku tidak mungkin sudah kerap kali berpergian dengan kapal laut , dalam satu kamar harus nya hanya ada satu tipe kelamin , jika laki-laki ya laki-laki segala , atau jika peremouan ya perempuan segala .

    Namun sudah di cocokan terbukti nomer tiket kami sama , artinya kami satu kamar . Wahh , terus terang aja aku agak canggung juga rasanya , melainkan di balik kecanggungan aku ada rasa senang juga loh . Karena wanita yang ini cukup cantik juga dan body nya cukup menggairahkan . dan sebab aku kerap kali sekali nonton film porno , seketika aku membayangkan jika nanti malam kami akan tidur berdua dan berpelukan dengan saling mengelus-elus ‘ sentra ‘ kenikmatan masing-masing.

    Pada waktu pemeriksaan tiket , tanpa ragu dia seketika mengatakan bahwasanya aku ialah adik sepupunya , jadi oleh petugas kami tak di pindahkan . Wahh , tambah senang lah hati ini . Dan semenjak itu kami banyak sekali ngobrol-ngobrol , dari situ juga aku tahu jika dia adalah pegawai sebuah bank swasta di jakarta . Bernama cindy . Suaminya seorang dosen sebuah perguruan tinggi di jakarta , dan yang lebih hebat lagi dia tak sesuai dengan umurnya yang sudah 35 tahun dan sudah beranak dua .

    Setelah makan siang kami masih melanjutkan obrolan kami tentang beragam hal di anjungan depan kapal . kapal kami sudah semakin jauhh dari daratan , jarum jam sudah pukul dia , hawa terasa agak panas , mata mulai mengantuk di terpa angin laut , akhirnya kami menentukan untuk beristirahat saja . Tanpa sadar Cindy menggandeng tangan aku dikala kami berjalan menuju kamar . Sebab agak canggung , tanggan nya aku lepaskan . Cindy agak kaget melainkan dia bahkan tersenyum manja .

    Memang pada waktu itu aku kerap kali menonton film porno dan juga kerap kali beronani , melainkan melakukan hubungan seks aku belum pernah sama sekali . jadi hati ini rasanya deg-degan luar biasa . , sebab di kala berjalan di lorong kapal yang kebetulan aku berada di belakangnya , aku memperhatikan pantatnya yang bulat yang terbalut celana jeans ketat dan rambutnya yang panjang sepunggung dan diikat sehingga terlihat level belakang lehernya yang putih dan mulus .

    ” Ohh !! Cantik sekali ” jerit batin aku .

    Pada waktu itu aku berharap memeluknya dari belakang dan berharap seketika mencium lehernya itu , melainkan sekali lagi hati ini rasanya canggung sekali , boleh di bilang aku takut !

    Saat kami bersama-sama masuk kamar cindy seketika menuju ke kemar mandi , katanya dia sudah kegerahan dan sebelum tidur siang berharap mandi dulu . Aku seketika rebahan di daerah tidur sambil membayangkan tubuh cindy yang pasti sintal dan menggairahkan jika diamati dari pantatnya yang bulat . Tanpa sadar tangan kiri aku sudah mnegendalikan batang kemaluan yang mulai mengeras .
    Namun tiba-tiba ada bunyi dari balik pintu kamar mandi , ” Mass Andi , Tolong ambilkan handuk aku di dalam koper dong .”
    Aku kaget setengah mati , sebab pikir aku Cindy sudah keluar dari kamar mandi . Saat mengambil handuk , aku memperhatikan pakaian dalamnya yang baik-baik dan supermini .
    ” Ohhh .. ! ” batin ini semakin menjerit ,
    Karena sebagai seorang laki-laki normal , pasti siapa saja tak akan tahan dengan momen seperti ini .

    Pintu aku keyuk untuk memberikan handuknya , dan di kala pintu di buka , alangkah kagetnya aku sebab Cindy berdiri di depan pintu hanya dengan celana dalam yang sungguh-sungguh mini dengan bordiran yang apik dan sungguh terang sekali terlihat gunungan hitam di selangkangan seperti akan meletus . Saat memperhatikan aku tertegun dengan handuk di tangan , dengan cueknya Cindy menarik tangan aku untuk mandi bersama .

    Pada waktu itu aku hanya seperti robot yang bergerak hanya jika di setel untuk bergerak . Karena terus terang saja . Waktu itu pikiran aku seakan tak percaya dengan apa yang sedang ada di hadapan ku .rupanya tubuh Cindy lebih cantik daripada apa yang aku bayangkan , dan lebih hebat lagi lebih cantik dalam kondisi telanjang .

    Tanpa sadar aku melepaskan celana dalam Cindy , Dan tubuhnya sekarang ku sirami dengan air dari shower . Cindy melenggak-lenggok pantatnya yang bulat dikala air shower aku arahkan ke pantatnya. Dan dikala aku arahkan ke punggung, Cindy meliuk-liukkan tubuhnya dengan sungguh-sungguh erotis. Tiba-tiba Cindy membalikkan tubuhnya dan seketika melahap bibir aku, dengan pesat dihisap dan disedot.
    Namun tiba-tiba Cindy berhenti dan marah, “Hey, dicopot dong bajunya!”
    Aku hanya bisa terawa kecil sebab bersamaan dengan itu Cindy bahkan dengan bergairahnya mencopot kaos dan celana panjang aku yang mana celana dalamnya seketika ikut serta terlepas.

    “Wow, lucu sekali bentuk batang kamu Andi..?” Cindy bertanya dengan manjanya.
    “Lho apa punya suami kamu nggak lucu tuh..?” aku balik tanya dan Cindy hanya tertawa dengan ujung kemaluan aku yang sudah berada di dalam mulutnya.

    Gila! Cindy benar-benar luar lazim, mungkin sebab dia sudah bersuami dan sudah punya anak pula. Dan baru kali ini aku menikmati alangkah nikmatnya apa yang selama ini selalu aku tonton di film dan selalu aku bayangkan siang dan malam. Dengan gemasnya Cindy mengelus-elus buah zakar dan menghisap-hisap kepala penis aku dengan lembutnya.

    Tak terasa sudah lama sekali Cindy menghisap batang penis dan akhirnya, “Hey, capek nih jongkok terus. Gantian dong..!”

    Cindy lalu aku gendong ke arah daerah tidur, lalu aku rebahkan dengan kakinya yang putih mulus terkulai di lantai. Kaki Cindy aku angkat perlahan-lahan, sambil memberikan sedikit sensasi di talapak kaki. Cindy kegelian dan mengelinjang, kemudian aku mulai menyerang payudaranya yang memang tak begitu besar melainkan cukup menggoda.

    Ujung penis aku gosok-gosokkan di lubang vaginanya sambil menghisap-hisap puting payudara Cindy. Aku semakin menikmati permainan dikala Cindy mulai mengerang-ngerang keenakkan. Dan dikala pinggulnya mulai digerak-gerakkan ke atas dan ke bawah aku mulai menyadarai jika Cindy minta dicoblos liang vaginanya. Namun aku sengaja untuk mempermainkan ujung penis di mulut vagina Cindy.

    “Ayo Andi, dimasukkan saja, jangan hanya diluar begitu dong..!” akhirnya Cindy benar-benar tak tahan.
    Lalu aku mulai menekan panis aku untuk masuk ke dalam vagina Cindy. Uuuhhh..! Hangat dan enak sekali rasaya. Cindy sambil mengerang keenakkan mangangkat pantatnya, sehingga penis aku semakin dalam masuknya. Aaahhh..! Semakin enak saja rasanya. Nantinya aku tahu jika berkaitan seks itu sungguh-sungguh enak rasanya.

    Saat pantat Cindy diwariskan, tiba-tiba penis aku terlepas dari lubangnya. Cindy menaikkan lagi pantatnya, dan dikala diwariskan lagi terlepas lagi. Begitu dan seterusnya sampai Cindy marah-marah sebab terbukti aku hanya membisu saja.
    “Ayo dong Andi kamu goyang juga pantatmu maju mundur. Ayo… dongg..!”

    Aku semakin tahu jika behubungan seks bukan saja enak melainkan juga menyenangkan. Pantat Cindy mulai membisu dan pantat aku mulai digerakkan. Perlahan-lahan aku masukkan batang penis yang sudah sungguh-sungguh tegang ini, dan aku tarik lagi dengan satu hentakan keras.

    Perlahan-lahan lagi aku masukkan dan aku tarik lagi dengan satu hentakan keras. Cindy merem melek dikala aku masukkan, dan Cindy mengerang keras dikala aku tarik. Begitu terus aku lakukan sampai akhirnya Cindy bangun dan memeluk aku.

    Dengan mesranya aku menggendong dan mencium bibir Cindy. Namun aku kaget dikala tiba-tiba Cyndi menggoyang dengan keras sekali pantatnya, diputar-putar pantatnya pada gendongan aku, dan pada dikala itu aku semakin kaget dikala tiba-iba pula lubang vaginanya terasa mengecil lalu dengan kerasnya Cindy berteriak, “Annddiii..!” dan keringat kecil-kecil mulai keluar di atas keningnya.

    Sekali lagi, dari sinilah aku benar-benar tahu bahwasanya berkaitan seks itu enak sekali, menyenangkan, dan yang lebih menyenangkan lagi jika kita bisa membawa pasangan kita ke puncak kenikmatan. Karena pada dikala kita memperhatikan pasangan kita menggelinjang keenakkan pada dikala itu pula hati ini akan terasa plong.

    Kembali Cindy marah, sebab dia sudah kelelahan sementara batang kemaluan aku masih berdiri tegak. Dan yang pasti aku belum ejakulasi. Namun sambil mengecup bibir Cindy dengan lembut aku katakan jika aku sudah sungguh-sungguh senang dikenalkan dengan hubungan seks yang sebenarnya, dan aku sudah sungguh-sungguh puas memperhatikan dirinya puas dan senang dengan permainan aku.

    Nantinya kami mandi bersama, dan di kamar mandi kami masih mengulangi permainan-permainan yang lebih menyenangkan lagi. Hampir setiap dikala dan setiap kesempatan di kapal kami melakukannya lagi dan lagi. Saat sampai di Jakarta, dia memberikan alamat dan nomer teleponnya dan berharap sekali jika aku berharap mampir ke rumah atau kantornya.

    Beberapa kali Cindy pernah aku hubungi dan beberapa kali kami pernah berjumpa, sampai akhirnya sekarang kami tak pernah lagi berjumpa sebab terakhir kali aku hubungi alamatnya sudah pindah.

    Entah dimana kamu Cindy, melainkan yang terang aku selalu merindukan kamu, sebab kamu sudah memberikan pengalaman dan pengetahuan yang berharga tentang bagaimana berkaitan seks dan memuaskan pasangan main.

  • Cerita Sex Aku Terjerat Dalam Pergaulan Bebas – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Cerita Sex Aku Terjerat Dalam Pergaulan Bebas – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1048 views

    Perawanku – Saya terlahir dari keluarga berada, dan cukup terhormat. Dan saya keturunan Indo, campuran dari berbagai suku bangsa (negara). Saya pun tumbuh layaknya gadis lain. Lincah, banyak teman dan di sekolahan termasuk murid pintar. Itu kata Bu Guru dan teman-teman. Tapi, dari nilai yang ada di rapor dengan rata-rata delapan bisa jadi kata Guru dan teman-teman itu benar. Namun dalam perjalanan pendidikan sempat mengalami hambatan. Dan akhirnya dapat juga menyelesaikan pendidikan diploma (2) bidang sekretaris, yang sempat terseok-seok disebabkan oleb pergaulanku yang sudah termasuk kelewat batas.

    Saya memang termasuk anak yang menganut pergaulan bebas. Tepatnya kelas dua SMA sudah menjalin kasih dengan teman sekolah. Dan hubungan kami sampai di luar batas. Melakukan hal yang mestinya baru boleh dilakukan setelah ada ikatan resmi, nikah.

    Itu terjadi karena dalam keluargaku saya bungsu dan empat bersaudara kurang mendapat didikan dan perhatian dari kedua orang tua. Kedua orang tuaku sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Dan kami anak-anaknya dipercayakan kepada pembantu. Ayah dan ibu seolah berkewajiban hanya menyiapkan uang untuk berbagai kebutuhan. Tapi dari segi kasih sayang sama sekali tidak merasakan. Karena ayah dan ibu pulang rata-rata sudah larut malam. Untuk sekadar makan bersama atau kumpul keluarga saja boleh dikatakan hampir tak pernah.

    Kondisi itu sepertinya tidak dipedulikan oleh ketiga kakakku, dua pertama perempuan, dan ketiga laki-laki. Bisa jadi karena sudah biasa. Tapi bagi saya (bungsu), sangat mendambakan belaian dan kasih sayang yang hangat dari ayah dan ibu. Dan harapan itu sangat terasa saat menjelang tidur malam. Ingin rasanya mendapat pelukan dan ciuman khususnya dari ibuku. Namun akhirnya dari harapan kasih dari kedua orang tua yang tak kunjung tiba, membuat saya menjadi terbiasa mandiri. Bahkan menjadikan saya perempuan tegar tidak cengeng. Hampir semua persoalan hidup, saya hadapi dan coba selesaikan sendiri.

    Akhirnya dalam pergaulan untuk menghilangkan stres dan rasa penat di dalam rumah, sering keluar jalan-jalan mencari hiburan nonton film ramai-ramai bersama teman atau sekadar kongkow-kongkow hingga larut malam. Di dalam pergaulan ini saya mengenal yang namanya obat-obatan dan mulai merokok. Sepertinya saat itu tidak ada beban dan rasa bersalah dengan keputusan yang saya ambil itu.

    Apalagi ketiga kakakku juga tidak ada yang dapat sebagai panutan. Semua bersikap cuek. Jadi yang kuperbuat ya sah-sah saja. Tidak ada yang melarang, apalagi masing-masing (kakak-kakakku) punya kesibukan sendiri-sendiri. Yang pertama Kak Intan, yang saat itu sedang kuliah asyik dengan kehidupannya sendiri bersama sang pacar satu kampus.

    Kak Mira (kedua) kelakuannya juga tidak terlalu berbeda dengan Kak Intan. Di samping kuliah juga terlalu asyik dengan pacarnya. Sementara Kak Niko (ketiga) memang lebih liar dibanding kedua kakak perempuannya. Hampir tiap hari pulang larut malam. Dan sekolahnya boleh dikatakan sudah drop. Kerjanya hanya main, dan kalau siang tidur. Tiap hari minta uang kepada ayah, jika tidak diberi pindah minta ke ibu. Ada saja alasan untuk kebutuhan. Saya sendiri sebagai adik sampai berpikir mau jadi apa nanti Kak Niko itu.

    Pernah suatu hari, saya merasa kurang nikmat badan dan minta ijin pulang. Sampai di rumah, di kamar kakakku Intan yang bersebelahan dengan kamarku terdengar suara aneh, rintihan tapi disertai desahan. Yang sedianya pulang untuk istirahat, dengan adanya suara itu saya penasaran mencari tahu. Kondisi rumah, jika siang memang sepi. Karena semua kakakku dan aku pergi sekolah. Tinggallah pembantu sendirian. Kadang kakak Intan memang kuliah siang. Seperti siang itu, Kak Intan kuliah siang.

    Saya coba membuka pintu kamar Kak Intan, dalam benak saya siapa tahu sakit seperti saya dan perlu pertolongan. Tapi pintu dikunci. Suara itu makin jelas, dan sepertinya Kak Intan tidak sendirian. Nah saya mencoba mengintip lewat lubang kunci. Degup jantungku bergetar keras dan kencang. Melihat adegan seni yang saya ketahui, meski masih dalam khayalan dari membaca stensilan yang dipinjami teman.

    Cukup goyah lututku menyaksikan keasyikan kakakku yang tanpa pembalut tubuh bergelut dengan teman prianya. Perbuatan yang sebelumnya hanya saya khayalkan, kini terpampang di depan mata disajikan oleh kakakku Intan. Cukup lama pergumulan itu berlangsung. Dengan rasa tak tahan namun kepinginnya terus nonton, saya masuk kamar dan rebahan. Suara kakaku dan teman prianya terus menggoda. Akhirnya saya tidak lagi merasakan sakit, bahkan penyakit pusing itu lantas hilang begitu saja.

    Suara desahan Kak Intan tidak kedengaran lagi, yang ada obrolan mereka berdua. Dan mereka lantas berangkat kuliah. Tidak tahu jika saya pulang lebih awal dan telah menyaksikan perbuatan bejatnya. Sayapun terus membayangkan kejadian yang baru saja terjadi. Namun terhadap Kak Intan saya bersikap biasa, seolah tidak tahu apa yang telah dilakukan dengan kekasihnya. Kepada ayah dan ibu saya juga tidak bercerita, saya pikir apa pedulinya toh sepertinya kakak saya begitu menikmati terlihat dan cara bermain dan pagutannya saat itu.
    Sejak kejadian itu, saya jadi sering bolos sekolah. Ingin mengulang menonton ‘pergulatan’ Kak Intan. Dengan cara mengendap-endap masuk rumah takut ketahuan terus menyelinap masuk kamar. Namun harapan untuk mendapatkan tontotan menarik seperti siang kemarin sia-sia. Karena teryata Kak Intan kuliah pagi.

    Nah saat saya dalam keadaan antara tertidur, terdengar sayup-sayup suara dua orang sedang ngobrol di kamar sebelah, kamar Kak Mira (kakak kedua saya). Pikir saya mereka baru pulang kuliah. Kamar Kak Mira memang bersebelahan dengan saya. Kamar kami (cewek) bertiga berjejer, dan saya yang di tengah. Sementara kakak laki-laki saya, Niko kamarnya di depan.

    Kak Mira pulang kuliah mengajak teman laki-laki ke rumah. Pertama obrolan itu soal pelajaran. Namun lama-lama suara obrolan itu hilang, berganti suara desahan. Saya kontan bangun dan mengendap-endap mencari lubang kunci. Dan setelah di luar saya terkejut, karena pintu Kak Mira tidak ditutup dan terbuka cukup lebar. Saya sendiri jadi serba salah, takut ketahuan. Tapi suara musik di kamar Kak Mira membuat langkah dan gerakan saya tidak terdengar. Bahkan Kak Mira sepertinya tidak peduli dengan pintu yang masih terbuka itu.

    Setelah mendapat posisi yang aman, saya mengamati dengan cermat gerakan demi gerakan yang dilakukan Kak Mira bersama temannya. Terlihat mereka masih mengenakan pakaian lengkap. Hanya saja rok Kak Mira mulai tersingkap, CD-nya terlihat. Sementara Si pria masih lengkap dengan t-shirt dan celana jeans. Tapi pagutan dan ciuman mereka berdua sepertinya membawa ke langkah yang makin seru. Masing-masing berlomba melucuti pakaian lawannya. Hingga akhirmya keduanya dalam kondisi telanjang. Cukup nanar dan gemetar juga saya menyaksikan adegan itu. Dan adegan seperti itu pernah saya saksikan lewat film BF bersama teman-teman usai sekolah, di rumah Linda (teman sekelas). Dan kedua saat melihat Kak Intan sedang main dengan pacarnya. Namun saat nonton Kak Intan kurang seru disamping lewat lubang kunci, shownya sudah setengah main.

    Hari ini sungguh berbeda, saya menyaksikan seluruh permainan dari awal. Sungguh mendebarkan, Kak Mira meraih batang penis pacarnya, kemudian mulai dikocok-kocok dengan perlahan. Terlihat batang penis pacar kakakku mulai tampak membesar dan memanjang, sampai akhirnya dengan mata kepalaku sendiri aku menyaksikan bagaimana batang penis yang tadinya layu kini telah berdiri dengan kerasnya dan sangat panjang, mengundang hasrat birahiku untuk turut merasakan kehangatan dan kedahsyatan penis pacar kakakku ini. Dengan penuh birahi kakakku mulai mengulum batang penis dihadapannya, sementara tangannya tetap mengocok-ngocok bagian tengah kebawah batang penis, kulihat tubuh pacar kakakku berkelejat-kelejat dan dari mimik wajahnya seakan menahan serangan kenikmatan yang datang bertubi-tubi di daerah sekitar batang kepala penisnya.

    Pergulatan Kak Mira dan temannya semakin seru, saling memagut, mendesah, memburu, dan akhirnya saya lihat mereka berdua berada dalam permainan seks yang menggairahkan saat teman kakakku mulai memasukkan batang penisnya yang panjang kedalam vagina kakakku, kudengar kakakku mulai berteriak-teriak kecil dengan disertai desahan-desahan penuh birahi, kuakui memang teman kakakku ini memiliki stamina yang kuat sanggup bermain dalam satu jam dalam beberapa posisi yang pernah kulihat dalam video seks kamasutra, kuhitung-hitung kakakku sudah mengalami orgasme tiga kali dalam permainan tersebut, hingga pada akhirnya kulihat teman kakakku menggenjot-genjotkan batang penisnya secara cepat, dan.., tiba-tiba manarik batang penisnya dengan cepat dari vagina kakakku, dan beberapa detik kemudian kulihat semprotan sperma begitu banyaknya dan akhirnya teman kakakku mulai terkulai lemas dengan mandi keringat. Namun posisi mereka tetap berpelukan.

    Saya pun dengan lemas dan gemetar masuk kamar. Namun pada saat menyaksikan adegan pergumulan itu tidak terasa tangan saya seperti dibimbing meraba dan menyentuh ‘barang’ terlarang milik saya. Dengan tidak sadar tangan saya mengusap-usap diantara selangkangan. Dan saya mendapatkan rasa kenikmatan. Sepertinya ada cairan yang keluar dari dalam, dan saya tidak tahu apa yang keluar itu. Yang ada rasa nikmat tiada tara saat itu.

    Nah perbuatan itu (mengusap kemaluan) saya lakukan di saat sendirian di dalam kamar. Dan ternyata saya mendapat kenikmatan yang sama seperti saat sedang nonton Kak Mira bercumbu. Bahkan perbuatan itu terus diulang-ulang. Rasa penasaran pun makin menjadi-jadi, akhirnya saya ingin tahu bagaimana rasanya berhubungan. Suatu saat, sebetulnya tidak sengaja. Saya bermaksud pinjam catatan pelajaran kepada pacar, yang tidak sempat saya ikuti karena tidak masuk sekolah. Kebetulan buku itu ada di rumah. Maka saya diajak ke rumahnya mengambil buku itu.

    Rumah pacar saya siang itu sepi. Kedua orang tuanya bekerja, sementara pacar saya anak satu-satunya. Yang ada di rumah hanya pembantu. Rumah itu cukup besar dan sepi. Saya dipersilakan masuk, dan diajak ke kamarnya. Setelah diambilkan minum, kami ngobrol. Pacar saya sepertinya telah berpengalaman dalam berpacaran. Terlihat dan saat ngobrol tangannya mulai aktif meraba daerah sekwilda (sekitar wilayah dada) milik saya. Namun anehnya saya menikmati, dan membiarkan tangan itu menelusuri daerah sensitif saya.

    Teringat yang dilakukan pacar saya, seperti saat pacar Kak Mira melakukan hal yang sama. Saya pun terlena dalam kenikmatan, seperti terbang diawang-awang. Dan akhirnya perbuatan yang tadinya hanya dalam angan, kini kunikmati sungguhan. Kamipun sudah dalam kondisi polos, suara mendesah bercampur degup kencang jantung ada di dalam tubuhku. Saya pun rebah ditindih. Bukan sakit yang saya rasakan, tapi kenikmatan. Dan akhirnya kami pun sampai batas ‘perburuan’, lemas, lunglai dan bermandikan keringat. Untuk beberapa saat kami berpelukan, rasanya tidak ingin melepas, malah inginnya mengulang lagi. Dan perbuatan itu kami ulang setiap ada kesempatan. Sampai selesai sekolah diploma. Kamipun sebelum melakukan hubungan sering menggunakan obat-obatan terlebih dulu. Dan ternyata berdampak makin lebih nikmat dalam berhubungan. Hubungan kamipun lepas begitu saja, setelah pacar dengan alasan meneruskan sekolah, pergi ke luar negeri.

    Bagi saya kepergian pacar saat itu tidak masalah. Toh dalam benak saya masih banyak pria lain yang antri untuk bisa kencan denganku. Mengingat dan merasakan pengalaman seks selama ini, banyak laki-laki yang mencoba mendekati saya dan mengutarakan cinta. Saya saja yang agak jual mahal. Nah saat baru selesai sekolah (diploma), sementara lagi kosong pacar tidak ada, saya banyak tinggal di rumah. Kegiatan diisi dengan baca buku, dan baca apa saja. Paling kalau jenuh, ke rumah teman ngobrol hingga malam, terus pulang langsung tidur.

    Saat pulang pukul 24.00 WIB, dan pintu rumah memang hampir tidak pernah terkunci, saat buka pintu melewati depan kamar Kak Niko terdengar suara agak aneh. Ada desahan suara tertahan, sementara ada pula suara cekikikan. Saya yakin di kamar Kak Niko ada dua orang. Kebetulan saat itu ayah sedang tugas ke luar kota, dan ibu ikut mendampinginya. Ruang depan memang sudah gelap, tapi ruang Kak Niko terang, jadi cukup leluasa saya mencari tahu apa yang sedang dikerjakan kakakku. Kebetulan Kak Niko tidak pernah menutup jendela kamarnya yang terletak di dalam rumah. Dari jendela itu, saya mengendap mengintip. Dalam benak saya, yang terjadi di dalam kamar sama dengan kejadian seperti Kak Intan dan Kak Mira saat itu, ‘pergumulan’.

    Benar saja. Kakak saya dan teman wanitanya setengab baya (35-an) namun masih terlihat cantik dan seksi sedang bergumul tanpa sehelai pakaian. Kak Niko terlihat begita asyik mencumbu, dan tak henti-hentinya menciumi seluruh bagian lekuk-lekuk tubuh si wanita. Si wanita menggelinjang, tertawa cekikikan di antara desahan yang tertahan.

    Cukup lama permainan mereka itu berlangsung. Bahkan Si wanita sepertinya sudah tidak tahan, menjerit-jerit kecil dan memohon kepada Kak Niko, “Please, please”, katanya. Kak Niko sepertinya tidak peduli dengan kondisi wanita yang sudah seperti cacing kepanasan. Dan akhirnya, mereka berdua bergumul saling mendekap erat, berlomba mencapai perpaduan. Selesai sudah. tapi saya tidak lantas beranjak dari posisi. Penasaran ingin tahu apa lagi yang akan diperbuat. Posisi mereka telentang dan membiarkan tubuhnya terhampar tanpa pakaian. Tapi Si wanita, masih menggelayut dan mencumbu. Kakak saya bersuara, “Bayar dulu”, katanya.
    “Jangan khawatir”, jawab Si wanita. Dan Si wanita bangkit, berjalan gontai menuju kursi belajar Kak Niko, di mana di situ terletak tasnya. Dari dalam tas wanita itu mengeluarkan uang lima puluh ribuan, saya taksir sekitar satu juta.

    Lantas uang itu dilemparkan kepada Kak Niko.
    “Bagaimana”, kata wanita itu. “Thanks darling”, jawab Kak Niko.
    Dan wanita itu tidur rebahan di sebelah kakakku. Mereka ngobrol tapi tangan masing-masing aktif menjamah daerah sensitif lawan. Lama-lama mereka mulai terangsang lagi. Ronde kedua jelas tinggal nerusin. Tidak perlu capai-capai pemanasan. Tapi saya melihat sebelum melakukan ‘pertempuran’ mereka berdua sepertinya mengkonsumsi obat. Sehingga permainan mereka terlihat lebih seru dan panas. Dan sayapun lama-kelamaan tidak tahan, mundur dan masuk kamar. Namun mata ini tidak bisa terpejam.

  • Berawal Dari Chatting Bisa Ngentot

    Berawal Dari Chatting Bisa Ngentot


    720 views


    Perawan – Pada kesempatan ini aku ingin menceritakan pengalaman bercintaku yang tidak terlupakan. Aku adalah seorang mahasiswa yang kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta. Namaku Valentino dan saat ini usiaku 22 tahun. Menurut temanku meski wajah Chinese-ku ini biasa-biasa saja tapi aku punya daya tarik seks yang cukup tinggi. Tinggi badanku hanya 173 cm dengan berat 71 kg. Aku juga suka olahraga dan wajar saja jika fisikku cukup prima.

    Kejadian ini terjadi pada waktu liburan natal 2000 yang lalu. Waktu itu untuk melepaskan kesuntukan karena tidak ada aktivitas, aku memutuskan untuk chatting di warnet di dekat kost. Aku masuk ke channel favoritku yaitu Bawel. Selang beberapa lama ada nick yang invite aku masuk ke channel dia. Dan aku pun masuk aja, cuek.. siapa takut. Ternyata setelah kami ngobrol beberapa lama, dia adalah seorang cewek kampus yang gaul banget. Dari pembicaraannya sepertinya dia bukan orang yang kuper.

    Namanya Michelle, dan kuliah di PTS juga dan usianya pun sama denganku. Dia mengaku sedang ditinggal pacarnya dan dia masih merasa sedih. Aku berusaha menghiburnya, dan aku pun minta no teleponnya. Dan akhirnya kami saling tukar no telepon.

    Esok harinya, aku bangun siang sekali karena kemarin aku chatting sampai jam 1 pagi. Tiba-tiba di kost-ku ada yang manggil, katanya ada telepon untukku. Aku juga bingung siapa yang menelepon, dan setelah kuangkat. Oh, rupanya Michelle yang meneleponku.

    Hari itu sih hari minggu, dan kebetulan aku lagi tidak ada acara. Michelle mengajakku untuk janjian bertemu dan aku pun menyanggupinya. Kami bertemu di Mall Ciputra, tepatnya di Pizza Hut. Rupanya di sana dia tidak sendirian, dia ditemani tantenya yang cantiknya aduhai dan teman satu kampusnya yang juga tidak kalah cakepnya. Ternyata Michelle ini cantik sekali, tingginya kira-kira 170 cm dan kutebak ukuran branya pasti 36B, sama seperti tantenya.

    Kami pun berkenalan. Michelle menyapaku, “Kenalin ini Tante gue.. Ratna dan ini temen gue Shinta..” Kami pun saling berjabat tangan dan terasa tangan mereka sungguh lembut. Setelah itu kami memesan pizza ukuran besar dan sambil menunggu aku terus menatap Michelle, dan dia agak membungkuk sehingga aku bisa melihat belahan dadanya yang membuat kemaluanku mulai menegang ditambah lagi melihat pahanya yang mulus tanpa cacat juga bibirnya yang ranum dan merekah.

    “Kamu lagi liburan kan Val?” tanya Tante Ratna.
    “Iya nih.. lagi suntuk, abis gak ada yang bisa dikerjain waktu liburan.” jawabku sekenanya.
    “Mmm, gimana kalau kita bertiga ngerjain kamu, kan katanya kamu gak ada kerjaan?” kata Shinta sambil tertawa menggoda.
    “Iya nih, mau gak.. kita bermain-main sedikit?” sambung Michelle.
    “Ah kalian bisa aja, bukannya aku yang ngerjain kalian ntar?” godaku.
    “Ihh.. kamu bisa aja deh..” bisik Tante Ratna.
    “Ya udah, daripada banyak omong, gimana kalau malam ini kita nginap di hotel aja, tuch di seberang resepsionis hotel sudah nunggu kita tuch..” ajak Shinta.

    Akhirnya kami sepakat untuk membooking kamar di Hotel Ciputra dan Tante Ratna yang bayar. Kami masuk ke kamar dan aku pun merebahkan badanku ke ranjang, untuk melepas lelah. Aku sempat memejamkan mata sesaat, dan tiba-tiba kurasakan ada yang mengelus-elus sekitar selangkanganku dan ternyata itu si Michelle yang sudah tidak sabar lagi. Dipelorotkannya reitsleting-ku dan dia pun mulai membedah CD-ku yang isinya sudah membengkak karena adikku yang sudah tidak tahan lagi untuk menerobos. “Val, aku mau dong nyobain ngulumin pisang kamu yang cakep ini, boleh kan?” pinta Michelle manja.

    Tanpa komando langsung dijilatnya ujung kepala kemaluanku. “Ahh.. nikmat sekali..” Belum sepuluh menit, tiba-tiba Tante Ratna sudah telanjang bulat dan mengarahkan kemaluannya ke wajahku. Dan tanpa ragu-ragu kujilat vaginanya yang masih cakep itu. Sementara itu Shanti yang dengan luwesnya setelah selesai mandi mulai naik ke ranjang juga dan meraih kedua bukit Tante Ratna yang sudah menegang putingnya itu karena terangsang oleh jilatanku pada area kewanitaannya.

    “Ahh.. enak sekali rasanya bisa dikerjain mereka bertiga. Michelle dan Tante Ratna dengan buah dada 36B, serta Shanti dengan buah dada 34D, sungguh membuatku tidak bisa berkata-kata selain, “Uh.. oh.. uh.. oh..” Aduh sungguh nikmat. Penisku yang panjangnya 16 cm ini rasanya sudah nikmat sekali dan panas sekali dihisap secara bergantian oleh mereka bertiga. Dan aku pun keluar setelah 20 menit, dikocok dan dijilat secara bergantian. Aku mengeluarkannya di mulut Michelle yang mungil sedangkan Tante Ratna dan Shanti juga tidak ketinggalan membersihkan cairan spermaku yang cukup banyak ini.

    Setelah itu Tante Ratna datang dan memijat penisku yang sudah mulai loyo hingga berdiri lagi. Ah, belum 2 menit adikku sudah naik lagi akibat pijatan lembut Tante Ratna, sementara itu Shanti dan Michelle bermain berdua, karena mereka ternyata lesbian dan juga biseks.

    Tante Ratna kemudian memasukan penisku ke dalam lubang kemaluannya yang sudah penuh cairan cinta itu. Memang sih awalnya agak susah, dan rupanya meski sudah punya suami, Tante Ratna ini kemaluannya tetap sempit dan membuat adikku seolah dipijat dan diremas-remas oleh dinding kemaluannya yang kuat sekali. Sementara itu selang waktu 15 menit, Michelle menghampiriku lagi dan menempatkan vaginanya di atas wajahku untuk dijilat.

    Dengan posisi berhadapan dengan Tante Ratna, Michelle membantu menjilat puting susu Tante Ratna yang berwarna pink itu. Sementara itu Shanti juga tidak tinggal diam, diarahkannya jariku ke dalam lubang kemaluannya kemudian aku pun mulai tahu maksudnya. Kuobrak-abrik kemaluannya dengan kedua jariku, hingga Shanti menjerit-jerit keenakan.


    Akhirnya 10 menit kemudian Tante Ratna berteriak, “Val.. oh.. enak Val.. Tante mau keluar nih..”
    “Tunggu Tante aku juga mau keluar, aku keluarin di dalem aja yah? Abis masih ada Mich!Michelle sama Shanti sih, gak bisa bergerak nih..” erangku.
    “Ya udah, keluarin di dalem aja.. ohh.. Tante keluar..” desah Tante Ratna.
    Akhirnya kami pun keluar bersama-sama. Dan kemudian kami terus mencoba gaya lainnya lagi sampai kurang lebih sudah setengah dua pagi.

    Keesokan harinya jam tujuh pagi aku terbangun dan ternyata mereka sudah membuatkan sarapan untukku. Wah tanpa pakaian mereka menyuapiku untuk sarapan dan minum susu. Tapi aku lebih tertarik pada susu mereka. Dengan nafsu mereka menyuapiku dalam keadaan telanjang. Serasa dunia ini seperti di sorga. Michelle mulai menatapku penuh nafsu. “Val, aku pengen lagi nih, habis kemarin belum puas sih.. boleh gak?” tanya Michelle. “Oh.. why not, my soul is your mine.. just do it..” balasku mesra.

    Akhirnya Michelle mulai menjilati putingku sembari menciumku dan membelaiku. Aku sungguh merasakan kenikmatan dan kelembutan tangannya. Dan di adik kecilku sudah ada Tante Ratna dan Shanti yang tangannya bergerilya dengan penuh nafsu dan membuatku merem melek. Oh.. betapa indahnya dunia.

    Kemudian Tante Ratna memijat adik kecilku dengan kedua bukit susunya yang sungguh menakjubkan. Aduh enak sekali dipijat dengan tetek ini rasanya. Aku tidak sanggup lagi untuk menahan semua gairahku. Sementara itu Michelle juga tidak mau tinggal diam lagi. Segera diarahkannya vaginanya ke wajahku dan aku pun menjilat vaginanya yang sudah memerah itu. Dan mulailah suara desahan terdengar dan berpadu membentuk suatu paduan suara yang menggairahkan, birahiku semakin tinggi.

    Setelah selang 15 menit aku mulai mencoba merubah posisiku dan Michelle kubaringkan sementara Tante Ratna dan Shanti asyik bermain berduaan. Kutumpahkan susu sarapanku ke mulut vagina Michelle dan kujilat-jilat vaginanya yang kini sudah menjadi rasa susu itu. Dan Michelle pun mengerang keenakan, “Val, masukin dong.. aku udah basah nih.” Dan tanpa ragu-ragu lagi kuhujamkan dengan keras penisku yang 16 cm ini sedalam-dalamnya ke lubang keperawanan Michelle yang merah merekah itu. Aku terus-menerus memompa tanpa henti meski tubuhku dan tubuh Michelle sudah berkeringat semua. Suara desahan demi desahan terus saja keluar dan semakin menggelora semangat dan nafsuku di pagi itu. “Uh.. uh.. uh..” suara-suara itu terus mendesah dan keringat kami terus menetes membuat tubuh kami seperti berkilat keemasan ditimpa seberkas sinar matahari.

    Tante Ratna pun yang meski sudah cukup berumur tapi tetap saja bugar dan segar. Mungkin semakin tua semakin berpengalaman kali yah? Sedangkan Michelle yang masih muda terus saja menampakkan semangat mudanya dengan jeritan-jeritan orgasme yang sungguh semakin membuatku merasa beruntung, sepertinya sekali mendayung 3 gunung kembar terlampaui. Aku benar-benar dibuat kecapekan. Sungguh liburan yang semula membuat bete menjadi liburan yang penuh kenangan.

    Bagi para cewek, atau tante yang mau melampiaskan nafsunya hubungi saja aku via e-mail. Aku sangat senang bisa membantu kalian agar terpuaskan, mau mengalami seperti cerita tadi lewat permainan group juga kuterima. Mau 2 cowok dan 4 cewek juga tidak masalah. Aku sangat terobsesi sekali akan seks sejak pengalamanku. So, sekarang siapa yang selanjutnya mau mendapatkan pengalaman seks yang indah dan tak terlupakan bersamaku, jangan ragu-ragu hubungi e-mailku. Aku senang bisa memuaskan teman-teman cewek sekalian. Bagi yang belum berpengalaman, setelah kita bersama pasti akan menjadi suatu pengalaman yang mengesankan selama hidup. So tunggu apa lagi, kalau ada yang tertarik silakan hubungi aku via e-mail dan segera dapatkan pengalaman menarik bersamaku.

  • Sexy Devoted Wife

    Sexy Devoted Wife


    843 views


    Writer notes: Cerita kentot semi NTR ini adalah cerita perdana ane di dunia internet. Dibuat tahun 2009, sebelumnya tulisan ini dibuat di forum sebelah yang forum esek-eseknya udah almarhum. Silakan dinikmati, ceritanya sudah diluweskan bahasanya, supaya lebih enak dibaca. Tapi masalah plot, harap maklum, ini cerita kentot perdana ane, jadi simpel.

    Cerita Kentot 2017 – Sexy Devoted Wife

    Perawan – Judul itu terpampang jelas pada satu halaman di Majalah Prestige Indonesia. Bram tersenyum. Ada foto-foto seorang wanita di situ, mengenakan baju santai casual. Patricia Kaunang Wijaya, A Sexy Devoted Wife. Benarkah? Ingatan Bram melayang ke kejadian 4 tahun yang lalu …

    ————-

    Om Akhsan, paman Bram, sudah 1 bulan ini sakit-sakitan. Bram merasa bersalah. Dua tahun dia menumpang di rumah pamannya ini, untuk kuliah di sebuah kursus pendidikan komputer. Istri Om Akhsan, Bibi Ena, menanggung seluruh beban keluarga, dengan Bram dan 3 orang anak mereka yang masih kecil. Sebelum sakit-sakitan, Paman bekerja sebagai supir di keluarga Wijaya. Cukup lama, sekitar 5 tahunan. Bi Ena yang bekerja sebagai buruh cuci pun bekerja ekstra keras untuk sekedar bisa makan. Aku? aku mengandalkan kiriman orang tuaku, lebih tepatnya ibuku karena aku anak yatim, yang tak seberapa dari kampung, juga untuk sekedar sumbangan bagi Paman dan Bibi.

    “Om, boleh ga aku tanya sesuatu?” Bram berkata suatu hari kepada pamannya yang tergolek lesu di ranjang sempit.

    Penyakitnya didiagnosis sebagai pneumonia, dan dia harus istirahat total di rumah, jika tidak, paru-parunya bakal terisi banyak cairan, dan dia bakal lebih lemas lagi. Untungnya keluarga WIjaya baik hati, mereka menanggung seluruh biaya rumah sakit Om. Sayangnya itu berarti Om Akhsan harus berhenti total dari pekerjaannya. Jika tidak, hanya masalah waktu sebelum pneumoninya kambuh lagi.

    “Apa Bram?”

    “Yang gantiin om di rumah pak Wijaya siapa?”

    “Ya, kemarin si Cipto bersedia gantiin, tapi ternyata ga betah. Katanya kebanyakan nganterin, mending bawa kontener katanya” kata Om Akhsan lesu.

    “Kalo aku aja gimana Om?”

    “Maksud lo?”

    “Boleh ga, aku gantiin paman jadi sopir di rumah Wijaya?” tanya Bram.

    “Heh? emang kamu bisa nyetir? ini Mercy lho, sedan, bukan bis.”

    “Emangnya Sumber Kencono, om?”

    Mereka tertawa bersama.

    “Bisalah om, ni liat,” Bram memperlihatkan SIM Anya.

    “Bram, Aku tidak bisa mengijinkan hal itu,” kata Paman dengan berat hati.

    “karena Om udah janji sama almarhum Bapak kan? Aku ga bisa liat Bi Ena terus-terusan kaya gitu Om, dan lagian kuliahku di BSI sudah hampir selesai,” kata Bram lagi.

    Cerita Kentot | Pamannya mengingat perjanjiannya dengan ayah Bram, ketika mereka masih kuliah. Dia berjanji bahwa ketika ada sesuatu terjadi pada ayah Bram, dia akan bertanggung jawab sepenuhnya terhadap hidup Bram, dan itu berarti bahwa dia tidak akan mungkin memaksa Bram untuk bekerja, membantu rumah tangganya.

    “Paman, aku harus bekerja! Aku benar-benar tidak tega melihat Bi Ena menanggung semuanya sendiri.”

    Sekilas mereka berdua melihat ke arah Bi Ena yang sedang sibuk menyuapi anak terkecil mereka. Istri Om Akhsan memandang mereka, dan bagaimanapun kuat seorang lelaki, pandangan itu meluluhkan hati Om Akhsan.

    “OK, Bram, aku akan menelepon pak Wijaya untuk mengabarkan penggantiku.”

    ————-

    Rumah keluarga Wijaya di bilangan Pondok Indah, Jakarta Selatan, sungguh mewah dan sangat luas. Bram hanya bisa terkagum-kagum melihat isi rumah seperti istana itu. Rumahnya punya lobi, seperti hotel, dan sebuah mobil mewah Mercedes ada di situ.

    Bram masuk setelah dibukakan pintu oleh bi Minah. Kikuk dengan suasana yang sama sekali berbeda dengan rumah Om Akhsan, Bram duduk tepekur, sementara Pak Philip duduk di depannya sambil menerima telepon dari seorang rekan bisnisnya. Sebelum itu, Pak Philip berkata bahwa dia sudah tahu mengenai akan datangnya pengganti Pak Akhsan.

    “OK, Bram, kamu mulai bekerja besok pagi. Tugasmu adalah mengantar ketiga anakku dan istriku kemanapun mereka pergi. Kamu boleh menginap di sini, atau kamu boleh pulang pergi. Tapi, kamu harus standby di rumah ini mulai jam 6 pagi, mencuci mobil, dan setelahnya, kamu harus siap kapanpun anak-anakku atau istriku memanggilmu. Itu jika kamu memilih untuk pulang pergi.”

    “Baik, pak. Om menyarankan saya untuk menginap di sini saja pak. Ini juga saya sudah bawa baju gantinya,” jawab Bram.

    “Minah akan mengantarmu ke kamar sopir. Minah!” panggil pak Philip kepada satu-satunya pembantu di rumah besar itu.

    Seorang wanita muda dengan dandanan sederhana kemudian muncul sembari tersenyum manis kepada Bram. “Mari mas Bram, saya bantuin angkat barangnya,” kata Minah.

    ————-

    Hari-hari berlangsung cepat dalam minggu itu. Bram dengan cepat menyesuaikan diri di rumah keluarga Wijaya, setelah sebelumnya berkenalan dengan ketiga anak keluarga Wijaya, yang secara mengejutkan mempunyai kepribadian yang sangat menyenangkan, tak seperti bayangan Bram semula tentang anak-anak orang kaya yang mungkin sombong, pilih-pilih teman. Yang tertua, Sisca, benar-benar pribadi yang mengagumkan. Cantik, pintar, rendah hati, dan humoris. Steven, nomer dua, benar-benar konyol dan seorang penggila sepakbola. Tifanny, si bungsu, benar-benar anak yang manis, penurut, dan lebih suka bermain di dalam dunianya sendiri. Bram belum pernah bertemu dengan istri pak Philip, karena Ibu Patty, panggilan istri pak Philip, sedang berada di Singapura untuk urusan bisnis.

    Bram menjalankan aktivitasnya setiap hari, mengantar ketiga anak itu kemanapun mereka mau pergi, dan harus diakui, pekerjaan itu benar-benar melelahkan. Sisca, seorang siswi SMA Internasional terkenal di Jakarta Selatan, paling sering pergi membawa mobil, tentu saja dengan Bram sebagai sopirnya.

    ————-

    “Mas Bram, nanti tolong anterin Sisca ke hotel P*****n dong, ada pesta Prom Night nih,” rayu Sisca suatu sore ketika Bram sedang duduk santai di teras belakang, ngobrol dengan Minah.

    Sore itu matahari sungguh indah, memancar menjelang tenggelam. Sinarnya berwarna keemasan menyinari sosok Sisca yang sempurna. Kuning langsat, dengan tubuh yang menawan. Dia mengenakan tanktop warna biru muda dengan tali kecil, dengan celana putih super pendek, seperti kebiasaannya. Tali BHnya terlihat di bahunya. Warnanya biru.

    “Gitu aja kok harus nanya sih non. OK deh non, mau jam berapa berangkatnya?” tanya Bram, tampak terlalu semangat.

    “Jam 7 kita berangkat ya mas. aku dah pamit ama papa kok.”

    Cerita Kentot 2017 | Dia kemudian duduk jongkok sambil bermain air di kolam ikan di dekat tempat duduk Bram dan Minah. Bram terpana. Itu bukan pemandangan yang dilihat Bram setiap hari, bahkan seumur hidup Bram. Oh Tuhan, pikir Bram dengan jantung yang berdegup kencang. Tanpa disadari Sisca, posisinya membuat belahan dadanya terlihat. dan itu bukan belahan dada yang biasa. Belahan itu dalam, membentuk jalur yang panjang dari pangkal dada ke arah baju tanktop. Begitu indah, dengan kulit kuning langsat tanpa cela. Belahan dada itu berguncang-guncang mengikuti gerakan lengan Sisca yang bermain air kolam. Bahkan sekilas Bram melihat renda BH Sisca.

    Pemandangan itu sayangnya tidak berlangsung lama. Tiba-tiba Minah beranjak dari tempat duduknya dan mengajak Sisca masuk ke dalam rumah. Tidak baik anak cewek di luar pas Maghrib, katanya.

    ————-

    “mas Bram, Pak Akhsan gimana kabarnya sekarang?” tanya Sisca membuka percakapan. Malam itu Bram mengantar Sisca ke Prom Night di sebuah hotel berbintang di Jakarta Pusat.

    Sisca mengenakan baju malam yang sangat mewah, dengan model kemben terusan, dan rok sedikit di atas dengkul. Model yang cukup pendek, sehingga setiap orang pasti bisa melihat keindahan kaki jenjang Sisca yang mulus berkilat itu. Bram berusaha tidak melihat fakta itu, mengingat Sisca adalah anak majikannya.

    Lobby Hotel yang gemerlap itu penuh sesak dengan anak-anak ABG tajir yang merayakan Prom Night ketika mereka sampai di sana. Mobil yang disupiri Bram berhenti tepat di depan lobby, setelah ngantri beberapa saat karena semua anak ABG itu diantarkan oleh sopir atau orangtuanya. Bram bergegas keluar, dan membukakan pintu untuk Sisca, sebuah kebiasaan baru yang dipelajarinya dari Om Akhsan.

    Bram sungguh menyukai kebiasaan baru itu, karena ketika dia membukakan pintu Sisca, dia melihat kembali pemandangan indah yang dilihatnya sore itu. Ketika Sisca keluar dari mobil, kaki kirinya melangkah pelan keluar dari mobil. kakinya yang jenjang terlihat jelas ditimpali lampu lobby hotel yang terang benderang. Pahanya sekilas terlihat, benar-benar tanpa cacat cela. Belum lagi pemandangan selanjutnya, benar-benar memukau. Ketika Sisca sedikit membungkuk untuk keluar dari mobil, dadanya yang hanya ditutupi baju malam model kemben membentuk lekukan dalam berbentuk V terbalik. Renda BHnya mengintip dari belahan dada itu. sepertinya BH tersebut tidak kuasa menahan volume bukit indah Sisca.

    Bram masturbasi malam itu, pertama kali dalam sejarah hidupnya …

    ————-

    “Mami, kenalin, ini mas Bram, sopir kita yang baru,” kata Tiffany menyeret ibunya.

    “Saya Bram bu, pengganti pak Akhsan,” kata Bram sambil menyalami Bu Patty.

    “Hallo,” sapanya singkat.

    Oh, jadi ini istri pak Philip, Ibu Patty. Bram sudah pernah melihat foto sebelumnya.

    Bu Patty adalah seorang wanita yang mencerminkan anggapan Bram selama ini mengenai wanita kaya. Glamor, dengan pakaian yang terlihat mewah, perhiasan yang kentara, dengan make up yang luar biasa. Umurnya sepertinya akhir 40an. Yang membuat heran Bram, dengan umurnya, Bu Patty sungguh luarbiasa menawan. Jantung Bram berdegup jencang ketika tangan dia menyentuh tangan bu Patty. Kulitnya sungguh halus, dengan tubuhnya yang begitu harum, membuat Bram terpaku. Seumur hidupnya, belum pernah dia melihat sosok wanita seperti itu. Maklum, orang kampung. Dia mengenakan baju kerja hem ketat warna pink. Roknya pendek sebatas lutut, menampilkan kaki jenjang dengan sepatu hak tinggi.

    Seperti cerita Tiffany, bu Patty baru saja pulang dari Singapura. Bu Patty segera meninggalkan Bram dan Tiffany, menemui teman-temannya di ruang tamu. Bram mengintip dari dapur, mengamati percakapan di ruang tamu. Teman-teman bu Patty tidak jauh beda dari bu Patty. Elegant, glamor, setengah baya, namun super seksi.

    Bram tidak tahu mengapa. Sejak saat itu dia terobsesi dengan wanita setengah baya.

    Bram masturbasi malam itu, sungguh nikmat …

    membayangkan bu Patty dengan segala kelembutannya, keharumannya, membayangkan wanita itu mengeluarkan penis Bram dari celana, mengelusnya dengan tangannya yang lembut …

    ————-

    Sejak bu Patty datang, kegiatan Bram didominasi dengan acara mengantarkan bu Patty kemanapun dia pergi. Ya, dan Bram mendapatkan partner supir baru, mas Yanto yang bertugas mengantar anak-anak.

    Pak Philip mau orang yang bisa dipercaya untuk mengantar bu Patty, bukan orang baru. Bukannya apa-apa, bu Patty sering membawa barang-barang berharga karena pergaulannya. Arisan berlianlah, arisan wisatalah.

    Setiap hari ada saja acara bu Patty, dari mulai bertemu dengan kolega sampai makan malam di restoran atau hotel mewah. Dan sungguh, mengantarkan bu Patty benar-benar membuat Bram kecanduan. Bu Patty mempunyai kebiasaan mengenakan gaun-gaun mewah yang seksi, yang dipastikan selalu menampilkan lekuk tubuhnya, dengan pinggang yang indah, kaki jenjang, dan dada yang membusung indah. Dada bu Patty bisa dibilang istimewa, besar, tampak padat, dan Bram tidak pernah melewatkan kesempatan untuk mengamatinya, baik ketika di mobil ataupun di rumah.

    Pernah Suatu kali ketika Bram mengantar bu Patty ke sebuah pesta, bu Patty mengenakan busana malam warna hitam dengan dengan belahan yang sangat rendah, memperlihatkan hampir seluruh bulatan dadanya. Bram bersumpah, dia melihat sekilas puting susu bu Patty pada saat dia keluar dari mobil. Warnanya merah kecoklatan, dengan lingkaran sekitar puting yang berwarna sama. Bram merasakan penisnya memberontak seketika begitu melihat pemandangan yang mendebarkan itu. Penis itu tidak menyusut sampai malamnya mereka kembali ke rumah Wijaya.

    ————-

    Rumah Wijaya kembali sepi sore itu. Hari yang dingin, dan hujan yang sangat deras. Pak Philip dan ketiga anaknya pergi ke Hongkong untuk berwisata, meninggalkan Bram, Minah, dan bu Patty.

    Bram duduk di kamarnya seorang diri, menonton TV. Tangannya aktif mengelus penisnya yang tegang sedari tadi. Minah sudah terlelap tidur kelelahan setelah seharian membantu packing anak-anak Wijaya. Sejak melihat pemandangan terakhir itu, Bram menjadi terus-menerus terangsang setiap hari, dan selalu akhirnya, masturbasi lah yang menjadi pelarian.

    Petir menggelegar. Bram keluar dari kamarnya dan menuju ruang cucian. Dia perlu pelampiasan setelah terangsang terus-menerus. Entah setan apa saja yang membujuk dirinya, ada sebuah dorongan yang mendorong dia pergi ke tempat cucian. Dorongan kuat yang membuat dirinya sendiri heran. Dia mulai mencari-cari sesuatu dalam tumpukan pakaian. Sesuatu yang bisa dia pakai untuk melampiaskan nafsu birahinya.

    Tidak lama, diapun menemukannya. Tumpukan BH dan celana dalam, yang dia tahu pasti bukan milik Minah ataupun Tiffany, karena bentuknya. Bram mengambil salah satu BH. BH itu berwarna merah dengan bahan sutra, dengan renda-renda di bagian cupnya. Tali bahu dan penahan belakangnya kecil, seukuran 1 cm. Bram mencium BH itu. Bau harum Sisca yang khas langsung merebak. Tangan kiri Bram meraba penisnya yang sangat tegang, sedangkan tangan kanannya memegang BH itu di depan hidungnya. Bram menciumnya. Sedapp sekali.

    Bram benar-benar terangsang. Dia kemudian membuka celana pendeknya, mengeluarkan penisnya dan mulai meremas-meremasnya. Ooh, begitu nikmatnya. Kemudian dia mencari-cari lagi. Sebuah celana dalam seksi, dengan potongan pinggang yang tinggi menjadi pilihannya. Pasti itu milik Bu Patty. Celana itu merah, tipis dengan bahan sutra yang sangat halus. Rendanya benar-benar membuat Bram terangsang. Renda itu berada di bagian depan, dan di bagian elastisnya. Renda di bagian depan mempunyai bagian yang sedikit tembus pandang yang apabila dipakai, hampir pasti menampilkan bulu-bulu lembut vagina wanita. Tangan Bram segera membawa celana dalam itu ke depan hidungnya. Bram mencium bau pesing yang mengherankannya, tidak membuat dia mual, tapi jadi semakin terangsang.

    Bram mulai mengeluskan celana dalam itu ke penisnya yang sangat tegang. Sensasi halus bahan celana dalam itu membuatnya tidak bertahan lama. Sebentar saja, cairan putih lengket menempel di celana dalam itu. Sperma Bram. Lega rasanya.
    Dari pengalaman itu, Bram mengetahui bahwa bu Patty menggunakan BH ukuran 36C, dan Sisca 34B.
    Keesokan harinya Minah mencuci pakaian-pakaian di ruang cuci. Bram beruntung. Minah tidak menemukan celana dalam yang ditempeli sperma Bram.

    —–

    Patty bukannya tidak buta. Sopir baru itu, Bram, masih muda. Tinggi, atletis, sepertinya Bram memang bukan anak kampung kebanyakan. Dari matanya terlihat dia orang yang cerdas. Bram sangat tanggap atas perintah Patty.

    Patty sungguh terkesan dengan segala tingkah lakunya. Pak Akhsan memang benar-benar mendidiknya untuk menjadi sopir yang baik. Bagi Patty, mempunyai sopir yang gentleman menjadi sebuah kebanggaan yang dapat ia tunjukkan ke teman-temannya.

    Tiba-tiba Patty jadi sering memperhatikan Bram. Bukan tanpa sengaja. Patty melihat bahwa Bram pun sering mencuri-curi pandang dia. Kadang jika Patty melihat Bram dengan sengaja, Bram tampaknya langsung malu dan memalingkan muka. Dan entah kenapa Patty merasakan sesuatu yang lain. Ada suatu perasaan yang dia sudah lama tidak rasakan. Perasaan diinginkan. Oleh seorang laki-laki muda. Patty merasakan tubuhnya menggigil. Sendirian. di ranjang super King di kamar utamanya. Bukan karena kedinginan, tapi karena nafsu. Tak tertahankan. Tangannya menyelip saja di dalam hotpants. Mencari pelepasan.

    Hujan deras, dengan petir menggelegar.

    ————-

    Patty keluar dari kamar. Sore itu sungguh dingin, karena hujan yang begitu deras. Dia perlu menghangatkan dirinya dengan secangkir coklat. Panas dan manis. I really need that, pikirnya.

    Baca juga cerita kentot terbaru lainnya: Legitnya Meki Ummi Latifah

    Patty tidak terlalu peduli dengan baju yang dikenakannya. Toh, lagipula tidak ada orang di rumah sebesar itu. Minah dan Bram ada di belakang, dan tidak mungkin mereka berani masuk rumah utama, pada saat Patty hanya sendirian di rumah. Sebuah tank top warna pink, cukup ketat, dengan bawahan hotpants. Patty merasa diri sangat seksi. Kostum wajibnya di rumah, yang dulu selalu disukai Philip. Ya, dulu. Kini tidak lagi. Philip terlalu sibuk dengan acara akuisisi, merger, ekspansi di sektor properti, valuta asing.

    Patty beranjak ke dapur. Dia menjerang air di sebuah teko kecil, sambil mengambil coklat di kitchen set, dekat dengan ruang cucian. Dan dia terkejut melihat pemandangan di tempat cucian. Dari sisi dapur, ruang cucian terlihat jelas, tapi orang yang di ruang cucian pasti tidak bisa melihat siapa yang ada di dapur. Dan Patty melihat sesosok tubuh laki-laki. Apa yang sedang dia lakukan di ruang cucian pada saat hujan deras? Yang pasti bukan untuk mencuci pakaian. Sejenak Patty curiga.

    Ya, itu pasti Bram.

    Patty mengintip, dan merasakan kakinya melemah, ketika melihat apa yang sedang dilakukan Bram.

    Bram sedang memegang celana dalamnya. Tidak hanya itu saja, celana dalam Patty diusap-usapkan, sepertinya ke penis Bram. Patty tidak bisa melihat dengan jelas, karena dia hanya bisa melihat tubuh Bram dari belakang. Dan tubuh itu sungguh tubuh ideal. Patty melihat bahwa Bram mempunyai pantat yang sungguh berotot. Celana Bram turun sampai ke lutut kaki. Ya, Bram sedang bermasturbasi dengan celana dalamnya.

    Ooh, rasa itu muncul lagi. Patty merasakan putingnya mulai mengeras. Tidak tahan melihat pemandangan itu, Patty secara tidak sadar mulai meremas-remas dadanya. Pertama kali dalam hidupnya, dia merasa sangat terangsang tanpa ada seseorangpun di dekatnya. Tangan kanannya menyusuri bagian dalam pahanya, kemudian masuk pelan-pelan ke dalam lubang kaki celana hotpantsnya. Tangan yang tiba-tiba lihai itu mencari sesuatu yang basah di bawah sana, dan mulai masuk ke dalamnya. Oooh, feels great, really great, pikir Patty ketika tangannya mulai beraksi, merangsang tonjolan kecil di vaginanya. Patty semakin cepat merangsang dirinya, sementara di tempat cucian, Bram juga sepertinya semakin mendekati puncak kenikmatan, terlihat dari tangannya yang semakin cepat. Jantung berdegup semakin cepat, mata Patty nanar, dan meledaklah orgasmenya. Satu kali setelah sekian lama. Sepertinya Bram pun hendak mencapai ejakulasinya, tatkala dari jauh, terlihat tubuhnya bergetar hebat.

    Patty berusaha mengendalikan tubuhnya setelah orgasme yang hebat. Dia terduduk di depan kitchen set, dan mendengar Bram beranjak pergi dari tempat cucian. Ketika Bram sudah tidak terlihat, Patty cepat-cepat berlari menuju tempat cucian. Dia mengambil celana dalamnya yang tadi digunakan Bram untuk masturbasi. Celana itu penuh dengan cairan putih bening berbau pandan.
    Tiba-tiba Patty teringat dengan teko airnya…

    ————-

    Bram mengamati bu Patty. Lebih sering dari biasanya. Seakan-akan dunia hanya ada bu Patty. Bram pun merasa bahwa Bu Patty semakin memperhatikan dirinya. Bertanya, berbasa-basi, dan bahkan mengobrol dengan dia dan Minah di belakang rumah. Sebelumnya tak pernah sekalipun bu Patty menyapa dan mengajak ngobrol mereka, paling banter hanya sapaan basa-basi ketika masuk mobil.

    Tidak hanya itu, Bram merasakan bahwa ada sesuatu yang terjadi di antara mereka berdua. Bram pernah berpikir bahwa Bu Patty mungkin menggoda dia. Ketika berjalan di depan Bram misalnya, sepertinya bu Patty melenggok-lenggokkan jalannya secara tidak wajar.

    Bram juga semakin sering diberi pemandangan, pemandangan indah tepatnya, bagian-bagian tubuh bu Patty. Awalnya seperti tidak disengaja oleh bu Patty. Sesuatu jatuh, dan bu Patty mengambilnya, tepat di depan Bram. Cara mengambilnya pun sepertinya lebih lama dari biasanya, memastikan bahwa Bram dapat melihat dengan jelas keindahan payudara besar yang berbalut BH berenda yang sepertinya kekecilan untuk volume sebesar itu. Suatu saat bahkan bu Patty sengaja duduk di kursi, ketika ngobrol bersama Bram dan Minah, menumpangkan kaki. Tentu saja rok mini itu tidak kuasa menutupi keindahan kaki bu Patty. Indah, tanpa cacat, putih, dan berkilat.

    Hingga pada suatu saat …

    Pagi itu Bram selesai mengantar pak Philip ke bandara. Jam masih menunjukkan pukul 9.00. Anak-anak sudah berangkat ke sekolah. Minah sibuk mencuci cucian kotor di ruang cucian, kedengaran suara mesin cuci yang bising. Minah pasti tidak mendengar Bram masuk garasi. Bram bertekad. Hari ini atau tidak sama sekali. Akal sehatnya sudah hilang. Dia bersedia mengambil resiko untuk sesuatu yang mungkin akan dia sesali seumur hidup. Tapi dia harus mengambil resiko itu. Sekali seumur hidup. Dia merogoh sakunya. Dia siap.

    Dia bergegas naik tangga ke lantai dua. Bram tahu pasti, bu Patty belum berangkat kerja. Dengan dada yang berdegup kencang, pelan-pelan Bram mendekati pintu kamar utama, tempat pak Philip dan bu Patty. Pintu itu terbuka sedikit. Bram jongkok dan mengintip. Dilihatnya bu Patty sedang melihat pemandangan kebun belakang dari balkon. Inilah saatnya. Kepalanya seakan melayang, pusing karena degup jantung yang terlalu keras. Telinganya panas.

    Bram pelan membuka pintu, berjalan tanpa suara, dia sudah sampai di belakang bu Patty, menutup mulutnya, sambil menodongkan sebuah pisau kecil ke pinggang bu Patty.

    “Maaf Bu, aku tidak segan-segan melukai ibu jika ibu menolak permintaanku,” kata Bram tegang. Seumur hidupnya, belum pernah dia melakukan kejahatan, sekecil apapun. Tapi nafsu birahi yang begitu tinggi tak tertahankan bagi Bram yang muda itu. Tubuh sintal itu meronta dalam dekapan Bram. Bram menekan kembali pisaunya ke pinggang Bu Patty. Tentu dia hati-hati sekali untuk tidak menekan dengan sisi yang tajam.

    “Bu, ingat, sekali ibu berteriak minta tolong, pisau ini akan menembus tubuh ibu. Ibu paham itu?”

    “IBU PAHAM ITU?”

    Patty mengangguk.

    Bram merasakan tubuh itu melemah dalam dekapannya. dan kemudian gemetar. Tangan Bram melepas mulutnya, dan mulai bergerak membelai bagian dada Patty, perlahan sekali. Tangan itu menyelusup di sela kerah baju kerja Patty yang berbelahan agak rendah.

    “Sudah lama aku membayangkan saat seperti ini bu,” bisik Bram. Tangan kirinya menemukan bongkahan susu yang tertutup half cup bra. Segera saja tangan itu itu liar meremas. Patty mendesah.

    “Bram, kamu mau apa? Jika uang, aku bisa berikan sekarang juga, berapapun kamu mau, tapi jangan …” suara Patty bergetar. Lemah. Seperti tanpa penolakan yang berarti.

    “Ibu tahu persis apa yang aku mau …,” bisik Bram. Bram tiba-tiba saja begitu berani.

    “Bram, kamu ga akan lolos dari semua ini. Kamu bakal masuk penjara lama, aku bisa memastikan hal itu. Oohhhhhhh!!!” Patty masih mengancam, tapi suaranya semakin lemah, terlebih setelah dia merasakan jari Bram memilin puting kanannya.

    “Ibu yakin?”

    Patty tak menjawab. Dia merasakan tonjolan keras yang menempel di bokongnya yang padat. Dia merasakan hembusan nafas Bram yang begitu dekat, ada di belakang lehernya. Bulu kuduk Patty langsung tegak. Kakinya lemas. Tapi dia tahu betul, bukan ketakutan lagi yang menguasai, tapi birahinya. Patty merasakan kegatalan yang luar biasa di vaginanya.

    Bram tampaknya sadar bahwa korbannya sudah menyerah. Pisaunya dia jatuhkan, dan kedua tangannya pun beraksi lebih jauh. Sekarang keduanya meremas kedua bola daging milik Patty, sementara Mulutnya dengan ganas mencium kuduk Patty, dan akibatnya Patty pun mendesah. Kali ini cukup keras. Patty yang awalnya menolak, tak mampu mempertahankan penolakannya itu. Kepalanya berbalik dan menyongsong bibir ganas Bram, dan tangannya menyambut kedua tangan Bram yang agresif menyerang kedua payudaranya. Baju kemeja yang semula rapi itu pun terbuka kancingnya, pula BH yang menutup warna hitam yang ada di dalamnya. Kedua payudara itu pun sekarang tanpa penghalang.

    Tangan Patty bersandar pada teralis beranda yang sempit itu. Otomatis tubuhnya membungkuk, dan Bram seakan paham apa yang dia harus lakukan selanjutnya.

    Pemandangan di depan Bram sungguh mempesona. Sejenak Bram menyadari begitu beruntungnya dia. Rok mini itu tak kuasa membalut kepadatan bokong Patty, juga kaki mulus yang jenjang. Dalam posisi membungkuk itu, garis celana dalamnya tak kelihatan! Apakah Patty tak memakai celana dalam?

    Tangan Bram pelahan menaikkan rok mini itu ke atas, memunculkan bongkahan pantat indah. Tiba-tiba tangan Patty menahannya.

    “Bram …”

    Bram berhenti.

    “Sebaiknya kita berhenti saja …”

    Bram segera menampar pantat bu Patty.

    “Ohhhhh! sakitttt!”

    “Ibu masih mau mundur setelah begitu jauh?”

    “Jangan Bram … kumohon …”

    Tapi sayangnya mulut Patty berbanding terbalik dengan tangannya. Tangannya melepas tangan Bram, dan tangan bram dengan leluasa menaikkan rok mini itu, sekarang di pinggang Patty.

    Bram baru tahu bahwa bu Patty menggunakan celana dalam, tapi kecil sekali, tampak hanya seperti garis di belahan pantatnya. Kelak Bram tahu itu namanya thong. Dengan mudahnya Bram merobak celana dalam itu.

    “ugh,” jerit Bu Patty lirih. air mata menetes di pipinya. Bram tahu dia berkuasa atas tubuh indah ini.

    Bram membuka ikat pinggang celananya, dan kemudian celana dalamnya. Penisnya merasakan udara bebas. Tegak keras mengacung dengan kepalanya yang berkilat. Urat-uratnya tampak jelas. Ketika suara ikat pinggangnya jatuh, spontan bu Patty menengok ke belakang.

    “Ooooh, tii..daakk…itu terlalu besar,” sambil berulangkali menggelengkan kepalanya.

    “Bu Patty, siapa yang menyuruh ibu menengok ke belakang, heh?” Tangan Bram melayang lagi ke pantatnya.

    Patty menjerit kecil.

    Bram mengelus pantat mulus itu, ketika tangannya bersentuhan dengan kulit lembut pantat bu Patty. Tangannya yang kasar serasa sengatan listrik di tubuh bu Patty. Bu Patty gemetar hebat.

    Bram menyentuh bagian dalam paha bu Patty, kemudian naik ke arah vagina bu Patty. Mulut Vagina itu terpampang jelas di depan Bram. Tercukur halus, dengan bukit yang tidak terlalu menonjol. Benar-benar sebuah figur yang sempurna. Tangan Bram membelai vagina itu, jarinya meraih lipatan labia yang sudah basah itu, dan menemukan klitorisnya. Patty menjerit kecil.

    Penis Bram berdenyut kencang, seakan-akan suatu saat bakalan muncrat.

    Bram tidak tahan. Dia harus masuk sekarang. Bram mengarahkan ujung penisnya ke lipatan vagina bu Patty. ePerlahan, penis itu mulai masuk, menerobos ke dalam.

    “Bram, pelannn …”

    Bu Patty menggoyangkan pantatnya. Bram yakin itu. Kepala penis Bram semakin mudah masuk ke dalam vagina yang sudah sangat basah itu. Begitu semuanya masuk dalam vagina bu Patty, Bram berhenti. Dia ingin menghayati momen-momen ini. Mungkin yang terakhir dalam hidupnya, apabila setelah ini dia dipenjara atas tuduhan perkosaan.

    Dia serasa mendengar gelegar petir ketika kemudian mendengar suara.

    “Bram, ayoo,” bisik bu Patty.

    Bram tersadar.

    Pantatnya mulai bergoyang, maju mundur pelan sekali, takut bahwa bu Patty kesakitan dan berubah pikiran. Juga dengan kenyataan bahwa penisnya sudah begitu sensitif setelah tegang cukup lama.

    “Bramm …,” tangan bu Patty meraih pantat Bram. Bram paham bahwa Bu Patty ingin goyangannya lebih cepat.

    Dan kemudian terjadilah. Dua tubuh sempurna bergerak seirama. Bram memegang pinggang bu Patty, dan kedua tangan bu Patty mencengkeram erat kusen jendela balkon. Bu Patty mendesah, dengus nafasnya semakin cepat, seperti halnya Bram.

    Dua tubuh itu bergerak semakin cepat. Bram benar-benar menikmati persetubuhan ini, dan dia merasakan bahwa bu Patty pun juga. Tangan Bram merengkuh kedua payudara gempal itu, dan Patty menyambutnya dengan memegang tangan kekar itu.

    Lenguhan bu Patty semakin cepat dan tiba-tiba, tubuh bu Patty bergetar. Bram merasakan denyutan vagina mencengkeram penisnya. Bu Patty menjerit kecil.

    “Ooh, uhm, uhm.”

    Bram tahu dia terpuaskan. Bram berhenti sejenak sampai denyutan itu melemah.

    “Teruskan Bram, aku tahu kamu belum …,” bisik Patty lemah.

    Cerita Kentot | Bram pun kembali menggenjot, merasakan bahwa dirinya semakin dekat. Tak berapa lama, Bram pun mencapai puncak. Dia ejakulasi. Di dalam vagina bu Patty. Bram menarik penisnya yang sekarang lemas tak berdaya. Bu Patty duduk tersimpuh. Kakinya lemah akibat orgasme yang tadi begitu hebat. Tampak cairan cinta mereka berdua menetes di lantai.

    Mereka duduk terdiam.

    “Thanks Bram. Ini yang pertama dan terakhir …”

    ————-

    Bram tersenyum mengingat memori itu.
    “Mas, sudah selesai mas baca majalahnya?”

  • Cerita Sex Hadiah Terindah Dari Istri Keduaku

    Cerita Sex Hadiah Terindah Dari Istri Keduaku


    111 views

    Perawanku – Cerita Sex Hadiah Terindah Dari Istri Keduaku, Aku seorang pria yang kurang puas hanya dengan satu wanita, karena itu akupun memilih untuk menduakan istriku. Walau sebenarnya aku juga akan sulit memilih jika di haruskan memilih siapa, tapi sebagai laki-laki yang selalu merasa kurang akhirnya akupun memilih mencari wanita lain dalam hidupku. Dan aku melabuhkan hatiku pada seorang wanita yang bernama Sisil.

    Dia gadis muda yang baru berusia 23 tahun dan bekerja di sebuah perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaanku. Karena itu kami sering bertemu, sebenarnya Sisil tidak mau menerima cintaku ketika aku menyatakan perasaan padanya. Dengan berterus terang dia bilang tidak mau menjadi orang ketiga dari hubungan seseorang, tapi karena seringnya perhatian yang aku limpahkan.

    Maka diapun akhirnya mau menerimaku juga, meskipun usiaku menginjak 30 tahun namun karena wajahku yang lumayan keren. Kamipun menjadi pasangan yang serasi bahkan ketika kami baru saja jalan banyak yang mengira kalau kami sudah seperti pasangan suami istri. Namaku Firman dan kini aku sudah memutuskan untuk menikahi Sisil meskipun hanya di depan penghulu.

    Aku tidak mau kalau hanya melampiaskan nafsuku saja padanya, aku tidak mau habis melakukan adegan cerita sex kami berpisah layaknya orang pacaran saja. Tapi aku ingin setiap hari bisa menemani Sisil meskipun hanya sebentar. Karena bagaimanapun juga aku tetap mencintai istriku yang sudah menemani aku selama kurang lebih tujuh tahun dan hingga kini aku belum di karuniai seorang putra.

    Terkadang akupun merindukan seorang anak di antara kami tapi entah kenapa Tuhan belum memberikan kepercayaan itu pada kami. Dan aku tidak dapat memaksakan hal itu pada istriku karena bagaimanapun juga dia pernah bilang kalau sudah konsultasi pada dokter, karena itu aku menyerah dan aku pasrah mungkin suatu saat nanti aku akan memiliki anak juga.

    Sampai pada suatu hari aku menemukan sesuatu yang tidak pernah aku duga sebelumnya, aku menemukan alat kontrasepsi dari laci lemari hias istriku. Ternyata selama ini dia membohongiku dengan mengatakan kalau dia sudah berusaha namun ternyata dia tidak melakukan hal itu sama sekali bahkan dia memutuskan untuk tidak ingin memiliki momongan dari awal menikah denganku.

    Kamipun menjadi lebih sering bertengkar, aku coba meminta istriku agar tidak lagi memakai alat kontrasepsi tapi dia keukeh tidak mendengarkan permintaanku. Karena itu aku sering berada di tempat Sisil namun aku tidak menceritakan masalah keluargaku dengan istriku, karena aku tidak ingin mencampurkan masalah di rumah dan dengannya, karena itu dia tidak tahu sama sekali.

    Seperti malam ini aku pulang ke rumahnya, malah aku tidak lagi takut kalau sampai ketahuan istriku. Karena aku sudah bilang untuk mencari wanita lain namun dengan santainya dia bilang untuk aku melakukannya saja karena dia tidak peduli, sebenarnya ada rasa kecewa yang teramat dalam didalam hatiku. Karena aku benar-benar ingin memiliki seorang keturunan.

    Selepas makan malam Sisil lalu menghidangkan teh hangat padaku, kami duduk berdua di balkon depan kamar kami “Mas.. sepertinya kamu suntuk akhir-akhir ini..” Tanya Sisil padaku “Nggak kok..malah aku senang bisa bermalam disni sekarang..?” Dia malah balik nanya “Oia sebenarnya aku juga mau tanya itu mas…kenapa mas sekarang bisa tidur disini..”Aku tidak menjawab namun dengan mesra aku gendong Sisil masuk kedalam kamar.

    Lalu aku menurunkan tubuhnya dengan masih berdiri akupun mencium bibirnya sambil menggerayangi tubuhnya “Sssshhhh… aaaagggghh… eeeeeuuuummmppphh…. aaaaaggggghhh… aaaaaggghhh.. mass… aaagghh..” Sisil mendesah ketika aku menciumi belakang telinganya, lalu aku kembali melabuhkan bibirku pada bibirnya yang terasa hangat kurasa.

    Satu persatu Sisil meleps pakaianku dan juga miliknya ketika kami berdua sama-sama telanjang saat itulah aku membaringkan tubuhnya. Tanpa menunggu lama aku menancapkan kontolku kedalam memeknya “OOOuuggggh… peelan.. yaaa.. maaas… aaagggghhh… jangan sebentaaar… aaaggghh…” Aku tersenyum mendengar permintaaanya, lalu aku menggerakan tubuhku di atas tubuhnya.

    Sisil menggelinjang sambil terus mendesah “Aaaaggghh.. aaaaaaggghh… teruuuussss…. maaaas….. aaaggggghhh….. aaaaagggghhh… aaaaaagggghhh.. ” Dia memegang erat bahuku, bahkan dia mencengkerama dengan kuatnya tapi aku tetap dengan lembut mencium bibirnya kembali sambil terus menggerakan pantatku untuk memasukkan dan mengeluarkan kontolku seolah menggesek-gesekan pada memek Sisil.

    Dia semakin panjang mendesah ketika aku mempercepat gerakanku bahkan sesekali aku meutar kontolku di dalam memeknya “OOOuuuwwww….. aaaaaggggghhh… aaaaaaggggghhhh… aaaaggghh… maaaas… aaaagggghh… aaaagggghhh… ” Dengan memegang kedua kakinya untuk aku dorong ke atas lalu dengan kerasnya aku hantamkan kontolku ke dalam kemaluannya.

    Ternyata hal itu membuat Sisil “OOOUuugghh… aaaaaggggghh… suuudaaaah… maaaas… aaaagggghh… aaaaaggghhhh… aaaagggghh… aaagggghh.. ” Aku tahu dia sudah tidak kuat menahannya karena itu beberapa kali juga aku merasakan kalau dia memuncratkan sesuatu yang hangat, dan kini memeknya sudah mulai basah bahkan sempat rasakan basah juga.

    Bagai pemain dalam adegan cerita sex daun muda aku semakin mempercepat gerakanku di atas tubuhnya hingga “OOOuuggghh… aaaaagggghhh… aaaagghh… sayaaang.. aku jugaaa… aaaggggh.. aaaggghhh.. “Sisil tidak berkata apapun namun dia memeluk erat tubuhku yang sudah basah oleh keringat, dengan mesra dia berbisik “Terima kasih sayaang..” Akupun mencium bibirnya kembali.

    Sampai akhirnya kami berdua tertidur dengan tubuh masih berpelukan, bagai pemain dalam adegan cerita sex paling panas. Keesokan harinya aku di bangunkan oleh suara seseorang yang seakan muntah-muntah, aku segera bangun dan aku lihat Sisil sedang muntah di kamar mandi “Kenapa sayang..?” Dia tidak menjawab malah menangis, akupun di buat bingung olehnya tanpa bisa berbuat apa-apa.

    Lama aku membelai rambut Sisil yang masih sesenggukan di dalam pelukanku sampai akhirnya dia berkata “Mas.. janji kamu jangan marah ya.. sebenarnya aku hamil dan sudah berjalan selama 6 minggu.. maaaf..”Aku tidak mempercayainya dengan penuh kelembutan aku cium berulang kali wajahnya dan aku elus perutnya “Jadi mas.. tidak marah aku hamil..” Aku tersenyum tanpa bisa berkata apa-apa namun dengan lirih aku bilang “Terima kasih sayang..” Lalu aku cium wajahnya.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Main Dokter-Dokteran Dengan Om Bayu Teman Akrab Ayah

    Cerita Sex Main Dokter-Dokteran Dengan Om Bayu Teman Akrab Ayah


    157 views

    Perawanku – Cerita Sex Main Dokter-Dokteran Dengan Om Bayu Teman Akrab Ayah, Perkenalkan namaku Rini, usia sekarang 23 tahun, aku bekerja sebagai salah satu karyawati di BUMN besar di Jakarta. Kata temen-temen aku memiliki wajah yang cantik, dengan rambut sebahu, kulitku kuning langsat, tinggi 163 cm, dengan tubuh yang langsing dan seksi. Apalagi waktu masih gadis SMP aku terpilih sebagai mayoret drum band sekolah karena kecantikanku.

    Aku ingin menceritakan pengalaman seks pertamaku justru dari teman baik ayahku sendiri, pengalaman sex yang tak kuduga ini terjadi ketika aku masih gadis SMP, baru saja akan masuk kelas 2 SMP di Yogya. Teman ayah itu bernama, Om Bayu dan aku sendiri memanggilnya Om.

    Karena hubungan yang sudah sangat dekat dengan Om Bayu, ia sudah dianggap seperti saudara sendiri di rumahku. Om Bayu wajahnya sangat tampan, wajahnya tampak jauh lebih muda dari ayahku, karena memang usianya berbeda agak jauh, usia Om Bayu ketika itu sekitar 28 tahun. Selain tampan, Om Bayu memiliki tubuh yang tinggi tegap, dengan dada yang bidang.

    Kejadian ini bermula ketika liburan semester, waktu itu kedua orang tuaku harus pergi ke Madiun karena ada perayaan pernikahan saudara. Karena kami dan Om Bayu cukup dekat, maka aku minta kepada orang tuaku untuk menginap saja di rumah Om Bayu yang tidak jauh dari rumahku selama 5 hari itu.

    Om Bayu sudah menikah, tetapi belum punya anak. Istrinya adalah seorang karyawan perusahaan swasta, sedangkan Om Bayu tidak mempunyai pekerjaan tetap. Dia adalah seorang makelar mobil. Hari-hari pertama kulewati dengan ngobrol-ngobrol sambil bercanda-ria, setelah istri Om Bayu pergi ke kantor.

    Om Bayu sendiri karena katanya tidak ada order untuk mencari mobil, jadi tetap di rumah sambil menunggu telepon kalau-kalau ada langganannya yang mau mencari mobil. Untuk melewatkan waktu, sering juga kami bermain bermacam permainan seperti halma, atau monopoli, karena memang Om Bayu orangnya sangat pintar bergaul dengan siapa saja.

    Ketika suatu hari, setelah makan siang, tiba-tiba Om Bayu berkata kepadaku, “Rin.. kita main dokter- dokteran yuk.., sekalian Rini, Om periksa beneran, mumpung gratis”. Memang kata ayah dahulu Om Bayu pernah kuliah di fakultas kedokteran, namun putus di tengah jalan karena menikah dan kesulitan biaya kuliah.

    “Ayoo..”, sambutku dengan polos tampa curiga.
    Kemudian Om Bayu mengajakku ke kamarnya, lalu mengambil sesuatu dari lemarinya, rupanya ia mengambil stetoskop, mungkin bekas yang dipakainya ketika kuliah dulu.
    “Nah Rin, kamu buka deh bajumu, terus tiduran di ranjang”.
    Mula-mula aku agak ragu-ragu. Tapi setelah melihat mukanya yang bersungguh-sungguh akhirnya aku menurutinya.

    “Baik Om”, kataku, lalu aku membuka kaosku, dan mulai hendak berbaring.
    Namun Om Bayu bilang, “Lho.. BH-nya sekalian dibuka dong.., biar Om gampang meriksanya”.
    Aku yang waktu itu masih polos, dengan lugunya aku membuka BH-ku, sehingga kini terlihatlah buah dadaku yang masih mengkal.

    “Wah.., kamu memang benar-benar cantik Rin..”, kata Om Bayu.
    Kulihat matanya tak berkedip memandang buah dadaku, dan aku hanya tertunduk malu.

    Setelah telentang di atas ranjang, dengan hanya memakai rok mini saja, Om Bayu mulai memeriksaku. Mula-mula di tempelkannya stetoskop itu di dadaku, rasanya dingin, lalu Om Bayu menyuruhku bernafas sampai beberapa kali, setelah itu Om Bayu mencopot stetoskopnya. Kemudian sambil tersenyum kepadaku, tangannya menyentuh lenganku, lalu mengusap-usapnya dengan lembut.

    “Waah.. kulit kamu halus ya, Rin.. Kamu pasti rajin merawatnya”, katanya. Aku diam saja, aku hanya merasakan sentuhan dan usapan lembut Om Bayu.

    Kemudian usapan itu bergerak naik ke pundakku. Setelah itu tangan Om Bayu merayap mengusap perutku. Aku hanya diam saja merasakan perutku diusap-usapnya, sentuhan Om Bayu benar-benar terasa lembut, dan lama- kelamaan terus terang aku mulai jadi agak terangsang oleh sentuhannya, sampai- sampai bulu tanganku merinding dibuatnya.

    Lalu Om Bayu menaikkan usapannya ke pangkal bawah buah dadaku yang masih mengkal itu, mengusap mengitarinya, lalu mengusap buah dadaku. Ih.., baru kali ini aku merasakan yang seperti itu, rasanya halus, lembut, dan geli, bercampur menjadi satu. Namun tidak lama kemudian, Om Bayu menghentikan usapannya. Dan aku kira.. yah, hanya sebatas ini perbuatannya. Tapi kemudian om Bayu bergerak ke arah kakiku.

    “Nah.., sekarang Om periksa bagian bawah yah..”, katanya. Setelah diusap-usap seperti tadi yang terus terang membuatku agak terangsang, aku hanya bisa mengangguk pelan saja. Saat itu aku masih mengenakan rok miniku, namun tiba-tiba Om Bayu menarik dan meloloskan celana dalamku. Tentu saja aku keget setengah mati.

    “Ih.., Om kok celana dalam Rini dibuka..?”, kataku dengan gugup.
    “Lho.., khan mau diperiksa.., pokoknya Rini tenang aja..”, katanya dengan suara lembut sambil tersenyum, namun tampaknya mata dan senyum Om Bayu penuh dengan maksud tersembunyi. Tetapi saat itu aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa.

    Setelah celana dalamku diloloskan oleh Om Bayu, dia duduk bersimpuh di hadapan kakiku. Matanya tak berkedip menatap vaginaku yang masih mungil, dengan bulu-bulunya yang masih sangat halus dan tipis.

    Lalu kedua kakiku dinaikkan ke pahanya, sehingga pahaku menumpang di atas pahanya. Lalu Om Bayu mulai mengelus-elus betisku, halus dan lembut sekali rasanya, lalu diteruskan dengan perlahan-lahan meraba- raba pahaku bagian atas, lalu ke paha bagian dalam. Hii.., aku jadi merinding rasanya.

    “Ooomm..”, suaraku lirih.
    “Tenang sayang.., pokoknya nanti kamu merasa nikmat..”, katanya sambil tersenyum.
    Om Bayu lalu mengelus- elus selangkanganku, perasaanku jadi makin tidak karuan rasanya.
    Kemudian, dengan jari telunjuknya yang besar, Om Bayu menggesekkannya ke bibir vaginaku dari bawah ke atas.

    “aahh.., Ooomm..”, jeritku lirih.
    “Ssstt.., hmm.., nikmat.., kan..?”, katanya.

    Mana mampu aku menjawab, malahan Om Bayu mulai meneruskan lagi menggesekkan jarinya berulang-ulang. Tentu saja ini membuatku makin tidak karuan, aku menggelinjang- gelinjang, menggeliat- geliat ke sana-ke mari.

    “Ssstthh.., aahh.., Ooomm.., aahh..”, eranganku terdengar lirih, dunia serasa berputar-putar, kesadaranku bagaikan terbang ke langit. Vaginaku rasanya sudah basah sekali karena aku memang benar-benar sangat terangsang sekali.

    Setelah Om Bayu merasa puas dengan permainan jarinya, dia menghentikan sejenak permainannya itu, tapi kemudian wajahnya mendekati wajahku, aku yang belum berpengalaman sama sekali, dengan pikiran yang antara sadar dan tidak sadar, hanya bisa melihatnya pasrah tanpa mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi.

    Wajahnya semakin dekat, kemudian bibirnya mendekati bibirku, lalu ia mengecupku dengan lembut, rasanya geli, lembut, dan basah. Namun Om Bayu bukan hanya mengecup, ia lalu melumat habis bibirku sambil memainkan lidahnya, Hii.., rasanya jadi makin geli.., apalagi ketika lidah Om Bayu memancing lidahku, sehingga aku tidak tahu kenapa, secara naluri jadi terpancing, sehingga lidahku dengan lidah Om Bayu saling bermain, membelit-belit, tentu saja aku jadi semakin nikmat kegelian.

    Kemudian Om Bayu mengangkat wajahnya dan memundurkan badannya. Entah permainan apa lagi yang akan diperbuatnya pikirku, aku toh sudah pasrah. Dan eh.., gila.., tiba-tiba badannya dimundurkan ke bawah dan Om Bayu tengkurap di antara kedua kakiku yang otomatis terkangkang, kepalanya berada tepat di atas kemaluanku dan Om Bayu dengan cepat menyeruakkan kepalanya ke selangkanganku, kedua pahaku dipegangnya dan diletakkan di atas pundaknya, sehingga kedua paha bagian dalamku seperti menjepit kepala Om Bayu.

    Aku sangat terkejut dan mencoba memberontak, akan tetapi kedua tangannya memegang pahaku dengan kuat, lalu tanpa sungkan- sungkan lagi Om Bayu mulai menjilati bibir vaginaku.

    “aa.., Ooomm..!”, aku menjerit, walaupun lidah Om Bayu terasa lembut, namun jilatannua itu terasa menyengat vaginaku dan menjalar ke seluruh tubuhku, namun Om Bayu yang telah berpengalaman itu, justru menjilati habis- habisan bibir vaginaku, lalu lidahnya masuk ke dalam vaginaku, dan menari-nari di dalam vaginaku.

    Lidah Om Bayu mengait-ngait ke sana-ke mari menjilat- jilat seluruh dinding vaginaku. Tentu saja aku makin menjadi-jadi, badanku menggeliat- geliat dan terhentak- hentak, sedangkan kedua tanganku mencoba mendorong kepalanya dari kemaluanku. Akan tetapi usahaku itu sia-sia saja, Om Bayu terus melakukan aksinya dengan ganas. Aku hanya bisa menjerit-jerit tidak karuan.

    “aahh.., Ooomm.., jaangan.., jaanggann.., teerruskaan.., ituu.., aa.., aaku.., nndaak.., maauu.., geellii.., stoopp.., tahaann.., aahh!”.

    Aku menggelinjang- gelinjang seperti kesurupan, menggeliat ke sana-ke mari antara mau dan tidak biarpun ada perasaan menolak akan tetapi rasa geli, bercampur dengan kenikmatan yang teramat sangat mendominasi seluruh badanku. Om Bayu dengan kuat memeluk kedua pahaku di antara pipinya, sehingga walaupun aku menggeliat ke sana-ke mari, namun Om Bayu tetap mendapatkan yang diinginkannya.

    Cerita Sex Main Dokter-Dokteran Dengan Om Bayu Teman Akrab Ayah

    Cerita Sex Main Dokter-Dokteran Dengan Om Bayu Teman Akrab Ayah

    Jilatan- jilatan Om Bayu benar- benar membuatku bagaikan orang lupa daratan, vaginaku sudah benar-benar banjir dibuatnya, hal ini membuat Om Bayu menjadi semakin liar, ia bukan cuma menjilat- jilat, bahkan menghisap, menyedot-nyedot vaginaku. Cairan lendir vaginaku bahkan disedot Om Bayu habis-habisan. Sedotan Om Bayu di vaginaku sangat kuat, membuatku jadi samakin kelonjotan.

    Kemudian Om Bayu sejenak menghentikan jilatannya. Dengan jarinya ia membuka bibir vaginaku, lalu di sorongkan sedikit ke atas. Aku saat itu tidak tahu apa maksud Om Bayu, rupanya Om Bayu mengincar clitorisku. Dia menjulurkan lidahnya, lalu dijilatnya clitorisku.

    “aahh..”, tentu saja aku menjerit keras sekali, aku merasa seperti kesetrum, karena ternyata itu bagian yang paling sensitif buatku. Begitu kagetnya aku merasakannya, aku sampai menggangkat pantatku. Om Bayu malah menekan pahaku ke bawah, sehingga pantatku nempel lagi ke kasur, dan terus menjilati clitorisku sambil dihisap- hisapnya.

    “aa.., Ooomm.., aauuhh.., aahh!”, jeritku semakin menggila. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang teramat sangat, yang ingin keluar dari dalam vaginaku, seperti mau pipis, dan aku tak kuat menahannya, namun Om Bayu yang sepertinya sudah tahu, malahan menyedot clitorisku dengan kuatnya.

    “Ooomm.., aa!”, tubuhku terasa tersengat tegangan tinggi, seluruh tubuhku menegang, tak sadar kujepit dengan kuat pipi Om Bayu dengan kedua pahaku di selangkanganku. Lalu tubuhku bergetar bersamaan dengan keluarnya cairan vaginaku banyak sekali, dan tampaknya Om Bayu tidak menyia-nyiakannya disedotnya vaginaku, dihisapnya seluruh cairan vaginaku. Tulang- tulangku terasa luluh lantak, lalu tubuhku terasa lemas sekali. Aku tergolek lemas.

    Om Bayu kemudian bangun dan mulai melepaskan pakaiannya. Aku, yang baru pertama kali mengalami orgasme, merasakan badanku lemas tak bertenaga, sehingga hanya bisa memandang saja apa yang sedang dilakukan oleh Om Bayu. Mula-mula Om Bayu membuka kemejanya yang dilemparkan ke sudut kamar, kemudian secara cepat dia melepaskan celana panjangnya, sehingga sekarang dia hanya memakai CD saja.

    Aku agak ngeri juga melihat badannya yang tinggi besar itu tidak berpakaian. Akan tetapi ketika tatapan mataku secara tak sengaja melihat ke bawah, aku sangat terkejut melihat tonjolan besar yang masih tertutup oleh CD- nya, mecuat ke depan. Kedua tangan Om Bayu mulai menarik CD-nya ke bawah secara perlahan- lahan, sambil matanya terus menatapku.

    Pada waktu badannya membungkuk untuk mengeluarkan CD-nya dari kedua kakinya, aku belum melihat apa-apa, akan tetapi begitu Om Bayu berdiri tegak, darahku mendadak serasa berhenti mengalir dan mukaku menjadi pucat karena terkejut melihat benda yang berada di antara kedua paha atas Om Bayu. Benda tersebut bulat panjang dan besar dengan bagian ujungnya yang membesar bulat berbentuk topi baja tentara.

    Benda bulat panjang tersebut berdiri tegak menantang ke arahku, panjangnya kurang lebih 16 cm dengan lingkaran sebesar 4 cm bagian batangnya dilingkarin urat yang menonjol berwarna biru, bagian ujung kepalanya membulat besar dengan warna merah kehitam- hitaman mengkilat dan pada bagian tengahnya berlubang di mana terlihat ada cairan pada ujungnya.

    Rupanya begitu yang disebut kemaluan laki-laki, tampaknya menyeramkan. Aku menjadi ngeri, sambil menduga-duga, apa yang akan dilakukan Om Bayu terhadapku dengan kemaluannya itu.

    Melihat ekspresi mukaku itu, Om Bayu hanya tersenyum-senyum saja dan tangan kirinya memegang batang kemaluannya, sedangkan tangan kanannya mengelus-elus bagian kepala kemaluannya yang kelihatan makin mengkilap saja.

    Om Bayu kemudian berjalan mendekat ke arahku yang masih telentang lemas di atas tempat tidur. Kemudian Om Bayu menarik kedua kakiku, sehingga menjulur ke lantai sedangkan pantatku berada tepat di tepi tempat tidur.

    Kedua kakiku dipentangkannya, sehingga kedua pahaku sekarang terbuka lebar. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, karena badanku masih terasa lemas. Mataku hanya bisa mengikuti apa yang sedang dilakukan oleh Om Bayu.

    Kemudian dia mendekat dan berdiri tepat diantara kedua pahaku yang sudah terbuka lebar itu. Dengan berlutut di lantai di antara kedua pahaku, kemaluannya tepat berhadapan dengan kemaluanku yang telah terpentang itu.

    Tangan kirinya memegang pinggulku dan tangan kanannya memegang batang kemaluannya. Kemudian Om Bayu menempatkan kepala kemaluannya pada bibir kemaluanku yang belahannya kecil dan masih tertutup rapat. Kepala kemaluannya yang besar itu mulai digosok-gosokannya sepanjang bibir kemaluanku, sambil ditekannya perlahan- lahan.

    Baca Juga :  Kenikmatan Yang Di Berikan Erik

    Suatu perasaan aneh mulai menjalar ke kesuluruhan tubuhku, badanku terasa panas dan kemaluanku terasa mulai mengembung, aku agak menggeliat-geliat kegelian atas perbuatan Om Bayu itu dan rupanya reaksiku itu makin membuat Om Bayu makin terangsang. Dengan mesra Om Bayu memelukku, lalu mengecup bibirku.

    “Gimana Rin.., nikmat khan..?”, bisik Om Bayu mesra di telingaku, namun aku sudah tak mampu menjawabnya, nafasku tinggal satu- satu, aku hanya bisa mengangguk sambil tersipu malu. Aku sudah tidak berdaya diperlakukan begini oleh Om Bayu dan tidak pernah kusangka, karena sehari-hari Om Bayu sangat sopan dan ramah.

    Selanjutnya tangan Om Bayu yang satu merangkul pundakku dan yang satu di bawah memegang penisnya sambil digosok-gosokkan ke bibir kemaluanku, hal ini makin membuatku menjadi lemas ketika merasakan kemaluan yang besar menyentuh bibir kemaluanku, aku merasa takut tapi kalah dengan nikmatnya permainan Om Bayu, di samping pula ada perasaan bingung yang melanda pikiranku. Kemaluan Om Bayu yang besar itu sudah amat keras dan kakiku makin direnggangkan oleh Om Bayu sambil salah satu dari pahaku diangkat sedikit ke atas.

    Aku benar-benar setengah sadar dan pasrah tanpa bisa berbuat apa-apa. Kepala kemaluannya mulai ditekan masuk ke dalam lubang kemaluanku dan dengan sisa tenaga yang ada aku mencoba mendorong badan Om Bayu untuk menahan masuknya kemaluannya itu, tapi Om Bayu bilang tidak akan dimasukkan semua cuma ditempelkan saja. Saya membiarkan kemaluannya itu ditempelkan di bibir kemaluanku.

    Tapi selang tak lama kemudian perlahan- lahan kemaluannya itu ditekan-tekan ke dalam lubang vaginaku, sampai kepala penisnya sedikit masuk ke bibir dan lubang vaginaku. Kemaluanku menjadi sangat basah, dengan sekali dorong kepala penis Om Bayu ini masuk ke dalam lubang vaginaku, gerakan ini membuatku terkejut karena tidak menyangka Om Bayu akan memasukan penisnya ke dalam kemaluanku seperti apa yang dikatakan olehnya.

    Sodokkan penis Om Bayu ini membuat kemaluanku terasa mengembang dan sedikit sakit, seluruh kepala penis Om Bayu sudah berada di dalam lubang kemaluanku dan selanjutnya Om Bayu mulai menggerakkan kepala penisnya masuk dan keluar dan selang sesaat aku mulai menjadi biasa lagi, perasaan nikmat mulai menjalar ke seluruh tubuhku, terasa ada yang mengganjal dan membuat kemaluanku serasa penuh dan besar, tampa sadar dari mulutku keluar suara,

    “Ssshh.., sshh.., aahh. oohh.., Ooomm.., Ooomm.., eennaak.., eennaak! Aku mulai terlena saking nikmatnya dan pada saat itu, tiba-tiba Om Bayu mendorong penisnya dengan cepat dan kuat, sehingga penisnya menerobos masuk lebih dalam lagi dan merobek selaput daraku dan akupun menjerit karena terasa sakit pada bagian dalam vaginaku oleh penis Om Bayu yang terasa membelah kemaluanku.

    “aadduuhh.., saakkiitt.., Ooomm.., sttoopp.., sttoopp.., jaangaan.., diterusin”, aku meratap dan kedua tanganku mencoba mendorong badan Om Bayu, tapi sia- sia saja. Om Bayu mencium bibirku dan tangannya yang lain mengelus-elus buah dadaku untuk menutupi teriakan dan menenangkanku. Tangannya yang lain menahan bahuku sehingga aku tidak dapat berkutik.

    Badanku hanya bisa menggeliat-geliat dan pantatku kucoba menarik ke atas tempat tidur untuk menghindari tekanan penis Om Bayu ke dalam liang vaginaku, tapi karena tangan Om Bayu menahan pundakku, maka aku tidak dapat menghindari masuknya penis Om Bayu lebih dalam ke liang vaginaku. Rasa sakit masih terasa olehku dan Om Bayu membiarkan penisnya diam saja tanpa bergerak sama sekali untuk membuat kemaluanku terbiasa dengan penisnya yang besar itu.

    “Om.., kenapa dimasukkan semua, kan.., janjinya hanya digosok-gosok saja?”, kataku dengan memelas, tapi Om Bayu tidak bilang apa-apa hanya senyum- senyum saja.

    Aku merasakan kemaluan Om Bayu itu, terasa besar dan mengganjal rasanya memadati seluruh relung-relung di dalam vaginaku. Serasa sampai ke perutku karena panjangnya penis Om Bayu tersebut. Waktu saya mulai tenang, Om Bayu kemudian mulai memainkan pinggulnya maju mundur sehingga penisnya memompa kemaluanku.

    Badanku tersentak-sentak dan menggelepar-gelepar, sedang dari mulutku hanya bisa keluar suara, “Ssshh.., sshh.., oohh.., oohh”, dan tiba-tiba perasaan dahsyat melanda keseluruhan tubuhku, bayangan hitam menutupi seluruh pandanganku, sesaat kemudian kilatan cahaya serasa berpendar di mataku. Sensasi itu sudah tidak bisa dikendalikan lagi oleh pikiran normalku, seluruh tubuhku diliputi sensasi yang siap meledak.

    Buah dadaku terasa mengeras dan puting susuku menegang ketika sensasi itu kian menguat, membuat tubuhku terlonjak-lonjak di atas tempat tidur. Seluruh tubuhku meledak dalam sensasi, jari-jariku menggengam alas tempat tidur erat-erat, tubuhku bergetar, mengejang, meronta di bawah tekanan tubuh Om Bayu ketika aku mengalami orgasme yang dahsyat.

    Aku merasakan kenikmatan berdesir dari vaginaku, menghantarkan rasa nikmat ke seluruh tubuhku selama beberapa detik terasa tubuhku melayang- layang dan tak lama kemudian terasa terhempas lemas tak bedaya, tergeletak lemah di atas tempat tidur dengan kedua tangan yang terentang dan kedua kaki terkangkang menjulur di lantai.

    Melihat keadaanku Om Bayu makin terangsang, sehingga dengan ganasnya dia mendorong pantatnya menekan pinggulku rapat-rapat, sehingga seluruh batang penisnya terbenam dalam kemaluanku. Aku hanya bisa menggeliat lemah karena setiap tekanan yang dilakukannya, terasa clitorisku tertekan dan tergesek-gesek oleh batang penisnya yang besar dan berurat itu. Hal ini menimbulkan kegelian yang tidak terperikan.

    Hampir sejam lamanya Om Bayu mempermainkanku sesuka hatinya, dan saat itu pula aku beberapa kali mengalami orgasme dan setiap itu terjadi, selama 1 menit aku merasakan vaginaku berdenyut-denyut dan menghisap kuat penis Om Bayu, sampai akhirnya pada suatu saat Om Bayu berbisik dengan sedikit tertahan, “Ooohh.., Riinn.., Riinn.., aakkuu.., maau.., keluar!, Ooohh.., aahh.., hhmm.., oouuhh!”.

    Tiba-tiba Om Bayu bangkit dan mengeluarkan penisnya dari vaginaku. Sedetik kemudian, “Ccret.., crett.., crett”, spermanya berloncatan dan tumpah tepat di atas perutku. Tangannya dengan gerakan sangat cepat mengocok-ngocok batang penisnya seolah ingin mengeluarkan semua spermanya tanpa sisa.

    “aahh..”, Om Bayu mendesis panjang dan kemudian menarik napas lega. Dibersihkannya sperma yang tumpah di perutku. Setelah itu kami tergolek lemas sambil mengatur napas kami yang masih agak memburu sewaktu mendaki puncak kenikmatan tadi. Dipandanginya wajahku yang masih berpeluh untuk kemudian disekanya. Dikecupnya lembut bibirku dan tersenyum.

    “Terima kasih, sayang..”, bisik Om Bayu dengan mesra. Dan akhirnya aku yang sudah amat lemas terlelap di pelukan Om Bayu.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Sex Misteri Gadis Tengah Malam

    Cerita Sex Misteri Gadis Tengah Malam


    168 views

    Perawanku – Cerita Sex Misteri Gadis Tengah Malam, Sejak tadi suara itu mengganggunya. Suara seorang perempuan yang penuh desah kemanjaan itu, seakan memanggil Norman beberapa kali. Dahi Norman berkerut, hatinya bimbang dengan pendengarannya. Menurutnya, tak mungkin ada perempuan yang memanggilnya di tengah malam. Norman sengaja melupakan suara itu.

    Ia mendengar langkah kaki di depan kamarnya, tapi ia tahu itu langkah kaki Susilo, teman satu pondokan. Ia bergegas membuka pintu kamarnya dan memanggil Susilo yang hendak masuk ke kamar sebelah.

    “Sus… jam berapa ini?” tanya Norman.
    “Setengah satu kurang,” jawab Susilo sambil membetulkan celananya. Agaknya ia habis dari kamar mandi untuk buang air. Susilo justru berkata,
    “Kau sendiri kan punya arloji, masa’ masih tanya aku?”
    “Arlojiku mati! Eh, sebentar, Sus!” Norman keluar dari kamarnya, tidak sekadar melongokkan kepala. Ia mendekati Susilo yang berdiri di ambang pintu kamarnya sendiri. Dengan nada herbisik Norman bertanya,
    “Sus, kau tadi waktu ke kamar mandi melihat ada perempuan di sekitar sini?”
    “Maksudmu?” Susilo berkerut dahi.
    “Aku mendengar suara perempuan di samping kamar, la seakan memangil-manggil aku.”
    “Perek. mungkin!” jawab Susilo seenaknya. Norman hanya mendesah.
    “Aku serius, Sus. Dari tadi aku tidak bisa tidur karena mendengar suaranya.” Susilo berpikir sejenak, tubuhnya bersandar pada kusen pintu. Seingatnya, waktu ia ke kamar mandi, ia tidak melihat sekelebat manusia. Pondokan itu sepi. Maklum sudah lewat
    tengah malam. Beberapa mahasiswa yang kost di situ kebanyakan sudah tidur. Kalau toh ada, mereka pasti di dalam kamar menekuni bukunya.
    “Menurutku, kau hanya terngiang-ngiang cewekmu saja,” kata Susilo.
    “Maksudmu, Arni? Ah, suara Arni tidak seperti itu.”
    “Kalau begitu, kau hanya mendengar suara hatimu saja. Halusinasi! Ah, ngapain repot-repot memikirkan suara, kaukan bukan penata rekaman!”
    Susilo masuk, menutup kamarnya. Norman mengeluh dalam desah napas tipis. Ia berhenti sejenak ketika mau masuk ke kamarnya. Matanya memandang sekeliling. Oh, pondokan itu amat sepi. Lengang. Denni yang biasanya masih memutar kaset sampai jauh malam, kali ini agaknya sudah tidur. Lampu di kamarnya telah padam. Lampu-lampu di kamar lain pun padam. Hanya ada dua kamar yang lampunya masih menyala, kamar Mahmud dan kamar Tigor. Mungkin mereka sedang menekuni materi ujiannya untuk besok. Tengkuk kepala meremang lagi, Norman bergidik. Badannya bergerak dalam sentakan halus. Karena, ketika ia masuk ke kainar dan hendak menutup pintu, ia mendengar suara perempuan dalam desah kemanjaan yang memanggilnya.
    “Normaaan…! Normaaan….”
    Lampu kamar Norman sengaja diredupkan. Ia menyalakan lampu biru 10 watt sejak tadi. Menurut kebiasaannya, tidur dengan nyala lampu biru yang remang-remang membuat kesejukan tersendiri dalam hatinya. Namun, kali ini, kesejukan itu tidak ada. Yang ada hanya kegelisahan dari kecamuk hati yang terheran-heran atas terdengarnya suara panggilan itu. Angin malam lewat. Desaunya terasa menerobos dari lubang angin yang ada di atas jendela kamar. Suara itu terdengar lagi setelah dua menit kemudian.
    “Normaaan…! Datanglah…!”
    Dengan berkerut-kerut dahi, Norman bangkit dari rebahannya.
    “Suara itu seperti berada di luar jendela,” pikir Norman. Kemudian, ia mendekati pintu jendela. Ingin membuka jendela, tetapi ragu. Hatinya berkata, “Tidak mungkin ada perempuan di luar jendela. Dari mana ia masuk? Pintu pagar dikunci. Tidak mungkin ia memanjat pagar. Kalau memang ada perempuan yang memanjat pagar, itu nekat namanya.”
    Kemudian, telinga Norman agak ditempelkan pada daunjendela. Tapi yang didengar hanya suara desau angin, gemerisik dedaunan. Kamar Norman memang kamar paling ujung dari sederetan kamar kost-kostan itu. Di samping kamar, di seberang jendela itu, adalah sebidang tanah yang biasa dipakai olah raga. Ada lapangan bulu tangkis, dan meja ping-pong yang jika malam begitu dalam posisi miring, menempel dinding kamar Norman. Tanah yang merupakan fasilitas olah raga itu dikelilingi oleh pagar tembok. Pada bagian atas pagar diberi kawat berduri sebagai penolak tamu tak diundang. Di seberang pagar tembok itu ada pohon rambutan milik tetangga belakang pondokan. Sebagian daun dan dahan pohon itu menjorok ke halaman pondokan, dan meneduhkan bagi mereka yang bermain pingpong jika siang hari.
    Norman sudah tiga menit lebih berdiri di depan jendela, tetapi suara perempuan yang menggairahkan itu tidak terdengar lagi. Maka, ia kembali ke pembaringan dan merebahkan badan.. Ia kelihatan resah. Batinnya bertanyatanya,
    “Mengapa aku mendengar suara itu? Dan, sepertinya memang aku pernah mendengar suara itu. Suara siapa, ya?”
    Ada gonggongan anjing dari rumah belakang pondokan. Gonggongan anjing itu mulanya hanya sesekali. Ditilik dari nada gonggongannya, anjing itu seakan sedang menggoda orang lewat.
    Tetapi, gonggongan anjing itu lama-lama jadi memanjang. Mangalun mendayu-dayu mirip irama orang merintih kesakitan. Suara anjing itu menyatu dengan suara perempuan yang kian jelas di pendengaran Norman.
    “Normaaan…! Norrr…! Lupakah kauuu…? Lupakah kau padaku, Norman…!”
    Norman segera melompat dari pembaringannya, dan membuka jendela. Jantungnya berdetak-detak ketika wajahnya diterpa angin yang berhembus membawa udara dingin. Sekujur tubuhnya merinding. Matanya melebar, karena ia tidak menemukan siapa-siapa di luar jendela kamarnya.Padahal suara tadi jelas terdengar di depan jendela, seakan mulut perempuan itu ditempelkan pada celah jendela supaya suaranya didengar Norman. Tetapi, nyatanya keadaan di luar kamar sepi-sepi saja.
    “Brengsek!” geram Norman. Ia menunggu beberapa saat,
    sengaja membuka jendelanya, sengaja membiarkan angin dingin menerpa masuk ke kamar. Suara perempuan yang penuh desah menggairahkan itu tidak terdengar lagi. Norman mengeluh kesal sambil duduk di kursi belajarnya. Ia menyalakan lampu belajar yang ada di meja kamar. Kamar menjadi terang. Cermin di depan meja belajar menampakkan wajahnya yang sayu. Pintu kamarnya tiba-tiba ada yang mengetuknya dengan lembut. Pelan sekali, seakan pe-ngetuknya sengaja hati-hati supaya suara ketukan tidak didengar penghuni pondokan yang lainnya. Norman melirik ke arah pintu. Membiarkan ketukan itu terulang beberapa kali. Lalu, ia mendengar suaraperempuan di seberang pintunya.
    “Nor…? Normaaan…!”
    “Siapa…?!”
    tanya Norman dengan nada kesal, karena iatahu, bahwa suara perempuan yang mengetuk pintu kamarnya itu sama persis dengan suara yang mengganggunya sejak tadi. Tapi, karena tidak ada jawaban dari pengetuk pintu, Norman berseru lagi,
    “Siapa sih?! Jawab dong!”
    “Aku…!”
    “Aku siapa?! Sebutkan!”
    Norman sudah berdiri walau belum mendekat ke pintu.
    “Kismi….”
    Mata Norman jadi membelalak. Kaget.
    “Kismi…?!”
    desahnya dengan nada heran sekali. Ia mengenal pemilik nama itu, tapi ia sama sekali tidak menyangka kalau Kismi akan datang, apalagi lewat tengah malam begini. Norman pun akhirnya bergegas membukakan pintu setelah ia sadar, bahwa suara yang sejak tadi memanggilnya itu memang suara Kismi.
    “Sebentar, Kis…!”
    kata Norman, yang kemudian segera membukakan pintu.
    “Hah…?!” Ia terperanjat dengan jantung berdetak-detak.
    Di luar kamarnya, tidak ada siapa-siapa. Sepi. Hanya hembusan angin yang dirasakannya begitu dingin dan membuat tubuhnya merinding lagi. Dalam keadaan bingung dan berdebar-debar itu, Norman masih menyempatkan diri berpaling ke kanan-kiri, mencari Kismi yang menurutnya bersembunyi. Tapi, tak terlihat bayangan atau sosok seseorang yang bersembunyi. Di kamar mandi? Tak mungkin. Kamar mandi terlalu jauh dari kamar Norman jika akan digunakan seseorang untuk berlari dan bersembunyi. Sebelum orang itu sempat bersembunyi, pasti Norman sudah melihatnya lebih dahulu.
    “Kismi…?!”
    Norman mencoba memanggil perempuan yang dikenalnya kemarin malam itu, tetapi tidak ada jawaban. Makin merinding tubuh Norman. dan semakin resah hatinya di sela debaran-debaran mencekam. Karena ditunggu beberapa menit Kismi tidak muncul lagi, bayangannya pun tak terlihat, maka Norman pun segera menutup pintu kamarnya dengan hati bertanya-tanya:
    “Kemana dia?”
    Mendadak gerakan penutup pintu itu terhenti. Mata Norman sempat menemukan sesuatu yang mencurigakan di lantai depan pintu. Aneh, namun membuatnya penasaran.
    “Kapas…?!”
    Hati semakin resah, kecurigaan kian mengacaukan benaknya. Segumpal kapas jatuh di lantai depan pintu. Sedikit bergerak-gerak karena hembusan angin. Ada rasa ingin tahu yang menggoda hati Norman. Maka. dipungutnya kapas itu. Ketika tubuh Norman membungkuk untuk mengambil kapas, tiba-tiba angin bertiup sedikit kencang. Kapas itu bergerak, terbang. Masuk ke kamar. Gerakan kapas sempat membuat Norman yang tegang terperanjat sekejap. Pintu ditutup, dan kapas itu dipungutnya. Ia segera melangkah ke meja belajarnya, mencari tempat yang terang. Ia memperhatikan kapas itu di bawah penerangan lampu belajarnya.
    “Apakah kapas ini milik Kismi?”
    pikirnya sambil mengamatamati segumpal kapas yang kurang dari satu genggaman. Ada aroma bau harum yang keluar dari kapas itu. Bau harum itu mengingatkan Norman pada jenis parfum yang baru sekali itu ia temukan. Parfum yang dikenakan pada tubuh Kismi.
    “Aneh?! Mengapa Kismi tidak muncul lagi?”
    pikirnya setelah setengah jam lewat tak terdengar suara Kismi maupun ketukan pintu.
    “Mengapa ia hanya meninggalkan kapas ini? Lalu, kapas untuk apa ini? Apakah Kismi sakit? Apakah ia hanya bermaksud mengingatkan kenangan semalam?”
    Norman tertawa sendiri. Pelan. Ia kembali berbaring dengan jantung yang berdebar takut menjadi berdebar indah.Kapas itu  diletakkan di samping bantalnya, sehingga bau harum yang lembut masih tercium olehnya. Pikiran Norman pun mulai menerawang pada satu kenangan manis yang ia peroleh kemarin malam. Kisah itu, sempat pula ia ceritakan kepada Hamsad, teman baiknya satu kampus, dan Hamsad sempat tergiur oleh cerita tentang Kismi.

    ***
    “Siapa yang mengajakmu ke sana?” tanya Hamsad waktu
    itu.
    “Pak Hasan! Mungkin dia ingin men-service aku, supaya
    buku pesanannya cepat kukerjakan. Wah, tapi memang luar
    biasa, Ham,” ujar Norman berseri-seri. “Perempuan itu
    cantiknya mirip seorang ratu!”
    “Kau yang memilih sendiri?” Hamsad tampak bersemangat.
    “Bukan. Dia datang sendiri ke motel-ku. Kurasa, Pak Hasan
    yang memesankan cewek itu untukku. Atau, barangkali
    memang service dari motel itu sendiri, entahlah. Yang jelas,
    dia datang di luar dugaanku. Tak lama kemudian, setelah kami
    berbasa-basi sebentar, datang juga perempuan lain. Tapi,
    kutolak. Aku lebih memilih perempuan pertama. Mulus dan
    sexy sekali dia. Namanya, Kismi. Antik, kan?!”
    “Terus…? Terus bagaimana?” desah Hamsad tergiur.

    8
    “Macan, Mack! Luar biasa romantisnya. Hebat. Baru kali ini
    aku menemukan perempuan cantik yang punya daya rangsang
    yang luar biasa! Tujuh malam bersama dia tanpa keluar dari
    kamar, aku akan betah! Kurasa kau sendiri tidak akan sempat
    mengenakan pakaianmu lagi kalau sudah bersamanya, Ham!”
    Hamsad tertawa ngakak ketika itu. Ia benar-benar
    terperangah cerita Norman. Khayalannya melambung tinggi
    ketika Norman menceritakan detail kehebatan Kismi.
    “Berapa anggaran untuknya?” tanya Hamsad dengan gaya
    kelakar.
    “Aku tidak tahu. Mungkin Pak Hasan-lah yang mengurus
    soal itu. Antara pukul 4 atau 5 pagi, dia pamit. Dia tidak minta
    bayaran padaku. Ketika kutanya tentang uang taksi, dia hanya
    tersenyum, lalu pergi.”
    “Kurasa dia perempuan panggilan kelas atas, Nor!”
    “Menurut dugaanku juga begitu! Tapi, itu kan urusan Pak
    Hasan. Aku mau tanya tentang tarif argo untuk perempuan
    semacam Kismi, ah… nggak enak. Riskan.”
    “Beruntung sekali kau mendapat service seperti itu!”
    “Makanya konsekuensinya aku harus segera menyelesaikan
    naskah pesanan Pak Hasan itu! Siapa tahu selesai itu aku
    dibawanya ke motel tersebut. Kalau ke sana lagi, aku tidak
    ingin mencari perempuan lain. Hanya Kismi yang kubutuhkan,
    dan aku juga menghendaki Motel Seruni, tidak mau Motel
    Mawar, Kenanga, atau yang lainnya. Karena, kenanganku
    bersama Kismi yang pertama kali ada di Motel Seruni itu!”
    ***
    Malam semakin mengalunkan kesunyian, dan kesunyian itu
    sendiri menaburkan perasaan cemas. Sedangkan perasaan
    cemas itu membawa desiran indah bagi sebaris kenangan
    bersama Kismi. Bau harum dari parfum pada kapas semakin
    menggoda khayalan Norman. Khayalan itulah yang
    menumbuhkan rasa rindu, rasa ingin bertemu dan rasa ingin
    bercumbu. Maka, Norman pun menggeliat dengan gelisah.
    Darahnya dibakai’ oleh khayalannya sendiri. Nafsunya
    menghentak-hentak jantung, menuntut suatu perbuatan nyata

    9
    dari birahi yang ada. Norman menjadi bernafsu sekali untuk
    bertemu dengan Kismi.
    “Kismiii…!” erangnya dari sebuah rintih dari kerinduan.
    Dan, kerinduan itu akhirnya menjadi racun pada jiwa Norman.
    Emosinya meluap, meletup-letup, bahkan tak bertakaran lagi.
    Emosi itu bukan hanya sekadar luapan gairah bercinta saja,
    melainkan kebencian, kemarahan, kesedihan, semuanya
    bercampur aduk dan menyiksa jiwa Norman. Ia sempat
    meremat bantalnya kuat-kuat dengan tubuh gemetar, lalu
    ditariknya re-matan itu dan robeklah kain bantal. Isinya
    berhamburan, diremas pula dalam suara yang menggeram.
    Tubuh berkeringat, urat-urat menegang, gemetar dan ia
    menggemeletukkan gigi kuat-kuat dengan mata mendelik.
    Perubahan itu aneh sekali, namun tidak disadari oleh
    Norman. Napasnya terengah-engah seperti orang habis lari
    jauh. Matanya menjadi liar, ia menggeram beberapa kali,
    bahkan mengerang seperti seekor monyet buas yang hendak
    mengamuk.
    Sementara itu, sisa kesadarannya sesekali tumbuh, dan
    membuat Norman mampu meredam gejala anehnya itu. Ia
    sempat bertanya dalam hati, “Mengapa aku jadi begini?
    Mengapa aku benci pada diri sendiri?”
    Masa kesadarannya hilang lagi, kembali ia dalam amukan
    jiwa yang tak terkontrol. Ia mengamuk, berguling-guling di
    ranjangnya. Tangannya mencakar-cakar kasur, membuat
    seprei menjadi tercabik-cabik. Bahkan guling pun diremas,
    digigitnya kuat-kuat bagai beruang lapar. Sampai beberapa
    saat hal itu dilakukan di luar kesadarannya, kemudian ia
    terkulai lemas sambil terengah-engah.
    “Apa sebenarnya yang kualami ini…?! Oh, badanku sakit
    sekali…!” keluhnya lirih, nyaris tanpa suara.
    Plakkk…!
    Norman terkejut. Tiba-tiba ia memukul kepalanya sendiri
    dengan keras. Ia merasa heran, mengapa tangan kanannya
    bergerak sendiri menampar wajahnya. Bahkan kini tangan.

    kanan itu mengejang-ngejang, jarinya membentuk cakar yang
    kokoh.
    “Oh, kenapa tanganku ini?!” Norman menjadi tegang
    dengan mata melotot, memandangi tangan kanannya. Hanya
    tangan kanannya.
    Tangan itu sukar dikendalikan. Norman ingin melemaskan
    otot-ototnya, namun tidak berhasil Bahkan sekarang tangan
    kanannya yang membentuk cakar itu bergerak ke atas.
    Mendekati wajahnya. Norman melawannya, berusaha
    mengendalikan gerakan itu, tetapi tidak berhasil. Tiba-tiba
    gerakan tangan itu begitu cepat menghampiri wajahnya dan
    mencakar wajah itu sendiri.
    “Aaaow…!” Norman berteriak, namun tidak begitu keras,
    karena hanya luapan rasa kagetnya saja. Ia masih
    memandang tangan kanannya dengan mendelik. Tangan itu
    terasa ingin bergerak lagi mencakarnya, dan Norman berusaha
    melawan kekuatan yang ada pada tangan tersebut.
    “Gilaaa…!”
    Norman berteriak keras dan semakin ketakutan oleh
    tangannya sendiri. Ia benar-benar panik dan tak mengerti,
    mengapa tangannya bergerak di luar kemauannya?Dari kamar Susilo, teriakan Norman itu terdengar tidak
    terlalu keras, tapi jelas. Susilo yang belum tertidur nyenyak itu
    menjadi curiga. Ia menelengkan telinganya, menyimak suara
    dari kamar Norman. Dahinya berkerut menandakan perasaan
    anehnya.
    “Sinting dia. Hampir pukul dua pagi masih teriak-teriak
    juga. Ada apa sih?” gerutu Susilo sendirian. Suara gaduh dari
    kamar Norman itu benar-benar mengganggunya, sampaisampai
    ia terpaksa bangkit dan turun dari ranjang.
    Untuk melangkah keluar dari kamar. Susilo ragu-ragu. Ia
    masih menyimak suara gaduh yang mirip seseorang sedang

    11
    bergelut mengalahkan sesuatu. Mulanya Susilo menyangka
    Norman sedang membawa perempuan masuk ke kamarnya,
    namun setelah makin disimak, ternyata suara erangan Norman
    itu tidak mirip seseorang sedang mencumbu kekasihnya. Tapi
    lebih mirip seseorang yang sedang bertengkar.
    Prang…!
    Suara di kamar Norman semakin jelas. Berisik dan gaduh.
    Entah apa yang telah jatuh dan pecah sehingga suaranya
    sempat membuat Susilo tergerak kaget.
    “Aneh. Kenapa aku jadi merinding?” gumam Susilo sambil
    melangkah mendekati pintu. Ia bermaksud mengingatkan
    Norman agar tidak menimbulkan suara gaduh yang
    mengganggu, tapi hatinya menjadi bimbang, dan ia berdesir
    merinding saat hendak membuka pintu.
    Brak…! Prang…!
    Sekali lagi kamar Norman bagai mengalami gempa.
    Agaknya sesuatu telah membuat kamar itu menjadi porakporanda.
    Susilo pun akhirnya keluar dari kamar. ,
    “Astaga…!” Susilo terpekik tertahan. Jantungnya berdesir
    ketika ia melihat sosok manusia berdiri di depan pintu
    kamarnya. Untung saja ia tidak menjerit, karena ia buru-buru
    menyadari bahwa sosok manusia itu adalah Denny.
    Sambil membungkus badannya dengan selimut, Denny
    memandang pintu kamar Norman dan melangkah mendekati
    Susilo. Ia bertanya pelan,
    “Ada apa dia? Ngamuk sama siapa sih?”
    “Mana aku tahu?” Susilo menjawab dengan bisikan.
    Yoppi keluar juga dari kamarnya yang berjarak dua kamar
    dari kamar Norman. Ia bergabung dengan Denny dan Susilo,
    di depan kamar Susilo.
    “Berkelahi dengan siapa si Norman?” tanya Yoppi. Ia
    mengerjap-ngerjapkan mata karena terbangun dari tidurnya.
    “Tadi ia menanyakan tentang perempuan,” kata Susilo. “Ia
    mengaku mendengar suara perempuan memanggilnya.”

    12
    “Perempuan?!” Alis Yoppi yang tebal hampir menyatu
    karena heran. Tangan Yoppi menggaruk-garuk pinggang
    sambil masih mengerjap-ngerjap pertanda masih mengantuk.
    “Wah, gawat. Jangan-jangan dia membawa masuk perek,”
    kata Denny. “Kalau ketahuan ibu kost, nggak enak kita!”
    “Atau, siapa tahu ia berkelahi dengan pencuri?” kata Yoppi.
    Kemudian, Susilo memberanikan diri mengetuk pintu kamar
    Norman. “Nor…?! Nor, ada apa sih? Sudah lewat malam ini,
    Nor!”
    Jawaban yang ada hanya suara Norman yang menggeramgeram
    seakan sedang mengalahkan sesuatu. Ketiga teman
    kost itu menjadi cemas dan makin curiga. Yang menambah
    mereka cemas ialah suara Norman dalam satu teriakan rasa
    sakit.
    “Aaaow…! Uh, uh… uh… hiaaah…!” suara itu sangat jelas.
    “Dobrak saja pintunya,” kata Denny kepada Susilo dan
    Yoppi yang berusaha menggedor pintu kamar Norman.
    “Sialan! Aku jadi merinding sendiri. Aku mencium bau
    wangi,” kata Denny.
    “Aku juga mencium bau parfum enak,” sambung Yoppi.
    “Kurasa benar. Norman memasukkan perek ke dalam
    kamarnya.”
    Itulah yang membuat mereka ragu-ragu. Mereka tidak
    tahu, bahwa di dalam kamar Norman sedang berusaha
    mengalahkan gerakan tangan kanannya yang sepertinya
    bernyawa sendiri itu. Tangan kanan itu sudah ditekan matimatian
    menggunakan tangan kiri, namun gerakannya masih
    belum bisa dikendalikan. Tangan itu seolah-olah sosok
    makhluk tersendiri yang bergerak memukuli wajah Norman
    sendiri. Bahkan, ketika tangan kanan itu bergerak sendiri
    mengambil gunting, Norman berusaha menariknya. Tapi,
    tenaga Norman yang telah digerakkan kekuatan penuh itu
    tidak mampu menarik tangan kanan yang hendak memegang
    gunting. Tangan tersebut seakan mempunyai kekuatan yang
    lebih besar dari seluruh kekuatan tenaga Norman sebenarnya.

    13
    Lalu, ketika gunting itu telah digenggam oleh tangan kanan
    secara kokoh, tiba-tiba gerakan tangan kanannya itu melesat
    ke arah dada. Norman menjerit kesakitan, karena ujung
    gunting itu menancap di bawah pangkal pundaknya. Darah
    mulai mengucur keluar dan Norman masih terengah-engah
    melawan kekuatan tangan kanannya. Tangan yang
    menggenggam gunting itu seakan ingin menusuk-nusuk tubuh
    Norman sendiri dengan tanpa mengenal ampun lagi. Norman
    berusaha menahan dengan seluruh kekuatan dan tenaga yang
    dikerahkan. Ternyata hal itu tidak mampu. Gunting itu
    bergerak sendiri ke arah dada Norman. Pada waktu itu
    Norman tak ingin ditusuk oleh dirinya sendiri. Ia berusaha
    memegangi tangan kanannya dengan tangan kiri, sampaisampai
    ia berguling-guling di lantai. Tetapi, pada satu detik
    tertentu, gunting itu berhasil mengenai perutnya. Jubbb…!
    “Aaaow…!” teriaknya. Rasa sakit membuat ia makin
    mendelik. Tapi beruntung sekali gunting itu tidak masuk
    terlalu dalam, hanya beberapa mili dari ujung gunting.
    Brakkk…! Pintu berhasil didobrak oleh Denny dan Susilo.
    Ketigji orang itu terbelalak tegang melihat Norman berusaha
    menikam tubuhnya dengan gunting. Mereka menyangka
    Norman hendak melakukan bunuh diri, sehingga Denny pun
    berteriak,
    “Jangan gila kau, Norman!”
    “Cegah dia! Dia mau bunuh diri!” seraya berkata begitu
    Yoppi mendorong kedua temannya, dan Susilo serta Denny
    segera berusaha menyergap Norman. Saat itu Norman
    menyadari kehadiran ketiga temannya, tetapi ia tidak bisa
    mengendalikan gerakan tangan kanannya.
    “Pergi! Jangan dekati aku, nanti kalian celaka…!” teriak
    Norman.
    Gunting itu sedang ditahan kuat-kuat, karena hendak
    menusuk ulu hatinya. Norman mengerahkan kekuatannya,
    otot lengannya tampak bertonjolan. Namun, bagi mereka yang
    tidak tahu, Norman disangka sedang ragu-ragu untuk
    menusukkan gunting ke dalam tubuhnya.

    14
    “Lepaskan gunting itu! Lepaskan!” teriak Denny. “Jangan
    picik kau, Norman…!”
    Denny berusaha merebut gunting di tangan kanan Norman,
    tetapi baru saja mendekat, tiba-tiba tangan kanan itu bergerak
    di luar kontrol kesadaran Norman. Gunting itu mengibas cepat
    dan mengenai lengan Denny.
    “Aaaow…!” pekik Denny kesakitan.
    “Menjauh! Kalian menjauh dari aku. Ohw… aku tidak bisa
    mengendalikan tangan ini!” teriak Norman sambil berusaha
    mengekang gerakan tangan kanannya.
    “Sergap dari belakang!” teriak Yoppi dalam kepanikan.
    Maka, Susilo pun berusaha menyergap Norman dari
    belakang. Tetapi, sebelum Susilo berhasil mendekap tubuh
    Norman, tubuh itu berputar terbawa gerakan tangan
    kanannya. Gunting terarah lurus ke depan, sementara tangan
    kiri Norman masih memegangi tangan kanannya untuk
    menahan gerakan misterius itu.
    “Aaaow…! Kau melukaiku, Nor…!” teriak Susilo yang
    berhasil tergores dadanya oleh kibasan gunting tajam itu.
    “Aku tidak bisa menahan gerakan tanganku! Oh…. Tolong!
    Lekas tolong akuuu…!”
    Norman mendelik-delik dengan mengerang mengerahkan
    tenaga untuk menahan diri. Ia jatuh berlutut karena berusaha
    semaksimal mungkin menahan gerakan tangan kanannya yang
    kini kembali mengacungkan gunting ke arah dadanya.
    “Pukul dia biar pingsan!” teriak Yoppi, namun ia sendiri tak
    berani maju setelah melihat Susilo dan Denny berdarah karena
    terkena gunting tersebut.
    “Dia kemasukan setan!” pekik Denny yang berlari ke arah
    pintu.
    “Tolong…! Aaaoh… tolong aku… hiaaah…!” Norman
    berusaha habis-habisan menahan gerakan tangan kanannya.
    Dan, tiba-tiba ia menjerit tertahan, “Aaahg…!”
    “Normaaan…!” teriak Susilo di puncak kepanikan.
    Norman membelalakkan mata dalam keadaan berdiri
    dengan lutut menghadap ke arah ketiga temannya. Tubuhnya

    15
    menjadi kejang sesaat, karena waktu itu gunting telah berhasil
    menghunjam dada, menembus sampai ke bagian pangkalnya,
    tepat mengenai jantungnya. Darah pun menyembur ke manamana.
    Wajahnya yang mendelik dan kaku itu terkena percikan
    darah sendiri hingga tampak mengerikan.
    Denny diam tak bergerak. Shock. Susilo berteriak-teriak tak
    karuan dengan mata berkaca-kaca, tak tega menyaksikan
    keadaan Norman. Sementara itu, Yoppi berlari dengan panik
    menggedor setiap pintu kamar sambil berteriak-teriak
    mengagetkan mereka yang sedang tertidur nyenyak.
    “Norman bunuh diri…! Norman mati bunuh diri…!” seru
    Yoppi dengan suara tak tanggung-tanggung lagi kerasnya.
    Perlahan-lahan tubuh Norman limbung. Tangan kanannya
    masih memegangi gunting yang menikam jantungnya sampai
    ke bagian pangkal. Kemudian, tangan kanan itu mulai
    melemas bersama gerakan limbung tubuh Norman. Lalu, ia
    pun tergeletak di lantai yang banjir karena darah. Matanya
    masih mendelik ketika ia menghembuskan napas terakhir di
    depan Denny. Semakin shock Denny menyaksikan kengerian
    itu, semakin pucat sekujur tubuhnya. Ketika teman-teman satu
    pondokan menghambur ke kamar Norman, Denny jatuh
    terkulai tak sadarkan diri.
    Lalu, menyebarkan berita tentang kematian Norman.
    Semua mulut mengatakan, Norman mati bunuh diri. Hamsad,
    sebagai teman dekat Norman yang pernah tinggal sekamar
    dengan Norman, merasa tak yakin jika Norman sampai bunuh
    diri. Dalam rona kesedihan yang dalam, Hamsad menjelaskan
    kepada mereka,
    “Tiga bulan aku pernah tinggal sekamar dengannya, dan
    aku tahu kekerasan hatinya Norman bukan pemuda cengeng.
    Norman cukup tangguh dalam menghadapi kesulitan apa pun.
    Tak mungkin rasanya jika ia mati bunuh diri.”
    “Tapi, aku melihat sendiri saat ia menikamkan gunting itu
    ke arah dadanya,” kata Yoppi meyakinkan.

    16
    Hamsad menghempaskan napas dukanya. Kemudian, ia
    berkata dengan pelan, “Pasti ada sesuatu yang tak beres pada
    dirinya.”
    Tiga hari setelah jenazah Norman dimakamkan di kota
    asalnya, para penghuni pondokan itu masih ramai
    membicarakan tentang kematian Norman. Salah satu di
    antaranya ada yang berpendapat, Norman melakukan hal itu
    karena ada masalah dengan Arni.
    “Mungkin ia takut menghadapi Arni. Mungkin Arni hamil
    dengannya,” tutur Bahtiar kepada teman-temannya yang
    meriung di depan kamar Yoppi. Saat itu, Hamsad juga ada di
    situ dan menyimak beberapa kemungkinan dari mereka.
    “Aku juga punya praduga begitu,” kata Denny. “Tetapi, aku
    telah menghubungi Arni secara pribadi, dan menanyakan hal
    itu.”
    “Lalu, apa kata Arni?” tanya Yoppi.
    “Dia mengaku belum pernah dijamah Norman. Dan,
    memang kenyataannya mereka baru taraf saling menaksir
    saja. Belum berpacaran mutlak, kan?”
    Yang lainnya manggut-manggut. Mereka memang tahu,
    bahwa Norman sedang naksir Arni, mahasiswi seni tari itu.
    Mereka juga tahu, bahwa Arni sedang mempertimbangkan
    untuk menerima kehadiran Norman. Maka, mereka pun
    sepakat, bahwa praduga tentang kehamilan Arni adalah tidak
    benar.
    Susilo yang sejak kematian Norman menjadi orang bego.
    banyak melamun, sering terbengong-bengong di depan
    kamarnya, kali ini ia mulai ikut bicara.
    “Beberapa menit sebelum almarhum meninggal,” kata
    Susilo. “Ia sempat keluar dari kamar. Waktu itu, aku habis dari
    kamar mandi. Almarhum menanyakan tentang suara
    perempuan.”
    Semua mata tertuju pada Susilo. Bahtiar bertanya pelan
    ketika Susilo mengatur pernapasannya. “Suara perempuan
    bagaimana?”

    17
    “Almarhum Norman mendengar suara perempuan
    memanggil-manggilnya. Dan, mencari keluar kamar, lalu
    berpapasan denganku.”
    “Kau sendiri mendengar suara perempuan itu?” tanya Ade,
    yang kamarnya dekat kamar mandi.
    “Tidak,” jawab Susilo sambil menggeleng. “Aku tidak
    mendengar suara apa-apa. Tetapi, sebelum kudengar suara
    gaduh dari kamar Norman, aku sempat mendengar Norman
    seperti bicara dengan seorang perempuan. Aku mendengar ia
    menyebut namanya.”
    “Kau masih ingat nama yang disebutkan Norman?” tanya
    Yoppi.
    Susilo mengangguk dalam tatapan mata menerawang. Lalu,
    ia berkata pelan, “Kismi…!”
    Hanya Hamsad yang terperanjat ketika itu. Yang lain masih
    tertegun tak mengerti maksudnya. Tetapi, Hamsad yang sejak
    tadi menyimak pembicaraan dan pendapat dari mereka, kali ini
    bagai ada sesuatu yang menusuk punggungnya, hingga ia
    menegakkan badan.
    “Kismi…?!” tanyanya kepada Susilo yang tertegun
    dibungkus duka.
    “Ya, Kismi…! Kupikir…, Norman menyuruh perempuan
    menciumnya. Tetapi, setelah kupikir-pikir, ternyata dia tidak
    menyuruh perempuan menciumnya, melainkan menyebutkan
    nama perempuan itu. Kismi.”
    “Kau yakin begitu?” desak Denny.
    Susilo mengangguk. “Ada rangkaian kata lain ketika ia
    mengatakan Kismi. “Sebentar, Kis…? Itu katanya. Setelah itu,
    ia membuka pintu, dan memanggil nama Kismi, sepertinya
    mencari-cari perempuan itu.”
    “Ah, mungkin kau memang salah anggapan,” ujar Bahtiar
    menyangsikan.
    Hamsad buru-buru menyahut, “Tidak! Sus benar. Norman
    memang pernah bercerita padaku tentang Kismi, perempuan
    yang dikenalnya di sebuah motel.”

    18
    “Ooo… jadi, Norman punya cewek baru yang namanya
    Kismi? Begitu?” ujar Denny.
    Kemudian, Hamsad menceritakan apa yang pernah
    diceritakan Norman kepadanya. Ketika itu, mencuatlah
    praduga baru dari mulut Bahtiar,
    “Kalau begitu, dia punya problem dengan Kismi, sehingga
    ia nekat bunuh diri!”
    Sejenak suasana menjadi hening, karena masing-masing
    menekuni analisa dalam benaknya. Beberapa saat setelah
    keheningan itu mencekam, Denny berkata dengan nada
    sedikit menggeram,
    “Aku akan menemui Kismi! Aku merasa ditantang untuk
    mengejar misteri kematian Norman, karena teman kita yang
    malang itu sempat melukaiku dan menikam dirinya sendiri di
    depanku, di depan kau, dan kau juga Yoppi,” seraya Denny
    menuding Susilo dan Yoppi.
    “Kalau ingin mencari dia, datanglah ke motel itu. Kurasa
    bagian front-office pasti mengenal nama Kismi!” ujar Hamsad.
    “Hostes itu menurut Norman termasuk hostes eksklusif, yang
    mungkin biaya pemakaian semalam sama besarnya dengan
    uang semestermu!”
    Denny merasa berhutang budi kepada Norman, karena dulu
    ketika ia sakit, membutuhkan sumbangan darah, Norman-lah
    yang mendonorkan darahnya secara sukarela. Dan, kali ini,
    Denny ingin melacak penyebab kematian Norman yang
    menurutnya punya keganjilan semu. Denny yakin, pasti ada
    tabir misteri di balik kematian Norman. Barangkali juga ada
    hubungannya dengan perempuan malam yang bernama Kismi.
    Atau setidaknya Denny bisa memperoleh informasi dari Kismi
    tentang benar dan tidaknya pada malam itu Kismi datang ke
    pondokan mereka.
    Uang bukan masalah bagi Denny, karena ia memang
    berlimpah uang. Ayahnya direktur sebuah bank ternama di
    ibukota, dan Denny sendiri punya simpanan di beberapa bank.
    Sebenarnya, ia bisa hidup dari uang simpanannya itu. Tak
    perlu kuliah, ia sudah bisa memperoleh pekerjaan. Tetapi,

    19
    ayahnya punya gengsi tinggi, sehingga anaknya dipaksa harus
    memperoleh gelar sarjana penuh yang kelak akan dikirim ke
    Amerika untuk memperdalam study bidangnya. Kalau saja
    Denny mau, tahun-tahun kemarin ia sudah kuliah di Amerika.
    Tapi, Denny belum punya niat untuk ke sana, karena ia
    merasa malu jika ke Amerika hanya modal ijazah SMA saja. Ia
    harus punya modal khusus sebelum ia meraih gelar doktoral di
    Amerika.
    Denny datang ke motel itu bersama Hamsad, sebab
    Hamsad punya dendam tersendiri atas ke-matian Norman,
    sebagai teman dekatnya yang sudah dianggap saudara
    sendiri. Mereka berdua berlagak menjadi tamu yang ingin
    menyewa dua tempat di motel itu.
    “Hanya tinggal satu kamar, Bung,” kata bagian front-office
    kepada Denny. “Maklum, malam minggu begini, biasanya
    harus bocking dulu sehari atau dua hari sebelumnya.”
    Denny memandang Hamsad, seakan meminta
    pertimbangan. Lalu, Hamsad berkata kepada petugas
    tersebut,
    “Tinggal satu, tapi yang sebelah mana, Bung?”
    “Agak jauh dari pantai. Hm… ini, di kamar Melati.” Petugas
    itu menunjuk pada denah dalam brosur.
    “Bagaimana dengan kamar sampingnya? Motel Seruni ini?”
    Sejenak tak ada jawaban dari petugas tersebut. Denny
    menimpali pembicaraan itu,
    “Apakah Motel Seruni juga sudah di-bocking orang?”
    “Belum. Tapi…,” petugas front-office sedikit ragu. Tapi,
    karena Denny memandangnya dengan kerutan dahi pertanda
    merasa aneh, maka petugas itu pun melanjutkan katakatanya,
    “Kamar itu jarang ada yang mau memakainya.”
    “Kenapa?” desak Hamsad.
    “Tempatnya kurang nyaman. AC-nya sering macet, dan
    saluran airnya kadang tersumbat. Hm… belakangan ini
    memang tidak kami tawarkan kepada tamu, sebab kami belum
    sempat membetulkan beberapa kerusakannya. Tapi, kalau

    20
    Bung mau, bisa saja. Di sana juga ada kipas angin, kalaukalau
    AC tidak berfungsi.”
    “Oke!” jawab Hamsad tanpa meminta persetujuan Denny.
    Tapi, kami perlu teman. Kalau ada… tolong panggilkan yang
    bernama Kismi.”
    “Kismi…?!” petugas itu bingung. “Di sini tidak ada yang
    bernama Kismi. Mungkin Bung salah nama.”
    ***
    Bab 3
    Jawaban petugas dianggap hal yang wajar. Pada umumnya
    mereka saling berlagak tidak mengenal perempuan panggilan,
    tidak menyediakan hostes, tidak menyediakan wanita
    penghibur, dan semua itu hanya kamuflase saja. Den-ny dan
    Hamsad sudah tidak heran lagi. Mereka tetap menempati
    kamar-kamar yang telah dipesan. Kamar-kamar itu merupakan
    sebuah bangunan tersendiri, berbentuk semacam rumahrumah
    penduduk yang satu dengan yang lainnya terpisah.
    Bangunan-bangunan tersebut tidak memakai nomor,
    melainkan memakai nama bunga. Dalam setiap rumah motel,
    terisi beberapa perabot rumah tangga, terdiri dari satu ruang
    tamu, satu ruang tidur berukuran besar, dapur, dan kamar
    mandi.
    “Kau di kamair mana? Melati atau Seruni?” tanya Hamsad
    kepada Denny.
    “Aku di Seruni saja. Tapi, bagaimana dengan Kismi? Kalau
    mereka tidak bisa menyediakan perempuan itu, kita sia-sia
    bermalam di sini!”
    “Bisa kita atur lewat telepon, nanti. Biar aku yang bicara.”
    “Kau sendiri mau pakai dia?” tanya Denny.
    “Pakai dan tidak itu urusan nanti. Tapi, kalau Kismi sudah
    datang, segera kau telepon aku melalui kamarmu. Kita akan
    bicara bertiga, siapa tahu bisa menyimpulkan sesuatu yang
    berguna. Aku sendiri tidak perlu perempuan lain. Aku hanya

    21
    ingin bertemu dengan Kismi, ingin melihat seperti apa
    perempuan itu.”
    Mereka masuk ke motel itu memang sudah malam. Pukul 8
    mereka memesan kamar tersebut. Letaknya berseberangan.
    Masing-masing mempunyai bangku taman di bawah payung
    berwarna-warni.
    Telepon di kamar Denny berbunyi. Hamsad yang
    menghubunginya. Kata Hamsad kepada Denny,
    “Aku sudah paksa petugas itu untuk mengirimkan
    penghibur hangat yang bernama Kismi. Kukirimkan ke
    kamarmu. Den.”
    “Apa katanya, Ham?”
    “Yah… mereka mau usahakan. Tapi, mulanya mereka
    ngotot dan tetap tidak mengaku mempunyai ‘anak buah’ yang
    bernama Kismi. Lalu. kubujuk mereka, kucoba untuk
    mencarinya, dan akhirnya mereka suruh kita menunggu, ha ha
    ha…,” Hamsad tertawa.
    “Agaknya Kismi perempuan yang cukup eksklusif,” kata
    Denny dalam tersenyum. “Mungkin tidak semua orang bisa
    menemui Kismi, Ham. Kurasa tarifnya jauh di atas yang lain.”
    ‘Itu kan bisa diatur,” kata Hamsad dalam nada kelakar.
    Suara debur ombak terdengar, karena memang motel itu
    dibangun di kawasan pantai. Adakalanya hembusan angin kian
    bergemuruh, seakan menyatu dengan deru ombak memecah
    karang.
    Di dalam kamarnya, Denny mulai gelisah. Sudah pukul 11
    malam, tak ada perempuan yang datang. Hamsad sempat
    mendatangi kamar Denny, karena berulangkah ia menelepon
    Denny dan menanyakan perempuan pesanannya, Denny
    selalu menjawab, “Belum datang.” Mungkin karena rasa
    penasaran yang menggelitik, maka Hamsad pun datang ke
    kamar Denny itu. Dan, ia membuktikan sendiri bahwa di
    kamar itu Denny sendirian, tanpa teman wanita yang
    diharapkan.
    “Aku sudah menghubungi resepsionis, dan menurutnya
    Kismi sedang dijemput,” kata Hamsad. “Bersabarlah.”

    22
    “Yang harus bersabar aku atau kamu? Kulihat kau yang
    kelihatan nggak sabar lagi, Ham,” kata Denny seraya tertawa
    pelan.
    Hamsad kembali ke kamarnya: kamar Melati. Rupanya ada
    satu keisengan yang ia lakukan di kamarnya itu. Tak jauh dari
    kamarnya, terdapat kamar motel lain. Kamar Mawar. Di kamar
    itu, agaknya penghuninya tidak menyadari kalau lampu terang
    di dalamnya menampakkan sebentuk bayangan dari luar
    kamar yang gelap. Dari jendela dapur, Hamsad
    memperhatikan ruang tidur yang terang di kamar Mawar itu.
    Karena di sana tampak gerakan-gerakan dua orang yang
    bercumbu dalam bentuk bayangan. Dari kamar Denny,
    bayangan itu tak akan terlihat. Tapi, dari kamar Hamsad
    bayangan dua makhluk bercumbu di atas ranjang itu terlihat
    jelas.
    Denny sendiri asyik menikmati acara TV Malaysia yang
    menyajikan film kesukaannya. Ia tidak begitu menghiraukan
    apakah wanita pesanan itu akan hadir atau tidak. Ia juga tidak
    bertanya-tanya dalam hati: mengapa sampai larut malam
    perempuan itu belum muncul? Yang ada dalam pikiran Denny
    saat itu adalah rangkaian cerita film detektif yang menjadi
    kegemarannya.
    Pukul 12 malam lewat dua menit, tiba-tiba TV menjadi
    buram. Seolah-olah salurannya terputus. Layar TV
    menampakkan bintik-bintik seperti semut sedang kenduri.
    Saat itu, barulah Denny menyadari tujuan semula. Ia
    melirik arlojinya dan mendesah. TV dimatikan, ia berbaring
    sambil mulai menerawang pada masa-masa kematian Nomian.
    Bayangan tubuh Norman yang bermandikan darah
    terpampang kembali dalam benaknya. Bergidik badan Denny
    mengingat kengerian itu. Meletup emosinya, ingin mengetahui
    penyebab kematian Norman.
    Debur ombak terdengar samar-samar di sela siulan angin
    pantai. Kali ini, hembusan angin itu terasa cukup aneh. Denny
    sesekali berkerut dahi, karena suara angin yang berhembus itu
    menyerupai lolong serigala menelan malam. Hati Denny

    23
    menjadi gelisah, ada debaran-debaran aneh yang ia rasakan
    ganjil. Tanpa ada sesuatu ia bisa mengalami debaran, dan ini
    adalah hal yang aneh baginya. “Ada apa?” batinnya pun
    bertanya demikian.
    Gagang telepon diangkat. Denny bermaksud menghubungi
    Hamsad, karena makin lama ia merasa semakin merinding dan
    berperasaan resah. Namun, baru saja ia hendak menekan
    nomor telepon kamar Melati, tahu-tahu terdengar suara
    ketukan pintu yang lembut.
    Denny berhenti spontan dari segala geraknya, ia ingin
    menyimak suara ketukan pintu itu. Ternyata, untuk kedua
    kalinya pintu itu terdengar lagi diketuk. Lembut. Sopan. Pasti
    bukan Hamsad, pikir Denny.
    Ia bergegas turun dari ranjang berkasur empuk dan
    berseprei halus lembut. Ia merapikan rambutnya sesaat,
    kemudian segera membukakan pintu.
    “Selamat malam,” sapa seorang perempuan yang memiliki
    sepasang mata indah dan bibir yang sensual.
    “Malam…,” jawab Denny sambil merasakan debar-debar di
    dadanya. Ia sedikit gugup, karena baru kali ini ia melihat
    perempuan cantik yang memiliki nilai kecantikan luar biasa.
    Sungguh mengagumkan dan menggairahkan.
    “Anda yang bernama Kismi?”
    “Benar. Anda yang membutuhkan saya, bukan?” kata Kismi
    dengan suara serak-serak manja. Lalu, ia melontarkan tawa
    yang pelan namun memanjang.
    “Kupikir kau tak akan datang. Kupikir malam ini kau ada
    kencan dengan boss lain,” kata Denny memancing diplomasi.
    “Tidak semua orang bisa kencan denganku. O, ya… siapa
    namamu?”
    “Denny.”
    Kismi tertawa lagi. Pelan dan pendek. Denny berkerut dahi
    sedikit dan bertanya, “Kenapa tertawa?”
    “Namamu seperti nama bekas cowokku yang dulu. Tapi,
    wajahnya jauh lebih tampan wajahmu dan aku yakin hatinya

    24
    lebih lembut darimu,” kata Kismi seraya meletakkan tas kecil
    yang tadi tergantung di pundaknya.
    “Kau mau minum apa? Bir?” tanya Denny seraya membuka
    kulkas yang telah penuh dengan-minuman dan buah-buahan.
    “Aku biasa air putih, yang lainnya tidak,” kata Kismi.
    Kemudian, Denny mengambilkan air putih untuk Kismi.
    Malam melantarkan keheningan yang romantis. Tetapi, bagi
    Denny, malam itu bagai malam yang penuh teka-teki indah.
    Malam itu terasa menghadirkan sesuatu yang meresahkan dan
    membuatnya merinding, tetapi penuh dengan buaian mesra
    dari sang sepi. Tak henti-hentinya Denny menatap Kismi yang
    memang mempunyai nilai kecantikan dan lekuk tubuh
    sintalnya yang eksklusif. Ia mirip seorang ratu. Hadir dengan
    mengenakan gaun longdres putih berenda-renda pada bagian
    perut dan lehernya. Bau parfumnya sangat halus dan lembut.
    Enak dihirup beberapa saat lamanya. Rambutnya yang
    disanggul, sehingga tampak lehernya yang jenjang itu berkulit
    kuning langsat, bagai menantang untuk dikecup. Bibirnya yang
    sensual itu pun sesekali membuat hati Denny deg-degan
    karena menahan gejolak nalurinya yang masih ingin
    dikendalikan.
    Longdres putih itu terbuat dari bahan semacam sutra tipis,
    sehingga begitu membayang jelas lekuk tubuhnya yang sexy
    di balik gaun itu. Berulangkah Denny menelan air liurnya
    sendiri. Ia lebih suka bungkam sambil menikmati kecantikan
    yang luar biasa itu ketimbang harus bicara panjang lebar.
    “Mengapa diam saja?” tegur Kismi yang sudah duduk di
    pembaringan, sementara Denny duduk di meubel dekat
    ranjang, menatap Kismi tak berkedip. “Untuk apa kau kemari
    kalau hanya memandangiku? Kau rugi waktu lho.”
    “Jadi…. Jadi apa yang harus kuperbuat, menurutmu?”
    Denny masih sedikit kikuk dan menggeragap karena ia bagai
    dibuai oleh keindahan yang tiada duanya.
    “Apa perlumu kemari?” tanya Kismi. Denny jadi bingung
    menjawabnya. Sepertinya ada suatu kekuatan magis yang
    membuat Denny lupa segala-galanya dan hanya memikirkan

    25
    keagungan seraut wajah cantik yang siap menyerahkan diri
    padanya.
    “Kau baru pertamakan kemari, bukan?” Kismi mendekat
    sambil menyentil hidung Denny. Pemuda berwajah halus dan
    bersih itu hanya mengangguk. Kismi menyambung lagi,
    “Kau bisa penasaran dan ketagihan lho kalau bermalam di
    sini bersamaku.”
    “Apakah banyak yang… yang seperti itu? ‘Hem…
    maksudku, apakah banyak yang ketagihan padamu?”
    Kismi mengangguk, lalu berkata, “Tapi tidak semua
    kulayani. Aku pilih-pilih jika harus mengulang kemesraan
    dengan mereka. Memang ada yang kulayani lagi, tetapi hanya
    satu-dua.”
    “Termasuk aku?”
    “Mana aku tahu. Kita belum saling menukar kenikmatan,
    bukan?”
    “Kau ingin tahu kehebatanku?” tantang Denny sok berani,
    walau sesekali ini mengusap lengannya karena merinding.
    “Apa kau lelaki yang hebat?” Kismi tak kalah
    menantangnya.
    “Kau ingin buktikan?”
    “Tentu. Hanya pada lelaki yang hebat bercinta aku akan
    tunduk kepadanya. Kalau kau berhasil menundukkan aku,
    maka kau akan hidup berlimpah kemegahan dan
    kebahagiaan.”
    “Kenapa kau berkata begitu? Apakah kau sedang memburu
    pasangan yang sesuai dengan idamanmu?”
    “Tidak terlalu memburu, tapi kalau memang ada yang bisa
    berkenan di hatiku, barangkali dialah yang kupilih untuk
    selamanya…,” kata Kismi sambil merayapkan jari telunjuknya
    ke dagu Denny, kemudian merayap ke bibir Denny, dan Denny
    menyambutnya dengan ujung lidahnya.
    “Oh…,” Kismi mendesah dengan mata mulai membeliak
    sayu. Denny tergugah, dan semakin terbakar naluri
    kejantanannya. Ia mulai memberanikan diri meraba pipi Kismi

    26
    sementara bibir dan lidahnya sibuk menghisap-hisap jarijemari
    Kismi yang sengaja bermain di mulut Denny-
    Tangan Kismi yang kiri berusaha melepas tali gaun yang
    terikat di pundak kanan-kirinya. Simpul tali itu hanya
    ditariknya satu kali, lalu gaun terlepas sebelah. Yang satu
    ditariknya kembali simpul talinya, dan kini gaun lembut itu
    terlepas dari tubuh Kismi. Ia ternyata tidak mengenakan bra di
    balik gaun. Hanya sebentang kepolosan yang halus mulus
    yang ada di balik gaun. Dan kepolosan itu sangat
    menghentak-hentakkan jantung Denny karena kepadatan
    dadanya yang menonjol dalam keindahan yang ideal. Padat,
    besar dan menantang.
    Denny merayapkan tangannya ke leher, terus ke bawah.
    Kepala Kismi terdongak ke atas sambil mendesiskan erangan
    serak-serak manja. Matanya membeliak sayu. Ia masih
    berlutut di hadapan Denny yang duduk di kursi empuk itu.
    Tangan kiri Kismi segera melepas sanggulnya dengan gerakan
    tangan gemulai, maka tergerailah rambut hitam yang punya
    kelembutan bagai benang-benang sutra. Rambut itu ternyata
    sepanjang punggung dan berbentuk lurus tanpa I gelombang.
    Gerakan kepalanya yang mendongak makin ke belakang
    seakan memberi kesempatan Denny untuk mengecup
    lehernya. Denny tak sabar, kemudian ia melepaskan tangan
    kanan Kismi yang masih bermain di mulutnya. Kini bibir dan
    mulut Denny mulai merapat ke leher Kismi, membuat suatu
    kecupan kecil yang membuat Kismi semakin mengerang
    panjang.
    “Ouuuh…! Dennyyy…!”
    Ucapan kata dalam bentuk desah serak memanja itu begitu
    mempengaruhi jiwa Denny. Ia makin dibuai oleh suara yang
    memancing api birahi itu. Denny pun akhirnya memburu tanpa
    bisa menahan diri. Tak ada niat untuk menunda sedikit pun.
    Tak ada hasrat untuk berucap kata apa pun. Denny telah
    mabuk dan lupa segala-galanya.
    Sementara itu, tangan Kismi pun tak mau tinggal diam. Ia
    pandai menyusupkan jemarinya ke lekuk-lekuk tubuh yang

    27
    peka dari seorang lelaki. Ia memang jago. Hebat. Ia memang
    berpengalaman, jauh di atas segala pengalaman Denny.
    “Ooouh… kau terbakar, Sayang…,” bisik Kismi sambil
    menggeliat, bergerak maju bagai menerkam Denny. Pada
    waktu itu, tangan Kismi sudah berhasil melepas kancing baju
    Denny. Bahkan bagian atas tubuh Denny itu sudah tidak
    dibalut selembar benang pun. Denny tidak menyadari keadaan
    dirinya yang sudah demikian. Bahkan ia tidak tahu kalau
    celananya telah terlempar di lantai tak jauh dari kursi empuk
    itu.

    Cerita Sex Misteri Gadis Tengah Malam

    Cerita Sex Misteri Gadis Tengah Malam

    Satu hal yang disadari Denny adalah keadaan Kismi yang
    polos itu. Keadaan yang terbuka tanpa penghalang seujung
    rambut pun itu kini berada di sandaran kursi. Entah
    bagaimana caranya, Denny tak sadar, tahu-tahu Kismi duduk
    pada bagian atas dari sandaran punggung kursi. Ia duduk
    bagai seorang ratu yang siap memerintah dari singgasananya.
    Kismi mengerang tiada putus-putusnya sambil meremasremas
    kepala Denny yang ada di bawah tempat duduknya. Ia
    biarkan kedua pahanya tersentuh lengan dan ujung pundak
    Denny, karena pada saat itu ia merasakan satu sentuhan
    mesra yang nikmat dan sesekali membuat ia makin kuat
    meremas rambut-rambut di kepala Denny.
    Pekikan-pekikannya menandakan ia telah dikuasai oleh
    gairah birahi yang sesekali mengejutkan dirinya. Dan, tiap
    kejutan, ia memekik keras sambil mengejangkan otot. Denny
    bagai dipaksa tetap mencumbu di sela kepekaannya yang
    utama, dan agaknya itu sangat memabukkan dirinya. Pekikan
    dan erangannya kini makin berubah seperti tangis. Bukan
    tangis kesakitan, melainkan tangis kebahagiaan yang sering
    membuatnya gemas dan geregetan.
    Tak sabar Denny menghadapi kegemasan Kismi, karena ia
    sendiri ingin memperoleh masa-masa kegemasan yang
    melambung jiwanya. Maka, segera Denny mengangkat tubuh
    mulus berkeringat harum itu sambil mulutnya tetap merapat di
    bibir Kismi. Tubuh mulus yang mendebarkan hati itu
    diletakkan di atas ranjang, sehingga terlihat perempuan itu

    28
    lebih leluasa bergerak menggeliat, dan Denny sendiri lebih
    bebas menikmatinya.
    Deburan ombak di pantai terdengar bergemuruh bercampur
    deru angin. Gemuruhnya ombak itu, masih belum sebanding
    dengan gemuruhnya darah Denny yang dibuai kehangatan
    cinta Kismi. Perempuan itu lebih galak dari singa, dan lebih
    buas dari beruang. Tak segan-segan ia menjadi juru mudi
    dalam ‘pelayaran’ itu. Tak ada lelahnya ia menghantar Denny
    ke puncak kebahagiaan yang diharapkan setiap lelaki. Bahkan,
    Denny sempat memekik keras dalam suara tertahan ketika
    Kismi sengaja memancing Denny untuk berlayar lagi. dan
    berlayar terus. Puncak-puncak kebahagiaan Denny telah
    dicapai beberapa kali, tetapi Kismi masih ingin memacu diri
    untuk makin menggila, meremat-re-mat tubuh Denny, mencari
    puncaknya sendiri.
    “Aku lelah, Kismi… oh… berhentilah…!” Denny terengahengah
    dengan bermandikan keringat. Tetapi, Kismi tak mau
    berhenti. Masih saja ia mengerang, mengeluh, mendesah dan
    mendesis di sela setiap gerakannya yang luar biasa hebatnya.
    “Kismi… oh… kita istirahat dulu. Sayang! Aku capek…!”
    Kismi bahkan mengerang berkepanjangan sambil terus
    bergerak seirama dengan kemauan hatinya. Denny hanya
    terengah-engah dan sudah mengalami kesulitan menuju
    ketinggian puncak asmaranya. Akhirnya ia biarkan Kismi
    berlaga seorang diri. Ia biarkan Kismi berbuat apa maunya,
    dan Kismi pun merasa diberi kesempatan. Ia jadi lebih
    menggebu lagi.
    Denny mulai merasa pusing. Matanya berkunang-kunang.
    Napasnya sesak, dan perutnya terasa mual. Namun demikian,
    Kismi masih tetap mendayung sampannya menuju samudera
    kebahagiaan, sehingga mau tak mau Denny pun memekik lagi
    karena tiba di puncak khayalan mesranya. Dalam hati, Denny
    hanya bertanya-tanya dengan lemas, kapan ‘pelayaran’ itu
    akan usai? Haruskah ia menolak dengan kasar, atau
    membiarkan ia jatuh pingsan ditimpa sejuta kenikmatan?
    ***

    29
    Bab 4
    Hamsad menggeragap ketika menyadari dirinya tertidur di
    kursi dapur. Ternyata saat itu matahari telah memancarkan
    sinar paginya yang menghangat di ruang dapur.
    “Astaga…?! Sudah pagi?!” Hamsad segera bergegas ke
    meja di kamar tidur, ia mengambil arlojinya di sana.
    “Busyet! Pukul 7 kurang 10 menit? Apa-apa-an ini?
    Bagaimana dengan Denny?!’
    Tanpa cuci muka. tanpa menyisir rambutnya, Hamsad
    langsung keluar dari kamarnya, menyeberang jalan kecil, dan
    segera mengetuk pintu kamar Denny,
    Beberapa kali pintu kamar itu diketuknya, tapi tidak ada
    jawaban. “Ada apa Denny? Kenapa tidak segera membukakan
    pintu? Apakah ia tertidur seperti aku? Ah.seharusnya tadi
    kutelepon saja dari kamar. Pasti ia terbangun, karena meja
    telepon dekat sekali dengan ranjang.”
    Baru saja Hamsad ingin kembali ke kamarnya untuk
    menelepon Denny. Tiba-tiba pintu kamar itu terdengar dibuka
    seseorang dari dalam. Denny muncul dengan mata menyipit
    dan ta-ngan melintang ke atas, ia menahan sorot matahari
    yang mengenai matanya.
    “Brengsek lu” gerutu Denny sambil bersugut-sungut. Ia
    masuk, membiarkan Hamsad terbengong. Kemudian Hamsad
    juga turut masuk dan mengikuti Denny. Denny
    menelentangkan tubuhnya di ranjang empuk dengan satu
    hempasan yang lemas.
    “Ya, Tuhan…! Mengapa kamu menjadi seperti mayat
    begini. Denny?” Hamsad memandang Denny tak berkedip,
    sedikit tegang. Denny meraih guling dan mendesah.
    “Kamar ini menjadi bau sperma! Brengsek’ Apa yang telah
    kau lakukan semalam. Denny? hei, ? apakah Kismi datang
    kemari?!”
    “Hem…” Denny hanya menggumam, membenarkan dugaan
    Hamsad

    30
    “Oh, dia benar-benar datang? Dan .. dan… kau bercinta
    dengannya?”
    ‘Semalam suntuk!” kata Denny seenaknya dengan mata
    menyipit sayu bagai masih mengantuk.
    “Kenapa kau tak menghubungi aku?!” protes Hamsad
    merasa dongkol.
    ”Tak sempat!”
    “Ah, kau konyol! Aku nggak suka dengan kekonyolan model
    begitu. Den! Kita kemari bukan mencari kenikmatan sepihak!
    Kita kemari untuk…!”
    ’Tidak sempat!” bentak Denny yang merasa dongkol juga
    Hamsad tidak melanjutkan omelannya, takut terjadi
    perselisihan tak sehat, la diam. Memandang keadilan
    sekeliling. Ia menggeleng-gelengkan kepala, merasa heran
    melihat ranjang berserakan, sprei dan selimut tebal seperti
    habis dipakai bertanding adu banteng. Kaos Denny masih
    tergeletak di lantai, dekat kursi empuk itu bersama celananya.
    Hanya celana dalam Denny yang kala itu dikenakan
    Sementara kasur yang acak-acakan itu terlihat banyak noda
    kelembapan yang mengeluarkan bau jorok. Hamsad terpaksa
    menyingkir, tak tahan menghadapi suasana seperti itu.
    Sebelum ia kembali ke kamarnya, ia mengingatkan Denny,
    ‘Kita check out pukul 12 siang ini lho! Jangan lebih’
    Denny hanya menggumam sambil tetap memejamkan
    mata, dan Hamsad pun segera meninggalkan kamar lembap
    ini. Dalam hatinya ia menggerutu dan menyesal setengah
    mati, karena ia tidak berhasil bertemu dengan perempuan
    yang bernama Kismi. Untuk menghalau kedongkolannya itu.
    Hamsad menetralisir diri dengan berkata dalam hati, “Ah. tapi
    Denny kan sudah bertemu dengan Kismi ini. Pasti Denny
    sudah bisa mengorek beberapa rahasia dari Kismi tentang
    Almarhum Norman Tak apalah! Yang penting Denny bisa
    menyimpulkan semua keterangan dari Kismi tentang Norman,”
    Pukul 10. menjelang pagi berakhir, Denny masih tertidur.
    Hamsad menyempatkan diri berjalan ke pantai. Sambil

    31
    melangkah menikmati pemandangan indah dan cuaca cerah.
    Hamsad bertanya-tanya dalam hati.
    “Tapi, mengapa wajah Denny begitu pucat. Persis dengan
    wajah sesosok mayat, la kelihatan lemas dan layu sekali.
    Apakah benar ia telah bercinta dengan Kismi semalaman
    suntuk? Separah itukah ia?”
    Pasir pantai yang putih dan lembut disusurinya. Banyak
    sepasang sejoli yang melangkah sambil bergandengan tangan
    banyak pasangan yang beda usia sangat menyolok. dan sudah
    tentu mereka bukan suami-istri Oom-oom sedang monikmati
    masa santainya bersama daun muda. Ataupun ‘daun muda’
    yang berhasil menggaet oom-oom untuk diperas dompetnya?
    Terkadang Hamsad merasa iri melihat mereka. Yang tua. bisa
    mendapatkan pasangan muda belia dan cantik. Yang beruban
    dan berwajah peot saja bisa memeluk gadis cantik
    menggiurkan, mengapa ia tidak bisa seperti mereka?
    Mungkinkah karena faktor ekonomi yang tidak sepadan
    dengan opa-opa pecandu daun muda itu?
    Dalam masa-masa merenungi kenyataan itu.
    Hamsad teringat kata-kata Almarhum Norman saat ia
    menceritakan tentang kehebatan Kismi.
    “Ia tidak pantas dipajang sebagai wanita penghibur. Kismi
    sungguh anggun. Mirip seorang ratu di zaman Romawi Kuno.
    Hidungnya mancung dan matanya bening, mempunyai
    ketajaman yang berwibawa, tapi enak dipandang. Kalau kau
    berjalan dengan Kismi menyusuri pantai, maka orang-orang
    yang saling mendekap pasangannya itu akan melepaskan
    pelukan mereka, dan mata oom-oom yang ada di sana pasti
    terarah kepada Kismi tanpa berkedip. Kismi mempunyai daya
    magnitisme yang membuat lelaki bisa lupa daratan maupun
    lautan…!”
    Hamsad tertawa sendiri teringat kata-kata Norman.
    Barangkali di pantai inilah yang dimaksud Norman. Di pantai
    itulah seharusnyu Hamsad menggandeng Kismi. agar semua
    mata lelaki akan membelalak ke arah Kismi, dan semua
    pelukan lelaki akan terlepas dari pasangannya. Jika benar

    32
    begitu, oh… alangkah istimewanya wanita yang bernama
    Kismi itu? Pantas rupanya jika petugas motel merahasiakan
    tentang Kismi, dan tidak sembaningau memberikan Kismi
    kepada tamunya. Rupanya Kismi adalah maskot bagi motel
    itu. Kismi adalah sang Primadona yang tidak sembarang lelaki
    boleh menyentuhnya. Mengenai harga keringatnya, sudah
    tentu jauh di atas harga wanita-wanita penghibur yang lain.
    Hamsad digelitik oleh rasa penasaran tentang Kismi. Ia
    bergegas kembali ke kamarnya dan membangunkan Denny
    lewat telepon, karena jam sudah menunjuk pukul 11 siang.
    Tetapi, sebelumnya ia sempat berpapasan dengan seorang
    lelaki separuh baya yang berkumis dan berbadan gemuk, tapi
    bukan gendut.
    “Pak Hasan!” sapa Hamsad. Lelaki itu berpaling ke arah
    Hamsad, lalu tersenyum kaget. Pak Hasan segera melepaskan
    tangannya yang sejak tadi menggandeng wanita bertubuh
    langsing yang berusia sebaya dengan Hamsad.
    “Hei. kau di sini juga. Ham?!” Pak Hasan segera berjabat
    tangan dengan Hamsad.
    “Biasa, Pak. Refresing…!” Hamsad tertawa seirama dengan
    tawa Pak Hasan.
    “Bersama siapa kau di sini. Ham? Maksudku, bukan teman
    cewek, tapi teman lelakimu, Hem… o. ya kau tentu bersama
    Norman, bukan?”
    Hamsad sedikit kikuk untuk menjawab, namun akhirnya ia
    berkata. “Apakah Pak Hasan belum mendengar kabar tentang
    Norman?”
    Lelaki separuh baya yang masih digelayuti perempuan
    muda itu berkerut dahi. mulai curiga.
    ”Ada apa dengan Norman? Aku baru saja kemarin sore
    pulang dari Bandung.”
    “Astaga,..! Kalau begitu, mungkin Pak Hasan belum
    mendengar kabar terakhir tentang Norman”
    “Maksudmu?”
    “Norman… hm… dia telah meninggal. Pak.”

    33
    “Hah…?!” Pak Hasan nyaris terpekik keras. matanya
    mendelik. Mulutnya ternganga kaku sejenak.
    “Dia… dia melakukan kebodohan. Pak.” tambah Hamsad
    dengan nada sendu.
    “Kebodohan?” ‘
    Ya. Dia… bunuh diri!’
    “Astaga…?” makin mendelik lagi Pak Hasan mendengar
    kata-kata itu. Wajahnya tampak tegang dan menjadi pias.
    “Apa masalahnya? Ada apa sih?! Mengapa dia sampai
    melakukan hal itu?r
    Secara singkat Hamsad menceritakan saat-saat Norman
    menikam dirinya dengan gunting dan tepat mengenai
    jantungnya. Keceriaan Pak Hasan kala itu benar-benar
    terganggu dan boleh dikatakan hilang seluruhnya, la menjadi
    murung, duduk di bangku plesteran dari batu berlapis traso. Ia
    kelihatan sedih .sekali.
    “Norman….” gumamnya. “Ah. gila! Padahal dia satusatunya
    penulis andalanku yang baru saja kemarin malam
    kuusulkan oleh perusahaan yang baru untuk mengontrak
    Norman dalam penerbitan tahun ini. Tapi… ah. gila! N’orman
    itu gila apa waras sih? Mengapa ia sampai berani berbuat
    nekat begitu?”
    “Teman-teman satu pondokan tak ada yang mengetahui
    alasan Normali secara pasti, Pak.” kata Hamsad. “Tapi, ada
    tiga orang yang melihat persis saat Norman melakukan
    tindakan nekatnya itu. Dua temannya terluka ketika hendak
    menghalangi tindakan picik itu.”
    Wanita cantik yang duduk di samping Pak Hasan itu ikut
    menampakkan wajah sendu, seakan turut berdukacita atas
    kematian Norman, walau sebenarnya ia sendiri tidak tahu.
    siapa Norman. Dan, setelah menghela napas beberapa kali
    dalam kebungkamannya. Pak Hasan berkata kepada Hamsad.
    “Ham, aku tahu kau teman dekat Nornian. Aku ingin bicara
    denganmu, tapi tidak di sini! Datanglah ke rumahku, atau…
    jangan. Jangan ke rumah, nanti terganggu urusan lain. Hem…
    besok sore, teleponlah aku. Atau kapan saja setempatmu.

    34
    Telepon aku, dan kita tentukan di mana kita harus bertemu
    untuk membicarakan tentang Norman.”
    “Baik. Saya setuju. Pak.”
    “Ah. sial! Mengapa aku harus kehilangan dia?!” gumam Pak
    Hasan yang tampak menyesal sekali atas kematian Norman
    itu.
    Tak enak jika terlalu lama mengganggu Pak Hasan.
    Hamsad pun segera memisahkan diri. Pukul 11 lebih 20 menit,
    ia segera ke kamar Denny. takut Denny berlarut-larut dalam
    tidurnya.
    “Hei, minggat ke mana kau?!” sapa Denny yang rupanya
    justru sedang menengok keadaan di kamar Hamsad.
    “Aku baru saja memesan makanan,” kata Hamsad sambil
    duduk di kursi teras yang terbuat dari rotan.
    Hamsad tidak bicara untuk beberapa saat, karena ia masih
    terheran-heran melihat kepucatan wajah Denny.
    “Kenapa memandangku begitu? Apa aku mirip setan?!”
    “Persis sekali.” jawab Hamsad. “Kau bukan mirip, tapi
    persis setan! Pucat pasi. seperti kertas HVS ukuran kuarto!’
    Hamsad geleng-geleng kepala. Denny hanya nyengir berkesan
    tersipu.
    “Kita tidak buru-buru pulang, kan?” tanya Denny
    mengalihkan perhatian.
    “Tinggal satu setengah jam lagi kita punya ketempatan di
    sini.”
    “Ah, pulang besok saja,’ kala Denny. dan ia bergegas
    masuk ke kamar Hamsad. Begitu keluar sudah membawa dua
    kaleng Green Sands.
    ‘Kau mau pulang besok?” Hamsad sangsi.
    Denny hanya tersenyum-senyum. “Aku ada janji dengan
    Kismi untuk bertemu nanti malam.”
    “Ah, kau gila!” ketus Hamsad sambil membuka kaleng
    Green Sands.
    “Untung bukan kau yang bertemu dengan Kismi. Kalau kau
    bertemu dengan Kismi. maka kau yang akan menjadi gila!”

    35
    Denny tertawa. Wajahnya yang tampak sayu seperti
    dipaksakan untuk ceria.
    “Almarhum Norman pernah bilang begitu padaku.” kata
    Hamsad. “Katanya, aku akan tergila-gila jika bertemu dengan
    Kismi, apalagi sampai bergumul dengan wanita itu, pasti kesan
    itu menjadi sebuah kenangan yang tak terlupakan seumur
    hidupku.”
    “Benar! Kata-kata Norman itu memang benar! Kismi wanita
    istimewa yang mempunyai kehebatan luar biasa. Daya
    tariknya mampu melumpuhkan lututmu, Ham! Wah, aku
    hampir pingsan menikmati kebahagiaan dengannya. Dia
    pandai. Pandai dalam segala hal! Dia akan membuatmu lemas
    lunglai dan tak bisa bergerak lagi oleh cumbuan dan gairah
    birahinya yang berkobar-kobar Gairahnya itu seakan lak bisa
    dipadamkan dalam waktu sekejap. Perlu proses yang cukup
    panjang untuk menurunkan temperatur nafsunya. Sungguh
    melebihi kuda betina yang kokoh dan tangguh.”
    Terbayang dalam khayalan Hamsad. seperti apa
    sebenarnya keadaan Kismi itu. Ia meraba dalam bayangan
    dan akhirnya menciptakan debar-debar penasaran yang
    mengganggu ketenangannya. Denny terus bercerita tentang
    kehebatan Kismi. tentang kecantikan Kismi, dan tentang kesan
    indah yang ia peroleh dari Kismi. Lalu, meluncurlah
    pertanyaan dari mulut Hamsad yang bersifat usil.
    “Berapa banyak ia memeras uangmu untuk semalam
    suntuk Itu?”
    “Tidak sepeser pun!”
    “Ah…!” Hamsad mendesah, pertanda tak percaya.
    “Sungguh, Ham! Dia tidak minta sepeser pun uang duriku!”
    “Betul? Atau. barangkali menyuruhmu membayar di kasir»”
    “Kamu pikir dia dagangan di supermarket?” Denny tertawa
    lepas.
    Hamsad termenung heran.
    “Kok aneh?! Dia tidak minta bayaran? Lalu…? lalu untuk
    apa dia datang?!”

    36
    “Yah… mungkin dia seorang perempuan yang butuh
    hiburan juga,’ kata Denny. “Yang jelas, ketika pukul 4 pagi
    lewat sedikit, ia segera berbenah diri. kemudian mencium
    keningku dan berbisik agar aku kembali lagi pada malam
    berikutnya. Ia akan datang dan tak perlu memikirkan tarif apa
    pun. Dia tersinggung kalau aku bertanya tentang tarif
    cintanya. Dia merasa tidak menjual cinta kepada siapa pun. Ia
    hanya akan datang jika aku pun datang di tempat yang
    sama.”
    Terlintas kejanggalan yang menggelisahkan hati Hamsad
    saat itu. Rasa penasarannya semakin menggebu, dan hasrat
    untuk membuktikan Semua kata-kata Denny itu ditekan kuat.
    disambunyikan rapat-rapat.
    “Jadi kau ingin bermalam lagi?” tanya Hamsad dalam
    kebimbangan.
    “Ya. Kau… kau bisa datang ke kamarku. Kali ini. akan
    kusempatkan untuk meneleponmu jika dia datang. Tapi.
    ingat… aku tidak mau kau mengganggu kemesraan kami’
    Awas lu kalau konyol!”
    ‘Tidak. Aku tidak akan bermalam lagi di sini.”
    “Alaaah… begitu saja sewot!” ledek Denny.
    “Bukan sewot. Kau ingat, nanti malam adalah hari
    perkawinan dosen Biologi kita. Bu Anis.”
    “Astaga! Benar! Aku hampir lupa!”
    ‘Aku harus datang dalam pesta perkawinan itu. Semua
    teman kurasa juga datang, karena Bu Anis adalah satusatunya
    dosen yang paling akrab di hati para mahasiswanya.”
    Denny mauggul-manggut. lalu kelihatan bingung, la
    berkata, “Ya.ya…, Bu Anis nanti malam melangsungkan
    pernikahan. Dan, wah… repot kalau begini, Ham. Kalau aku
    tidak datang, itu sangat keterlaluan. Sebab, Bu Anis itu anak
    dari kakaknya ibuku- Kepada Bu Anis dulu ibuku menitipkan
    aku agar kuliah di kota ini. Dan. kurasa keluargaku pasti
    datang semua. Malulah aku kalau tidak nongol dalam
    perkawinan Bu Anis.”
    ‘Jadi, bagaimana dengan janjimu dengan Kismi?”

    37
    Denny diam sampai beberapa saat lamanya, la dalam
    kebimbangan yang benar-benar menjengkelkan. Setelah
    beberapa saat kemudian akhirnya ia memutuskan agar segera
    pulang saja. Urusan Kismi akan ditunda sampai malam
    berikutnya. Denny menitipkan pesan tulisan kepada bagian
    resepsionis. Pesan itu untuk Kismi yang berisi penundaan
    waktu berkencannya. Maka. siang itu juga mereka check-out
    dari motel tersebut. Denny langsung ke rumah Bu Anis untuk
    membantu persiapan malam perkawinan nanti, sedangkan
    Hamsad kembali ke rumahnya dengan sejumlah pertanyaan
    batin yang menggelisahkan hatinya.
    “Ada sesuatu yang ganjil dari cerita Norman dengan cerita
    Denny. Tapi, di mana letak keganjilan itu. aku belum
    menemukan.” pikir Hamsad ketika sore itu bergegas ke
    pondokan Denny dalam keadaan siap berangkat ke pesta
    perkawinan Bu Anis.
    Di pondokan. Hamsad yakin, banyak mahasiswa yang akan
    datang ke perkawinan Bu Anis, karena di situ banyak teman
    satu kampus dengannya, di antaranya Bahtiar, Ade. dan
    Yoppi. Mulanya Hamsad ingin menghampiri Sonita, cewek
    kampus yang pernah pergi ke pesta ulang tahun salah seorang
    teman bersama Hamsad. Tetapi, Hamsad ragu. sebab Sonita
    belakangan ini kelihatan mengakrabkan diri dengan Bob, dan
    kehadiran Hamsad bisa jadi menimbulkan perkara di antara
    mereka. Karena itu Hamsad lebih setuju untuk pergi bersamasama
    anak-anak pondokan saja. Mungkin lebih seru ketimbang
    harus membawa cewek yang penuh resiko itu.
    “Denny baru saja pergi lagi, Ham.’ kata Ade.
    “Ke mana dia?!”
    “Menjemput Kismi.”
    “Hah…?!” Hamsad terbalalak kaget memandang Yoppi yang
    menjawab pertanyaan tadi. “Dengan siapa ia menjemput
    Kismi?”
    “Tigor. Dia paling bernafsu mendengar cerita Denny
    tentang Kismi. Luar biasa menurutku juga”

    38
    Ada rona ketegangan yang tahu-tahu muncul di wajah
    Hamsad. la memandang Yoppi. Ade dan Bahtiar. Satu persatu
    wajah itu dipandanginya. Kemudian, ia bertanya dengan suara
    pelan, sepertinya tidak ditujukan pada mereka.
    “Jadi… kalian sudah tahu cerita tentang Kismi?”
    Ade tertawa sinis dalam gaya kelakar, *Kau pikir cuma kau
    saja yang boleh mendengar cerita menggairahkan itu? Kami
    juga berhak mendengarnya dong!”
    Bahtiar menimpali, “Kami juga berhak inengkhayalkannya
    dong. Betul, nggak?!” Dan, Ade serta Yoppi menjawab
    serempak. “Betuuul…!”
    Setelah diam sesaat. Hamsad berkala, “Tiba-tiba aku
    mencemaskan Denny?” Hamsad tampak resah.
    “Cemas? Kenapa harus cemas?”
    ‘Entahlah. Perasaan cemas itu juga timbul sebelum malam
    Kematian Norman. Ah, mau ada apa, ya?” gumam Hamsad.
    ***
    Bab 5
    Dengan mengendarai mobil Jeep milik Tigor, Denny
    bernafsu sekali utiluk membawa Kismi pada pesta perkawinan
    Bu Anis. Ia ingin memamerkan Kismi.kepada keluarganya yang
    malam itu berkumpul di gedung, tempat pesta perkawinan itu
    berlangsung. Sedangkan Tigor, adalah salah satu pemuda
    korban khayalan cerita Denny. Tigor penasaran sekali dan
    ingin melihat sendiri seperti apa Kismi itu. Benarkah cerita
    Denny bukan sekadar bualan belaka?
    Pukul 7 malam kurang beberapa menit, mereka tiba di
    bagian resepsionis. Seorang pemuda berdasi kupu-kupu duduk
    di balik meja resepsionis dan menyambut kedatangan Denny
    serta Tigor dengan senyum ramah.
    “Ada yang bisa saya bantu. Bung?” kata resepsionis itu.
    seperti sebuah hafalan.
    “Saya tadi siang titip pesan dengan petugas yang badannya
    sedikit gemuk.”

    39
    “O, maksudnya…. Mas Gagan?’
    ‘Entah siapa dia punya nama, tapi dia bagian resepsionis
    tadi siang. Mungkin sekarang tugasnya telah Anda gantikan,
    ya?’
    ”Benar. Saya tugas malam. Ada pesan apa maksudnya?”
    Denny sedikit bingung menjelaskannya. Lalu, dengan hatihati
    ia ceritakan pertemuannya kemarin malam dengan Kismi.
    Tetapi, petugas itu tampak kebingungan juga.
    “Maaf, kami memang mempunyai wanita-wanita yang…
    yah, sering dipesan oleh para tamu. Tetapi, tidak ada yang
    bernama Kismi. Mmm… mungkin Anda memesannya dari
    motel lain?”
    “Tidak. Saya memesannya dari sini. Dan, perempuan itu
    datang juga ke kamar saya. Maka, saya titip pesan untuknya,
    karena seharusnya hari ini saya masih di sini menunggu dia.
    Tapi, karena ada resepsi perkawinan keluarga, jadi saya
    tinggalkan. Nah, malam ini saya ingin ajak dia untuk
    menghadiri resepsi tersebut,” tutur Denny menjelaskan.
    Sejenak kemudian petugas itu mencari sesuatu dan
    menemukan surat Denny untuk Kismi
    ‘Mungkin ini surat Anda.”
    “Ya. benar! Rupanya belum disampaikan, ya?’
    “Mungkin tak seorang pun dari kami yang mengetahui
    perempuan bernama Kismi, Bung. Dan. kalau begitu, biasanya
    kami tunggu saja di sini Apabila perempuan itu datang, baru
    kami serahkan surat ini.”
    “Dari tadi dia belum datang?” Tigor yang tak sabar mulai
    angkat bicara.
    “Belum. Dalam buku tamu ini juga tidak ada yang
    mencantumkan namanya sebagai Kismi,” jawab petugas
    resepsionis dengan ramah. Sesaat kemudian, ketika Denny
    dan Tigor berbicara bisik-bisik, petugas itu bertanya lagi,
    “Maaf. di mana Anda semalam menginap? Maksud saya. di
    kamar Kenanga atau Flamboyan?”
    “Di kamar Seruni,” jawab Denny.

    40
    Petugas resepsionis itu kelihatan terperanjat sesaat, dan
    buru-buru menyembunyikan perasaan kagetnya itu. Tigor
    sempat mengetahui hal itu, kemudian sedikit berkerut dahi
    karena merasa curiga.
    “Apakah kamar itu sampai sekarang masih kosong?”
    “Saya rasa begitu. Bung?’” resepsionis itu telah berhasil
    menguasai rasa kagetnya, sehingga memberi jawaban ramah
    kepada Denny. Tetapi. Tigor diam-diam memperhatikan wajah
    pemuda tersebut yang tampaknya mulai dihinggapi keresahan.
    “Dia janji jam berapa akan datang?” tanya Tigor kepada
    Denny.
    “Dia tidan menentukan jamnya tapi yang jelas dia pasti
    datang untuk menemuiku kembali.”
    ‘Mmm… barangkali….” petugas itu sedikit, gugup.
    “Barangkali Anda bisa menunggunya jika membooking kamar
    itu lagi. Bung.”
    “Ah, kurang efisien itu!” Denny mendesah. “Atau barangkali
    Bung mau menunggunya?” petugas itu tetap ramah.
    Denny meminta pendapat Tigor. lalu Tigor berkata, “Repot
    pulalah aku! Kau yang punya urusan, kenapa aku yang ikut
    susah. Kau sendirilah yang tunggu dia kalau kau mau!’
    “Kita bicara sebentar di lobby itu yuk…”ajak Denny.
    Kemudian, mereka berdua duduk di sofa yang ada pada lobby
    tersebut.
    Agaknya Denny merengek kepada Tigor agar Tigor mau
    menemani dia menunggu Kismi. Tigor sendiri makin tertarik
    setelah Denny menceritakan kehebatan Kismi di ranjang. Tigor
    makin terbuai oleh cerita Denny tentang kecantikan Kismi
    yang mirip seorang Ratu Mesir Kuno. Maka. Tigor pun
    akhirnya berkata.
    “Kalau kau bohong, aku tak mau berteman lagi dengan
    kaulah! Tapi kalau kau benar, kau boleh anggap aku
    abangmu.”
    “Bah! Abang macam apa kau kalau diam-diam punya minta
    juga dengan kekasih adiknya.” kata Denny menirukan gaya
    Tapanuli.

    41
    ”Eh. siapa bilang aku mau sama cewekmu?”
    ”Eh. siapa bilang begitu, Denny?! Aku cuma ingin tahu,
    seperti apa cewek yang kau agung-agungkan itu. Denny!
    Jangan punya pikiran yang macam-macamlah!” Tigor
    bersungut-sungut, berlagak sewot. Denny tertawa terkekeh
    melihat gaya Tiyor berlagak tersinggung. Buktinya, Tigor
    sendiri segera berkata,
    “Kalau masalah kau mau kasih kesempatan sama aku, itu
    lain persoalan, kan?”
    “Kesempatan apa?”
    “Yang, kesempatan merasakan khayalanmu itulah.,.!” Tigor
    sendiri akhirnya tertawa bersama Denny.
    Sampai pukul 9 malam, Kismi belum datang juga. Tigor
    mulai menggerutu dan merasa ditipu. Denny tidak bisa
    tenang. Gelisah sakali, karena seharusnya saat itu ia sudah
    berada di pesta perkawinan Bu Anis. Ia penasaran kalau tidak
    membawa Kismi ke pesta itu. Ia malu. Dan, ia yakin, bahwa
    Kismi pasti datang sesuai janjinya.
    “Bagaimana ini, Denny? Sudah pukul 10 malam kurang
    sedikit. Apa kita harus tunggu dia sampai pagi, atau
    tinggalkan saja dongengmu itu! Kita ke resepsi sekaranglah!
    Biar aku tak kena marah keluargamu!”
    Kesal sekali hati Denny. la dicekam oleh kebimbangan yang
    menyebalkan. Menunggu Kismi seperti menanti kematian yang
    memuakkan.
    Dan akhirnya Denny pun setuju dengan usul Tigor untuk
    meninggalkan motel itu. Mereka segera melejit ke arah
    gedung pertemuan yang dipakai mengadakan pesta
    perkawinan Bu Anis. Denny yang mengemudikan mobil itu.
    karena Denny yang tahu persis mencari jalan pintas menuju
    gedung pertemuan untuk mempersingkat waktu.
    Tapi. tiha-tiba mobil itu mogok di perjalanan. Berulangkali
    Denny menstarternya, tapi mesin tak mau hidup lagi. Tigor
    mengambil alih kemudi, dan ternyata sama saja.
    “Bah ! Mobil macam apa ini?! Bensin masih ada, oli masih
    ada, air masih ada, kenapa macet!. Ah. macam-macam pula

    42
    mobil ini! Ala. Maaak…! Apa yang rusak ini?!” Tigor
    menggerutu dan ngomel-ngomel sendiri, sedangkan Denny
    diliputi rasa gelisah yang membuatnya menggeram-geram dan
    mendesah-desah tak karuan.
    Tigor mendorong mobil, sementara Denny memegang
    kemudi, tapi hasilnya nol. Dua orang tukang becak dimintai
    bantuan untuk mendorong mobil , tetap saja tak menghasilkan
    apa-apa., Akhirnya tukang becak itu bahkan menyatakan diri
    tidak sanggup dan terlalu jauh meninggalkan becaknya- Tigor
    memberi mereka uang seribu, lalu tinggallah Denny bersama
    Tigor di jalanan yang sepi itu.
    Malam melengangkan udara dingin. Sepertinya mau hujan,
    karena langit mendung, tak berbintang satu pun. Jalanan itu
    adalah jalanan yang jarang dilalui kendaraan karena di
    samping banyak lubang juga karena tak ada penerangan.
    “Denyyy…!’
    Tiba-tiba Denny mendengar seseorang memanggilnya. Ia
    tersentak kaget dan matanya membelalak mencari-cari suara
    tersebut. Tigor sedang mencoba mengutak-atik mesin mobil,
    sehingga ia tidak melihat Denny kelabakan mencari sesuatu.
    Beberapa saat selelah mencoba mengutak-atik mesin, Tigor
    mencoba menstarternya, tapi masih belum bisa hidup mesin
    mobil itu.
    “Kurang ajar!” umpatnya sendiri. “Sudah jam berapa ini,
    Denny? Aku rasa kita sudah terlambat. Mereka sudah pulang
    dari pesta perkawinan Bu Anis.”
    “Bakar saja mobil ini. Gor!” seraya Denny melirik arlojinya
    yang menunjuk pukul 12 tengah malam lewat lima menit.
    “Ah. jangan begitu kau! Kalau mobil itu bagus, kau tidak
    pernah suruh aku bakar, kan? Ini kan namanya insiden kecil!”
    “Mobil rungsokan kau bawa ke mana-mana!” gerutu Denny.
    “Dennyyy…!” suara itu terdengar lugi.
    Tigor ingin mengatakan sesuatu, tapi Denny melarang
    Tigor bicara. “Ssst…! Jangan bicara,” bisik Denny. “Aku
    mendengar suara perempuan memanggilku. Sudah dua kali
    ini, Gor.”

    43
    “Ah, kau macam-macam pula!”
    “Ssst… benar! Diamlah dulu. Dengarkan suara itu, siapa
    tahu ia memanggilku lagi.”
    Tigor hanya menghela napas dan menghempaskannya
    dengan kesal. Ia kesal terhadap mobilnya sendiri, juga kesal
    terhadap tingkah Denny yang menurutnya mengada-ada.
    Tetapi, ketika ia hendak berdiam diri beberapa saat. ia merasa
    tengkuk kepalanya merinding. Bulu-bulunya meremang
    sendiri, dan ia pun bergidik sambil mendesis pelan.
    “Aku jagi merinding, Denny!”
    “Aku juga,” bisik Denny.
    “Celaka! Matilah aku kalau tempat ini ternyata angker…!”
    kata Tigor dengan sedikit tegang, suaranya tak berani keras.
    Deru angin malam pembawa hujan mulai teram
    menyibakkan rambut-rambut mereka. Tigor semakin cemas,
    takut kalau-kalau hujan turun, sementara mereka berhenti di
    jalanan sepi. Kanan-kiri adalah rawa-rawa yang ditanami
    semacam tanaman kangkung atau sejenisnya. Tak jelas
    karenn malam. Yang jelas, mereka jauh dari rumah atau
    bangunan berpenghuni.
    ‘Eh, Denny… kita dorong saja mobil ini. Cari tempat yang
    tidak seram beginilah!”
    Denny setuju. .Mereka mendorong mobil mencari tempat
    yang tidak menyeramkan. Tigor mendorong bagian samping
    sambil mengendalikan stiran mobil. Napas mereka ngosngosan,
    keringat pun mulai beranjuran. Tetapi, keringat
    mereka itu bercampur dengan keringat dingin akibat rasa
    takut yang mencekam.
    Beberapa saat setelah mereka mendorong mobil, Denny
    yang mendorong dari bagian belakang mobil, tiba-tiba
    berhenti melangkah. Ia mendengar suara perempuan
    memanggilnya.
    “Tigor. aku mendengar suara Kismi memanggilku!”
    “Ah, tak ada suara apa-apa.’ Kau jangan macammacamlah!
    Bikin orang sport jantung saja.’” gerutu Tigor

    44
    sambil tetap mendorong mobil. ‘Eh, dorong lagi mobil ini!
    Jangan diam sajalah!”
    Denny mencoba melupakan suara itu. ia mendorong mobil
    lagi. Sampai akhirnya, mereka menemukan sebuah warung di
    pangkalan ojek Ada dua tukang ojek yang ada di situ. dan hati
    Tigor serta Denny sedikit lega. Setidaknya mereka berada di
    antara beberapa orang. Syukur ada yang bisa memperbaiki
    mobil, atau memberi saran yang terbaik bagi Tigor dan Denny.
    Warung itu. terletak pada satu tikungan jalan raya yang
    mempunyai cahaya lampu mercury di salah satu sisi. Sinar
    lampu itu jatuh ke warung dalam keadaan remang-remang,
    tetapi nyala lampu petromaks di warung itu cukup membuat
    penerangan tersendiri di sekitar situ.
    Ternyata dari dua tukang ejek itu, tak ada yang bisa
    diharapkan untuk membetulkan mesin mebil Tigor. Bahkan
    mereka bersikap acuh lak acuh. tak mau memberi saran apa
    pun. Sementara itu, pemilik warung jalanan itu juga tidak tahu
    soal mesin mobil dan tidak punya pandangan yang lebih baik.
    Pemilik warung itu seorang lelaki lanjut usia dengan anak
    lelakinya yang masih belasan tahun. Tigor dan Denny akhirnya
    ngopi di warung itu sambil mencari ide untuk kembali ke
    pondokan mereka.
    ‘Apakah mobil harus dititipkan pada pemilik warung ini?
    Kita pulang naik taksi saja?” usul Tigor. Denny menjawab
    dengan ketus karena dongkol pada nasibnya.
    “Kalau mobilmu mau hilang, silakan saja kau titipkan ke
    warung ini. Esok pagi warung ini sudah tidak ada. Mereka
    jualan pada waktu malam saja.’
    Denny ingin bicara lagi. tetapi kali ini ia mendengar suara
    seseorang berseni di kejauhan memanggilnya.
    “Denny…! Denny. tolong akuuu…!”
    Arah suara itu dari tempat Denny dan Tigor tadi mendoiong
    mobilnya. Denny terperanjat karena ia yakin bahwa Kismi
    sejak tadi sebenarnya menyusul mereka. Kismi tertinggal di
    belakang mereka, dan sekarang agaknya wanita itu mendapat
    kesulitan. Maka. Denny segera melompat keluar dari warung.

    45
    “Hei, mau ke mana kau. Denny?!“ seru Tigor.
    “Kismi menyusul kita. Gor! la tertinggal di belakang kila
    sejak tadi!”
    “Ah, mana mungkin dia berani lewat jalan sepi itu
    sendirian!’ bantah Tigor.
    “Tapi. aku mendengar suaranya memanggilku, la minta
    tolong!”
    Denny segera pergi, kembali ke arah semula. Tigor sangsi
    untuk mengikutinya. Ketika ia memandung jalanan yang gelap
    itu. ia melihat sosok bayangan Denny yang melangkah cepat
    bagai mengejar suara yang memanggilnya. Tetapi. Tigor
    sendiri sejak tadi tidak mendengar suara perempuan.
    Sekalipun tidak pernah. Maka. ia jadi merinding sendiri, dan
    masuk ke warung lagi.
    “Apakah Bapak mendengar suara perempuan berseru dari
    sana. Pak?” tanya Tigor pada pemilik warung.
    “Tidak. Tidak ada suara orang memanggil kok.” jawab
    pemilik warung. “Kamu mendengar. naK?” Ia bertanya kepada
    anak lelakinya.
    “Nggak dengar apa-apa kok. Pak! Nggak ada orang
    perempuan berteriak’” jawab anak lelaki pemilik warung.
    “Nah, temanku itu jangan-jangan sudah gila dia! Nekat
    memburu suara hatinya sendiri! Sinting, dia” Tigor
    menggerutu seenaknya sambil mencomot makanan dan
    melahapnya, la tidak begitu menghiraukan keadaan Denny. Ia
    sendiri merasa merinding dan diganggu oleh perasaan gelisah
    sejak Denny pertama kali mengaku mendengar suara
    perempuan memanggilnya.
    Denny sendiri tidak peduli dengan Tigor. Menurutnya, Tigor
    berlagak tidak mendengar suara Kismi karena ia takut jika
    harus kembali melalui jalan gelap dan sepi itu. Tetapi, Denny
    hanya punya satu konsentrasi, yaitu Kismi. Ia yakin Kismi
    memanggilnya dan ia harus datang dengan segera.
    Tetapi, setelah beberapa langkah ia meninggalkan warung
    itu, langkah kakinya menjadi terhenti Ia mendengar suara
    Kismi memanggilnya di tengah rawa yang penuh tanaman

    46
    sejenis kangkung. Sedangkan, di tengah rawa itu tak terlihat
    bayangan seseorang bergerak mendekat atau menjauh.
    “Dennyyy..! Deimv. lupakah kau padakuuu..?!”
    “Kismii…!” teriak Denny keras ke arah rawa gelap itu.
    Beberapa saat ia menunggu, ternyata tak ada jawaban.
    Jantungnya semakin berdebar-debar, tubuhnya merindng dan
    hatinya gelisah tak menentu.
    “Kismiii…! Di mana kaauu…!” teriak Denny lagi. tapi tetap
    tak ada jawaban.
    Angin bertiup mulai kentang. Denny masih berdiri di tepi
    rawa untuk menunggu kemungkinan terlihatnya Kismi. Ia ingin
    masuk ke tengah rawa-rawa ii u, tetapi ada keraguan sebab ia
    tak melihat bayangan manusia di sana. Tubuhnya dibiarkan
    semakin merinding, ia menganggap itu hal yang wajar karena
    angin bertiup cukup kencang dan membawa udara dingin.
    Tetapi, rasa takutnya itu masih menjadi bahan pemikiran
    Denny. Mengapa jantungnya jadi berdebar-debar dan
    sepertinya dicekam perasaan takut? Apa yang akan terjadi
    sebenarnya?
    Ada sesuatu yang terbang karena terbawa angin. Sesuatu
    itu menempel di telinga Denny. Dengan tersentak kaget Denny
    menangkap benda yang menempel di telinganya. Ia mulai
    terhenyak kaget setelah diketahui benda itu adalah kapas
    putih
    “Kapas dari mana ini?” pikirnya heran. Sekali Lagi tengkuk
    kepalanya merinding. Gumpalan kapas kecil itu sepertinya
    bekas penyumbat hidung atau mulut mayat Karena ia
    mempunyai dugaan begitu, maka jantungnya semakin
    berdebar keras.
    Hanya saja. sewaktu ia mencium bau harum dari kapas
    tersebut, rasa takutnya sedikit berkurang. Bau harum itu
    serupa betul dengan bau parfum di tubuh Kismi. Makin yakin
    Denny jadinya, bahwa Kismi memang ada di sekitarnya. Tapi
    di mana? Ia melangkah semakin menuju tempat asalnya ia
    datang bersama Tigor tadi.

    47
    “Kismiii…?! Kismi, di mana kau?!’ seru Denny sambil
    matanya mencari-cari. Lalu, mulailah ia terbayang masa-masa
    bercumbu bersama Kismi. karena tempat itu sepi dan ia mulai
    berkhayal, seandainya Kismi ada di situ, maka ia tak segansegan
    untuk menggeluti di rerumputan.
    Ingatan bercumbu habis-habisan dengan Kismi membuat.
    Denny mengerang menahan gejolak birahinya. Napasnya
    semakin terengah-engah, dan hasratnya untuk memburu
    kemesraan bersama Kismi menyesakkan pernapasannya.
    “Kismiii..!” Kali ini, Denny mendesah tanpa suara, dan
    meremas-remas sesuatu yang mendatangkan nikmat baginya.
    Di kejauhan, masih terdengar suara Kismi memanggilnya
    dengan suara serak-serak manja, seakan suatu ajakan untuk
    bercumbu di alam bebas itu. Denny semakin terangsang,
    menegang semua otot tubuhnya, mendesis-desis lak
    berkesudahan, Kapas itu sesekali diciumnya sebagai ingatan
    keringat Kismi yang berbau wangi lembut itu. Setiap ia
    mencium wangi kapas itu. birahinya pun semakin bergolak
    menghentak-hentak. Mulutnya mengucap kata “Kismi”
    beberapa kali.
    Namun, pada detik tertentu, Denny mengalami satu
    kejutan yang membuatnya tegang. Tangan kanannya tak
    dapat digerakkan. Kaku. la ingin memegang kepalanya, tapi
    tak bisa. Gerakan kaku tangan kanannya itu membuat Denny
    menarik ke atas untuk menggunakan tangan kiri. Tangan
    kanan itu tiba-tiba terlepas dari pegangan tangan kiri dan
    menampar matanya sendiri. Bahkan kali ini tangan tersebut di
    luar kemauan Denny telah meremat wajahnya sendiri,
    mencakar-cakar hingga wajah Denny pun mulai berdarah.
    ‘Oh ..! Aaaow…! Kenapa tanganku ini? Oh…!” Dan, ia pun
    segera berlari ke arah warung dalam cekaman rasa takut
    sambil menjerit -jerit dicakar tangannya sendiri.
    ***
    Bab 6

    48
    Malam yang hening dan angin yang bertiup ke arah Utara,
    membuat. Tigor berkerut dahi saat meneguk kopi panas.
    Suara Denny terdengar sayup-sayup, sejenak meragukan hati
    Tigor.
    “Ah, tak mungkin itu suara Denny,” pikirnya sendiri, dan ia
    melanjutkan menghirup kopi panasnya.
    Tetapi, beberapa saat kemudian anak pemilik warung itu
    berkata kepada Tigor, “Bang, sepertinya itu suara teman
    Abang.”
    Sekali lagi Tigor berkerut dahi sambil menelengkan kepala,
    menyimak suara yang ada di kejauhan. Pemilik warung yang
    sudah lanjut usia itu juga berkata kepada anaknya,
    “Iya, ya?! Sepertinya itu suara orang yang tadi ke sana, ya,
    Man? Jangan-jangan dia dalam bahaya,” kalimat terakhir
    ditujukan kepada Tigor.
    “Alaaah, Mak! Dia itu suka bercanda. Pak! Ja ngan mau
    percaya dengan lagaknya! Pasti dia main-main saja itu!” Tigor
    tetap tenang, sedangkan pemilik warung dan anaknya
    kelihatan menyimpan kecemasan.
    Denny berusaha mempercepat larinya sambil tangan kirinya
    memegangi tangan kanan supaya tak bergerak. Tapi,
    bagaimanapun juga kekuatan tangan kiri itu tidak sebanding
    dengan tangan kanannya. Sekali lagi tangan kanannya
    bergerak cepat menampar wajah sendiri, kemudian
    mencakarnya dengan ganas dan kuat sehingga sebagian kulit
    wajah Denny mengelupas perih.
    “Aaauw…!” teriak Denny begitu kuat menahan penderitaan
    itu. “Tigooor…! Tigooor…! Aaaow…!”
    Anak pemilik warung segera memandang ke arah jalanan
    yang sepi dan gelap itu. Ia melihat sesosok bayangan manusia
    yang berlari terhuyung-huyung dengan teriakan-teriakan kian
    jelas. Angin yang berhembus kali ini berubah arah,
    bertentangan dengan pelarian Denny, sehingga suara
    teriakannya nyaris terbawa angin seluruhnya. Hanya anak
    pemilik warung itu yang mendengar lebih jelas, sebab ia

    49
    melangkah beberapa meter dari depan warungnya. Ia segera
    meng-huhungi Tigor dan herkata dengan tegang,
    “Bang! Bang, itu teman Abang dalam bahaya! Ia berlari-lari
    menuju kemari!”
    Tigor tertawa dalam gumam. “Dia pasti ketakutan,
    disangkanya ada setan yang mengejarnya! Mampuslah kau!
    Sok berani dia!” Tigor tetap meremehkan temannya itu,
    sehingga anak pemilik warung menjadi jengkel sendiri. Ia
    tinggalkan saja Tigor yang menyepelekan pemberitahuannya.
    Ia kembali melangkah di tempatnya semula dan memandang
    dengan mata menyipit langkah-langkah Denny yang mulai tak
    mampu secepat semula.
    Denny tersungkur jatuh dengan menggeram-geram,
    mengerahkan tenaganya untuk melawan gerakan tangan
    kanannya itu. Tetapi, kekuatannya itu tak mampu menguasai
    tangan kanannya yang hergerak sendiri di luar keinginannya.
    Bahkan kali ini tangan kanan itu menjambak rambutnya
    sendiri, kemudian mengangkat kepala dan membenturkan
    kepalanya sendiri ke tanah. Berkali-kali tangan kanan itu
    membentur-benturkan kepalanya ke tanah hingga kotor dan
    berlumur darah. Sesekali Denny mencoba menahan hentakan
    kepalanya, namun selalu gagal dan akhirnya batu runcing pun
    mengenai keningnya beberapa kali, hingga makin deras darah
    yang mengalir dari wajahnya.
    “Aaaow! Aaaow! Aaaow…!” Denny berteriak kesakitan.
    Kemudian ia berusaha sekuat tenaga untuk bisa herdiri. Dan,
    ia berhasil. Tangan kanannya bergerak kaku melepaskan
    rambutnya. Gerakan kaku itu akibat kekuatan Denny memaksa
    agar tangan tersebut tidak bergerak. Tangan kirinya segera
    menarik turun tangan kanannya dengan kekuatan yang
    terpaksa menguras tenaga.
    Dalam keadaan melawan kekuatan gaib yang lelah merasuk
    dalam tangan kanannya itu, Denny tetap melangkah cepat,
    berlari ke arah warung. Erang dan tangisnya meraung di sela
    kesunyian malam, dan hanya anak pemilik warung yang
    mendengarnya.

    50
    “Man, ngapain kamu di situ?” tegur pemilik warung kepada
    anaknya.
    “Orang itu kesakitan, Pak!” jawab Man dengan perasaan
    ngeri.
    “Astaga…! Kenapa orang itu, Man?!” pemilik warung
    terbengong memandangi Denny dengan mata menyipit. Makin
    lama Denny semakin terlihat jelas dalam hembusan angin,
    seakan ia menyongsong derasnya angin yang menderu.
    “Aaaow…! Tigor…! Tolooong…!”
    Kali ini, Tigor keluar dari warung bertenda plastik itu.
    Denny berlari terhuyung-huyung dan tak tentu arah. Tigor
    masih saja menganggap itu suatu sandiwara atau permainan
    Denny. Ia bahkan berseru di sela tawanya,
    “Hei, mabuk di mana kau?! Macam mana bisa mabuk kalau
    cuma minum kopi, he he he…!”
    “Bang, dia hersungguh-sungguh!” kata anak pemilik
    warung.
    Tigor tiba-tiba menghentikan tawanya. Wajahnya menjadi
    tegang setelah Denny berjarak 7 meter darinya.
    “Denny…?! Kenapa kau, hah?!” Buru-huru Tigor
    menyambut Denny, namun tiba-tiba sewaktu ia hendak
    meraih tuhuh Denny yang berwajah merah karena darah itu,
    tangan kanan Denny menghantam dagu Tigor dengan keras.
    Tigor memekik kesakitan dan terjengkang ke belakang hingga
    jatuh terduduk di tanah. Sedangkan Denny masih mengerang,
    ngotot hingga uratnya keluar semua. Ia menahan gerakan
    tangan kanannya yang ingin menghantam kepalanya sendiri.
    Dan, sekali lagi Denny menjerit kesakitan karena tangan
    kanannya berhasil menghantam kepalanya dengan keras.
    Dua tukang ojek itu segera mendekati Denny, karena
    mereka curiga darah membasah di wajah Denny.
    “Ada apa, Wak…?!” tanya salah seorang tukang ojek
    kepada pemilik warung.
    “Nggak tahu, tuh! Dia tahu-tahu menghajar temannya dan
    memukuli dirinya sendiri!”
    “Gila barangkali, dia!” kata tukang ojek yanj; lain.

    51
    Denny masuk ke warung dengan gerakan kaku dan
    meraung-raung. Tangan kanannya yang masih mengejang
    kaku, seakan-akan bergerak sendiri.
    “Kasihan dia…!” tukang ojek yang jangkung hendak
    menolong Denny dengan cara memegang kedua pundaknya.
    Sayang sekali, sebelum tangan tukang ojek itu menyentuh
    tubuh Denny, tangan kanan itu sudah lebih dahulu mengibas
    dan menampar lelaki jangkung itu dengan keras. Tentu saja
    lelaki jangkung itu terpekik kesakitan dan terhuyung-huyung
    ke belakang.
    “Oh… hooow… hhh! Aaaowh…!” Denny bersuara tak
    karuan, membuat semua orang tak berani mendekati Denny.
    Apalagi dalam keadaan wajah berlumur darah itu Denny
    mendelik-delik dengan liar, oh… menyeramkan sekali. Pemilik
    warung dan anaknya gemetaran, memandang dari luar
    warungnya.
    “Denny…?! Denny, apa yang terjadi, Denny?!” teriak Tigor
    sambil mendekati Denny.
    Mata Denny yang membelalak liar itu memandang sebuah
    sendok garpu di atas piring kotor yang ada di sudut meja.
    Agaknya piring itu bekas orang makan yang belum dicuci.
    Seketika itu, samhil menggeram Denny menahan tangan
    kanannya yang ingin bergerak mengambil garpu makan itu.
    “Denny, apa-apaan kau sebenarnya, Bangsat!” bentak
    Tigor. Ia dalam keadaan panik melihat Denny berlumur darah
    wajahnya Lebih panik lagi setelah Denny terlihat
    menggenggam sebuah garpu makan dengan tangan
    kanannya. Garpu makan diacungkan ke arah diri sendiri.
    Suara Denny menggeram, sementara tangan kirinya
    menahan kuat-kuat gerakan tangan kanannya yang ingin
    menikam diri sendiri.
    “Oh, Tig…, Tigor… tolong aku…! Tangan kananku! Oh,
    tangan ini sukar kukendalikan, dan…. Aaaow…!” Denny
    menjerit lagi karena tangan kanannya berhasil
    menghunjamkan garpu makan itu ke arah pundak kirinya,
    dekat dengan leher.

    52
    Tigor hendak menyergap Denny, namun ia terpaksa
    berpaling dan menghindar seketika, karena dengan cepat
    tangan kanan itu bergerak mengibas dan mengenai pipi Tigor
    hingga berdarah.
    Jubb…!
    “Hughhh…! Krrr… krrr…!”
    “Edan kau! Edaaan…!” teriak Tigor dengan mata makin
    membelalak ketika ia melihat Denny menusukkan garpu
    bermata tiga itu ke arah tenggorokannya. Ia mendelik,
    matanya terbeliak-beliak. Batang garpu masuk terbenam ke
    bagian tengah leher, dan membuat Denny tak mampu bicara
    lagi. Ia seperti kambing yang disembelih seketika.
    Tigor mau menyergap bersama kedua tukang ojek, namun
    masing-masing merasa ciut nyalinya dan takut terkena
    sabetan garpu itu lagi. Tigor hanya bisa berseru.
    “Jangan nekat, Denny! Jangan berpikiran picik! Kismi masih
    bisa kau temani kalau kau hidup, tapi… tapi….”
    “Aaahg…!”
    Tepat pada saat itu Denny mendelik, membungkuk dan
    akhirnya jatuh dengan darah tersembur dari jantungnya yang
    terkena tusukan garpu yang kedua kalinya.
    Anak pemilik warung memeluk ayahnya, tak tega melihat
    peristiwa mengerikan itu. Dan, anak tersebut tak sempat
    melihat, bagaimana susah payahnya Denny mencabut garpu
    yang telah terbenam di jantungnya, kemudian berusaha
    menikam dirinya lagi, dan berhasil mengenai ulu hati. Darah
    semakin menyembur ke makanan atau toples tempat peyek
    kacang. Darah menjadi berceceran di mana-mana.
    Pada saat itu, Denny menjadi melemas. Sepertinya sudah
    tak ada setan yang masuk dalam raganya. Lalu, jatuhlah ia.
    Terkapar dekat bangku warung dengan berlumuran darah tak
    bisa diharapkan lagi. Tigor bermaksud mencari mobil
    ambulans atau mobil darurat untuk membawa Denny ke
    rumah sakit. Tetapi, usaha itu rupanya tak pernah berhasil,
    sebab beberapa saat kemudian, tubuh Denny itu tak mampu
    bergerak lagi. Ia menghembuskan napasnya yang terakhir

    53
    dengan masih sempat menyebut kata: “Kismi” dalam desah
    napas penghabisannya. Maka. meninggallah Denny dengan
    keadaan dan suasana yang amat mengerikan.
    Tigor tidak bisa berbicara sepatah kata pun melihat
    kenyataan itu. Mulutnya seperti dibekukan, kerongkongannya
    kering dan sukar untuk mengeluarkan suara. Lidahnya pun
    seperti terbuat dari besi, kaku sekali untuk digerakkan.
    Seorang tukang ojek mengambil inisiatif, menghubungi pos
    polisi terdekat. Mereka mempunyai kesimpulan yang sama,
    bahwa kematian Denny adalah satu tindakan bunuh diri, tanpa
    campur tangan pihak lain.
    Berita itu sempat membuat Hamsad nyaris jatuh pingsan di
    rumahnya. Ade menghubungi Hamsad pada pagi hari, empat
    jam setelah jenazah Almarhum Denny tiba di pondokan
    mahasiswa. Hamsad merasa dibantai jiwanya dengan berita
    kematian Denny. Bahkan, ketika ia bergabung dengan anakanak
    pondokan, Hamsad sempat berlinang air mata melihat
    wajah-wajah mereka dicekam duka, seakan menunggu giliran
    untuk melakukan bunuh diri yang keji.
    Hamsad terdengar berkata parau kepada Ade, “Setelah
    Norman, Denny. Setelah Denny, siapa lagi?”
    Seperti jenazah Norman dulu. Almarhum Denny pun
    dimakamkan di kota asalnya: Madiun. Hampir semua teman
    kost-nya turut memakamkan Denny ke Madiun. Hanya Tigor
    dan Lukman yang tinggal di pondokan. Tigor merasa tidak
    mampu menghadapi kenyataan tersebut. Tigor lebih merasa
    dibantai jiwanya, karena ia sempat menyepelekan teriakan
    Denny yang meminta tolong pada waktu itu. Rasa sesalnya
    begitu besar, dan membuat Tigor lebih sering mengunci
    mulutnya ketimhang harus bercerita kepada siapa pun yang
    bertanya kepadanya. Sedangkan Lukman, waktu itu dalam
    keadaan sakit. Ia tak bisa ikut menghadiri upacara
    pemakaman jenazah Denny di Madiun. Tetapi, dialah orang
    pertama yang menangis tersengguk-sengguk ketika melihat
    keadaan Denny sudah menjadi mayat. Beruntung waktu itu
    keluarga Denny berkumpul di rumah Bu Anis, sehingga

    54
    Lukman masih bisa mengantarkan jenazah Denny ke rumah
    Bu Anis, namun tidak mampu lagi ikut ke Madiun.
    Tentu saja setiap orang bertanya-tanya: Mengapa kematian
    Denny mempunyai kesamaan dengan kematian Norman?
    Masing-masing mati oleh tangannya sendiri. Bunuh diri. Tapi,
    faktor apa yang membuat mereka bunuh diri, masih belum
    mendapat suatu kesimpulan yang pasti. Ada yang
    mengatakan, pondokan mereka angker dan meminta korban
    entah berapa jumlahnya. Ada lagi yang beranggapan, Denny
    dihampiri roh Norman dan diajaknya pergi dengan cara seperti
    yang dilakukan Norman semasa hidupnya. Sementara yang
    lain mengatakan, itu hanya satu hal yang kebetulan saja.
    Kebetulan Denny punya masalah yang mengerdilkan jiwanya,
    sehingga ia berani melakukan bunuh diri.
    Hanya satu orang yang mempunyai dugaan aneh di dalam
    pertemuan tak resmi yang mereka adakan di kamar Bahtiar,
    dua hari setelah jenazah Denny dimakamkan. Orang yang
    mempunyai dugaan aneh itu adalah Hamsad. Karena dialah
    yang mempunyai firasat buruk pada saat-saat menjelang
    kematian Norman dan Denny.
    “Keduanya sama-sama jatuh cinta pada Kismi,” kata
    Hamsad. Kemudian, mereka memberikan reaksi serupa.
    Bungkam. Benak mereka sama-sama menerawang pada cerita
    Denny tentang Kismi.
    Bahtiar bertanya pada diri sendiri, dengan ucapan yang
    sempat didengar oleh teman-temannya, “Mungkinkah
    keduanya menjadi picik hanya karena jatuh cinta?”
    “Tiap-tiap orang mempunyai ketahanan jiwa yang
    berbeda,” ujar Ade. “Pada saat mencapai klimaks persoalan,
    jiwa manusia mudah menjadi rapuh. Yang terlintas dalam
    logiknya hanya jalan pintas menyelesaikan persoalan tersebut.
    Dan, mungkin bagi kedua korban itu sama-sama sependapat,
    bahwa jalan pintas yang terbaik adalah bunuh diri.”
    Tigor mulai tertarik dengan pembicaraan tersebut. Ia
    berkata dengan suara pelan, masih bernada duka,
    “Wanita itu sebenarnya tidak ada!”

    55
    Kini, semua mata memandang ke arah Tigor. Hanya
    Hamsad yang masih memandang ujung kakinya yang
    melonjor, namun telinganya menyimak kata-kata Tigor. Ia
    mendengar Tigor berkata lagi,
    “Petugas motel itu, aku rasa tidak ada yang kenal dengan
    Kismi. Jadi, kubilang Kismi itu hanya ada dalam khayalan
    mereka.”
    “Dan mereka mati karena khayalannya sendiri, begitu
    maksudmu?” tanya Yoppi.
    “Begitulah! Buktinya petugas motel berkeras untuk
    mengatakan, bahwa di situ tidak ada perempuan yang
    bernama Kismi! Dari pukul 7 malam sampai pukul 10 malam
    aku dan Denny menunggu perempuan itu, nyatanya tidak
    ada!”
    “Denny mengatakan, perempuan itu adalah perempuan
    eksklusif, yang keberadaannya sendiri dirahasiakan oleh
    petugas motel. Barangkali hal itu dimaksud agar reputasi Kismi
    yang sebenarnya tidak jatuh di mata mereka. Mungkin Kismi
    seseorang yang punya reputasi tinggi, punya jabatan
    fungsional, punya karir yang gemilang, sehingga kalau setiap
    orang mengenal dia sebagai perempuan kehausan, alangkah
    memalukan sekali? Karena itu, Denny juga berkata, bukan?
    Bahwa, Kismi bukan perempuan sembarangan yang mudah
    disentuh oleh lelaki. Dia tidak seperti wanita-wanita penghibur
    lainnya, yang sekali panggil pasti akan datang!” celoteh Susilo
    sambil memainkan korek api.
    Siapa sebenarnya Kismi? Di mana tempat tinggalnya?
    Menurut Hamsad, hanya Pak Hasan yang mengetahui hal itu.
    Karena, Norman mengenal Kismi lewat pesanan dari Pak
    Hasan. Hamsad masih ingat cerita Almarhum Norman, bahwa
    ia datang ke motel itu dibawa oleh Pak Hasan sebagai service
    pemancing spirit untuk tulisan yang akan disusun oleh
    Norman. Pak Hasan-lah yang memesankan seorang
    perempuan untuk Norman, karena waktu itu, tahu-tahu
    Norman dihampiri seorang perempuan sedangkan Pak Hasan
    mungkin mengambil perempuan lain untuk dirinya sendiri.

    56
    Jadi, Pak Hasan-lah sebenarnya yang memegang rahasia
    tentang siapa Kismi dan di mana Kismi.
    Tanpa memberitahukan kepada yang lain masalah Pak
    Hasan itu, Hamsad segera menghubungi Pak Hasan melalui
    telepon. Kebetulan, ketika Hamsad jalan-jalan di pantai, ia
    sempat bertemu dengan Pak Hasan dan disuruh
    menghubunginya sewaktu-waktu. Maka, kali ini ia ingin
    membuat janji untuk bertemu di sebuah restoran fast food.
    Pak Hasan sebenarnya punya bahan pembicaraan sendiri.
    Ia ingin berbicara tentang kematian Norman dan tawaran buat
    Hamsad mengenai penulisan tentang buku-buku. Tetapi,
    Hamsad lebih dahulu bertanya,
    “Siapa Kismi itu sebenarnya, Pak?”
    Pak Hasan kelihatan bingung, tak mengerti maksud
    Hamsad. Ia menggumam, “Kismi…?! Maksudmu, Kismi apa
    ini? Kismi makanan atau…?”
    “Norman bunuh diri sejak ia dibawa oleh Bapak ke Motel
    Seruni, dan di sana ia bercinta dengan Kismi.”
    “Ya. Memang aku yang mengajaknya ke motel, tapi dia
    menolak perempuan yang kukirimkan untuknya. Malahan
    perempuan itu bilang, bahwa Norman telah mempunyai
    pasangan sendiri. Mungkin, perempuan itu yang bernama
    Kismi. Tapi, aku tak tahu, Norman dapat dari mana
    perempuan itu.” tutur Pak Hasan kelihatan serius sekali.
    Hamsad masih curiga. “Jadi, Pak Hasan benar-benar tidak
    mengenal perempuan yang bernama Kismi?”
    “Tidak. Mendengar nama itu pun aku baru sekarang.” Pak
    Hasan tertawa pendek. “Kusangka tadinya Kismi itu nama
    makanan. Jadi, tadi aku sedikit bingung.”
    Hamsad tersenyum tawar, kemudian menghempaskan
    napas. Rona duka terlihat samar-samar di wajah itu, membuat
    Pak Hasan berbalik curiga kepada Hamsad.
    “Ada apa sehenarnya, Ham? Apa benar kematian Norman
    karena mengenal perempuan bernama Kismi?”
    ‘Ya. Benar. Tempo hari, ketika saya bertemu Pak Hasan di
    pantai, saya dengan teman saya mencari perempuan yang

    57
    bernama Kismi. Teman saya, Denny, berhasil bertemu dengan
    Kismi, tapi ia tidak sempat berbicara panjang lebar mengenai
    Norman. Ia terbuai dan bergumul dengan Kismi sampai pagi.
    Badannya lemas, wajahnya jadi pucat seperti mayat hidup.
    Beberapa hari yang lalu, Denny pun mati karena bunuh diri.”
    “Hah…?!” Pak Hasan mendelik.
    “Denny menikam leher, jantung dan ulu hatinya dengan
    garpu makan di sebuah warung. Menurut saksi mata, ia
    menghempaskan napas terakhir sambil menyebutkan nama
    Kismi.” Hamsad menelan ludahnya sendiri, seperti memendam
    suatu kepedihan. Pak Hasan melihat kesungguhan di wajah
    Hamsad, dan hal itu membuatnya berdebar-debar.
    Setelah Hamsad menceritakan secara detail tentang
    kematian Norman, juga proses kematian Denny, Pak Hasan
    pun akhirnya berkata, “Misterius sekali. Aku jadi tertarik untuk
    menemui perempuan itu.”
    “Apakah Bapak bisa membujuk petugas motel?”
    “Kenapa tidak!? Pemilik motel itu temanku satu kampung.”
    ***
    Bab 7
    Memang benar. Pemilik motel itu adalah teman sekampung
    dengan Pak Hasan. Tetapi, sayangnya Pak Hasan merasa
    keberatan jika Ham-sad ikut menghadap pemilik motel itu.
    Hamsad hanya diizinkan menunggu di lobby, sementara Pak
    Hasan terlibat pembicaraan dengan pemilik motel di dalam
    kantornya. Sore itu, Hamsad merasa seperti kambing congek,
    terbengong sendirian di lobby. Hatinya dongkol, karena tak
    diizinkan ikut dalam pembicaraan tersebut. Alasan Pak Hasan,
    karena temannya yang menjadi pemilik motel itu dalam
    keadaan cacat, dan ia tak mau orang lain melihat kecacatan
    fisiknya. Mau tak mau Hamsad menerima alasan tersebut.
    Matahari hampir terbenam seluruhnya. Hamsad masih
    berharap, mudah-mudahan ia bisa bertemu dengan
    perempuan yang bernama Kismi di lobby itu. Paling tidak

    58
    melihat perempuan dengan ciri-ciri seperti yang disebutkan
    Norman dan Denny, dan Hamsad akan berusaha mengenal
    perempuan itu. Sayangnya, tamu-tamu yang memasuki lobby
    tidak satu pun ada yang punya paras cantik dan punya pesona
    mirip ratu Mesir Kuno. Rata-rata perempuan yang masuk ke
    lobby mempunyai paras standar, biasa-biasa saja. Tak ada
    yang istimewa. Kalau tidak istimewa, berarti dia bukan Kismi.
    Sambil merenungkan misteri kematian Norman dan Denny,
    Hamsad berhasil menemukan satu kejanggalan. Kejanggalan
    itu, tempo hari dikatakan rusak AC-nya, dan sering tersumbat
    saluran airnya. Tetapi, nyatanya ketika Hamsad masuk
    menemui Denny, kamar itu ber-AC. Lancar. Timbul rasa curiga
    dalam hati Hamsad, mengapa bagian resepsionis waktu itu
    setengah tidak mengizinkan mereka membocking kamar,
    Seruni? Kamar masih ada dua yang kosong, tapi dikatakan:
    “Tinggal satu kamar yang belum di-bocking.” Ini aneh dan
    janggal bagi Hamsad.
    Kecurigaan kedua, mengapa Norman dan Denny bisa
    bertemu dengan Kismi di kamar itu? Bagaimana dengan kamar
    lain? Apakah Kismi mau datang ke kamar lain juga? Mengapa
    pula Kismi tidak meminta uang lelah kepada Norman dan
    Denny? Bukankah Kismi bekerja sebagai wanita penghibur?
    Bukankah yang dibutuhkan dalam hal itu adalah uang?
    Iseng-iseng, Hamsad mendekati bagian resepsionis. Kali ini
    yang bertugas bukan orang yang dulu, tetapi orang yang
    sebenarnya pernah ditemui Denny dan Tigor. Hanya saja,
    Hamsad tidak tahu tentang pemuda tersebut.
    “Masih ada kamar kosong, Mas?” sapa Hamsad dengan
    ramah.
    “Masih,” jawab bagian resepsionis dengan ramah pula.
    “Mau bocking kamar?” tawarnya. Hamsad hanya tersenyum
    dalam ketenangan sikapnya.
    “Saya tunggu keputusan dari teman saya yang sedang
    menemui pemilik motel ini. Kalau dia mengajak bermalam di
    sini, yah… mau tak mau kami bocking dua kamar.” Padahal

    59
    rencana itu tidak ada dalam pembicaraan Hamsad dengan Pak
    Hasan.
    “Hari ini, agak sepi,” kata petugas resepsionis. “Lain halnya
    jika malam Minggu. Kalau malam-malam seperti ini, apalagi ini
    malam Jumat, biasanya kamar kami banyak yang kosong.
    Kalau Bung jadi bermalam di sini, Bung bisa bebas memilih
    kamar sesuai selera.”
    “O, begitu, ya?! Jadi, bisa saja saya memilih kamar Seruni,
    ya?”
    Pemuda petugas resepsionis itu sedikit menggeragap.
    “Hm… kalau kamar itu, wah… kebetulan tadi siang sudah ada
    yang bocking. Kamar itu sudah diisi, Bung.”
    “Ooo…?!” Hamsad manggut-manggut. “Kalau boleh saya
    tahu, lelaki atau perempuan yang memakai kamar Seruni itu?”
    “Lelaki. Mungkin dia orang seberang.”
    “Sendirian?”
    “Ya. Sendirian. Barangkali sebentar lagi partnernya
    datang.”
    “Apa dia langganan di sini? Maksud saya, sering datang dan
    bermalam di sini dengan seorang perempuan?” makin lama
    pertanyaan Hamsad makin bersifat pribadi. Petugas itu agak
    sulit menjawab. Ia hanya tersenyum-senyum yang a-khirnya
    berkata,
    “Sebenarnya, kami tidak boleh bicara soal itu, Bung. Tapi,
    karena kebetulan tadi saya juga yang menerima tamu itu, jadi
    kalau boleh saya katakan, bahwa saya baru sekali ini bertemu
    dengan orang tersebut. Saya rasa, dia juga baru kali ini
    datang kemari, Bung.”
    Hamsad manggut-manggut sambil menggumam. Petugas
    itu berkata lagi,
    “Kalau Bung mau, bisa memilih kamar yang lain. Kamar
    Seroja juga bagus. Bung. Strategis dan romantis letaknya. Dia
    ada di tepi pantai. Bung bisa melihat ombak dari terasnya.”
    “Kalau saya mau, saya akan memilih kamar Seruni,” kata
    Hamsad pelan, sepertinya sekadar basa-basi saja.

    60
    “Kamar itu jarang dipakai, Bung,” bisik petugas resepsionis,
    nada bicaranya mencurigakan.
    “Kenapa? AC-nya rusak? Saluran airnya tersumbat?”
    Petugas itu tertawa pendek. “Itu hanya alasan kami.
    Sebenarnya, kami menghindari kamar itu dari para tamu.
    Kalau tidak memaksa sama sekali, kami tidak izinkan para
    tamu menggunakan kamar tersebut.”
    “Alasannya?” desak Hamsad semakin penasaran.
    “Kamar itu angker, Bung.” Kali ini suaranya yang berbisik
    namun ditekankan kalimatnya itu, membuat Hamsad menjadi
    merinding seketika. Ia memandang ke arah luar, ternyata
    malam mulai datang. Suasana tak secerah waktu ia tiba di
    motel ini. Dan, suasana malam itu makin membuat Hamsad
    berdebar-debar setelah mendengar jawaban petugas tersebut.
    Sebenarnya Hamsad ingin bertanya lebih lanjut mengenai
    kamar Seruni, sayangnya petugas itu harus menemui tamu
    yang hendak mem-bocking kamar. Hamsad ditinggalkan, dan
    kini ia kembali ke meubel lobby, duduk di sana merenung diri.
    Hatinya menjadi galau. Resah. Batinnya bertanya-tanya,
    “Benarkah kamar itu angker? Jika benar begitu, mengapa
    begitu mudah petugas resepsionis itu mengatakannya
    kepadaku? Seharusnya dirahasiakan. Ini menyangkut prestise
    motel ini sendiri, kan? Ah, kurasa ia mengada-ada. Dengan
    cara begitu, diharapkan aku tidak kecewa dan mau memilih
    kamar lain. Brengsek!
    Itu hanya teknik propagandanya saja!”
    Hamsad mendesah kesal. Pak Hasan terlalu lama ngobrol di
    dalam dengan pemilik motel yang juga sebagai manager.
    Untuk menghilangkan kejenuhannya, Hamsad melangkah
    keluar dari lobby, menikmati udara malam di luar lobby. Dalam
    pikirannya sempat terlintas satu harapan. “Mudah-mudahan
    cewek yang akan datang ke kamar Seruni ituadalah Kismi.
    Kalau benar yang akan melayani tamu di kamar Seruni itu
    Kismi, maka ada baiknya kalau aku menghadangnya di sini.
    Kismi pasti akan berjalan lewat arah sini untuk menuju kamar
    Serani. Mungkin aku bisa menyapanya, setidaknya melihat

    61
    dengan mata kepala sendiri kecantikan yang konon istimewa
    itu.”
    Harapan itu adalah harapan yang sia-sia. Karena, sebelum
    Kismi muncul, Pak Hasan telah keluar dari lobby dan
    melambaikan tangan kepada Hamsad, memanggil. Mereka
    kembali duduk di lobby. Pak Hasan berkata kepada Hamsad,
    “Aku sudah mendesaknya beberapa kali, tapi dia tetap
    mengatakan, tidak ada ‘anak buahnya’ yang bernama Kismi.
    Bahkan ia mengingatkan padaku, agar jangan sekali-kali
    menggunakan kamar Seruni.”
    “Kenapa, katanya?”
    “Kamar itu angker!” bisik Pak Hasan dalam ketegangan.
    Hamsad sedikit terperanjat dan merasa heran, karena
    pernyataan itu sama dengan pernyataan petugas resepsionis
    tadi.
    “Saya tidak yakin, Pak!” kata Hamsad. “Saya rasa itu satu
    cara untuk mempromosikan kamar-kamar lainnya.”
    “Kalau tidak percaya, malam ini juga aku disuruh
    membuktikannya, Ham!”
    “Percuma. Pak. Kamar itu sudah dibocking orang.”
    “Hah…?!” Pak Hasan terperanjat.
    “Jadi, apa rencana kita selanjutnya?” tanya Hamsad dengan
    perasaan masih kesal akibat kegagalan menyelidik tentang
    Kismi.
    “Ham, kita disuruh cek ke beberapa tempat yang
    menampung wanita-wanita penghibur. Terutama di Panti Pijat
    Mahaiani. Karena, wanita-wanita di sana sering diambil kemari
    untuk melayani tamu yang membutuhkannya. Bagaimana
    kalau kita ke sana untuk mencari Kismi?”
    Setelah dipertimbangkan sejenak, Hamsad menjawab, “Kita
    coba saja!”
    Sebenarnya Hamsad tidak begitu bersemangat.’ Dalam
    hatinya ia berkata, “Pasti tidak ada yang bernama Kismi. Kalau
    toh ada, pasti Kismi sedang keluar, sebab kamar Seruni itu
    ada yang menempati. Tapi, coba sajalah. Barangkali ada halhal
    baru yang bisa dijadikan pertimbangan.”

    62
    Dugaan Hamsad menjadi kenyataan. Ia tidak memperoleh
    apa-apa di Panti Pijat Maharani itu. Tidak ada yang bernama
    Kismi, tidak ada yang mengenal Kismi, kendati mereka
    mengaku sering diambil ke Motel Angel Flowers. Kemudian,
    Pak Hasan dan Hamsad menuju ke Panti Pijat Ibu Endang,
    konon terkenal banyak pengunjungnya. Tetapi, di sana juga
    tidak ada yang bernama Kismi.
    Gagal sudah. Malam itu, Hamsad pulang tanpa membawa
    hasil. Hanya sedikit data tentang kamar Seruni yang katanya
    angker itu. Tapi, Hamsad tidak menghiraukan kata-kata
    petugas resepsionis tadi. Kemudian, dalam ketermenungannya
    itu ia mendapatkan gagasan baru. Ia berkata dalam hati. “Aku
    harus bermalam di sana! Barangkali dengan bermalam di
    sana, aku bisa menemukan apa yang kucari. Kismi. Dan, dari
    Kismi aku bisa memperoleh kesimpulan, mengapa kedua
    temanku itu mati bunuh diri? Kapan aku harus ke sana?
    Besok? Ah, jangan! Besok aku ada acara dengan Lista. Cewek
    itu menggemaskan juga sih. Siapa tahu dia mau nyantol
    padaku. Lumayan, kan?”
    Acara yang dimaksud Hamsad adalah menghadiri reuni SMP
    tempat Lista dulu. Acara itu cukup sederhana, namun sudah
    tentu mengesankan bagi mereka yang pernah satu bangku
    dan satu sekolah semasa SMP. Sedangkan Hamsad sendiri,
    tidak mempunyai kesan apa-apa, kecuali mendampingi Lista.
    “Kenapa kau membawaku kemari? Aku kan tidak punya
    kenalan di sini? Mereka tidak mengenalku,” kata Hamsad.
    “Justru aku ingin mengenalkan kamu kepada mereka
    sebagai pacarku,” kata Lista yang berpenampilan tomboy.
    “Apa? Sebagai pacarmu? Pacar cap apa aku ini? Bercinta
    belum sudah mengaku pacaran!”
    “Ah, cuek sajalah! Supaya aku kelihatan laku!”
    “Kenapa kau tidak mencari pacar yang sebenarnya saja?!”
    “Malas! Bikin repot karirku saja!” jawab Lista . seenaknya.
    Yang lebih menyebalkan lagi. dalam pesta reuni itu Lista
    justru asyik ngobrol dengan cowok-cowok bekas teman SMPnya
    yang sekarang, menurut Lista, sudah kelihatan gantengTiraikasih

    63
    ganteng semua. Hamsad merasa dikesampingkan oleh Lista,
    sehingga hampir-hampir ia pulang sendiri tanpa setahu Lista.
    Malam itu, Hamsad hanya memperoleh kedongkolan pergi
    dengan Lista. Ia merasa jera. Tak mau lagi pergi ke mana saja
    dengan Lista. Gadis itu egois. Ia hanya mementingkan diri
    sendiri, tanpa memikirkan perasaan orang lain. Untung saja
    malam itu Hamsad bisa lekas tertidur, sehingga kedongkolan
    hatinya pun cepat reda.
    Hanya saja, esok harinya, Hamsad bangun sedikit siang. Ia
    memang bermaksud tidak kuliah. Malas. Karenanya, ketika
    adiknya membangunkan, Hamsad hanya menggeliat dan tidur
    lagi.
    Tetapi, kali ini ia dibangunkan oleh mamanya karena ada
    seorang teman yang ingin bertemu dengannya. Hamsad
    malas, tapi mamanya memaksa. Bahkan mamanya berkata,
    “Kalau kau ingin jadi pemalas, cari pondokan lain, seperti dulu
    lagi! Jadi, kau bisa bebas mau bertingkah apa saja!”
    Tak tahan mendengar omelan mamanya, Hamsad pun
    turun dari pembaringan. “Siapa yang mencariku?”
    “Temanmu! Bahtiar!”
    Benar. Bahtiar yang datang pagi itu, sekitar pukul 9 kurang.
    Hamsad mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih terasa
    mengantuk. Ia berdiri dengan lesu, bersandar pada kusen
    pintu. Suaranya parau dan malas, “Ada apa, Tiar…?! Bikin
    kagok orang tidur saja kau, ah!”
    Bahtiar tidak langsung menjawab. Ia memandang Hamsad
    yang menguap sambil mengencangkan otot-ototnya.
    Kemudian, Hamsad menghampiri Bahtiar di kursi tamu, duduk
    di depan Bahtiar dengan loyo.
    Mendadak ia jadi curiga melihat Bahtiar berwajah sendu.
    Kecurigaannya itu membuat Hamsad menjadi serius, dan
    bertanya lagi, “Ada apa sih?!”
    “Ham…,” kata Bahtiar sedikit gagap. “Ada… ada korban lagi
    dari teman kita.”
    “Hah…?!” Hamsad terperanjat baru mendengar kata-kata
    itu. “Korban?! Maksudmu?”

    64
    “Tigor, bunuh diri!”
    “Gila!” teriak Hamsad sambil menggebrak meja, untung
    meja kaca itu tak sampai pecah, hanya asbaknya yang
    terpental.
    “Tigor bunuh diri?! Tigor…?!” Hamsad seperti orang tak
    percaya terhadap pendengarannya sendiri. Bahtiar
    mengangguk dalam kesedihan.
    “Peristiwanya terjadi tadi malam, sekitar pukul dua hampir
    pagi,” tutur Bahtiar.
    “Meng… mengapa? Mmmeng… mengapa ia bunuh diri?
    Apa alasannya, Tiar?!” Hamsad gemetar dan napasnya
    terengah-engah. Deburan di dalam dadanya membuat ia
    sedikit gemetar.
    “Kemarin malam, ia penasaran. Ia datang ke motel, tempat
    Norman dan Denny menginap….”
    “Kemarin malam? Bukan tadi malam, kan?” tegas Hamsad.
    “Kalau kemarin malam…? Berarti…? Berarti waktu itu aku ada
    di sana bersama Pak Hasan! Gila betul dia? Jadi… oh, ya…
    aku memang menanyakan kamar Seruni, dan petugas motel
    itu menjawab, bahwa kamar itu ada yang menyewanya. Aku
    tidak tahu kalau orang itu adalah Tigor?! Aaah…! Gila semua!”
    Hamsad bagai orang kesetanan. Matanya yang masih merah
    karena habis bangun dari tidur itu membelalak lebar, penuh
    kemarahan. Tapi, ia tak tahu, kepada siapa ia harus marah?
    Di perjalanan menuju pondokan Tigor dan teman-teman
    yang lainnya, Bahtiar menjelaskan tentang kematian Tigor.
    “Siangnya dia kembali, dan bercerita kepada kami, bahwa
    ia berhasil bertemu dengan wanita yang mengaku bernama
    Kismi. Menurutnya, Kismi memang cantik. Luar biasa
    kecantikannya. Kismi hebat di ranjang. Luar biasa
    kehebatannya. Dan, menurutnya, Kismi muncul setelah lewat
    tengah malam. Pintu kamarnya diketuk, dan ternyata Kismilah
    yang datang.”
    “Tigor memesan Kismi dari siapa?”
    “Ia tidak memesan Kismi. Ia yakin, bahwa Kismi itu setan.
    Ia sengaja ingin bertemu setan di situ, dan usahanya itu

    65
    berhasil, la bahkan bangga, karena bisa menjinakkan setan,
    Kismi bukan hantu yang menakutkan menurut Tigor, justru
    sebaliknya, Kismi hantu yang membuat lelaki betah tinggal
    bersamanya.”
    “Lalu, kenapa Tigor bunuh diri?”
    “Karena ia ingin bertemu dengan Kismi lagi, barangkali! Itu
    dugaan kami. Tigor ingin bertemu Kismi, tapi tidak punya
    uang sewa Seruni yang cukup mahal itu. Kemudian, ia
    mengambil pisau badiknya, dan menusuk-nusuk dirinya sendiri
    sampai beberapa kali. Lukman berhasil memukul tengkuk
    kepala Tigor, dan pingsan. Waktu itu, tubuh Tigor sudah
    berlumur darah. Tetapi, anehnya… tangan kanannya yang
    memegang badik sukar dicabut. Tangan kanannya itu justru
    bergerak sendiri, hampir menikam perut Ade.”
    “Kemudian, bagaimana cara kalian mengatasi?”
    “Tidak ada yang bisa mengatasi! Kami melihat sendiri
    tangan kanan itu menikam ulu hatinya sendiri, padahal Tigor
    dalam keadaan pingsan oleh pukulan Lukman. Dan… dan
    setelah tangan kanan itu merasa puas menikam-nikam
    tubuhnya sendiri, lalu ia berhenti. Lemas. Pisau badiknya
    tergeletak. Waktu itu, Tigor masih sempat terlihat napasnya,
    dan kami melarikan dia ke rumah sakit. Tetapi, di perjalanan
    Tigor menghembuskan napas terakhirnya.” Bahtiar menghela
    napas, sedikit tersendat-sendat, mungkin karena menahan
    duka atas kematian temannya yang tragis itu.
    “Tangan kanan…?!” gumam Hamsad sambil mengemudikan
    mobilnya “Lagi-lagi tangan kanannya! Norman, Denny, dan
    kini Tigor, masing-masing bunuh diri dengan tangan
    kanannya. Masing-masing mempunyai persamaan yang
    sekarang baru kusadari, bahwa tangan mereka bergerak
    dengan sendirinya. Jadi, ada satu kekuatan yang
    menggerakkan tangan kanan mereka, lalu menikam diri
    mereka masing-masing. Oh… mengerikan sekali!”
    Madi,-menurutmu ada satu kekuatan yang merasuk pada
    tangan kanan mereka?” tanya Bahtiar.

    66
    “Kurasa memang begitu. Roh seseorang masuk dalam
    tangan kanan mereka, dan membunuh mereka sendiri.
    Dengan begitu, tak ada orang yang dicurigai oleh pihak yang
    berwajib.”
    Bahtiar bergidik. Lalu, ia menggumam lirih, “Sudah pastikah
    bencana itu datang dari perempuan yang bernama Kismi?” Ia
    melirik Hamsad, seakan meminta pendapat. Hamsad diam
    saja. Lama sekali ia terbungkam sambil mengemudikan
    mobilnya. Beberapa saat kemudian, barulah ia berkata,
    “Akan kucoba menaklukkan dia!”
    Bahtiar buru-buru berpaling memandang penuh perasaan
    cemas. “Kau., kau hendak mencobanya seperti Tigor?”
    “Yah…!” Hamsad mengangguk sambil mendesah.
    “Kupikirkan dulu cara menaklukkannya, baru akan kutantang
    hantu keparat itu!”
    “Berbahaya, Ham! Jangan coba-coba berjudi dengan
    maut!” bisik Bahtiar merasa ngeri mendengar tekad Hamsad.
    “Kau mau membantuku?” Hamsad melirik Bahtiar.
    “Aku masih ingin hidup beberapa saat,” jawab Bahtiar.
    “Kalau begitu aku akan lakukan hal itu sendiri…!” Hamsad
    berkata dengan tenang, datar, seakan di dalam dadanya telah
    mendidih darah kemarahan yang sukar didinginkan kembali.
    Bahtiar makin ngeri melihat rona wajah Hamsad yang
    memancarkan dendam. Ia bagai seseorang yang sudah siap
    untuk mati.
    ***
    Bab 8
    Tekad Hamsad sudah hulat, ia harus menemui Kismi. Ia
    ingin membuktikan segalanya, dan mencari jawaban yang
    pasti tentang Kismi, juga tentang kematian Norman, Denny,
    dan Tigor. Di dalam hatinya ia menyimpan dendam, dan
    dendam itu yang menuntut pembalasan.
    Karena itu, pukul 4 sore itu, Hamsad sudah membocking
    kamar Seruni. Ia belum tahu, bagaimana caranya menghadapi

    67
    Kismi kalau benar wanita itu adalah hantu. Ia hanya punya
    keyakinan, bahwa ia akan bisa mengatasi Kismi dengan
    beberapa doa yang pernah diajarkan oleh kakeknya ketika ia
    masih di SMP. Ada beberapa doa yang konon bisa untuk
    mengusir hantu. Dulu, Hamsad pernah mendapat pelajaran
    mengusir hantu dari kakeknya, tapi satu kali pun belum
    pernah ia gunakan. Kali ini, ia ingin mencoba kekuatan magis
    dari doa tersebut untuk mengalahkan Kismi.
    Hati Hamsad belum terlalu berdebar-debar, karena ia ingat
    cerita para korban, bahwa Kismi akan muncul pada saat
    tengah malam. Karena sekarang masih pukul 4 lebih, rnaka
    tak ada yang perlu dicemaskan, tak ada yang perlu ditakutkan.
    Yang harus ia lakukan adalah mempersiapkan segala
    sesuatunya, di antaranya menghafal doa pengusir setan itu.
    Debur ombak dan angin senja membaur. Suasana di motel
    itu terasa lengang, sepi, namun terlihat beberapa kesibukan
    manusia yang seakan bergerak dan bekerja tanpa suara
    sedikit pun.
    “Aneh…! Mengapa mereka melangkah bagai tanpa suara?
    Mengapa mobil di jalan raya itu bergerak hanya
    memperdengarkan suaranya yang samar-samar? Alam ini
    menjadi lengang, seperti lorong menuju alam kematian. Oh,
    mungkinkah aku akan menemukan ajalku di sini juga?” pikir
    Hamsad sambil duduk di teras kamar Seruni. Tak lama
    kemudian, terdengar suara adzan magrib sayup-sayup sekali.
    Langit menjadi merah lembayung. Mentari mulai
    menyembunyikan diri.
    Iseng sekali Hamsad duduk sendirian di teras. Kebetulan
    seorang petugas motel yang biasa disebut sebagai room-boy
    sedang melintas di depan teras kamar Hamsad. Orang itu
    sudah tua, tapi gerakannya masih lincah, penuh semangat
    kerja.
    “Pak…!” panggil Hamsad, kemudian melambaikan tangan.
    Pelayan tua itu mendekat dengan senyum ramah.
    “Pak, bisa mencarikan saya makanan kecil?”
    “Maksud, Tuan?”

    68
    “Yah… semacam kacang mete, atau emping.”
    “O, bisa. Di restoran kami tersedia makanan itu. Mau
    kacang mete atau emping?” pelayan tua itu ganti bertanya.
    “Emping saja deh! Atau… emping sama kacang mete juga
    boleh.”
    Pelayan itu mengambilkan pesanan yang telah di pesan
    Hamsad. Waktu itu, Hamsad segera masuk dan memeriksa isi
    kulkas. Oh, lumayan ada dua kaleng bir sebagai selingan. Ia
    mengeluarkan salah satu, dan membukanya sambil matanya
    memandang ke arah TV yang dinyalakan dari tadi.
    Tak berapa lama, pelayan datang membawakan emping
    pesanan Hamsad.
    “Masuk saja, Pak!” teriak Hamsad, malas membukakan
    pintu karena ada acara menarik di TV.
    “Sendirian saja, Tuan?” tanya pelayan itu sambil cengarcengir.
    “Ya. Sendirian. Kenapa, Pak?” pancing Hamsad.
    “Tidak membutuhkan teman buat ngobrol-ngobrol?”
    “Teman perempuan maksudnya?”
    Pelayan berambut uban itu terkekeh sesaat,
    “Kalau teman lelaki sih buat apa, Tuan?”
    Hamsad ikut tertawa sekadarnya. Ia membuka plastik
    emping sambil bertanya, “Apa… apa kamu bisa sediakan
    perempuan cantik, Pak?”
    “O, bisa! Bisa saja, Tuan! Mau cari yang modelnya seperti
    apa?”
    ‘Yang paling cantik. Kalau bisa yang seperti Ratu Mesir
    Kuno!”
    Bapak itu terkekeh lagi. la berdiri dengan sikap
    menghormat, sopan, sekalipun merasa geli dengan kata-kata
    Hamsad, tapi ia tetap sopan.
    “Bisa, Pak?” desah Hamsad. Ia berjalan ke ruang tamu, dan
    duduk di meubel yang ada di situ.
    “Saya belum pernah melihat Ratu Mesir Kuno, Tuan,”
    katanya. “Lagi pula, bagi saya, semua perempuan itu ratu.”

    69
    Hamsad sempat tertawa keras mendengar banyolan
    pelayan tua itu. Ia tertarik untuk mengajaknya bicara,
    sehingga ia perlu mempersilakan bapak itu duduk di kursi.
    “Bapak namanya siapa. Pak?”
    “Saya…, Kosmin. Kalau perlu apa-apa bisa panggil saya
    saja lewat telepon, Tuan.”
    “Ah, paling-paling yang kuperlukan ya soal perempuan itu
    tadi. Pak.”
    “Bisa juga! Tempo hari ada yang memesan perempuan dua
    sekaligus! Tamu itu seorang lelaki yang usianya lebih tua dari
    Tuan, dan ia memakai dua perempuan dalam satu kamar.
    Saya juga yang mencarikan. Dia minta perempuan yang
    separuh baya, tapi masih kelihatan cantik dan montok, saya
    terpaksa mencarikannya ke beberapa tempat yang saya
    kenal….”
    “Berhasil?”
    “Berhasil juga, Tuan.”
    “Kalau begitu, carikan saya yang paling cantik.”
    “Boleh. Kapan saya suruh kemari?” tanya Pak Kosmin
    dengan penuh semangat. Hamsad tersenyum kalem sambil
    mengunyah emping.
    “Cantik sekali, nggak? Kalau nggak cantik sekali, saya
    nggak mau, Pak!”
    “O, ditanggung memuaskan, Tuan! Saya punya kenalan
    yang jarang saya suguhkan pada tamu-tamu di sini. Biasanya
    yang suka pakai dia… beberapa boss dari luar negeri.
    Perempuan itu memang biasanya dibawa ke luar negeri oleh
    boss-boss minyak. Baru seminggu yang lalu ia pulang dari
    Itali.”
    Hamsad makin tertarik, ia memperhatikan Pak Kosmin yang
    bermata cekung itu, lalu bertanya dengan penuh harap,
    “Namanya siapa, Pak?”
    “Gea. Nama lengkapnya saya tidak tahu, tapi ia selalu
    memperkenalkan diri dengan nama: Gea!”

    70
    Hamsad kelihatan mengeluh kecil. Ia kurang menggebugebu.
    Namun, ia membiarkan pelayan itu meneruskan
    promosinya tentang Gea. Setelah itu, baru Hamsad bertanya,
    “Pak Kosmin bisa mencarikan perempuan yang bernama
    Kismi?!”
    Pak Kosmin tampak terperanjat sekalipun berusaha
    disembunyikan. Hamsad mengetahui hal itu, dan ia segera
    mengusap tengkuk kepalanya yang sejak tadi bergidik bulu
    romanya. Sejak tadi! Hanya saja, Hamsad tadi bisa menahan
    diri untuk bersikap biasa-biasa saja.
    “Bagaimana, Pak? Kok malah melamun?” tegur Hamsad
    setelah mengetahui lelaki itu melamun. Wajahnya yang tua
    dan sedikit berkeriput itu kelihatan pias. Ia jadi tidak
    bersemangat lagi, seperti tadi. Ada senyum yang dipaksakan
    untuk tetap ramah. Dan, Hamsad membiarkan perubahan
    tersebut, seakan tidak mengetahuinya.
    “Kalau Pak Kosmin bisa mencarikan atau memanggilkan
    perempuan yang bernama Kismi, saya berani kasih tip banyak
    kepada Pak Kosmin,” tantang Hamsad sambil berlagak
    berseloroh. Pak Kosmin tersenyum hambar.
    “Mengapa harus Kismi?” tanyanya tiba-tiba. Pertanyaan itu
    mempunyai arti lain bagi Hamsad, maka ia pun buru-buru
    bertanya,
    “Jadi, Pak Kosmin sudah mengenal Kismi, kan? Sudah
    pernah melihat Kismi, bukan? Nah, type wanita seperti itulah
    yang saya sukai, Pak. Kalau tidak Kismi, saya tidak mau
    ditemani oleh siapa pun!”
    Lelaki berseragam biru-biru, sebagai seragam pelayan
    motel ini, tampak termenung beberapa saat. Lalu, tiba-tiba ia
    mengajukan pertanyaan yang membuat Hamsad sedikit
    terpojok,
    “Apakah Tuan sudah pernah bertemu dengan Kismi?”
    “Hem… anu… bertemu sih belum pernah, tapi ketiga
    temanku pernah bermalam dengan Kismi. Aku mengetahui
    kecantikannya dari ketiga temanku itu, Pak.”

    71
    “Ooo..,” Pak Kosmin manggut-manggut. “Dan, bagaimana
    dengan ketiga teman Tuan itu?”
    “Mereka merasa bahagia sekali tidur bersama Kismi,” jawab
    Hamsad memaksakan untuk bersikap kalem.
    “Maksud saya, bagaimana nasibnya setelah ia tidur
    bersama Kismi?”
    Nah, pertanyaan ini kembali membuat Hamsad merinding.
    Ia melirik ke arah luar lewat gorden jendela, ternyata alam
    telah menjadi gelap. Terbersit perasaan ngeri dalam hatinya,
    namun ia mampu menutupi dengan caranya sendiri.
    “Mengapa Pak Kosmin menanyakan begitu? Apa
    maksudnya?”
    “Setahu saya,” kata lelaki tua itu. “Siapa pun yang tidur
    bersama Kismi, maka ia akan mati!”
    Ada suatu rasa yang menghentak di hati Hamsad, namun
    Hamsad berusaha menetralkan perasaannya.
    “Mengapa harus mati?” tanya Hamsad masih tetap kalem,
    seakan tidak mau percaya dengan keterangan Pak Kosmin.
    “Kismi itu roh!”
    “Ah…!” Hamsad sengaja mendesah dengan nada tidak
    percaya.
    “Sungguh, Tuan. Dulu, memang ada seorang wanita yang
    bernama Kismi. Dia seorang peragawati, tapi dia juga punya
    jabatan penting dalam suatu perusahaan besar di luar negeri.
    Konon, kesibukannya sebagai peragawati hanyalah sebagai
    penangkal kejenuhannya saja…!”
    Karena Pak Kosmin diam. Hamsad mendesaknya,
    “Ceritakan selengkapnya, Pak. Siapa tahu aku mempercayai
    kata-katamu.”
    “Kismi dibunuh di kamar ini oleh pacarnya. Ternyata
    pacarnya itu orang yang punya penyakit syaraf. Ia dicekik, dan
    tangan kanannya dipotong…!”
    Bergidik Hamsad mendengar cerita itu. Sejak tadi ia sudah
    berdebar-debar, keringat dinginnya sudah tersembul, hanya
    saja ia pandai menampilkan sikap tenang sehingga tidak
    kentara apa yang ia rasa.

    72
    “Kismi memang mempunyai hubungan dengan kepercayaan
    Mesir Kuno,” tambah Pak Kosmin, dan tambahan itulah yang
    membuat Hamsad terbelalak kaget.
    “Mmm… mak… maksud… maksudnya, bagaimana, Pak?
    Bagaimana?” Hamsad sampai meng-geragap.
    “Mayat Kismi sampai sekarang masih utuh, karena
    dimakamkan dalam kotak kaca hampa udara. Ia mempunyai
    cincin berbatu putih kekuning-kuningan. Cincin itu, konon
    pemberian seorang profesor, ahli sejarah, yang menjadi
    gurunya di perguruan tinggi. Cincin itu, berasal dari zaman
    Mesir Kuno. Bukan cincinnya yang saya maksud, melainkan
    batu pada cincin tersebut.”
    “O, begitu?! Lalu… lalu… lalu, khasiat cincin itu sendiri
    apa?”
    “Apabila ia mati, nyawanya masuk ke dalam batu cincin
    tersebut. Kalau ia mengenakan cincin itu lagi, maka ia akan
    hidup. Tetapi, kalau sampai tiga kali ia mati, maka ia akan
    mati selama-lamanya!”
    “Gila…!” gumam Hamsad sepertinya antara mengagumi
    dan tidak percaya.
    Pak Kosmin melanjutkan lagi, “Jadi, karena ia dicekik dan
    tangan kanannya dipenggal, maka ia tak dapat hidup lagi.
    Karena, di jari manis tangan kanannya itulah cincin mistik itu
    dikenakan. Ia terpisah dengan cincin tersebut, maka sama
    saja ia terpisah dari nyawanya. Kemudian, pelayannya yang
    selalu mendampingi Kismi memakamkan mayat Kismi di dalam
    tabung kaca hampa udara, supaya kuman tidak merusak
    jasadnya. Apabila potongan tangan kanan itu disambungkan
    lagi ke lengan Kismi, maka ia akan hidup lagi sebagai manusia
    biasa. Itulah keistimewaan dari Cincin Zippus.”
    Beberapa saat lamanya Hamsad terbengong. Terbayang
    sesuatu yang mustahil menjadi nyata. Dan, ia terkejut ketika
    Pak Kosmin berdiri, mohon pamit.
    “Tunggu, Pak…! Bapak sendiri siapa? Kenapa bisa
    mengetahui riwayat Kismi?”
    “Saya pelayan Kismi…!”

    73
    Dan, tiba-tiba lelaki tua beruban putih itu melangkah keluar
    kamar tanpa membuka pintu lebih dulu. Badannya bagai
    gumpalan asap yang mampu menembus daun pintu yang
    tebal. Hal itu membuat Hamsad tercengang dengan mata
    mendelik dan tubuh gemetar. Ia buru-buru membuka pintu
    untuk mengejar Pak Kosmin, tetapi ternyata lelaki tua itu tidak
    terlihat sama sekali. Di luar hanya ada gelap malam yang sepi.
    Sekujur tubuh Hamsad menjadi merinding dan keringat
    dinginnya pun membasahi semua pakaiannya. Lalu, sesuatu
    yang aneh kembali dialaminya, tak lama berselang dari
    peristiwa itu. Hamsad masih terengah-engah, ia melihat
    arlojinya, dan begitu terkejutnya ia setelah mengetahui,
    bahwa saat itu malam sudah menunjukkan pukul 11 lewat 55
    menit.
    “Gila! Arloji murahan bikin kaget saja!” gerutunya sambil
    gemetar. Ia tak percaya, tapi juga penasaran. Ia menelepon
    bagian resepsionis dan menanyakan jam. Ternyata
    jawabannya sama, “Pukul 11 lewat 55 menit, Tuan!”
    “Astaga…! Kalau begitu aku sudah bicara dengan… dengan
    roh pelayan Kismi itu memakan waktu cukup lama?! Dari
    magrib sampai hampir tengah malam?! Oh, konyol! Terasa
    hanya sebentar! Nyatanya lebih dari lima jam?! Gila! Ini benarbenar
    gila!”
    Malam yang mengalunkan deburan ombak samar-samar itu
    ibarat irama penghantar ke liang kubur. Suasana ganjil yang
    menimbulkan rasa takut mencekam kuat di dalam kamar
    tersebut. Jantung Hamsad berdetak-detak keras, sampai dia
    mengalami sesak napas. Ia berusaha merubah suasana
    tegang di dalam kamar dengan suara TV yang mengalunkan
    lagu-lagu tempo dulu: acara ‘Dari Masa ke Masa’. Dengan
    suara keras dari musik-musik itu, Hamsad sedikit berhasil
    mengatasi cekaman rasa takut yang bagai membekukan
    darahnya itu. Ia membuka kaosnya yang basah oleh keringat
    dingin. Bahkan juga melepas celana panjangnya yang lembab
    karena keringat pula.

    74
    Sekarang, ia merasa panas. Gerah. Padahal AC berjalan
    dengan lancar. Karena tak tahan, Hamsad pun mengguyur
    badannya di kamar mandi. Pada saat itu, ia masih terngiangngiang
    cerita Pak Kosmin, dan terbayang kenyataan
    mengerikan dari Pak Kosmin yang mampu menembus pintu
    tanpa dibuka lebih dahulu. Hamsad tidak percaya kalau
    ternyata sejak tadi berbicara dengan roh. Roh pelayan Kismi.
    Dan, agaknya roh pelayan Kismi itu pun mencari tahu di mana
    tangan kanan Kismi yang dipotong oleh pembunuhnya. Maka,
    timbul kecamuk di hati Hamsad,
    “Kalau aku bisa menemukan tangan atau cincin itu, dan
    bisa menyambungkannya ke lengan jenazah Kismi, mungkin
    perempuan itu akan hidup kembali. Lalu, apa yang kuperoleh
    dari pekerjaan itu? Oh… gila! Cerita itu kenapa mendominir
    otakku? Kenapa aku sangat percaya? Bukankah itu suatu hal
    yang mustahil?” Hamsad berdebat sendiri di dalam hatinya.
    Kemudian, batinnya berkata juga,
    “Jadi, pantas kalau selama ini Norman, Denny, dan Tigor
    mati bunuh diri setelah tidur bersama Kismi. Rupanya roh
    Kismi menaruh dendam kepada lelaki. Roh itu yang ada di
    tangan kanannya, pada batu cincin tersebut. Dan, roh itu yang
    masuk ke dalam tangan kanan Norman, kemudian memaksa
    Norman bunuh diri. Padahal itu adalah tindakan pembunuhan
    dari roh Kismi yang ada di tangan kanannya. Oh, mengerikan
    sekali! Apa jadinya jika roh itu masuk ke tangan kananku…?!”
    sambil berkecamuk demikian di batinnya, Hamsad
    mengangkat tangan kanannya sendiri. Memperhatikan tangan
    kanannya itu dengan hati berdebar-debar. Semakin lama ia
    memperhatikan tangan kanannya, semakin gemetar tangan
    kanan itu. Jantungnya bertambah cepat terpacu. Jari-jemari
    tangan kanannya mengejang. Mulanya bergerak-gerak, lalu
    mengejang semuanya, membentuk cakar.
    “Oh…?! Tangan kananku kaku..?!” katanya terpekik
    ketakutan sendiri. Ia mendelik memperhatikan tangan
    kanannya. Jari-jemari itu gemetar pada saat membentuk cakar
    yang keras dan kaku. Tangan kiri Hamsad buru-buru

    75
    melunakkan tekukan jari-jemari tangan kanannya. Dan,
    Hamsad pun menghempaskan napas. Ternyata tangan
    kanannya mengalami kram sebentar. Kini kembali lemas,
    seperti sediakala.
    Sambil mengenakan handuk, Hamsad terengah-engah
    karena rasa takutnya. Ia keluar dari kamar mandi dengan
    hanya berbalut handuk, karena pada saat itu ia mendengar
    suara TV berkerosak tak karuan. Ternyata layar TV sudah
    tidak menampilkan gambar apa-apa lagi, kecuali bintik-bintik
    semacam semut berpesta pora. Salurannya bagai ada yang
    memutus, dan suara berisik itu mengganggu pendengaran
    Hamsad. Maka, pesawat TV pun terpaksa dimatikan. Dan, kali
    ini kamar menjadi hening tanpa suara apa pun.
    Hamsad duduk di pembaringan dengan melamun,
    membayangkan sesuatu yang bersimpang siur dalam
    pikirannya. Kacau!
    ***
    Bab 9
    Suara ketukan pintu yang lembut mengejutkan lamunan
    Hamsad. Napasnya terhempas karena rasa kagetnya. Ia
    sempat mencaci sendiri, lalu menyadari bahwa ia lupa
    membayar uang emping dan kacang mete. Setelah mengambil
    uang puluhan ribu dari dompetnya, Hamsad menuju ke ruang
    tamu dengan hanya berbalut handuk tebal.
    Klik…! Pintu dibuka, dan sapaan lembut terdengar,
    “Selamat malam…!”
    Hamsad terbelalak seketika. Darahnya bagai mengalir cepat
    ke bagian kepala. Pucat. Napasnya pun tersentak, seakan
    berhenti seketika. Di depannya, berdiri seorang perempuan
    yang berbadan atletis, tinggi sekitar 168 cm, berbadan padat,
    menonjol namun ideal bagi tubuhnya yang sexy itu. Mulut
    Hamsad bergerak-gerak, namun tak berhasil melontarkan
    sepatah kata pun. Matanya tak bisa berkedip menatap seraut

    76
    wajah klasik, dengan kecantikan yang mirip seorang ratu Mesir
    Kuno. Hidung mancung, bibir ranum tak terlalu lebar, mata
    bulat dengan kebeningan yang tajam meneduhkan, dan
    rambut hitam indah disanggul ke atas, sehingga
    menampakkan lehernya yang tergolong jenjang itu berkulit
    kuning langsat.
    Yang terucap di hati Hamsad hanya kata-kata, “Sudah
    lewat tengah malam…!”
    Perempuan itu tersenyum ramah, indah sekali. Enak
    dipandangi berjam-jam lamanya. Suaranya yang serak-serak
    manja terdengar membuai hati Hamsad yang gemetar.
    “Boleh aku masuk?”
    “Bo… bob… eh, sil… silakan…!” Hamsad menggeragap.
    Jantungnya yang berdetak cepat membuat ia serba gemetar.
    Berulangkah ia menelan napasnya untuk menguasai
    kegugupan yang mengerikan, dan sedikit-sedikit ia mulai
    berhasil menenangkan gemuruh di dalam dadanya.
    Ada bau harum dari parfum yang dikenakan perempuan itu.
    Bau harum itu begitu lembut, klasik, namun membawa kesan
    yang anggun. Perempuan itu mengenakan gaun transparan
    putih tanpa lengan. Tas kulit warna hitam yang bertali rantai
    kuning keemasan tergantung di pundak kirinya. Sepatunya
    berwarna hitam, menapak di lantai. Jelas sekali. Ketika
    melangkah terdengar ketukan sepatunya yang lembut.
    Waktu itu, angin berhembus lebih kencang dari
    sebelumnya. Suara angin itu mengalun bercampur deburan
    ombak. Malam berubah menjadi lebih sunyi lagi, seakan kutukutu
    malam pun tak berani bersuara. Hal itu semakin
    membuat Hamsad dicekam rasa takut, tubuhnya pun menjadi
    merinding semua.
    “Sendirian di sini?” suara serak-serak manja yang
    menggemaskan hati lelaki itu mengacaukan pikiran Hamsad.
    Ia masih diam di pintu, tanpa menutup daun pintu, sehingga
    angin yang berhembus membawa kemisterian itu menerobos
    masuk ke kamar. Ia tak sempat menjawab dengan kata,
    kecuali mengangguk dan menampakkan rasa takutnya. Ada

    77
    niat untuk lari keluar kamar dan berteriak meminta tolong,
    tetapi sikap perempuan itu begitu mengesankan, baik dan
    ramah. Sehingga, hati Hamsad berdiri di batas kebimbangan.
    “Apakah ruangan ini kurang dingin? Kurasa sudah cukup
    sejuk, tak perlu kau tambah dengan cara membiarkan pintu
    terbuka,” katanya sambil menampakkan senyumnya yang
    mengagumkan sekali. Hamsad pun segera menutup pintu,
    namun tak berani menguncinya. Ia jadi seperti orang bego
    berdiri bersandar pada pintu dengan kedua lutut gemetar.
    Detak-detak jantungnya kembali memburu ketika perempuan
    itu melangkah mendekati Hamsad, memandang dengan penuh
    sorot mata yang mempesonakan.
    Luar biasa kecantikan itu. Hamsad baru percaya dengan
    apa yang pernah dikatakan Almarhum Norman, Denny, dan
    Tigor. “Perempuan itu mempunyai kecantikan yang luar biasa.
    Kehebatan di ranjang yang luar biasa pula….” Pantas rasanya
    jika para korban memuji Kismi habis-habisan, karena
    perempuan itu memang patut dipuji dan disanjung. Hanya
    saja, kali ini lidah Hamsad masih kelu, darahnya berdesir
    seakan beredar di seluruh tubuh dengan kacau. Apalagi kali ini
    perempuan itu tepat berada di depannya, oh…. Hamsad
    seperti kehilangan kesempatan untuk menghela napas.
    “Kau sakit?” tanya perempuan itu. “Wajahmu pucat sekali.”
    Kemudian, karena lama sekali Hamsad tidak bisa
    menjawab, perempuan itu menyentuh jari-jemarinya ke pipi
    Hamsad. Lembut sekali. Pelan. Hamsad merasa diusap oleh
    selembar kain sutra yang berbau harum menggairahkan.
    Lutut semakin gemetar, nyaris tak bisa dipakai untuk
    berdiri, karena saat itu, Hamsad merasakan suatu ciuman
    yang hadir dengan sangat pelan. Menempel di pipinya terasa
    menghangat dipermukaan wajah Hamsad. Suara serak-serak
    manja menggemaskan itu terdengar berbisik di telinga
    Hamsad,
    “Kosmin memberitahu kehadiranmu. Aku tahu, kau
    membutuhkan aku, bukan? Kau mencari aku, bukan?” Ia
    segera menarik wajahnya, kini beradu pandang dengan

    78
    Hamsad. Mulut Hamsad masih kaku, sukar digerakkan. Dan,
    perempuan itu berkata lagi,
    “Jangan takut. Aku Kismi, orang yang kau cari. Kau hanya
    memilih aku dari sekian perempuan yang ditawarkan Kosmin.
    Dan, sekarang pilihanmu telah berada di sini, di depanmu.
    Mengapa kau diam saja? Mengapa kau takut? Barangkali
    karena kau mendengar cerita dari Kosmin, lantas kau pikir aku
    akan membunuhmu? Hem…?!”
    Oh, begitu mesranya ia bicara. Sesekali tangannya
    mengusap rambut di kening Hamsad, menyibakkan ke
    belakang dengan tatapan mata penuh curahan rasa kasih.
    “Barangkali kita bisa buat perjanjian,” katanya dengan
    lembut.
    “Ak… aaak… akuuu…,” Hamsad berkata dengan gagap.
    “Akuuu… hm… akkk….”
    “Ssst…!” Kismi menempelkan jari telunjuknya ke bibir
    Hamsad. Ia membisik, “Kecuplah bibirku…! Kecuplah, agar
    rasa takutmu hilang…!”
    Hamsad gundah. Debaran hatinya membuat ia tersengalsengal
    dalam bernapas.
    Kismi memejamkan mata, menyodorkan bibirnya yang
    terperangah menantang. Ia berbisik lagi, “Kecuplah aku…
    kecuplah, supaya rasa takutmu hilang…!”
    Dengan gemetar, Hamsad mendekatkan bibirnya ke bibir
    Kismi. Ia ragu sejenak, tetapi Kis-mi bergerak lebih maju,
    sehingga bibirnya menyentuh bibir Hamsad. Kemudian,
    Hamsad mengecup bibir itu dengan gemetar. Mulanya hanya
    ingin sekejap, tetapi Kismi membalas dengan hangat.
    Mengulumnya, melumatnya penuh gairah. Bahkan ia
    mendesah ketika bibir itu terlepas sekejap. Sebelum Hamsad
    menarik diri, Kismi telah mengulang adegan itu. Semuanya ia
    lakukan dengan lembut, tidak kasar dan rakus. Justru
    kelembutan itulah yang membuat hati Hamsad terasa tersiram
    serpihan salju. Dingin, tenang, dan debarannya pun
    berkurang.

    79
    Perlahan-lahan sekali Kismi melepaskan kecupan itu,
    seakan merasa enggan memisahkan bibirnya dari bibir
    Hamsad. Ketika kecupan itu berhenti, senyum Kismi mekar
    mengagumkan. Hamsad mulai menyunggingkan senyum
    bernada malu. Anehnya, saat itu ia tidak lagi merasa
    berdebar-debar. Ia tidak merasa takut dan gemetar. Ia dalam
    keadaan normal, memandang Kismi seperti memandang
    perempuan biasa. Hamsad sadar, ia berhadapan dengan
    hantu, tapi ia tidak merasa ngeri sedikit pun. Justru ia merasa
    bangga bisa berhadapan muka dengan wanita berwajah mirip
    ratu Mesir Kuno itu. Ia berdecak menyatakan rasa kagumnya
    kepada Kismi.
    “Bagaimana aku harus memanggilmu?” tanya Kismi sambil
    melingkarkan kedua tangannya ke leher Hamsad. Matanya
    berkedip-kedip memandang Hamsad dengan penuh pesona
    mengagumkan.
    “Panggil aku, Hamsad!” jawab Hamsad dengan lancar, tak
    ada kebimbangan, hanya sedikit sisa getaran masih terasa.
    “Aku kagum padamu, Hamsad. Kau manusia yang nekat.
    Kau punya semangat, tapi tidak punya keberanian. Mungkin
    begitulah dalam hidupmu sehari-hari.”
    Hamsad tersipu. Ia tak berkedip menatap Kismi, kemudian
    ia berkata bagai di luar kesabaran, “Cantik sekali…!”
    “Siapa?” tukas Kismi.
    “Kau…,” desah Hamsad, romantis sekali. Kismi mencibir
    manis. Kemudian keduanya sama-sama tertawa. Keduanya
    sama-sama berpelukan, masih di depan pintu.
    “Aneh sekali…,” bisik Hamsad.
    “Apanya yang aneh?”
    “Hatiku jadi berbunga-bunga. Aku bahagia sekali.”
    “Kenapa?” bisik Kismi makin mendesah.
    “Aku bisa bertemu denganmu, dan aku bisa memelukmu,”
    jawab Hamsad. “Padahal aku tahu….”
    “Tahu apa?” tukas Kismi lagi, seakan menggoda.
    “Aku tahu, bahwa kau bukan manusia…!”

    80
    Kismi buru-buru melepaskan pelukannya. Ia kelihatan
    tersinggung. Hamsad menggeragap bingung ketika Kismi
    meninggalkannya. Perempuan itu berjalan ke kamar tidur, dan
    menghempaskan dirinya di tepian ranjang. Wajahnya murung.
    Hamsad serba salah jadinya. Ia mencoba mendekati Kismi dan
    berkata penuh sesal,
    “Maaf, aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu.”
    “Aku tidak tersinggung,” jawab Kismi. Masih murung. “Aku
    sedih jika ada yang mengatakannya begitu. Aku ingin kau
    pura-pura tidak mengetahui siapa aku.”
    “Mengapa begitu?”
    Kismi mendongak, memandang Hamsad yang berdiri di
    sampingnya. Wajah Kismi tepat berada di pinggang Hamsad.
    Perempuan itu berkata dengan nada sedih,
    “Aku datang memenuhi keinginanmu. Aku ingin mengagumi
    lelaki yang punya tekad seperti kamu. Jadi, aku tak ingin
    mendengar kata-kata seperti itu lagi.”
    “Aku berjanji tidak akan mengatakan hal itu lagi, Kismi,”
    kata Hamsad sambil mengusap-usap kepala Kismi. Kepala itu
    pun kemudian rebah di pinggang Hamsad.
    “Aku ingin mencari kebahagiaan. Aku ingin menghibur
    diriku seriang mungkin. Aku…,” Kismi berhenti sejenak,
    mendongak lagi, menatap Hamsad, lalu berkata,”… aku ingin
    hanyut dalam kemesraan.”
    Hamsad mengangguk, “Apakah menurutmu aku bisa
    memberi kemesraan padamu?”
    Tangan Kismi mulai merayap, mengusap-usap paha
    Hamsad yang hanya dibalut handuk itu. Ia bicara bagai
    sedang melamun,
    “Aku tak tahu, apakah kau yang terpilih bagiku. Tetapi, aku
    sangat menyukai lelaki yang punya tekad, daripada yang
    hidup penuh kebimbangan. Biasanya, lelaki yang hidup
    mengandalkan tekad, ia mempunyai naluri bercumbu sangat
    romantis.”
    Hamsad tertawa pelan. “Aku tidak merasakan diriku begitu.
    Kismi,”

    81
    “Tapi aku merasakannya…,” seraya tangan Kismi terus
    merayap pada bagian terpeka bagi seorang lelaki. Hamsad
    membiarkan tangan itu memainkan sesuatu, Ia sibuk
    menekuni hatinya yang berdebar-debar dalam keindahan.
    Lalu, ia sedikit menunduk, mencium kening Kismi. Wajah
    itu buru-buru tengadah ke atas, merenggangkan bibirnya
    dalam desah yang tipis sekali. Hamsad mencium kening dan
    merayap ke hidung Kismi, kemudian merayap lagi perlahanlahan,
    sampai akhirnya mulut Hamsad menyentuh bibir Kismi.
    Lidah Hamsad mempermainkan bibir Kismi yang segar dan
    menggairahkan itu. Kismi mengerang pelan, bagai merengek
    minta sesuatu. Kemudian, Hamsad pun mengecup bibir itu
    pelan-pelan. Lembut sekali. Sementara itu, tangan Kismi yang
    nakal semakin bengal.
    Handuk pembalut pun terlepas dan jatuh di lantai. Hamsad
    membiarkan. Ia masih sibuk menciptakan sejuta desiran indah
    melalui kecupan bibir Kismi. Tapi, kali ini tangan Hamsad pun
    menarik tali gaun yang ada di pundak Kismi. Kedua tali pun
    terlepas, dan gaun transparan itu terkulai jatuh di pangkuan
    Kismi. Tangan Hamsad mulai merayap dengan usapan lembut,
    sentuhan jemarinya bagai mengambang dan justru
    menciptakan debaran halus di hati Kismi.
    “Oh… kau pandai membawaku melayang, Hamsad…,” bisik
    Kismi dalam desahnya. Ia buru-buru memeluk pinggang
    Hamsad. Mengecup pinggang itu, dan menjalar ke manamana.
    Hamsad melepas sanggul rambut Kismi sambil berdesis-
    desis. Rambut itu tergerai sebatas punggung. Lemas
    sekali. Halus, dan berbau harum. Tangannya mengusap-usap
    punggung Kismi dengan gerakan lamban, sedangkan Kismi
    semakin berani menjalarkan lidah dan bibirnya ke ujung
    percintaan Hamsad.
    Di relung keheningan malam, suara desah mereka saling
    memburu. Kismi sering memekik dalam keadaan tubuhnya
    mengejang kaku, sedangkan Hamsad hanya mendesah-desah
    dan tetap menjadi nahkoda ‘pelayaran’ itu. Ia sengaja tidak
    mendorong tubuh selembut sutra itu ke permukaan ranjang.

    82
    Ia biarkan cintanya melayang-layang dengan mengandalkan
    kekuatan kakinya. Kismi sendiri agaknya masih mampu
    menegakkan betisnya, sekalipun ia merasa limbung beberapa
    kali.
    Namun, kehebatan Kismi akhirnya membutuhkan alas bagi
    punggungnya, dan ia menarik Hamsad perlahan-lahan, maka
    jatuhlah mereka di ranjang yang berkasur empuk itu.
    Kecupan-kecupan Hamsad masih membanjir di sekujur tubuh
    Kismi. Napasnya masih mampu berlari sejauh 10 km lagi,
    bahkan lebih. Kismi merasa dirinya diterbangkan oleh amukan
    kasmaran Hamsad, sampai-sampai ia menggelinjang dengan
    brutal karena mengalami masa kejayaan cintanya beberapa
    kali.
    Pada detik-detik yang mendebarkan cinta Hamsad, ia
    semakin ‘berlari’ cepat, mengejar bayangan kasihnya di
    puncak bukit cinta. Ketika ia tiba di sana, ia pun mengerang
    panjang dan mengejang. Kismi ganti mengambil alih ‘kemudi’.
    Kini menjadi nahkoda ‘pelayaran’ malam itu. Dan sebagai
    seorang nahkoda, ia ternyata mempunyai kelincahan
    mempermainkan kemudi. Layar dikembangkan, dayung
    direngkuh, dan bahtera pun melaju makin dipermainkan
    ombak. Hamsad tak sempat berpikir untuk menentukan, Kismi
    bahtera atau ombak? Ia hanya merasakan amukan gelombang
    yang melemparkan ia ke awang-awang. Kismi bagai gulungan
    badai yang mampu menerbangkan Hamsad ke atas
    percintaannya beberapa kali, hingga pekikan dan erangan
    bahagia pun terlontar silih berganti.
    Ketika menyongsong fajar, kasur sudah berubah menjadi
    tanah lembab. Seprei dan selimut tebal tak ubahnya rumput
    yang terbabat, berserakan ke mana-mana. Banjir keringat
    mengguyur tubuh mereka. Napas-napas terpenggal saling
    berhamburan. Tubuh Kismi lunglai di peraduan. Hamsad
    mengusapnya dengan sarung bantal. Tubuh mulus tanpa
    cacat sedikit pun itu dibersihkan dari keringat. Diusap
    perlahan-lahan. Kemudian, dikecupnya beberapa bagian.
    Masih saja tercium bau wangi yang lembut dan

    83
    menggairahkan. Napas Kismi terengah-engah, dadanya yang
    menonjol dalam bentuk indah itu bergerak naik-turun. Ia
    membiarkan Hamsad mengucapnya beberapa kali, terkadang
    mencekam pada titik terpeka, dan Kismi hanya bisa
    mengerang di sela desah napas dan kelunglaian
    persendiannya.
    “Luar biasa…,” gumamnya bercampur dengus napas yang
    terengah-engah. Hamsad diam saja. Masih mengusap-usap,
    masih mencium beberapa tempat, masih pula menatapinya
    penuh rasa kagum dan bangga diri.
    Tangan Kismi meraba keringat Hamsad yang meleleh dari
    leher ke dada. Ia tersenyum, lalu berkata lirih,
    “Kau sungguh luar biasa, Hamsad. Kau… ah, kenapa baru
    sekarang kau kutemukan?”
    Hamsad tersenyum di sela engahan napasnya. “Kau
    memiliki kata dan tanya yang sama dalam benakku. Tapi…
    mengapa kau tampak pucat sekali? Lelah?”
    Kismi mengangguk, tak malu-malu. “Kau juga pucat,
    seperti selembar kertas. Capek?” tanyanya bergantian. Lalu,
    keduanya mengadu wajah sambil tertawa bahagia.
    ‘Hamsad, aku harus pulang sebelum matahari terbit,” bisik
    Kismi.
    “Tak bisakah kau tinggal sampai siang hari?”
    Kismi menggeleng. “Kita harus berpisah,” ucapnya penuh
    sendu. “Tapi, bila lewat tengah malam, kita bisa berjumpa
    lagi, Hamsad.”
    “Oh… tidak! Aku ingin memilikimu sepanjang masa, Kismi!
    Aku ingin mendekapmu, ingin menciummu, tanpa peduli siang
    atau malam.”
    “Hamsad, kau tahu siapa aku, bukan? Kita punya
    perbedaan masa. Kita punya perbedaan alam. Dan, itu tak
    bisa dibantah, Hamsad.”
    “Harus bisa! Aku tidak ingin kehilangan kau, Kismi. Aku…
    ah, terlalu mudah jika aku berkata cinta padamu, bukan? Jadi,
    sebaiknya tak kukatakan, bahwa aku mencintaimu….”
    “Kau sudah mengatakannya. Hamsad.”

    84
    Kemudian, Kismi pun tertawa mengikik geli sambil memijit
    hidung Hamsad. Tangan Hamsad mengibas, dan ia ganti
    memijit hidung Kismi sambil berkata, “Nakal…!”
    Pagi mulai meremang. Kismi bergegas pulang dengan
    wajahnya yang pucat. Hamsad sempat berbisik sedih, “Kapan
    kau datang padaku lagi, Kismi?”
    “Menunggu saatmu pulang kemari,” jawab Kismi. “Hati-hati,
    Hamsad. Mudah-mudahan ia tidak mengancammu.”
    “Siapa…?!” Hamsad merasa heran. Kismi diam saja.
    ***
    Bab 10
    Tubuh yang lunglai itu tergeletak sampai siang hari.
    Hamsad bagai habis mengadakan perjalanan jauh. Tulangtulangnya
    terasa ngilu semua. Ia meninggalkan motel itu
    antara pukul 12 siang. Ia tidak langsung ke rumah, melainkan
    ke kampus, karena hari itu ia punya acara: mengadakan
    audensi dengan salah seorang tokoh bersama dua temannya.
    Namun, ternyata benaknya sudah telanjur dipenuhi oleh
    kesan indah dan manis dari Kismi. Berulangkah’ ia
    mengalihkan pikirannya, tanpa sadar toh kembali juga ke
    masalah Kismi. Ia memang pernah punya perasaan cinta. Ia
    pernah menyukai seorang gadis. Tetapi, tidak seperti kali ini
    perasaan suka kepada gadis yang ia rasakan. Kali ini ia benarbenar
    terpaku oleh perasaan cintanya kepada Kismi. Ia seperti
    belum pernah mengenal cinta sebelumnya. Bahkan, dalam hati
    ia berkata, “Aku seperti anak ingusan yang baru pertama kali
    ini disentuh wanita. Padahal aku sering mencium Reni sewaktu
    di SMA. Aku juga sering berciuman dengan Laila. Bahkan aku
    pernah tidur dengan Pungki. Tetapi, mengapa mereka tidak
    meninggalkan kesan yang mematri di hatiku? Mengapa
    mereka jauh berbeda dengan Kismi? Kesannya begitu kuat,
    membuat aku tak mampu mengalihkan konsentrasiku walau
    sekejap. Oh… luar biasa daya tariknya. Luar biasa kecantikan

    85
    itu. Pantas kalau Norman dan yang lainnya tega melakukan
    bunuh diri demi cintanya yang tak tercapai itu.”
    Dalam perjalanan ke kampus, mendadak Hamsad menjadi
    tegang. Hatinya berdebar-debar setelah ia ingat kematian
    Norman, Denny, dan Tigor. La menggumam sendiri di dalam
    mobilnya, “Mereka mati dengan cara bunuh diri. Mereka
    bunuh diri karena rindu pada Kismi. Mereka rindu, karena
    mereka jatuh cinta pada Kismi. Lalu, bagaimana dengan aku?
    Apakah aku tidak akan berbuat seperti Norman, Denny, dan
    Tigor? Oh, jangan! Jangan sampai aku sepicik mereka. Aku
    harus tegar, tak mau jatuh karena perempuan. Tapi…?”
    Hamsad berkerut dahi. Ia melanjutkan kata-katanya dalam
    bentuk kecamuk di dalam liati.
    “Tapi, Kismi meninggalkan pesan yang misterius. Saat ia
    sebelum pergi, sebelum ia mengecup bibirku yang terakhir
    kali, aku mendengar ia menyuruhku berhati-hati. Ada sebaris
    kata yang aneh. Mudah-mudahan ia tidak mengancammu’.
    Ia…?! Siapa yang dimaksud ‘ia’ oleh Kismi itu? Benarkah diriku
    terancam? Oleh siapa sebenarnya? Kekasih Kismi? Kekasihnya
    yang telah tega membunuhnya itu? Ih, brengsek amat kalimat
    itu. Menghantui pikiranku terus. Siapa sih sebenarnya yang di
    maksud itu…?!”
    “Pucat sekali kau!” tegur Ade di pintu gerbang kampus.
    Waktu itu, Hamsad sedang; menuju ke gedung rektorat
    setelah memarkirkan mobilnya. “Kau habis begadang, ya?
    Atau… sakit?”
    “Apakah aku kelihatan pucat?!”
    “Ya, pucat sekali,” jawab Ade tegas. Hamsad jadi gelisah.
    “Aku ingin membicarakan sesuatu kepadamu, De. Tapi,
    tunggu sebentar, aku punya urusan penting.”
    “Oke. Aku nongkrong di kantin! Kutunggu kau di sana,
    Ham.”
    Ragu-ragu Hamsad jadinya. Wajahnya pucat pasi. Semua
    temannya yang berpapasan dengannya mengatakan begitu.
    Malahan seorang dosen yang berpapasan dengannya juga
    menyarankan, “Pulanglah! Jangan paksakan diri kalau kau

    86
    dalam keadaan sakit. Ilmu bisa dicari sampai tua, tapi nyawa
    seseorang tidak bisa dicari lagi. Sekali hilang, akan selamanya
    hilang.”
    Setelah bertemu dengan temannya yang punya urusan
    sama, Hamsad juga dianjurkan untuk pulang. Justru temannya
    kelihatan cemas dan berkata, “Kau benar-benar seperti mayat,
    Ham. Aku kuatir kau akan mengalami naas di sini! Pulanglah.
    Biar aku yang mengurus masalah kita ini.”
    Hamsad tidak langsung pulang, melainkan langsung ke
    kantin menemui Ade. Di pintu kantin ia berpapasan dengan
    Yoppi. Yoppi pun terkejut melihat Hamsad berwajah pucat
    sekali, ia menegur,
    “Gila kau, Ham! Kau kemanakan darahmu? Kau seperti
    manusia tanpa darah setetes pun, tahu?!”
    “Aku sedang tak enak badan,” ujarnya seraya langsung
    menemui Ade. Yoppi menguntit dari belakang. Begitu Hamsad
    duduk, Yoppi ikut duduk di sampingnya, tapi langsung
    berkata,
    “Demi Tuhan, aku jadi merinding melihat kau berjalan,
    Hamsad! Kau…. Wah, celaka! Kurasa saat ini bukan waktumu
    untuk ngobrol di sini!” Yoppi kelihatan cemas sekali.
    Sedangkan Ade hanya memandang Hamsad dengan
    kecemasan yang disembunyikan.
    “Aku…. Oke-lah, aku akan pulang dan beristirahat. Tetapi,
    sebelumnya ada yang ingin kuta-kakan kepada kalian,” kata
    Hamsad. “Tapi, kumohon kalian bisa merahasiakan. Kumohon
    sekali!”
    Yoppi dan Ade menggumam. Yoppi kelihatan lebih tegang
    dari Ade. Ia juga yang bertanya.
    “Tentang apa itu, Ham?!”
    Hamsad berkata pelan, “Aku telah bertemu dengan Kismi.”
    “Hah…?!” Kini, bukan Yoppi saja yang terpekik kaget,
    melainkan Ade pun jadi tersentak. Duduknya yang semula
    bersandar santai, kali ini bergerak maju dan mata memandang
    Hamsad penuh kecemasan.

    87
    “Kau…?! Kau bertemu dengan Kismi?!” Ade setengah tidak
    percaya.
    “Aku tidur dengan perempuan itu,” tambah Hamsad,
    semakin membuat Yoppi dan Ade menampakkan rasa
    takutnya. “Aku bergumul dengannya. Semalaman kami tak
    tidur. Ia memang hebat, istimewa dan luar biasa segalanya.
    Kecantikannya luar biasa, kekuatannya di ranjang juga luar
    biasa…!”
    “Tunggu, Ham…!” sergah Yoppi. Lalu, Yoppi berkata dalam
    bisikan yang dipertajam, “Dulu, Almarhum Tigor juga
    menceritakan hal itu kepada kami. Dan, malamnya ia bunuh
    diri. Denny pun demikian. Lalu, mengapa sekarang kau
    berkata begitu, Hamsad?! Apakah kau tak menyadari risiko
    berbahaya yang akan menimpamu?!”
    Sebelum Hamsad menjawab, Ade telah berkata, “Aku jadi
    merinding. Sungguh. Aku takut membayangkan kengerian
    yang akan kau alami nantinya. Oh… saat ini aku seperti
    melihat Tigor merenggangkan nyawanya karena tikaman badik
    ke tubuhnya…! Uh, mengerikan sekali, Ham! Sangat
    mengerikan!”
    Getir juga hati Hamsad mendengar kata-kata mereka, Ia
    makin beri debar-debar. Sudah lama ia berhenti merokok,
    namun kali ini ia menyahut rokok Yoppi dan menghisapnya.
    Barangkali ia mencari ketenangan jiwa dengan cara
    menghisap rokok. Namun, natanya ia masih saja kelihatan
    pucat dan tegang.
    “Aku tahu, apa yang dialami mereka yang habis bercinta
    dengan Kismi, tapi aku menjaga kesadaranku untu’k tidak
    berbuat seperti mereka,” kata Hamsad dongan gerak mata
    yang nanar karena hati berdebar-debar.
    “Apakah kau bisa?”
    “Harus bisa! Aku tidak boleh cengeng. Aku harus tegar
    dan…”
    “Norman bukan pemuda cengeng,” sahut Yoppi. “Dia
    pemuda yang tegar dan tidak mengenal kecengengan. Tetapi,
    nyatanya ia rapuh…!”

    88
    “Ia menikam dirinya sendiri dengan gunting,” sahut Ade.
    Kemudian, Yoppi melanjutkan,
    “Ia tidak bisa mengendalikan tangan kanannya yang
    beirgerak sendiri menikam dirinya…! Ham, aku curiga, di balik
    kematian mereka ada kekuatan gaib yang berperan tanpa
    mereka sadari. Kekuatan gaib itu… menurutku, berasal dari
    Kismi.”
    “Benar,” jawab Hamsad tegas.
    “Kalau kau tahu, mengapa kau lakukan?” sela Ade.
    Hamsad menghempaskan napasi “Sudah telanjur, De.
    Semuanya sudah telanjur. Aku tahu, Kismi sebenarnya sudah
    mati…!”
    “Ya, Tuhan…!” keluh Ade.
    “Kismi memang hantu, tetapi Kismi tidak seperti hantu.
    Aku… aku mencintainya, De.”
    “Gila kau!” geram Yoppi. “Kalau terjadi sesuatu padaku,
    kumohon, jangan ada yang mencobanya lagi. Lupakan
    tentang Kismi, dan jangan ada yang tergiur dengan cerita ini,
    juga jangan ada yang terpengaruh dengan cerita Almarhum
    Norman, Denny, maupun Tigor. Berbahaya! Aku akan
    mencoba mengalahkannya dengan caraku sendiri. Kalau aku
    gagal, berarti kalian akan gagal juga jika mencoba
    mengalahkannya…’:”
    Yoppi dan Ade sama-sama diam. Napas mereka terasa
    sesak. Mereka seakan berada di depan calon mayat. Mereka
    merasakan sesuatu kelengangan. Sepertinya, itulah saat -saat
    yang terakhir mereka bertemu dengan Hamsad. Yoppi sendiri
    terlihat begitu sedih dan cemas. Mungkin saat itu ia tak tahan
    menghadapi kenyataan, maka ia segera berdiri. Ia menepuknepuk
    punggung Hamsad. Ingin mengucapkan sesuatu,
    mungkin kata “Selamat jalan”, tetapi mulutnya tak mampu
    mengucap kata apa pun. Yoppi pergi begitu saja dengan
    desah napas yang terdengar oleh Hamsad dan Ade.
    Di rumah, Hamsad sendiri jadi gelisah. Ia dibayang-bayangi
    kenangan manis bersama Kismi di kamar motel itu. Kenangan
    manis itu menghantuinya, membuat ia tak dapat beristirahat

    89
    siang. Beberapa kali ia menelan telur ayam kampung yang
    masih mentah, meminum susu dan madu sebanyakbanyaknya.
    Ia ingin menutupi kepucatan wajahnya, agar tidak
    mencurigakan keluarga. Lalu, ia pun lebih sering mengurung
    diri di kamar. Benaknya berkecamuk terus, membuat ia
    menjadi pusing dan mual.
    Ketika sore hari, Dian, adik perempuannya, minta diantar
    ke rumah teman untuk suatu urusan. Hamsad sebenarnya
    malas keluar rumah. Tetapi, setelah dipikir-pikir, untuk
    menghilangkan kegelisahan yang menteror jiwanya, ia perlu
    mencari penyegar. Suasana di dalam kamar bisa mengurung
    jiwanya pada kenangan manis bersama Kismi. Maka, ia pun
    tidak keberatan mengantar Dian ke rumah temannya.
    Sepanjang perjalanan Hamsad tak banyak bicara. Biasanya
    ia banyak bercerita kepada Dian, baik mengenai teman
    kampusnya, atau mengenai cewek yang ditaksirnya. Dian
    menjadi heran melihat kakaknya murung dan
    menyembunyikan perasaan. “Ada apa, Ham?”
    Hamsad hanya melirik dan berkerut dahi, berlagak bingung.
    Dian melanjutkan kata-katanya, “Ada apa kau murung? Kau
    pucat sekali! Pasti kau punya persoalan! Aku tak yakin kalau
    kau terkena penyakit! Kau pasti punya masalah yang
    membuatmu stres begitu. Ada apa sih?”
    “Tidak ada apa-apa,” jawab Hamsad.
    “Ham, aku memang adikmu. Aku memang lebih muda
    darimu. Tetapi, otakku masih bisa mengungguli otakmu,” kata
    Dian yang kuliah di kedokteran, dua tingkat di bawah Hamsad.
    “Jadi, jangan sepelekan aku! Aku bisa membantu
    memecahkan problemmu. Banyak teman yang suka minta
    pendapat padaku, dan aku bisa mencarikan jalan keluarnya.”
    “Oke. Aku mengakui, kau memang cerdas. Tapi, untuk
    mengutarakan masalahku, aku perlu mempertimbangkan
    masak-masak.”
    “Kenapa begitu? Kau sangsi?”
    “Bukan soal sangsi, tapi ini menyangkut soal pribadi!”

    90
    “Aaah…! Kau mulai tertutup denganku, Ham! Itu tidak
    menguntungkan kamu…!”
    Berulangkali Dian membujuk kakaknya agar membeberkan
    masalah yang ada, tetapi Hamsad masih ragu-ragu. Banyak
    beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, dan itu semua
    membutuhkan tempo yang cukup lama.
    Sampai pulang dari mengantar Dian, Hamsad masih belum
    punya keputusan. Haruskah ia bicarakan masalahnya kepada
    keluarga? Apakah itu tidak akan mengganggu ketenangan
    keluarganya? Bagaimana jika keluarganya tahu, bahwa
    Hamsad di ambang kematian? Sudah tentu hanya akan
    membuat panik. O, tidak! Hamsad tidak mau masalah
    pribadinya membuat panik keluarga. Ia lebih baik
    menyimpannya sendiri, dan menanggung segala risiko
    sendirian. Ia tak ingin melibatkan keluarga.
    Pulang dari mengantar Dian, hari sudah malam. Tadi Dian
    mengajaknya mampir ke supermarket, dan Hamsad setuju.
    Pulangnya sudah cukup malam, dan Hamsad menjadi lebih
    gelisah lagi. Bayangan indah bersama Kismi semakin nyata,
    bahkan sempat membangkitkan gairah kejantanannya. Lalu,
    tiba-tiba ia menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
    “Lho, kok berhenti? Ada apa?!” tanya Dian merasa sangat
    heran.
    “Apakah kau mendengar seseorang memanggilku?”
    “Tidak,” jawab Dian.
    “Aneh. Dua kali aku mendengar seseorang memanggilku.”
    “Ah, ngaco! Tidak ada suara apa-apa kok! Ayolah,
    buruan…! Nanti papa dan mama ngomel kalau aku pulang
    kemalaman.”
    Hamsad melanjutkan perjalanan menuju ke rumahnya.
    Beberapa saat kemudian, laju mobilnya dikurangi. Ia
    menelengkan kepala, menyimak sesuatu dengan dahi
    berkerut.
    “Tuh, ada yang memanggil namaku berulangkah…!”
    katanya kepada Dian. Tetapi, Dian hanya menggerutu tak
    jelas. Hamsad kembali tancap gas.

    91
    Pada saat itu, ia baru teringat cerita tentang kematian
    Norman, Denny, dan Tigor. Menurut Susilo, sebelum Norman
    melakukan bunuh diri, anak itu juga mendengar suara
    seseorang memanggilnya. Tigor juga bercerita, bahwa Denny
    selalu merasa ada yang memanggilnya. Suara orang yang
    memanggil seperti suara Kismi. Dan, tak berapa lama, Denny
    bunuh diri. Menurut Bahtiar, sebelum Tigor bunuh diri, Tigor
    juga merasa ada yang memanggil-manggil. Konon, suara itu
    membuat Tigor menjadi sangat merindukan Kismi.
    Dan, sekarang? Sekarang Hamsad merasa mendengar
    suara Kismi memanggilnya. Apakah ia pertanda ia akan
    melakukan bunuh diri?!
    “Celaka kalau benar begitu,” geram Hamsad di dalam
    hatinya. “Padahal mereka berbuat bunuh diri seperti di luar
    batas kemauan hatinya. Ada kekuatan gaib yang
    menggerakkan tangan mereka untuk melakukan bunuh diri.
    Apakah aku juga demikian?”
    Ketika sampai di rumah, suara orang memanggilnya itu
    semakin jelas. Hamsad merinding sekujur badan. Ia berusaha
    menjaga, kesadarannya, menegakkan logikanya, tetapi ia juga
    merasa, bahwa dirinya sesekali terasa limbung karena dibuai
    oleh kenangan manis bersama Kismi. Hatinya berdebar-debar,
    seakan menuntut curahan rasa yang ada, yaitu rasa rindu
    kepada Kismi.
    “Gawat…! Aku harus bisa mengatasi emosiku sendiri…,”
    katanya dalam hati.
    Pikirannya berputar mencari cara. Lalu, ditemukan
    beberapa kemungkinan untuk menghindari gelagat yang
    membahayakan itu. Ia harus segera pergi ke pondokan Ade,
    dan meminta bantuannya. Ia tak mau membuat kegaduhan di
    rumah, sehingga keluarganya menjadi panik dan tegang.
    Dengan mengendarai mobil berkecepatan tinggi, Hamsad
    mulai terengah-engah diburu kegelisahan yang menyiksa.
    Rindu ingin bertemu Kismi membuat napasnya sukar dihela. Ia
    mencoba mengendalikan pikirannya agar tertuju pada temanTiraikasih

    92
    teman di pondokan, tetapi pikirannya itu justru menjadi kacau
    balau.
    “Hamsaaad…! Haaamsaaad…!”
    Suara Kismi terdengar memanggilnya sepanjang
    perjalanan. Suara itu jelas sekali mengalun, seakan-akan
    untuk mengajaknya bercumbu. Apalagi suara Kismi terdengar
    serak-serak manja, hati Hamsad semakin berdebar-debar.
    Rindunya mengembang dan meracuni pikirannya. Ia menahan
    perasaan itu sampai keluar keringat dinginnya. Ia menambah
    kecepatan mobilnya supaya segera tiba di pondokan, tetapi
    suara ‘Kismi itu semakin menyiksa jiwanya. Membuat Hamsad
    tegang dan kelabakan. Ia sempat melirik arlojinya, ternyata
    sudah pukul 10 malam lebih 45 menit. Ia hanya menggumam,
    “Hampir tengah malam…!”
    Pintu pagar halaman rumah pondokan itu tertutup
    sebagian. Hamsad tidak sempat turun dari mobil untuk
    membuka pintu halaman itu. Maka. ia langsung menabrak
    pintu tersebut dengan mobilnya, hingga menimbulkan suara
    gaduh yang mengagetkan semua penghuni pondokan itu.
    Dan, mobil berhenti tepat di depan kamar Ade. Sorot
    lampunya menyala terang, menyilaukan.
    Hamsad terengah-engah, masih belum mampu turun dari
    mobil. Kepalanya berdenyut-nyut, namun hatinya semakin
    dicekam rasa ingin bertemu dengan Kismi. Ia terkulai lemas di
    balik stiran mobil. Beruntung mesin mobilnya sempat
    dimatikan, sehingga sedikit aman.
    Para penghuni pondokan itu nyaris marah melihat sebuah
    mobil merusakkan pintu pagar mereka Tetapi, Bahtiar segera
    berteriak,
    “Hamsad…?!”
    “Siapa sih?!” seru yang lain.
    ‘Hamsad…!” jawab Yoppi juga. Ia berlari lebih dahulu
    mendekati mobil Hamsad dan berseru, “Ham…?! Ham, kau
    tidak apa-apa, kan?”
    Hamsad menggeram, “Tolong akuuu…!”

    93
    Yoppi agak ragu ketika hendak membukakan pintu mobil,
    tetapi setelah Bahtiar mendekat dan berkata,
    “Buka pintunya, bawa keluar dia!”
    Maka, Yoppi pun berani membukakan pintu mobil, lalu
    segera membantu Hamsad keluar dari mobil. Hamsad gemetar
    dan mengerang seperti suara orang merengek. Ia menyeringai
    bagai merasakan sesuatu yang amat sakit. Teman-teman yang
    lainnya pun segera mengerumuninya.
    “Tolong aku…! Ouh… tolooong, De…! Aku… aku… ah!”
    Hamsad terpelanting, nyaris jatuh. Kakinya amat lemas dan
    gemetar. Lalu, ia segera digotong ke bangku panjang, depan
    kamar Bahtiar. Ia dibaringkan di sana. Tetapi, mendadak ia
    meronta sambil menggeram, kejang.
    “Aku… oh… tolong jangan dekati aku! Aku ingin mati…!”
    kata-katanya menyeramkan bagi yang mendengar.
    “Ham, ingat! Ingat kau tidak boleh mati atas kemauanmu
    sendiri…! Ingat, Ham…!” kata Yoppi.
    “Aku ingin mati!” ia menggeram dengan ge-regetan.
    Matanya mendelik dan bergerak nanar, seakan mencari
    sesuatu. Dan, pada saat itu Yoppi pun gemetar dan berkata,
    “Celaka! Ia punya emosi untuk bunuh diri! Ia akan
    mengalami nasib seperti Tigor…!”
    Semua mundur, tegang. Napas mereka menjadi sesak, dan
    tubuh mereka merinding semua. Hamsad tersengal-sengal
    sambil menggerang-gerang. Matanya memandang mereka
    dengan liar. Giginya menggemelutuk dan otot-otot tubuhnya
    mulai mengeras. Ia masih sempat berusaha berkata,
    “Tolong aku…! Ouhhh… tolooong…!”
    ***
    Bab 11
    Mereka berkomat-kamit membaca doa dalam upaya
    menyadarkan Hamsad. Tetapi, nalurinya untuk bunuh diri
    semakin kuat dan mengacaukan kesadarannya. Dengan napas

    94
    yang tersendat-sendat dan bibir gemetar, Hamsad berkata
    kepada Ade, karena matanya yang liar itu tertuju pada Ade,
    “Ambil tali…! Tal… tali…!”
    Ade gugup, tak tahu harus mengambil tali ke mana. Yang
    lain juga sibuk mencari tali tanpa mengerti maksud Hamsad.
    Malahan Susilo berseru,
    “Jangan! Jangan beri tali dia! Dia mau gantung diri…!”
    Maka, semua yang sibuk mencari tali berhenti seketika.
    “Kismiii…! Aaaow…!” Hamsad mengerang setelah
    mendesah menyebutkan nama Kismi. Bayangan perempuan
    itu semakin kuat dan seakan meremat hatinya, menciptakan
    rasa sakit yang sukar dipahami.
    Kembali matanya yang nanar itu memandang Yoppi.
    “Taliii… cepat taliii…! Ikat tubuhku di pohon! Ikat kuat-kuat…!
    Oh, tolong…!”
    Barulah mereka mengerti maksud Hamsad yang
    sebenarnya. Dia minta diikat di pohon, supaya segala
    gerakannya terbatas. Maka, mereka sibuk mencari tali untuk
    mengikat tubuh Hamsad. Pada saat itu, terdengar lagi Hamsad
    berkata sambil memejamkan mata kuat-kuat, “Ada di… di
    mobil! Ada di mobilku…! Taliii…!”
    Ade berlari ke arah mobil, dan mendapatkan segulung
    tambang di samping tempat duduk sopir. Di situ juga terdapat
    borgol, gelang besi untuk pencuri, yang diperkirakan milik
    ayah Hamsad yang memang sebagai kepala polisi di sebuah
    resort. Ade membawa serta borgol yang siap digunakan itu.
    Tepat ketika Ade tiba kembali di depan Hamsad, pemuda
    diracun kerinduan itu menggeram sambil berkata,
    “Taaa… tanganku… oh, tanganku mau mengeras…! Ouh…
    tolong, tolong diborgol ke belakang! Cepat, cepat…! Cepat…!”
    Bahtlar merebut borgol dari tangan Ade, lalu ttegera
    memborgol kedua tangan Hamsad. Tangan kanan itu belum
    sempat menjadi kaku ketika ditautkan ke belakang dan
    dijadikan satu dengan tangan kiri, lalu diborgol keduanya.
    Crek…!

    95
    Sambil terengah-engah, Hamsad menyebut “Kismi”
    beberapa kali. Di sela kata-kata Kis-mi itu ia berkata, “Ikat
    aku…! Ikat di pohon mangga, belakang kamar mandi itu…!
    Lekas…, bawa aku ke sana…! Ouh…, Kismi! Aku ingin
    bertemu Kismi…!”
    Lukman yang berbadan besar segera membawa Hamsad ke
    pohon mangga. Yoppi dan Ade membantu mengikat tubuh
    Hamsad, dijadikan satu dengan batang pohon.
    “Ikat yang kuat! Jangan sampai ia bisa bergerak,” kata
    Bahtiar dengan gugup.
    Tali itu cukup panjang. Agaknya Hamsad berhasil
    menyiapkan peralatan yang sederhana itu, sehingga tubuhnya
    berhasil diikat dari dada sampai ke kaki. Ia seperti seorang
    tawanan yang siap dihukum tembak. Sementara Hamsad
    menggeram dan terengah-engah, mulut-mulut yang lainnya
    gemetar tidak berani bicara. Dalam hati mereka timbul
    perasaan macam-macam, antara kasihan, takut dan heran
    bercampur menjadi satu, membuat mereka hanya terbengongbengong
    dengan jantung berdebar-debar.
    Lonceng di gardu ronda terdengar samar-samar satu kali.
    Itu pertanda malam telah melewati pertengahan, dan sepi
    kian menghadirkan kesunyian. Saat itulah, masa-masa
    kemunculan Kismi ke kamar seruni pada motel tersebut.
    Namun, kali ini bukan Kismi yang muncul menemui Hamsad,
    melainkan kerinduannya yang amat menyiksa. Gairah ingin
    bercumbu meluap-luap. Birahi Hamsad bagai membakar jiwa.
    Menuntut satu pelampiasan yang nyata, namun ia tidak
    mampu berbuat apa-apa karena tubuhnya terikat kuat di
    pohon sedangkan kedua tangannya diborgol ke belakang.
    Hamsad mengerang dengan otot leher menjadi bertonjolan
    keluar. Ia menahan gejolak hasratnya yang membara di luar
    kewajaran.
    “Ta… tang… tanganku… tanganku… kakkk… kaku! Iaaa…
    ia mau bergerak sendiri…! Oh… ouh…! Aaaow…!”
    Hamsad memekik tertahan dengan kepala mendongakdongak,
    seakan berusaha keras untuk dapat melepaskan

    96
    tangan kanannya dari borgol. Ia juga menggerak-gerakkan
    badannya, bagai ingin meronta dari ikatan. Tetapi, ia tidak
    berhasil. Ikatan terlalu kuat dan borgol pun cukup kokoh
    menautkan tangan kanan dengan tangan kirinya. Jiwanya
    bagai terbagi dua, antara ingin bunuh diri dan ingin melawan
    hasratnya itu. Akibatnya Hamsad tiada habisnya mengerang,
    menggeram dan meronta-ronta.
    Mereka merasa terharu melihat Hamsad susah payah ingin
    melepaskan diri. Susilo sempat berkata, “Kasihan dia!
    Lepaskan saja…!”
    Saat itu, Hamsad sempat berkata sambil menggeram
    seperti orang kesurupan, “Jang… jangan…! Ouh, yaaah…
    jangan! Jangan lepaskan…! Aaaoh… panggil Kismi! Panggil
    Kismi… oh, aku ingin bertemu dengannya di alam kubur…!
    Kismiii…!” Hamsad mengejang-ngejang. Tangan kanannya
    bergerak-gerak dengan kasar. Ia kelihatan amat menderita
    sekali. Teman-temannya banyak yang membaca doa kembali
    untuk membebaskan Hamsad dari cekaman gaib yang
    mengancam keselamatan itu.
    Sesaat, terdengar lagi Hamsad meminta sesuatu tanpa
    menatap salah seorang. Ia memejamkan mata sambil berkata
    dalam erangan,
    “Tutup mulutku…! Oh…! Tutup mulutku dengan kain…!
    Lekaaas…! Aku ingin berteriaaak…! Lekaaas…!”
    Bahtiar meraih sarung yang ada di tali jemuran dalam.
    Sarung itu segera digunakan untuk menutup mulut Hamsad,
    diikatkan ke belakang, sehingga praktis sarung itu juga
    mengikat kepala Hamsad dengan batang pohon.
    ‘Hidungnya jangan ikut ditutup, Tiar! Biar ia bisa bernapas!”
    saru Lukman dengan perasaan cemas bercampur kasihan.
    Malam menghadirkan desiran angin pembawa embun.
    Dingin. Ada kesan lengang di sela desiran angin itu. Seakan
    angin berhembus tanpa desau dan suara apa pun. Hal itu
    membuat mereka yang ada di depan Hamsad menjadi
    merinding dicekam rasa takut. Apalagi mereka mendengar

    97
    anjing di rumah belakang pondokan itu melolong panjang
    bagai irama menjelang ajal. tubuh mereka semakin bergidik.
    Sementara itu, Hamsad masih meronta-ronta. la berteriak
    keras-keras, namun suaranya teredam kain sarung yang
    menutup mulutnya rapat-rapat. Tangan kanannya makin
    agresif, berusaha untuk melepaskan diri dari ikatan gelang
    borgol besi itu. Kakinya pun mulai bergerak-gerak, berusaha
    melonjak, dan pundaknya meliuk-liuk, ingin melepaskan diri
    dari ikatan tali yang kuat. Hamsad tak bisa berkata apa-apa.
    Hanya suaranya yang menggeram disekap kain dan matanya
    yang melotot bagai ingin keluar itulah ang membuat temantemannya
    tak berani menatapnya langsung. Doa-doa masih
    diucapkan oieh mereka dengan perasaan sedih. Bahkan Susilo
    mengusap kedua matanya yang mulai berkaca-kaca,
    memandang haru keadaan Hamsad.
    Angin semakin berhembus kencang, merontokkan banyak
    dedaunan dari pohon tersebut. Tak lama kemudian, gerimis
    pun turun. Mereka semakin panik dan serba bingung. Namun,
    saat itu mereka juga menepi menghindari rintikan gerimis di
    ujung dini. Bahkan kali ini, gerimis itu telah berubah menjadi
    hujan yang deras.
    “Lepaskan dia! Dia kehujanan…! Dia menggigil di sana!”
    kata Susilo dengan panik.
    “Tenang, Sus.Itu cara yang dipilihnya,” kata Bahtiar.
    ‘Tapi kita harus tahu perasaan! Itu cara yang tidak
    manusiawi!” bentak Susilo.
    “Kalau dia kita lepaskan, maka ia akan bunuh diri! Apakah
    itu manusiawi?!” balas Bahtiar dalam serentetan bentakan
    kasarnya. Lukman segera melerai percekcokan mereka.
    Gelegar suara petir di angkasa terdengar mengejutkan
    mereka. Hamsad masih berusaha berontak dari ikatan dan
    borgolnya. Jeritannya teredam kain sarung sehingga tak
    terdengar keras. Hujan deras mengguyur tubuhnya di sela
    per-cikan cahaya petir yang menggelegar beberapa kali.
    “Bahaya! Dia bisa tersambar petir jika diam di bawah
    pohon!” kata Susilo sangat tegang. Lama-lama, Susilo tidak

    98
    sampai hati melihat Hamsad diguyur hujan dan petir dalam
    keadaan terikat, lalu ia pun berlari menerobos derasnya hujan
    dan bermaksud membukakan tali pengikat tubuh Hamsad.
    “Sus…! Jangan!” teriak Yoppi.
    Ade segera melompat menyusul Susilo dan menarik kaos
    yang dikenakan Susilo sambil berkata,
    “Kau mau membunuh teman sendiri, hah?! Kau mau
    membiarkan teman bunuh diri?!”
    “Dia bisa mati tersambar petir, tahu?!” Susilo membetot,
    tetap ingin mendekati Hamsad, tetapi Ade menyeret Susilo
    hingga anak itu terpelanting jatuh.
    “Bangsat kau…!” teriak Susilo lepas kontrol.
    Ia hendak memukul Ade, tapi tangannya segera dipegang
    Lukman yang berbadan besar, Lukman menyeret Susilo ke
    teras sambil berkata,
    “Kuasai emosimu, Sus! Saat ini gunakanlah otakmu, jangan
    hanya perasaanmu!”
    Susilo tak dapat berbuat banyak dalam cengkeraman
    Lukman. Akhirnya ia tak tega menghadapi penderitaan
    Hamsad, ia segera masuk ke kamar dan mengunci kamarnya
    dengan kasar.
    Tak berapa lama, hujan pun reda. Gerakan Hamsad mulai
    melemah. Memang masih terlihat napasnya terengah-engah,
    tetapi tangan kanannya yang sejak tadi berusaha ditarik keluar
    dari borgol, kali ini tampak melemas.
    Pukul 12 lewat, saat itu, mereka melihat Hamsad terkulai
    pingsan di tempat. Tetapi, mereka masih belum berani
    melepaskan ikatan pada tubuh Hamsad. Bahtiar berkata,
    “Tigor dulu juga pingsan karena dipukul Lukman, tetapi
    tangan kanannya bisa bergerak sendiri, dan menikam dadanya
    beberapa kali. Jadi, kurasa tangan kanan Hamsad pun bisa
    melakukan hal yang serupa jika kita lepaskan ikatan tali dan
    borgolnya.”
    “Sebaiknya tunggu sampai subuh tiba,” kata Yoppi, dan
    yang lainnya setuju.

    99
    Maka, ketika mendengar suara adzan subuh, mereka baru
    mulai berani melepaskan ikatan Hamsad. Tetapi, borgol itu tak
    dapat dilepaskan, karena mereka tidak tahu di mana Hamsad
    menaruh kunci borgol. Hamsad digotong ke kamar Bahtiar,
    dan mendapat pertolongan sebagaimana mestinya. Tangan
    kanannya berdarah, karena berulangkali memaksakan diri
    untuk lolos dari borgol. Semua mata yang memandangnya
    merasa iba dan semakin kasihan kepada Hamsad. Tetapi,
    ketika Hamsad siuman, ia justru merasa lega karena telah
    selamat dari ancaman maut, yaitu bunuh diri di luar
    kesadaran. Roh yang masuk ke tangan kanannya telah
    berhasil dijerat dengan akalnya, sehingga tangan kanan itu tak
    bisa bergerak sendiri, seperti yang terjadi dalam kasus
    kematian Norman, Denny, dan Tigor.
    Di depan mata mereka, Hamsad memang berhasil lolos dari
    ancaman maut kekuatan gaib tangan kanannya, tetapi apakah
    itu berarti Hamsad menjadi jera? Apakah itu membuat
    Hamsad puas dengan dirinya?
    Tidak! Hamsad masih penasaran. Ia masih menyimpan
    rindu kepada Kismi, walau rindunya itu tidak meracun jiwa.
    Tetapi, karena rindunya itu ia jadi datang kembali ke Motel
    Angel Flowers, dan membocking kamar Seruni. Kamar itu
    masih kosong. Barangkali memang tidak ditawarkan kepada
    tamu lain oleh petugas motel, karena mereka takut tamutamunya
    mengecam akibat kamar angker tersebut. Hanya
    saja, karena Hamsad memaksa untuk menyewa kamar Seruni,
    maka petugas resepsionis tak bisa lagi menghalanginya.
    Kamar itu tetap seperti dua malam yang lalu. bersih,
    teratur rapi. Taplak meja di ruang tamu masih sama,
    berwarna biru muda. Kursi meubel-nya juga masih sama,
    terletak melingkar, menghadap ke dinding kaca depan. Hanya
    saja, letak pot besar yang memuat tanaman sejenis palm itu
    bukan lagi di samping pintu, melainkan ada di sudut ruangan,
    dekat dengan buffet penghias ruangan. Selebihnya tak ada
    yang berubah. Bahkan warna seprei dan selimutnya pun tetap

    100
    sama. Ini semakin mengingatkan Hamsad pada masa-inasa
    indah yang pernah ia lewati bersama Kismi di kamar tersebut.
    Hamsad masuk pada pukul 7 malam dengan tangan dibalut
    perban. Luka pada tangan kanannya itu terasa perih jika tidak
    dibalut perban, seperti seorang petinju yang belum
    mengenakan sarung tinjunya. Dengan dibalut perban begitu,
    rasa perih tersebut berkurang, dan konsentrasi Hamsad tidak
    terlalu terganggu oleh rasa perih.
    Sebelumnya, Hamsad telah menyiapkan segala sesuatunya
    yang diperlukan. Tabungannya diambil sebagian dari bank.
    Lalu, ia membeli sebotol madu asli, susu, telur ayam kampung
    sampai 24 butir, anggur ginseng, super mie, dan beberapa
    obat yang berguna untuk memulihkan kesehatan badan serta
    menjaga stamina tubuh. Hamsad sempat tertawa sendiri
    ketika membeli barang-barang tersebut. Tetapi, ia akhirnya
    tidak peduli, karena semua itu memang ia butuhkan untuk
    memulihkan tenaganya yang nyaris terkuras habis akibat
    pergulatannya melawan emosinya kemarin malam.
    Menunggu sampai lewat tengah malam, adalah pekerjaan
    yang menggelisahkan bagi Hamsad. Ia berbaring sambil
    menyaksikan acara TV, satu-satunya hiburan yang ada di
    kamar tersebut. Sampai tak terasa, ia pun tertidur di tempat.
    Mungkin karena kelelahan yang luar biasa, sehingga ia sampai
    tertidur dan lupa mematikan TV.
    Kalau saja ia tidak mendengar suara orang mandi, mungkin
    ia tidak akan terbangun sampai pagi. Tapi, karena ia
    mendengar desis kran shower di kamar mandi dan
    gemericiknya air, maka ia pun terperanjat bangun. Lalu,
    hatinya bertanya heran, “Siapa yang mandi? Rasa-rasanya aku
    tidak membawa teman?!”
    Buru-buru Hamsad menengok arlojinya di meja, lalu ia
    menggumam, “Oh, pantas. Sudah pukul 12 lewat 23 menit.
    Sudah lewat tengah malam…!”
    Maka, hati Hamsad pun mulai berdebar-debar, karena ia
    tahu bahwa orang yang mandi itu tak lain dari Kismi. Gemetar
    langkahnya ketika ih mengendap-endap mendekati kamar

    101
    mandi yang pintunya tak tertutup itu. Pada saat langkahnya
    makin dekat, kran shower itu berhenti, bagai ada yang
    mematikan. Hamsad semakin berdebar dan merasa heran.
    Tapi, ia nekat mengendap-endap untuk mengintip siapa
    gerangan ynng mandi di tengah malam ini.
    “Jangan seperti pencuri, Hamsad…!” terdengar suara dari
    dalam kamar mandi. Dan, suara itu jelas suara Kismi yang
    serak-serak manja, Hamsad lalu menampakkan diri dengan
    cengar-cengir. Matanya tak berkedip memandang tubuh mulus
    berkulit kuning langsat itu dalam bintik-bintik air yang hendak
    disapu dengan handuk. Mamsad buru-buru masuk dan
    menyahut handuk dari tangan Kismi.
    “Jangan hapus…!”
    “Hamsad…?! Aku dingin…!”
    “Biarkan aku memandangi tubuhmu yang tersiram bintikbintik
    air ini. Oh… begitu indahnya kau dalam keadaan basah
    begini, Kismi…,” bisik Hamsad sambil menatapi tubuh polos itu
    Kismi kepala sampai ke kaki.
    “Konyol kamu, ah!” Kismi berusaha meraih handuk, dan
    Hamsad menyembunyikannya di belakang tubuhnya.
    Jari-jemari Hamsad meraba tubuh itu, bagai menyentuh
    butiran-butiran airnya dari pundak ke dada. Kismi
    membiarkan, justru tertawa dalam desah, dan terdengar nada
    seraknya yang seakan kemanjaan itu.
    “Maaf, aku membangunkanmu, Hamsad,” kata Kismi sambil
    membiarkan ujung jemari Hamsad merayap samar-samar di
    permukaan kulit tubuhnya.
    “Aku tertidur menunggumu,” kata Hamsad tanpa menatap.
    “Aku tahu, dan aku merasa semakin kagum padamu,
    Hamsad.”
    “Dalam hal apa?” tanya Hamsad setelah mencibir.
    “Tak pernah ada lelaki yang lolos dari dendam Cincin
    Zippus, kecuali kau.”
    Kali ini, Hamsad menatapnya. “Dendam cincin…?!” Hamsad
    memperjelas keheranannya.

    102
    “Setiap lelaki yang bercinta denganku, ia pasti mati oleh
    tangan kanannya sendiri, sebab di tangan kananku itulah
    Cincin Zippus melekat sampai sekarang. Kutukan Cincin Zippus
    akan merasuk dalam tangan kanan lelaki yang bercinta
    denganku, dan lelaki itu pasti akan mati oleh kutukan Zippus,
    yang menggunakan bantuan tangan korban sendiri. Dan,
    kau…?” Kismi tersenyum sambil geleng-geleng kepala. “Kau
    hebat sekali! Kau bisa lolos dari kutukan. Itu
    mengagumkan…!”
    “Kau juga mengagumkan! Perempuan lain bisa kuabaikan,
    tapi kau tidak sama sekali…,” Hamsad tersenyum, Kismi
    mengikik serak, kemudian ia mengecup kening Hamsad.
    Tetapi, balasan Hamsad lebih panas dari lahar gunung berapi.
    Sekujur tubuh Kismi dirayapinya dengan bibir dan lidah,
    membuat Kismi merintih di sela desah, melebarkan tubuhnya,
    memberi kesempatan Hamsad agar lebih leluasa. Lalu, kamar
    mandi itu menjadi arena berpacu bagi napas-napas yang
    memburu puncak kemesraannya.
    ***
    Bab 12 tamat
    Keduanya ternyata memang pasangan yang tak pernah
    mengenal lelah. Banjir keringat bukan penghalang bagi
    mereka untuk terus berpacu. Kali ini, ranjang menjadi
    tumpuan amukan birahi mereka. Seprei kasur menjadi lusuh.
    Morat-marit tak karuan. Kismi mengamuk setiap birahinya
    melambung tinggi, melahirkan pekik dan ringkikan yang serakserak
    manja. Dan, suara itu membuat Hamsad makin
    menggebu-gebu dalam cumbuannya, makin dibakar
    gairahnya, meskipun ia sudah berulangkali melambung tinggi
    mencapai puncak harapannya.
    Di awal dini, akhirnya petualang cinta mereka berhenti.
    Kismi yang memohon agar Hamsad mengakhiri ‘pelayarannya’
    saat itu juga.

    103
    “Hari sudah menjelang pagi, dan kita harus berpisah lagi,
    Hamsad,” kata Kismi memberi pengertian dengan sabar dan
    lembut.
    Hamsad mendesah, seakan tak mengizinkan Kismi pergi. Ia
    memeluk perempuan itu dalam satu rengek kemanjaan
    seorang lelaki. Erat sekali ia memeluk Kismi, sehingga Kismi
    merasa kehadirannya sangat dibutuhkan oleh Hamsad disetiap
    saat. Kismi menjadi haru. Ia mencium Hamsad beberapa kali,
    bahkan kini ia juga memeluknya erat-erat dengan kedua kaki
    menggamit tubuh Hamsad.
    “Aku juga tidak ingin berpisah,” bisik Kismi. ‘Tapi
    keadaanku tidak mengizinkan kasih kita selalu berpadu
    sepanjang hari, bahkan sepanjang masa, Hamsad.”
    “Aku ingin memilikimu, Kismi. Aku ingin membanggakan
    kekasihku kepada mereka!”
    “ltu tidak mungkin, Hamsad. Ada penghalang di antara
    kita.”
    “Aku akan menembusnya, Kismi! Aku akan menghancurkan
    penghalang itu!” ucap Hamsad dalam pelukannya. “Apa pun
    yang harus kutempuh, aku harus bisa memiliki kamu, Kismi.
    Aku tak mau tersiksa seperti kemarin malam lagi. Aku tak
    mau!”
    Kismi merasa kaget, dan bingung juga menggadapi sikap
    lelaki seperti Hamsad. Ia masih memeluk Hamsad,
    membiarkan Hamsad tengkurap di atasnya Tangan Kismi
    mengusap-usap kepala Hamsad dengan lembut, seakan satu
    curahan rasa kasih sayang yang tak ingin berakhir sampai di
    situ.
    Setelah melalui masa bungkam yang mendalam, Kismi pun
    berkata lirih,
    “Carilah potongan tanganku, dan tempelkan pada jasadku,
    maka aku akan hidup kembali dan kita bisa berdua ke mana
    saja, Hamsad.”
    Kali ini, Hamsad menarik wajahnya, ia mengatur jarak
    dengan menggunakan kedua lengan dipakai bertumpu di

    104
    kasur. Ia memandang Kismi yang terbaring di bawahnya, lalu
    bertanya,
    “Bukankah kedua tanganmu dalam keadaan lengkap, tak
    kurang satu apa pun?”
    Kismi menggeleng, wajahnya sendu. “Ini tangan semu.
    Tangan yang ada dalam khayalanmu saja. Jasadku ini juga
    jasad yang ada dalam khayalanmu, Hamsad. Itulah sebabnya
    kukatakan, bahwa di antara kita ada batas penghalang, yaitu
    khayal dan kenyataan! Terkadang manusia tidak bisa
    membedakan keduanya. Kau tidak bisa melihat, bahwa tangan
    kananku ini sebenarnya buntung. Dipotong oleh Rendy, bekas
    kekasihku yang punya penyakit syaraf.”
    “Di mana orang itu sekarang?”
    “Ada di neraka. Kau mau ikut ke neraka?”
    Hamsad menghempaskan napas. Ia masih belum mau
    melepas hubungan kasihnya, dan tetap membiarkan dirinya di
    atas Kismi. Lalu, dengan suara sedikit bimbang ia bertanya,
    “Di mana kau dibunuh oleh Rendy?”
    “Di kamar ini!”
    “Dan, potongan tanganmu di simpan di mana?”
    “Entahlah. Mungkin di kamar ini, mungkin di tempat lain.
    Dibuang begitu saja. Carilah, dan letakkan pada jasadku yang
    bersemayam di dalam kotak kaca, maka rohku yang ada di
    dalam batu Cincin Zippus itu akan membuatku hidup kembali.
    Kematianku yang ketiga nanti, adalah kematian yang sejati.
    Tapi, saat ini, aku masih bisa hidup dan menikmati kehidupan
    selayaknya manusia biasa…!”
    Hamsad mendesah, lalu menegaskan kata, “Akan kucari
    potongan tanganmu itu sampai dapat!”
    “Tapi, hati-hati, Hamsad. Dia ganas! Dia memendam kutuk
    dan dendam! Dialah yang semalam berusaha ingin
    membunuhmu!”
    Merinding juga Hamsad jika teringat peristiwa kemarin
    malam. Tapi, demi teringat kemesraan dan cintanya kepada
    Kismi, Hamsad tetap bertekad untuk mencari potongan tangan
    kanan Kismi. Hanya saja, di mana potongan tangan itu

    105
    dibuang oleh Rendy, atau disembunyikan? Ah… itu satu hal
    yang sulit bagi Hamsad. Sukar ditentukan secara logika.
    Sepanjang siang, Hamsad memikirkannya sambil mondarmandir
    di dalam kamar, terkadang ia meneliti keadaan tanah
    di luar kamar, mencari kemungkinan di mana tangan Kismi
    disembunyikan Rendy.
    Semuanya dilakukan secara diam-diam agar tidak
    menimbulkan kecurigaan orang lain, terutama petugas motel
    itu. Beberapa batu dibongkarnya, dan dikembalikan seperti
    semula jika ternyata tidak terdapat apa yang dicari. Beberapa
    tanah di korek-koreknya, dan dikembalikan seperti semula
    karena tak ada tanda-tanda tangan Kismi di sana.
    “Kamar ini harus kutelusuri lebih dulu,” pikir Hamsad.
    “Mungkin membutuhkan waktu sehari penuh. Kalau memang
    di kamar ini tidak ada, berarti aku harus mencari ke tempat
    lain, mungkin di pinggir sungai, di pinggir selokan, atau… ah,
    memang sulit ditentukan. Tetapi, seandainya aku menjadi
    Rendy, apa yang kulakukan setelah aku membunuh Kismi dan
    memotong tangannya?” Hamsad berpikir keras.
    Membayangkan seandainya dia menjadi Rendy yang
    berpenyakit syaraf, apa yang akan dilakukan terhadap
    potongan tangan itu? Kemudian, batinnya berkata, “Mayat
    akan kutinggalkan, supaya orang-orang terkejut menemukan
    mayat Kismi, lalu tangan itu…? Hm… tangan itu akan
    kuletakkan di tempat tertentu di kamar ini. Tak perlu repotrepot
    membawanya pergi dan membuangnya. Cukup
    diletakkan di suatu tempat, sehingga suatu saat akan ada
    orang yang terkejut menemukan tangan itu. Lalu, ia akan
    berteriak ketakutan, dan aku akan puas mendengarnya!”
    Hamsad menghempaskan tubuhnya, duduk di ruang tamu.
    “Itulah pikiranku jika aku menjadi Rendy yang sinting.
    Sekarang, di mana tangan itu disembunyikan yang kira-kira
    bisa membuat orang terkejut?” Setelah berpikir beberapa saat,
    Hamsad berkata sendiri, “Di almari…! Buffet, kulkas, almari
    dapur dan… dan bawah kasur!”

    106
    Bergegas dia memeriksa tempat-tempat tersebut dengan
    teliti. Ternyata tempat yang diperkirakan itu tidak menyimpan
    tangan Kismi. Ia mendesah kesal. Hatinya berkata,
    “Bagaimana dengan tempat penampungan air closet? Jika ada
    yang membukanya pasti akan menjerit karena melihat
    potongan tangan terapung!”
    Lalu, ia pun memeriksa tempat penampungan air WC, yang
    secara otomatis akan mengguyur closet itu jika habis dipakai
    seseorang. Ternyata di sana juga tidak ada. Hamsad mulai
    kesal. Ia melihat plafon kamar mandi yang terbuka pada
    gagian sudutnya. Hatinya berkata, “Oh, ya, ya…apa salahnya
    jika kuperiksa bagian atas eternit ? Siapa tahu potongan
    tangan itu dilemparkan begitu saja di dalam eternit itu?!”
    Dengan susah payah Hamsad memeriksa langit-langit
    kamar mandi, dan seluruhnya. Isinya tanya kabel-kabel
    instalasi listrik yang malang-melintang. Tak ada potongan
    tangan di sana. Hamsad sudah mencarinya dengan teliti,
    sampai jeluruh pakaian dan tubuhnya menjadi kotor oleh
    debu.
    “Ke mana, ya?” pikirnya sambil garuk-garuk kepala.
    Mendadak, telepon berdering. Petugas resepsionis
    mengingatkan ckeck-out hampir tiba, lalu menanyakan apakah
    Hamsad mau melanjutkan sampai beberapa malam, atau
    cukup untuk hari itu saja? Karena Hamsad digelayut rasa
    penasaran dan tekad untuk menemukan potongan tangan itu
    menggebu-gebu, maka ia bermaksud memperpanjang waktu
    sampai besok siang.
    “Sial! Benar-benar sulit menemukan potongan tangan itu!”
    gerutunya dengan nada kesal. “Ah, sebaiknya aku istirahat
    dulu. Semalaman aku tidak tidur. Siapa tahu setelah bangun
    tidur nanti aku menemukan gagasan yang lebih baik…!”
    Hamsad menyuruh room-boy untuk membereskan
    kamarnya, sementara itu ia mandi, merendam diri di air
    hangat, yang mampu mengurangi rasa capeknya itu.
    Ketika ia merebahkan diri, benaknya terbayang kecantikan
    Kismi dan kehebatan wanita itu di atas ranjang. Alangkah luar

    107
    biasa bangganya jika Hamsad bisa memperistri wanita cantik
    seperti Kismi. Alangkah bahagianya nanti jika ia telah hidup
    bersama Kismi. Angan-angannya pun mulai melambung tinggi,
    menciptakan sejuta keindahan yang ada pada khayalnya.
    Berulangkah hatinya berucap tekad, “Aku harus memiliki dia!
    Aku harus memiliki Kismi. Aku sangat mencintainya…!” Lalu, ia
    pun tertidur.
    Tak diduga ternyata Hamsad tertidur cukup lama. Ketika ia
    bangun, ia mendapatkan alam telah meremang, matahari
    senja tinggal seujung rambut dan memancarkan warna merah
    lembayung di perbatasan samudera. Debur ombak terdengar
    jelas, karena angin senja berhembus tanpa suara. Badannya
    segar dari segala kepenatan, apalagi ia telah meminum susu,
    telur mentah, madu dan lain sebagainya. Namun demikian,
    perutnya toh masih terasa lapar juga, sehingga ia memesan
    makanan untuk pengisi perutnya.
    Sambil menikmati makanannya, Hamsad berpikir-pikir
    tentang potongan tangan Kismi. Tadi siang, semua tempat
    sudah diperiksanya. Kini tinggal bagian dinding dan lantai.
    Maka, seusai menyantap makanannya, Hamsad kembali
    beroperasi, memburu tangan Kismi. Setiap dinding diketuknya
    pelan-pelan, didengarkan suara ketukannya. Jika menggema,
    berarti tempat itu berongga. Besar kemungkinan di situlah
    tangan tersebut disembunyikan. Semua dinding diketuk. Rata.
    Dan, itu memakan waktu cukup lama, karena ia kerjakan
    dengan cermat dan hati-hati.
    Sayang, hasilnya tidak memuaskan. Tidak ada dinding yang
    patut dicurigai. Tak ada rongga di dalam dinding tersebut.
    Bahkan dinding kamar mandi dan dapur pun telah
    diperiksanya, dan hasilnya nihil. Sekarang giliran lantai yang
    menjadi pusat perhatiannya. Saat itu, malam telah lama
    menebarkan kegelapan. Arlojinya menunjukkan pukul 8 lewat
    15 menit.
    Lantai kamar terbuat dari ubin marmer warna putih kebirubiruan.
    Berukuran 40×40 cm tiap lempengan ubin. Dengan
    tekun Hamsad mengetuk-ngetuk setiap ubin, mencari ruangan

    108
    di bawahnya. Dari lantai teras, masuk ke ruang tamu, masuk
    ke ruang tidur dan terus ke kamar mandi, tidak ada ubin yang
    menimbulkan gema jika diketuk. Berarti tidak ada bagian yang
    berongga.
    Sejenak pintu diketuk. Hamsad terperanjat. Ia menggumam
    dalam hati, “Belum lewat tengah malam, mungkinkah Kismi
    datang?”
    Oh, ternyata seorang pelayan restoran yang datang dan
    menyodorkan bon makanan yang dipesan Hamsad. Hempasan
    napas menandakan Hamsad mengalami kelegaan ketika
    mengetahui yang datang pelayan restoran itu. Ia segera
    memberikan selembar uang puluhan ribu tanpa kembali, dan
    pelayan itu pun pergi.
    Ketika ia hendak kembali ke ruang belakang, meneruskan
    pekerjaannya yang menyita waktu itu, ia sedikit merasa heran.
    “Seingatku, pot besar itu kemarin ada di sudut sana,
    kenapa sekarang berada di sini, di dekat pintu? Siapa yang
    memindahkan?” Kemudian, Hamsad tertawa sendiri dan
    menggumam, “Sial! Room-boy yang membereskan kamar
    sewaktu aku mandi siang tadi, pasti telah memindahkannya
    kemari. Dan… ah, pikiranku sekarang mudah curiga. Bukan
    kepada manusia, kepada benda pun punya kecurigaan!
    Gawat! Jangan-jangan aku menjadi sinting!” sambil
    menggumam begitu, ia melangkah ke belakang.
    Sekarang, bagian dapur ia periksa lantainya. Satu demi
    satu diketuknya menggunakan gagang obeng besar yang ia
    ambil dari dalam mobilnya di garasi. Dan ternyata, salah satu
    dari ubin itu menimbulkan gema ketika diketuk. Hamsad mulai
    berdebar-debar. Apa yang dicarinya mulai menumbuhkan
    harapan. Kemudian, ia segera membongkar ubin tersebut
    dengan menggunakan obeng besar dan kunci pas dari dalam
    mobilnya. Kunci digunakan untuk memukul gagang obeng,
    sedangkan mata obeng sendiri berfungsi sebagai alat
    pemotong semen perekat sambungan ubin.
    Lama juga membongkar satu lempeng ubin itu, karena
    semennya cukup keras. Kalau petugas motel mengetahui,

    109
    pasti pekerjaan itu dilarang. Tetapi, Hamsad yang sudah
    telanjur penasaran itu tidak peduli dengan akibatnya. Ia tetap
    membongkar ubin itu dengan sabar, sekalipun sudah
    memakan waktu hampir satu jam lamanya.
    Napas terhempas lega. Ubin sudah berhasil dibongkar.
    Kemudian, dengan hati-hati dan berdebar-debar, ia
    mengangkat ubin tersebut untuk dipindahkan ke sampingnya.
    “Sial…!” cacinya dengan kesal. Di bawah ubin itu memang
    ada rongga, tanah kosong, tetapi di situ ada pipa saluran air
    yang agaknya pernah terpotong dan disambung lagi. Tidak
    ada tangan Kismi, tidak ada tanda-tanda lain. Hanya pipa
    saluran air dengan sambungannya.
    “Uuuh…! Brengsek! Sudah capek-capek membongkar,
    berkeringat, gemetar, eh… isinya pipa air! Konyol!” gerutu
    Hamsad seraya meletakkan kembali ubin tersebut pada
    tempatnya, tanpa menutupnya dengan semen seperti semula.
    Ia terpaksa mandi saat itu juga, karena selain tubuhnya
    berkeringat juga kotor karena tanah. Selesai mandi, ia
    membubuhkan parfum penyegar badan sambil matanya
    melirik ke arloji di meja. Oh, sudah pukul 10 malam lebih 50
    menit?
    “Aku harus bersiap menyambut kedatangan Kismi. Ia akan
    semakin mengagumiku jika aku berpakaian rapi dan
    menunggunya di ruang tamu!” kata Hamsad sendirian, seperti
    orang gila.
    Susu, madu dan telur yang dicampur ginseng, segera
    ditenggaknya habis. Kemudian, ia duduk di meubel tamu,
    santai. Sekaleng bir tersedia di atas meja, depannya. Sebuah
    majalah milik Dian yang tertinggal di mobil bisa dijadikan
    bahan bacaan menunggu lewat tengah malam.
    Penat juga membuang waktu lama dengan duduk-duduk.
    Maka, Hamsad pun pindah tempat. Kali ini ia melonjorkan kaki
    di sofa dengan santai sambil meneruskan membaca majalah.
    Tetapi, pada saat majalahnya menyentuh daun tanaman
    dalam pot, Hamsad jadi terkejut.

    110
    “Aneh. Beberapa jam yang lalu pot ini ada di dekat pintu,
    kok sekarang ada di sini lagi? Siapa yang memindahkan?” Ia
    memperhatikan pot besar berisi tanaman sejenis palm yang
    daunnya mirip daun mangga. Dahinya berkerut ketika
    memperhatikan tanaman tersebut. Jelas tadi ia sempat curiga,
    karena tanaman itu ada di dekat pintu. Sekarang ia semakin
    curiga, karena tanaman itu ada di sudut, dekat dengan sofa
    Tangan Hamsad secara tak sadar mematahkan ujung daun
    tersebut. Dan, ia terbelalak kaget, karena yang keluar dari
    ujung daun itu bukan getah putih, melainkan getah merah.
    Ketika diciumnya, getah itu berbau amis darah.
    Merinding seketika itu juga tubuh Hamsad. Ilerdebar-debar
    hatinya, dan mulai gemetar jari-jemarinya. Satu daun ia
    patahkan lagi dari tangkainya. Klak…!
    “Astaga…?!” Hamsad nyaris memekik keras, karena tangkai
    daun itu mengucurkan getah merah yangberbau amis darah.
    Hamsad sempat terlonjak mundur dengan mata membelalak
    lebar.
    Tetesan darah dari tempat bekas tangkai daun itu
    menjatuhi tanah di bawahnya. Dan, Hamsad teipaksa
    mengerutkan dahi tajam-tajam, mempertegas penglihatannya,
    karena tetesan darah itu jatuh pada sebuah benda yang
    mencuat dari kedalaman tanah pot. Rasa ingin tahunya
    bergumul dengan perasaan takut. Hamsad mendekatkan
    wajah, memperhatikan benda kecil itu.
    “Astaga…?! In… ini., ini ujung kuku…!” Hamsad mencoba
    mengorek tanah itu sedikit-sedikit, maka semakin berdebarlah
    ia, karena kini tampak jelas di kedalaman tanah pot itu
    terdapat jari kelingking manusia yang berkuku panjang, tapi
    indah dan serasi.
    “Ya, ampun…! Pasti di sini tangan Kismi ditanam oleh
    pembunuhnya…!” kata Hamsad dalam hati.
    Maka, segera ia mengorek tanah dalam pot besar itu
    dengan kedua tangannya. Makin dalam semakin jelas
    bentuknya. Sepotong tangan perempuan yang masih utuh,
    tanpa kebusukan. Di jari manisnya melingkar cincin berbatu

    111
    putih kekuning-kuningan. Cincin Zippus. Mungkin karena cincin
    itulah maka tangan yang terkubur di dalam tanah pot itu tidak
    membusuk.
    Hamsad menggali dengan kedua tangannya untuk
    mendapatkan tangan tersebut tanpa ada yang tertinggal.
    Napasnya memburu karena memendam rasa takut dan girang.
    Sampai akhirnya, ia berhasil menggali seluruhnya. Menatapnya
    sesaat, kemudian mengangkatnya pelan-pelan bekas
    potongan sebatas pergelangan tangan lebih sedikit itu, masih
    kelihatan berdarah segar.
    “Benar. Tangan ini sama persis dengan tangan Kismi yang
    sering mengusap-usap,” kata Hamsad pelan sambil
    memperhatikan telapak tangan yang menghadap ke muka.
    Tapi, tiba-tiba tangan itu melesat cepat mencengkeram
    wajah Hamsad.
    “Hah…!Aaah…!”
    Hamsad terpekik dan ketakutan seketika. Jantungnya nyaris
    berhenti berdetak ketika tangan itu bergerak cepat,
    mencengkeram wajahnya. Dengan sekuat tenaga Hamsad
    berusaha melepaskan, menarik tangan itu dan membuangnya
    ke sembarang tempat. Napasnya terengah-engah. Wajahnya
    berdarah karena kuku yang mencengkeramnya. Gerakan
    potongan tangan Kismi yang di luar dugaan itu membuat
    Hamsad menjadi panik dan sangat tegang. Matanya
    membelalak lebar penuh rasa takut. Ia memandang potongan
    tangan yang tergeletak jatuh di sofa, dekat dengan majalah.
    Hamsad melangkah mundur perlahan-lahan mengitari
    meja. Pada saat itu, ia melihat jelas jari tengah dan jari
    telunjuk tangan itu bergerak-gerak, bagai merayap. Kemudian,
    melompat ke meja kaca. Sekali lagi jantung Hamsad nyaris
    berhenti melihat gerakan tangan yang mengerikan itu. la
    bagai susah menelan air ludahnya sendiri. Kakinya gemetar
    dan keringat dinginnya mengucur seketika.
    Desakan rasa takut itu membuat Hamsad bergegas untuk
    melarikan diri. Ia segera melompat dan berlari ke arah pintu
    keluar.

    112
    Plokkk…!
    Tiba-tiba potongan tangan itu melesat dan menempel pada
    leher belakang Hamsad.
    “Aaah… hah…! Hiiih…!” Hamsad meronta-ronta,
    berjingkrak-jingkrak ketakutan dengan tubuh semakin
    merinding. Kuku pada potongan tangan itu terasa menggores
    perih di kulit lehernya, seakan hendak mencekik dari belakang.
    Dengan sekuat tenaga Hamsad menarik tangan itu dan
    membuangnya ke arah pintu. Namun, kali ini tangan tersebut
    tidak mau terlepas dari genggaman Hamsad. Tangan itu justru
    menggenggam tangan Hamsad kuat-kuat, bagai berpegangan.
    Celaka! Hamsad mengibas-ngibaskan dengan gerakan cepat,
    tetapi tangan itu masih lengket pada tangan Hamsad.
    Lalu. dengan menggunakan tangan kanannya, Hamsad
    menarik punggung potongan tangan yang masih berlumur
    tanah itu. Ia berhasil, dan membuangnya ke arah pintu.
    Plokkk…!
    Tangan itu jatuh ke lantai. Mata Hamsad masih mendelik
    memandanginya penuh rasa takut dan jijik. Potongan tangan
    itu bergerak-gerak jarinya, kemudian bagai sebuah mainan ia
    mampu melarikan diri dengan menggunakan jari-jemarinya
    itu. Hamsad segera melompat ke ruang tidur menghindari
    kejaran potongan tangan tersebut. Gerakannya begitu cepat,
    sehingga sewaktu Hamsad hendak haik ke atas ranjang,
    benda menjijikkan itu berhasil melompat dan mencengkeram
    betis Hamsad.
    “Waaaow…!” Hamsad memekik ketakutan. jPotongan
    tangan itu bagai menempel pada celana Hamsad, dan ketika
    hendak dipegang, ia bisa bergerak naik ke paha dengan cepat,
    lalu merambat merambat terus ke punggung. Hamsad
    kebingungan untuk memegang potongan tangan itu. Ia
    berguling-gulingan sambil berteriak ketakutan. Potongan
    tangan itu tidak mau terlepas. Kini justru merayap sampai ke
    leher samping dan mencengkeram lagi.
    “Setaaan…! Hhhah…!” Dengan menggunakan kedua
    tangan, Hamsad berhasil lagi menarik potongan tangan Kismi

    113
    itu dan membuangnya ke arah dinding, bagai dibenturkan
    dengan keras.
    Semakin panik Hamsad menghadapi hal itu, semakin ngeri
    ia melihat tangan tersebut tidak jatuh ke lantai, melainkan
    mampu merayap di dinding seperti seekor cicak. Darah bekas
    potongan tangan menetes ke sana-sini. Sungguh mengerikan.
    Jari-jemari tangan yang sebenarnya lentik dan indah itu kali
    ini bergerak-gerak lagi, bagai merayap di permukaan dinding.
    Hamsad buru-buru masuk ke kamar mandi, dan mengunci
    pintunya.
    “Oh…! Oooh…!” Ia terengah-engah diteror potongan
    tangan bercincin Zippus itu. Napasnya nyaris habis,
    tenggorokannya kering, dan badannya lemas. Ia bersandar
    pada dinding di kamar mandi dalam ketegangan yang
    mencekam Sekarang ia merasa aman. Potongan tangan itu
    tidak dapat masuk ke dalam kamar mandi. Tetapi, sampai
    kapan ia harus mendekam di kamar mandi?
    Tiba-tiba pintu kamar mandi itu diketuk-ketuk dengan
    lembut. Hamsad tersentak kaget, berdiri dari jongkoknya, dan
    menjauhi pintu. Ia tidak berani membukakan, bahkan
    mendekati pintu pun ia tidak berani. Perasaan ngeri membuat
    jiwanya menjadi kerdil dan ingin menangis karena dongkolnya.
    Tok, tok, tok…! Suara pintu diketuk. Hamsad masih diam,
    makin tegang, makin menjauh. Ia berdiri di atas closet yang
    tertutup. Gemetar ketakutan.
    “Hamsad…?! Haaam…?!”
    “O, itu suara Kismi…!” katanya sambil menghempaskan
    napas lega. Berulang-ulang Hamsad menghempaskan napas,
    senang sekali, karena pemilik potongan tangan itu sudah
    datang. Itu berarti waktu sudah menunjukkan lewat tengah
    mulum.
    Hamsad segera turun dari closet. dan membuka pintu
    kamar mandi. “Hahhh…!”
    Rupanya di luar kamar mandi tidak ada Kismi. Yang ada
    hanya potongan tangan itu. Dan bunda tersebut segera
    melesat masuk, menerkam kejantanan Hamsad. Nyawa

    114
    Hamsad bagai melayang ketika itu. Ia memekik kaget,
    kemudian mengerang kesakitan karena alat kejantanannya
    diterkam oleh potongan tangan yang ganas itu.
    “Oh…! Oooh…! Aaaow…!” Hamsad terhuyung-huyung
    dengan badan membungkuk. Kedua tangannya memegangi
    potongan tangan Kismi yang makin lama terasa makin
    meremat alat kejantanannya itu. Hamsad meringis kesakitan
    dengan badan membungkuk, dan kini limbung ke kiri,
    bersandar pada dinding di depan kamar mandi. Potongan
    tangan itu bagai sukar ditarik. dan, apabila ia ditarik, terasa
    makin kuat cengkramannya. Hal itu membuat Hamsad
    semakin mengerang kesakitan dengan mata terpejam kuatkuat.
    “Hamsad…?!” sapa sebuah suara di ruang tamu.
    “Kismiii…!” teriak Hamsad tertahan karena memendam rasa
    sakitnya.
    Kismi muncul dari ruang tamu ke kamar mandi, dan ia
    melihat Hamsad kesakitan sambil memegangi alat
    kejantanannya.
    “Oh… kau…?!” Kismi terperanjat kaget dengan mulut
    terbengong.
    “Aku menemukan… menemukan potongan tanganmu…!
    Tapi, tapi dia meremat… aouuuh…!” Hamsad semakin
    membungkuk dengan kaki merendah karena potongan tangan
    itu semakin menggenggam alat kejantanannya.
    “Lepaskan! Jangan sakiti dia…!” bentak Kismi sambil
    memandang potongan tangannya.
    Beberapa saat kemudian, potongan tangan itu pun
    mengendur. Hamsad buru-buru menariknya. Sempat terlihat
    olehnya jari-jemari potongan tangan itu bergerak-gerak, bagai
    sedang melemaskan otot-ototnya. Hamsad buru-buru
    melemparkannya, dan potongan tangan itu jatuh di lantai.
    Kismi memandang potongan tangannya dengan senyum
    berseri. Ia buru-buru memeluk Hamsad dan menciuminya.
    “Oh… kau telah berhasil! Kau berhasil menemukannya,
    Hamsad…!”

    115
    Yang bisa dilakukan Hamsad hanya uh nyr ringai
    merasakan sisa sakitnya. Tetapi, ia kemudian berkata, “Apa
    yang harus kulakukan?!”
    “Lekas, bawa dia ke tempatku. Cari aku di ruang bawah,
    dan tempelkan potongan tangan itu pada jasadku, Hamsad…!”
    “Aku tidak mau membawanya! Aku tidak mau mati dicekik
    olehnya, Kismi!”
    “Jangan kuatir…!” kemudian Kismi mendekati potongan
    tangannya yang tergeletak telentang di ranjang. Ia berbicara
    dengan potongan tangan itu,
    “Jangan sakiti dia! Dia akan mempertemukan kita!”
    Jari-jemari yang tadinya diam, kini bergerak-gerak, seakan
    sebuah anggukan tanda patuh terhadap perintah Kismi. Lalu,
    Kismi mendekati Hamsad dan berkata,
    “Bawa mobilmu menuju rumahku. Di sana aku tinggal, di
    bekas rumah keluargaku yang sudah pindah ke Amsterdam.
    Ikutilah kunang-kunang, ke mana arahnya, ikuti saja. Nanti
    kau akan menemukan rumah di sebuah bukit. Rumah itu
    sudah tak terawat lagi, tapi di sanalah Kosmin
    menyemayamkan aku di dalam kaca…!”
    Setelah berkata demikian, Kismi mencium pipi Hamsad.
    Hamsad sendiri menunduk memperhatikan alat kejantanannya
    yang dikhawatirkan terluka. Ternyata tidak. Namun, ketika ia
    memandang ke depan, ternyata Kismi telah tiada.
    “Kismiii…?! Kismiii…?!” Hamsad mencoba mencari Kismi,
    dan wanita yang hadir setiap tengah malam itu memang tidak
    ada lagi. Tetapi, Hamsad melihat seekor kunang-kunang
    terbang di sekitar pintu. Hamsad tak tahu persis, apakah
    kunang-kunang itu jelmaan dari roh Kismi atau bukan, tetapi
    ia membiarkan kunang-kunang itu keluar melalui celah sempit,
    dan Hamsad sendiri harus segera mengeluarkan mobil dari
    garasinya.
    Mulanya ia ragu-ragu ketika hendak mengangkat potongan
    tangan. Tetapi, agaknya potongan tangan itu tidak seganas
    tadi. Maka, dibungkusnya potongan tangan itu dengan

    116
    saputangan, kemudian ia pun keluar dari motel dengan
    mengendarai mobilnya.
    Malam bercahaya purnama, sehingga gelap tak terlalu
    pekat. Kunang-kunang terbang di depan mobil. Gerakannya
    cepat, seirama dengan gerakan mobil. Sementara itu,
    saputangan pembungkus potongan tangan Kismi diletakkan di
    jok samping kiri. Perhatian Hamsad tertuju pada gerakan
    kunang-kunang penuntun jalan itu.
    Ia tidak tahu kalau saputangan itu terbuka sendiri.
    Kemudian, jari-jemari potongan tangan bercincin itu bergerakgerak.
    Kini tengkurap, dan merayap perlahan-lahan.
    Ciiit…! Mobil nyaris menabrak pohon, karena Hamsad
    terkejut setelah pahanya terasa dicubit oleh potongan tangan
    tersebut.
    “Brengsek! Kulaporkan kau kepada Kismi kalau
    menggangguku terus!” geram Hamsad dengan jantung
    kembali berdebar-debar. Potongan tangan itu mencolek-colek
    paha, bahkan kini menggelitik di pinggang Hamsad. Sesekali
    Hamsad terpekik dan badannya bergerak kegelian, membuat
    laju mobilnya menjadi limbung.
    “Diam! Jangan ganggu aku!” bentak Hamsad
    memberanikan diri. Potongan tangan itu melompat ke depan
    stiran mobil. Hamsad membiarkan, karena potongan tangan
    itu tidak membuat gerakan yang perlu dikuatirkan. Bahkan,
    ketika kunang-kunang membelok arah, jari telunjuk dari
    potongan tangan itu menuding ke arah kiri, seakan memberi
    tahu agar mobil harus membelok ke arah kiri. Demikian juga
    jika harus ke arah kanan, jari itu menujuk arah kanan.
    Kemudian, tibalah Hamsad di sebuah perbukitan. Jalanan
    menanjak, kanan-kirinya kebun teh. Melewati perkebunan itu,
    ada jalan persimpangan. Jari telunjuk potongan tangan itu
    menuding ke arah kanan, dan Hamsad membelokkan mobilnya
    ke kanan. Tak berapa lama, jari tangan itu mengembang
    semuanya, seakan menyuruh “Stop” pada mobil tersebut.
    Cahaya purnama menampakkan sosok rumah kuno yang
    tinggal reruntuhannya. Menyeramkan sekali. Bentuk

    bangunannya jelas bangunan zaman Belanda. Bagian atapnya
    sudah rusak total, dan pada bagian halamannya telah banyak
    ditumbuhi tanaman liar, termasuk rumput ilalang.
    Kunang-kunang terbang memasuki rumah yang
    menyeramkan itu. Hamsad ragu-ragu. Ia berdiri di samping
    mobil sambil memegangi potongan tangan. Tiba-tiba,
    potongan tangan itu bergerak maju sambil memegangi tangan
    Hamsad, seakan menariknya agar Hamsad segera memasuki
    rumah kuno tanpa penghuni itu.
    Langkah kaki Hamsad terasa gemetar. Ia memasuki rumah
    yang sunyi dan kotor itu. Cahaya pucat rembulan
    meneranginya. Bahkan ada lantai yang longsor ke bawah,
    menuju ruang bawah. Potongan tangan dan kunang-kunang
    menunjukkan jalan menuju lantai bawah, melalui tangga batu
    di balik sebuah dinding kamar. Debar-debar di dalam dada
    Hamsad makin bergemuruh. Ia tetap mengikuti penunjuk
    jalannya yang setia Sampai akhirnya, ia menemukan sebuah
    peti kaca seukuran tubuh manusia.
    Hamsad terhenyak kaget ketika menegaskan
    penglihatannya, bahwa ternyata di dalam kotak kaca yang
    mirip akuarium itu terdapat tubuh Kismi yang terbaring
    dengan tangan kanan terpotong. Kismi mengenakan gaun
    putih transparan yang sering dikenakan berkunjung ke kamar
    motel.
    Lebih terkejut lagi Hamsad setelah ruangan itu menjadi
    terang. Ada cahaya api yang datang dari arah belakangnya. Ia
    buru-buru berpaling. Oh, ternyata Pak Kosmin memegangi
    obor sebagai penerangnya. Hamsad semakin gemetar, karena
    ia ingat Pak Kosmin mampu menembus daun pintu bagaikan
    asap.
    “Jangan takut, Tuan. Saya tidak akan berbuat jahat…!
    Lakukanlah apa yang harus Tuan lakukan,” kata Pak Kosmin
    yang mempunyai sepasang mata cekung.
    Kemudian, Hamsad membuka tutup kotak kaca itu dengan
    gemetar. Napasnya tertahan, sesekali tersendat-sendat. PelanTiraikasih

    pelan ia letakkan potongan tangan itu ke lengan kanan tubuh
    Kismi.
    Suatu keajaiban membelalakkan mata Hamsad, sambungan
    pada potongan tangan dengan lengan Kismi itu membentuk
    satu cahaya hijau muda. Hijau kekuning-kuningan, mirip
    cahaya fosfor. Cahaya itu berpijar-pijar sejenak, kemudian
    redup. Dan, kini menjadi hilang sama sekali. Obor yang
    dibawa Pak Kosmin mendekat. Mereka memandang potongan
    tangan bercincin Zippus itu, dan ternyata pada sambungan
    tersebut tidak terlihat ada bekas luka sedikit pun
    “Ia telah pulih kembali, Tuan,” bisik Pak Kosmin.
    Hamsad terhentak lagi ketika mata Kismi yang terpejam itu
    terbuka, berkedip-kedip sejenak, kemudian tersenyum
    memandang Hamsad.
    “Jangan takut, Hamsad.,.. Aku Kismi! Aku telah hidup
    kembali!” seraya Kismi mengusap-usap pergelangan
    tangannya yang semula buntung itu.
    “Kau… kau benar-benar hidup…?!”
    Kismi mengangguk, keluar dari kotak kaca, mendekati
    Hamsad, kemudian Hamsad meraba pelan-pelan wajah Kismi.
    Terasa hangat. Lalu, Kismi berkata lirih, “Kau berhak memiliki
    aku, Hamsad…!”
    Mata Hamsad berkaca-kaca karena terharu, kemudian
    tanpa ragu lagi ia memeluk Kismi erat-erat, seakan tak ingin
    berpisah dengan Kismi selama-lamanya. Kismi pun
    menyambut pelukan itu dengan perasaan bahagia yang
    mengharu. Ia sempat meneteskan air mata, dan Hamsad
    mengusapnya sambil berkata,
    “Jangan teteskan air mata. Aku tak ingin kehilangan kau,
    walau hanya setetes air matamu. Aku tak ingin, Kismi…!”
    “Ohhh, Hamsad…!” Aku kagum pada tekadmu! Aku juga
    tidak ingin kehilangan kau…! Tapi….”
    “Tapi, apa, Sayang?”
    “Tapi ada satu risiko jika kau memperistri aku, Hamsad.”
    “Risiko apa?”

    “Aku… aku tak akan mempunyai keturunan…,” bisik Kismi
    dengan perasaan sedih. Hamsad pun berkata lirih sambil
    menatapnya,
    “Aku tak mau peduli tentang itu, yang penting kau jadi
    milikku. Dan… dan kau tak boleh kehilangan apa-apa lagi,
    Kismi!”
    Pelukan itu makin erat. Kemudian, Kismi berkata kepada
    Pak Kosmin, “Terima kasih, pak Kosmin. Dampingilah kami
    dari alammu…!”
    Obor pun padam. Ruangan jadi gelap. Kisimi berlari-lari
    membawa keluar Hamsad dari reruntuhan bekas rumahnya.
    Kemudian, Hamsad bermaksud membawa Kismi kembali ke
    motel untuk sementara waktu, sampai ditemukan tempat
    kontrakan yang layak bagi Kismi yang ternyata seorang
    ilmuwan berotak cerdas. Namun, ketika Kimiiii hendak naik ke
    dalam mobil Hamsad, ia jadi terhenti dengan wajah memanja.
    “Kenapa…?” tanya Hamsad heran.
    “Kiss me…!” katanya seraya menyodorkan pipi, dan
    Hamsad pun mencium pipi itu.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cemberutin Pacar Dapat Perawan

    Cemberutin Pacar Dapat Perawan


    938 views

    Cerita Sex ini berjudulCemberutin Pacar Dapat PerawanCerita Dewasa,Cerita Hot,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Kali ini menceritakan hubungan Sex hilangnya perjaka dan perawan dari pasangan anak SMA yang bernama Agung dan Adel. Mau tahu kelanjutan ceritanya, Langsung aja yuk baca dan simak baik baik cerita dewasa ini.

    Anggap saja namaku Agung ( nama samara), aku akan menceritakan pengalaman ku dulu yang mungkin akan aku ceritakan dengan bahasa seadanya ( maklum baru pertama berbagi cerita di web dewasa), hhe. Okey, jadi begini. Cerita Sex-ku ini berawal dari ketika aku masih duduk dibangku sekolah kelas 1 SMA. Ketika itu aku yang masih tergolong anak baru gede bermaksud ingin mendekati teman sekolahku.

    Wanita yang aku dekati itu sih biasa-biasa saja kalau kata teman-teman sekolahku, yah yang namanya cinta mau orang bilang apa bagiku dia adalah wanita yang paling cantik di dunia, hhe… gombal dikit. Maaf sebelumnya para maniaks cerita sex, didalam cerita ini aku tidak bisa menjelaskan sedetail mungkin tentang wanita yang aku dekati ini yang sebut saja nama dia adalah Adel.

    Adel ini adalah seorang gadis Abg yang sedang-sedang saja, begitu pula dengan bentuk tubuh, payudara dan bagian pantatnya. Kembali ke pribadi masing-masing, cantik itu relative, jika kita suka ya kita merasa dia cantik, kalau kita tidak suka mau secantik apapun wanita itu ya bagi kita dia biasa-biasa saja,hhe… betul nggak para pembaca. Seperti yang aku aku katakan tadi Adel ini mempunyai body biasa, dan wajah yang lumayan (menurutku).

    Kalau berbicara tentang payudara dan pantat Adel mempunyai yang ukuran yang biasa-biasa saja. Namun walaupun Adel biasa saja, namun Adel ini berkulit putih dan mempunyai wajah yang menggemaskan, pokoknya aku suka banget deh. Selama aku masih dalam rangka pendekakatan, setahuku Adel tidak pernah tahu dan mengerti seputar sex, dia masih polos sekali para pembaca.

    Singkat cerita setelah beberapa bukan melakukan pendekatan kepada Adel, pada akhirnya akupun bisa mendapatkanya dan kini statusku dengan dia adalah berpacaran, hhe. Nah dari sininlah awal keseruan cerita sex-ku. Karena dia sudah resmi menjadi pacarku, aku-pun mulai mengajarkan kepada Adel untuk mengenal dan melakukan hal-hal yang berbau sex. Pada awalnya sih memang sulit sekali, namun dengan trik hebatku diapun akhirnya mau.

    Pada hari itu, aku sudah merancang rencana agar aku bisa melakukan hal mesum dengan Adel pacarku itu. Pada hari itu aku memasang muka marah saat bersama Adel, setiap Adel mengajak aku ngobrol pada saat itu aku diam saja dan berpura-pura murung. Dengan hal itu, maka Adel-pun merespon aku,

    “ Kamu kenapa sih sayang, kog dari tadi aku ajak ngobrol kamu diem aja, dan kamu dari tadi cemberut aja, kamu kenapa sih sayang ???, “ ucapnya penasaran kepadaku.

    Ini nih, saat aku melakukan trik busukku,

    “ Auk ah, aku kesel banget sama kamu, gara-gara kamu aku di ledekin sama temen-temen, katanya masak aku cowok nggak jantan, “ ucapku berpura-pura marah.

    “ Lah, kog bisa gara-gara aku sih Yank, emang aku salah apa, hhu, “, tanyanya penasaran.

    “ Iyalah jelas ini gara-gara kamu, kamu tahu nggak aku di ledekin sama temen-temen katanya aku nggak jantan gara-gara aku nggak pernah ngapa-ngapain sama kamu, kan malu, ” ucapku mulai memancing Adel, Kumpulan Dewasa Terkini. Agen Sbobet

    Pada saat itu Adel tidak menjawab dan terdiam saja. Tidak kusangka setelah sore hari, caraku itu ternyata sukses kawan. Kalian tahu Adel pada sore harinya dia menelepon aku tidak aku sangka dia berbicara lewat telefon bahwa dia ingin ML sama aku pada malam hari di rumahnya.

    Wow gila nggak tuh, patut dicoba para pembaca caraku ini, hhe. Lanjut. Saat itu dia memberitahukan aku bahwa aku harus kerumahnya pada pukul 00.00 WIB.

    Aku tahu maksud Adel menyuruhku kerumahnya pada jam itu, karena pada jam itu semua keluarganya yang ada di rumahnya pasti sudah tertidur lelap dan pasti akan aman tanpa hambatan. Seketika itu aku dihadapkan dengan rasa senang dan bingung, aku bingung karena harus bagaimana agar aku bisa keluar jam segitu dan aku senang karena Adel pada akhirnya mengabulkan keinginanku untuk melakukan hubungan sex.

    Namun pada akhirnya akupun nekat kabur dari rumah dengan cara melompat diam-diam dari jendela kamarku dan menuju kerumah Adel. Singkat cerita sampailah aku dengan motor yang disambut dengan seorag Adel yang sudah menunggu di depan rumahnya dengan baju tidur yang sangat tipis dan hamper transparan. Sesampainya disana, kami-pun dengan diam-diam masuk kerumah Adel yang besar dan mewah.

    Dengan extra hati-hati, aku dan Adel melompat dari jendela kamarnya. Sesampai-nya di kamarnya kami pun segera melakukan pemanasan. Saat itu kami awali dengan aku membuka kaos kami. Setelah kami sama-sama telanjang setengah dada aku pun lansung memeras buah dada-nya, dengan penuh nafsu saat itu aku melucuti piyamanya yang tipis dan tak lupa aku melepaskan tali bra-nya.

    Setelah terbuka Tali Bra-nya aku-pun mulai melepas Bra milik Adel yang mengganggu tangan ku pada saat aku meremas payudaranya. Pada awalnya aku menganggap payudara Adel kecil, namun setelah kini aku melihatnya langsung, Wow… cukup besar kawan.

    Payudara Adel yang sudah tanpa Bra itu terlihat sanagt kencang dan padat sekali, sungguh melihat itu nafsuku semakin membara saja, rasanya ingin sekali segera meremas dan mengkulumnya, Cerita Dewasa Terkini.

    Aku yang sudah nafsu berat, saat itu aku-pun langsung melucuti celana beserta celana dalamnya yang minim itu. Pada saat itu Adel-pun mendadak agresif lalu melucuti celanaku dan celana dalamku. Tanpa komando Adel-pun mulai meraih kejantananku dan membimbing kejantananku kedalam mulutnya,

    “ Oughhh… Ssssshhh… nikmat enak sayang… Aghhhhhh… terus kayak gitu sayang… Aghhh…, ” desahku.

    Sungguh pada saat itu aku tidak menyangka Adel bisa melakukan hal seperti itu. Sungguh nikmat sekali kuluman Adel pada kejantananku. Bebrapa menit dia mengkulum kejantananku dengan lincah-nya. Namun ketika sedang enak-enaknya tiba-tiba Adel menghentikan kulumanya dan,

    “ Sayang kamu bawa kondom nggak, ” ucapnya mengejutkanku.

    Pada saat itu aku tidak menjawab pertanyaanya, memang sebenarnya aku sengaja tidak membawa benda itu. Tanpa buang waktu lagi, aku-pun langsung mendorongnya sampai jatuh pada ranjangnya dan aku-pun langsung menghujani ciuman pada bibirnya yang nikmat dan merah merekah itu. Kami yang saat itu sama-sama nafsu, Adel-pun kemudian merespon ciumanku dengan mengadu lidah dengan liarnya.

    Ditengah kenikmatan itu, air liur kami menjadi satu di dua mulut yang saling berpangutan di iringi dengan tangan kananku yang mulai menjamah payudara Adel dan tangan kiri-ku memainkan vagina Adel dengan perlahan. Sedikit demi sedikit aku melakukan hal itu. Kira-kira setelah 5 menit jariku bermain pada area kewanitaan Adel, aku merasakan tanganku mulai dibasahi oleh lendir kawin dari vagina Adel.

    Setelah puas kami melakukan warming up, kemudian kami-pun memulai melakukan yang lebih hot. Kini aku mulai mengkulum pentil-nya yang sebelah kanan dan yang kiri aku remas dengan tanganku yang sesekali menarik putingnya yang mulai keras. Lidahku yang saat itu asik dengan memainkan putting itu, tak lupa aku menghisap payudaranya yang kenyal dan mulai keras karena rangsanganku,

    “ Ughhh… Sssss… Aghhh… Oughhh…. Terus saying… Aghhhh…., ” desahnya.

    Mendengar desahnnya, saat itu aku semakin menggila dan aku melakukan itu semakin keras dan mulutku mulai menurun ke bagian bawah melewati perut dan sampai ke tempek nya yang basah dengan air yang terus mengalir dari dalam Vagina-nya dan dia masih saja merengek tetapi dia ingin di teruskan karena nikmatnya mungkin. Setelah beberapa menit aku menyuruhnya mengkulum lagi Penis-ku.

    Saat itu akupun sudah tidak sabar lagi ingin menikmati keperawanannya dan dia langsung menghisap tanpa ragu. Saat itu kuluman-nya yang kuat membuatku geli dan nikmat yang luar biasa.

    Setelah beberapa menit berlalu aku menggesek-gesek vaginanya dan dia merengek tidak jelas karena masih dengan posisi dia mengkulum Penis-ku. Karena aku ingin segera menikmatinya aku memasukan kejantanan-ku ke dalam sangkarnya dengan dia terlentang, tetapi agak sulit karena masih sempit.

    Setelah susah payah, pada akhirnya Penisku-pun berhasil menembus selaput darahnya dan dengan dorongan kecil akhirnya sobek dan dia menjerit kesakitan dicampur kenikmatan,

    “ Aow……. Sakit sayang, Aghhhhhhhh…………, ” jeritnya lirih.

    Setelah kejantananku sudah tertanam didalam liang senggama Adel, aku-pun kini mulai memaju mundurkan Penis-ku. Namun ditengah hunbungan sex kami itu, aku melihat Adel merasa kesakitan,

    “ Aoww… Ughhhh… Sakit sayang, pelan-pelan ya sayang, Aghhhhhhh…., ” ucapnya.

    Mendengar perkataan Adel yang seperti itu aku-pun mulai memperlambat permainan sexs-ku. Namun hal itu hanya bertahan sebentar saja, aku yang sudah tidak tahan lagi, aku kembali mempercepat genjotan penis-ku kedalam liang senggama Adel,

    “ Ouhggg… enak sayang… rasanya aku pingin kencing sayang… Aghhh…. Sssssshhhh…., ” ucapnya.

    Aku yang sudah tahu dari film porno, Adel pada saat itu bukanlah ingin kencing, namun dia pada saat itu akan medapatkan klimaksnya. Melihat Adel seperti itu aku makin mempercepat gerakan kejantananku kedalam liang senggamanya,

    “ Iya gitu sayang, Aghhh… Enak… Oughhh…, ” desahnya semakin menjadi-jadi saja.

    Pada akhirnya dia mengeluarkan cairan itu di Penis-ku merasa hangat memang hebat dan tahu cara memuaskanku dan setelah itu aku merubah posisi menjadi aku menusuknya dari belakang kali ini masuknya mudah dan arena tamengnya sudah sobek jadi tidak lagi ada yang menghalangi pedangku dan dia yang memaju mundurkan tubuhnya dan akupun mengikuti irama itu.

    Beberapa menit kemudian dia mengejang dan kembali Klimaks di saat itu aku sudah ingin keluar dan tetapi aku takut dia hamil dan aku juga tak sudi perjakaku diambil oleh cewek yang aku dekati karena iseng belaka.

    Aku mengeluarkannya di luar saat aku membalikan badannya maksudku mengeluarkan di mulutnya tetapi belum sampai sudah moncrot deh air maninya tepat di kepalanya dan aku menyuruhnya mencoba rasa itu dan dia meminumnya dan berkata,

    “ oohh enak rasanya ini cairan apa ? kencing ya ? , ” tanyanya polos.

    ” bukan sayang, ini namanya air kenikmatan lelaki alias sperma, ” ucapku.

    Aku pun memberitahunya bahwa itu air mani aku berpikir cewek ini sebenarnya tidak pernah sekalipun melihat film porno tetapi dia dapat melakukan gerakan-gerakan itu dari mana kan tidak mungkin udah pernah. Tetapi aku masih belum puas aku memasukan lagi Penisku ke mulutnya dan dia tanpa di suruh dia melakukan itu sendiri. Setelah bosan aku kembali memasukan Penis-ku ke Vagina-nya.

    Saat itu dengan telapak kakinya menempel di lantai aku memasukan itu dari atas dan setelah beberapa saat dia berKlimaks dengan meringik terus-menerus , aku mau keluar dan aku lansung menyuruhnya menghisap dan keluarlah lagi cairan itu di mulutnya yang menggairahkan setelah itu kami lemas dan kami tertidur pulas dengan Penis-ku yang masih di dalam mulut Adel.

    Singkat cerita, aku-pun dibangunkan Adel pagi sekali tepatnya subuh. PAda saat itu aku dibangunkan agar cepat pulang sebelum di ketahuan oleh orang-orang di rumah. pada sat itu akupun bergegas memakai pakaianku lagi dan sebelum aku pergi aku mencium mulutnya dan pulang kerumah. Sesampainya dirumah aku-pun tertidur pulas. pada hari itu karena capek aku tidak masuk sekolah dan begitu juga Adel.

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Cerita Sex Bertemu Cewek Super Sexy Di Tempat Fitnes

    Cerita Sex Bertemu Cewek Super Sexy Di Tempat Fitnes


    159 views

    Perawanku – Cerita Sex Bertemu Cewek Super Sexy Di Tempat Fitnes, Nama saya Mike ini cerita nyata gue, badan saya atletis ya karena sering fitnes, disini saya akan menceritakan kisah gue sama pacar saya Nelly umur lebih muda dari gue, kesamaan dari kita suka suka fitnes, Nelly dengan badan yang ramping , tinggi, pasti semua cowo yang melihat pacar gue waktu dia fitnes matanya pasti tidak kedip, ya dikarenakan supersexi lah,,

    Disuatu ketika waktu mau fitnes kita berdua mau join ke salah satu klub fitness di sebuah hotel berbintang. Tapi pada saat pendaftaran, kita registrasinya masing-masing sehingga tidak ada yang tau kalo sebenarnya kita itu adalah pasangan. Pada hari pertama kita mulai fitness, gue datang 20 menit lebih awal dibanding Nelly. Gue ganti baju, langsung mulai pemanasan. Saat selesai pemanasan, datanglah Nelly, dia langsung ke kamar ganti untuk bersiap-siap. Gue sudah duduk di sepeda dan memulai latihan. Tampak dari cermin di depan gue, Nelly keluar dari kamar ganti. Sexy banget… dia pakai baju senam model bh yang tipis berwarna biru tua dan hotpants berwana biru muda.

    Samar-samar terlihat putingnya yang menapak dan garis thong di pantatnya. Semua orang yang berada di tempat fitness itu, baik cowo maupun cewe, semua terbengong sesaat. Pasti di pikiran mereka yang cowo, buset nih cewe dari mana, koq ga pernah keliatan, berani banget pake bajunya… Kalo yang cewe pasti berpikiran sirik melihat Nelly. Memang perut Nelly yang rata membuat para cewe lainnya pasti iri.

    30 menit sudah berlalu, baju Nelly sudah mulai basah, putingnya terlihat jelas, garis thong nya sudah mulai jelas menapak. Hampir semua cowo yang lagi fitness di situ melihat ke arah Nelly. Walaupun sambil angkat beban, treadmill dan minum, mereka semua curi-curi melihat Nelly. Ada beberapa cowo berusaha menarik perhatian Nelly, ada juga yang nekat langsung mengajak kenalan. Nelly menanggapinya dengan santai, bahkan berkesan memberi angin kepada cowo-cowo itu. Gue ngelihat dari jauh sambil ketawa dalam hati dan bangga… memang cewe gue itu sexy banget, terbukti dengan kelakuan cowo-cowo itu terhadap Nelly.

    Nelly sedang bersiap untuk sit up, ada instruktur cowo yang membantu memegangi kakinya Nelly. 20x sit up rupanya sudah membuat Nelly tambah berkeringat, tambah kelihatan putingnya, instruktur itu sambil menghitung juga melihat ke arah dada Nelly. Dari jauh gue bisa melihat tonjolan di selangkangan instruktur itu mulai membesar. Pada saat Nelly bangun setelah sit up, thongnya ketarik ke atas, jadi dari belakang jelas terlihat thong hitamnya diatas celana. Pemandangan ini membuat semua cowo yang ada di situ, termasuk gue langsung ngaceng. Nelly selesai fitness lebih dulu dari gue, sambil berjalan meninggalkan ruang fitness, Nelly memandangan sekilas semua cowo dan cewe yang ada di situ dengan senyuman binalnya, dan setelah dia keluar ruangan fitness, cowo-cowo pada ngebahas tentang Nelly.

    Gue papasan ma Nelly pas mau masuk ruang ganti
    ” Sexy banget kamu say… ” kata gue.
    ” Makasih say… kamu ga jealous kan liat aku td diserbu ma mata cowo-cowo di bawah ? ” kata Nelly sambil ngedipin satu matanya.
    ” Ngga dong say, kan aku seneng ngeliatinnya hehehe… btw, td itu baju tersexy kamu ” tanya gue sambil meremas pantat dia.
    ” Mau yang lebih ? kamu kuat ga nahannya ? ” bisik Nelly sembari mengelus kontol gue.
    ” Nahan apanya nih ? ”
    ” Ga jealous dan kontol kamu ga ngaceng mulu, kan malu ma yang fitness lainnya hehehe… ”
    ” let’s see say… ” tantang aku sambil aku penasaran dalam hati…
    ” Gue ke mobil dulu ya say, kamu mandi dulu sampai wangi, terutama kontol kamu itu harus wangi hehehe… ” kata Nelly sambil meninggalkan gue.
    Secepat kilat gue mandi dan beberes karena kontol gue udah ga bisa nahan… udah napsu banget…
    Sampai di parkiran, Nelly sudah menunggu di mobil sambil mendengarkan house musik.
    ” Say, weekend sekarang kita dugem yuk, dah lama nih kita ga dugem ” ajak Nelly.
    ” Hayu aja Nel, mau dugem di mana ? ”
    ” Mana aja, yang penting house musik dan jangan di room, males say kalo Cuma ber 2 trus di room… ”
    ” Sip… Tar diaturin semuanya, yang penting harus tampil sexy ok ” kataku ambil menjalankan mobil keluar dari parkiran.

    Sampai di apartemen, gue langsung menerkam Nelly… kita kissing dengan hot nya di ruang tamu. Gue tinggal sendirian di apartemen ini, jadi kita bebas ngapa-ngapain juga tanpa ada rasa takut kalo ada yang melihat.

    Sambil kissing, tank top Nelly gue buka, rupanya dia udah ga pakai bh. Sekeliling tokednya gue jilatin, kecuali putingnya. Gue hisap pinggiran toked… yang kiri trus yang kanan…
    ” Ahhh ahhh…. say jilat putingnya juga dong… ahh… sshhshshssss…. ayo dong say, emut putingnya… ” kata Nelly
    Gue ga tanggepin desahannya sampai sekitar 5 menit lidah gue bermain di sekitar toked, baru gue jilat putingnya…
    ” Ahhhhhhhhhh….. ssshshsshsss…. enak banget say…. ”

    Rupanya Nelly juga sudah horny banget, gue jilat toked yang kiri, toked kanannya diremes-remes sama tangan dia sendiri.
    Puas dengan toked, lidah gue mulai turun ke bawah. Gue buka rok mininya, gue lempar entah kemana, tinggal g-string ungu dengan bagian depan transparan. Bulu memeknya ga ada, jadi terlihat jelas garis memeknya yang begitu indah…
    Gue jilat pahanya… paha bagian dalam… gue nunggingin Nelly jadi gue bisa jilatin pantatnya…

    Bagian memek gue jilat sesekali…
    ” Say, memeknya dong, masa ga di jilat ” protes Nelly sambil nungging.
    Gue jilatin tali g-stringnya dr belakang sampai ke memek…
    ” Ugh… enak say… memeknya dong…. “
    Gue buka g-stringnya, terlihat bagian memeknya basah banget.. itilnya udah membesar…
    Masih dalam posisi Nelly nungging, gue jilatin belahan pantatnya… dari anus sampai ke memek…
    “ Ahhhhh…. ssshshhshsssssss…. “

    Memeknya gue tusuk-tusuk pakai lidah, memeknya jadi tambah basah… Nelly ganti posisi terlentang sambil mekangkang, supaya gue lebih leluasa ngejilatin memeknya.
    Tangan Nelly bermain di tokednya sendiri… ngeremes-remes sambil mainin putingnya. Kadang-kadang putingnya di cubit-cubit kecil…
    5 menit gue jilatin itilnya, bibir memek sambil nusuk memek pake lidah, kadang lidah gue turun ke anus… Tiba-tiba….

    Cerita Sex Bertemu Cewek Super Sexy Di Tempat Fitnes

    Cerita Sex Bertemu Cewek Super Sexy Di Tempat Fitnes

    “ Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh………. say, nyammmmmpppeeeeeeeeee…. “ teriak Nelly sambil ngeremes kuat-kuat tokednya.
    Gue jilatin semuanya…
    Gue kasih kesempatan Nelly menikmati orgasmenya yang pertama… Mukanya itu lho kl lagi orgasme, sexy banget…
    Nelly mulai lagi dengan membuka semua baju dan celana gue sampai gue bugil…
    Dia mulai cium gue, turun ke leher, dada, trus ke paha gue…
    “ Nel, koq kontolnya di lewatin ? “ protes gue.
    “ Biarin… tadi juga memek gue dilewatin… “ kata Nelly sambil menjilatin biji gue…
    Beberapa menit Nelly ngejilatin biji gue sambil sesekali turun ke anus gue…
    “ Enak banget say… kontolnya di jilat dong…. ”
    Mulai dikit demi dikit lidah Nelly menyentuh pangkal kontol gue…
    Sambil ngejilatin kontol gue, Nelly merubah posisi badannya sambil menungging… Tangan kirinya megang kontol gue, tangan kanannya maenin memeknya sendiri…
    Wah… pemandangan yang napsuin…
    Ada kali 10 menit Nelly ngejilatin kontol gue sambil masukin jari dia ke memeknya sendiri…
    Tiba-tiba Nelly bangun dan duduk diatas kontol gue…
    “ Shhhhsssss……. Ahhhh……… gede banget kontolnya say… Shhhshsssssss…. “ teriak Nelly sambil meringis.
    “ Sempit banget memek kamu… koq bisa gini sih ? “ seru gue.
    “ Ada deh sayyyyyyy…. Ssshhhhsssss…. kan memek ini buat kamu, yang penting kamu suka… Ahhhhh Ahhhh Ahhh… “ kata Nelly sambil menggoyangkan pantatnya…
    Nelly terus menggoyangkan pantatnya… naik turun…. diputer ke kiri… diputer ke kanan… sambil kedua tangannya meremas tokednya…
    ” Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhh…….. gue keluarrrrr ahhhh…. ahhhh…. ahhh….. ” teriak Nelly dengan kepala menghadap ke atas…

    Ini yang gue suka dari Nelly kalo ngentot, dia pasti mendesah dengan suara keras, membuat gue makin bernapsu…
    Kita ganti posisi, skg Nelly di bawah, kakinya dalam posisi mekangkang…
    Gue pegang kaki kiri dan kaki kanannya… gue goyang pelan-pelan… Tangan kanan Kelly ngeremes tokednya n tangan kirinya ngelus-ngelus itilnya… Goyangan gue makin lama makin cepet.

    ” Ahhhh… Ahhhh…. Ahhhh……. Ahhhhhhhhhhhhh….. ”
    ” Enak Nel ? ” tanya gue.
    Nelly diem aja, dia lagi menikmati orgasmenya yang ke 3…
    Goyangan gue mulai lagi… makin lama makin cepat…
    ” Nel, gue mau keluar, keluarin dimana say ? “
    “ Siniin kontol kamu say, gue mau emut sampe peju kamu abis…. “
    “ Nel, gue mau keluaaaarrrr ahhhhhhh……. “
    Gue cabut kontol gue dari memek Nelly, langsung gue arahin ke mulut dia. Disambutnya kontol gue dengan hisapan yang tiada henti… sampe mulut Nelly penuh dengan peju gue…
    “ Enak banget Nel, gue sayang ma elo… “
    “ Gue juga sayang ma elo Mike… “
    Akhirnya selesai juga pertempuran kita, tidak terlalu lama, paling hanya sekitar 30 menit. Tapi buat kita lebih penting kualitas daripada lamanya ngentot… Toh hasil yang dicapai maksimal, peju Nelly sudah habis dan kontol gue butuh waktu buat isi tenaga lagi.

    Hari jumat sore adalah jadwal kita fitness… ini adalah waktu yang gue tunggu-tunggu. Pengen tau aja, hari ini Nelly mau pake baju apa buat fitness…
    Nelly sampai di tempat fitness duluan, adalah selisih 1 jam ma gue, soalnya ada gawean yang musti gue kerjain dulu…

    Begitu masuk ke ruangan fitness, gue lihat Nelly lagi ngobrol ma 2 cowo yang biasa latihan di situ. Dari jauh terlihat Nelly menggunakan kaos singlet yang agak kebesaran tapi pendek, udelnya sampe kelihatan, dan pakai hot pants putih. Apa istimewanya ya pikir gue… gue langsung ke kamar ganti dan bersiap untuk fitness. Sampainya di ruang fitness, gue lihat Nelly lagi treadmill… Dari belakang gue bisa ngelihat…

    Hmm, ga pake bh… koq ga ada garis g-string ya ? masa dia ga pake daleman lagi, pikir gue. Gue ambil alat treadmill di sebelah Nelly… Busettt…. Itu toket kemana-mana, dari sampingnya Nelly gue bisa melihat puting dan toked dia dengan jelas. Langsung bereaksi adik gue, untung gue hari ini pake kaos yang agak kebesaran, jadi bagian Kontol gue ga kelihatan, kan malu kalo keliatan ngaceng ma yang lain…

    Nelly selesai treadmill lebih dulu dari gue, dia langsung mau latihan untuk mengencangkan selangkangan. Posisi alat itu berhadapan dengan alat yang untuk latihan bisep. Langsung aja gue berhenti treadmill dan menggunakan alat itu, jangan sampai keduluan ma yang lain. Alat yang buat latihan selangkangan itu cara pakainya adalah, Nelly duduk dng posisi tegak, disebelah luar paha ada beban dan Nelly harus mendorong beban itu dengan cara membuka paha sampai mekangkang, trus di tutup lagi pahanya. Pada saat Nelly membuka pahanya, terlihat dengan jelas garis memeknya di balik hotpants putihnya…
    Edaaaannnnnnnn, nih anak berani bener…, Kontol gue udah kenceng, udah ga kepikiran buat ngencengin otot bisep gue… mata gue terus melihat kearah selangkangan Nelly. Kayanya Nelly juga mulai terangsang, ada noda lendir disekitar garis memeknya… Rupanya Nelly kalo dilihatin bodynya yang sexy, dia ikut terangsang…

    Selesai latihan otot selangkangan, Nelly mulai siap-siap untuk sit up. Dan hari ini yang membantu Nelly sit up adalah Lina, instruktur aerobik di tempat fitness itu. Tinggi Lina sepantaran ma Nelly, perut sama-sama rata, tokednya lebih besah dari pada Nelly. Menurut pengamatan gue, 34b sih ada hehehe… Kulitnya lebih hitam sedikit dibanding Nelly. Sambil megangin kaki Nelly, gue lihat, koq matanya Lina melihat ke arah selangkangannya Nelly, trus kadang-kadang melihat ke arah dada nya Nelly. Mustinya instruktur lihatnya ke muka orang yang di bimbingnya ya…

    Selesai latihan fitness, gue lihat Nelly lagi ngobrol ma Lina, mereka ketawa-ketiwi, entah apa yang diomongin. Gue langsung masuk kamar ganti n segera beberes, gue bbm ( BlackBerryMsg ) in Nelly, gue kasih tau kalo gue nunggu di mobil.Begitu Nelly sampai di mobil, gue langsung nanya ma dia

    ” Tadi ngobrol apa ma Lina ? koq keliatannya seru banget ? “ selidik gue.
    “ Gue ngajak Lina dugem bareng, kan biar seru say “ kata Nelly
    “ Lho, dia tar sama siapa ? ma cowonya ? “ tanya gue sambil penasaran.
    “ Ngga say, cowonya lagi ada kerjaan di singapore, jadi besok dia sendirian aja katanya “
    “ Jadi kita jalannya ber 3 nih ? okeh deh… berangkat… ”

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Pemerkosaan Nikmat Bikin Ketagihan

    Pemerkosaan Nikmat Bikin Ketagihan


    1032 views

    Cerita Sex ini berjudulPemerkosaan Nikmat Bikin KetagihanCerita Dewasa,Cerita Hot,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    PerawankuSuasana haru mengirnigi perceraian ortuku,Itu aku sangat terpuruk atas kejadian naas,aku tak lagi percaya semua itu. Tapi mereka semua tetep suport aku untuk selalu belajar aku menatap kehidupan yang cerah dan terarah.

    Tidak seperti kisah orang tuaku yang gagal dalam membina rumah tangga,anak nyaakumenjadi korban atas ke egoisan mereka.Tapi aku terima dengan iklas dengan apa yang sedang menimpaku berharap ada sebuah keajaiban pada akhirnya.

    Hingga aku berhasil dalam memasuki pergurang tinggi Negri kedua ortu bangga terhadapku,Aku senang walau kadang aku tak percaya bahwa mereka tak bersama kulagi.Keluargaku saat itu hidup berkecukupan.

    Ayahku yang berkedudukan sebagai seorang pejabat teras sebuah departemen memang memberikan nafkah yang cukup bagiku dan ibuku, walaupun ia bekerja secara jujur dan jauh dari korupsi, tidak seperti pejabatpejabat lain pada umumnya.

    Dari segi materi, memang aku tidak memiliki masalah, begitu pula dari segi fisikku. Kuakui, wajahku terbilang cantik, mata indah, hidung bangir, serta dada yang membusung walau tidak terlalu besar ukurannya.

    Semua itu ditambah dengan tubuhku yang tinggi semampai, sedikit lebih tinggi dari ratarata gadis seusiaku, memang membuatku lebih menonjol dibandingkan yang lain. Bahkan aku menjadi mahasiswi baru primadona di kampus.

    Akan tetapi karena pengawasan orang tuaku yang ketat, di samping pendidikan agamaku yang cukup kuat, aku menjadi seperti anak mama. Tidak seperti remajaremaja pada umumnya, aku tidak pernah pergi keluyuran ke luar rumah tanpa ditemani ayah atau ibu. Cerita Dewasa Pemerkosaan.

    Namun setelah perceraian itu terjadi, dan aku ikut ibuku yang menikah lagi dua bulan kemudian dengan duda berputra satu, seorang pengusaha restoran yang cukup sukses, aku mulai berani pergi keluar rumah tanpa didampingi salah satu dari orang tuaku. Itupun masih jarang sekali.

    Bahkan ke diskotik pun aku hanya pernah satu kali. Itu juga setelah dibujuk rayu oleh seorang lakilaki teman kuliahku. Setelah itu aku kapok.

    Mungkin karena baru pertama kali ini aku pergi ke diskotik, baru saja duduk sepuluh menit, aku sudah merasakan pusing, tidak tahan dengan suara musik disko yang bising berdentamdentam, ditambah dengan bau asap rokok yang memenuhi ruangan diskotik tersebut.

    Don, kepala gue pusing. Kita pulang aja yuk.

    Alaa, Mer. Kita kan baru sampai di sini. Masa belum apaapa udah mau pulang. Rugi kan. Lagian kan masih sore.

    Tapi gue udah tidak tahan lagi.

    Gini deh, Mer. Gue kasih elu obat penghilang pusing. Situs Judi Online

    Temanku itu memberikanku tablet yang berwarna putih. Aku pun langsung menelan obat sakit kepala yang diberikannya.

    Gimana sekarang rasanya? Enak kan?

    Aku mengangguk. Memang rasanya kepalaku sudah mulai tidak sakit lagi. Tapi sekonyongkonyong mataku berkunangkunang. Semacam aliran aneh menjalari sekujur tubuhku. Cerita Dewasa Pemerkosaan.

    Antara sadar dan tidak sadar, kulihat temanku itu tersenyum. Kurasakan ia memapahku keluar diskotik. Ini cewek lagi mabuk, katanya kepada petugas keamanan diskotik yang menanyainya. Lalu ia menjalankan mobilnya ke sebuah motel yang tidak begitu jauh dari tempat itu.

    Setiba di motel, temanku memapahku yang terhuyunghuyung masuk ke dalam sebuah kamar. Ia membaringkan tubuhku yang tampak menggeliatgeliat di atas ranjang.

    Kemudian ia menindih tubuhku yang tergeletak tak berdaya di kasur. Temanku dengan gemas mencium bibirku yang merekah mengundang.

    Kedua belah buah dadaku yang ranum dan kenyal merapat pada dadanya. Darah kelakilakiannya dengan cepat semakin tergugah untuk menggagahiku. Ouuhhh Don! desahku.

    Temanku meraih tubuhku yang ramping. Ia segera mendekapku dan mengulum bibirku yang ranum. Lalu diciuminya bagian telinga dan leherku. Aku mulai menggerinjalgerinjal.

    Sementara itu tangannya mulai membuka satu persatu kancing blus yang kupakai. Kemudian dengan sekali sentakan kasar, ia menarik lepas tali BHku, sehingga tubuh bagian atasku terbuka lebar, siap untuk dijelajahi.

    Tangannya mulai merabaraba buah dadaku yang berukuran cukup besar itu. Terasa suatu kenikmatan tersendiri pada syarafku ketika buah dadaku dipermainkan olehnya.

    Don Ouuhhh Ouuhhh rintihku saat tangan temanku sedang asyik menjamah buah dadaku.

    Tak lama kemudian tangannya setelah puas berpetualang di buah dadaku sebelah kiri, kini berpindah ke buah dadaku yang satu lagi, sedangkan lidahnya masih menggumuli lidahku dalam ciumanciumannya yang penuh desakan nafsu yang semakin menjadijadi.

    Lalu ia menanggalkan celana panjangku. Tampaklah pahaku yang putih dan mulus itu. Matanya terbelalak melihatnya. Temanku itu mulai menyelusupkan tangannya ke balik celana dalamku yang berwarna kuning muda.

    Dia mulai meremasremas kedua belah gumpalan pantatku yang memang montok itu.

    Ouh Ouuh Jangan, Don! Jangan! Ouuhhh jeritku ketika jarijemari temanku mulai menyentuh bibir kewanitaanku.

    Namun jeritanku itu tak diindahkannya, sebaliknya ia menjadi semakin bergairah. Ibu jarinya menguruturut klitorisku dari atas ke bawah berulangulang. Aku semakin menggerinjalgerinjal dan berulang kali menjerit. Cerita Dewasa Pemerkosaan.

    Kepala temanku turun ke arah dadaku. Ia menciumi belahan buah dadaku yang laksana lembah di antara dua buah gunung yang menjulang tinggi.

    Aku yang seperti tersihir, semakin menggerinjalgerinjal dan merintih tatkala ia menciumi ujung buah dadaku yang kemerahan. Tibatiba aku seperti terkejut ketika lidahnya mulai menjilati ujung puting susuku yang tidak terlalu tinggi tapi mulai mengeras dan tampak menggiurkan.

    Seperti mendapat kekuatanku kembali, segera kutampar wajahnya. Temanku itu yang kaget terlempar ke lantai. Aku segera mengenakan pakaianku kembali dan berlari ke luar kamar.

    Ia hanya terpana memandangiku. Sejak saat itu aku bersumpah tidak akan pernah mau ke tempattempat seperti itu lagi.

    Sudah dua tahun berlalu aku dan ibuku hidup bersama dengan ayah dan adik tiriku, Rio, yang umurnya tiga tahun lebih muda dariku. Kehidupan kami berjalan normal seperti layaknya keluarga bahagia. Cerita Dewasa Pemerkosaan.

    Aku pun yang saat itu sudah di semester enam kuliahku, diterima bekerja sebagai teller di sebuah bank swasta nasional papan atas.

    Meskipun aku belum selesai kuliah, namun berkat penampilanku yang menarik dan keramahtamahanku, aku bisa diterima di situ, sehingga aku pun berhak mengenakan pakaian seragam baju atas berwarna putih agak krem, dengan blazer merah yang sewarna dengan rokku yang ujungnya sedikit di atas lutut.

    Sampai suatu saat, tibatiba ibuku terkena serangan jantung. Setelah diopname selama dua hari, ibuku wafat meninggalkan aku. Rasanya seperti langit runtuh menimpaku saat itu. Sejak itu, aku hanya tinggal bertiga dengan ayah tiriku dan Rio.

    Sepeninggal ibuku, sikap Rio dan ayahnya mulai berubah. Mereka berdua beberapa kali mulai bersikap kurang ajar terhadapku, terutama Rio.

    Bahkan suatu hari saat aku ketiduran di sofa karena kecapaian bekerja di kantor, tanpa kusadari ia memasukkan tangannya ke dalam rok yang kupakai dan meraba paha dan selangkanganku.

    Ketika aku terjaga dan memarahinya, Rio malah mengancamku. Kemudian ia bahkan melepaskan celana dalamku. Tetapi untung saja, setelah itu ia tidak berbuat lebih jauh. Cerita Dewasa Pemerkosaan.

    Ia hanya memandangi kewanitaanku yang belum banyak ditumbuhi bulu sambil menelan air liurnya. Lalu ia pergi begitu saja meninggalkanku yang langsung saja merapikan pakaianku kembali. Selain itu, Rio sering kutangkap basah mengintip tubuhku yang bugil sedang mandi melalui lubang angin kamar mandi.

    Aku masih berlapang dada menerima segala perlakuan itu. Pada saat itu aku baru saja pulang kerja dari kantor.

    Ah, rasanya hari ini lelah sekali. Tadi di kantor seharian aku sibuk melayani nasabahnasabah bank tempatku bekerja yang menarik uang secara besarbesaran.

    Entah karena apa, hari ini bank tempatku bekerja terkena rush. Ingin rasanya aku langsung mandi. Tetapi kulihat pintu kamar mandi tertutup dan sedang ada orang yang mandi di dalamnya.

    Kubatalkan niatku untuk mandi. Kupikir sambil menunggu kamar mandi kosong, lebih baik aku berbaring dulu melepaskan penat di kamar. Akhirnya setelah melepas sepatu dan menanggalkan blazer yang kukenakan, aku pun langsung membaringkan tubuhku tengkurap di atas kasur di kamar tidurnya.

    Ah, terasa nikmatnya tidur di kasur yang demikian empuknya. Tak terasa, karena rasa kantuk yang tak tertahankan lagi, aku pun tertidur tanpa sempat berubah posisi.

    Aku tak menyadari ada seseorang membuka pintu kamarku dengan perlahanlahan, hampir tak menimbulkan suara. Orang itu lalu dengan mengendapendap menghampiriku yang masih terlelap.

    Kemudian ia naik ke atas tempat tidur. Tibatiba ia menindih tubuhku yang masih tengkurap, sementara tangannya meremasremas belahan pantatku. Aku seketika itu juga bangun dan merontaronta sekuat tenaga. Cerita Dewasa Pemerkosaan.

    Namun orang itu lebih kuat, ia melepaskan rok yang kukenakan. Kemudian dengan secepat kilat, ia menyelipkan tangannya ke dalam celana dalamku. Dengan ganasnya, ia meremasremas gumpalan pantatku yang montok.

    Aku semakin memberontak sewaktu tangan orang itu mulai mempermainkan bibir kewanitaanku dengan ahlinya. Sekalisekali aku mendelikdelik saat jari telunjuknya dengan sengaja berulang kali menyentilnyentil klitorisku.

    Aahh! Jangaann! Aaahh! aku berteriakteriak keras ketika orang itu menyodokkan jari telunjuk dan jari tengahnya sekaligus ke dalam kewanitaanku yang masih sempit itu, setelah celana dalamku ditanggalkannya.

    Akan tetapi ia mengacuhkanku. Tanpa mempedulikan aku yang terus merontaronta sambil menjeritjerit kesakitan, jarijarinya terusmenerus merambahi lubang kenikmatanku itu, semakin lama semakin tinggi intensitasnya.

    Aku bersyukur dalam hati waktu orang itu menghentikan perbuatan gilanya. Akan tetapi tampaknya itu tidak bertahan lama. Dengan hentakan kasar, orang itu membalikkan tubuhku sehingga tertelentang menghadapnya. Aku terperanjat sekali mengetahui siapa orang itu sebenarnya.

    Rio Kamu Rio hanya menyeringai buas.

    Eh, Mer. Sekarang elu boleh berteriakteriak sepuasnya, tidak ada lagi orang yang bakalan menolong elu. Apalagi si nenek tua itu sudah mampus!

    Astaga Rio menyebut ibuku, ibu tirinya sendiri, sebagai nenek tua. Keparat.

    Rio! Jangan, Rio! Jangan lakukan ini! Gue kan kakak elu sendiri! Jangan!

    Kakak? Denger, Mer. Gue tidak pernah nganggap elu kakak gue. Siapa suruh elu jadi kakak gue. Yang gue tau cuma papa gue kawin sama nenek tua, mama elu!
    Rio!

    Elu kan cewek, Mer. Papa udah ngebiayain elu hidup dan kuliah. Kan tidak ada salahnya gue sebagai anaknya ngewakilin dia untuk meminta imbalan dari elu. Bales budi dong!
    Iya, Rio. Tapi bukan begini caranya!

    Heh, yang gue butuhin cuman tubuh molek elu, tidak mau yang lain. Gue tidak mau tau, elu mau kasih apa tidak!
    Errgh

    Aku tidak dapat berbuat apaapa lagi. Mulut Rio secepat kilat memagut mulutku. Dengan memaksa ia melumat bibirku yang merekah itu, membuatku hampir tidak bisa bernafas. Cerita Dewasa Pemerkosaan.

    Aku mencoba merontaronta melepaskan diri. Tapi cekalan tangan Rio jauh lebih kuat, membuatku tak berdaya. Akh! Rio kesakitan sewaktu kugigit lidahnya dengan cukup keras.

    Tapi, Plak! Ia menampar pipiku dengan keras, membuat mataku berkunangkunang. Kugelenggelengkan kepalaku yang terasa seperti berputarputar.

    Tanpa mau membuangbuang waktu lagi, Rio mengeluarkan beberapa utas tali sepatu dari dalam saku celananya. Kemudian ia membentangkan kedua tanganku, dan mengikatnya masingmasing di ujung kiri dan kanan tempat tidur.

    Demikian juga kedua kakiku, tak luput diikatnya, sehingga tubuhku menjadi terpentang tak berdaya diikat di keempat arah.

    Oleh karena kencangnya ikatannya itu, tubuhku tertarik cukup kencang, membuat dadaku tambah tegak membusung. Melihat pemandangan yang indah ini membuat mata Rio tambah menyalangnyalang bernafsu.

    Tangan Rio mencengkeram kerah blus yang kukenakan. Satu persatu dibukanya kancing penutup blusku. Setelah kancingkancing blusku terbuka semua, ditariknya blusku itu ke atas.

    Kemudian dengan sekali sentakan, ditariknya lepas tali pengikat BHku, sehingga buah dadaku yang membusung itu terhampar bebas di depannya.

    Wow! Elu punya toket bagus gini kok tidak bilangbilang, Mer! Auum! Rio langsung melahap buah dadaku yang ranum itu. Gelitikangelitikan lidahnya pada ujung puting susuku membuatku menggerinjalgerinjal kegelian. Cerita Dewasa Pemerkosaan.

    Tapi aku tidak mampu berbuat apaapa. Semakin keras aku merontaronta tampaknya ikatan tanganku semakin kencang. Sakit sekali rasanya tanganku ini. Jadi aku hanya membiarkan buah dada dan puting susuku dilumat Rio sebebas yang ia suka.

    Aku hanya bisa menengadahkan kepalaku menghadap langitlangit, memikirkan nasibku yang sial ini.

    Aaarrghh Rio! Jangaannn..! Lamunanku buyar ketika terasa sakit di selangkanganku. Ternyata Rio mulai menghujamkan kemaluannya ke dalam kewanitaanku.

    Tambah lama bertambah cepat, membuat tubuhku tersentaksentak ke atas. Melihat aku yang sudah tergeletak pasrah, memberikan rangsangan yang lebih hebat lagi pada Rio.

    Dengan sekuat tenaga ia menambah dorongan kemaluannya masukkeluar dalam kewanitaanku. Membuatku merontaronta tak karuan.

    Urrgh Akhirnya Rio sudah tidak dapat menahan lagi gejolak nafsu di dalam tubuhnya. Kemaluannya menyemprotkan cairancairan putih kental di dalam kewanitaanku.

    Sebagian berceceran di atas sprei sewaktu ia mengeluarkan kemaluannya, bercampur dengan darah yang mengalir dari dalam kewanitaanku, menandakan selaput daraku sudah robek olehnya. Karena kelelahan, tubuh Rio langsung tergolek di samping tubuhku yang bermandikan keringat dengan nafas terengahengah. Cerita Dewasa Pemerkosaan.

    Braak! Aku dan Rio terkejut mendengar pintu kamar terbuka ditendang cukup keras. Lega hatiku melihat siapa yang melakukannya.
    Papa!

    Rio! Apaapa sih kamu ini?! Cepat kamu bebaskan Merry!
    Ah, akhirnya neraka jahanam ini berakhir juga, pikirku. Rio mematuhi perintah ayahnya. Segera dibukanya seluruh ikatan di tangan dan kakiku. Aku bangkit dan segera berlari menghambur ke arah ayah tiriku.

    Sudahlah, Mer. Maafin Rio ya. Itu kan sudah terjadi, kata ayah tiriku menenangkan aku yang terus menangis dalam dekapannya.

    Tapi, Pa. Gimana nasib Meriska? Gimana, Pa? Aaahh Papaa! tangisanku berubah menjadi jeritan seketika itu juga tatkala ayah tiriku mengangkat tubuhku sedikit ke atas kemudian ia menghujamkan kemaluannya yang sudah dikeluarkannya dari dalam celananya ke dalam kewanitaanku.

    Aaahh Papaa Jangaaan! Aku merontaronta keras. Namun dekapan ayah tiriku yang begitu kencang membuat rontaanku itu tidak berarti apaapa bagi dirinya. Cerita Dewasa Pemerkosaan.

    Ayah tiriku semakin ganas menyodoknyodokkan kemaluannya ke dalam kewanitaanku. Ah! Ayah dan anak sama saja, pikirku, begitu teganya mereka menyetubuhi anak dan kakak tiri mereka sendiri.

    Aku menjerit panjang kesakitan sewaktu Rio yang sudah bangkit dari tempat tidur memasukkan kemaluannya ke dalam lubang anusku.

    Aku merasakan rasa sakit yang hampir tak tertahankan lagi. Ayah dan kakak tiriku itu samasama menghunjam tubuhku yang tak berdaya dari kedua arah, depan dan belakang.

    Akibat kelelahan bercampur dengan kesakitan yang tak terhingga akhirnya aku tidak merasakan apaapa lagi, tak sadarkan diri. Aku sudah tidak ingat lagi apakah Rio dan ayahnya masih mengagahiku atau tidak setelah itu.

    Beberapa bulan telah berlalu. Aku merasa mual dan berkalikali muntah di kamar mandi. Akhirnya aku memeriksakan diriku ke dokter. Cerita Dewasa Pemerkosaan.

    Ternyata aku dinyatakan positif hamil. Hasil diagnosa dokter ini bagaikan gada raksasa yang menghantam wajahku. Aku mengandung?

    Kebingungankebingungan terusmenerus menyelimuti benakku. Aku tidak tahu secara pasti, siapa ayah dari anak yang sekarang ada di kandunganku ini. Ayah tiriku atau Rio.

    Hanya mereka berdua yang pernah menyetubuhiku. Aku bingung, apa status anak dalam kandunganku ini. Yang pasti ia adalah anakku. Lalu apakah ia juga sekaligus adikku alias anak ayah tiriku?

    Ataukah ia juga sekaligus keponakanku sebab ia adalah anak adik tiriku sendiri?

    Tolongkah aku, wahai pembaca yang budiman!

    Demikianlah koleksi cerita dewasa pemerkosaan semoga menghibur anda.

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Cerita Seks Toket Besar Dan Toket Kecil

    Cerita Seks Toket Besar Dan Toket Kecil


    1132 views

    Foto Sex ini berjudul ” Cerita Seks Toket Besar Dan Toket Kecil ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Marissa (24 tahun, selanjutnya disebut Risa) adalah seorang mahasiswi di sebuah perguruan tinggi swasta di kota Yogyakarta. Setelah semester 6 ini dia libur selama sekitar satu bulan. Dia mengisi waktu dengan melakukan kerja praktek pada sebuah industri di sebuah kota di Jawa Tengah. Karena tidak mempunyai saudara atau teman di kota tersebut, maka oleh direksi industri tersebut dia dititipkan ke rumah kontrakan salah satu karyawati yang bernama Gia Amalia (23 tahun, selanjutnya disebut Gia). Kebetulan Gia tinggal sendirian di rumah itu.

    Malam itu Risa telah tiba di rumah Gia dan langsung dijamu dengan makan malam. Mereka berdua berbincang-bincang mengenai banyak hal. Selesai makan malam pun mereka masih asyik berbincang-bincang. Selama berbincang-bincang tersebut Risa sesekali melirik kedua payudara Gia yang berukuran 40. Kedua payudara Gia yang dilapisi bra berwarna hitam dan kaos putih ketat itu membuat iri Risa. Dia iri karena kedua payudaranya hanya berukuran 32.

    “Kenapa Ris?” Tanya Gia yang rupanya memperhatikan lirikan mata Risa.
    “Nggak kok.” Elak Risa sambil tersenyum.
    “Jujur saja. Aku tahu apa yang kau pikirkan.”
    “Bener mbak. Nggak apa-apa kok.” Risa masih mengelak. Dia juga menyebut Mbak kepada Gia meskipun dia lebih tua dari Gia. Risa sendiri yang minta untuk memanggil Gia dengan sebutan Mbak ketika tiba di rumah Gia karena alasan senioritas. Gia telah bekerja sedangkan dia masih kuliah.

    “Kamu heran ya? Kenapa kedua payudaraku lain dengan kedua payudaramu?”
    “Iya. Diapakan mbak? Pakai obat ya mbak?” Tanya Risa yang rambut lurus cepaknya berwarna kemerah-merahan.
    “Pakai oil.” Jawab Gia singkat.
    “Boleh minta?”
    Gia hanya mengangguk dan berdiri dari kursi menuju kamarnya.
    “Nggak usah sekarang mbak. Besok saja. Risa sudah ngantuk. Mau tidur. Besok kan mulai kerja.” Cegah Risa yang juga berdiri dari kursi. HokiJudi99

    Gia yang rambut panjangnya berombak dan hitam serta diikat membalikkan tubuhnya dan membereskan meja makan dibantu oleh Risa sambil membicarakan masalah-masalah pekerjaan besok. Setelah itu mereka berdua menonton televisi. Hanya sebentar Risa menonton televisi. Gia menyuruh Risa tidur di kamar yang telah disiapkannya. Dia sendiri juga menyusul tidur.

    Risa yang masih lelah karena perjalanan dari Yogya berusaha tidur. Bayangan kedua payudara Gia yang besar membuatnya sulit tidur. Akhirnya setelah beberapa saat dia pun tertidur. Pagi harinya dia terbangun. Dia lalu menuju dapur. Disana telah ada Gia yang tingginya sama dengan tingginya, yaitu sekitar 165 cm. Beratnya saja yang beda. Beratnya sekitar 48 kg. Sedangkan berat Gia sekitar 50 kg. Dia sedang membuat teh. Risa menghampirinya. Gia yang menyadari kedatangan Risa lalu berbalik.

    “Bagaimana? Bisa tidur nggak?” Tanya Gia.
    “Nggak bisa mbak. Ingat payudara Mbak sih.” Jawab Gia sambil tersenyum yang dibalas oleh Gia dengan senyuman. Kemudian lanjutnya.
    “Boleh nggak mbak, Risa lihat kedua payudara mbak?”
    Tanpa menunggu persetujuan Gia, Risa sudah membuka ikatan kimono tidur berwarna coklat yang dipakai Gia. Rupanya tubuh berkulit sawo matang tersebut hanya memakai celana dalam berwarna putih. Gia juga membuka ikatan kimono tidur berwarna hitam yang dipakai Risa. Sama dengan dirinya. Risa yang berkulit putih mulus juga hanya memakai celana dalam berwarna kuning. Mereka berdua menjatuhkan kimono masing-masing ke lantai. Dan Risa langsung membelai payudara kanan Gia.

    “Eeehmm..” Desah Gia.
    Gia lalu membalikkan tubuh Risa. Dibelainya tato bergambar kepala cewek di punggung sebelah kanan Risa. Dia lalu membelai paha kiri Risa dengan tangan kirinya.
    “Eeehmm..” Desah Risa.
    Lalu diturunkannya celana dalam yang dipakai Risa sampai terlepas dari tubuhnya. Kemudian giliran Risa yang menurunkan celana dalam yang dipakai Risa sampai terlepas juga dari tubuhnya. Risa lalu jongkok dan membelai belahan kedua payudara Gia dengan tangan kanannya.
    “Eeehmm..” Desah Gia.
    Tangan kiri Gia lalu memegang tangan kanan Risa dan diremaskannya ke payudara kirinya.
    “Ooohh..” Desah Gia.
    Risa lalu mundur dan duduk di kursi sambil menarik tubuh Gia. Sambil duduk dia menjilati payudara kanan Gia.
    “Eeehmm..” Desah Gia.
    Tangan kirinya membelai vagina Gia. Tangan kirinya lalu meremas payudara kanan Gia dan lidahnya menjilati puting payudara kanan Gia.
    “Ooohh..aahh..oohh..eehmm..” Desah Gia.
    Beberapa saat kemudian Risa membalikkan tubuh Gia. Dari belakang kedua tangannya lalu membelai kedua payudara Gia dan dilanjutkan dengan meremas kedua payudara Gia.

    “Eeehmm..oohh..” Desah Gia.
    “Sudah Ris. Nanti kita terlambat. Kita kan belum mandi dan sarapan.” Kata Gia sambil melepaskan diri dari jamahan Risa. Kemudian Gia masuk ke kamar mandi yang tepat berada di samping dapur. Risa mengikutinya.
    “Bolehkah aku ikut mandi dengan mbak?” Tanya Risa yang masih berdiri di pintu kamar mandi.
    Gia yang sedang mandi di bawah pancuran hanya menganggukan kepala sambil tersenyum menantang. Risa kemudian bergabung mandi dibawah pancuran. Dia langsung disambut dengan Gia yang menempelkan tubuhnya ke tubuh Risa. Dia mematikan pancuran dan tangan kirinya membelai vagina Risa dan tangan kanannya memeluk pinggang Risa.

    “Ooohh..aahh..” Desah Risa.
    Kemudian Gia semakin merapatkan tubuhnya yang basah ke tubuh Risa yang juga basah. Kedua payudaranya menempel di kedua payudara Risa yang kecil.
    “Ooouhh..” Mereka berdua sama-sama mendesah.
    Bibirnya ditempelkan juga ke bibir Risa. Mereka berdua berciuman dan saling berjilatan lidah. Tiba-tiba Risa terpeleset. Untung dia bisa cepat menguasai tubuhnya sehingga dia tidak merasa kesakitan. Tapi dia tidak segera berdiri. Dia ingin Gia menolongnya. Dengan harapan dia dapat menarik tubuh Gia supaya ikut terjatuh. Ternyata Gia mengambil selang pancuran dan airnya disemprotkan ke vagina Risa. Hanya sebentar. Dia lalu berjongkok dan menyabuni vagina Risa dengan sabun. Diciumnya juga bibir Risa yang membalas dengan hebatnya. Lama sekali Gia menyabuni vagina Risa sambil sesekali jari tengah tangan kanannya dimasukkan ke vagina Risa. Sementara tangan kirinya menuangkan sabun cair ke dalam bathtub.

    Lalu Gia menarik tubuh Risa untuk masuk ke dalam bathtub. Mereka berdua lalu saling mengusapkan busa sabun ke tubuh mereka. Sesekali mereka berdua berciuman sambil saling menjilatkan lidah. Mereka berdua juga saling berpelukan dan menempelkan kedua payudara mereka.
    “Ooouhh..” Mereka berdua sama-sama mendesah.
    Kemudian Risa membersihkan busa sabun yang berada di kedua payudara Gia dengan kedua tangannya. Dijilatinya puting payudara kanan Gia.
    “Eeehmm..” Desah Gia.
    Perlakuan Risa membuat tubuh Gia semakin naik dan menjadikan dia berdiri dengan bersandar pada dinding kamar mandi. Risa sudah tidak lagi menjilati puting payudara kanan Gia. Kini dia membersihkan busa sabun di vagina Gia dengan air. Lalu dia menghisap vagina Gia dengan lidahnya.
    “Aaaghh..oohh..” Desah Gia.
    Gia hanya bisa meremas-remas sendiri kedua payudaranya dengan kedua tangannya. Sesekali tangan kiri Risa juga meremas payudara kiri Gia.
    “Ooohh..” Desah Gia.
    Mulutnya naik kembali ke atas dan menghisap payudara kiri Gia sambil jari tengah tangan kanannya mengocok vagina Gia.
    “Oooughh..aahh..oouhh..” Desah Gia.
    Dia lalu menempelkan kedua payudaranya ke kedua payudara Gia.
    “Ooouhh..”
    Dipeluknya Gia sambil menjilati lehernya. Tangan kiri Gia juga meremas pantat Risa.
    “Eeehmm..” Mereka berdua sama-sama mendesah.
    Risa kemudian menyodorkan payudara kanannya yang kecil ke mulut Gia yang mau saja menghisapnya.
    “Oooughh..” Desah Risa.
    Tetapi hanya sebentar. Gia menuntun Risa untuk membungkuk dengan kedua tangan berpegangan pada dinding kamar mandi. Digesek-gesekannya kedua payudaranya ke punggung Risa.
    “Ooouhh..” Desah Gia.

    Mereka berdua kemudian sadar bahwa mereka akan bekerja. Sehingga akhirnya mereka menyudahi permainannya. Mereka berdua kemudian mandi sambil sesekali masih saling membelai tubuh mereka. Terutama Risa yang sering membelai kedua payudara Gia bergantian. Dia terpesona dengan kedua payudara Gia yang besar.
    Sore harinya ketika pulang dari bekerja. Permainan mereka berdua berlanjut kembali.
    “Mbak. Minta oilnya dong.” Kata Risa.
    “Sini.” Kata Gia sambil menarik Risa ke kamarnya.
    “Buka semua pakaianmu.” Lanjut Gia.
    Risa hanya menurut saja. Dia membuka semua pakaiannya. Ternyata Gia juga membuka semua pakaiannya. Kecuali celana dalam. Gia lalu mengambil sebuah botol dari lemarinya. Botol yang bertuliskan Breast Oil. Kemudian dihampirinya Risa yang sedang melepas miniset yang dipakainya. Dia tinggal memakai celana dalam. Gia kemudian memegang payudara kanan Risa dan menuangkan isi botol ke payudara kanan Risa setelah membuka tutupnya. Tangan kirinya kemudian meremas-remas payudara kanan Risa.

    “Ooohh..” Desah Risa.
    Kemudian remasan tangan kirinya berpindah ke payudara kiri Risa.
    “Ooohh..” Desah Risa.
    Dia lalu membalikkan tubuh Risa dan menuangkan isi botol ke punggungg Risa. Diletakkannya botol itu ke meja dan dengan kedua tangannya diratakannya cairan itu ke seluruh tubuh Risa bagian atas.
    “Eeehmm..” Desah Risa.
    Lalu dibalikkan kembali tubuh Risa sambil tangan kanannya mengambil botol di meja. Diserahkannya botol itu ke Risa.
    “Gantian ya.” Kata Gia.
    Risa hanya mengangguk sambil menerima botol itu dari tangan Gia. Dia kemudian menuangkan isi botol ke kedua payudara Gia sekaligus dalam jumlah besar. Kemudian dilemparkannya botol itu ke tempat tidur setelah ditutup. Kedua tangannya kemudian meratakan cairan itu ke seluruh tubuh Gia bagian atas terutama ke kedua payudara Gia.
    “Eeehmm..oohh..” Desah Gia.
    Setelah dirasa cukup, Gia lalu memeluk Risa dan menggesek-gesekkan kedua payudaranya ke kedua payudara Risa selama beberapa menit.
    “Ooouhh..”
    Lalu mereka berdua melepaskan pelukan dan saling meremas kedua payudaranya.

    “Ooohh..”
    Gia menghentikan remasannya pada kedua payudara Risa. Dia keluar kamar dan mengambil dua botol air mineral dari kulkas. Dia masuk kembali ke kamar dan dilihatnya Risa masih meremas sendiri kedua payudaranya.
    “Ooohh..” Desah Risa.
    Di depan Risa, Gia membuka salah satu botol dan dengan menari-nari dia mengucurkan sedikit demi sedikit air itu ke kedua payudaranya. Gia membersihkan cairan dengan air mineral itu.
    “Eeehmm..” Desah Gia.
    Risa tertarik dan mengambil botol satunya dari tangan Gia. Dengan berhadap-hadapan Risa juga membersihkan cairan pada kedua payudaranya sendiri.
    “Eeehmm..” Desah Risa.
    Gia melihat sebuah kesempatan. Tangan kirinya meremas dan menjilati payudara kanan Risa yang bertambah besar dari biasanya meskipun tidak sebesar dari yang dia punya.
    “Ooohh..eehmm..” Desah Risa.
    Dibalikkannya tubuh Risa dan dari belakang tangan kirinya meremas kedua payudara Risa bergantian.
    “Ooohh..” Desah Risa.

    Sementara tangan kanannya masih mengucurkan air dari botol. Tangan kanan Risa juga mengucurkan air ke kedua payudaranya. Tubuh mereka berdua basah dan Risa membalikkan tubuhnya. Dipeluknya Gia. Kedua payudara mereka yang berbeda ukuran menempel dan saling menggesek.
    “Ooouhh..” Mereka berdua sama-sama mendesah.
    Hampir tiap hari Gia meremas kedua payudara Risa dengan Breast Oil yang berlanjut dengan percumbuan yang sangat panas.. Sampai akhirnya kedua payudara Risa sama besarnya dengan kedua payudaranya bertepatan dengan berakhirnya masa kerja praktek Risa di tempat Gia bekerja.

    Tamat

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Cerita Sex Merangsang Wanita Ketika Di Jepit Susunya

    Cerita Sex Merangsang Wanita Ketika Di Jepit Susunya


    109 views

    Perawanku – Cerita Sex Merangsang Wanita Ketika Di Jepit Susunya. Lega rasanya aku melihat pagar rumah kosku setelah terjebak dalam kemacetan jalan dari kampusku, Kulirik jam tanganku yang menunjukkan pukul 21.05 yang berarti aku telah menghabiskan waktu satu jam terjebak dalam arus lalu-lintas Jakarta yang begitu mengerikan.

    Setelah memarkir mobilku, bergegas aku menuju ke kamarku dan kemudian langsung menghempaskan tubuh penatku ke ranjang tanpa sempat lagi menutup pintu kamar.

    Baru saja mataku tertutup, tiba-tiba saja aku dikejutkan oleh ketukan pada pintu kamarku yang disertai dengan teriakan nyaring dari suara yang sudah sangat aku kenal.

    “Ko, loe baru pulang yah?” gelegar suara Voni memaksa mataku untuk menatap asal suara itu. “iya, memangnya ada apa sih teriak-teriak?” jawabku sewot sambil mengucek mataku. “Ini gue mau kenalin sepupu gue yang baru tiba dari Bandung” jawabnya sambil tangan kirinya menarik tangan seorang cewek masuk ke kamarku.

    Kuperhatikan cewek yang disebut Voni sebagai sepupunya itu, sambil tersenyum aku menyodorkan tangan kananku kearahnya “Hai, namaku Riko” “Lydia” jawabnya singkat sambil tersenyum kepadaku. Sambil membalas senyumannya yang manis itu, mataku mendapati sesosok tubuh setinggi kira-kira 165 cm, walaupun dengan perawakan sedikit montok namun kulitnya yang putih bersih seakan menutupi bagian tersebut.

    “Riko ini teman baik gue yang sering gue ceritain ke kamu” celetuk Voni kepada Lydia. “Oh..” “Nah, sekarang kan loe berdua udah tau nama masing-masing, lain kali kalo ketemu kan bisa saling memanggil, gue mau mandi dulu yah, daag..” kata Voni sambil berjalan keluar dari kamarku. Aku menanggapi perkataan Voni barusan dengan kembali tersenyum ke Lydia.

    “Cantik juga sepupu Voni ini” pikirku dalam hati. “Lydia ke Jakarta buat liburan yah?” tanyaku kepadanya. “Iya, soalnya bosen di Bandung melulu” jawabnya. “Loh, memangnya kamu nggak kuliah?” “Nggak, sehabis SMA aku cuma bantu-bantu Papa aja, males sih kuliah.” “Rencananya berapa lama di Jakarta?” “Yah.. sekitar 2 minggu deh” “Riko aku ke kamar Voni dulu yah, mau mandi juga ” “Oke deh” Sambil tersenyum lagi dia berjalan keluar dari kamarku.

    Aku memandang punggung Lydia yang berjalan pelan ke arah kamar Voni. Kutatap BH hitamnya yang terlihat jelas dari balik kaos putih ketat yang membaluti tubuhnya yang agak bongsor itu sambil membayangkan dadanya yang juga montok itu.

    Setelah menutup pintu kamarku, kembali kurebahkan tubuhku ke ranjang dan hanya dalam sekejab saja aku sudah terlelap.

    “Ko, bangun dong” Aku membuka kembali mataku dan mendapatkan Voni yang sedang duduk di tepi ranjangku sambil menggoyangkan lututku. “Ada apa sih?” tanyaku dengan nada sewot setelah untuk kedua kalinya dibangunkan. “Kok marah-marah sih, udah bagus gue bangunin. Liat udah jam berapa masih belom mandi!” Aku menoleh ke arah jam dindingku sejenak.

    “Jam 11, emang kenapa kalo gue belum mandi?” “Kan loe janji mau ngetikin tugas gue kemaren” “Aduh Voni.. kan bisa besok..” “Nggak bisa, kan kumpulnya besok pagi-pagi” Aku bergegas bangun dan mengambil peralatan mandiku tanpa menghiraukan ocehan yang terus keluar dari mulut Voni. “Ya udah, gue mandi dulu, loe nyalain tuh komputer!”

    Tulisan di layar komputerku sepertinya mulai kabur di mataku. “Gila, udah jam 1, tugas sialan ini belum selesai juga” gerutuku dalam hati. “Tok.. Tok.. Tok..” bunyi pintu kamarku diketok dari luar. “Masuk!” teriakku tanpa menoleh ke arah sumber suara.

    Terdengar suara pintu yang dibuka dan kemudian ditutup lagi dengan keras sehingga membuatku akhirnya menoleh juga. Kaget juga waktu kudapati ternyata yang masuk adalah Lydia. “Eh maaf, tutupnya terlalu keras” sambil tersenyum malu dia membuka percakapan.

    “Loh, kok belum tidur?” dengan heran aku memandangnya lagi. “Iya nih, nggak tau kenapa nggak bisa tidur” “Voni mana?” tanyaku lagi. “Dari tadi udah tidur kok” “Gue dengar dari dia katanya elo lagi buatin tugasnya yah?” “Iya nih, tapi belum selesai, sedikit lagi sih” “Emang ngetikin apaan sih?” sambil bertanya dia mendekatiku dan berdiri tepat disamping kursiku.

    Aku tak menjawabnya karena menyadari tubuhnya yang dekat sekali dengan mukaku dan posisiku yang duduk di kursi membuat kepalaku berada tepat di samping dadanya.

    Dengan menolehkan kepalaku sedikit ke kiri, aku dapat melihat lengannya yang mulus karena dia hanya memakai baju tidur model tanpa lengan.

    Sewaktu dia mengangkat tangannya untuk merapikan rambutnya, aku dapat melihat pula sedikit bagian dari BHnya yang sekarang berwarna krem muda. “Busyet.. loe harum amat, pake parfum apa nih?” “Bukan parfum, lotion gue kali” “Lotion apaan, bikin terangsang nih” candaku. “Body Shop White Musk, kok bikin terangsang sih?” tanyanya sambil tersenyum kecil.

    “Iya nih beneran, terangsang gue nih jadinya” “Masa sih? berarti sekarang udah terangsang dong” Agak terkejut juga aku mendengar pertanyaan itu. “Jangan-jangan dia lagi memancing gue nih..” pikirku dalam hati. “Emangnya loe nggak takut kalo gue terangsang sama elo?” tanyaku iseng. “Nggak, memangnya loe kalo terangsang sama gue juga berani ngapain?”

    “Gue cium loe ntar” kataku memberanikan diri. Tanpa kusangka dia melangkah dari sebelah kiri ke arah depanku sehingga berada di tengah-tengah kursi tempat aku duduk dengan meja komputerku. “Beneran berani cium gue?” tanyanya dengan senyum nakal di bibirnya yang mungil. “Wah kesempatan nih” pikirku lagi.

    Temukan game dan peluang kemenangan yang lebih mantap! PRAKTIS!

    Aku bangkit berdiri dari dudukku sambil mendorong kursiku sedikit ke belakang sehingga kini aku berdiri persis di hadapannya. Sambil mendekatkan mukaku ke wajahnya aku bertanya ” Bener nih nggak marah kalo gue cium?” Dia hanya tersenyum saja tanpa menjawab pertanyaanku.

    Tanpa pikir panjang lagi aku segera mencium lembut bibirnya. Lydia memejamkan matanya ketika menerima ciumanku. Kumainkan ujung lidahku pelan kedalam mulutnya untuk mencari lidahnya yang segera bertaut dan saling memutar ketika bertemu.

    Sentuhan erotis yang kudapat membuat aku semakin bergairah dan langsung menghujani bibir lembut itu dengan lidahku. Sambil terus menjajah bibirnya aku menuntun pelan Lydia ke ranjang.

    Dengan mata masih terpejam dia menurut ketika kubaringkan di ranjangku. Erangan halus yang didesahkan olehnya membuatku semakin bernafsu dan segera saja lidahku berpindah tempat ke bagian leher dan turun ke area dadanya.

    Setelah menanggalkan bajunya, kedua tanganku yang kususupkan ke punggungnya sibuk mencari kaitan BH-nya dan segera saja kulepas begitu aku temukan.

    Dengan satu tarikan saja terlepaslah penutup dadanya dan dua bukit putih mulus dengan pentil pink yang kecil segera terpampang indah didepanku. Kuremas pelan dua susunya yang besar namun sayang tidak begitu kenyal sehingga terkesan sedikit lembek. Puting susunya yang mungil tak luput dari serangan lidahku.

    Setiap aku jilati puting mungil tersebut, Lydia mendesah pelan dan itu membuatku semakin terangsang saja.

    Entah bagaimana kabar penisku yang sedari tadi telah tegak berdiri namun terjepit diantara celanaku dan selangkangannya. Putingnya yang kecil memang sedikit menyusahkan buatku sewaktu menyedot bergantian dari toket kiri ke toket kanannya, namun desahan serta gerakan-gerakan tubuhnya yang menandakan dia juga terangsang membuatku tak tahan untuk segera bergerilya ke perutnya yang sedikit berlemak.

    Namun ketika aku hendak melepas celananya, tiba-tiba saja dia menahan tanganku. “Jangan Riko!” “Kenapa?” “Jangan terlalu jauh..” “Wah, masa berhenti setengah-setengah, nanggung nih..” “Pokoknya nggak boleh” setengah berteriak Lydia bangkit dan duduk di ranjang.

    Kulihat dua susunya bergantung dengan anggunnya di hadapanku. “Kasihan ama ini nih, udah berdiri dari tadi, masa disuruh bobo lagi?” tanyaku sambil menunjuk ke arah penisku yang membusung menonjol dari balik celana pendekku. Tanpa kusangka lagi, tiba-tiba saja Lydia meloroti celanaku plus celana dalamku sekalian.

    Aku hanya diam ketika dia melakukan hal itu, pikirku mungkin saja dia berubah pikiran. Tetapi ternyata dia kemudian menggenggam penisku dan dengan pelan mengocok penisku naik turun dengan irama yang teratur.

    Aku menyandarkan tubuhku pada dinding kamar dan masih dengan posisi jongkok dihadapanku Lydia tersenyum sambil terus mengocok batang penisku tetapi semakin lama semakin cepat.

    Nafasku memburu kencang dan jantungku berdegub semakin tak beraturan dibuatnya, walaupun aku sangat sering masturbasi, tapi pengalaman dikocok oleh seorang cewek adalah yang pertama bagiku, apalagi ditambah pemandangan dua susu montok yang ikut bergoyang karena gerakan pemiliknya yang sedang menocok penisku bergantian dengan tangan kiri dan kanannya.

    “Lyd.. mau keluar nih..” lirih kataku sambil memejamkan mata meresapi kenikmatan ini. “Bentar, tahan dulu Ko..”jawabnya sambil melepaskan kocokannya. “Loh kok dilepas?” tanyaku kaget. Tanpa menjawab pertanyaanku, Lydia mendekatkan dadanya ke arah penisku dan tanpa sempat aku menebak maksudnya, dia menjepit penisku dengan dua susunya yang besar itu.

    Sensasi luar biasa aku dapatkan dari penisku yang dijepit oleh dua gunung kembar itu membuatku terkesiap menahan napas. Sebelum aku sempat bertindak apa-apa, dia kembali mengocok penisku yang terjepit diantara dua susunya yang kini ditahan dengan menggunakan kedua tangannya.

    Kali ini seluruh urat-urat dan sendi-sendi di sekujur tubuhku pun turut merasakan kenikmatan yang lebih besar daripada kocokan dengan tangannya tadi. “Enak nggak Ko?” tanyanya lirih kepadaku sambil menatap mataku.

    “Gila.. enak banget Sayang.. terus kocok yang kencang..” Tanganku yang masih bebas kugerakkan kearah pahanya yang mulus. Sesekali memutar arah ke bagian belakang untuk merasakan pantatnya yang lembut.

    “Ahh.. ohh..” desahnya pelan sambil kembali memejamkan matanya. Kocokan serta jepitan susunya yang semakin keras semakin membuatku lupa daratan. “Lyd.. aku keluar..” Tanpa bisa kutahan lagi semprotan lahar panasku yang kental segera menyembur keluar dan membasahi lehernya dan sebagian area dadanya.

    Seluruh tubuhku lemas seketika dan hanya bisa bersandar di dinding kamar. Aku memandang nanar ke Lydia yang saat itu bangkit berdiri dan mencari tissue untuk membersihkan bekas spermaku. Ketika menemukan apa yang dicari, sambil tersenyum lagi dia bertanya “Kamu seneng nggak” Aku mengangguk sambil membalas senyumannya.

    “Jangan bilang siapa-siapa yah, apalagi sama Voni” katanya memperingatkanku sambil memakai kembali BH dan bajunya yang tadi kulempar entah kemana. “Iyalah.. masa gue bilang-bilang, nanti kamu nggak mau lagi ngocokin gue” Lydia kembali hanya tersenyum padaku dan setelah menyisir rambut panjangnya dia pun beranjak menuju pintu. “Gue bersih-bersih dulu yah, abis itu mau bobo” ujarnya sebelum membuka pintu.

    “Thanks yah Lyd.. besok kesini lagi yah” balasku sambil menatap pintu yang kemudian ditutup kembali oleh Lydia. Aku memejamkan mata sejenak untuk mengingat kejadian yang barusan berlalu, mimpi apa aku semalam bisa mendapat keberuntungan seperti ini. Tak sabar aku menunggu besok tiba, siapa tahu ternyata bisa mendapatkan lebih dari ini.

    Mungkin saja suatu saat aku bisa merasakan kenikmatan dari lubang surga Lydia, yang pasti aku harus ingat untuk menyediakan kondom di kamarku dulu.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Kunjungan Sahabat Lamaku

    Kunjungan Sahabat Lamaku


    1028 views

    Cerita Sex ini berjudul ” Kunjungan Sahabat Lamaku ” Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Ana meletakkan bayinya di atas boks, lalu dia sendiri rebah di atas sofa di ruang tengah, merasa agak sedikit kelelahan. Suaminya, Roy, bilang padanya kalau ada seorang sahabat lamanya yang akan datang dan menginap di akhir pekan ini, jadi disamping mengurus bayinya, dia mempunyai sebuah pekerjaan tambahan lagi, menyiapkan kamar tamu untuk menyambut tamu suaminya itu. Pikirannya melayang pada sang tamu, sahabat suaminya yang akan datang nanti, Jodi.

    Jodi adalah sahabat lama suaminya saat kuliah dulu. Dia cukup akrab dengan mereka. Ana sudah cukup mengenal Jodi, lebih dari cukup untuk menyadari bahwa hatinya selalu berdesir bila bertatapan mata dengannya. Sebuah perasaan yang tumbuh semakin besar yang tak seharusnya ada dalam hatinya yang sudah terikat janji dengan Roy waktu itu. Dan perasaan itu tetap hidup di dasar hatinya hingga mereka berpisah, Ana akhirnya menikah dengan Roy dan sekarang mereka mempunyai seorang bayi pria.

    Ada sedikit pertentangan yang berkecamuk dalam hatinya. Di satu sisi meskipun dia dan suaminya saling menjunjung tinggi kepercayaan dan berpikiran terbuka, tapi dia tetap merasa sebagai seorang istri yang wajib menjaga kesucian perkawinan mereka dan kesetiaannya pada sang suami. Tapi di sisi lain Ana tak bisa pungkiri bahwa ada rasa yang lain tumbuh di hatinya terhadap Jodi hingga saat ini. Seorang pria menarik berumur sekitar tiga puluhan, berpenampilan rapi, dan matanya yang tajam selalu membuat jantungnya berdebar kencang saat bertemu mata. Sosoknya yang tinggi tegap membuatnya sangat menawan.

    Ana seorang wanita ayu yang bisa dikatakan sedikit pemalu dan selalu berpegang teguh pada sebuah ikatan. Dan dia tak kehilangan bentuk asli tubuhnya setelah melahirkan. Mungil, payudara yang jadi sedikit lebih besar karena menyusui dan sepasang pantat yang menggoda. Rambutnya lurus panjang dengan mata indah yang dapat melumerkan kokohnya batu karang. Semua yang ada pada dirinya membuat dia mempunyai daya tarik seksual terhadap lawan jenisnya meskipun dia tak pernah menunjukkannya.

    Ah… seandainya saja dia mengaenal Jodi jauh sebelum suaminya datang dalam kehidupannya!

    Ana pejamkan matanya mencoba meredam pergolakan dalam hatinya dan hati kecilnya menuntun tangannya bergerak ke bawah tubuhnya. Vaginanya terasa bergetar akibat membayangkannya dan saat dia menyentuh dirinya sendiri yang masih terhalang celana jeansnya, sebuah ombak kenikmatan menerpa tubuhnya. Jemarinya yang lentik bergerak cepat melepas kancing celananya lalu menurunkan resleitingnya. Tangannya menyelinap di balik celana dalam katunnya yang berwarna putih, melewati rambut kemaluannya hingga sampai pada gundukan daging hangatnya. Nafasnya terasa terhenti sejenak saat jarinya menyentuh kelentitnya yang sudah basah, membuat sekujur tubuhnya merasakan sensasi yang sangat kuat.

    Dia terdiam beberapa waktu. Roy pulang 2 jam lagi, dan Jodi juga datang kira-kira dalam waktu yang sama. Kenapa tidak? Dia tak bisa mencegah dorongan hati kecilnya. Toh dia tak menghianati suaminya secara lahiriah, hanya sekedar untuk memuaskan dirinya sendiri dan 2 jam lebih dari cukup, sisi lain hatinya mencoba beralasan membenarkan kobaran gairahnya yang semakin membesar dalam dadanya.

    Ana menurunkan celana jeansnya dan mengeluarkan kakinya satu persatu dari himpitan kain celana jeansnya. Melepaskan celana dalamnya juga, lalu dia kembali rebah di atas sofa. Dari pinggang ke bawah telanjang, kakinya terbuka. Pejamkan matanya lagi dan tangannya kembali bergerak ke bawah, menuju ke pangkal pahanya, membuat dirinya merasa se nyaman yang dia inginkan.

    Dia nikmati waktunya, menikmati setiap detiknya. Dia membayangkan Jodi sedang memuaskannya, deru nafasnya semakin cepat. Ana tak pernah berselingkuh selama ini, membayangkan dengan pria lain selain Roy saja belum pernah, semua fantasinya hanya berisikan suaminya. Tapi sekarang ada sesuatu dari pria ini yang menyeretnya ke dalam fantasi barunya. Solaire99

    “Ups! Maaf!” terdengar sebuah suara. Matanya langsung terbuka, dan dia tercekat. Dia melihat bayangan seorang pria menghilang di sudut ruangan. Dia baru sadar kalau dia sudah melakukan masturbasi selama lebih dari 10 menit, dan dia benar-benar tenggelam dalam alam imajinasinya hingga tak menyadari ada seseorang yang masuk ke dalam rumah. Dan dia sadar kalau bayangan pria itu adalah Jodi, dengan terburu-buru dia mengambil pakaiannya dan segera memakainya lagi.

    “Mafkan aku Ana,” kata Jodi, “Nggak ada yang menjawab ketukanku dan pintunya terbuka.” dia berada di sudut ruangan jauh dari pandangan, tapi dia sudah melihat banyak! Pemandangan yang disaksikannya saat dia memasuki ruangan ini membakar pikirannya. Istri sahabatnya berbaring dengan kaki terpentang lebar di atas sofa itu, tangannya bergerak berputar pada kelentitnya. Pahanya yang lembut dan kencang tebuka lebar, rambut kemaluannya yang hitam mengelilingi bibir vaginanya. Penisnya mengeras dengan cepat dalam celana jeansnya.

    “Nggak apa-apa,” jawab Ana dari ruang keluarga, “Kamu boleh masuk sekarang.” dia sudah berpakaian lengkap sekarang, dan dia berbaring di atas sofa, menyembunyikan wajahnya dalam telapak tangannya. “Aku sangat malu.” katanya kemudian.

    “Ah, kita semua pernah melakukannya, Ana!” jawab Jodi. Dia berdiri tepat di samping Ana, seperti ingin agar Ana dapat melihat seberapa ‘kerasnya’ dia. Dia tak dapat mencegahnya, wanita ini sangat menggoda. Dia merasa kalau dia ingin agar wanita ini bergerak padanya!!!

    “Tetap saja memalukan!” katanya, menyingkirkan tangannya dari wajahnya. Vaginanya berdenyut sangat hebat, dia hampir saja mendapatkan orgasme tadi! Sebuah desiran yang lain terasa saat dia melihat tonjolan menggelembung pada bagian depan celana Jodi. Dengan cepat dia memalingkan wajahnya, tapi masih saja pria ini memergokinya. Sekarang Jodi menjadi lebih terbakar lagi, ini lebih dari cukup.

    “Nggak ada yang harus kamu permalukan, setidaknya itu pendapatku setelah apa yang sudah aku lihat tadi!” katanya tenang. Ana menatapnya penuh dengan tanda tanya. “Aku jadi benar-benar terangsang melihatmu seperti itu,” dia menjelaskan, “Sebuah perasaan yang belum pernah ku alami sebelumnya.” kata-katanya, adalah kenyataan bahwa dia sangat menginginkannya, membuat Ana semakin basah. Dia menyadari betapa istri sahabatnya ini ‘tertarik’ akan perkataannya tersebut dan Jodi memutuskan untuk lebih menekannya lagi.

    “Lihat akibatnya padaku!” katanya, tangannya bergerak mengelus tonjolan pada bagian depan celananya. Ini masih dalam batas yang bisa dikatakan ‘wajar’, belum ada batas yang dilanggar. Saat Jodi melihat ‘noda’ basahnya di atas permukaan sofa itu dan mata Ana yang tak berpaling dari seputar pinggangnya, Jodi memutuskan akan melanggar batas tersebut.

    Ana hanya melihat dengan diam saat sahabat suaminya ini membuka kancing dan menurunkan resleiting celananya. Ana tak bisa mengingkari bahwa dia menjadi lebih terangsang, dan dia tak menemukan kata yang tepat untuk mencegah pria ini. Dan saat dia menyaksikan pria di depannya ini memasukkan tangannya dalam celana dalamnya sendiri, vaginanya terasa semakin basah. Jodi mengeluarkan penis kedua dalam hidup Ana yang dilihatnya secara nyata, disamping penis para bintang film porno yang pernah dilihatnya bersama suaminya dulu. Nafas Ana tercekat, matanya terkunci memandangi penis dihadapannya. Dia belum melihat keseluruhannya, dan ini benar-benar sangat berbeda dengan milik suaminya. Tapi ternyata ‘perbedaan’ itulah yang semakin membakar nafsunya semakin lapar.

    “Suka apa yang kamu lihat?” tanyanya pelan. Ana mengangguk, memberanikan diri memandang ke atas pada mata Jodi sebelum melihat kembali pada penisnya yang keras. Jodi mengumpat betapa beruntungnya sahabatnya. Dia ucapkan sebuah kata.

    “Sentuhlah!”

    Ragu-ragu, dengan hati berdebar kencang, Ana pelan-pelan menyentuh dengan tangannya yang kecil dan melingkari penis pria di depannya ini dengan jarinya. Penis pertama yang dia pegang dengan tangannya, selain milik suaminya, dalam enam tahun belakangan. Perasaan dan emosi yang bergolak di dadanya terasa menegangkan, dan dia inginkan lebih lagi. Jodi melihat penisnya dalam genggaman tangan istri sahabatnya yang kecil, dan dia hanya melihat saat Ana pelan-pelan mulai mengocokkan tangannya.

    Terasa sangat panas dan keras dalam genggaman tangannya, dan Ana tak dapat hentikan tangannya membelai kulitnya yang lembut dan berurat besar itu. Jodi bergerak mendekat dan membuat batang penisnya menjadi hanya beberapa inchi saja dari wajah Ana.

    Jodi menyentuh tubuh Ana, tangannya meremas pahanya yang masih terbungkus celana jeans. Tanpa sadar Ana membuka kakinya sendiri melebar untuknya, dan tangan Jodi bergerak semakin dalam ke celah paha Ana. Terasa desiran kuat keluar dari vaginanya saat tangan Jodi mulai mengelusi dari luar celana jeansnya, Ana menggelinjang dan meremas penisnya semakin kencang.

    Dengan tangannya yang masih bebas, dipegangnya belakang kepala Ana dan mendorongnya semakin mendekat. Ana tak berusaha berontak. Matanya masih terpaku pada penis Jodi, dia menunduk ke depan dan dengan lembut mencium ujung kepalanya. Lidahnya terjulur keluar dan Ana kemudian mulai menjilat dari pangkal hingga ujung penis barunya tersebut.

    Sekarang giliran Jodi, tangannya bergerak melucuti pakaian Ana. Ana yang sedang asik dengan batang keras dalam genggaman tangannya tak menghiraukan apa yang dilakukan Jodi. Diciumnya kepala penis Jodi, menggodanya seperti yang disukai suaminya (hanya itulah seputar referensi yang dimilikinya).

    Tangan Jodi menyelinap dalam celana dalam Ana, tangannya meluncur melewati rambut kemaluannya. Ana melenguh pelan saat tangan Jodi menyentuh kelentitnya. Dia membuka lebar mulutnya dan memasukkan mainan barunya tersebut ke dalam mulutnya, lidahnya berputar pelan melingkari kepala penis dalam mulutnya. Jodi mengerang, merasakan kehangatan yang membungkus kejantanannya. Dia menatapnya dan melihat batang penisnya menghilang dalam mulut Ana, bibirnya mencengkeram erat di sekelilingnya dan matanya terpejam rapat.

    Jodi menjalankan jarinya pada kelentit Ana, menggoda tombol kecilnya, mulut Ana tak bisa bebas mengerang saat tersumpal batang penis Jodi. Dorongan gairah yang hebat membuat Ana semakin bernafsu mengulum naik turun batang penis Jodi. Pinggulnya dengan reflek bergerak memutar merespon tarian jari Jodi pada kelentit sensitifnya.

    Jari Jodi mengeksplorasi lubang hangatnya Ana, membuat lenguhannya semakin sering terdengar dalam bunyi yang aneh karena dia tak juga mau melepaskan mulutnya dari batang penis Jodi. Ana tak lagi memikirkan apa yang dia perbuat, dia hanya mengikuti nalurinya. Ini benar-benar lain dengan dia dalam keseharian, sesuatu yang akan membuat suaminya mati berdiri bila dia melihatnya saat ini. Semuanya meledak begitu saja. Sesuatu yang dimiliki pria ini yang membuka pintu dari sisi lain dirinya dan Jodi sangat menikmati perbuatannya. Masing-masing masih tetap asik dengan kemaluan pasangannya. Dan Ana menginginkan lebih dari ini. Mereka berdua menginginkan lebih dari sekedar begini.

    Ana menelan seluruh batang penis Jodi, menahannya di dalam mulutnya untuk memenuhi kehausan gairahnya sendiri. Hidungnya sampai menyentuh rambut kemaluan Jodi, ujung kepala penisnya menyentuh langit-langit tenggorokannya, hampir membuatnya tersedak.

    Jodi mengeluarkan tangannya dari balik celana dalam Ana yang membuatnya sedikit kecewa, ada sesuatu yang terasa hilang. Diraihnya tepian celana jeans Ana dan dengan cepat Ana mengangkat sedikit pantatnya dari atas sofa, yang mau tak mau membuatnya melepaskan batang penis itu dari mulutnya, dan mempermudah sahabat suaminya ini melepaskan celananya dari kakinya yang halus.

    Nafasnya tercekat, dada terasa berat saat dia melihat Jodi menarik celana dalamnya. Dengan sedikit memaksa dia menurunkannya melewati kakinya dan Ana menendangnya menjauh dari kakinya sendiri. Membantu Jodi menelanjangi tubuh bawahnya. Jodi sekarang berlutut di lantai dan menatap takjub pada segitiga menawan dari rambut kemaluan Ana.

    Dia menyentuh vagina Ana dengan tangan kirinya, menjalankan jari tengahnya pada kelentitnya sambil tangan yang satunya menggenggam batang penisnya sendiri.

    Ana mendesah pelan, pinggulnya bergetar. Matanya terpejam rapat, dia sangat meresapi rasa yang diberikan selangkangannya. Jodi mengoleskan kepala penisnya pada pipi dan hidung Ana. Saat sampai di mulutnya, Ana membuka mulutnya segera dan Jodi langsung mendorong penisnya masuk.


    Tangannya yang kecil menggenggam buah zakarnya dan Ana membuka matanya perlahan saat dia mulai menggerakkan kepalanya naik turun pada batang penisnya. Jodi semakin melesakkan jarinya ke dalam vagina Ana, membuat Ana memejamkan matanya lagi, mengerang. Vaginanya terasa sangat basah! Jarinya bergerak di seluruh rongga lubang itu, bergerak keluar masuk saat ibu jarinya mengerjai kelentit Ana.

    Kini, celana jeans dan celana dalam Jodi sudah jatuh merosot di atas lantai, Jodi menarik penisnya keluar dari mulut Ana dan langsung menendang pakaian bawahnya menjauh. Dia menunduk, tangannya bergerak ke bawah bongkahan pantat Ana, mengangkatnya dari atas sofa agar bagian bawah tubuh istri sahabatnya ini lebih terekspose ke atas. Ana meraih penisnya dan segera memasukkannya kembali ke dalam mulutnya. Jodi mendekatkan kepalanya pada daging nikmat Ana.

    Masih tetap menahan pantat Ana ke atas, mulutnya mencium bibir vagina Ana, mencicipi rasa dari istri sahabatnya untuk pertama kalinya. Mulut Ana langsung mengerang merespon, sejenak menikmati sensasi yang diberikan Jodi sebelum kembali meneruskan ‘pekerjaan’ mulutnya. Lidah Jodi melata pada dinding bagian dalam dari vagina Ana, menjilati sari buah gairah yang dikeluarkannya.

    Ana merasa bibir Jodi menjepit tombol sensitifnya dan lidahnya bergerak pelan pada sasarannya. Erangan semakin tak terkendali lepas dari mulutnya akibat perlakuan Jodi kali ini. Batang penisnya terlepas keluar dari cengkeraman mulut Ana. Jodi semakin menaikkan pantat Ana, menekan vagina Ana pada wajahnya dan lidahnya semakin bergerak menggila.

    Jantung Ana serasa mau meledak, nafasnya terasa berat… sangat dekat…

    Jantungnya berhenti berdenyut, orgasmenya datang. Pinggulnya mengejat di wajah Jodi dengan liar. Ana merasa jiwanya melayang entah kemana! Pria ini memberinya sebuah oral seks terhebat yang pernah didapatkan dalam hidupnya!

    Akhirnya, Ana kembali ke bumi. Jodi melepaskan pantatnya, mengangkat kepalanya dari selangkangan Ana. Batang penisnya terasa sangat keras, dan nafasnya terdengar memburu tak beraturan. Ana pikir dia tak mungkin dapat menghentikan pria ini sekarang meskipun dia menginginkannya. Jodi naik ke atas sofa, menempatkan dirinya diantara paha Ana, yang tetap Ana biarkan terbentang lebar hanya untuknya.

    Terlintas dalam pikirannya jika dia tetap meneruskan ini terjadi, milik Jodi adalah penis kedua yang akan memasuki tubuhnya dalam hidupnya. Sedikit gelembung rasa bersalah melayang dalam benaknya. Yang dengan cepat meletus menguap saat ujung kepala penis Jodi menyentuh bibir vaginanya, membuat sekujur tubuhnya seakan tersengat aliran listrik.

    Dengan perlahan Jodi memasukkan penisnya menembus ke dalam tubuh Ana. Pada pertengahan perjalanannya dia menghentikan sejenak gerakannya, menikmati gigitan bibir vagina Ana pada batang penisnya dan tiba-tiba dia menghentakkan kedalam dengan satu tusukan. Dinding vaginanya terbuka menyambutnya, dan pelan-pelan Ana dapat merasakan dirinya menerima sesuatu yang lain memasuki tubuhnya kini. Tubuhnya merinding, perasaan menakjubkan ini merenggut nalarnya.

    Jodi mengeluarkan separuh dari batang penisnya dan menghujamkannya kembali seluruhnya ke dalam vagina Ana.

    Erangan keduanya terdengar saling bersahutan dan Jodi menahan penisnya sejenak di dalam vagina Ana, meresapi sensasinya. Manahan berat tubuhnya dengan kedua lengannya, dia menatap ke bawah pada istri sahabatnya ini sambil menggerakkan penisnya keluar masuk dalam vagina Ana dengan gerakan lambat.

    Ana pejamkan matanya, mendesah lirih saat dia rasakan kejantanan Jodi keluar masuk dalam tubuhnya. Jodi melihat batang penisnya menghilang lalu muncul kembali dalam daging hangat basah milik Ana lagi dan lagi, dan gerakannya perlahan semakin cepat. Nafas keduanya semakin berat, Jodi bergerak semakin cepat, Ana menggelinjang, mengerang, kakinya terangkat keatas.

    Kedua kakinya akhirnya jatuh dibelakang pantat Jodi yang mengayun keluar masuk. Tubuh Jodi menindih tubuh kecil wanita di bawahnya saat dia mengocok vaginanya semakin keras. Dia menciumi leher Ana, dan menghisap lubang telinganya dengan mulutnya, erangan keduanya terdengar mengiringi setiap gerakan tubuh mereka.

    Lengan Ana melingkari tubuh Jodi, kukunya tertancap pada punggung Jodi saat kakinya terayun-ayun oleh gerakan pantat Jodi. Mulut Ana menyusuri leher Jodi, mencari bibirnya. Saat bibir mereka bertemu, mereka berciuman untuk pertama kalinya. Lidah Ana merangsak masuk ke dalam mulut Jodi mengiringi batang penisnya yang menggenjot tubuhnya berulang-ulang. Bibir keduanya saling melumat, saling mengerang dalam mulut masing-masing di atas sofa di ruang tengah itu. Sofa itu sedikit berderit akibat gerakan Jodi yang bertambah liar.

    Ana dapat merasakan orgasmenya mulai tumbuh, dan dia menghentikan ciumannya, tak mampu menahan erangannya lagi. Mulut mungilnya mengeluarkan erangan yang sangat keras dan semakin keras saat penis keras Jodi semakin melebarkan vaginanya dan Jodi memasukinya bertambah dalam.

    Seorang pria baru! Ana tak pernah melakukannya dengan pria lain selain Roy sebelumnya dan pria baru ini melakukannya dengan sangat hebat! Semuanya terasa bergerak cepat. Orgasmenya meledak, Ana mencoba menahan erangannya dengan menggigit bibir bawahnya. Dinding-dinding vaginanya berkontraksi mencengkeram batang penis pria baru ini dengan kuat, dan Ana menghentakkan pinggulnya keatas berlawanan dengan gerakan Jodi di atas tubuhnya, berusaha agar batang penis Jodi tenggelam semakin dalam pada tubuhnya saat ombak orgasme mengambil alih kesadarannya.

    Jodi memandangi Ana saat dia dilanda orgasme, masih tetap mengocok penisnya dengan kecepatan yang dia mampu. Dia tak menyangka wanita pemalu dan pendiam ini akan begitu mudah ditaklukannya! Dia merasakan miliknya juga segera tiba, gerakannya semakin dipercepat.

    Dalam beberapa tusukan kemudian, dan lalu meledaklah. Sejenak setelah orgasme Ana mereda, orgasme Jodi datang.

    Tusukan terakhirnya membuat penisnya terkubur semakin jauh dalam vagina Ana. Dia menggeram, penisnya berdenyut hebat. Semburan demi semburan yang kuat keluar dari ujung penisnya mendarat dalam rahim Ana seakan tanpa jeda.

    Ana menggoyangkan pantatnya naik ke atas, memeras semua sperma dari penis Jodi. Jodi tak bisa menahan tubuhnya lebih lama, dia jatuh menindih tubuh Ana di bawahnya, mencoba bernafas dengan susah payah.

    Tangan Ana membelai punggung Jodi saat sperma terakhirnya keluar dari penisnya menyirami vaginanya. Keduanya masih berusaha untuk mengatur nafas. Kedua bibir mereka merapat, berciuman dengan lembut. Lidahnya menggelitik rongga mulut Ana dan ciuman mereka berubah menjadi liar saat penis Jodi mulai mengecil dalam vagina Ana. Tangan dan paha Ana mencengkeramnya erat, menahannya agar tetap berada dalam tubuhnya.

    Dia mendapatkan pengalaman lain dengan pria ini. Pria kedua yang bercinta dengannya dalam 29 tahun usianya. Akhirnya mereka hentikan ciumannya. Jodi mengeluarkan penisnya yang setengah ereksi dari vagina Ana. Keduanya mengenakan pakaiannya masing-masing tanpa saling berkata-kata. Ana terlalu malu untuk mengucapkan sesuatu dan Jodi tak tahu harus berkata apa.

    ********

    Roy pulang 30 menit kemudian – dia pulang lebih awal, tapi tak lebih awal (beruntunglah mereka). Ketiganya lalu makan malam, dan Ana tak dapat menyingkirkan pikirannya dari bayangan Jodi sepanjang waktu itu.

    Roy dan Jodi kemudian sibuk dengan urusan pria yang tak begitu dimengerti oleh Ana. Dan malam berikutnya, mereka berdua duduk di meja makan bersama Ana. Para pria sedang bermain catur. Ana menghabiskan sepanjang harinya mengasuh bayi mereka. Kapanpun saat dia sedang sendiri, dia tak mampu hentikan dirinya memikirkan pengalamannya bersama Jodi kemarin. Dia merasa gairahnya menyala-nyala sepanjang hari itu, dan dia mempunyai beberapa menit untuk memuaskan dirinya dengan tangannya sendiri.

    Saat menuangkan minuman pada suaminya dan Jodi malam itu, dia sangat bergairah, dan sangat basah. Setiap kali dia melirik Jodi, ada desiran halus pada vaginanya. Sekarang dia telah mencoba seorang pria lain, dan dia merasa ketagihan!

    Jodi tak jauh beda. Dia bermasturbasi mebayangkan istri sahabatnya ini kemarin malam, sebelum tidur. Bayangan tubuh telanjangnya memenuhi benaknya sepanjang hari. Saat Roy pergi ke kamar mandi, Jodi beringsut mendekati Ana.

    “Apa kamu menikmati waktu kita kemarin?” tanyanya berbisik.

    “Ya.” Ana tersenyum manis. Sifatnya yang malu-malu membuat birahi Jodi terbakar.

    “Apa kamu menginginkannya sekarang?” dia bertanya memastikan. Penisnya sudak mengeras sekarang. Ana terkejut dengan pertanyaannya yang sangat berani itu, malu-malu, lalu mengangguk.

    Jodi memutuskan akan sedikit menggodanya. Membuat Ana semakin menginginkannya agar kesempatan mendapatkannya lagi semakin terbuka lebar. Dia menurunkan resleiting celananya dan melepaskan kancingnya, tangannya masuk ke dalam pakaian dalamnya. Dia mengeluarkan penisnya, yang sudah ereksi penuh. Nafas Ana tercekat di tenggorokan, denyutan di vaginanya memberinya sebuah sensasi. Batang penis itu berada dalam tubuhnya kemarin. Dia menginginkannya lagi sekarang.

    Mereka mendengar pintu kamar mandi terbuka dan Jodi segara memasukkan penisnya kembali ke dalam celananya. Roy masuk ke dalam ruangan, tak mengira sahabatnya baru saja memperlihatkan penisnya yang ereksi pada istrinya.

    Tak lama berselang, entah kenapa dewa kemujuran selalu berpihak pada mereka, Roy lagi-lagi mau ke kamar mandi. Saat dia berdiri dan bergegas ke kamar mandi, vagina istrinya berdenyut membutuhkan penis Jodi. Begitu Roy menghilang dari pandangan keduanya, Jodi langsung bangkit dari kursinya. Mata Ana berbinar terfokus pada tonjolan di celana Jodi saat mereka mendengar pintu kamar mandi ditutup.

    Dia langsung menurunkan resleitingnya, dan mengeluarkan batang penisnya. Dengan cekatan Jodi mengocok penisnya sampai ereksi penuh, sangat dekat di wajah Ana. Jodi berdiri dei depan Ana, dan Ana langsung berlutut di hadapan sahabat suaminya.

    Kepala penisnya menyentuh kulit pipinya, dan perlahan bergerak ke mulutnya. Saat Jodi merasa bibir lembut Ana menyentuh ujung kepala penisnya, dia merasa mulut itu membuka.

    Segera saja kepala penis itu lenyap ke dalam mulut Ana, dan Jodi melihat bibir itu bergerak membungkus seluruh batang penisnya. Tangannya membelai rambut panjang Ana dengan lembut, menahan kepalanya saat seluruh bagian batang penisnya lenyap dalam mulut Ana.

    Kepalanya segera bergerak maju mundur pada batang penis itu, suara basah dari hisapan mulutnya segera terdengar.

    Kembali, mereka mendengar pintu kamar mandi dibuka, dan Jodi mengeluarkan penisnya dari mulut Ana dengan cepat. Agak kesulitan dia memasukkan penisnya kembali dalam celananya dan segera duduk kembali di kursinya, menutupi perbuatan mereka. Roy duduk dan memberi Ana ciuman kecil, tak tahu kalau istrinya baru saja mendapatkan sebuah batang penis yang lain dalam mulutnya.

    Mereka kembali mendapatkan kesempatan sekali lagi di malam itu, dan mereka berusaha memanfaatkannya semaksimal mungkin. Bayi mereka menangis di lantai atas, Roy berinisiatif untuk pergi melihatnya. Ana lebih dari senang mengijinkannya. Dia sangat menginginkan penis itu, tapi dia tak mampu berbuat apa-apa. Meskipun mendapatkannya di dalam mulutnya tak mampu meredakan gairahnya.

    Mereka dapat mendengar bunyi langkah kaki Roy yang menaiki tangga, dan Ana langsung berdiri. Dia tak pernah se agresif ini! Tapi ke’hausannya’ akan penis itu mampu merubah tabiatnya. Hanya sekedar untuk segera melihatnya lagi! Dia langsung berlutut di antara paha Jodi, dan Jodi segera membukanya untuknya…

    Tangan mungilnya dengan cekatan melepaskan kancing dan resleitingnya, dan dia langsung membukanya dalam sekejap. Ana meraih ke dalam celana dalam Jodi dan mengeluarkan penis kerasnya. Vaginanya langsung basah hanya dengan memandangnya saja. Tangannya yang kecil mengocoknya, saat lidahnya menjilati dari pangkal batang penis Jodi hingga ke ujung.

    Sekali lagi, dia kembali memasukkannya ke dalam mulutnya. Menghisapnya dengan rakus hingga mengeluarkan bunyi, tak menghiraukan resiko kepergok suaminya. Jodi mendengarkan dengan seksama gerakan dari lantai atas, memastikan Roy tidak turun ke bawah.

    Jodi menatapnya. Bibirnya membungkus batang penisnya dengan erat, kepala penisnya tampak bekilatan basah terkena lampu ruangan ini saat itu keluar dari mulutnya, mata Ana terpejam menikmati. Dia ternyata begitu pintar memberikan blow job! Jodi sangat ingin menyetubuhi wanita ini, meskipun hanya sesaat.

    Gairahnya sudah tak terbendung lagi, dan dia memegang pipi Ana, batang penisnya keluar dari mulutnya. Jodi berdiri, penisnya mengacung tegang, dan Ana berdiri bersamaan, memandangnya dengan api gairah yang sama. Jodi menciumnya, lembut, melumat bibirnya. Dia menciumnya lagi, dan lidah mereka saling melilit. Lalu ciuman itu berakhir. Jodi memutar tubuh Ana membelakanginya. Ana merasakan tangan Jodi berada pada vaginanya, berusaha melepaskan kancing celananya.

    “Jangan…” desahan lirih keluar dari mulutnya. Dia tak tahu kenapa kata itu keluar dari mulutnya saat dia ingin mengucapkan kata ‘ya’. Celananya jatuh hingga lututnya, memperlihatkan pantatnya yang dibungkus dengan celana dalam katun berwarna putih. Jodi merenggut kain itu dan langsung menyentakkannya ke bawah, membuat pantat Ana terpampang bebas di hadapannya. Jodi masih dapat mendengar suara gerakan di lantai atas jadi dia tahu dia aman untuk beberapa saat, dia hanya perlu memasukkan penisnya ke dalam vaginanya, walaupun untuk se detik saja!

    Nafas keduanya memburu, dan Ana sedikit menundukkan tubuhnya ke depan, tangannya bertumpu pada meja makan, membuka lebar kakinya. Jodi jauh lebih tinggi darinya, penisnya berada jauh di atas bongkahan pantatnya. Dia sedikit menekuk lututnya agar posisinya tepat. Dia semakin menekuk lututnya, sangat tidak nyaman, tapi dia sadar kalau dia terlalu tinggi untuk Ana. Dia tahu dia akan merasa kesulitan dalam posisi ini, tapi hasratnya semakin mendesak agar terpenuhi segera.

    Dia menggerakkan pinggulnya ke depan, ujung kepala penisnya menyentuh bibir vaginanya. Ana sudah teramat basah! Dan itu semakin mengobarkan api gairah Jodi. Saat bibir vagina Ana sedikit mencengkeram ujung kepala penisnya, Jodi tahu jalan masuknya sudah tepat. Dia mendorong ke depan. Ana menghisapnya masuk ke dalam, separuh dari penisnya masuk ke dalam dengan cepat.

    Ana mendesah, merasa Jodi memasukinya. Jodi mencengkeram pantat Ana dan memaksa memasukkan penisnya semakin ke dalam. Batang penisnya sudah seluruhnya terkubur ke dalam cengkeraman hangatnya. Jodi mulai menyetubuhinya dari belakang, menarik penisnya separuh sebelum mendorongnya masuk kembali, lagi dan lagi. Serasa berada di surga bagi mereka berdua. Jodi berada di dalam vaginanya hanya beberapa detik, tapi bagi keduanya itu sudah dapat meredakan gelora api gairah yang membakar.

    Tiba-tiba Jodi mendengar gerakan dari lantai atas. Ana tak menghiraukannya, dia sudah tenggelam jauh dalam perasaannya. Jodi mengeluarkan penisnya dari vagina Ana. Sebenarnya Ana ingin teriak melampiaskan kekesalannya, tapi segera dia sadar akan bahaya yang mengancam mereka berdua, segera saja dia menarik celana dan celana dalamnya sekaligus ke atas. Saat Roy datang, mereka berdua sudah duduk kembali di kursinya masing-masing, gusar.

    Jodi dan Ana menghabiskan sisa malam itu dengan gairah yang tergantung. Saat malam itu berakhir, Jodi segera bergegas pergi ke kamarnya dan langsung mengeluarkan penisnya. Hanya dibutuhkan 3 menit saja baginya bermasturbasi dan legalah…

    Tapi bagi Ana, tidaklah semudah itu. Kamar tidurnya berada di lantai yang berlainan dengan kamar tamu yang dihuni Jodi, dan dia tak punya kesempatan untuk melakukan masturbasi. Bahkan Roy tak mencoba untuk bercinta dengannya malam itu! Seperempat jam ke depan dilaluinya dengan resah. Ana memberi beberapa menit lagi untuk suaminya sebelum dia tak mampu membendungnya lagi.

    Dia turun dari tempat tidur, setelah memastikan suaminya sudah tertidur lelap. Dia mengendap-endap menuju ke kamar tamu. Malam itu dia hanya memakai kaos putih besar hingga lututnya dan celana dalam saja untuk menutupi tubuh mungilnya.

    Dengan hati-hati dia membuka pintu kamar Jodi, menyelinap masuk, dan menutup perlahan pintu di belakangnya. Jodi sudah tertidur beberapa menit yang lalu. Ana berdiri di samping tempat tidur, memandang pria yang tertidur itu, memutuskan bahwa dia akan melakukannya. Ini tak seperti dirinya! Dia tak pernah seagresif ini! Dia tak pernah berinisiatif! Tapi sekarang, terjadi perubahan besar.

    Ditariknya selimut yang menutupi tubuh Jodi, Jodi tergolek tidur di atas kasur hanya memakai celana dalamnya. Ana mencengkeram bagian pinggirnya dan dengan cepat menariknya turun hingga lututnya, membebaskan penis Jodi yang masih lemas. Dengan memandangnya Ana merasakan desiran halus pada vaginanya. Dia tak percaya Jodi tak terbangunkan oleh perbuatannya tadi! Yah, baiklah, dia tahu bagaimana cara membangunkannya.

    Ana duduk di samping Jodi, dengan perlahan membuka kaki Jodi ke samping. Tangan mungilnya meraih penis Jodi yang masih lemas menuju ke mulutnya. Rambut panjangnya jatuh tergerai di sekitar pangkal paha Jodi. Jodi setengah bangun, merasa nyaman. Penisnya membesar dalam mulut Ana, dan sebelum ereksi penuh, dia akhirnya benar-benar terjaga. Tak membutuhkan waktu lama baginya untuk mengetahui apa yang sedang terjadi – istri sahabatnya sedang menghisap penisnya!

    Dia mendesah, tangannya meraih ke bawah dan mengelus rambut panjang Ana saat dengan pasti penisnya semakin mengeras dalam mulut Ana. Merasakan penisnya yang semakin membesar dalam mulutnya membuat celana dalam Ana basah, dan dia mulai menggerakkan kepalanya naik turun. Dia menghisap dengan berisik, lidahnya menjalar naik turun seperti seorang professional.

    Jodi dapat mendengar bunyi yang dikeluarkan mulut Ana saat menghisap penisnya, dan dia dapat melihat bayangan tubuh Ana yang diterangi cahaya bulan yang masuk ke dalam kamarnya yang gelap. Ana sedang memberinya blow job yang hebat. Untunglah dia bermasturbasi sebelum tidur tadi, kalau tidak pasti dia tak akan dapat bertahan lama.

    Ana tak mampu menahannya lagi. Dia ingin vaginanya segera diisi. Dia sangat terangsang, dia sangat membutuhkan penis itu dalam vaginanya seharian tadi. Dikeluarkannya penis Jodi dari dalam mulutnya, dan berdiri dengan bertumpukan lututnya di atas tempat tidur itu. Tangannya menarik bagian bawah kaosnya ke atas dan menyelipkan kedua ibu jarinya di kedua sisi celana dalamnya dan mulai menurunkannya. Diangkatnya salah satu kakinya untuk melepaskan celana dalam itu dari kakinya. Kaki yang satunya lagi dan kemudian merangkak naik ke atas kasur setelah menjatuhkan celana dalamnya ke atas lantai. Nafasnya sesak, menyadari apa yang menantinya.

    Diarahkannya batang penis Jodi ke atas dengan tangannya yang kecil dan bergerak ke atas Jodi, memposisikan vaginanya di atasnya. Jodi dapat merasakan bibir vagina Ana yang basah menyentuh ujung kepala penisnya saat Ana mulai menurunkan pinggulnya.

    Daging dari bibir vaginanya yang basah membuka dan kepala penis Jodi menyelinap masuk. Ana mengerang lirih, tubuhnya yang disangga oleh kedua lengannya jadi agak maju ke depan. Ana semakin menekan ke bawah, membuat keseluruhan batang penis Jodi akhirnya tenggelam ke dalamnya.

    Erangan Ana semakin terdengar keras. Dia merasa sangat penuh! Jodi benar-benar membukanya lebar! Ana semakin menekan pinggulnya ke bawah dan dia mulai menciumi leher Jodi, berusaha menahan Jodi di dalam tubuhnya. Bibir mereka bertemu dan saling melumat dengan bernafsu. Lidah Ana menerobos masuk ke dalam mulut Jodi, menjalar di dalam rongga mulutnya saat dia tetap menahan batang penis Jodi agar berada di dalam vaginanya.

    Jodi membalas lilitan lidah Ana, tangannya bergerak masuk ke balik kaos yang dipakai Ana, bergerak ke bawah tubuhnya hingga akhirnya tangan itu mencengkeram bongkahan pantat Ana. Tangannya mengangkat pantat Ana ke atas, membuat tubuhnya naik turun di atasnya – Ana tetap tak membiarkan batang penis Jodi teangkat terlalu jauh dari vaginanya!

    Tak menghiraukan keberadaan Roy yang masih terlelap tidur di kamarnya, mereka berdua berkonsentrasi terhadap satu sama lainnya. Tangan Jodi naik ke punggung Ana, menarik kaos yang dipakai Ana bersamanya. Ciuman mereka merenggang, Ana mengangkat tubuhnya, tangannya mengangkat ke atas saat Jodi melepaskan kaosnya lepas dari tubuhnya. Payudaranya terbebas. Jodi melihatnya untuk pertama kalinya. Di dalam keremangan cahaya, Jodi masih dapat menangkap keindahannya. Payudaranya yang tak begitu besar dengan putting susu yang keras menantang, dan dia menggoyangkannya dihadapan Jodi, menggodanya.

    Jodi mengangkat tubuhnya, tangannya yang besar menahan punggung Ana saat dia menghisap putingnya ke dalam mulutnya. Ana menggelinjang kegelian saat lidahnya bergerak melingkari sebelah payudaranya sebelum mencium yang satunya lagi. Pada waktu yang bersamaan Jodi mengangkat pantatnya, masih berusaha agar tetap tenggelam dalam vaginanya, tapi bergerak keluar masuk dengan pelan. Tangannya meremas payudara Ana yang bebas, sedangkan mulutnya terus merangsang payudara yang satunya dengan mulutnya.

    Ana memandang Jodi yang merangsang payudaranya, tangannya membelai rambut Jodi dengan lembut. Ana merasa penis Jodi bergerak keluar sedikit tapi tak lama kemudian masuk kembali ke dalam vaginanya. Dia merasa sangat nyaman, sangat berbeda di dalam tubuhnya. Dia mulai menggoyang, mengimbangi kocokan Jodi yang mulai bertambah cepat.

    Jodi melepaskan mulut dan tangannya dari payudara Ana dan rebah kembali ke atas kasur. Ana mulai mengangkat pinggulnya naik ke atas hingga batang penis Jodi nyaris terlepas ke luar seluruhnya sebelum menghentakkan pinggulnya ke bawah lagi. Tangan Jodi kembali pada pantat Ana, meremasnya sambil memandangi wanita yang telah menikah ini menggoyang tubuhnya tanpa henti. Dengan tanpa bisa dibendung lagi erangan demi erangan semakin sering terdengar keluar dari mulut Ana.

    Orgasme yang sangat dinantikannya seharian ini mulai terbangun dalam tubuhnya. Dengan meremas pantatnya erat, Jodi menggerakkan tubuh Ana naik turun semakin keras dan keras. Hentakan tubuh mereka saling bertemu. Nafas Ana semakin berat, Penis Jodi menyentak dalam tubuhnya berulang kali.

    Dengan cepat orgasmenya semakin mendekat. Ana mempercepat kocokannya pada penis Jodi, menghentakkan bertambah cepat seiring orgasmenya yang mendesak keluar. Ana tak mampu membendungnya lebih lama lagi, pandangannya mulai menjadi gelap. Jantungnya berdegup semakin kencang, otot vaginanya berkontraksi, seluruh sendi tubuhnya bergetar saat dia keluar dengan hebatnya. Mulutnya memekik melepaskan himpitan yang menyumbat aliran nafasnya.

    Melihat pemandangan itu gairah Jodi semakin memuncak, dia tak memberi kesempatan pada Ana untuk menikmati sensasi orgasmenya. Diangkatnya tubuh mungil wanita itu, dan membaringkan di sampingnya. Dia bergerak ke atas tubuh Ana dan Ana membuka pahanya melebar menyambutnya secara refleks.

    Jodi memandangi kepala penisnya yang menekan bibir vagina Ana. Dengan pelan dia mulai masuk, dan mendorongnya masuk ke dalam lubang hangatnya. Ana mengangkat kakinya ke udara, membukanya lebar lebar untuknya. Jodi menahan berat tubuhnya dengan kedua lengannya.

    Jodi memberinya satu dorngan yang kuat. Ana memekik, ombak kenikmatan menggulungnya saat batang keras itu memasuki tubuhnya. Jodi mulai menyetubuhinya tanpa ampun, Ana telah sangat membakar gairahnya. Jodi mengocokkan penisnya keluar masuk dalam vagina istri sahabatnya yang berada di bawah tubuhnya dengan cepat, kedua kaki Ana terayun-ayun di atas pantatnya yang menghentak.

    Tempat tidur sampai bergoyang karena hentakan Jodi. Ana menggigit bibirnya untuk meredam erangannya yang semakin bertambah keras.

    Jodi mulai kehilangan kontrol. Penisnya keluar masuk dalam vagina Ana sebelum akhirnya, dia menarik keluar batang penisnya dengan bunyi yang sangat basah.

    Jodi mengerang, batang penisnya berdenyut hebat dalam genggaman tangannya. Sebuah tembakan yang kuat dari cairan kental putih keluar dari ujung kepala penisnya dan menghantam perut Ana, beberapa darinya bahkan sampai di payudaranya.

    Ana menarik nafas, dadanya terasa sesak saat dia melihat tembakan demi tembakan sperma yang kuat keluar dari penis Jodi, dan mendarat di atas perutnya. Terasa sangat panas pada kulit perutnya, tapi semakin membakar gairahnya menyadari bahwa itu bukan semburan sperma suaminya, tapi dari seorang pria lain.

    Akhirnya, sperma terakhir menetes dari penis Jodi, menetes ke atas rambut kemaluan Ana yang terbaring di depannya dengan kaki terpentang lebar. Dengan mata yang terpejam, Ana tersenyum puas.

    “Aku membutuhkannya” bisiknya. Mereka terdiam beberapa saat meredakan nafas yang memburu sebelum akhirnya mulai membersihkan tubuh basah mereka. Jodi mencium dengan lembut bibir Ana yang tersenyum.

    Ana memakai kaosnya dan menggenggam celana dalamnya dalam tangan, melangkah keluar dari kamar itu dengan perasaan yang sangat lega.

    ********

    Jodi bangun di keesokan harinya. Peristiwa semalam langsung menyergap benaknya, penisnya mulai mengeras. Dikeluarkannya batang penisnya dan perlahan mulai mengocoknya.

    Dia merasa sangat senang saat mendengar ada seseorang yang sedang mandi. Dimasukkannya penisnya kembali kedalam celana dalamnya, bergegas memakai celana jeansnya dan bergegas keluar kamar dengan bersemangat, turun ke lantai bawah.

    Dia berharap yang sedang mandi adalah Roy dan Ana ada di lantai bawah. Dia mendengar seseorang sedang membuat kopi di dapur. Dia segera ke sana dan ternyata…

    Ana masih dengan pakaian yang dikenakannya malam tadi, sebuah kaos besar hingga lutut, dan sebuah celana dalam saja di baliknya. Dia menoleh saat mendengar ada yang mendekat, dan langsung tersenyum saat mengetahui siapa yang datang. Terasa ada desiran halus di vaginanya saat memandang Jodi.

    Ana terkejut saat tangan Jodi melingkar di pinggangnya memeluknya erat dan mencium bibirnya. Lalu Ana sadar ada seseorang yang sedang mandi di lantai atas dan Roy lah yang sedang berada di kamar mandi itu. Bibirnya membalas lumatan Jodi dengan menggebu saat tangan Jodi menyusup ke dalam kaosnya untuk menyentuh payudaranya.

    Ana melenguh di dalam mulut Jodi yang memeluknya merapat ke tubuhnya. Desiran gairah memercik dari payudaranya langsung menuju ke vaginanya, membuatnya basah. Wanita mungil itu tak berdaya dalam dekapan Jodi, tangan Ana melingkari leher Jodi.

    Mereka berciuman dengan penuh gairah, lidah saling bertaut, perlahan Jodi mendorong tubuh Ana merapat ke dinding. Tangannya meremas bongkahan pantat Ana di balik kaosnya. Dan Ana sangat merasakan tonjolan pada bagian depan celana jeans Jodi yang menekan perutnya.

    Ciuman Ana turun ke leher Jodi, lidahnya melata menuju putting Jodi. Ana membiarkan Jodi mengangkat tubuhnya ke atas meja, memandangnya dengan pasif saat Jodi menyingkap kaosnya hingga dadanya. Ana mengangkat kakinya bertumpu pada tepian meja, mempertontonkan celana dalam putihnya.

    Vaginanya berdenyut tak terkontrol, menantikan apa yang akan terjadi berikutnya. Jodi berlutut di hadapannya, dia dapat mencium aroma yang kuat dari lembah surganya saat hidungnya bergerak mendekat.

    Perlahan diciumnya vagina Ana yang masih tertutupi kain itu, Ana mendesah, kenikmatan mengaliri darahnya. Untuk pertama kalinya, Ana merasa gembira saat Roy berada lama di dalam kamar mandi!

    Dengan tak sabar, tangannya menuju ke pangkal pahanya. Jodi hanya menatapnya saat tangan Ana menarik celana dalamnya sendiri ke samping, memperlihatkan rambut kemaluannya, dan kemudian bibir vaginanya yang kemerahan.

    Ana menatap pria yang berlutut di antara pahanya, api gairah tampak berkobar dalam matanya, menahan celana dalamnya ke samping untuknya. Jodi menatap matanya seiring bibirnya mulai mencium bibir vaginanya. Membuat lebih banyak desiran kenikmatan mengguyur tubuhnya dan dia mendesah melampiaskan kenikmatan yang dirasakannya.

    Lidah Jodi mulai menjilat dari bagian bawah bibir vagina Ana sampai ke bagian atasnya, mendorong kelentitnya dengan ujung lidahnya saat dia menemukannya. Diselipkannya lidahnya masuk ke dalam lubang vaginanya, mersakan bagaimana rasanya cairan gairah Ana.

    Dihisapnya bibir vagina itu ke dalam mulutnya dan dia mulai menggerakkan lidahnya naik turun di sana, membuat Ana semakin basah.

    Desahannya terdengar, menggoyangkan pinggulnya di wajah Jodi. Jodi melepaskan bibirnya, lidahnya bergerak ke kelentitnya. Dirangsangnya tonjolan daging sensitif itu menggunakan lidahnya dalam gerakan memutar.

    Ana menaruh kakinya pada bahu Jodi, duduknya jadi tidak tenang. Tiba-tiba, Jodi menghisap kelentitnya ke dalam mulutnya, menggigitnya diantara bibirnya.

    Ana memekik agak keras saat serasa ada aliran listrik yang menyentak tubuhnya. Lidah Jodi bergerak berulang-ulang pada kelentit Ana yang terjepit diantara bibirnya, tahu bahwa titik puncak Ana sudah dekat. Dilepaskannya kelentit itu dari mulutnya dan tangannya menggantikan mengerjai kelentit Ana dengan cepat.

    “Oh Tuhan… ” bisiknya mendesah, merasakan orgasmenya mendekat. Jari Jodi bergerak tanpa ampun, pinggul Ana terangkat karenanya. Ana menggigit bibirnya berusaha agar suara jeritannya tak terdengar sampai kepada suaminya yang berada di kamar mandi saat orgasmenya datang dengan hebatnya. Dadanya sesak, nafasnya terhenti beberapa saat, dinding-dinding vaginanya merapat.

    Kedua kakinya terpentang lebar di belakang kepala Jodi. Ana mendesah hebat, akhirnya nafasnya kembali mengisi paru-parunya mengiringi terlepasnya orgasmenya.

    Jodi berdiri dan langsung mengeluarkan penisnya. Ana memandang dengan lapar pada batang penis dalam genggaman tangan Jodi. Sebelah tangan Ana masih memegangi celana dalamnya ke samping saat tangannya yang satunya lagi meraih batang penis Jodi. Tangan kecil itu menggenggamnya saat Jodi maju mendekat.

    Dengan cepat Ana menggesek-gesekkannya pada bibir vaginanya yang basah, berhenti hanya saat itu sudah tepat berada di depan lubang masuknya. Mereka berdua mendengarkan dengan seksama suara dari kamar mandi di lantai atas yang masih terdengar.

    Jodi melihat ke bawah pada kepala penisnya yang menekan bibir vagina Ana.

    Jodi mendorong ke depan dan menyaksikan bibir itu membuka untuknya, mengijinkannya untuk masuk. Desahan Ana segera terdengar saat dia mersa terisi. Jodi terus mendorong, vagina Ana terus menghisapnya sampai akhirnya, Jodi berada di dalamya dalam satu dorongan saja.

    Ana sangat panas dan mencengkeramnya, dan Jodi membiarkan penisnya terkubur di dalam sana untuk beberapa saat, meresapi perasaan yang datang padanya. Tangan Ana masih menahan celana dalamnya ke samping, tangan yang satunya meraih kepala Jodi mendekat padanya.

    Lidahnya mencari pasangannya dalam lumatan bibir yang rapat. Dengan pelan Jodi menarik penisnya. Dia mendorongnya masuk kemabali, keras, dan Ana mengerang dalam mulutnya seketika. Tubuh mereka saling merapat, kaki Ana terjuntai terayun dibelakang tubuh Jodi dalam tiap hentakan.

    Roy yang masih berada di kamar mandi tak mengira di lantai bawah penis sahabatnya sedang terkubur dalam vagina istrinya.

    Sementara itu Ana, sedang berada di ambang orgasmenya yang lain. Penis pria ini menyentuhnya dengan begitu berbeda! Terasa sangat nikmat saat keluar masuk dalam tubuhnya seperti itu! Dia orgasme, melenguh, melepaskan ciumannya.

    Jodi mundur sedikit dan melihat batang penisnya keluar masuk dalam lubang vaginanya yang kemerahan, tangannya yang kecil menahan celana dalamnya jauh-jauh ke samping yang membuat Jodi heran karena kain itu tak robek. Dia mulai menyutubuhinya dengan keras, menyadari kalau mungkin saja dia tak mempunyai banyak waktu lagi.

    Jika Roy masuk ke sudut ruangan itu, dia akan melihat ujung kaki istrinya yang terayun dibelakang pantat Jodi. Celana jeans Jodi merosot hingga mata kakinya, celana dalamnya berada di lututnya, dan pantatnya mengayun dengan kecepatan penuh diantara paha Ana yang terbuka lebar. Roy mungkin mendengar suara erangan kenikmatan istrinya.

    Jodi terus mengocok, dia dapat merasakan kantung buah zakarnya mengencang dan dia tahu itu tak lama lagi. Dia menggeram, memberinya beberapa kocokan lagi sebelum dilesakkannya batang penisnya ke dalam vagina wanita bersuami itu dan menahannya di dalam sana.

    Dia menggeram hebat, penisnya menyemburkan spermanya yang panas di dalam sana. Begitu banyak sperma yang tertumpah di dalam vagina Ana.

    Erangan keduanya terdengar saling bersahutan untuk beberapa saat hingga akhirnya mereka tersadar kalau suara dari dalam kamar mandi sudah berhenti, dan tak menyadari sudah berapa lama itu tak terdengar.

    Bibir Jodi mengunci bibirnya dan mereka saling melumat untuk beberapa waktu seiring kejantanan Jodi yang melembut di dalam tubuhnya. Kemudian mereka saling merenggang dan Jodi mengeluarkan penisnya yang setengah ereksi itu dari vagina Ana. Dengan cekatan dia mengenakan pakaiannya kembali. Ana membiarkan celana dalamnya seperti begitu. Dia merasa celananya menjadi semakin basah saat ada sperma Jodi yang menetes keluar dari vaginanya saat dia berdiri.

    Roy turun tak lama berselang, siap untuk sarapan.

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Mbak Titin Janda Beranak Satu

    Mbak Titin Janda Beranak Satu


    1038 views

    Cerita Sex ini berjudulMbak Titin Janda Beranak SatuCerita Dewasa,Cerita Hot,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks,Kisah Mesum,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019.

    Perawanku – Bermula ketika saya tiba diterminal bis di kota Bandung pukul 2 siang, meskipun bis Bandung – Jogja yang saya tumpangi baru berangkat 2 jam kemudian. Saat sedang asyik membolak-balik Taboid Olahraga kesukaan saya, tiba-tiba seorang anak kecil berusia 4 tahunan terjatuh didepan saya, sontak tangan ku menarik si gadis kecil itu.

    ”Makasih Dik, maklum anak kecil kerja nya lari-lari mulu” ungkap seorang wanita setengah baya seraya mengumbar senyum manisnya. Namun walau hampir kepala tiga, Mbak Titin, demikian dia memperkenalkan dirinya pada saya, masih keliatan seperti gadis muda yang lagi ranum-ranum nya…. dada gede (34B), pantat bahenol dibarengi pinggul seksi membuat ku terpaku sejenak memandanginya.

    “Maaf, boleh saya duduk disini” suara Mbak Titin dengan logat sundanya yang khas memecah ‘keheningan’ saya

    “Ssii… silakan Mbak,” balas ku sambil menggeser pantat ku dibangku ruang tunggu bis antar kota di kota kembang itu.

    “Mau kemana mbak’”saya coba membuka pembicaraan.

    “Anu… saya the mau ke jogja. Biasa beli barang-barang buat dagang. Adik mau kemana?”

    “Sama, jogja juga. Mbak sendiri?” pandangan ku melirik payudara nya yang belahan nya jelas dari kaos lumayan ketat yang dipakainya.

    “Ya, tapi ada yeyen kok” katanya sambil menunjuk si kecil yang asik dengan mainannya.

    “Saya Andi Mbak” ucapku sambil mengulurkan tangan yang langsung disambutnya dengan ramah.

    “Kalo gitu saya manggilnya mas aja ya, lebih enak kedengarannya” ungkap si mbak dengan kembali mengumbar senyum manisnya. Mungkin karena ketepatan jurusan kami sama, saya dan Mbak Titin cepat akrab, apalagi apa karna kebetulan ato gimana, kami pun duduk sebangku di bis yang memang pake formasi seat 2-2 itu.

    Dari ceritanya ku ketahui kalo Mbak Titin janda muda yang ditinggal cerai suami sejak 2 thn lalu. Untuk menyambung hidup dia berjualan pakaian dan perhiasan yang semua dibeli dari jogja. Katanya harga nya murah. Rencananya di Jogja 2-3 hari..

    Pukul 4.30 sore, bis meninggalkan terminal tersebut, sementara didalam bis kamu bertiga asyik bercengkarama, layaknya Bapak-Ibu-Anak, dan cepat akrab saya sengaja memangku si kecil Yeyen, sehingga Mbak Titin makin respek pada saya. Tak terasa, waktu terus berjaan, suasana bis begitu hening, ketika waktu menunjukkan pukul 11 malam. Si kecil Yeyen dan para penumpang lain pun sudah terlelap dalam tidur.

    Sedangkan saya dan Mbak Titin masih asyik dalam obrolan kami, yang sekali-kali berbau ha-hal ‘jorok’, apalagi dengan tawa genitnya Mbak Titin sesekali mencubit mesra pinggang saya. Suasana makin mendukung karna kami duduk dibangku urutan 4 dari depan dan kebetulan lagi bangku didepan,belakang dan samping kami kosong semua.

    “Ehmm..mbak, boleh tanya ga nih, gimana dong seandainya pengen gituan kan dah 2 taon cerainya.” tanya ku sekenanya.

    “Iiihh, si mas pikiran nya..ya gimana lagi, palingan usaha sendiri… kalo ga,ya… ini,si Yeyen yang jadi sasaran marah saya, apalagi kalo dah sampe di ubun-ubun.” jawabnya sambil tersipu malu.

    “Masa… Ga mungkin ga ada pria yang ga mau sama mbak, mbak seksi, kayak masih gadis” aku coba mengeluarkan jurus awal.

    Tiba-tiba si yeyen yang tidur pulas dipangkuan Mbak Titin, nyaris terjatuh.. sontak tangan ku menahannya dan tanpa sengaja tangan kami bertemu. Kami terdiam sambil berpandangan, sejenak kemudian tangan nya ku remas kecil dan Mbak Titin merespon sambil tersenyum.

    Tak lama kemudian dia menyandarkan kepalanya di bahu ku, tapi aku mencoba untuk tenang, karena ‘diantara’ kami masih ada si kecil yeyen yang lagi asik mimpi..ya memang ruang gerak kami terbatas malam itu. Cukup lama kami berpandangan, dan dibawah sorot lampu bis yang redup, ku beranikan mencium lembut bibir seksi janda cantik itu.

    “Ssshhh… ahhh… mas” erangnya, saat lidah ku memasuki rongga mulutnya, sementara tangan ku, walau agak sulit, karna yeyen tidur dipangkuan kami berdua, tapi aku coba meremas lembut payudara seksi nan gede itu.

    “Terus mas… enak….. ouhhhh” tangan nya dimasukin aja mas, gak keliatan kok’” rengeknya manja.

    Adegan pagut dan remas antara kami berlangsung 20 menitan dan terhenti saat yeyen terbangun…

    “Mama…, ngapain sama Om Andi” suara yeyen membuat kami segera menyudahi ‘fore play’ ini dan terpaksa semuanya serba nanggung karna setelah itu Yeyen malah ga tidur lagi.

    “Oya, ntar di Jogja tinggal dimana Mbak” tanya ku. Solaire99

    “Hotel Mas… Napa? Mas mau nemenin kami…???”

    “Bisa, ntar sekalian saya temenin belanjanya, biar gampang, ntar cari hotelnya disekitar malioboro aja.”

    Pukul 7 pagi akhirnya kami tiba di terminal Giwangan, Jogja… dari terminal kami bertiga yang mirip Bapak-Ibu dan anak ini, nyambung bis kota dan nyampai dikawasan malioboro setengah jam kemudian.. setelah muter-muter, akhirnya kami mendapatkan hotel kamar standart dengan doble bed dikawasan wisata jogja itu.

    Setelah semua beres, si room boy yang mengantar kami pamit.

    “Yeyen, mau mandi atau langsung bobo chayank?”

    “Mandi aja, Ma… Oya, Om Andi nginep bareng kita ya..?” si yeyen kecil menanyaiku

    “Ya, biar mama ada temen ngobrolnya.” jawab Mbak Titin sambil ngajak Yeyen ke kamar mandi yang ada dalam kamar. Di dalam ternyata si mbak telah melepas pakaiannya dan hanya melilitkan handuk di tubuh seksinya.

    Dengan posisi agak nungging, dengan telaten Mbak Yeyen menyabuni si Yeyen, dan karena pintu kamar mandi yang terbuka, nampak jelas cd item yang membalut pantat seksi itu. Seperti Mbak Titin sengaja memancing naluriku, karena walau tau aku bisa ‘menikmati’ pemandangan tersebut, pintu kamar mandi tidak ditutup barang sedikitpun.

    Tak lama kemudian, Yeyen yang telah selesai mandi , berlari masuk ke dalam kamar..

    “Gimana, Yeyen udah seger belom?” godaku sambil mengedipkan mata ke arah Mbak Titin

    “Seger Om…. Om mau mandi??”Belum sempat ku jawab…..

    “Ya ntar Om Mandi mandinya bareng mama, sekarang yeyen bobo ya…” celetuk Mbak Titin sambil tersenyum genit kearah ku.

    Selagi Mbak Titin menidurkan anaknya, aku yang sudah masuk ke kamar mandi melepas seluruh pakaian ku dan ‘mengurut-urut’ penis ku yang sudah tegang dari tadi. Lagi asiknya swalayan sambil berfantasi, Mbak Titin ngeloyor masuk kamar mandi.

    Aku kanget bukan kepalang..

    “Udah gak sabar ya……” godanya sambil memandagi torpedo ku yang sudah ‘on fire’

    “Haa… aaa… Mbak…” suaraku agak terbata-bata melihat Mbak Titin langsung melepas lilitan handuknya hingga terpampang payudara nya yang montok yang ternyata sudah ga dibungkus BH lagi, tapi penutup bawah nya masih utuh.

    Tanpa mempedulikan kebengongan ku, Mbak Titin langsung memelukku.

    “Jangan panggil Mbak dong. Titin aja” rengeknya manja sambil melumat bibirku dan tangan kirinya dengan lembut mengelus-elus kemaluan ku yang semakin ‘on fire’.

    Aku sudah dirasuki nafsu biarahi langsung membalas pagutan Titin dengan tatkala ganasnya. Perlahan jilatan erotis Mbak Heny turun ke leher, perut… hingga sampe dibatang kemaluan ku.

    “Berpengalaman sekali dia ini…” pikirku.

    Jilatan yang diselingi sedotan, kuluman dibatang kemaluan hingga buah pelir ku itu membuatku serasa terbang melayang-layang….

    “Ohhhh… Titin… nikkk… mat… teruss… isepppp” desahku menahan nikmatnya permainan oral janda seksi ini sambil mengelus-elus rambutnya.
    15 menit lamanya permainan dahsyat itu berlangsung hingga akhirnya aku merasa sesuatu yang ingin keluar dari penis ku.

    “Akhh… hh… aku keulu..aaarrr…” erangku diikuti semprotan sperma ku dimulut Titin yang langsung melahap semua sperma ku persis seperti anak kecil yang melahap es paddle pop sambil tersenyum ke arahku..

    Setelah suasana agak tenang, aku menarik tangan Titin untuk berdiri, dan dalam posisi sejajar sambil memeluk erat tubuh sintal janda seksi ini, mulutku langsung melumat mulut Titin sambil meremas-remas pantatnya yang padat.

    Titin membalasnya dengan pagutan yang tatkala ganas sambil tangan nya mengenggam penisku yang masih layu dan mengurut-urutnya. Dan dengan buasnya aku mengecup dan menyedot dari leher terus merambat hingga ke payudara nya yang padat berisi.

    “Oohhh.. Ndi…. ahhkkhh.” erangnya tatkala mulutku mulai bermain di ujung putingnya yang tegang dan berwarna coklat kemerahan.

    Tanpa melepas lumatan pada mulut Titin, perlahan aku mulai mengangkat tubuh sintal tersebut dan mendudukannya diatas bak mandi serta membuka lebar-lebar pahanya yang putih mulus. Tanpa dikomando aku langsung berlutut, mendekatkan wajahku kebagian perut Titin dan menjilati yang membuat Titin menggelinjang bak cacing kepanasan.

    Jilatin ku terus merambat ke bibir vagina nya yang licin tanpa sehelai bulu pun. Sesaat kemudian lidahku menjilati sambil menusuk-nusuk lubang vagina Titin, yang membuatnya mengerang histeris.

    “Ndi… sudah…. Ndi… masukinn punyamu…. aku sudah ga tahan…. ayo sayang…” pinta nya dengan nafas memburu.

    Tak lama kemudian aku berdiri dan mulai menggesek-gesekkan penis ku yang sudah tegang dan mengeras dibibir vagina Titin yang seseksi si empunya.

    “Sudah…. say…. aku ga ta.. hann… nnn… masukin..” rengek Titin dengan wajah sayu menahan geora nafsunya.

    Perlahan namun pasti penisku yang berukuran 17 cm, ku masukkan menerobos vagina Titin yang masih sempit walau sudah berstatus janda itu.

    “Pelann… dong say.. sudah 2 tahun aku gak maen..” pinta nya seraya memejamkan mata dan menggigit bibirnya sendiri saat penisku mulai menerobos lorong nikmat itu.

    Ku biarkan penis ku tertanam di vagina Titin dan membiarkan nya menikmati sensasi yang telah dua tahun tak dia rasakan. Perlahan namun pasti aku mulai mengocok vagina janda muda ini dengan penis ku yang perkasa. Untuk memberikan sensasi yang luar biasa, aku memompa vagina Titin dengan formasi 10:1, yaitu 10 gerakan menusuk setengah vagina Titin yang diukuti dengan 1 gerakan full menusuk hingga menyentuh dinding rahimnya.

    Gerakan ini ku selingi dengan menggerakkan pantatku dengan memuter sehingga membuat Titin merasa vagina nya diubek, sungguh nikmat yang tiada tara terlihat dari desisan-desisan yang diselingi kata-kata kotor keluar dari mulutnya..

    “Ouggghh…. kontolmu enak say… entot Titin terus say… nikmat” rintihnya sambil mengimbangi gerakanku dengan memaju-mundurkan pantatnya.

    Tiga puluh menit berlalu, Titin sepertinya akan mencapai orgasmenya yang pertama. Tangan nya dengan kuat mencengkram punggung ku seolah meminta sodokan yang lebih dalam di vaginanya. Titin menganggkat pinggulnya tinggi-tinggi dan menggelinjang hebat, sementara aku semakin cepat menghujam kan penisku di vagina Titin…

    “Ooouhhh…. aaahhhh…. hhh…” erang Titin saat puncak kenikmatan itu dia dapatkan..

    Sejenak Mbak Titin kubiarkan menikmati multi orgasme yang baru saja dia dapatkan. Tak lama kemudian tubuh sintal Mbak Titin ku bopong berdiri dan kusandarkan membelakangi ku ke dinding kamar mandi.

    Sambil menciumi tengkuk bagian belakang nya, perlahan tangan ku membelai dan mengelus paha mulus Mbak Titin hingga tangan ku menyentuh dan meremas kemaluan nya dari belakang, membuat nafsu birahinya bangkit kembali. Rangsangan ini ku lakukan hingga aku persis berjongkok dibelakang Titin.

    Apalagi setelah jilatan merambat naik ke vagina Mbak Titin dan mengobok-obok vagina yang semakin menyemburkan aroma khas. Tak cukup sampai disitu, wajahku ku dekatkan kebelahan pantat montok itu dan mulai mengecup dan menjilati belahan itu hingga akhirnya Mbak Titin seakan tersentak kaget kala aku menjulurkan dan menjilati lubang anus nya, sepertinya baru kali ini bokong seksi dan anusnya dijilati.

    “Ouhh…. aakhh… ssstt…. jorok say…. apa kamu lakukan… jilat memek titin aja..” celotehnya .

    Sepuluh menit berlalu, aku kemudian berdiri dan menarik pantat montok nan seksi itu kebelakang dan penisku yang semakin tegang itu ku gosok-gosokan disekitar anus Titin…

    “Ouh… ca… kittt… say… jangan disitu, Titin lom pernah say…” rengeknya sambil menahan saat perlahan penisku menerobos masuk anusnya.

    Setelah sepenuhnya penisku tertelan anus Titin, ku diamkan beberapa saat untuk beradaptasi seraya tangan ku meremas-remas kedua payudaranya yang menggantung indah dan menciumi tengkuk hingga leher belakang dan sampai ke daun telinga nya.

    “Nikk… matt… say..” hanya itu yang keluar dari mulut seksi Titin.

    Merasa cukup, aku mulai memaju mundurkan penis ku secara perlahan mengingat baru kali ini anusnya dimasuki penis laki-laki. Setelah beberapa gerakan kelihatan rasa sakit dan perih yang dirasakannya tadi sudah berganti dengan rasa nikmat tiada tara.

    Perlahan Mbak Titin mulai mengimbangi gerakan ku dengan goyangan saat penis ku semakin memompa anusnya, sambil tangan kananku mengobok-obok vagina nya yang nganggur.

    “Aahhh… ooohhh… laur biasa say… nikmat…” Desah Titin menahan nikmatnya permainan duniawi ini. 30 menit berlalu dan aku merasa puas mempermainkan anus Mbak Titin, perlahan ku tarik penisku dan mengarahkan nya secara perlahan ke vagina, dan memulai mengobok-obok vagina itu lagi.

    20 menit kemudian aku merasa ada sesuatu yang akan keluar dari penisku, hingga aku semakin mempercepat gerakan sodokan ku yang semakin diimbangi Titin yang sepertinya juga akan mendapatkan orgamasme keduanya.

    Diiringa lolongan panjang kami yang hampir bersamaan, secara bersamaan pula cairan hangat dan kental dari penisku dan vagina Titin bertemu di lorong nikmat Titin.. Nikmatnya tiada tara, sensasi yang tiada duanya..

    Tak lama berselang, aku menarik penisku dan mendekatkan nya ke mulut Mbak Tiitn yang langsung dijilatinya hingga sisa-sisa sperma yang masih ada dipenisku dijalatinya dengan rakus.

    “Tak kusangka mas sehebat ini.. baru kali ini aku merasa sepuas ini. Badan kecil tapi tenaganya luar biasa. Aku mau mas… aku mau kamu mas…” puji Mbak Titin padaku dengan pancaran wajah penuh kepuasan tiada tara…

    Sesaat kemudian kami saling membersihkan diri satu dengan lainnya, sambil tentunya sambil saling remas. Saat keluar mandi terihat Yeyen masih terdidur pulas, sepuas mama nya yang baru saja ku ‘embat’.

    Setelah Yeyen bangun, kami bertiga jalan-jalan disekitar malioboro hingga malam. Pukul 9 malam kami tiba di hotel, namun kali ini sambil memandikan Yeyen, Mbak Titin tampaknya sekalian mandi.. Saat keluar kamar mandi tanpa sungkan wanita sunda ini melepas handuknya untuk selanjutnya mengenakan daster tipis yang tadi baru kami beli dari salah satu toko di kawasan malioboro.

    “Mas.. mandi dulu gih..” ungkapnya saat aku mendekatkan diri dan mengecup lembut bibirnya yang langsung disambutnya.

    “Iihh.. mama dan om Andi, ngapain..?” protes si kecil yeyen saat kami sesaat berpagutan didepan meja hias yang tersedia di kamar hotel itu.

    Setelah aku selesai mandi, ku lihat Titin lagi ngeloni Yeyen, dan tampaknya kedua ibu-anak ini kecapean setalah jalan-jalan disekitar malioboro.

    Akhirnya ku biarkan Titin tidur dan aku gak ngantuk sama sekali mencoba mengisi waktu dengan menyaksikan live liga Inggris yang waktu itu ketepatan menyajikan big match .. Jam 12 malam lebih saat tayangan bola rampung, perlahan aku mendekati Titin dan mulai membelai-belai betis indah janda muda itu dari balik daster tipisnya hingga nyampe pangkal pahanya.

    Ketika tanganku mulai mengusap-usap vagina, Titin terbangun. Ku ajak dia pindah ke bed satunya, sambil ku lucuti daster tipis yang didalamnya tanpa beha tersebut. Dengan hanya menggunakan CD tipis berwarna krem, tubuh bahenol itu ku bopong dan ku lentang kan di ranjang satunya, agar kami lebih leluasa dan si Yeyen kecil bisa tidur tenang. Sambil menindihnya, ku remas dan kecup puting payudara putih dan montok itu.

    “Aahhh…. mas…” erangnya manja.

    Jilatan ku terus merambah menikmati inci per inci tubuh seksi itu hingga sampe di gundukan nikmat tanpa sehelai rambut pun.. Hampir 20 menit lidah ku bermain dibagian sensitive itu, hingga akhirnya..

    “Ayo dong mas… cepeten masukin… dah ga tahan nih…”

    Perlahan kusapukan penis ku di vagina mungil itu. kelihatan sekali Titin menahan napas sambil memejamkan mata nya dengan sayu dan menggigit bibir bawahnya. Akhirnya burung ku masuk ‘sarang’. Ku pertahankan posisi itu beberapa saat, dan setelah agak tenang aku mulai menyodok perlahan vagina yang semakin basah itu.

    Erangan dan desahan nikmat yang keluar dari mulut seksi janda sintal ini, menandakan dia sangat menikmati permainan duniawi ini.. Tanpa malu dia mendesah, mengerang bahkan diselingi kata-kata kotor yang membangkitkan gairah.. Sementara di bed sebelahnya si kecil Yeyen masih tertidur pulas..

    Titin, si Jada seksi yang lagi, ku garap seakan tidak memperdulikan keberadaan putrinya si kecil, Yeyen..

    25 menit-an kami ‘bertempur’ dalam posisi konvensional itu, perlahan ku angkat tubuh Mbak Titin hingga kini dia posisinya diatas. Posisi yang nikmat, karna selain menikmati memek nya aku juga bisa dengan leluasa meremas, mencium dan sesekali mengulum payudara montok yang ber-ayun dengan indah itu.. baru 15 menit,tiba-tiba tubuh Titin mengejang diikuti lenguhan panjang..

    “Aaaacchh…. aauugghh… Ann.. ddii.. aakku.. kkeelluaa.. aa.. rr…”

    Tak lama Titin menghempaskan tubuhnya di dada ku, seraya mulut kami berpagutan mesra. 5 menit lama nya ku biarkan dia menikmati orgasme nya. Beberapa saat, karna aku belum apa-apa, aku minta Titin menungging karna aku pengen menikmati nya dengan posisi dogstyle..

    Dalam posisi nungging keliatan jelas pantat indah janda kota kembang ini.. Perlahan ku kecup dan jilati belahan pantat seksi itu. Secara perlahan jilatan ku sampe ke vagina mungilnya, Titin menggelinjang dan menggelengkan-gelengkan kepalanya menahan nikmat.. disaat itu, tanpa kami sadari.. si kecil Yeyen bangun dan menghampiri kami.

    “Om Andi.. ngapain cium pantat mama..” selidiknya sambil terus mendekat memperhatikan memek mama nya yang ku lahap habis..

    “Adek tenang aja ya.. jangan ganggu Om Andi… Mama lagi maen dokter-dokteran dengan Om Andi. Ntar mam mau di cuntik .. Yeyen diem aja ya…” Titin coba menenangkan gadis kecil itu..

    “Ehmm.,.. hayo Om… cuntik Mama Yeyen cekaaa.. lang Om.. dah ga tahan neh..” rengek Titin.. sedangkan si Yeyen terlihat duduk manis dipinggiran bed satunya, siap menyaksikan adegan yang semestinya belum pantas dia saksikan..

    Perlahan penis ku yang sudah on fire ku gosok-gosokkan dari lubang memek Titin hingga menyentuh anusnya, dari arah memek hingga lubang anusnya. Dan karena tak tega menyaksikan Titin semakin meracau dan merengek minta segera di ’suntik’, secara perlahan ku arahkan penis ku ke liang senggama nya yang licin oleh cairan vagina nya..


    “Om, kok Mama Yeyen dicuntik pake burung Om..” protes si kecil yang belum ngerti apa-apa itu.

    “Aauhh… ahh….. lebih dalam Mass.. sss.. Ann.. dddi..” pinta Titin dalam erangan dan desahan nikmat nya tanpa mempedulikan keberadaan Yeyen yang terlihat bingung melihat mama nya, antara kesakitan atau menahan nikmat.

    30 menit berlalu, aku merasa ada sesuatu yang akan keluar dari ujung penis ku. Agar lebih nikmat, ku putar tubuh sintal janda kembang ini tanpa mencabut penis ku hingga kami kembali paad posisi konvesional.

    “Ti… tiiinn.. aku mau keluar” erang ku mencoba menahan muntahan lahar nikmat yang semakin mendesak ini…

    “Ntar.. Masss.. ss.. tahann… kita bareng…” Erangnya dengan mata terpejam seraya menggigit kedua bibirnya menahan genjotan ku yang semakin kencang di vaginanya..

    Kedua tangan nya mencengkram punggung ku, dan dadanya diangkat membusung, seluruh badannya tegang mengencang, diikuti dengan lenguhan panjang kami berdua.

    “Aaaccchhh…. aaauuggghh…” Maniku dan mani nya akhirnya bertemu di lorong kenikmatan itu sementara bibir kami berpagut mesra dan tangan kanan ku meremas payudara nya yang mengecang saat kami orgasme bareng tadi. Sambil menikmati sisa-sisa kenikmatan itu, kami masih berciuman mesra sambil berpelukan mesra, sementara penisku masih ‘tertanam’ di memeknya.

    Sadar dari tadi Yeyen terus memperhatikan kami, Titin dengan wajahnya yang penuh kepuasan sejati, mengedipkan matanya seraya melihat ke arah Yeyen sambil tersenyum manis.. dan aku pun menghempaskan tubuh ku disampingnya, dan saat penis ku akan ku cabut..

    “Nggak usah Mas.. biarin aja dulu di dalem..” rengeknya manja dan segera ku hadiahi ciuman mesra di keningnya.. Tak lama kemudian Yeyen mendekati kami yang baru saja permainan ranjang yang begitu dahsyat..

    Hari berikutnya selama Ibu dan anak ini di Jogja, kami terus melakukan hubungan seks ini, dengan berbagai variasi dan teknik yang lebih mesra.. bahkan kadang kami melakukan nya di kamar mandi saat mandi.. Malahan kami tak peduli lagi dengan keberadaan Yeyen. Titin juga tak segan mengoral penis ku dihadapan Yeyen..

    Liburan tahun baru lalu aku mendatangi nya di Bandung dan menginap selama se minggu lebih di rumah Janda seksi itu.. kepada tetangga sekitar dia mengenalkan aku sebagai keponakan jauhnya.. Dan yang paling penting, kami menghabiskan waktu dengan bermain seks sepuasnya, apalagi si kecil Yeyen telah dia titipkan ditempat orang tuanya di karawang, sedang selama aku disana, dia sengaja meliburkan pembantu nya..

    Begitulah kisah seks ku dengan Titin, si janda seksi.. Dan pembaca, entah kenapa, sejak saat itu, untuk urusan seks aku merasa lebih menikmati permainan dengan wanita setengah baya.

    Kisah Seks,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Dewasa,Cerita Ngentot,Cerita Sex Bergambar,Cerita ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Pasutri.

  • Skandal Sex Sodokan Nikmat Ponakan Ku – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018

    Skandal Sex Sodokan Nikmat Ponakan Ku – Cerita Sex Terbaru Kisah Seks Dewasa 2018


    1015 views

    Perawanku – Aku sedikit akan mengulas cerita pengalamanku akan seksku aku adalah seorang wanita karir dimana kehidupanku sudah mapan, dua tahun kemarin aku memutuskan untuk resend dari pekerjaanku dan aku ingin membenahi rumah tanggaku yang selama enam tahun ini tidak berkomunikasi dengan suamiku.

    Kami memiliki kesibukan sendiri sendiri, kami sudah mempunyai satu anak dan dia berkuliah di luar negeri jadi akhirnya sepi dirumah, tapi memang aku sudah ada niat untuk memulai dari awal lagi sebuah hubungan dengan suamiku, tapi dengan kagetnya aku malah suamiku memlilih untuk cerai saat aku sudah keluar dari pekerjaanku.

    Dan apa yang bisa aku buat ternyata suamiku di luar sana sudah mempunyai wanita simpanan lain, aku juga tidak bisa menyalahkan karena aku juga sudah tidak antusias mengetahui berita itu, dan semuanya mungkin sudah takdirku dan aku harus jalani dengan tegar.

    Aku yang usianya sudah menginjak kepala tiga dan aku tidak bermimpi unutk menikah lagi. Keseharianku lebih banyak aku buat untuk jalan jalan dengan temanku, kadang pula aku dan teman temanku traveling beberapa hari di kota lain untuk menghabiskan waktu dan menyegarkan pikiran. Saat aku pergi kemarin aku menyuruh keponakanku unutk tinggal dirumahku, aku melihat keluarganya yang ekonominya pas pas san jadi lebih baik dia tinggal dirumahku sehingga untuk kost membutuhkan biaya juga.

    Untuk membayar kuliah saja keluarganya mati matian untuk mencari uang, keponakanku bernama Adit, dia saat ini berusia 21 tahun di tinggal di rumahku di lantai dua, keponakanku Adit sunguh sopan dan tahu diri, sehingga aku juga bisa memanfaatkan dia untuk menjaga rumahku bila aku sedang pergi traveling bersama teman temanku, selain itu Adit juga membawa berkah. Saat pagi hari aku sedang malas untuk bangun dari tempat tidurku, karena baru hari kemarin pulang dari negeri kincir angin dan kebetulan hari itu hari minggu memang aku sengaja unutk bermalas malasan untuk tidur sepuasku, pembantuku hari itu juga aku liburkan asal tidak menggangu privasi tidurku.

    Aku masih lelah baju tidurku yang tipis berwarna putih menyelimuti tubuhku, aku lihat tubuhku sekilas agak gempal aku pikir seharusnya sudah mulai senam lagi, terlihat pukul menunjukan jam 9 pagi dengan mata sayup sayup aku dengar suara kaki yang melangkah menuju kamar ku, terdengar suara ketukan pintu memang sengaja aku diamkan mungkin saja itu pembantuku yang ada perlu denganku. Selamat pagi tante , terdengar suara laki laki ohh ternyata Adit, dalam batinku mau apa dia pagi pagi ini mencariku, aku masih terpejam dan melentangkan tubuhku kedua tanganku dibawah bantal, Adit memanggil namaku Tante Tante dengan ketukan berulang kali.

    Tak lama kemudian aku mendengar kunci pintu di putar dan terlihat kepala Adit yang mengintip dari balik pintu kamar, aku sedikit melirik dari sudut mataku aku tak mau diganggu, Adit semakin berjalan mendekatiku” Tante bisikan suaranya terdengar , aku diam saja dan berpura pura aku tertidur pulas.

    Beberapa kemudian aku tidak mendengar apapun, tak kusangka Adit ternyata sudah disampingku kurasakan tubuhnya bergesakan dengan pahaku, aku teringat saat itu aku masih memakai gaun yang tipis sehingga celana dalamku agak terlihat ngeplat dan Bhku, aku intip dari celah mataku Adit melihat tubuhku dengan mata yang menganga sambil menelan ludah, pelan pelan tangannya Adit menuju kegaunku. Sungguh hatiku semakin berdebar “mau ngapain ini bocah? Tapi aku terus berpura pura memejamkan mata. Suara Adit memanggilku

    “Tante Tante” mungkin dia sedang memastikan bahwa kau sedang tertidur pulas, aku masih berpura pura tidur kemudian aku rasakan gaunku sedikit ada angin yang masuk menyentuh tubuhku tangan Adit membuka gaunku dan memegang bibirku, sungguh aku tambah kaget sekali tapi aku mencoba unutk tenang agar tidak ada curiga.

    Kurasakan tangannya Adit mengelus ngelus tanganku aku masih memejamkan mataku, saat aku intip lagi ternyata wajah Adit sungguh dekat dengan wajahku, tapi aku yakin kalau Adit tidak mengetahui kalau aku sedang berpura pura tidur lelap, nafasku aku atur dengan tenang dan selembut mungkin, tangannya Adit mulai nakal dengan mengelus ngelus leherku, secara tidak langsung bulu kudukku berdiri.

    Lebih bussyetny lagi tanganya masuk kedalam celah Bhku, awal awal dia hanya mengelus ngelus pemukaan payudaraku tapi kurasakan dadaku diremas remas, secara tidak langsung aku mulai horny sudah lama aku tidak merasakan sentuhan laki laki, aku putuskan untuk diam dan menikmati segala perbuatan Adit.

    Sekarang tangan Adit sedang berusaha membuka kancing BH-ku dari depan, tak lama kemudian kurasakan tangan dingin pemuda itu meremas dan memilin puting susuku. Aku ingin merintih nikmat tapi nanti malah membuatnya takut, jadi kurasakan remasannya dalam diam. Kurasakan tangannya gemetar ketika memencet puting susuku, kulirik pelan, kulihat Adit mendekatkan wajahnya kearah buah dadaku, lalu ia menjilat-jilat puting susuku, tubuhku ingin menggeliat merasakan kenikmatan isapannya, aku terus bertahan.

    Kulirik puting susuku yang berwarna merah tua sudah berkilat oleh air liurnya, perasaanku campur aduk tidak karuan, nikmat sekali. Mulutnya terus menyedot puting susuku disertai dengan gigitan-gigitan kecil. Tangan kanan Adit mulai menelusuri selangkanganku, lalu kurasakan jarinya meraba vaginaku yg masih tertutup CD, aku tak tahu apakah vaginaku sudah basah atau belum, yang jelas jari-jari Adit menekan-nekan lubang vaginaku dari luar CD.

    Lalu kurasakan tangannya menyusup masuk ke dalam CD-ku, jantungku berdebar keras sekali, kurasakan kenikmatan menjalari tubuhku. Jari-jari Adit sedang berusaha memasuki lubang vaginaku, lalu kurasakan jarinya amblas masuk ke dalam, wah nikmat sekali. Aku harus mengakhiri sandiwaraku, aku sudah tak tahan lagi, kubuka mataku sambil menyentakkan tubuhku.

    “Adit !! Ngapain kamu?”, Aku berusaha bangun duduk, tapi kedua tangan Adit menekan pundakku dengan keras.

    Tiba-tiba Adit mencium mulutku secepat kilat, aku berusaha memberontak, kukerahkan seluruh tenagaku, tapi Adit makin keras menekan pundakku, malah pemuda itu sekarang menindih tubuhku, aku kesulitan bernapas ditekan oleh tubuhnya yang besar. Kurasakan mulutnya kembali melumat mulutku, lidahnya masuk ke dalam mulutku, aku pura-pura menolak.

    “Tante.., maafkan saya. Sudah lama saya ingin merasakan ini, maafkan saya tante” Adit melepaskan ciumannya lalu memandangku dengan pandangan meminta.

    “Kamu kan bisa dengan teman-teman kamu yang masih muda. Tante kan sudah tua” Ujarku lembut..

    “Tapi saya sudah tergila-gila dengan tante.., saya akan memuaskan tante sepuas-puasnya”, Jawab Adit.

    “Ah kamu.., ya sudahlah terserah kamu sajalah”, Aku pura-pura menghela napas panjang, padahal tubuhku sudah tak tahan ingin dijamah olehnya.

    Kemudian Adit melepaskan gaun tidurku, sehingga aku cuma memakai celana dalam saja. Lalu Adit melepaskan pakaiannya, sehingga aku bisa melihat penisnya yang besar sekali, penis itu sudah menegang keras.

    Adit mendekat ke arahku. “Tante diam saja ya”, Kata Adit. Aku diam sambil berbaring telentang, kemudian Adit mulai menciumi wajahku, telingaku dijilatinya, aku mengerang-erang, kemudian leherku dijilat juga, sementara tangannya meremas buah dadaku dengan lembut.

    Tak lama kemudian Adit merenggangkan kedua pahaku, lalu kepalanya menyusup ke selangkanganku. vaginaku yang masih tertutup CD dijilat dan dihisap-hisapnya, aku menggeliat-geliat menahan rasa nikmat yang luar biasa. Lalu Adit menarik CD-ku sampai copot, kedua kakiku diangkatnya sampai pinggulku juga terangkat, sehingga tubuhku menekuk, kulihat vaginaku yang berbulu sangat lebat itu mengarah ke wajahku, punggungku agak sakit, tapi kutahan, aku ingin tahu apa yang akan dilakukannya.

    Kemudian Adit mulai menjilati vaginaku, kulihat lidahnya terjulur menyibak bulu vaginaku, lalu menyusup ke belahan bibir vaginaku, aku merintih keras, nikmat sekali, clitorisku dihisap-hisapnya, kurasakan lidahnya menjulur masuk ke dalam lubang vaginaku, mulutnya sudah bergelimang lendirku, aku terangsang sekali melihat kelahapan pemuda itu menikmati vaginaku, padahal kupikir vaginaku sudah tidak menarik lagi.

    “Enak Adit ? Bau kan?”, Bisikku sambil terus melihatnya melahap lubangku.

    “Enak sekali tante, saya suka sekali baunya”, Jawab Adit, aku makin terangsang. Tak lama aku merasakan puncaknya ketika Adit makin dalam memasukkan lidahnya ke dalam vaginaku.

    “Adit.., aa.., enaakk” Kurasakan tubuhku ngilu semua ketika mencapai orgasme, Adit terus menyusupkan lidahnya keluar masuk vaginaku.

    Kuremas-remas dan kugaruk-garuk rambut Adit. Kemudian kulihat Adit mulai menjilat lubang pantatku, aku kegelian, tapi Adit tidak peduli, ia berusaha membuka lubang pantatku, aku mengerahkan tenaga seperti sedang buang air sehingga kulihat lidah Adit berhasil menyusup kesela lubang pantatku, aku mulai merasakan kenikmatan bercampur geli.

    “Terus aduh nikmat banget, geli.., teruss.., hh..”, Aku mengerang-erang,

    Adit terus menusukkan lidahnya ke dalam lubang pantatku, kadang-kadang jarinya dimasukkan ke dalam lalu dikeluarkan lagi untuk dijilat sambil memandangku.

    “Enak? Jorok kan?”.

    Enak tante.., nikmat kok”, Jawab Adit, tak lama kemudian aku kembali orgasme, aku tahu lendir vaginaku sudah membanjir. Kucoba meraih penis Adit, tapi sulit sekali. Aku merasa kebelet ingin pipis, tiba-tiba tanpa dapat kutahan air kencingku memancar sedikit, aku mencoba menahannya.

    “Aduh sorry.., nggak tahan mau pipis dulu” Aku ingin bangun tapi kulihat Adit langsung menjilat air kencingku yang berwarna agak kuning.

    Gila! Aku berusaha menghindar, tapi ia malah menyurukkan seluruh mulutnya ke dalam vaginaku.

    “aa.., jangan Adit.., jangan dijilat, itu kan pipis Tante”

    Aku bangun berjalan ke kamar mandi, kulihat Adit mengikutiku..

    “Tante pipis dulu, Adit jangan ikut ah.., malu”, Kataku sambil menutup pintu kamar mandi, tapi Adit menahan dan ikut masuk.

    “Saya ingin lihat Tante”.

    “Terserah deh”.

    “Saya ingin merasakan air pipis tante”, Aku tersentak.

    “Gila kamu? Masak air pipis mau..”, Belum habis ucapanku,

    Adit sudah telentang di atas lantai kamar mandiku.

    “Please tante..”, Hatiku berdebar, aku belum pernah merasakan bagaimana mengencingi orang, siapa yang mau? Eh sekarang ada yang memohon untuk dikencingi.

    Akhirnya kuputuskan untuk mencoba.

    “Terserah deh..” Jawabku, lalu aku berdiri diantara kepalanya, kemudian pelan-pelan aku jongkok di atas wajahnya, kurasakan vaginaku menyentuh hidungnya. Ari menekan pinggulku sehingga hidungnya amblas ke dalam vaginaku, aku tak peduli, kugosok-gosok vaginaku di sana, dan sensasinya luar biasa, kemudian lidahnya mulai menjulur lalu menjilati lubang pantatku lagi, sementara aku sudah tidak tahan.

    “Awas.., mau keluar” Adit memejamkan matanya.

    Kuarahkan lubang vaginaku ke mulutnya, kukuakkan bibir vaginaku supaya air kencingku tidak memencar, kulihat Adit menjulurkan lidahnya menjilati bibir vaginaku, lalu memancarlah air kencingku dengan sangat deras, semuanya masuk ke dalam mulut Adit, sebagian besar keluar lagi. Tiba-tiba Adit menusuk vaginaku dengan jarinya sehingga kencingku tertahan seketika, kenikmatan yang luar biasa kurasakan ketika kencingku tertahan, lalu vaginaku ditusuk terus keluar masuk dengan jarinya.

    Kira-kira 1 menit kurasakan kencingku kembali memancar dashyat, sambil pipis sambil kugosok-gosokkan vaginaku ke seluruh wajah Adit. Pemuda itu masih memejamkan matanya. Akhirnya kulihat kencingku habis, yang keluar cuma tetes tersisa disertai lendir bening keputihan menjuntai masuk ke dalam mulut pemuda itu, dan Adit menjilat serta menghisap habis.

    Aku juga tak tahan, kucium mulut Adit dengan lahap, kurasakan lendirku sedikit asin, kuraih penis Adit, kukocok-kocok, kemudian kuselomoti penis yang besar itu. Kusuruh Adit nungging diatas wajahku, lalu kusedot penisnya yang sudah basah sekali oleh lendir bening yang terus-menerus menetes dari lubang kencingnya.

    Adit mulai memompa penisnya di dalam mulutku, keluar masuk seolah-olah mulutku adalah vagina, aku tidak peduli, kurasakan Adit sedang mencelucupi vaginaku sambil mengocok lubang pantatku. Kuberanikan mencoba menjilat lubang pantat Adit yang sedikit berbulu dan berwarna kehitam-hitaman. Tidak ada rasanya, kuteruskan menjilat lubang pantatnya, kadang-kadang kusedot bijinya, kadang-kadang penisnya kembali masuk ke mulutku.

    Tak lama kemudian kurasakan tubuh Adit menegang lalu ia menjerit keras. penisnya menyemburkan air mani panas yang banyak sekali di dalam mulutku. Kuhisap terus, kucoba untuk menelan semua air mani yang rada asin itu, sebagian menyembur ke wajahku, ku kocok penisnya, Adit seperti meregang nyawa, tubuhnya berliuk-liuk disertai erangan-erangan keras. Setelah beberapa lama, akhirnya penis itu agak melemas, tapi terus kuhisap.

    “Tante mau coba pipis Adit nggak?” Aku ingin menolak, tapi kupikir itu tidak fair.

    “Ya deh.. Tapi sedikit aja” Jawabku.

    Kemudian Adit berlutut di atas wajahku, lalu kedua tangannya mengangkat kepalaku sehingga penisnya tepat mengarah kemulutku. Kujilat-jilat kepala penisnya yang masih berlendir. Tak lama kemudian air pipis Adit menyembur masuk ke dalam mulutku, terasa panas dan asin, sedikit pahit. Kupejamkan mataku, yang kurasakan kemudian air pipis Adit terus menyembur ke seluruh wajahku, sebagian kuminum.

    Adit memukul-mukulkan penisnya ke wajah dan mulutku. Setelah habis kencingnya, aku kembali menyedot penisnya sambil mengocok juga. Kira-kira 2 menit penis Adit mulai tegang kembali, keras seperti kayu. Adit lalu mengarahkan penisnya ke vaginaku, kutuntun penis itu masuk ke dalam vaginaku.

    Kemudian pemuda itu mulai memompa penis besarnya ke dalam vaginaku. Aku merasakan kenikmatan yang bukan main setiap penis itu dicabut lalu ditusuk lagi. Kadang Adit mencabut penisnya lalu memasukkannya ke dalam mulutku, kemudian kurasakan pemuda itu berusaha menusuk masuk ke dalam lubang pantatku.

    “Pelan-pelan.., sakit” Kataku, kemudian kurasakan penis itu menerobos pelan masuk ke dalam lubang pantatku, sakit sekali, tapi diantara rasa sakit itu ada rasa nikmatnya.

    Kucoba menikmati, lama-lama aku yang keenakan, sudah 3 kali aku mencapai orgasme, sedangkan Adit masih terus bergantian menusuk vagina atau pantatku. Tubuh kami sudah berkubang keringat dan air pipis, kulihat lantai kamar mandiku yang tadinya kering, sekarang basah semua.

    “aakkhh.., tante, tante.., aa” Adit merengek-rengek sambil memompa terus penisnya di dalam lubang pantatku.

    Dengan sigap aku bangun lalu secepat kilat kumasukkan penisnya ke dalam mulutku, kuselomoti penis itu sampai akhirnya menyemburlah cairan kenikmatan dari penis Adit disertai jeritan panjang, untung tidak ada orang dirumah. Air maninya menyembur banyak sekali, sebagian kutelan sebagian lagi kuarahkan ke wajahku sehingga seluruh wajahku berlumuran air mani pemuda itu. Kemudian Adit menggosok penisnya ke seluruh wajahku, lalu kami berpelukan erat sambil bergulingan di lantai kamar mandi. Kepuasan yang kudapat hari itu benar-benar sangat berarti. Aku makin sayang dengan Adit. Ada saja sensasi dan cara baru setiap kali kami bercinta.

  • Cerita Sex Bercinta di Gudang Supermarket

    Cerita Sex Bercinta di Gudang Supermarket


    118 views

    Perawanku – Cerita Sex Bercinta di Gudang Supermarket, Tentang pengalaman seorang laki-laki yang bekerja sebagai sales di sebuah supermarket di kota bandung, yang dimana peristiwa ini di mulai ketika seorang gadis manis yang bekerja di supermarket tersebut meminta bantuan untuk menggosokkan badan bagian belakangnya karena gatal. Cerita Seks Remaja : karena yang meminta bantuan adalah seorang gadis yang bahenol, seksi dengan badan yang montok dan payudara yang kenyal akhirnya laki-laki tersebut langsung saja menggaruk tanpa berpikir panjang.

    Aku bekerja sebagai sales assistant di sebuah supermarket Y di Bandung. Di tempat kerjaku ada seorang cewek bernama Ita. Ita adalah cewek yang paling akrab denganku. Segala masalahnya akan dia beritahukan padaku. Ita memang cantik, kulitnya putih, matanya bulat, buah dadanya pun membulat, tidak terlalu besar tapi cukup menantang membuat setiap laki-laki yang dekat dengannya ingin selalu menjamahnya. Siapapun yang melihat tubuh Ita pasti naik nafsu syahwatnya. Pantat Ita mengiurkan juga. Rambutnyapun panjang sebahu.
    Suatu hari Ita datang padaku”, Fer belakang badan Ita gatal-gatal nih”, Ita memberitahuku akan masalahnya.
    “Tolong gosokkan ya, Fer” Ita menyuruhku.
    “Kalau begitu kemarilah”, balasku dengan sedikit terkejut.
    “Disini saja, di dalam gudang lebih nikmat” Ita memberitahuku dengan suara yang amat lembut dan begitu manja. Hatiku jadi cair.
    “Fer” Ita menarik tanganku menuju ke dalam gudang yang tak jauh dari tempat kami berdiri tadi.

    Kemudian Ita mengunci pintu gudang itu, serta mengambil bedak antiseptik di rak yang berdekatan, lalu mengulurkannya kepadaku. Aku tak sungkan-sungkan lagi, terus saja menaburkan bedak itu di atas telapak tanganku. Ita menarik baju yang dipakainya ke atas hingga sebatas tengkuk. Aku menelan ludah melihat ke belakang badan Ita, yang selama ini tak pernah aku lihat tanpa busana. Aku menepuk bedak yang ada di tanganku ke atas badan Ita. Hangat badannya. Aku mulai menggosok. Sesekali Ita kegelian, ketika aku mengurutkan jariku pada alur di tengah belakang badan Ita. Aku menggosok rata. Ita meraba-raba kancing BH-nya, lalu dilepaskannya, maka terurailah tali BH-nya itu di belakang badannya itu. berdesir darahku, aku menelan air liur, melihat aksi Ita yang berani itu tadi. Aku terus menggosok, dengan hati yang berdebar-debar. Aku merasa batang penisku sudah mulai mengeras. Aku merasa tak tahan. Tengah menggosok belakang badan Ita, tanganku secara perlahan-lahan merayap ke dada Ita.
    “Hei! Apa-apaan nih”, Ita melarang sambil menepuk tanganku.
    “Ohh! sorry”, aku meminta maaf.
    Tanganku kembali ke bekakang. BH yang Ita pakai masih melekat di dadanya, menutupi buah dadanya yang mungil itu. Aku terus menggosok, kali ini turun sampai ke batas pinggang. Aku memberanikan diri mengurut ke dalam rok Ita, tetapi Ita menepuk lagi tanganku.
    “Jangan!”, larang Ita lagi.
    “Sudah hilang belum gatal itu?”, Tanyaku pada Ita.
    “Belum!” jawab Ita pendek.
    Cerita Seks Remaja : Aku merasa semakin terangsang, batang penisku semakin mengeras dan mula tegang! Aku coba lagi untuk meraba ke dada Ita, kini aku telah dapat memegang buah dada Ita yang lembut itu, yang tertutup dengan BH berwarna putih. Ita tidak lagi menepuk tanganku tetapi dia memegang tanganku yang aku takupkan pada payudaranya itu. Aku mulai meremas buah dada Ita. Ita menggeliat geli sambil tangannya memegang pergelangan tanganku. Ita nampak sudah mula merasa terangsang, dan memang ini adalah salah satu cara untuk membuat wanita terangsang. Aku mencium tengkuk Ita. Dia masih menggeliat-geliat akibat remasan serta ciumanku. Buah dadanya aku rasa sudah semakin menegang. Jariku kini memainkan peranan memilin-milin puting susu Ita pula! Aku sadari tadi memeluk Ita dari belakang. Batang penisku yang beberapa waktu lalu telah aku gunakan obat memperbesar penis tambah semakin keras menonjol itu aku gesek-gesekkan pada alur pantat Ita. Ita ketawa kecil, merangsang sekali! Ita membuka kancing bajunya dan terus menanggalkannya berserta BH-nya dan mencampakkannya di atas lantai.

    Kini payudara Ita tak tertutup apa-apa lagi. Aku terus meremas-remas dan membalikkan badan Ita supaya berhadapan denganku. Ita menciumku rakus sekali, sambil mengulum-ngulum lidahku. Akupun begitu juga membalas dengan rakus serangan Ita. Aku menanggalkan bajuku. Ita mencium dadaku, perutku. Aku tetap mengecup-ngecup buah dada nya yang sudah mengeras tegang. Tanganku menekan-nekan pantatnya. Batang penisku semakin menegang. Tiba-tiba Ita berlutut, lalu membuka retsleting celanaku. Dia menarik keluar batang penisku yang tegak keras. Ita merasa kagum melihat batang penisku yang menegang secara maksimal itu. Ita menguak rambutnya ke belakang dan meng-”karaoke” batang kejantananku. Dia menggengam dengan rapi. Sambil mengulum secepat-cepatnya, tapi untung saja sebelumnya saya sudah memakai obat kuat lelaki hingga tidak cepat ejakulasi saat di kulum oleh ita.

    Ita mengarahkan batang penis ke matanya, hidungnya, ke pipinya. Ita mencium sekitar batang penisku. Aku merasa nikmat sekali. Ita terus mengulum penisku hingga ke pangkal makin lama semakin cepat. Aku merasa kepala penisku terkena anak tekak Ita. Ngilu rasanya! Aku juga membantu Ita dengan mendorong dan menarik kepalanya.
    “Ita, sudah hampir keluar! Sudah hampir keluar! Ita sengaja berlagak tak tahu saja, ketika aku katakan maniku sudah hendak keluar. Ita masih mengulum. Air maniku tersemprot memenuhi rongga mulut Ita. Dia lantas mencabut keluar penisku lalu menjilat-jilat air maniku. Dia nampaknya menikmati sekali. Penisku jadi lembek kembali!
    “Aik! belum apa-apa sudah lembek”.
    Ita mengulum lagi penisku. Penisku jadi tegang lagi. Ita tersenyum memandangnya. Aku membuka celana. Ita duduk di atas meja. Aku berlutut menarik rok dan celana dalamnya. Ita sudah bugil di depanku. Bulu yang tipis warna pirang menutupi vaginanya. Aku mencium sekitarnya. Ita meletakkan kedua belah kakinya di atas bahuku. Aku mengangkangkan paha Ita. Bibir vaginanya sedikit terbuka. Aku menjilatinya. Aku buka sedikit dengan jari lalu mengoreknya sedikit demi sedikit jariku menyodok vagina Ita.

    “Argh, argh, argh!” Ita mengerang perlahan. Vaginanya terlihat basah sekali. Aku meletakkan kepala penisku ke pintu vaginanya. Aku sodok sedikit, “Argh!” Ita mengerang lagi. Laku aku tekan lagi. ” Yes!” suara Ita perlahan. Aku menyodok lagi dalam sedikit dan terus ke pangkal. Aku mendorong dan menarik berulang kali. Ita makin terlihat lemas dan nikmat. Aku merasa kehangatan lubang vagina Ita. Ita mencabut penisku keluar. Dia turun dari atas meja dan mendorongku telentang lalu duduk di atas badanku dan memasukkan lagi penisku ke dalam lubang vaginanya itu. Dia mengayun ke atas dan ke bawah.

    Tak lama dia tarik keluar lagi penisku. Ita kini agresif. Aku mendorongnya telentang lagi. Ita merapatkan payudaranya dengan kedua belah tangannya.

    Cerita Seks Remaja : “Masukin di celah susuku dong! Masukin di celah susu ah..!” Ita menyuruhku. Aku tidak sungkan-sungkan lagi terus melakukannya tapi sebentar saja. Aku duduk dan Ita masih telentang, pahaku di bawah paha Ita, aku sodok lagi penisku ke dalam vaginanya. Aku mengayun dengan perlahan. Licin dan sedap rasanya Ita bangun dan bertiarap di atas meja, kakinya lurus ke lantai menungging! Akupun berdiri lalu membuat ‘dog style’. Aku pegang kiri dan kanan pantat Ita dan mengayun lagi. Aku kemudian menyangkutkan sebelah kaki Ita di atas bahuku dalam posisi telentang. Aku sodok lagi tarik dan keluar dorong dan masuk ke dalam vaginanya, pokoknya malam itu kami merasakan kepuasan bersama dengan mencoba segala posisi.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Sex Nafsuku Sudah Tak Tertahankan

    Cerita Sex Nafsuku Sudah Tak Tertahankan


    37 views

    Perawanku – Aku senang sekali karena setahun ini kami berumah tangga kehidupan di keluarga kami sangat indah berjalan dengan baik tanpa masalah, nama aku Santi umurku 22 tahun aku seorang lulusan D3 setelah lulus aku langsung diterima di sebuah instansi di Solo, kulitku putih dan bersih tinggiku 170 cm dan berat badanku 50 kg ukuran buah dadaku 34b.
    Suamiku Ardi umurnya lebih tua dari ku 3 tahun dia berumur 25 tahun bergelar sarjana S1 ia bekerja di bidangnya yaitu tata kota, suamiku ini sangat perhatian dan sabar soal hubungan kami di rranjang juga tidak masalah mungkin kita lakukan seminggu 2 kali.

    Hanya saja , jika hasrat saya sedang meninggi ,dan Ardi menolak berhubungan badan dengan alasan lelah , itu membuat saya kecewa. Memang saya akui kalau soal yang satu ini , saya lebih agresive .
    Bila Ardi sudah berkata, “Kita tidur ya,” maka saya pun menganggukkan kepala meski saat itu mata saya masih belum mengantuk.

    Akibatnya, tergolek disamping tubuh suami , dengan mata yang masih nyalang itu, saya sering , menghayal. Menghayalkan banyak hal. Tentang jabatan di kantor, tentang anak, tentang hari esok , sampai tentang ranjang.

    Seperti cerita Ani atau Indah di kantor, yang setiap pagi selalu punya cerita menarik tentang apa yang mereka perbuat dengan suami mereka pada malamnya.

    Kalau sudah begini , tanpa saya sadar , vagina saya mulai berlendir . Untuk mengobati kekecewaan dengan suami saya , saya melakukan mastubasi . Tak ada jalan lain , entah apa kah saya seorang hypersex .

    Suatu malam sepulang makan malam di salah satu resto favorit kami, entah mengapa, mobil yang disopiri suami saya menabrak sebuah sepeda motor. Untung tidak terlalu parah betul. Pria yang membawa sepedamotor itu hanya mengalami lecet di siku tangannya.  Agen Obat Kuat Pasutri

    Namun, pria itu marah-marah. “Anda tidak lihat jalan atau bagaimana. Masak menabrak motor saya. Mana surat-surat mobil Anda? Saya ini polisi!” bentak pria berkulit hitam , berperut buncit itu pada suami saya.

    Kulihat sorot matanya tajam memandang diriku . Ketika mataku sejajar dengan matanya , aku menerima sinyal sinyal , aneh . Matanya seperti mengirim , sinyal birahi ke otakku . Aku segera menghindar , memalingkan mukaku.

    Setelah bernegosiasi dengan suamiku , Kemudian dicapai kesepakatan, suami saya akan memperbaiki semua kerusakan motornya. Sementara motor itu dititipkan pada sebuh bengkel. Orang berperut buncit itu , yang kemudian kita ketahui bernama Jono , pun setuju .

    Akhirnya kita melanjutkan , perjalanan dan tiba dirumah . Entah kenapa , sosok Jono membayangiKu ,dan membuatKu agak birahi . Aku masuk ke kamar mandi, untuk mencuci muka , dan menganti pakaian .

    Untuk mengoda suamiKu , aku mengenakan pakaian tidur tipis , tanpa bra . Lalu aku kembali ke kamar tidur . Aku memerima kekecewaan , suamiku terlihat sudah tertidur pulas .

    Cerita Sex Nafsuku Sudah Tak Tertahankan

    Cerita Sex Nafsuku Sudah Tak Tertahankan

    Aku dengan membawa rasa kecewa , berbaring di samping suamiku . mataku menerawang jauh . Tiba tiba ruangan tidurku menjadi gelap , tubuhku kehilangan gaya gravitasi , seakan tubuhku melayang .

    Dan aku meresa sesak , tubuhku di himpit sosok bertubuh besar , aku berusaha sekuat tenaga mendorongnya . Sosok itu mundur beberapa langkah , saat itu juga ruang kamarku kembali terang .

    Kudapati Jono , dengan mimik muka , penuh nafsu menghapiriku . Tubuhku bagai kehilangan tenaga .Dia merambet baju tidurku , dan merobek begitu saja . Kemudian tangan tangannya yang kasar , meremas buah dadaku , aku merasa sakit sekali . lepaskan , tolong .. tolongaE pekik panikKu .

    Lidahnya yang terlihat kasar , menjulur keluar , dan mengenai putting susuku . Saat itu juga , getaran getaran birahi merasuk tubuhku . Aku mendesah kenikmatan . Lidahnya turus berputar , memberi sensasi nikmat di puting susuKu yang mulai membesar.

    Tanpa kusadar , bagian bawah tubuhku mulai berlendir . Lidah Jono terus turun dan turun , pusar ku pun di gelitik oleh lidah kasarnya . Lidah kasar itu tak bisa berhenti , dan terus memberiku rasa yang sangat nikmat .

    Makin kebawah , terus dan lidah itu mulai menjilati bagian paling pribadi di tubuhKu.

    Aku mengerang , merasakan nikmat yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya . Lidah itu terus menjilati selangkangan celana dalamku . Tapi rasanya lidah itu bersentuhan langsung ke klitorisku .
    Aku mendesah desah , dengan penuh nafsu .

    Pinggulku bergoyang seirama dengan jilatan Jono . Dan terus begitu , sampai tubuhku mengeram , kejang . Aku menjerit sekeras mungkin Aghhh aku aku keluarrr .

    Tubuhku mengeliat , menikmati orgasme yang di berikan Jono . Sesaat kemudian Jono , hendak menarik turun celana dalamKu . Saat itu aku teringat suamiku tercinta . Segera Kakiku dengan kuat mendengan tubuhnya.

    Jono hanya tersenyum , dan dia mengambil pentungannya . Pentungan yang selalu dibawanya . Pentungan hitam sepanjang 60 cm , di hantam keras ke perutku . Aku menjerit , menerima rasa sakitnya . Berkali kali Jono memukulku dengan pentungan itu .

    Sampai tubuhku terasa lemas . Tak bisa kulawan lagi , saat dia menarik turun celana dalamku . Matanya jalang , menatap vaginaKu dengan bukit berbulu , yang sangat berlendir itu . Dia segera membuka celananya dan aku bergidik .

    Pak Jono tidak mempunyai penis . Yang tegak mengantung itu adalah pentungan hitam yang di gunakan memukul tubuhku tadi . Aku menjerit jerit , ini monster , bukan manusia . Jono semakin mendekat , pentungan yang mengantung di selangkangannya itu terus mendekat ke liang vaginaku . tolong , hentikan tolong , tolong jaritKu .

    Dan tiba , tiba aku merasakan sakit yang luar biasa di vaginaKu . Dan ruang kamarku menjadi terang benderang menyilaukan. Aku terbangun dari mimpi yang aneh itu. Peluh membasahi tubuhKu . Kulihat suamiku masih terlelap . Perlahan Aku beranjak dari ranjang , dan mengambil air minumku . Aku meminum segela air , untuk menghilangkan rasa kering di tenggorokanku .

    Aku ke kamar mandi , membuka celana dalamku , dan duduk di kloset . Aku mendapati celana dalamku basah sekali , begitu juga vaginaku .

    Jari jariku menyentuh klitorisku , dan kembali sinyal sinyal birahi , aktif di otakku . Jari jari ku terus bermain di klitorisku , tubuhku menerima rasa nikmat . Terus dan terus , sampai aku mengejang , mencapai puncak birahiKu di atas kloset itu.

    Esoknya, setelah menjemput saya di kantor, Suami saya mengajak saya mampir ke rumah Jono . untuk apa , mas ? tanyaku . yah , kita silaturami saja , kan tak enak rasanya , aku telah menabraknya kata suamiKu .

    Aku mengalah , sebenar aku tak mau ketemu Jono , apalagi sejak mimpiku yang aneh itu . Dan Aku tak pernah menceritakan mimpi itu pada siapa pun , tak terkecuali suamiKu sendiri .
    kami pun pergi ke rumah Jono . Setelah berbasa basi dan minta maaf, Suami saya mengatakan kalau sepedamotor Pak Jono sudah diserahkan anak buahnya ke salah satu bengkel besar. Dan akan siap dalam dua atau tiga hari mendatang.

    Sepanjang Ardi bercerita, Pak Jono tampak cuek saja. Ia menaikkan satu kaki ke atas kursi. Sesekali ia menyeruput secangkir kopi yang ada di atas meja.

    Yang saya tahu matanya terus jelalatan menatap tubuhku . Dan tiap kali matanya , bertemu mataku , ada getaran aneh yang kurasakan . Tapi aku tak tahu apa itu . Yang jelas , aku sepertinya manjadi birahi.

    Kalau Memandang tubuh Jono, saya bergidik juga. Badannya besar meski ia juga tidak terlalu tinggi. Lengan tangannya tampak kokoh berisi. Sementara perutnya membusung. Dari balik kaosnya yang sudah kusam itu tampak dadanya yang berbulu. Jari tangannya seperti besi yang bengkok-bengkok, kasar.

    Setelah suamiku ngobrol cukup lama , akhirnya kita pamitan . Suamiku segera menjalankan mobilnya dan pulang kerumah . Malam itu aku berencana mengajak suamiku bercinta , tapi begitu dia masuk kamar dia langsung berkata ayo kita bobo yuk , saya lelah sekali hari ini , banyak tugas ..
    Aku tersenyum dalam kekecewaan . Dan ikut berbaring bersama suamiku .

    Di kantor ,esok harinya aku tak semangat bekerja . Jam makan siang aku gunakan untuk pergi ke Mall . Tapi apes , di perempatan lampu merah , aku kecopetan . Dompetku di gondol pencopet itu . Aku tak terlalu memikirkan uang di dompet itu.

    Tapi KTP dan SIM , mau tak mau aku harus lapor polisi. Setelah proses verbal selesai , aku pamit . Ketika berjalan di koridor kantor polisi itu aku berpapasan dengan Jono. Bu Ranta, ngapain kesini kata Jono . oh engak , cuma , lapor , saya habis kecopetan jawabku . Dan terus berjalan , mencoba menghindari dirinya.

    Eh , Bu Santi , kebenaran kemari , ayo kita makan di kantin sana ajak Jono . Matanya yang tajam menatap wajahku . Aku diam sesaat , berpikir , namanya juga polisi , pasti minta di bayarin makan . baik ,lah pak , tapi saya gak bisa lama lama yah kataKu .

    Setelah memilih tempat duduk , aku memesan air jeruk . Jono memesan nasi goreng. Sambil makan ia bercerita. Tentang tentang istri yang minta cerai, tentang dirinya yang disebut orang-orang suka menanggu istri orang. Saya hanya diam mendengarkan ceritanya.

    Kadang Jono juga bercerita , tentang hal hal kehidupan sexnya . Saya mendengarkan, rasa birahi mulai timbul , dan rasanya tubuh saya mulai , menyukai Jono . Setelah itu dia menyakan bagai mana kehidupan sex saya .

    Saya hanya bisa menjawab ah , biasa aja Pak Jono , namanya juga suami istri . Pak Jono tersenyum , iyah maksud saya , bagaimana suami kamu di ranjang apa hot kayak saya engak ? .

    Aku hanya diam , aku berpikir , Jono mulai kurang ajar , di lain pihak aku sepertinya tertarik bicara sama dia .

    Aku berusaha mengalihkan arah pembicaraan . suami saya dan saya sedang ikut program , kami ingin punya anak , jadi kita main pakai aturan . . Dan ini mendapat perhatian besar Pak Jono. Ia antusias sekali. Matanya tampak berkilau.

    “Oh ya. kalau yang itu mungkin saya bisa bantu,” katanya . “Bagaimana caranya?” tanya saya bingung.

    “Mudah-mudahan saya bisa bantu. Kalau mau kita kerumah saya . Saya beri obat,” kata Pak Jono pula. Aku berpikir , dan melirik jam tanganku , baru pukul 3.00 sore . Naik apa kita tanyaku .

    Setelah motor yang aku tumpangi berhenti di rumah Jono , dia segera mengajakku masuk kerumahnya . Tanpa bisa menolak , dia memegang tangan dan membawaku masuk kerumahnya.

    “Sekarang saja kita mulai pengobatannya,” ujarnya seraya membawa saya masuk kamarnya. Kamarnya kecil dan pengab. Jendela kecil disamping ranjang tidak terbuka. Sementara ranjang kayu hanya berasalan kasur yang sudah menipis.

    Aku masih berdiri , rasanya tubuhku kaku . loh koq bengong , ini minyak khusus untuk pengobatan , supaya cepat hamil katanya sambil memperlihat botol kecil berwarna hitam . Ayo , buka baju kamu .. katanya lagi .

    Entah apa yang terjadi pada diriku , aku seperti kehilangan akal sehat . Perlahan kancing bajuku aku buka satu persatu . Kemudian , aku membuka rok ku sendiri . Kini tubuhku hanya memaki Bra dan celana dalam hitamku saja . berdiri terpaku di depan orang yang pantas manjadi ayaku .

    Oh , Santi , BH nya juga harus di buka dong kata Jono lagi . Tanganku seperti di gerakan oleh pikirannya . Dengan gemetar , tanganku melepas kait BH ku . Dan kini dia bisa melihat jelas buah dadaku yang mengantung bebas , besar dan montok.

    Oh , Santi , suami kamu berutung bisa , memperoleh istri secantik kamu . guman pak Jono , lalu memintaku berbaring terlentang di ranjangnya.

    Setelah aku berbaring , dia mengolesi tanganya dengan minyak yang ada di botol kecil itu , sebagian minyak itu di tuang di atas tubuhku . Perlahan tangan kasarnya mulai menyentuh tubuhku . Tangannya bergerak mengurut perutku .

    Tanganya sepertinya bukan mengurut , melainkan mengelus elus perutku . Makin lama gerakkan tanganya makin keatas , dan tangan itu kini memainkan buah dadaku Aku tak kuasa menolaknya . Aku memejamkan mata , merasakan nikmat sentuhan tangan kasarnya.

    Saya merasakan bibir vagina saya pun sudah mulai basah. Saya mulai merasakan birahi saya meningkat. Jari jari itu terus mamainkan buah dada saya , tak ketinggalan putting susu saya di sentuh lembut oleh jarinya .

    Sambil mengigit bibir saya , berusaha untuk tidak mengeluarkan desahan saya . Jono terus memainkan buah dada saya. Perlahan tanganya turun kebawah , dan terus turun , jari jarinya menyentuh selangkangan celana dalam saya .

    Saya tak kuasa , tubuh saya bagai terkena segatan listrik ohh Jono , apa yang kamu lakukan .. . Jari jarinya terus menekan nekan selangkangan celana dalam saya , yang otomasis , menyentuh klitoris saya , yang berada di balik celana dalam saya.

    Lendir nikmat saya merember ke celana dalam saya , terus dan terus membasahi selangkangan celana dalam saya. Jari jari Jono pun , terus bergetar di selangkangan celana dalam saya . oh , Jono aku tak tahan .. aku tak kuat.. .

    Oh , ayo sayang , lepaskan nafsu kamu , lepaskan jangan di tahan katanya lembut , membuat tubuhku tak bisa lagi bertahan . Saat jarinya bergerak semakin liar , tubuhku mengejang hebat , pantatku terangkat , Jono , a aku keluarrr .

    Pantatku kembali terhempas di kasur lusuhnya , tubuhku lunglai . Aku merasakan sensasi nikmat , hampir sama dengan mimpi anehku beberapa hari yang lalu.

    Santi sayang , itu baru jari saya bermain di celana dalam kamu , kamu bisa bayangkan kalau kamu , buka celana dalam kamu , dan rasakan lidah saya menjilati m-e-m-e-k kamu bisik Jono di telingaku .
    Tangan Jono memegang celan dalam saya , berusaha membukanya , tapi tangan saya segera menghalanginya jangan Jono , saya malu .. jangan .

    Tapi Jono terus memaksa , dan lepaslah celana dalam saya , dia orang kedu yang melihat vagina saya . Saya sungguh merasa bersalah sama Ardi , tapi tubuh saya , pikiran saya sudah di kuasi nafsu birahi yang tak bisa saya tolak .

    Saat jari jarinya , membuka bibir vagina saya , dan lidahnya menjulur , menjilati kitoris saya tubuh saya , mangejang , merasakan nikmat sekali .

    Jono ahhh , i-t-i-l saya , ohh i-t-i-l saya gatel sekali .. desahku yang tak lagi menghiraukan rasa malu . Lidah lidahnya terus menjilati klitoris saya . Membuat tubuh saya mengejang tak karuan . Jono ohh .. enak enak .. .

    Lidah Jono juga tak ke tinggalan menjulur julur seperti memasuki liang sagamaku. Berputar di dalam liang sagamaKu . Tubuhku terasa ringan , seluruh kulitku sensitif Saat , Jono kembali menjilati Klitorisku yang membesar , karena birahi , Aku tak tahan lagi ahh , gatel gatel banget , Jono ..ahhaE| .
    Klitoriku rasanya mau pecah . Tubuh terhentak , aku menjejang , mengejet beberapa kali . Aku mengalami orgasme yang , hebat .

    Jono membiarkan aku , dia menatap tubuh bugil ku , yang sesekali masih mengejet Matanya yang jalang , tak melepaskan satu inci pun bagian tubuhKu.

    Puas menatap tubuh bugilku Jono melepas pakaiannya . Aku bergidik , jika mengingat mimpiku . Apa iya , penis Jono sebesar pentungan. Setelah penis hitamnya mencuat keluar aku baru tenang . Penis tak sebesar tongkat , tapi lebih besar dari milik suamiku .

    Dia mendekat . Aku merapatkan kakiku . tolong , jangan yang satu ini Jono, tolong.. . Jono tersenyum Santi , aku sudah memberikan kamu nikmat , apa salahnya ganti kamu yang memberiku nikmat , sayang .

    Jangan , tolong Jono , aku masih punya suami , tolong lah pintaku . Hemm , oke deh , aku mengerti , kalo gitu pakai mulut kamu saja katanya .

    Oh , aku tidak pernah , jangan .. kataku , dan penis Jono terus mendekati wajahKu . masa sih , kamu gak pernah ngisep k-o-n-t-o-l suami kamu tanya Jono . Aku mengangguk Sumpah Jono , aku tak pernah .

    Apa suami kamu pernah jilatin m-e-m-e-k kamu ? tanya Jono lagi . Aku kembali mengeleng . gila , mana enak sih , jadi kalian , langsung aja buka baju , terus n-g-e-n-t-o-t . katanya . Aku diam saja .
    Tapi seakan Jono tak peduli , penis hitamnya terus di dekatkan ke wajah ku. Seakan tak mampu menolak , aku memejamkan mataku . Yang aku rasakan pipiku terasa hangat , dia menekan nekan penisnya di pipiku .

    Penis itu bergerak terus ke bibirku , dan berusaha masuk ke mulutku . Perlahan aku membuka mulutku . dan penisnya mulai masuk ke mulutku . Penis itu bergerak , Jono seperti menzinai mulutku. Keluar masuk mulutku . KepalaKu di pegangnya.

    Jono mendengus kenikmatan , dan terus bergerak . Lama kelaman aku pun merasa terbiasa. Dan rasanya aku mulai suka permainan ini . Jono terus memainkan penisnya di mulutku , sampai dia mengeram , dan spermanya keluar di mulutku .

    Aku segera memuntahkan spermanya . Baru kali ini Aku merasakan sperma . Rasanya aku ingin muntah . Jono tampak terduduk lemas. Saat itu aku segera memakai pakaianku kembali . Aku segera meninggalkan ruamahnya , tanpa permisi

    Hari sudah gelap saat aku keluar dari rumahnya . Dengan menyetop taksi Aku segera pulang kerumahKu . Aku melihat Opel Blazer suamiku sudah terpakir dengan rapi .

    Sial Aku ke duluannya. Jantung berdegup , aku takut suamiku curiga ,otakku segera berpikir , mencari alasan yang tepat jika suamiku menayakan hal ini .

    Perlahan Aku membuka pintu , dan memasuki rumah ku . Tiba tiba suamiku memelukku dari belakang . Aku terkejut Ah .. mas bikin kaget aja .. kataKu .

    Ha ha ha , Aku gembira sayang , jabatanku di naikan , yang berarti gajiku juga di naik kan .. kata suamiku . Dia ingin menciumku . Tapi aku menghindar , mulutku kotor , aku malu terhadap diriku sendiri. Mas , yang benar ah , jangan bercanda kataKu untuk menhidari ciumannya .

    Benar sayang , benar , kita harus rayakan kata suamiku . oh , rayakan di mana mas tanyaKu . karena sudah malam , kita rayakan di ranjang saja yah, sayang kata suamiku . Dan tangannya segera mengangkat rok ku , dan menyetuh selangkanganKu .

    Aku berusaha mengindar lagi , ih mas masa di sini , nanti kelihatan orang dong di kamar saja kataKu .loh , di rumah ini kan cuma kita berdua .. kata suamiku . Yang jarinya segera meraba selangkangan ku . Jarinya menyelinap di balik celana dalamKu .

    Aku takut , suamiku curiga , karena Vaginaku basah , akibat di buat Jono tadi . Sayang , koq m-e-m-e-k kamu sudah basah benar sih , kamu horny yah kata suami ku . ih mas bisa aja , tadi aku habis pipis , di rumah bu Ani kataku berbohong . oh , kamu di rumah Ani , toh kata suamiku .

    Aku mandi dulu yah kataku langsung lari ke kamar mandi . Aku segar membasuh mulutku , mencuci bersih vaginaku . Aku merasa sangat menyesal telah melakukan hal ini terhadap suamiku. Walaupun selama setahun menikah dengannya tak pernah sekalipun aku merasa begitu nikmat dalam bercinta.
    Aku membutuhkan kenikmatan itu , tapi aku juga membutuhkan suamiku . Aku tak habis pikir , pikiranku menolak Jono , tapi tubuhku sangat menginginkan Jono .

    Sayang , cepat dong .. terdengar suara mesra suamiku . Malam itu kami bercinta . ada rasa hambur disitu . Aku mencintai suamiku , tapi rasanya sexku tak terpuaskan . Sekarang aku makin bisa membedakan . Benar kata Jono , Aku seperti tempolong , suamiku hanya mempergunakan vaginaku untuk mengeluarkan spermanya , tanpa bisa memuaskan diriku.

    Tapi biar bagaimanapun , Ardi adalah pilihanKu , aku harus konsekuen . Aku mencintainya apa adanya. Aku lebih baik mengekang nafsu birahi . Aku memutuskan untuk tak menemui Jono lagi .
    Santi , mas besok harus ke Jakarta , menemui dereksi darti kantor pusat kata Ardi tiga hari setelah kenaikan jabatannya .

    ha , berapa hari mas , saya boleh ikut ? kataku.

    Ah cuma sehari koq , kata Ardi . tapi mas , saya takut di rumah sendiran kata ku , dengan harapan suamiku mau mengajakku ke Jakarta . Tapi jawabannya , berbeda dengan yang kuharapkan .
    saya sudah minta Pak Jono unutk mengawasi rumah kita , dia akan mengirim anak buahnya , untuk jaga di sini , kamu tenang aja deh kata suamiku. Jantung berdugup keras , Jono lagi ..

    Pagi itu suamiku di jemput mobil dari kantornya , dan mobil itu segera membawa suamiku ke airport .Dangan melambaikan tangan aku melepas suami ku ke Jakarta.

    Belum sempat aku menutup pintu rumahku , sosok tubuh besar itu sudah berada di depan pintu rumahku . Jono , mau apa pagi pagi begini ke rumah orang kataku ku buat ketus.

    Loh , suami mu minta , aku menjaga rumah mu , juga menjaga dirimu he he he kata Jono , yang terus masuk ke rumahku tanpa di persilakan.

    Jono , tolong jangan ganggu aku , kataKu . Jono menatapku , bola matanya bagaikan bersinar , yang menerobos ke mataku . Santi , ayo katakan dengan nurani kamu , kamu tak membutuhkan diriku kata Jono .

    Aku , aku , aku lidahku seperti terkunci . Tangan Jono segera mengandeng tubuhku , membawaku masuk ke kamarku.

    Sayang , aku tak bermaksud jahat sama kamu , aku cuma mau memberi kamu kenikmatan sayang . kita sama sama butuh itu kata Jono .

    Perlahan Jono melepas daster tidurku , yang di balik daster itu aku tak memakai bra . Dan buah dadaku langsung terpampang di hadapannya . Perlahan lidahnya menjilat puting susuku . ahh .. desahku.

    Pikiranku kosong melopong , aku lupa suamiku . aku hanya ingat kenikmat yang kudapat dari Jono . Lidahnya terus bermain di putingku . Jari jarinya hinggap di selangkangan celana dalam merahku . ohh Jono .. sudah tolong jangan bikin aku nafsu .

    Jari jari itu bergerak , dan vaginaku mulai mengeluarkan lendir birahi . Mulutnya pun terus menyedot nyedot buah dadaku . Jarinya terus menari nari di selangkangan celana dalamku yang makin membasah .

    Ohh , Jono kamu jahat ooh i-t-i-l saya jadi gatel .. desah saya . Jono terus menaikkan birahi saya dengan permainannya. Saya sudah tak tahan , saya mendesah kenikmatan Jono , saya mau keluar . Saat itu , Jono dengan sekuat tenaga , meremas buah dada saya .

    Saya menjerit kesakitan , otomatis , birahi saya menurun , orgasme saya menghilang . Tapi Jono perlahan menjilati lagi putting susu saya . mengelitik . Membuat birahi saya berangsur naik kembali . Kembali saya mendesah kenikmatan .

    Saat saya hampir menuju puncak kenikmatan saya , Jono mengigit putting susu saya , memberi saya rasa sakit . kembali saya gagal orgasme.

    Tapi Jono segera menaikan birahi saya lagi ,dengan memainkan selangkangan saya Jono tolonglah , saya mau orgasme buat saya orgasme . saya memohon orgasme pada dirinya setelah dia mengagalkan orgasme saya yang ke tiga kali .

    Tenang sayang , saya pasti kasih kamu orgasme yang ternikmat yang pernah kamu rasakan . Sambil dia mendorong tubuh saya dan saya terduduk di pinggir ranjang.

    Celana dalan saya , sudah terlepas dari tubuh saya . dangan dua jarinya bibir vagina saya di buka . Lidahnya menjulur menjilati klitoris saya . Saya mengerang ohh , iyah terus buat saya orgasme , saya mau keluar Jono .. .

    Lidahnya dengan cepat , terus merangsang klitoris saya yang semakin membesar ,

    Oh.. Jono , gatel , enak sekali teruss . Lidah itu terus menjilati klitoris saya .

    Saya sudah dekat , dan seperti nya Jono tahu , Dia sengaja , segera klitoris saya di sedotnya dengan kuat , saya merasakan sakit sekali , yang membuat orgasme saya pergi menjauh .

    Jono , kamu jahat , kamu jahat , tolong saya mau keluarr kata saya mengiba , rasanya saya ingin menangis . Mengiba minta orgasme , dari orang seperti Jono , sangat merendah kan diri saya. Tapi apa boleh buat , saya tengah di amuk birahi .

    Santi sayang , tenang kamu pesti mendapatkan orgasme katanya . Lidahnya kembali menjilati klitoris saya dengan lembut. Tiga buah jarinya di gunakan menekan perut saya di bawah pusar . Ini membuat saya merasa ingin pipis . Saya mencoba mengeser tanganya . Tapi saya seperti tak bertenaga.

    Lidahnya terus memberi kenikmatan di klitoris saya , sebentar saja , rasa ingin orgasme telah mendera tubuh saya . Ohh , Jono , saya , oh i-t-i-l nya ..oh gatel sekali , saya tak kuatt .. oh kebelet.. mau pipis .

    Saya merasakan seperti nya sulit menahan rasa ingin pipis , tapi saya juga mau orgasme.
    Yah , lepaskan Santi , ayo keluarkan nafsu birahi kamu .. kata Jono . Tubuhku mengejang OOHHHH .. Jono .. ahh gatell gatell aku tak tahan jeritku tak karuan .

    Tubuhku mengerang nikmat , dan Aku menyemburkan pipiku dengan kuat . Aku merasa kan setiap tetes air seniku , mengalir memberi sensasi kenikmatan , berbarengan orgasmeKu .

    Aku orgasme dangan begitu fantastik , tak aku perdulikan kamarku yang basah dengan air pipisku . Tubuhku sepertinya rontok , tulangku seperti lepas , aku terbaring dengan lemas.

    Jono hanya melihatku dengan tersenyum . Dan membiarkan diriku beristirahat.

    Setelah itu tubuh Jono yang bugil merangkang menaikki tubuhku , aku berusaha mendorong tubuhnya Jono jangan , aku pakai mulutku saja kataKu , tak rela penisnya memasuki tubuhku .

    Aku sudah pernah merasakan mulut kamu sayang , sekarang aku mau coba m-e-m-e-k kamu kata Jono . Tubuh terasa lemas , seperti tak bertulang , Jono dengan mudah membuka lebar kaki ku , kepala penisnya mulai menyetuh liang vaginaku .

    Air mataku meleleh di pipiku saat itu aku teringat suamiku Ardi . Aku memejamkan mata . Saat kurasa , penisnya mulai memasuki tubuhku .

    Getar getar nikmat mulai berkecamuk di diriku . Aku merasakan sentuhan penisnya yang menikmatkan. Tak pernah Sekalipun aku menemukan rasa ini pada penis Ardi .

    Tat kala batang penis hitamnya bergerak keluar masuk , aku mulai merakan nikmat yang luar biasa , Jono yang terus mengocok vaginaku dengan penisnya mendengus m-e-m-e-k kamu luar biasa nikmatnya sayang katanya .

    Dalam hati aku pun berkata yang sama . Ahh Jono .. ahhh desahku Goyangannya yang lembut, tapi mantap segera membawaku ke puncak orgasme . Tapi seperti sebelumnya Jono menahannya . Dia membenamkan penis besar di dalam , vaginaku , dan dia diam tak bergerak .

    Jono , ayo goyang dong .. pintaKu . Jono tersenyum loh , tadi gak mau , koq sekarang minta . Wajahku sepertinya panas , birahiku melorot .

    Kembali Jono mengoyang , dan membawaku kepuncak orgasmeku . Aku sudah tak tahan , aku harus mendapatkan orgasmeku . Dan lagi lagi Jono dengan sengaja membatalkan orgasmeku . Penisnya di hentak keras ke dalam vaginaku , rasanya kepala penisnya memukul rahimku .

    Aku mengerang sakit . Jono , kamu jahat sekali .. kataku . Jono tersenyum . kalau mau ninta orgasme dari aku yah , kamu harus minta dengan mesra dan nafsu dong katanya.

    Aku seperti seorang cewek murahan tak bisa berpikir jernih . langsung aku berkata Ayo , mas Jono e-n-t-o-tin Santi ,yah , Santi minta orgasme , ayo mas tolong .

    Jono tersenyum , dan dia mulai mengoyang batang penisnya. Penis itu membuat aku gila . Sebentar saja , rasa gatel di vaginaku , membuat tubuhku mengerang dan menjerit ahhh , enak.aku keluarrr .

    Aku lemas , Jono menahan gerakan penisnya sebentar , merasakan otot otot vaginaku meremas batang penisnya , dan kemudian bergerak lagi . Sebentar saja , aku mencapai orgasme lagi .

    Entah hari itu berapa kali tubuhku , mengejang di buat orgasme oleh batang penis Jono . Yang jelas aku sangat menikmati permainannya . Aku lupa siapa diriku , aku lupa siapa suamiku.

    Sejak saat itu, saya pun ketagihan dengan permainan Pak Jono. Kami masih sering melakukannya. Kalau tidak di rumahnya, kami juga nginap di Tawangmangu. Meski, kemudian Pak Jono juga sering minta duit, saya tidak merasa membeli kepuasan sahwat kepadanya.

    Semua itu saya lakukan, tanpa setahu Ardi. Dan saya yakin Ardi juga tidak tahu sama sekali. Saya merasa berdosa padanya. Tapi, entah mengapa, saya juga butuh belaian keras Jono itu. Entah sampai kapan.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Sex Di Ajari ML Oleh Guru Ku

    Cerita Sex Di Ajari ML Oleh Guru Ku


    109 views

    Perawanku – Cerita Sex Di Ajari ML Oleh Guru Ku, Bersamaan dengan masuknya puting panjang Maria ke mulutku, kuselipkan tangan kananku ke dalam selangkangannya melalui perut, kusibakkan bulu-bulu keriting lebatnya, dan… kujamah vagina mungil yang masih sempit itu.. Maria terbelalak dan menutup kedua pahanya. Ia belum dapat menerima kedatangan benda asing di daerah terlarangnya. Wow.. berarti belum pernah ada tangan lain yang piknik kesana selain aku.. kenyataan itu membuatku semakin terangsang.. Maria menggelinjang kegelian ketika kusedot dan kugigit puting kirinya.. ia sama sekali tidak menolak ketika tangan kiriku mulai meremas dan memilin buahdada dan puting kanannya. “Mmmasss..please.. stop dulu.. masih ada lintah yang mesti dibuang..” bisiknya dengan suara serak.. stop dulu katanya.. stop dulu.. kalau begitu pasti ada kelanjutannya.. “Ria.. coba kamu berbaring..” Maria mengikuti permintaanku, “Sorry Ri..” kataku seraya membuka kedua belah pahanya. Aku menelan ludahku berkali-kali.. susah betul kudeskripsikan dengan kata-kata betapa merangsangnya ia dalam posisi itu.. lalu kutaburkan garam sebanyak-banyaknya di atas tubuh kedua lintah yang seharusnya kuberi tanda jasa itu karena memberi kesempatan menelanjangi Maria di hadapanku.. dan.. lintah-lintah itu menggeliat-geliat sebelum dengan mudah kulemparkan ke luar… kupandangi CD nya yang merangsang itu, kupandangi bulu-bulu keriting itu..

    Sehari sesudah permainan histerikku dengan Atika, mbak Eva menemuiku. “Atika told me what you did to her yesterday..” Kata-kata singkat itu di ucapkan dengan nada bergetar menahan emosi. Aku betul-betul lemas mendengarnya.. yah.. kejadian juga.. bisa-bisa malah aku kehilangan mbak Eva karena perbuatanku ini.. Akhirnya aku mengusulkan untuk melibatkan Atika dalam pembicaraan ini yang akhirnya membawa kami bertiga pada suatu diskusi paling terbuka yang pernah aku alami. Mbak Eva, Atika , dan aku saling membagi perasaan kami dengan apa adanya, tanpa basa-basi, tanpa maksud terselubung.. luar biasa !! keterbukaan ini, ajaibnya, membuat perasaan kasih sayang diantara kami semakin kuat. Akhirnya kami sepakat, bahwa dalam seminggu 2 hari waktuku untuk mbak Eva, 1 hari kosong, 2 hari berikutnya untuk Atika, dan 2 hari sisanya kosong. Karena hubungan kami ini murni hubungan sexual, maka sengaja kami masukkan hari-hari kosong untuk memberi kesempatan tubuhku beristirahat. Tapi ya… dalam praktek sih.. itu terserah aku.. kalau aku sedang mood untuk permainan kasar.. ya aku temui Atika.. kalau sedang mood permainan lembut.. ya aku temui kakaknya.. GILA ! Ini memang pengalamanku yang paling gila !! But its REAL !!!

    “Buka mulutnya dong mas Rafi..” Maria menyodorkan sepotong kue ke mulutku. Aku menyambutnya sambil pura-pura menggonggong sehingga membuat anak gadis mbak Eva itu tertawa geli melihat tingkahku. Hari ini genap sudah sebulan aku tinggal di keluarga mbak Eva. Seminggu terakhir ini load pekerjaanku agak berkurang sehingga hari-hari ‘kosong’ ku selain kupergunakan untuk memberi kepuasan ‘extra’ pada mbak Eva dan Atika (‘kan hari ‘kosong’ mestinya istirahat..), juga kupergunakan untuk mengenal Maria lebih dekat. Anak gadis yang semula kutaksir berusia 18 tahun itu ternyata berumur 21. “Mama memang kawin muda.. dia melahirkan Ria ketika berumur 19 tahun..!! Hebat ya ?” Katanya ketika kutanya usia sesungguhnya. Ya, aku tahu kalau mamamu hebat Maria.. mamamu dan tantemu adalah wanita-wanita yang hebat di atas ranjang.. hebatnya lagi, mereka bisa menutupinya darimu….”Kalau kamu sendiri gimana ?” tanyaku memancing “Yaaa.. yang penting kuliah selesai dulu.. tapi, ngga juga sih.. namanya juga jodoh.. kita ngga pernah tau.. kalau besok tiba-tiba datang seorang pangeran tampan yang kaya raya dan baik hati lalu melamar Ria ? Masak nolak?” “Kalau gitu kuliahnya ngga selesai dong..””Lho mas ini gimana, ya kasih syarat dong.. boleh kau melamarku tapi biarkan aku menyelesaikan studi ku.. gitu looo..” Maria memang anak yang sangat cerdas. Buktinya tahun depan ia akan meraih gelar insinyur di IPB. Dengan pengetahuannya yang luas ia selalu menjadi teman diskusi yang menyenangkan ditambah lagi dengan sifat keibuan dan perhatiannya yang tinggi pada orang lain, membuat Maria menjadi sosok ideal bagi setiap pria untuk dijadikan seorang pendamping hidup.. Oh satu lagi.. soal fisik ! Tubuh Maria adalah kombinasi antara mbak Eva dan Atika. Tubuhnya tinggi semampai, ukuran buah dadanya persis seperti ibunya dan jauh lebih kencang dan ketat, maklum… perawan. Gadis ini juga mempunyai hobi mengkoleksi BH yang bentuknya aneh-aneh… entah dari mana didapatnya itu.. Seperti saat ini karena ia mengenakan kaos komprang bergambar Tweety favoritnya maka bila lengannya diangkat, maka terlihatlah buah dadanya yang besar itu dibalut oleh BH nya yang bermodel bikini dimana cupnya berbentuk sarang laba-laba sehingga kulit buah dadanya yang putih itu dapat terlihat. Putingnya ditutup oleh gambar seekor laba-laba kecil. Bila sedang bercerita dengan semangat, tampak gundukan besar itu bergoyang-goyang. Wuih.. syurr juga aku dibuatnya. Urusan wajah, Maria lebih mirip ayahnya yang asli Solo. Kalau dicari bandingannya raut wajahnya bisa dimirip-miripkan dengan Widi AB THREE. Hanya saja, hidung Maria lebih mancung dan tubuhnya lebih tinggi dan seksi. Secara keseluruhan, Maria jauh lebih menarik dibanding Widi. Terus terang, aku betah duduk berlama-lama di dekatnya..

    “So, gimana Fi ? Bisa ngga kamu nganter si Ria survey ?” mbak Eva bertanya seraya memberikan piring penuh dengan nasi hangat kepadaku. Sore itu aku ia mentraktir seluruh keluarganya karena mendapat promosi menjadi direktur program di kursus bahasa Inggris tempatnya bekerja. “Iya mas, Ria harus survey tentang pola tani di daerah perbukitan. Ini juga baru survey lokasi kok.. belum penelitiannya.. jadi paling lama cuma makan waktu 2 hari..” Seekor kucing kelaparan tentu tak akan menolak diberi ikan asin. Dan bagiku, Maria adalah ikan kakap !! “Sure.. ngga masalah.. kapan kita berangkat ?” Tanyaku enteng.. “Gimana kalo malam ini juga mas…” “Malam ini ?” seruku bersamaan dengan Atika. Mbak Eva tak kuasa untuk menyembunyikan senyumnya. Ia mengerti, karena malam ini seharusnya aku adalah ‘jatah’ Atika. Dan hari Senin, suami Atika akan pulang dari Dubai. “Iya, malam ini, supaya Minggu sore kita sudah sampai lagi ke Bogor.. soalnya kalau Minggu pulangnya kemalaman, kasian mas Rafi.. Senin kan harus ngantor… gimana mas ?” Maria memandangku dengan kerlingan mata bundarnya yang indah.. “I don’t mind.. lets go then..” jawabku seraya melirik Atika. Istri kesepian itu tak dapat menyembunyikan kekecewaannya. Alisnya mengkerut, bibirnya merengut, dan matanya menatapku kesal. Well.. I am sorry my dear.. keliatannya aku harus mengecewakanmu nanti malam

    Cerita Sex Remaja | Aku berjalan sambil menggendong ransel tentara di pundak. Aku dan Maria tengah menyusuri sebuah sungai yang terletak 60 km di selatan Bogor. Kami sedang bersiap-siap melintasi sungai itu untuk mencapai desa Batu Sumur yang terletak di areal yang berbukit-bukit. Dari deskripsi yang diberikan oleh dinas pembinaan desa Pemda Jawa Barat, desa tersebut tampaknya ideal untuk proyek penelitian akhirnya Maria. Masih terngiang bisikan mbak Eva ketika melepaskan kepergian kami “Fi.. promise me.. please don’t touch her.. she is still a virgin.. “. Saat itu aku hanya tersenyum.. dan aku bersyukur bahwa I don’t give my word to Eva, karena semakin lama berdua dengan Maria, semakin sexy penampilannya dimataku.. (dasar mata keranjang… susah..!!) “Wah, jembatan kayunya masih 2 km lagi dari sini mas..” Ria menunjuk lokasi jembatan itu di peta “Tapi jembatan tali sudah keliatan.. tuh dia..” Gadis manis itu menunjuk ke sebuah jembatan darurat terbuat dari tali tambang yang disimpul erat. Kuperhatikan wajah manis yang menggunakan topi tentara, kemeja lapangan berwarna coklat, dan celana pendek komprang dengan warna yang sama. Kemeja itu tak dapat menyembunyikan keindahan tubuhnya. Di bagian dada tampak kancing-kancingnya agak tertarik karena desakan dua buah dadanya yang besar itu (kutaksir sekitar 36..). Namun karena badannya yang tinggi (sedikit lebih pendek dariku yang 176 cm..) bentuknya jadi proporsional.. dan indah…. titik-titik keringat berkumpul di ujung hidung mancungnya.. bibirnya yang mungil nampak kering oleh panasnya udara.. kain di sekitar ketiaknya basah oleh keringat. Aku memandang jembatan tali itu dengan agak kawatir.. “Apa kuat menahan beban tubuh kita ? Apa tidak sebaiknya kita pergi menuju ke jembatan kayu ?” tanyaku sambil melihat potongan ilalang dan bercak tanah merah yang menempel di betis dan pahanya yang mulus itu. “And walk for another 2 Kilo ?.. hmm.. mas Rafi..sebentar lagi kayaknya mau hujan deh.. jadi kita harus cepat-cepat, no risk no gain..” katanya sambil tersenyum. Benar juga. Soalnya dari sungai itu kita masih harus jalan 5 km lagi untuk sampai ke desa. Tampak tangannya membuka kancing kemejanya yang ke satu dan kedua.. sehingga putihnya gundukan besar buah dada itu terlihat olehku. Udara mendung sore itu semakin terasa gerah saja.. “Ok kalau begitu biar aku dulu yang nyeberang.. baru kamu.. sungainya juga keliatan ngga terlalu dalem kok.. ” kataku seraya menapakkan kakiku di jembatan tali itu.. Aku merayap perlahan-lahan.. memang tali itu sangat kokoh sehingga kekhawatiranku berkurang.. “Mas.. Ria juga naik ya …. talinya kuat kan.. ” Tanpa menunggu jawabanku, gadis bertubuh tinggi sintal itu mulai merayap di belakangku.. tali mulai bergoyang-goyang.. ingin aku berteriak untuk menyuruhnya kembali, namun kuurungkan karena kawatir ia terkejut.. geraknya semakin cepat ke arahku yang masih menunggu.. tiba-tiba kaki gadis itu tergelincir… badannya yang dibebani ransel kehilangan keseimbangan dan.. “Mas.. AAAAAAAAIII… ” BYUUURRRR.. Maria tercebur ke dalam sungai berwarna coklat itu.. Aku terkejut melihat gadis itu menggapai-gapai.. My GOD..Maria rupanya tidak bisa berenang !! Tanpa pikir panjang kulempar ranselku dan terjun ke sungai. Tanganku memeluk lehernya dari belakang dan kuseret ke sisi tujuan kami. Tubuh Maria terasa berat karena ia masih membawa ransel. Maria megap-megap dengan wajah pucat karena terkejut. “Ngga apa..ngga apa..its OK.. you’re save now..” Kataku sambil memeluk erat tubuh sintal Maria.. wouww.. dalam suasana panik seperti itu masih juga dadaku terasa berdesir.. benar-benar montok tubuh perawan ini terasa dalam pelukanku.. dengan spontan kucium keningnya untuk menenangkan Maria yang masih pucat dan gemetar karena kaget. Tetesan air dari langit perlahan mengetuk-ngetuk muka kami.. dan dalam 1 menit hujan turun dengan lebatnya diikuti oleh kilat yang menyambar.. What a day… aku melepaskan pelukanku dan menyapu sekelilingku dengan pandangan.. ahhhh thank god, kuliat sebuah gubuk kira-kira 200 m di depan kami. “Maria.. disitu ada gubuk” kataku riang “ayo kita kesana..” kuangkat tubuh gadis itu dan kupapah menuju gubuk itu. Gubuk itu rupanya tak berpenghuni. Perfect! lalu kubuka ransel Maria. Hanya ada bivak untuk bermalam dan kaleng makanan dan minuman.. shit.. pakaian kering ada di ransel satu lagi yang kulepaskan ketika terjun ke sungai.. dan ransel itu seingatku juga tercebur ke dalamnya.. ya nasib.. akhirnya ku bentangkan bivak sebagai alas duduk, dan kududukkan Maria di atasnya “ahhhh…” terdengan gadis itu menghela nafas lega seraya tersenyum “mas Rafi.. thanks ya Ria udah ditolongin…” Aku balas tersenyum “its OK non.. lain kali lebih hati-hati ya ..?” Lalu kubuka bajuku dan menggantungnya di tali jemuran tua yang masih ada di dalam gubuk itu. Maria memandang tubuhku yang cukup atletis itu terlihat pandangannya menyapu perlahan dari otot leherku.. otot dadaku yang bidang.. otot perutku yang berbentuk kotak-kotak kecil…. pusarku yang mulai ditumbuhi bulu.. semakin kebawah.. dimana bulu-buluku makin lebat… kebawah lagi… dan berhenti di tonjolan di balik celana pendekku … Aku agak kikuk juga melihat penisku yang berdiri karena udara dingin. Apalagi sambil dipandangi oleh mata cantik milik Maria itu. Entah apa yang dipikirkannya… tiba-tiba kulihat Maria terbelalak melihat pahaku “adduhh mas.. ada LINTAH !!” serunya sambil bangkit dan mendekat ke pahaku. Akupun panik dibuatnya. “sebentar mas.. jangan bergerak.. ini ada satu.. dua..” lalu dengan serius ia berputar ke belakang, ke depan lagi.. tangannya tanpa sadar menyingkapkan celanaku yang cukup longgar semakin ke atas..”nah.. ada satu lagi mas..hhhhh” mendadak ia seperti hendak tersedak ketika matanya tertumbuk pada CD ku yang basah kuyup sehingga tak kuasa menutupi testis dan batang penisku yang jelas tercetak di kain basah itu. Mungkin seumur hidup, perawan itu baru sekali ini melihat testis dan batang penis yang tengah berdiri tegak itu.. Aku yang masih memusatkan perhatianku pada lintah-lintah di pahaku itu dengan polosnya membuka celana pendekku dan memelorotkannya ke lantai “Ria.. tolong liat lagi apakah masih ada lintah yang nempel di kakiku ?” Mata Maria makin terbelalak, karena kini terlihat benar bentuk batang penisku yang tengah berdiri itu dari luar CD basahku.. bahkan belakangan baru kusadari kepalanya yang laksana helm perang dunia II itu menyembul keluar mengarah ke pusar. “Emmm.. emmmm.. ngga deh mas.. cu..cuman tiga..” jawabnya tergagap sambil terus menatap kepala penisku. Aku masih juga belum ‘ngeh’ akan situasi yang sebenarnya bisa menjadi ‘opportunity’ … masih dengan naifnya aku berkata pada anak mbak Eva itu “Ria.. jangan-jangan di tubuh dan kakimu ada juga lintah menempel.. sebaiknya kamu periksa dulu..” Mendengar itu Maria langsung berdiri dan bergegas membuka kemeja basahnya. Dibukanya kancing kemejanya yang ketiga.. (belahan buah dadanya semakin jelas..) keempat.. (buah dadanya sudah terlihat lebih jelas.. putih warnanya di bawah cahaya matahari menjelang senja..) dan terakhir..Maria membuka bajunya dengan kedua tangannya ke samping.. di saat itulah aku melihat kedua buah dada besar berukuran 36 itu menggelantung menantang untuk di jamah. Dan BH nya… my god… model BH nya..!!! Maria menggunakan BH berwarna merah dengan bentuk bikini yang talinya hanya selebar 1/2 cm !! Tapi yang membuat kepala penisku semakin menyembul dari CD ku adalah penutup putingnya yang terbuat dari bahan transparan berbentuk bibir Mick Jagger. Akibatnya, mataku dapat melihat dengan jelas puting berwarna coklat kemerahan itu berdiri tegak di tengah dinginnya hujan. Karena terburu-buru melepaskan, pakaian Maria tersangkut di kedua sikunya di belakang punggungnya. Gadis itu menggoyang-goyangkan tangannya untuk bisa segera terbebas dari belitan bajunya. Akibatnya, buah dadanya bergeletar dan bergayut ke kanan dan ke kiri. Getarannya persis seperti getaran puding besar yang diguncang piringnya. Aku mulai terangsang melihat gadis setengah telanjang itu menggeliat-geliat di hadapanku. Kembali terngiang pesan ibunya di telingaku.. “Fi.. promise me.. please don’t touch her.. she is still a virgin.. “. Kembali kulihat buah dada besar dengan putingnya yang bergelayut itu… Ou what the hell… kuhampiri tubuh mulus itu dan kuputar sehingga ia membelakangiku “Sini kubantu Ri..” tanganku menarik bajunya hingga terlepas. “Sorry Ria.. ini supaya cepat..” kutempelkan dada dan perutku di punggungnya yang polos itu.. kujulurkan tanganku seakan memeluk perut depannya.. dan tanganku membuka celana pendek komprangnya dan dengan cepat menurunkan resleting. Ketika resletingnya sudah mencapai dasar dengan sengaja kutekan resleting itu bersama jari-jariku ke selangkangannya “Ahhhh… mas Rafi…” desahnya sambil melirik ke belakang dengan pandangan merajuk. Saat itu praktis aku memeluk tubuh perawan itu dari belakang. Bagian depan tubuhku kutempelkan ke punggungnya. Penisku yang semakin besar itu dengan tenangnya berlabuh di belahan pantat Maria yang sekal itu.. Gadis itu rupanya merasa bahwa penisku menempel di belahan pantatnya tiba-tiba aku merasakan bahwa Maria sengaja menggerakkan otot pantatnya sehingga kedua buah pantatnya bergerak menjepit penisku.. aaaawww.. nikmatnya… yess keliatannya gadis ini sudah mulai terpengaruh suasana… saat itu pipi kananku menempel di kuping kirinya. Dari balik punggungnya kulihat ke bawah buah dadanya yang besar dan ketat itu berbentuk kerucut dengan putingnya yang sudah menonjol.. entah karena dingin… atau karena suasana… “Ria..” bisikku dengan serak.. “jangan panik ya.. di dada sebelah kiri kamu ada lintah.. Ria tercekat.. dengan raut muka ketakutan ia memandang buah dada kirinya dan..”Iiiiiiih… mas… jijik.. buangin dooongg..” “ya..ya.. biar aku periksa dulu lainnya.. supaya yakin ada berapa lintah yang ada di tubuh kamu..” Akupun melepaskan celana pendeknya, sehingga saat itu.. kami dua orang anak manusia berlainan jenis, berpelukan dengan hanya memakai pakaian dalam. Bentuk CD Maria lagi-lagi lain dari pada yang lain.. bentuknya sih standar.. tapi di daerah vaginanya ditutupi oleh kain bermotif jaring, sehingga otomatis dari jaring itu keluarlah bulu-bulu keriting yang sangat lebat itu.. nafsuku sudah naik ke kepala. Aku sudah tak peduli dengan pesan-pesan ibunya… di dalam pikiranku sekarang cuma ada satu kata.. “Perawani !!”. Tanganku mulai meraba-raba punggungnya dari atas.. ke bawah…melewati pinggang.. pantat… buah pantat kanan.. “mas…apa ngga bisa dilihat aja ? kalau diraba kan geli..” ujarnya tersenyum.. belum juga bisa kutebak senyum itu.. apakah artinya.. teruskan… atau..stop..!! “biar yakin aja Ria.. ” kataku sambil meneruskan rabaanku ke buah pantat kiri.. lalu kutelusuri belahan pantatnya ke bawah.. melewati anus.. terus ke selangkangan.. dan kutekan tanganku di vaginanya “Aaaaaa.. mas Rafi aaa.. tangannya kok nakal.. nanti Ria marah nih..” Lagi-lagi anak mbak Eva itu melirikku dengan pandangan merajuk.. kuputar lagi tubuhnya sehingga kita saling berhadapan, kemudian aku berjongkok dan kulihat ada 2 lintah menempel di paha bagian dalam kiri dan kanan.. bener-bener hebat lintah-lintah itu.. tau benar dia tempat-tempat strategis untuk menghisap darah.. tak lupa aku memandang ke arah selangkangannya yang hanya tertutup jaring itu sehingga tampak jelas segunduk daging gemuk yang ditutupi bulu-bulu keriting nan lebat itu. Maria melihat tingkahku itu dan dengan segera menutupinya dengan jari tangannya..”mas Rafiiii… kok malah ngintip sihh.. mbok tolong buangin lintahnya.. nanti Ria bilangin mama lo..” rajuknya dengan manja. “Oke..Oke.. begini caranya… lintah ini akan kita taburi garam.., lalu kita buang.. begitu sudah lepas.. sebaiknya bekas gigitan lintah itu kita sedot dan buang darahnya ke lantai supaya tak ada racun yang masuk.. is that clear..?” Ria mengangguk mendengar penjelasanku yang — terus terang — cuma didasari oleh logika “ngeres” itu. Aku mengambil garam yodium di ransel Maria, dan mulai kutaburi di lintah yang menempel di dada kirinya.. “Ria .. sorry.. bisa dibuka BH nya semua ? aku takut kalau lintahnya lepas malah jatuh ke dalam cup BH.. bisa berabe nanti.. ” Ria mengangguk menuruti permintaanku yang ditunjang mimik serius itu.. ia menjulurkan kedua tangannya ke belakang punggung dan… tassss.. terlepaslah kedua buah dada cantik itu dan bergelayut dengan menantang. Begitu dekatnya mataku sehingga aku bisa melihat urat-urat birunya di sepanjang buah dada itu. Tangan kananku memegang buah dada kirinya, mengangkatnya.. “sssss… mau diapain mas..?” bisiknya mendesis geli..” supaya garamnya ngga kemana-mana..” jawabku seenaknya.. lalu kutaburi lagi lintah itu dengan garam seraya menempelkan jari telunjukku di ujung putingnya.. “mmass..” Maria menatap mukaku dengan mata sayu karena geli.. tubuhnya mulai menggeliat pelan.. beberapa detik kemudian lintah itu menggeliat-geliat dan dengan mudah kutarik dan kubuang…. Maria meringis ketika sedotan lintah itu terlepas.. Lalu kuturunkan mukaku, kudekati bibirku ke bekas gigitan lintah yang berwarna biru itu, lalu perlahan-lahan kujilat.. “perih Ria..?” tanyaku.. “ehhhh.. g..geli..” rintihnya ketika aku mulai mengecup-ngecup dadanya.. mula-mula perlahan.. kemudian sedikit keras.. dan akhirnya kusedot dengan kuat.. “Ehhhhh mmas Rafiii..?!?!?” rengeknya sambil menjambak rambutku.. mungkin maksudnya ingin mencegah.. tapi tak kulihat usaha sungguh-sungguh ke arah itu.. perlahan tapi pasti kuperluas areal sedotanku bukan hanya di bekas gigitan lintah tapi bergeser menuju putingnya..terus.. semakin dekat.. semakin dekat… dan…. “AUUUUUUWWW… !!!”

    Bersamaan dengan masuknya puting panjang Maria ke mulutku, kuselipkan tangan kananku ke dalam selangkangannya melalui perut, kusibakkan bulu-bulu keriting lebatnya, dan… kujamah vagina mungil yang masih sempit itu.. Maria terbelalak dan menutup kedua pahanya. Ia belum dapat menerima kedatangan benda asing di daerah terlarangnya. Wow.. berarti belum pernah ada tangan lain yang piknik kesana selain aku.. kenyataan itu membuatku semakin terangsang.. Maria menggelinjang kegelian ketika kusedot dan kugigit puting kirinya.. ia sama sekali tidak menolak ketika tangan kiriku mulai meremas dan memilin buahdada dan puting kanannya. “Mmmasss..please.. stop dulu.. masih ada lintah yang mesti dibuang..” bisiknya dengan suara serak.. stop dulu katanya.. stop dulu.. kalau begitu pasti ada kelanjutannya.. “Ria.. coba kamu berbaring..” Maria mengikuti permintaanku, “Sorry Ri..” kataku seraya membuka kedua belah pahanya. Aku menelan ludahku berkali-kali.. susah betul kudeskripsikan dengan kata-kata betapa merangsangnya ia dalam posisi itu.. lalu kutaburkan garam sebanyak-banyaknya di atas tubuh kedua lintah yang seharusnya kuberi tanda jasa itu karena memberi kesempatan menelanjangi Maria di hadapanku.. dan.. lintah-lintah itu menggeliat-geliat sebelum dengan mudah kulemparkan ke luar… kupandangi CD nya yang merangsang itu, kupandangi bulu-bulu keriting itu.., kiturunkan wajahku mendekati selangkangannya.. sekilas kulihat Maria mengangkat kepalanya ingin melihat apa yang akan kulakukan di selangkangannya.. kutempelkan bibirku di paha dalam kanannya.. bukannya kusedot, malah kutelusuri paha bagian dalam itu ke atas mendekati vaginanya. Bau khas vagina perempuan menusuk hidungku.. dan aku sangat hafal.. bahwa ini bau vagina yang sudah banjir !! “Ehhh…hhhhhh…ssssss masss.. ” desisnya sambil menggoyang pinggulnya ke kiri dan kanan. Bibirku sampai sudah di vaginanya. Kukecup CD nya yang sudah basah oleh cairan vagina Maria.. lalu dengan jari telunjukku kukuakkan CD di selangkangannya itu ke samping sehingga tampak belahan vaginanya yang sudah mulai terbuka namun masih tampak sempit itu.. kukecup bibir vaginanya..kunaikkan bibirku ke arah atas dan kutemukan bagian yang menonjol sebesar biji kacang lalu tiba-tiba…….kukecup dan kusedot-sedot..

    Cerita Sex Remaja | “AAAAHHH…ssss…MASSS” jeritnya sambil tiba-tiba bangkit dari tidurnya sambil menjambak rambutku untuk menghentikan aktifitasku..”mas..please..MAS RAFI..PLEASE… j..jangan mass.. nanti Ria keterusan… OUUUHHH..” lenguhnya ketika tanpa menghiraukan kata-katanya aku mulai memasukkan dan menggerak-gerakkan lidahku ke dalam vaginanya. Aku menghentikan jilatanku, kuangkat wajahku ke hadapan wajahnya.. kami berdua kini berada dalam posisi duduk…Kaki Maria mengangkang .. sedangkan aku berlutut di hadapannya.. kupandang wajah cantik yang kini tak berani memandang langsung mataku.. matanya hanya memandang bibirku yang semakin dekat ke bibirnya.. semakin dekat dan.. Maria memejamkan matanya.. tangannya naik memeluk leherku.. tanganku memeluk bahunya dan merapatkan buah dadanya ke dadaku..kamipun berciuman dengan mesranya.. desahan dan rintihan halus terdengar memenuhi gubuk itu.. sesekali kulepas bibirnya dan ku kecup kupingnya seraya membisikkan kata-kata mesra.. “Aku sayang kamu Ria.. kamu cantik sekali..” kemudian kulanjutkan ciumanku dengan kuluman lidahku dalam mulutnya.. Maria ternyata cukup mahir dalam hal cium mencium.. ia melumat habis bibirku dan menjelajah bersih seluruh rongga mulutku.. masih sambil menciumi bibirnya.. perlahan-lahan kubaringkan dan…… kutindaih tubuh sintal Maria dengan tubuh tegapku sehingga buah dadanya yang besar itu serasa hendak pecah tergencet oleh dadaku.. dengan cepat kuturunkan celana dalamku sehingga penisku seakan meloncat keluar dan berdiri tegak mencari tempat berlabuh.. dengan lembut kubimbing tangan kanan Maria ke selangkanganku dan kugenggamkan penis gemukku itu di tangannya. Sambil menggigit dan mengecup bibirku, mata perempuan itu mendelik ketika tangannya memegang raksasa kecil di selangkanganku itu..tangannya secara refleks mulai bergerak maju-mundur..maju-mundur.. my god.. nikmatnya.. betapa nikmatnya kocokan seorang anak perawan yang ibunya pun sering kusetubuhi.. kedua tanganku turun ke pinggang Maria dan dengan cepat menurunkan CD nya.. tiba-tiba Maria meronta, tangannya melepaskan penisku dan berpindah menahan CD nya agar tidak diturunkan.. ia melepaskan bibirnya dari ciumanku dan dengan nafas tersengal-sengal ia mendesah “mas Rafi.. j..jangan mass.. Ria takut keterusan.. Ria takuut… Ria belum siaap…” Aku mengecup kening dan pipinya dengan penuh kasih sayang..”sh..sh..sh..sh..sh…. jangan takut sayang.. ibumu mengalami hal ini 3 tahun lebih dulu dari usiamu yang sekarang.. dan dia ngga menyesal kan?” “Oke..kalau begitu kita akan bermain tanpa mengganggu keperawananmu.. aku akan memasuki hanya kalau kamu minta.. setuju??” Ria tersenyum lega dan mencium bibirku. Tangannya kembali mengocok penisku dan akupun dengan leluasa menurunkan CD nya.. akhirnya… Kaami berdua bergumul dengan penuh nafsu dalam keadaan telanjang bulat… Maria mulai menggelinjang-gelinjang histeris “Ouww..maaaass..maaaasss.. gellliiihhh aouww..” .. terutama bila kugesekkan penis raksasaku ke klit nya. Untuk menambah kenikmatan gesekan itu.. Maria mengangkat kedua pahanya sehingga kepala penisku menusuk-nusuk klitnya yang….ya ampuuun…sudah sangat bengkak itu… tiba-tiba kurasakan hal yang aneh di kedua pahaku…ya ampuuun.. lintah-lintah kurang ajar itu ternyata dengan santainya masih menikmati darahku.. Kuhentikan kegiatanku “Ria.. tolong aku ya?? Tolong buang lintah-lintah di kakiku..” Ria tertawa seraya mendorong badanku ke samping “Ya ampun..mas.. saking asyiknya Ria jadi lupa..” “Kamu ngerasa asyik Ria ?” tanyaku memancing. Mariia tertunduk sambil tersenyum lalu menganggukkan kepala. “Pernah ngerasain asyik yang seperti ini dengan orang lain ? Pancingku lagi.. c’mon Fi.. cut it out.. it’s none of your business.. tapi aku penasaran mendengar jawabannya.. sambil masih terus menunduk Maria menggelengkan kepalanya.. tampak ia menggigit bibirnya tanda menahan rasa malu.. yessss so I am the first time.. yessss…. to be the first selalu memberikan kebanggaan tersendiri… yesss .. (dasar laki-laki !! first time aja diributin !!). Aku berbaring sambil mengangkang, mata Maria tak bisa lepas dari penis gemukku yang masih berbaring tegak dengan kepalanya yang nyaris menyentuh puser. Tangannya menaburkan garam di tubuh lintah-lintah sialan itu.. dan tak lebih dari semenit, binatang menjijikkan itu sudah pada berjatuhan. Maria melemparkannya jauh-jauh.. lalu langkah berikutnya ? Maria mendekatkan mukanya ke arah selangkanganku perlahan-lahan.. semakin dekat.. semakin dekat.. dan terasa paha bagian dalam kaki kiriku di sedot.. setelah beberapa saat ia berpindah meneyedot bekas gigitan lintah di kaki kananku.. ketika itu kugesekkan penis raksasaku d pipinya ..tiba-tiba ia melepaskan sedotannya lalu membaringkan kepalanya di atas penisku lalu seraya memejamkan mata ia membelainya dengan pipi kanan dan kiri.. seperti sedang menyayangi anak kucingnya.. lalu ia menciumi dan menjilati batang penisku dari arah testis keatas..terus ke atas.. perlahan tapi pasti terus ke atas… sejenak ia berhenti di urat di bawah kepala penisku dan menggigitnya..”Yaaaahhh..ouwww Ria.. enaknya.. belajar dari mana kamu..?” “movie..” jawabnya pendek dan seketika itu juga ia membuka mulutnya lebar-lebar dan mengamblaskan seluruh penisku ke dalam mulutnya… sungguh kasihan melihat Maria di saat itu.. ia persis seperti seorang anak yang memasukkan 2 buah pisang ambon ke dalam mulutnya… besar sekali.. Kemudian ia menaikkan kepalanya naik.. turun..naik.. turun.. tiba-tiba naik-turun, naik-turun, kebih cepat lagi..lebih cepat lagi… aku bangkit duduk dan membelai punggung mulus Maria, yang dilanjutkan dengan meremas kedua buah dada besar anak gadis itu terasa benar kenyanya di telapak tanganku..”Mmmmhhh..Emhhhhh…Emhhhhhhh” ia menjerit-jerit sambil terus mengulum ketika kuperas keras-keras kedua buah dadanya… tiba-tiba aku berbaring kembali, namun tubuhku kupindahkan sedemikian rupa sehingga wajahku tepat berada di bawah vaginanya..yess 69 position.. dan… kubenamkan wajahku dalam hutan lebat milik perawan ini.. Aku menjilati seluruh bagian bibir luar maupun dalam vagina Maria.. Perempuan itu menggelinjang-gelinjang dengan dasyat di atas perutku. Ia juga tak menolak ketika kuselipkan lidahku ke dalam vaginanya..semakin dalam.. semakin dalam.. lalu dengan lidah ditegangkan aku menggerakkan mukaku maju-mundur di bawah vagina Maria.

    Perempuan itu sungguh-sungguh sedang dalam puncak birahinya sehingga ia benar-benar lupa diri.. satu-satunya hal dalam benaknya adalah.. kepuasan seksual.. apapun itu namanya… Kugulingkan kembali Maria, lalu kutindih tubuh sintalnya.. kembali kuciumi kuping dan lehernya.. mata Maria tampak terpejam dan kulihat ia sudah mengangkangkan pahanya seakan menanti sesuatu.. aku agak ragu-ragu melihat sikapnya itu.. tapi tak ada salahnya mencoba.. kuarahkan kepala penisku ke dalam vaginanya. Kutempelkan di pintunya yang sempit itu.. tak ada perlawanan.. hanya rintihan penantian yang menggairahkan.. “mas.terus masss…” aku mulai memasukkan penisku ke dalam vagina sempit itu.. 1 cm..3 cm.. 5 cm.. Maria menggigit bibir.. ia menghayati betul masuknya penisku centi demi centi… 7 cm.. “aaaaahh…..” 10 cm… “aaaAAAHH…” dan…16 cm ..”AAAAAAAAHHHHH…”BLESSSSS.. amblas sudah keperawanan Maria. Tampak darah segar meleleh dari vaginanya dan membasahi bivak di bawah. Maria menggigit bibir..alisnya berkerut..expresinya menunjukkan ia sedang merasakan kesakitan… buah dadanya yang bergeletar kesana kemari kuremas dan kusedot… tiba-tiba aku mulai menggenjot penisku keluar masuk vagina Maria.. “aaahhhh..mas…aduh enaknyah..aduh enaknyahhh..aaaahhhh..” Maria menjerit-jerit histeris mirip tantenya Atika. Gerakanku semakin cepat dan semakin cepat.. tiba-tiba kurasakan otot-otot vagina Maria berkontraksi.. seluruh tubuh wanita itu menegang..Maria memelukku dan mencium bibirku erat-erat…Juga pinggulnya berputar semakin cepat.. Aku semakin cepat menggenjot penisku.. makin cepat.. makin cepat.. tiba-tiba kurasakan sesuatu menyemprot dari penisku… “RIIIAAAAAA…” “mmas RAFIII…AAAAAAHH…” crat..crat..crat..crat…crat….. aku menembakkan spermaku seraya menerima siraman air panas dari vaginanya. Kami terhempas setelah mengarungi samudera birahi penuh nafsu ini. Maria memejamkan matanya. Tampak ada air mata meleleh di ujungnya.. “Ria bahagia mas…Ria puas..” Kami saling bercumbu mesra sambil berpelukan selama kurang lebih lima belas menit, sebelum memutuskan untuk menggunakan baju lembab dan meneruskan perjalanan ke Batu Sumur. Survey itu sukses, dan aku sempat sekali lagi bersetubuh dengan Maria disebuah motel di Bogor sebelum kembali ke rumah.

    Cerita Sex Remaja | Sampai bulan ke 6, aku menjalani kehidupan sex yang paling mengggairahkan selama hidupku. Setiap minggu aku harus menyetubuhi at least mbak Eva dan anaknya Maria… juga Atika bila  suaminya berlayar.. Sesudah bulan ke-6 aku kembali ke Jakarta. Hubunganku dengan Maria berlanjut hingga kini. Mbak Eva hanya tau bahwa kita pacaran, tanpa tahu bahwa hubungan kami sudah seperti suami istri. Semenjak aku menjalin hubungan serius dengan Maria, aku berhenti berhubungan sex dengan mbak Eva. Janda cantik itu setahun kemudian menikah dengan seorang duda tanpa anak. Atika melahirkan seorang anak hasil hubungannya denganku. Namun, suaminya hanya tahu bahwa itu adalah anaknya. Atika mendapatkan sensasi yang luar biasa karena bisa memperoleh anak dari bukan suaminya. Sensasi ini berupa perasaan dendam yang terbalas. Aku hidup bersama dengan Maria yang tak pernah mengetahui hubunganku dengan ibu dan tantenya…dan aku menghentikan petualangan sex ku setelah Maria ada di sisiku..at least sampai hari ini… entah besok, atau lusa..

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,

  • Cerita Sex Awal Mau Kerja Malah jadi Budak Seks Nyonyaku

    Cerita Sex Awal Mau Kerja Malah jadi Budak Seks Nyonyaku


    114 views

    Perawanku – Cerita Sex Awal Mau Kerja Malah jadi Budak Seks Nyonyaku, Tujuanku datang ke Jakarta sebenarnya untuk merubah nasib. Tapi siapa yang menyangka kalau ternyata kehidupan di kota besar, justru lebih keras dan pada di desa. Aku sempat terlunta-lunta, tanpa ada seorangpun yang mau peduli. Selembar ijazah SMP yang kubawa dari desa, ternyata tidak ada artinya sama sekali di kota ini. Jangankan hanya ijazah SMP, lulusan sarjana saja masih banyak yang menganggur.

    Dari pada jadi gelandangan, aku bekerja apa saja asalkan bisa mendapat uang untuk menyambung hidup. Sedangkan untuk kembali ke kampung, rasanya malu sekali karena gagal menaklukan kota metropolitan yang selalu menjadi tumpuan orang-orang kampung sepertiku.

    Seperti hari-hari biasanya, siang itu udara di Jakarta terasa begitu panas sekali. Seharian ini aku kembali mencoba untuk mencari pekerjaan. Tapi seperti yang selalu terjadi. Tidak ada satupun yang melirik apa lagi memperhatikan lamaran dan ijazahku. Keputusasaan mulai menghinggapi diriku. Entah sudah berapa kilometer aku berjalan kaki. Sementara pakaianku sudah basah oleh keringat. Dan wajahku juga terasa tebal oleh debu. Aku berteduh di bawah pobon, sambil menghilangkan pegal-pegal di kaki.

    Setiap hari aku berjalan. Tidurpun di mana saja. Sementara bekal yang kubawa dari kampung semakin menipis saja. Tiga atau empat hari lagi, aku pasti sudah tidak sanggup lagi bertahan. Karena bekal yang kubawa juga tinggal untuk makan beberapa hari lagi. Itupun hanya sekali saja dalam sehari.

    Di bawah kerindangan pepohonan, aku memperhatikan mobil-mobil yang berlalu lalang. Juga orang-orang yang yang selalu sibuk dengan urusannya masing-masing. Tidak ada seorangpun yang peduli antara satu dengan lainnya. Tiba-tiba pandangan mataku tertuju kepada seorang wanita yang tampak kesal karena mobilnya mogok. Dia ingin meminta bantuan, Tapi orang-orang yang berlalu lalang dan melewatinya tidak ada yang peduli. Entah kenapa aku jadi merasa kasihan. Padahal aku sendiri perlu dikasihani. Aku bangkit berdiri dan melangkah menghampiri.
    “Mobilnya mogok, Nyonya..?”, tegurku dengan sikap ramah.
    “Eh, iya. Nggak tahu ya kenapa, tiba-tiba saja mogok”, sahutnya sambil memandangiku penuh Curiga.
    “Boleh saya lihat ” ujarku meminta ijin.
    “silakan kalau bisa.”

    Waktu di kampung aku sering bantu-bantu paman yang buka bengkel motor. Terkadang ada juga mobil yang minta diperbaiki. Tapi namanya di kampung, jarang orang yang punya motor. Apa lagi mobil. Makanya usaha paman tidak pernah bisa maju. Hanya cukup untuk makan sehari-hari saja.

    Seperti seorang ahli mesin saja, aku coba melihat-lihat dan memeriksa segala kemungkinan yang membuat mesin mobil ini tidak mau hidup. Dan entah mendapat pertolongan dari mana, aku menemukan juga penyakitnya. Setelah aku perbaiki, mobil itu akhirnya bisa hidup kembali. Tentu saja wanita pemilik mobil ini jadi senang. Padahal semula dia sudah putus asa. Dia membuka tasnya dan mengeluarkan uang lembaran dua puluh ribu. Langsung disodorkan padaku. Tapi aku tersenyum dan menggelengkan kepala.
    “Kenapa? Kurang..?”, tanyanya.
    “Tidak, Nyonya. Terima kasih”, ucapku menolak halus.
    “Kalau kurang, nanti saya tambah”, katanya lagi.
    “Terima kasih Nyonya. Saya cuma menolong saja. Saya tidak mengharapkan imbalan”, kataku tetap menolak. Padahal uang itu nilainya besar sekali bagiku. Tapi aku malah menolaknya.

    Wanita yang kuperkirakan berusia sekitar tiga puluh delapan tahun itu memandangiku dengan kening berkerut. Seakan dia tidak percaya kalau di kota yang super sibuk dengan orang-orangnya yang selalu mementingkan diri sendiri, tanpa peduli dengan lingkungan sekitarnya, ternyata masih ada juga orang yang dengan tanpa pamrih mau menolong dan membantu sesamanya.
    “Maaf, kelihatannya kamu dan kampung..?” ujarnya bernada bertanya ingin memastikan.
    “Iya, Nyonya. Baru seminggu saya datang dari kampung”, sahutku polos.
    “Terus, tujuannya mau kemana?” tanyanya lagi.
    “Cari kerja”, sahutku tetap polos.
    “Punya ijazah apa?”.
    “Cuma SMP.”
    “Wah, sulit kalau cuma SMP. Sarjana saja banyak yang jadi pengangguran kok. Tapi kalau kamu benar-benar mau kerja, kamu bisa kerja dirumahku”, katanya langsung menawarkan.
    “Kerja apa, Nyonya..?” tanyaku langsung semangat.
    “Apa saja. Kebetulan aku perlu pembantu laki-laki. Tapi aku perlu yang bisa setir mobil. Kamu bisa setir mobil apa. Kalau memang bisa, kebetulan sekali”, sahutnya.

    Sesaat aku jadi tertegun. Sungguh aku tidak menyangka sama sekali Ternyata ijasah yang kubawa dan kampung hanya bisa dipakai untuk jadi pembantu. Tapi aku memang membutuhkan pekerjaan saat ini. Daripada jadi gelandangan, tanpa berpikir panjang lagi, aku langsung menerima pekerjaan yang ditawarkan wanita itu saat itu juga, detik itu juga aku ikut bersama wanita ini ke rumahnya.

    Ternyata rumahnya besar dan megah sekali. Bagian dalamnyapun terisi segala macam perabotan yang serba mewah dan lux. Aku sampai terkagum-kagum, seakan memasuki sebuah istana. Aku merasa seolah-olah sedang bermimpi. Aku diberi sebuah kamar, lengkap dengan tempat tidur, lemari pakaian dan meja serta satu kursi. Letaknya bersebelahan dengan dapur. Ada empat kamar yang berjajar. Dan semuanya sudah terisi oleh pembantu yang bekerja di rumah ini. Bahkan tiga orang pembantu wanita, menempati satu kamar. Aku hitung, semua yang bekerja di rumah ini ada tujuh orang. Kalau ditambah denganku, berarti ada delapan orang. Tapi memang pantas. mengurus rumah sebesar ini, tidak mungkin bisa dikerjakan oleh satu orang. Apalagi setelah beberapa hari aku bekerja di rumah ini aku sudah bisa mengetahui kalau majikanku, Nyonya Wulandari selalu sibuk dan jarang berada di rumah. Juga suaminya yang lebih sering berada di luar kota atau ke luar negeri. Sedangkan kedua anaknya sekarang ini sekolah di luar negeri. Aku jadi heran sendiri. Entah bagaimana cara mereka mencari uang, hingga bisa kaya raya seperti ini.

    Tapi memang nasib, rejeki, maut dan jodoh berada di tangan Tuhan. Begitu juga yang terjadi denganku. Dari jadi pembantu yang tugasnya membersihkan rumah dan merawat tanaman, aku diangkat jadi sopir pribadi Nyonya majikan. Bukan hanya jadi sopir, tapi juga sekaligus jadi pengawalnya. Kemana saja Nyonya Majikan pergi, aku selalu berada di sampingnya. Karena aku harus selalu mendampinginya, tentu saja Nyonya membelikan aku beberapa potong pakaian yang pantas. Terus terang, pada dasarnya memang aku tampan dan memiliki tubuhnya yang tegap, atletis dan berotot. Makanya Nyonya jadi kesengsem begitu melihat penampilanku, setelah tiga bulan lamanya bekerja jadi sopir dan pengawal pribadinya.

    Aku bisa berkata begitu karena bukan cuma jadi sopir dan pengawal saja. Tapi juga jadi pendampingnya di ranjang dan menjadi penghangat tubuhnya. Mengisi kegersangan dan kesunyian hatinya yang selalu ditinggal suami. Dan aku juga menempati kamar lain yang jauh lebih besar dan lebih bagus. Tidak lagi menempati kamar yang khusus untuk pembantu.

    Semua bisa terjadi ketika malam itu aku baru saja mengantar Nyonya pergi berbelanja. Setelah memasukkan mobil ke dalam garasi, aku langsung dipanggil untuk menemuinya. Semula aku ragu dan hampir tidak percaya, karena langsung disuruh masuk ke dalam kamarnya. Tapi memang Nyonya memintaku untuk masuk ke dalam kamarnya. Dia menyuruhku untuk menutup pintu, setelah aku berada di dalam kamar yang besar dan mewah itu.

    Aku tertegun, apa lagi saat melihat Nyonya Majikanku itu hanya mengenakan pakaian tidur yang sangat tipis sekali, sehingga setiap lekuk bentuk tubuhnya membayang begitu jelas sekali. Dan di balik pakaiannya yang tipis itu, dia tidak mengenakan apa-apa lagi. Beberapa kali aku menelan ludah sendiri memandang keindahan tubuhnya. Sekujur tubukku mendadak saja jadi menggeletar seperti terserang demam, ketika dia menghampiri dan langsung melingkarkan kedua tangannya ke leherku.
    “Nyonya”.
    “Malam ini kau tidur di sini bersamaku.”
    “Eh, oh..?!”

    Belum lagi aku bisa mengeluarkan kata-kata lebih banyak, Nyonya Wulandari sudah menyumpal mulutku dengan pagutan bibirnya yang indah dan hangat menggairahkan. Tentu saja aku jadi gelagapan, kaget setengah mati. Dadaku berdebar menggemuruh tidak menentu. Bcrbagai macam perasaan herkecamuk di dalam dada. Ragu-ragu aku memegang pinggangnya

    Nyonya Wulandari membawaku ke pembaringannya yang besar dan empuk Dia melepaskan baju yang kukenakan, sebelum menanggalkan penutup tubuhnya sendiri. Dan membiarkannya tergeletak di lantai.

    Mataku seketika jadi nanar dan berkunang-kunang. Meskipun usia Nyonya Wulandari sudah hampir berkepala empat, tapi memang dia merawat kecantikan dan tubuhnya dengan baik. Sehigga tubuhnya tetap ramping, padat dan berisi. Tidak kalah dengan tubuh gadis-gadis remaja belasan tahun. Bagaimanapun aku lelaki normal. Aku tahu apa yang diinginkan Nyonya Wulandari. Apa lagi aku tahu kalau sudah dua minggu ini suaminya berada di luar negeri. Sudah barang tentu Nyonya Wulandari merasa kesepian.
    “Oh, ah..”

    Nyonya Wulandari mendesis dan menggeliat saat ujung lidahku yang basah kian hangat mulai bermain dan menggelitik bagian ujung atas dadanya yang membusung dan agak kemerahan. Jari-jari tangankupun tidak bisa diam. Membelai dan meremas dadanya yang padat dan kenyal dengan penuh gairah yang membara Bahkan jari-jari tanganku mulai menelusuri setiap bagian tubuhnya yang membangkitkan gairah. Aku melihat Nyonya Wulandari dan sudah tidak kuasa lagi menekan gairahnya. Sesekali dia merintih dengan suara tertahan sambil mendesak-desakkan tubuhnya Mengajakku untuk segera mendaki hingga ke puncak kenikmatan yang tertinggi. Tapi aku belum ingin membawanya terbang ke surga dunia yang bergelimang kehangatan dan kenikmatan itu. Aku ingin merasakan dan menikmati dulu keindahan tubuhnya dan kehalusan kulitnya yang putih bagai kapas ini.
    “Aduh, oh. Ahh.., Cepetan dong, aku sudah nggak tahan nih..”, desah Nyonya Wulandari dengan suara rintihannya yang tertahan.

    Nyonya Wulandari menjepit pinggangku dengan sepasang pahanya yang putih dan mulus. Tapi aku sudah tidak bisa lagi merasakan kehalusan kulit pahanya itu. Karena sudah basah oleh keringat. Nyonya majikanku itu benar-benar sudah tidak mampu lebih lama lagi bertahan. Dia memaksaku untuk cepat-cepat membawanya mendaki hingga ke puncak kenikmatan. Aku mengangkat tubuhku dengan bertumpu pada kedua tangan. Perlahan namun pasti aku mulai menekan pinggulku ke bawah. Saat itu kedua mata Nyonya Wulandari terpejam. Dan dan bibirnya yang selalu memerah dengan bentuk yang indah dan menawan, mengeluarkan suara desisan panjang, saat merasakan bagian kebanggaan tubuhku kini sudah sangat keras dan berdenyut hangat mulai menyentuh dan menekan, mendobrak benteng pertahanannya yang terakhir. Akhirnya batang penisku menembus masuk sampai ke tempat yang paling dalam divaginanya.
    “Okh, aah..!”

    Nyonya Wulandari melipat kedua kakinya di belakang pinggangku. Dan terus menekan pinggulku dengan kakinya hingga batang kebanggaanku melesak masuk dan terbenam ke dalam telaga hangat yang menjanjikan berjuta-juta kenikmnatan itu. Perlahan namun pasti aku mulai membuat gerakan-gerakan yang mengakibatkan Nyonya Wulandari mulai tersentak dalam pendakiannya menuju puncak kenikmatan yang tertinggi.

    Memang pada mulanya gerakan-gerakan tubuhku cukup lembut dan teratur Namun tidak sampai pada hitungan menit, gerakan-gerakan tubuhku mulai liar dan tidak terkendali lagi. Beberapa kali Nyonya Wulandari memekik dan mengejang tubuhnya. Dia menggigiti dada serta bahuku. Bahkan jari-jari kukunya yang tajam dan runcing mulai mengkoyak kulit punggungku. Terasa perih, tapi juga sangat nikmat sekali. Bahkan Nyonya Wulandari menjilati tetesan darah yang ke luar dari luka di bahu dan dadaku, akibat gigitan giginya yang cukup kuat.

    Dan dia jadi semakin liar, hingga pada akhirnya wanita itu memekik cukup keras dan tertahan dengan sekujur tubuh mengejang saat mencapai pada titik puncak kenikrnatan yang tertinggi. Dan pada saat yang hampir bersamaan, sekujur tubuhku juga menegang Dan bibirku keluar suara rintihan kecil. hanya beberapa detik kemudian aku sudah menggelimpang ke samping, sambil menghembuskan napas panjang. Nyonya Wulandari langsung memeluk dan merebahkan kepalanya di dadaku yang basah berkeringat. Aku memeluk punggungnya yang terbuka, dan merasakan kehalusan kulit punggungnya yang basah berkeringat. Nyonya Wulandari menarik selimut, menutupi tubuh kami berdua. Aku sempat memberinya sebuali kecupan kecil dibibirnya, sebelum memejamkan mata. Membayangkan semua yang baru saja terjadi hingga terbawa ke dalam mimpi yang indah.

    Sejak malam itu aku kerap kali dipanggil ke dalam kamarnya. Dan kalau sudah begitu, menjelang pagi aku baru keluar dari sana dengan tubuh letih. Semula aku memang merasa beruntung bisa menikmnati keindahan dan kehangatan tubuh Nyonya Majikanku. Tapi lama-kelamaan, aku mulai dihinggapi perasaan takut. Betapa tidak, ternyata Nyonya Wulandari tidak pernah puas kalau hanya satu atau dua kali bertempur dalam semalam. Aku baru menyadari kalau ternyata Nyonya Majikanku itu seorang maniak, yang tidak pernah puas dalam bercinta di atas ranjang.

    Bukan hanya malam saja. Pagi, siang sore dan kapan saja kalau dia menginginkan, aku tidak boleh menolak. Tidak hanya di rumah, tapi juga di hotel atau tempat-tempat lain yang memungkinkan untuk bercinta dan mencapai kenikmatan di atas ranjang. Aku sudah mulai kewalahan menghadapinya. Tapi Nyonya Wulandari selalu memberiku obat perangsang, kalau aku sudah mulai tidak mampu lagi melayani keinginannya yang selalu berkobar-kobar itu. Aku tetap jadi supir dan pengawal pribadinya. Tapi juga jadi kekasihnya di atas ranjang.

    Mungkin karena aku sudah mulai loyo, Nyonya Wulandari membawaku ke sebuah club kesegaran. Orang-orang bilang fitness centre. Di sana aku dilatih dengan berbagai macam alat agar tubuhku tetap segar, kekar dan berotot. Dua kali dalam seminggu, aku selalu datang ke club itu. Memang tidak kecil biayanya. Tapi aku tidak pernah memikirkan biayanya. Karena ditanggung oleh Nyonya Wulandari. Dan di rumah, menu makanankupun tidak sama dengan pembantu yang lainnya. Nyonya Wulandari sudah memberikan perintah pada juru masaknya agar memberikan menu makanan untukku yang bergizi. Bahkan dia memberikan daftar makanan khusus untukku.

    Terus terang, aku merasa tidak enak karena diperlakukan istimewa. Tapi tampaknya semua pembantu di rumah ini sudah tidak asing lagi. Bahkan dari Bi Minah, yang tugasnya memasak itu aku baru tahu kalau bukan hanya aku yang sudah menjadi korban kebuasan nafsu seks Nyonya Wulandari. Tapi sudah beberapa orang pemuda seusiaku yang jadi korban. Dan mereka rata-rata melarikan diri, karena tidak tahan dengan perlakuan Nyonya Wulandari.

    Aku memang sudah tidak bisa lagi menikmati indahnya permainan di atas ranjang itu. Apa lagi Nyonya Wulandari sudah mulai menggunakan cara-cara yang mengerikan, Untuk memuaskan keinginan dan hasrat biologisnya yang luar biasa dan bisa dikatakan liar. Aku pernah diikat, dicambuk dan di dera hingga kulit tubuhku terkoyak. Tapi Nyonya Wulandari malah mendapat kepuasan. Wanita ini benar-benar seorang maniak. Dan aku semakin tidak tahan dengan perlakuannya yang semakin liar dan brutal. Meskipun kondisi tubuhku dijaga, dan menu makanankupun terjamin gizinya, tapi batinku semakin tersiksa. Beberapa orang pembantu sudah menyarankan agar aku pergi saja dan rumah ini. Rumah yang besar dan megah penuh kemewahan ini ternyata hanya sebuah neraka bagiku.

    Aku memang ingin lari, tapi belum punya kesempatan. Tapi rupanya Tuhan mengabulkan keinginanku itu. Kebetulan sekali malam itu suami Nyonya Wulandari datang. Aku sendiri yang menjemputnya di bandara. Dan tentu tidak sendiri saja, tapi bersama Nyonya Wulandari. Di dalam perjalanan aku tahu kalau suami Nyonya Majikanku itu hanya semalam saja. Besok pagi dia sudah harus kembali ke Tokyo. Dari kaca spion aku melihat tidak ada gurat kekecewaan di wajah Nyonya Wulandari. Padahal sudah hampir sebulan suaminya pergi Dan kini pulang juga hanya semalam saja. Nyonya Wulandari malah tersenyum dan mencium pipi suaminya yang kendur dan berkeriput.

    Setelah memasukkan mobil ke dalam garasi, aku bergegas ke kamar. Kesempatan bagiku untuk kabur dan rumah neraka ini. Karena Nyonya Wulandari sedang sibuk dengan suaminya. Aku langsung mengemasi pakaian dan apa saja milikku yang bisa termuat ke dalam tas ransel. Saat melihat buku tabungan, aku tersenyum sendiri. Sejak bekerja di rumahi ini dan menjadi sapi perahan untuk pemuas nafsu Nyonya Majikan, tabunganku di bank sudah banyak juga. Karena Nyonya Wulandan memang tidak segan-segan memberiku uang dalam jumlah yang tidak sedikit. Dan tidak sepeserpun uang yang diberikannya itu aku gunakan. Semuanya aku simpan di bank. Aku masukan buku tabungan itu ke dalam tas ransel, diantara tumpukan pakaian. Tidak ada yang tahu kalau aku punya cukup banyak simpanan di bank. Bahkan Nyonya Wulandari sendiri tidak tahu. Karena rencananya memang mau kabur, aku tidak perlu lagi berpamitan. Bahkan aku ke luar lewat jendela.

    Malam itu aku berhasil melarikan diri dari rumah Nyonya Wulandari. Terbebas dari siksaan batin, akibat terus menerus dipaksa dan didera untuk memuaskan nafsu birahinya yang liar dan brutal. Tapi ketika aku lewat di depan garasi, ayunan langkah kakiku terhenti. Kulihat Bi Minah ada di sana, seperti sengaja menunggu. Dadaku jadi berdebar kencang dan menggemuruh. Aku melangkah menghampiri. Dan Wanita bertubuh gemuk itu mengembangkan senyumnya.
    “Jangan datang lagi ke sini. Cepat pergi, nanti Nyonya keburu tahu..”, kata Bi Minah sambil menepuk pundakku.
    “Terima kasih, Bi”, ucapku.
    Bi Minah kembali tersenyum. Tanpa membuang-buang waktu lagi, aku bergegas meniggalkan rumah itu. Aku langsung mencegat taksi yang kebetulan lewat, dan meminta untuk membawaku ke sebuah hotel.

    Untuk pertama kali, malam itu aku bisa tidur nyenyak di dalam kamar sebuah hotel. Dan keesokan harinya, setelah mengambil semua uangku yang ada di bank, aku langsung ke stasiun kereta. Aku memang sudah bertekad untuk kembali ke desa, dan tidak ingin datang lagi ke Jakarta.

    Dari hasil tabunganku selama bekerja dan menjadi pemuas nafsu Nyonya Wulandari, aku bisa membuka usaha di desa. Bakkan kini aku sudah punya istri yang cantik dan seorang anak yang lucu. Aku selalu berharap, apa yang terjadi pada diriku jangan sampai terjadi pada orang lain. Kemewahan memang tidak selamanya bisa dinikmati. Justru kemewahan bisa menghancurkan diri jika tidak mampu mengendalikannya.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Dewasa Birahi Gadis

    Cerita Dewasa Birahi Gadis


    670 views


    Perawanku – Aku ialah seorang pegawai suatu perusahaan di Aceh. Aku telah menikah semenjak tahun 2014, dengan seorang wanita mempunyai nama Wulan. Adik iparku (adik kandung istriku) menikah dengan seorang wanita mempunyai nama Rini yang menjadi rekan selingkuh ku untuk sejumlah waktu.

    Sedikit curhat, pernikahanku kali ini di ujung tanduk. Yah bila diliat dari biografi singkat yang kuceritakan di atas, dapat diambil benang merah apa dan siapa penyebabnya. Yak, selingkuh dan aku pelakunya. Untungnya, rekan selingkuhku yang ketahuan kali ini bukan istri adik iparku, tetapi “teman” dari software media sosial “KitaNgobrol”. Ruginya, ya tidak sedikit banget. Salah satunya adik iparku sontak memusuhiku, sekaligus istrinya darurat ikut perintah suaminya. Rini (Dalam sebuah kesempatan, Rini bertemu dan langsung memohon supaya hubungan kami tidak boleh disebarluaskan. Aku pegang tangannya dan kupastikan bahwa aku bukan orang laksana itu. Sampai kini kami belum berkomunikasi lagi)

    Pertengkaran dengan istriku tidak dapat dielakkan. Aku melulu mampu menyembunyikan bahwa aku baru melakukannya sekali, dan meyakinkan itu melulu coba2 dan tidak bakal pernah terulang lagi. Tapi yang namanya emosi kadang tidak dapat dikendalikan, istri mengamuk sejadinya dan membawa masalah ke ranah family besar.

    Akupun darurat pindah ke lokasi kos sebab istri muak liat wajahku. Dalam keadaaan terlunta2 mental dan tertekan laksana ini, aku pun berjuang mencari pelarian dengan menginap di kantor dan merepotkan pegawai lainnya dengan sesekali nginap di lokasi tinggal mereka.

    Adalah teman kerjaku semenjak tahun 2016 kemarin, mempunyai nama Putri, seorang perempuan kelahiran medan berdarah batak. Putri ini seorang alpha-woman-type, dengan kata lain keras kepala dan ingin egois. Awal awal kehadirannya saja telah langsung nyuruh2 orang beda jelasin peraturan/SOP ke dia, sebenarnya jelas orang lain tersebut (aku) jauh lebih lama bekerja disini.

    Soal perawakan, Putri tidak didukung wajah yang menarik. 3-size-measurement? Minus justeru di unsur depan. Parahnya, putri lebih senang guna tidak menggunakan make-up bahkan dalam kondisi formal sekalipun. Makanya di umur nya yang memasuki 30 tahun ini, aku paham mengapa pacarnya mutusin dia. Padahal bila memakai make up, Putri bisa kelihatan lebih menarik.

    Kami telah setim nyaris 2 tahun lamanya. Baik profesional ataupun hal personal sudah tidak jarang kami bahas. Makanya saat dia tahu aku cekcok dengan Wulan, dia langsung bertanya “Kau apain dia?” dengan gaya khas anak bataknya. Kalau telah pake gaya begini, mendingan dibalas dengan serius atau langsung cabut, sebelum disuruh debat yang ujungnya ngabisin energi.

    Akupun menjelaskan secara garis besar apa masalahnya. Kata2 bodat pun terbit dari mulutnya ditujukan padaku. Aku hanya dapat tersenyum meringis, menginginkan bahwa teman kerja ku pun akan memusuhiku (aku memahami kenapa, kan dia diputusin pacarnya . Jadi dimata dia, aku sama brengseknya dengan mantan co nya). Hari aku mengisahkan kasusku, ialah hari dimana Putri sama sekali tidak memperdulikanku. Untungnya kerjaan kami sedang tidak tidak sedikit dan dapat kuhandle sendiri. Tapi aku bertekad baikan sama dia, sebab urusan kantor memang jangan bercampur dengan hal pribadi. Sangat memprovokasi output dan kinerja.

    Esoknya kubeli sebatang chunky bar dan sebungkus chitato besar. Berhubung meja kami sebelahan, mudah saja kutawarin dia makanan tersebut. Dengan pelototan dan jawaban ketus, dijawabnya tidak. Aku langsung ketawa2. Kuhimbau pada nya guna tidak melarutkan masalahku ke profesionalisasi kami. Dia menatapku dan menjulurkan tangannya ke bungkus chitato. Yah, paling tidak teman kerjaku tidak memusuhiku.

    Untuk meredakan bencinya, kubiarkan dia sepanjang pagi tersebut merepet dan memaki ku atas perbuatan ku untuk Wulan. Tidak sekalipun kusanggah, tidak sekalipun kutepis. Suaranya hingga bergetar, air mata mulai memupuk di matanya. Aku hanya dapat bilang maaf berulang kali. Siangnya, keadaan sudah mulai berubah sebab dia mulai bertanya di mana aku tinggal.

    “sesekali di kantor” jawabku. “hah, istirahat dimana kau?” tanya nya. “noh korsi2 tersebut kalo dijejer dapat buat lokasi tidur. Yang urgen punggungku nyandar aja”. Dia geleng2 kepala dan bilang aku gila. Padahal dia ga tau kalo bermukim di kantor dengan air bersih, listrik gratis, serta wifi dengan kuota gede tersebut menyenangkan. Kami juga kembali konsentrasi ke kerjaan masing2.

    Selepas istirahat, darah batak yang mengalir di tubuhnya pulang menghangat. Tapi tidak memanas, melulu interogasi kecil yang hendak dituntaskannya.

    Putri (P): Kok dapat lah kau gituin dia rud?
    Aku (A): bah, masih belum puas?
    Putri (P): bukan loh, ga abis pikir aku soalnya. Kalian kek ga terdapat puas2nya. Ngebuang bunga demi sampah di jalan
    Aku (A): Ini inginkan digimanain lagi coba? Aku kan dah mohon maaf juga. Penyesalan kan tidak jarang kali datang telat, kalo di mula kan namanya pendaftaran.

    Berkat ucapan cuek ku, aku sukses membuatnya tertawa. Mungkin, mungkin sebab aku belum “menyentuh” wanita sekitar 3 minggu terakhir, tawa dan ekspresi Putri menciptakan nafsuku tidak stabil. Wanita teman kerjaku sekitar ini yang kuliat biasa saja, bahkan ingin tidak unik perhatianku, menciptakan insting pria ku aktif. Tanpa sadar, aku memegang kedua tangannya yang bersila di paha nya. Kugenggam dan kutatap matanya seraya tersenyum.

    Putri kaget dan langsung unik tangannya. Aku kembali menerbitkan perkataan cuek “Lumayan megang tangan cewek” sebelum dia berbicara apa2. Putri langsung merespon “segitu pengennya ya?” yang langsung kujawab “udah nyaris sebulan loh. Bosen pake tangan sendiri”. Putri langsung melotot tajam “Jadi kau kira aku lokasi pelampiasan?” dengan nada meninggi. Akupun langsung berkilah “enggak loh put. Bukan pelampiasan, kau lokasi aku melimpahkan rinduku” disertai senyum seringaiku, bercita-cita ini tidak jadi pembantaian umum.

    Putri langsung membalas “sama aja kampret” dan pulang menghadapi kerjaannya. Dalam artian lain, sebetulnya aku telah di zona selamat karena sukses mengalihkan pembicaraan permasalahan ku ke mesumku. Namun, kini otakku diisi pikiran mesumku. Aku hendak bersetubuh. Tepatnya, aku hendak memasukkan perangkat kelaminku ke lubang kesenangan Putri. Kupandangi tubuhnya khususnya di unsur payudara. Sadar aku menyimak dirinya, Putri balas menatap tajam dan tidak banyak membentak “apa?”

    Pikiranku langsung cepat bereaksi. Putri ialah seorang alpha-type, dia ga bakal segampang tersebut peduli, meskipun untuk rekan kerjanya sendiri. Pikiranku berlanjut, Putri telah lama tidak pacaran. Ini berarti taruhan 50-50. Aku mesti mencoba, batinku berkata.

    “Enggak. Aku cuma inginkan pijet2 badanmu aja” sergahku sambil menunjukkan kursi ku ke belakang nya dan sekaligus memegang bahu nya. Putri tidak banyak berteriak “apaan seh?” seraya menepis tanganku dari bahu nya. Langsung sigap kutangkap tangannya. Putri langsung melotot tajam sambil berbicara “Rud, aku marah. Lepasin”.

    Taruhanku kelihatannya salah. Tapi otakku masih diisi pikiran mesum. Dengan tidak banyak tercekat, aku menerbitkan kata2 “Put, bantu aku put” sembari tidak menghiraukan perintahnya untuk mencungkil tangannya. Putri membalas tegas “ENGGAK. LEPASIN”. “Put, bantuin napa. Ga usah sampe “kesana” deh. Bantuin aku “keluar” aja. Janji (janji? lol)” kataku dengan sarat harap seraya tetap memegang tangannya.

    Putri terdiam sejenak. Disaat laksana ini, aku tidak membiarkannya berpikir. Aku langsung menyambung perkataanku “Iya ga sampe ngapa2in. Nanti aku bantuin pun kau deh” seraya menurunkan tangan kami berdua ke arah paha nya. Aku memanjangkan jari kelingkingku ke arah paha nya, tidak banyak membelai, bercita-cita semoga rangsangan ini sampai. Putri tidak berbicara apa2. Putri diam, laksana terpasrah. Aku celingak- celinguk liat keadaan, dan langsung menghambur ke depan mendekap putri seraya berbicara “Makasih ya put”. Aroma rambutnya menelusuk hidung, bercampur dengan nafsu yang hendak segera kutuntaskan. Putri berbisik “jangan disini. dimana?”. Akupun berdiri, memberinya kode guna mengikutiku ke ruang kesehatan.

    Ruang kesehatan kantor kami terletak di ujung lantai 2. Ruang ini sederhana, melulu ada lokasi tidur rawat, meja dan kursi kerja dokter, kursi tunggu dan AC. Ruangan ini serba praktis, sering digunakan untuk lokasi istirahat ataupun lokasi kongkow. Dan laksana biasa, kunci ruangan ini tidak jarang kali tertinggal di dalam. Mungkin memang terdapat pegawai atau pejabat beda yang menggunakan nya laksana yang bakal kulakukan. Tapi tersebut bukan urusanku.

    Putri juga masuk. Aku langsung mengunci pintu dan memeluk dia dari belakang. Tangan kananku langsung menggerayangi payudaranya, sedang tangan kiriku mengelus area perempuan nya dari luar celana hitamnya. Kali ini putri tidak dapat terdiam. Suara lirihan kecil mulai tersiar di telinga kiriku. Putri langsung mengembalikan badan dan menyambar mulutku dengan mulutnya. Bibir kami beradu, aku berjuang memasukkan lidahku ke mulutnya. Sedikit kuremas payudaranya barulah lidahku bertemu dengan lidahnya. Tangan kiriku bergerilya masuk kedalam celananya. Gila ya put, pikirku dalam hati. Kuyakin kau pun menginginkan urusan ini. Kau pun merindukan diginiin. Buktinya dengan basahnya celana dalammu.

    Jari tengahku menerobos masuk ke liang vaginanya. Ciuman Putri mulai tak tertata dan terlepas. Desahan tertahan terbit dari mulutnya, yang memancing ku guna meneruskan foreplay ini lebih lanjut. Tangan kananku bergerak melolosi kancing kemejanya, sampai bh hitamnya terpampang dan tanganku bebas merabanya. Lidahku kini bergerak di leher kiri Putri, tangan kananku memilin dan meremas apa yang bisa di raihnya dibalik Bh hitam tersebut. Tangan kiriku tetap dinamis mengorek isi dalam lubang itu. Pikiranku diisi dengan nafsu. Aku yakin putri telah lupa dengan janji ku janji yang mana? hahaha

    Kudorong pelan Putri ke arah meja kerja dokter. Putri memahami dan duduk diatas meja tersebut. Kutanggalkan celana Putri, kulepaskan celana dalamnya sampai-sampai liang kesenangan yang telah basah tersebut terpampang di hadapanku. Putri terkangkang pasrah di hadapanku, melulu kemeja yang tersingkap separuh dan Bh hitamnya yang melekat di badannya ketika ini. Kumajukan kepalaku guna melekatkan mulutku ke vagina Putri. Sepertinya Putri pun mengharapkan ini, terbukti dengan dijambaknya rambutku saat cairan vaginanya mulai kuisapi. Desisan desisan nafsu ini semakin membangunkan gairahku.

    Aku menurunkan celanaku. Kuhisap pulang lidah Putri sambil mencungkil Bh hitamnya. Kupilin putingnya dan aku berbisik di telinganya “Enak sayang?” Putri menggigit pundakku sebagai jawaban. Kuciumi lehernya, kupermainkan puting payudaranya, kutekan2 klitorisnya. Sepertinya Putri akan menolong ku terbit kali ini. Tangannya menggenggam k0ntolku, naek turun, dan mulai mengarahkannya ke vaginanya….tanpa kuminta. Aku mesti menolong Putri juga. Kudorong perlahan batangku, sekujur badanku diisi kenikmatan keduniaan itu. Kudorong terus hingga melekat kelamin kami. Kutatap mata Putri, kami pulang berciuman, dan Putri pulang menggigit pundakku.

    Kami saling menahan dan mengkait saat aku mulai menggerakkan batangku maju-mundur. Setiap hentakan yang kulakukan dijawab dengan baik oleh goyangan Putri. Aku sama sekali tidak peduli dengan apa yang terjadi bilamana kami ketahuan. Putri pun kelihatannya sama. Bunyi meja berderit, desahanku, desahan Putri aku rasa bisa menjelaskan suasana kami pada orang yang barangkali sedang tepat terdapat di luar ruangan. Aku tidak peduli. Putri kini terlentang di atas meja, kaki kiri nya kuangkat ke pundakku yang barusan digigitnya. Kupacu pulang tempo tadi. Putri semakin belingsatan. Tangan kiriku mengurangi klitorisnya. Gerakan putri semakin tidak karuan. Aku tetap memaju-mundurkan batangku di dalam lubang yang semakin basah tersebut.

    Kenikmatan ini ekstasi untuk kami. Putri sepertinya keletihan setelah batangku dipijat vaginanya sejumlah kali. Kedua kakinya kuangkat, kucium betis nya sambil kembali menghentakkan batangku. Aku nyaris keluar. Kupercepat irama gerakan pinggulku sebisa yang aku mampu. Makin cepat dan tak terkendali, Putri sudah laksana kehabisan napas, deritan meja kian keras, aku mulai teriak, teriak kesenangan yang kulepaskan mendadak cairanku memenuhi dalam lubang vagina itu. Aku goyangkan terus, meresapi sisa2 kesenangan yang masih ada.

    Putri bangkit duduk dan merangkul leher ku, menghirup ku, dan berbicara “Enak sayang”. Aku juga tersenyum dan membalas “Makasi ya sayang. Benar2 nikmat abang rasa” (padahal kami seumuran. Aku menggunakan kata abang ke dia biar mesra soalnya. hahaha). Aku langsung memungut tisu dan mengelap baik kelaminku dan kelamin Putri. Putri tidak banyak merasa geli saat kusentuhkan tisu tersebut ke vaginanya.

    “Padahal tadi niatnya hanya pake tangan. Aku justeru mau pake mulut. Ujung2 nya ngentot pun kita ya” Ujarnya seraya tersenyum cemberut. Aku tertawa dan berbicara “Lain kali di lokasi tidur yok put. Mau?” Putri melulu tersenyum mengangguk. Kami berdua bergegas menggunakan pakaian kami dan meninggalkan ruangan tempat empiris kesatu kami, dengan disertai rasa was was dan teliti supaya tidak terdapat bukti yang tertinggal.

  • Cerita Sex Selingkuh Dengan Tetanggaku

    Cerita Sex Selingkuh Dengan Tetanggaku


    123 views

    Perawanku – Cerita Sex Selingkuh Dengan Tetanggaku, Aku adalah seorang karyawan yang bekerja di Perusahaan Multimedia, sedangkan istriku adalah sales sebuah produk jamu dari Madura. Kami telah dikaruniai seorang anak laki-laki berusia 6 tahun yang sudah duduk di kelas 1 SD. Di depan rumahku tinggallah pasangan muda suami istri yang telah memiliki seorang putra berusia 4 tahun yang diasuh oleh seorang pembantu yang datang jam 7 pagi pulang jam 4 sore. Tetanggaku ini adalah seorang wiraswasta bidang percetakan sedangkan istrinya adalah karyawati di sebuah instansi.

    Aku adalah seorang karyawan yang bekerja di Perusahaan Multimedia, sedangkan istriku adalah sales sebuah produk jamu dari Madura Dari cerita yang pernah mereka ucapkan, dulu mereka pernah mengikuti suatu aliran yang sangat fanatik, itulah sebabnya istri tetanggaku ini selalu mengenakan jilbab lebar yang selalu menutupi kepala dan dadanya dan juga selalu mengenakan pakaian longgar yang panjang sampai ke mata kaki. Dari cerita istriku, kuketahui bahwa sang istri sangat memperhatikan masalah hubungan suami istri untuk menjaga keharmonisan rumah tangga mereka. Hal ini karena istri tetanggaku ini merupakan pelanggan tetap istriku dalam membeli jamu dari Madura, terutama jamu yang berhubungan dengan hubungan suami istri seperti “sari rapet”, “Pria perkasa” ataupun jamu lainnya yang selalu berhubungan dengan hubungan suami istri.
    Walaupun selalu mengenakan jilbab lebar, tetap saja tidak bisa menutupi kecantikan, keanggunan dan putihnya kulit istri tetanggaku ini, sehingga aku sering membayangkan bagaimana keadaan tubuhnya bila tidak mengenakan busana, pastilah sangat seksi dan sangat menggairahkan.Disamping sebagai seorang wiraswasta, tetanggaku ini aktif di sebuah LSM yang memperhatikan perkembangan perekonomian masyarakat. Karena persaingan bisnis yang semakin ketat, akhirnya usaha tetanggaku ini bangkrut, dan akhirnya ia lebih memfokuskan diri untuk menggeluti LSM yang ia ikuti.
    Cerita ngentot – Dan ternyata di LSM yang digelutinya ini, ia mendapatkan kepercayaan untuk mengawasi pencairan dana masyarakat di luar kota dengan honor yang lumayan untuk menghidupi keluarganya. Sehingga ia harus kerja di luar kota dan seminggu sekali baru pulang ke rumah. Pada suatu hari istriku berkata bahwa komputer tetanggaku bermasalah dan minta tolong padaku untuk segera memperbaikinya, sebab tidak mungkin harus menunggu suaminya pulang dan lagi pula banyak pekerjaan mendesak yang harus dikerjakannya. Dan katanyanya walaupun ia sedang ada dikantor, aku dipersilahkan untuk memperbaiki komputer di siang hari, sebab ada pengasuh anaknya di rumah.
    Cerita Mesum – Obsesiku terhadap istri tetanggaku ini seperti mendapat peluang. Aku menyanggupi untuk memperbaiki komputernya “besok akan ku kerjakan..” kataku pada istriku. Keesokan harinya sebelum aku ke rumah tetanggaku, aku persiapkan beberapa spy cam (“Kamera pengintai”) ukuran kecil tanpa kabel yang aku hubungkan ke komputerku.
    Ternyata sistem operasi komputer tetanggaku ini bermasalah, maka harus ku install ulang supaya normal kembali. Pada saat penginstallan sedang berlangsung, aku menanti pengasuh tetanggaku ini lengah atau keluar memberi makan asuhannya. Saat pengasuh anak tersebut keluar, maka kugunakan kesempatan ini untuk masuk ke kamar tetanggaku dan meletakkan 2 buah spy cam ditempat yang tepat dan tersembunyi yang bisa menangkap aktivitas tempat tidur dan sekitarnya.
    Setelah perbaikan sistem operasi komputer tetanggaku selesai, aku segera pulang dan menyalakan komputer untuk mengetes apakah spy cam yang aku letakkan berfungsi dengan baik. Dan ternyata alat kecil tersebut memang benar-benar canggih, selain bentuknya kecil dan tanpa kabel, ternyata daya tangkap gambarnya pun nyaris sempurna dan yang lebih canggihnya lagi adalah kemampuannya melakukan zoom.
    Mulailah pada jam-jam tertentu aku memantau keadaan kamar tersebut. Dari hasil pantauan tersebut, terdapat beberapa momen yang aku rekam, diantaranya merekam tubuhnya yang sedang telanjang bulat dan berlenggang lenggok didepan cermin sehabis mandi, merekam kegiatan dirinya yang sedang terangsang di malam hari pada saat suaminya di luar kota, bahkan sempat ku rekam bagaimana ganasnya ia di tempat tidur pada saat suaminya pulang dari luar kota.
    Rupanya dibalik keanggunan dan kealiman penampilan luar istri tetanggaku ini, ternyata dalam berhubungan suami istri dia sangat ganas dan binal membuat suaminya kewalahan, dan sering kali terlihat dia masih bernafsu tetapi suaminya sudah ambruk dan akhirnya dia hanya bisa gelisah tidak bisa diam melihat suaminya tidur kecapaian. Akhir-akhir ini kesibukan tetanggaku ini semakin padat, sehingga jadwal kepulangannya menjadi tak menentu, terkadang dua minggu sekali bahkan pernah sampai dua bulan baru pulang.
    Bahkan pernah secara bercanda istri tetanggaku ini berkata pada istriku : “Bu…, saya mah jablay…(jarang dibelai maksudnya) “
    “Kenapa gitu ?” tanya istriku pada.
    “Habis si Bapak jarang pulang, dan kalo pulangpun hanya satu malam setelah itu pergi lagi.. Saya mah punya suami… tapi jarang sekali bermesraan “ katanya dengan nada sedih.
    Pada suatu hari, istriku cerita padaku bahwa pada tadi siang ketika istriku bertamu ke tetanggaku, dia melihat istri tetanggaku sedang menangis. Dan ketika ditanya mengapa, istri tetanggaku menjawab terisak “Si Bapak, tadi malam pulang, tapi belum ngapa-ngapain dia sudah pergi lagi dengan temannya malam itu juga dan sampai sekarang belum pulang. Padahal saya lagi pingin-pinginnya..”
    Mendengar cerita istriku, aku menjadi tergoda untuk mengisi kekosongan kasih sayang ini. Tapi bagaimana caranya ? dan tak mungkin aku dapat menggoda seorang istri yang selalu taat menjalankan perintah agama. Apalagi dia selalu mengenakan jilbab dan tidak pernah memberi kesempatan kepada bukan muhrimnya untuk berbicara bebas dengannya.
    Akhirnya aku punya ide untuk mengancamnya akan menyebarkan video rekaman dirinya yang sedang telanjang dan yang sedang berhubungan dengan suaminya. Rekaman tersebut aku simpan di CD.
    Pada malam hari ketika istriku sudah tidur, kuletakkan CD rekaman tersebut di depan pintunya dan kuhubungi hp istri tetanggaku ini dari hp-ku dengan menggunakan nomor yang baru kubeli siang tadi
    “Bu…, Coba ibu buka pintu depan dan ambil amplop yang tersimpan dibawah pintu, sekarang..! Isinya adalah CD berisi video rekaman yang harus ibu tonton di komputer” kataku memerintah tanpa memberi kesempatan padanya untuk bertanya siapa yang menelepon.
    Aku mengintip dari dalam rumahku, tak lama kemudian aku melihat pintu depannya terbuka, kemudian dia keluar dengan jilbab lebar dan baju longgar yang biasa dikenakan kemudian melihat keadaan sekitarnya, lalu setelah yakin tidak ada seorangpun, lalu dia melihat ke bawah dan mengambil amplop yang aku simpan dan dengan tergesa-gesa pintu itupun dia tutup kembali.
    Kira-kira setengah jam kemudian, hp- ku bunyi dan setelah kulihat ternyata istri tetanggaku menghubungiku. Begitu aku tekan tombol terima, langsung terdengar suara serak seperti orang yang sangat marah tapi tak berdaya “Anda siapa ? Dan apa maksudnya memperlihatkan video ini pada saya ? “ tanyanya.
    “Saya hanyalah seorang penggemar berat ibu. Dan saya ingin semua orang tahu bahwa tubuh ibu sangat menggairahkan dan ibu sangat binal dan ganas di tempat tidur” jawabku santai.
    “Apa maksudnya…?” katanya dengan nafas yang mulai tersekat
    “Akan saya perbanyak CD ini dan akan saya bagikan ke setiap rumah di lingkungan ini, juga akan kirim ke internet agar orang sedunia tahu apa dan bagaimana ibu. “ jawabku masih dengan nada santai dan kalem.Cerita esex-esex
    “Ja…jangan…jangan…!” potongnya mulai gugup. “Apa yang sebenarnya kamu inginkan…, mau uang…? Berapa…?” katanya memelas dan suara melemah.
    “Saya nggak mau uang…” jawabku
    “Lalu apa..?” susulnya
    “Saya hanya ingin bisa menikmati tubuh ibu yang sangat menggairah…” kataku menggodanya.
    “Tidak mungkin …..Aku nggak sudi….”
    “Ya…nggak apa-apa.. Tapi ibu jangan kaget kalau esok hari semua tetangga akan ribut karena memiliki rekaman tersebut..” jawabku mengancam
    “jangan…jangan dilakukan ….tolonglah kasihani saya…” katanya lagi memelas
    “Tidak akan saya lakukan…asal ibu memenuhi keinginan saya” kataku lagi.
    Lama dia tidak menjawab…
    Dan akhirnya…
    “Baiklah… saya menyerah…, tapi kumohon…. Kamu harus menghapus semua rekaman ini “ katanya dengan nada yang sangat berat dan pasrah karena kalah
    “Baiklah…, sekarang ibu harus membuka pintu depan, kemudian ibu harus menunggu saya di kamar ibu. Kalu tidak ibu lakukan maka saya tidak akan datang” jawabku memberikan perintah.
    Tak lama kemudian, kulihat pintu depan terbuka sedikit dan beberapa menit kemudian kulihat dimonitor bahwa dia telah ada di dalam kamar dan duduk gelisah diatas kasur menunggu apa yang akan terjadi. Kumatikan komputerku dan aku keluar rumah secara mengendap-ngendap menuju rumah tetanggaku melalui pintu depan yang terbuka, kemudian kututup dan kukunci. Lalu dengan perasaan degdegan aku menghampiri kamarnya kubuka pintunya dan kututup kembali serta kukunci. Begitu melihatku dia langsung berdiri dan berkata kaget dan marah
    “Ohh..ternyata bapak..! Kenapa bapak melakukan ini padaku. Apa bapak tak takut kalau saya laporkan ke istri bapak ?” Ancamnya
    “Laporkan saja dan saya akan menyebarkan rekaman itu. Yang paling rugi kan bukan saya, tapi ibu sendiri ?” jawabku menekannya
    “Jadi gimana ? mau batal ?” sambil aku membalikkan badan seolah-olah akan keluar kamar.
    “Jangan…saya menyerah…” katanya pelan dan terisak meneteskan air mata.
    “Baiklah kalau begitu…” kataku sambil menghampirinya.
    Dia duduk mematung di pinggir tempat tidur ketika kuhampiri. Aku duduk disampingnya, dia menggeserkan badannya seperti yang ketakutan, tapi aku menahannya sambil berkata “Ingat, jika ibu tidak melayaniku malam ini, maka ancamanku akan kulaksanakan !” kataku mengancam. Akhirnya dia diam dengan badan menggigil ketakutan dan mata yang terpejam.
    Tangan kananku memeluknya dari belakang. Kudekatkan wajahku ke wajahnya. Dia masih memejamkan matanya. Ohhh betapa cantik wajahnya, bibirnya yang tipis dan basah menggodaku untuk menciumnya
    Dia diam saja mematung, bahkan badannya terasa sangat dingin. Tapi aku tak peduli, aku terus mengulum bibirnya yang tertutup rapat dan terkadang lidahku menjilati bibirnya. Dia mulai bereaksi tapi hanya sekilas setelah itu dia tetap diam sambil memejamkan mata
    Tanganku membuka jilbab lebar yang ia kenakan dan melemparkannya ke lantai, maka tampaklah rambut indah dengan leher jenjang merangsang menopang wajahnya yang terlihat sangat cantik dan menggemaskan, walaupun dengan mata terpejam dan ekspresi wajah yang tegang.
    Bibirku mulai menciumi dagu, pipi, dan seputar lehernya yang sangat merangsang, beberapa kali kurasakan ada reaksi dari dirinya dengan keluarnya keluhan dari mulutnya “Euh….euh….”
    Hanya segitu, lalu dia diam lagi seperti sedang bertahan untuk tidak tergoda atas rangsangan yang kulakukan pada dirinya. Lalu tanganku menarik seleting baju panjang yang terdapat dipunggungnya dan bajunya kutarik ke bawah, tampaklah tubuh putih mulus yang harum dengan buah dada yang montok terhalang oleh bh yang masih menahannya agar tidak tumpah. Kutarik pengait bh hingga bh tersebut terlepas dan kulemparkan ke lantai, maka tampaklah buah dada yang benar-benar montok menggairahkan tergantung bebas dihadapanku.
    Badannya semakin kaku, kudorong paksa agar dia berbaring di kasur, lalu dengan tergesa-gesa karena bernafsu tanganku mulai meremas buah dada indah tersebut yang kiri dan kanan secara bergantian.
    Ouh… betapa mengasyikkan dan puasnya dapat mempermainkan buah dada dari seorang wanita yang biasanya tertutup baju longgar dan jilbab yang lebar. Mulutku mulai menjilati dan menciumi seluruh permukaan kulit halus di sekujur tubuh terbukanya. Terkadang disertai dengan kecupan serta hisapan yang mengasyikan. Dan akhirnya bibirku menuju buah dadanya .
    Buah dada sekat dan montok itu aku hisap dan gigit-gigit gemas penuh nafsu, kemudian aku kebagian puting susunya yang sudah mulai tegak menantang. Kupilin-pilin dengan bibir dan lidahku..
    “Ouh…ouh…euh…..euh… ssstt… hhhssstttt…” Erangan halus dan desis nikmat keluar dari mulutnya tanpa disadarinya
    Tapi segera diam kembali setelah dia menyadarinya apa yang sedang terjadi. Tampak sekali terjadi pergulatan batin yang sangat hebat antara mempertahankan harga diri dan kehormatan melawan gairah nafsu yang sudah mulai bangkit mempengaruhinya.
    Hal ini tampak dari gerakan tubuhnya mulai menggelinjang dan merespon setiap sentuhan dan rangsangan yang kuberikan padanya. Peperangan antara rasa terhina dan rasa nikmat yang ia terima demikian hebatnya sehingga tampak dari keringat yang mulai bercucuran dari tubuhnya.
    Badan dan tubuhnya sangat menikmati rangsangan yang kuberikan tetapi pikirannya melarang untuk merespon, sehingga reaksi yang diberikan menjadi tidak konstan, terkadang melenguh menikmati dan terkadang lagi diam mematung tidak memberikan respon atas rangsangan yang kuberikan padanya. Tapi aku terus memberikan rangsangan-rangsangan kenikmatan padanya dengan terus memilin dan meremas buah dadanya yang indah.
    Usahaku memberikan hasil. Dia menjadi lebih sering mendesah dan melenguh menahan nikmat yang dirasakan, walaupun dengan malu-malu sambil tetap berusaha menjaga harga dirinya agar tidak jatuh dihadapanku.
    “Ouh… oohh…ouh….” Erangan nikmatnya menjadi lebih sering kudengar. Kedua tangannya mencengkram kasur dengan sangat kuat hingga urat-urat halus tangannya menonjol menandakan bahwa dia sedang dilanda kenikmatan dan rangsangan birahi yang teramat sangat.
    Aku mulai menanggalkan baju longgarnya dari tubuhnya dan menjatuhkannya kelantai. Mataku nanar diliputi nafsu yang semakin menggebu melihat tubuh bugil merangsang di hadapanku yang hanya menyisakan cd yang menghalangi keindahan vaginanya.
    Lalu kutanggalkan cd yang menghalangi pemandangan indah ini. Dan…. Terpampanglah tubuh telanjang yang benar-benar indah membangkitkan gelora birahi yang semakin tak tertahankan. Penisku semakin tegang melihat pemandangan itu
    Tanpa membuang waktu, aku menciumi kedua paha indah yang putih, mulus serta harum ini. Kugunakan lidahku untuk mengulas semua permukaan paha baik yang kiri maupun yang kanan secara bergantian.
    Erangannya menjadi semakin nyaring dan sering
    “Ouh…ohhh…Pak…ouh….ouh…” rupanya rasa malu dan marahnya sudah semakin
    kalah oleh rasa nikmat yang kuberikan.
    Bibir dan lidahku, lalu naik keatas kebagian selangkangannya yang menjanjikan berjuta-juta kenikmatan. Vagina itu begitu indah dikelilingi oleh rimbunnya jembut hitam nan halus. Kujilati jembut indah itu. Dia mengerang keras….
    ”Aaahh….ohhh”
    Badannya mulai bergetar seperti dialiri listrik, mulutnya ternganga dengan nafas seperti tertahan, lalu “Aahhh… ouh….ouh…” erangannya semakin keras menandakan bahwa harga dirinya semakin kalah oleh rasa nikmat yang kuberikan
    Kusibakkan bibir vagina yang menutupi liang vagina indahnya, terlihatlah lorong sempit memerah yang basah berlendir. Lidahku terjulur untuk mengkait-kait lorong itu. Badannya semakin bergetar dan erangannya sudah berganti menjadi jeritan-jeritan tertahan “Aahh….Aahhh….Ouhh…nikmat…ouh….” mulutnya mulai meracau.
    Jempol tangan kananku tak diam, kugunakan untuk menekan dan memutar-mutar klentitnya yang semakin menonjol keras. Gerakannya sudah semakin menggila dan tangannya sudah tak malu-malu lagi mengusap dan menekan-nekan kepalaku agar lebih dalam memasukkkan lidahku kedalam liang vaginanya kurasakan semakin berkedut.Cerita sex Hot Terbaru
    “Aahh…aahhh… ouh…. Pak….ouh…..terusssss…ouh…”
    jeritannya semakin keras, pantatnya semakin maju menekan wajahku…
    Akhirnya dengan tak sabar kedua kakinya dia naikkan keatas pundakku dan menjepit leherku dengan keras sambil melonjak-lonjak tak karuan dan menjerit-jerit menjemput nikmat yang bertubi-tubi datang padanya hingga akhirnya ia menjerit panjang
    “Aaaaaaahhhhh…………….” Badannya melenting, pantatnya terangkat dan tangannya mencengkram kaku di kepalaku serta kakinya semakin keras menjepitku seperti tang raksasa . Lalu beberapa detik kemudian pantatnya berkedut-kedut dan liang vaginanya berkontraksi sangat hebat dan melamuri lidahku dengan cairan kenikmatan.
    Dan setelah itu badannya terhempas ke kasur, cengkraman tangannya dikepalaku melemah demikian juga dengan jepitan kakinya di leherku. Setelah itu yang kudengar adalah helaan nafas yang tersengal-sengal seperti orang baru selesai melakukan lari sprint 100 meter.
    Tanpa dia kehendaki, istri tetanggaku ini telah mengalami orgasme yang sangat hebat yang aku berikan dalam sesi pemanasan ini. Aku berdiri dipinggir kasur, kuperhatikan bahwa matanya terbuka dengan pandangan yang menggambarkan orang yang baru saja mendapatkan kenikmatan orgasme.
    “Bagaimana bu ? Enak khan..?” tanyaku menggodanya
    Dia hanya diam dan membuang muka, tapi dari wajahnya, kutahu dia tidak menampik dengan apa yang kuucapkan padanya. Dia hanya membuang muka…. malu….
    Aku mulai menanggalkan seluruh pakaian yang kukenakan. Kini akupun sudah telanjang bulat. Aku naik ke tempat tidur dan merangkak menghampiri dirinya, sambil berbisik
    “Sudahlah..Bu…, tak perlu malu…., nikmati saja…. Apalagi yang Ibu pertahankan dariku ? Semua bagian tubuh Ibu yang paling rahasiapun sudah
    aku jelajahi , bahkan Ibu sudah mendapatkan puncak kenikmatan orgasme yang akhir-akhir ini jarang Ibu dapatkan…” Kataku mempengaruhi pendiriannya , sambil kembali merangsang dirinya dengan memberikan ciuman hangat pada bibirnya dan meremas buah dadanya yang tak membosankan untuk diremas dan dipilin-pilin.
    Rupanya kata-kataku mempengaruhi pendiriannya sehingga akhirnya dia membalas ciumanku dengan sangat ganas dan bernafsu ditambah lagi bahwa dirinya memang sudah terbakar nafsu berahi setelah sekian lama aku berikan rangsangan-rangsangan yang mengantarnya mencapai orgasme yang sangat hebat.
    Ciumannya padaku semakin panas dan menggairahkan, bahkan tangannya sudah berani meremas dan mengocok penisku yang sudah sangat tegang. Akhirnya badanku kuputar 180 derajat sehingga kepalaku yang berada di atas menghadap vaginanya dan wajahnya yang berada di bawah menghadap penisku.
    Kurengkuh pantatnya yang montok lalu kembali lidah dan bibirku mempermainkan vaginanya sekali lagi dengan cara yang berbeda. Kembali dia melenguh..
    “Ouh….ouh…..Aku tak tahan…aku tak tahan…Ouhhh” erangnya.
    Tak kupedulikan erangannya, aku terus menjilati dan menghisap vaginanya dan terkadang aku tusukkan lidahku kedalam liang vaginanya yang beraroma khas. Gerakan pantatnya semakin menjadi. Dan tiba-tiba aku merasa bibirnya mulai melumat penisku dengan penuh nafsu.
    Aku…melayang…dengan apa yang dia lakukan sehingga bibir dan lidahku diam bekerja…. Jilatan dan hisapan pada penisku semakin bervariasi. Cerita Onani
    “Ouhh….” Akupun melenguh nikmat..
    Aku takut. Bahwa pertahananku akan bobol, maka aku konsentrasikan mengoral kembali vaginanya dengan ganas dan cepat.
    Dia menjerit…
    “Aaah…pak…aku tak tahan……aku tak tahan.. masukkan…. Sekarang auh…”
    Tak kupedulikan permintaannya, aku semakin bersemangat mengoral vagina indah ini. Tiba-tiba badannya menghentak menggulingkan tubuhku kemudian dia bangun , memutarkan badannya , kemudian dalam posisi menungging dia mengarahkan penisku yang sedang berdiri tegak ke arah liang vaginanya yang sudah sangat basah, lalu menekan pantatnya ke bawah dan…
    Blessshh….Penisku mulai memasuki liang vaginanya perlahan-lahan. Mataku nanar berkunang-kunang merasakan kenikmatan yang sukar ‘tuk dibayangkan.
    Perlahan-lahan pantatnya mulai turun naik, sementara kedua tangannya merengkuh pundakku dari belakang sambil bibirnya dengan penuh nafsu menciumi dan menghisap bibirku.
    Gerakan pantatnya semakin cepat, kepala sudah mulai terdongak sambil mengeluarkan nafas mendengus seperti orang orang yang sedang ‘pushup’
    “Ehh..euh…hekks…hekss…euh…”
    dengusan itu terus menerus keluar seiring dengan hempasan pantatnya menekan selangkanganku sehingga penisku seperti dikocok-kocok, dipelintir dan dihisap-hisap dengan sangat nikmat. Mataku terbeliak- beliak menahan nikmat yang tak terkira
    Merasa kakinya kurang nyaman, akhirnya istri tetanggaku meluruskan kakinya sehingga dia telungkup menindih tubuhku.Cerita Orgasme
    Tangannya masih meraih pundakku sebagai pegangan dan buah dadanya ditempelkan pada dadaku. Kemudian kembali memaju mundurkan pantatnya agar vaginanya dapat bergesekan dengan penisku dan penisku dapat keluar masuk hingga sampai ke pangkalnya.
    Gerakannya semakin cepat, kedua kakinya mulai kejang-kejang lurus dan erangannya semakin memburu “ Ouh… hekss….heks…heks…”
    Dan akhirnya…dia kembali menjerit panjang
    “Aaaaaahhhhkkkks……….”
    Badannya kembali melenting terdiam kaku, mulutnya menggigit pundakku dan kedua tangannya menarik pundakku dengan sangat keras dan kaku, dan beberapa detik kemudian keluar helaan nafas panjang darinya seperti melepas sesuatu yang sangat nikmat…”Ouhhhhhh…”
    Pantatnya berkedut-kedut, dan terjadi konstraksi yang sangat hebat di
    dalam vaginanya yang kurasakan sangat mencengkram kuat-kuat seluruh batang penisku dan diakhiri dengan kedutan-kedutan dinding vagina yang memijit penisku membuatku diriku melenguh menerima sensasi yang sangat nikmat dari vagina istri tetanggaku ini.
    “ohh….” Keluhku.
    Kedutan pantatnya makin lama makin melemah dan akhirnya tubuhnya ambruk menindih tubuhku
    Cukup lama dia menikmati sensasi orgasme sambil telungkup lemas diatas tubuhku. Kemudian mata terbuka menatapku sambil berkata “Sudah sangat lama ..aku tak merasakan sensasi orgasme yang demikian nikmat…makasih pak ! “ katanya sambil mengecup bibirku. Sudah hilang rasa malu dan marahnya padaku. Aku hanya tersenyum manis padanya sambil membalas kecupannya dengan menghisap bibirnya dalam-dalam.
    Kedua tanganku memeluknya dan melet
    kkan telapak tanganku pada kedua pundaknya yang masih telungkup menindih tubuhku. Lalu pantatku, kugerakan keatas dan kebawah sambil kedua tanganku menarik pundaknya kebawah membuat penisku yang masih tegang menggesek dinding vagina dan memberikan kenikmatan padaku dan padanya. Penisku dengan lancar keluar masuk liang vaginanya yang masih tetap sempit menjepit dan meremas-remas penisku dengan ketat. Sensasi kenikmatan mulai kembali menjalari seluruh urat syarafku dan akupun mulai mendengus nikmat.Cerita malam pertama 
    “Ouhhh…ouhh…”
    Akibat gerakanku ini, membangkitkan kembali gairahnya yang baru saja mendapatkan orgasme dan gesekan- gesekan ini memberikan kenikmatan- kenikmatan padanya sehingga akhirnya pantatnya kembali bergerak maju mundur dan keatas kebawah meraih kenikmatan yang lebih.
    Dia kembali memompakan tubuhnya diatas tubuhku, dan gerakannya makin lama semakin cepat dan kembali erangan nikmat nya yang khas keluar dari mulutnya. Cerita Bokep ABG
    “Ehh..euh…hekks…hekss…euh…”
    dengusan itu terus menerus keluar seiring dengan hempasan pantatnya menekan selangkanganku sehingga penisku seperti dikocok-kocok, dipelintir dan dihisap-hisap dengan sangat nikmat. Dan kembali mataku terbeliak-beliak menahan nikmat.
    Gerakannya semakin cepat, dan tak lama kemudian kembali kedua kakinya kejang-kejang lurus dan erangannya semakin memburu “ Ouh…hekss….heks…
    heks…”
    Dan akhirnya…dia kembali menjerit panjang
    “Aaaaaahhhhkkkks……….”
    Badannya kembali melenting terdiam kaku, mulutnya menggigit pundakku dan kedua tangannya menarik pundakku dengan sangat keras dan kaku, dan beberapa detik kemudian keluar helaan nafas panjang darinya seperti melepas sesuatu yang sangat nikmat…”Ouhhhhhh…”
    Pantatnya berkedut-kedut, dan terjadi konstraksi yang sangat hebat di
    dalam vaginanya yang kurasakan sangat mencengkram kuat-kuat seluruh batang penisku dan diakhiri dengan kedutan-kedutan dinding vagina yang memijit penisku membuatku diriku melenguh kembali menerima sensasi yang sangat nikmat dari vagina istri tetanggaku ini.Cerita Ml sange
    “ohh….” Keluhku.
    Kedutan pantatnya makin lama makin melemah dan akhirnya tubuhnya kembali ambruk menindih tubuhku untuk kesekian kalinya.
    Pencapaian orgasme yang ia dapatkan di atas tubuhku, terus dilakukannya berulang-ulang, hingga akhirnya untuk yang kesekian kalinya dia benar-benar ambruk diatas tubuhku dan tidak bisa bergerak lagi karena kehabisan tenaga.
    Dia menggelosorkan tubuhnya disamping tubuhku, sambil berbaring miring saling berhadapan dan berpelukan. Dia berkata padaku dengan tersengal-sengal kehabisan napas “Pak …aku sangat lelah… namun sangat puas…..tapi kepuasanku belum sempurna kalau vaginaku belum disemprot oleh ini..” katanya sambil meraih penisku yang masih tegang menantang.
    Luar biasa besar nafsu sex yang dimiliki istri tetanggaku yang berjilbab lebar ini. Apakah karena dia memang jarang mendapatkan nafkah batin dari suaminya yang jarang pulang, atau seperti dugaanku bahwa dia memiliki nafsu yang sangat besar karena buktinya dia sering membeli jamu-jamu kuat pada istriku.
    Aku yang belum mencapai puncak, tidak ingin berlama-lama istirahat takut nafsuku surut dan penisku melemah, maka aku mulai menindihnya dan tanganku kembali meremas-remas buah dada indah miliknya serta memilin-milin puting susunya yang menjulang menantang. Kemudian kembali bibirku menciumi bibirnya dengan penuh nafsu.
    Nafsunya bangkit kembali walaupun dengan tenaga yang masih lemah, tangannya meraih penisku dan diarahkan kedepan liang vaginanya, pahanya terbuka lebar memberi jalan pada penisku untuk segera menelusuri liang nikmat vaginanya. Ku dorong pantatku begitu kepala penisku tepat berada di liang vaginanya .
    Dan Blessh…., penisku kembali menjelajahi liang sempit yang sudah sangat basah milik istri tetanggaku ini dan “ouhh…” lenguh kami berbarengan menahan nikmat.
    Pantatku mulai mengayuhkan penisku agar lancar keluar masuk menggesek- gesek dinding vagina yang selalu memberikan sensasi nikmat. Gerakanku makin lama makin cepat dan berirama.
    Pinggulnya mulai bergerak membalas setiap gerakannku, sehingga lenguhanku dan erangan nikmat terdengar saling bersahutan
    “Ouh…ohhh…enak…banget…ohhhh…”
    dengusku..
    “Auh…auh…makasih
    Pak….ouh….nikmat…oh…” erangnya
    Gerakanku makin lama makin cepat dan keras tak beraturan sehingga terdengar suara yang cukup keras dari beradunya dua selangkangan
    Plok…plok…plok…
    Demikian pula dengan gerakan pinggulnya semakin keras menyambut setiap gerakan pantatku., sehingga bunyi beradunya selangkangan semakin keras
    Plok…plok…plok…
    Dan akhirnya mulutku mulai meracau..”Ouh…Bu…Aku …mau … keluar, aku mau… keluar ouh…”
    Dan dia juga meracau sambil menarik- narik tubuhku dengan keras “ Ayo.. pak… bareng… bareng…”
    Dan akhirnya secara bersamaan kami menjerit bersahutan melepas nikmat mencapai orgasme.
    Badanku dan badannya melenting dan menjerit
    “Aaaaahhhh….”
    Dan …cret…cret…cret sperma kentalku terpancut beberapa kali membasahi seluruh rongga vagina istri tetanggaku ini dan dibalas dengan kontraksi dan kedutan-kedutan yang hebat didalam liang vaginanya yang menandakan kami mendapat puncak orgasme yang tak terlukiskan nikmatnya.
    Lalu badanku ambruk jatuh menimpa tubuhnya dan kugelosorkan kesamping tubuhnya agar tidak membebaninya.
    Kami berbaring sambil berpelukan dan merasakan sisa-sisa kenikmatan orgasme dengan mata terpejam dan nafas tersengal-sengal seperti habis berlari dikejar harimau.
    Tak lama kemudian , matanya terbuka dan memandangku dengan tatapan penuh kepuasan serta berkata dengan suara yang lemah. “Baru kali ini aku dapat merasakan berkali-kali orgasme yang luar biasa nikmatnya dalam satu kali persetubuhan..huhh…
    benar-benar melelahkan namun sangat memuaskan dan tak mungkin terlupakan…” Katanya sambil mencium mesra bibirku. Lalu sambungnya lagi “Kalau tahu senikmat dan sepuas ini yang kudapat dari Bapak.. Bapak tidak perlu mengancamku segala…” katanya sambil tersenyum.
    “Dan aku rela … menanggung segala akibatnya asal aku bisa mendapatkan nikmat seperti ini dari Bapak…” katanya mulai melantur…Cerita Porno 2016
    Kuperhatikan jam dinding sudah menunjukkan jam 1.30 malam, sudah larut. Aku harus segera pulang. Maka aku berdiri dan mengenakan pakaianku dan bertanya padanya “Apakah kita bisa mengulanginya lain waktu ?”
    “Tentu…Pak, bahkan malah aku yang meminta pada bapak untuk bisa memberikan kenikmatan seperti tadi lagi dan lagi “ katanya sambil mencubit mesra pinggangku.
    Kemudian dia juga mengenakan pakaiannya kembali lengkap dengan jilbab lebarnya dan kami keluar kamar berbarengan. Sampai di ruang tamu, dia berhenti sejenak dan memberi isyarat padaku agar aku diam dulu di tempat dan dia akan keluar rumah melihat situasi di luar apakah ada orang.
    Dan setelah yakin tidak ada orang diluar dan memberi isyarat padaku bahwa di luar aman. Sebelum aku keluar dari rumah dia memberikan kecupan yang hangat dan mesra di bibirku sambil berbisik
    “Jangan lupa ya… seminggu 2 kali bapak harus memberi kenikmatan padaku…”
    Wah… nekad juga rupanya istri tetanggaku yang alim ini, jika sudah tahu sesuatu yang sangat nikmat yang bisa dia dapatkan dari diriku. Dengan mengendap-ngendap aku masuk ke rumahku dan kudapati istriku masih tidur dengan nyenyaknya.
    Sejak saat itu kami selalu menyempatkan diri secara sembunyi- sembunyi untuk berpacu meraih nikmat. Dan hal itu berlangsung sampai sekarang , tanpa aku tahu kapan hal ini akan berakhir. Tapi tingkah lakunya di lingkungan tidak berubah. Dia tetap tampak sebagai istri yang solehah dengan jilbab lebar dan baju longgar panjang yang selalu dikenakan. Cerita Sex
    Tapi jika sudah berduaan denganku, dia bagaikan kuda liar dan binal yang bisa membuat diriku melayang-layang meraih nikmat.
    Ada kejadian mendebarkan yang pernah kami lakukan. Saat itu adalah hari sabtu dan istri tetanggaku pulang kerja jam 1 siang, sedangkan bagiku hari sabtu adalah hari libur. Istriku tidak ada di rumah mengajak jalan- jalan anakku sambil mengambil pesanan barang. Sedangkan pada saat itu aku sangat ingin menyetubuhi tetanggaku, karena hampir seminggu tidak ada kesempatan menikmati tubuhnya.
    Pada saat aku duduk di ruang tamu, kulihat tetanggaku menghampiri rumahku dan kemudian mengetuk pintu. Pintu kubuka, Dia terlihat kaget dan senang karena yang membuka adalah aku. Lalu dia bertanya “Ada Ibu ,
    Pak ?”
    “Mau cari Ibu atau cari saya…?” kataku sambil berbisik.
    “Ibu bisa …, bapak juga boleh…” jawabnya sambil tersenyum. Lalu “Tapi kalau ketemu Ibu keperluannya beda..dengan bila bertemu dengan Bapak..” lanjutnya dengan penuh arti.
    “Masuk dulu, Bu ! ‘Nggak enak dilihat tetangga..” kataku mempersilahkan masuk.
    Diapun masuk dan duduk di kursi tamu yang membelakangi jendela, sementara itu pintu rumahku tetap terbuka, akupun bertanya padanya “Ada perlu apa, ke Ibu ?”
    “Biasalah… Pak, keperluan perempuan…, saya mau beli jamu kuat dan jamu khusus untuk wanita…, siap- siap… karena hari ini suami saya pulang…”Cerita Sek Indo
    “Kalau gitu…, jatah saya kapan..? padahal saya lagi pingin nich..!”
    “Sebenarnya saya juga lagi pingin…, tapi… gimana yah…?” dia menjawab dengan bingung.
    “Kalau sekarang.., gimana ? “ kataku sambil menghampiri dirinya dan duduk disebelahnya dan langsung menciumnya dengan nafsu. Dia membalas ciumanku, kemudian melepaskan ciumanku sambil mendorong tubuhku dan berkata “Ihh, nekad..!” “Habis…, udah ‘ga tahan sich..!” jawabku sambil mencubit dagunya dengan gemas
    “Sebenarnya…, saya juga udah ‘ga tahan…., tapi dimana…?, orang lain pasti akan curiga, kalau kita lakukan sekarang di kamar bapak ?” bisiknya dengan nafas yang mulai tersengal- sengal didorong hawa nafsu yang mulai sudah menguasainya.
    “Kita main disini saja, di ruang tamu, sehingga dari jendela kita bisa melihat kalau ada yang datang. Dan biarkan pintu terbuka… biar orang lain tak curiga…” Usulku nekad.
    Kebetulan pintu tamuku sejajar dengan pintu pagar, sehingga dari jendela akan terlihat kalau ada yang akan masuk ke halaman rumahku. Tetapi posisi ruang tamuku agak tersembunyi sehingga segala aktivitas di dalamnya tidak terlhat dari luar.
    “Jangan ah.., Pak. Berbahaya….” Jawabnya, namun nampaknya dia sudah mulai tergoda dengan usulku.
    “’Ngga lah… asal kitanya jangan bersuara….., saya ingin merasakan sensasi nikmat bercampur rasa takut ketahuan…….”
    Aku semakin memaksanya sambil kembali melumat bibirnya dengan nafsu yang membara.
    Nampaknya gairah nafsu berahi sudah menguasainya sehigga melupakan rasa takutnya dan dia membalas lumatan bibirku dengan ganas dan kedua tangannya merengkuh kepalaku agar semakin rapat bibir kami menempel.
    Tanganku meremas buah dadanya yang terhalang oleh baju longgar dan jilbab yang dikenakannya. Matanya terpejam menikmati ciuman yang panas bergelora. Dan dia semakin liar menciumku sambil menahan agar erangan nikmat tak keluar dari mulutnya.
    Nafas kami berdua semakin tersengal- sengal, tanganku beralih ke bawah, kutarik baju panjang yang menutup kaki dan pahanya dan tanganku langsung menyusup keselangkangannya. Kurasakan cd-nya sudah sangat basah, rupanya sensasi bercinta sambil was-was takut ketahuan membuat gairah rangsangan melayang tinggi begitu cepat dan membanjiri vaginanya.Cersexgam2016
    Kusisipkan jari-jariku dari pinggir cd yang dikenakan, sehingga jari tanganku menyentuh permukaan vagina yang ditumbuhi jembut lembut yang merangsang. Dengan penuh nafsu tanganku mengusap bahkan mengobok- obok permukaan vagina yang semakin memacu gairahku. Jari-jariku mempermainkan lipatan vaginanya yang basah.
    Tetanggaku mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan giginya gemeretak menahan nikmat yang menimpa dirinya dan menahan nafas agar suara erangan nikmatnya tak keluar.
    Lalu jempol memutar dan menekan klitorisnya yang menonjol keras, badannya bergetar…, mulutnya semakin rapat tertutup.., kepala terdongak dengan mata yang terpejam. Nafasnya semakin terengah-engah menahan nikmat yang tak terhingga.
    Sementara jempolku memberikan rangsangan kenikmatan pada dirinya, jari tengahku kuputar dengan gerakan mengebor menembus liang vagina yang semakin basah dan licin. Tubuhnya bergelinjang hebat dan melonjak-lonjak melambungkan dirinya sehingga melayang-layang. Gerakan jari tengahku yang menerobos liang vagina sambil berputar terus kuperdalam dan badannya semakin bergelinjang hebat, kepalanya semakin keras menekan sandaran kursi sehingga pinggangnya melenting, dengan suara yang tertahan keluar lenguhan nikmat tanpa dapat dia tahan
    “Uuhhhhh……”
    Jempolku terus menekan dan memutar klitorisnya, sedangkan jari tengahku semakin cepat memutar dan mengocok liang vaginanya. Tubuhnya semakin hebat terguncang hingga akhirnya melenting kejang dan kaku, dan dari mulutnya keluar suara tercekik..”Akkkhhhhh…..”. Jari tengahku terasa seperti dijepit oleh dinding basah dengan sangat kuat disertai dengan kedutan-kedutan yang keras
    Lalu tubuhnya melemas dan punggungnya terhempas pada sandara kursi. Nafasnya tersengal-sengal seperti atlit yang baru mencapai finish. Ya…, tetanggaku baru saja mencapai finish dengan memperoleh kenikmatan orgasme yang sangat sensasional.
    Aku mencabut jariku dari liang vaginanya yang becek, ku arahkan jari tengahku pada hidungku dan kuhirup dalam-dalam aroma lendir vagina yang menempel pada jari tengahku yang basah kuyup itu . Aroma itu begitu merangsang berahiku dan membuatku nikmat. Aku begitu menikmati aroma vagina itu lalu dengan penuh perasaan kujilati lendir vagina yang menempel dijariku dengan jilatan-jilatan yang rakus hingga jari tengahku kesat bersih dari lendir vagina yang menempel.
    Di dalam kelelahannya, tetanggaku memperhatikan apa yang kulakukan, dia merasa puas dan bangga melihat aku dengan rakusnya menjilati lendir vaginanya yang menempel di jariku. Gairahnya gembali bangkit mengalahkan rasa lelah yang menderanya. Tubuhnya bangkit, Tangannya membuka sleting celana panjangku dan mengeluarkan batang penisku yang sangat keras dan tegang dari pinggir CD yang kukenakan.
    Penisku langsung berdiri bebas dengan gagahnya terbebas dari kungkungan celanaku. Tetanggaku menggenggam pangkal penisku dengan jari-jarinya yang halus dan secara perlahan dan pasti lidahnya terjulur menjilati kepala penisku, bahkan seluruh batang penisku dijilatinya dengan penuh gairah seperti sedang menjilati es krim yang sangat nikmat. Akupun melenguh pelan menahan nikmat..
    ”Uhhh…”.
    Jilatannya begitu lincah bergairah dan membuatku melayang-layang nikmat pantatku melonjak-lonjak sehingga kepala penisku menekan-nekan mulutnya, seperti sedang mengejar sesuatu yang lebih nikmat. Nafasku semakin memburu ketika dengan asyik dan penuh gairah dia terus menjilati kepala penisku tanpa memperhatikan gelinjang tubuhku yang semakin keras menekan mulutnya. Lalu “Akhhhhs…”
    Suaraku seperti tercekik dan nafas sesak, ketika secara tiba-tiba mulut tetanggaku mencaplok batang penisku. Rongga mulutnya terasa panas dan sangat nikmat sehingga membuat mulutku ternganga, badanku kaku dan dadaku sesak susah bernafas. Dengan lincahnya, tetanggaku terus mengocok dan menghisap penisku membuatku semakin melayang. Jilbab yang dikenakannya bergoyang-goyang menampilkan pemandangan yang sangat erotis dari seorang wanita berjilbab lebar yang sedang asyik memberikan kenikmatan oral pada diriku.Cerita Dewasa Sange Berat
    Penisku yang berada dalam genggaman tangan dan mulutnya terasa makin membengkak keras.
    Menyadari itu tetanggaku semakin bergairah mengoralku dan berharap mulutnya dapat disemprot oleh spermaku pada saat aku orgasme. Sebagaimana yang sering terjadi jika dia mengoral suaminya dan dia sangat puas, bahagia dan bangga jika dapat membuat suaminya orgasme oleh oralnya. Dan selama ini dia selalu berhasil membuat suaminya orgasme.
    Gerakan oralnya semakin bevariasi membuatku semakin melayang dan penis yang semakin membengkak. Namun aku belum juga mencapai puncak, hanya nafasku saja yang semakin tersengal-sengal dan batang penis yang semakin keras membengkak.
    Akhirnya dia tak tahan oleh nafsunya sendiri yang terus meningkat minta dipuaskan, vaginanya terasa sangat basah dan gatal. Dia bangkit melepaskan penisku dari mulutnya kemudian melepaskan cd-nya yang sudah sangat basah. Cd itu dimasukkannya ke dalam saku baju longgar yang masih menempel di tubuhnya. Kemudian berdiri membelakangiku.
    Aku tahu apa yang dilakukannya. Kuhentikan gerakannya dan dudukku pindah ke kursi yang langsung menghadap jendela sehingga kami bisa lihat jika ada yang mau masuk ke pagar rumahku. Aku masih berpakaian lengkap, hanya penisku saja yang menerobos keluar dari sleting celana yang terbuka.
    Blesshhh…. perlahan-lahan dia menurunkan pantatnya hingga kepala penisku menerobos liang vaginanya. Gerakannya demikian perlahan, sehingga penerobosan kepala penisku pada liang vaginanya begitu lama dan sangat nikmat, mataku terpejam menikmati nikmat yang kurasakan dan dengan pelan mulutku mngeluh “Uhhh…..”
    Gerakan penerobosan itu terhenti ketika pantatnya menekan sangat rapat bagian bawah perutku sehingga batang penisku amblas hingga kepangkalnya. Dia menekan cukup lama vaginanya, kurasakan sambutan meriah dilakukan oleh dasar liang vaginanya terhadap kepala penisku.
    Kepala penisku serasa dihisap dan diremas nikmat oleh vagina tetanggaku ini. Dinding vaginanya tak henti-hentinya berkedut memberikan sensasi nikmat pada ujung-ujung syaraf nikmat yang ada pada seluruh permukaan kepala dan batang penisku. Secara perlahan pinggulnya berputar agar batang penisku mengucek dan mengocok dinding vaginanya, kenikmatan semakin melambungkanku.
    Semakin lama gerakan pinggulnya semakin bervariasi, berputar, melonjak, bergoyang, patah-patah bahkan maju- mundur membuat batang penisku seperti diplintir dan digiling oleh mesin penggilingan nikmat.Cerita ngentot memek tembem
    Semakin lama gerakannya semakin cepat, dan nafasnya semakin memburu dan tak lama kemudian badannya melonjak-lonjak keras dan diakhiri dengan tekanan vagina yang sangat kuat sehingga penisku masuk sedalam- dalamnya, dinding vaginanya dengan dahsyat memeras dan menjepit batang penisku dengan sangat kuat serta kedutan-kedutan dinding vagina begitu cepat .
    Badannya terdiam kaku, mulutnya terkatup rapat menahan agar jeritan nikmatnya tak keluar dan kepalanya ditekankan pada pundakku, lalu beberapa detik kemudian badannya terhempas lunglai diatas tubuhku, nafasnya terengah-engah. Kusibakan jilbab lebar yang menutupi wajahku, tetanggaku menoleh kearahku dan menciumku lembut dan mesra sebagai tanda bahwa sangat puas dengan orgasme yang baru digapainya.
    Sambil berciuman kurasakan bahwa jepitan dan kedutan dari dinding vaginanya semakin melemah, pantatku menghentak keatas, sehingga batang penisku yang masih tegang menggesek dinding vagina yang semakin basah dan licin, rasa nikmat kembali menjalar ditubuhku mengakibatkan pantatku tanpa dapat kukendalikan pantatku menghentak-hentak agar gesekan dan kocokan penisku di dalam vaginanya terus-menerus memberikan rasa nikmat pada penisku.
    Hentakan-hentakan tubuhku menyebabkan gairah kembali bangkit dan dia membalas hentakan-hentakan pantatku dengan gerakan pinggul yang liar, semakin lama semakin liar dan tak lama kemudian kembali dia mengejang menggapai nikmat dengan mulut yang terkatup rapat ditandai dengan remasan dan jepitan yang kuat dari dinding vaginanya pada batang penisku.
    Beberapa kali dia mencapai orgasme dalam posisi seperti itu dalam jeda waktu hanya beberapa menit untuk setiap pencapaian orgasme berikutnya.
    Hingga akhirnya dia benar- benar terkulai lemah tidak mampu membalas hentakan-hentakanku. Kubiarkan dia terkulai beberapa menit di atas tubuhku sambil badannya kupeluk dari belakang dan pipinya kucium dan secara perlahan kuremas- remas buah dadanya dari luar baju longgarnya.
    Setelah kurasakan tenaganya terkumpul, kuangkat tubuhnya agar berdiri bersamaan dengan tubuhku, namun kutahan agar penisku tidak lepas dari vaginanya, kudorong tubuhnya agar mendekat ke kursi tamu yang berada tepat membelakangi jendela, kutekan punggungnya agar membungkukkan badan dengan memegang bagian atas sandaran kursi yang berada di pinggir jendela sebagai pegangan untuk menjaga keseimbangan tubuhnya,
    Sedangkan penisku masih menusuk vaginanya dari belakang melalui belahan pantatnya, suatu posisi doggy style sambil berdiri. Ujung baju lebar yang ia kenakan semakin aku sibakkan ke arah pinggangnya sehingga kedua tanganku dapat memegang pantatnya yang putih bulat menggairahkan.
    Perlahan aku mulai mengerakkan pantatku agar penisku menusuk-nusuk vaginanya lebih dalam. Cengkraman vaginanya dalam posisi seperti ini semakin kuat menjepit membuat kenikmatanku semakin bertambah, basah dan licinnya vagina membuat gesekan dan kocokan penisku begitu lancar di dalam vaginanya. Kepalanya terangguk-angguk menerima hentakan dan dorongan pinggulku.
    Kenikmatan kembali menjalar ke seluruh pembuluh darahnya, dia membalas sodokan penisku dengan menggoyang dan memutar pinggulnya laksana seorang penari dangdut membuat kenikmatan yang kuterima semakin bertambah. Semakin lama goyang pinggulnya semakin liar dan menghentak-hentak dan tak memerlukan waktu lama kembali tubuhnya kejang kaku, tangannya mencengkram sandaran kursi dengan sangat kuat, kepalanya terdongak ke atas.
    Dengan jerit tertahan kembali dia mengalami orgasme yang hebat. Kudiamkan sejenak ketika dia menikmati sensasi orgasmenya, karena pada saat itu aku sangat menikmati cengkraman, jepitan dan kedutan- kedutan dinding vagina pada penisku. Setelah kedutan dan cengkraman dinding vaginanya melemah, kembali aku menusuk-nusukkan penisku. Setelah beberapa detik kemudian pinggulnya kembali bergerak liar membalas sodokan-sodokan penisku, dan hanya beberapa menit berselang kembali dia mengalami orgasme untuk yang entah keberapa kalinya pada saat itu.
    Beberapa kali ia orgasme dalam posisi seperti itu hingga akhirnya tubuhnya ambruk ke atas kursi dan mengeluh pelan dan panjang.Cerita sek abg gakau
    “Uuhhhhhhh………”
    Pada saat itu, aku merasa orgasme akan menghampiriku, maka tubuhnya langsung kubalik agar telentang dengan kepala berada pada sandaran kursi bagian tengah. Kedua tanganku kugunakan untuk membuka lebar-lebar pahanya sehingga vaginanya yang basah dan licin semakin jelas terlihat mempesona.
    Kuarahkan kepala penisku pada mulut liang vaginanya dan dengan cepat kudorong penisku hingga amblas sampai ke pangkalnya. Lalu dengan semangat yang menggila aku pompa tubuhnya dengan hentakan-hentakan yang liar dan tak terkendali.
    Beberapa saat sebelum aku meraih puncak orgasmeku, samar-samar kulihat istri dan anakku pulang dan sedang ngobrol dengan temannya beberapa meter sebelum tiba di depan rumah.
    Rasa takut yang datang tiba- tiba menyebabkan aku menjerit tertahan dan spermaku pun muntah tanpa dapat kubendung. Cret…..cret…. cretttt……. Uhhh…. suatu pencapaian orgasme yang sangat mendebarkan dan membuat jantung ini serasa mau copot.
    Dengan tergesa-gesa aku mencabut penisku yang masih beberapa kali memancarkan sperma, sehingga beberapa tetes sperma menempel pada baju longgar yang dikenakan tetanggaku dan beberapa tetes. Kumasukkan penisku yang masih setengah tegang ke balik celanaku dan kutarik sleting celanaku.
    Aku sedikit khawatir karena bagian depan celanaku begitu basah oleh cairan kenikmatan tetanggaku. Aku langsung mengeluarkan beberapa dus jamu dari dalam lemari dan menyimpannya di atas meja, sementara tetanggaku berusaha merapihkan baju longgar dan jilbabnya agar tidak mencurigakan. Ada sedikit basah di sana-sini oleh keringat kami yang membanjir.
    Tetanggaku berusaha duduk tenang, dan tak lama kemudian istri dan anak- anakku masuk ke rumah melalui pintu yang sengaja terbuka.
    “Eehhh… ada tamu…! Udah lama, Bu ?” kata istriku seraya matanya melirik beberapa dus jamu yang kusimpan di atas meja.
    “Ahh…., ‘Ngga… baru saja…., Anu bu …, saya mau beli jamu yang biasa…, namun ternyata bapak tidak tahu, malah akhirnya dia perlihatkan semuanya pada saya…” Sahut tetanggaku berbohong dengan lihainya, sambil berusaha menutupi kegugupannya….
    “Oohhh…, emangnya bapak udah pulang ? ” tanya istriku dengan senyum penuh arti
    “Kabarnya malam ini dia pulang…” jawab tetanggaku pula
    “Harus siap-siap dong…., biar asyik !” goda istriku sambil tertawa genit pada tetanggaku, kemudian dia menambahkan lagi “Panas sekali udara saat ini, Badan saya basah oleh keringat…” Kata istriku memperlihatkan bajunya yang basah oleh keringat.
    “Betul.., Bu ! Akan turun hujan barangkali…..” jawab tetanggaku seolah-olah mendapatkan alasan yang tepat atas keringat yang membasahi baju longgarnya.
    Kutinggalkan mereka berdua di ruang tamu dan aku masuk ke kamarku sambil berbaring dan merenung kejadian luar biasa yang baru saja terjadi. Tak lama kemudian tetanggaku pulang dan istriku menghampiriku. Dia duduk di pinggir tempat tidur dan berkata “Pah…, kalau pipis jangan jorok…, malu kan sama tetangga, lihat tuh bagian depan celana Papah basah !” sambil menunjuk bagian depan celanaku.
    “Anu…, Mah tadi tersiram dari gayung…, waktu papah pipis” kataku berbohong. Kejadian itu betul-betul mendebarkan, namun aku merasakan sensasi yang luar biasa pada waktu melakukannya, apalagi hampir-hampir saja istriku memergoki apa yang kami lakukan. oleh sebab itu sejak hari itu, aku selalu berhati-hati jika ingin bercinta dengan tetanggaku. Dan petualangan kamipun berlanjut, asalkan tidak ketahuan istriku dan suaminya.
    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,
  • Cerita Sex Cewek Imut Minta Dipuasin

    Cerita Sex Cewek Imut Minta Dipuasin


    108 views

    Perawanku – Cerita Sex Cewek Imut Minta Dipuasin, Minggu itu ryan baru saja bangun, anak sma 17 tahun itu bangun terlalu pagi, tepat pukul 3 pagi itu dia terbangun. Karena masih mengantuk, ia coba tidur lagi, tapi tidak bisa, karena itu ia memilih mengambil hpnya dan membuka facebook saja. Ryan melihat ada 1 permintaan pertemanan, saat dibuka, ia jadi melek, karena yang baru saja di confirm pertemanannya itu adalah akun cewek cantik. Lalu ia membuka profil cewek itu, tampaknya ia pernah tau.

    Beberapa saat setelah melihat lihat fotonya, ia baru tau kalau cewek bernama Sheila itu adalah teman sekolah smp nya dulu, yang saat kelas 2 pindah sekolah lain. Ryan kemudian mengirim pesan di facebook Sheila, bertanya kabar dan dimana ia sekarang. Setelah itu karena mulai ngantuk lagi, dia kembali tidur. Tepat jam 8 pagi di hari minggu itu, Ryan terbangun, lalu ia segera merapikan kamar dan lanjut mandi.
    Setelah mandi Ryan baru ingat kalau tadi pagi ia mengirim pesan di facebook Sheila. Setelah ia check lagi, Sheila sudah membalas pesannya, Katanya dia baik baik saja, ia sebenarnya sekolah diluar kota, tapi hari itu dia sedang mampir dirumah bibinya yang ada dikota Ryan. Ryan mulai berfikir untuk menemui teman smpnya itu.
    Ia mengirim pesan apakah hari ini Ryan boleh mampir ketempat bibinya Sheila, dan cewek itu memberi ijin, Sheila juga memberi alamat lengkapnya. Segera Ryan memakai pakaian favoritnya, lalu pergi rumah Sheila. 20 menit perjalanan ditempuh Ryan, dan ia pun tiba dirumah Sheila.
    “Ryaan, heeii” Ryan melihat sesosok cewek didepan rumah itu, dan dia adalah Sheila yang mengenakan kaos hijau, terlihat memang cewek itu sangat cantik, Ryan sampai bingung kenapa teman smpnya dulu itu jadi semanis itu.
    “Hai, Sheila kan?”,
    “iya, kamu lupa ya?”,
    “ya gimana lagi, kamu tambah cantik sih…”,
    “bisa aja kamu yan, masuk dulu yuk” Lalu segera Ryan masuk kerumah itu, ia segera duduk dikursi teras.
    “Kamu sekolah dimana sekarang yan?”,
    “aku di SMA X, kalau kamu?”,
    ” aku kan diluar kota sma nya yan, di SMK X”,
    “ooh, smk jurusan apa sih?”,
    “Jurusan perawat yan”,
    “pantesan”,
    “knapa yan?”,
    “Ya kamu pinter ngerawat diri, jadi makin cantik, haha” Canda tawa Ryan dan Sheila beberapa saat itu membuat mereka ingat saat saat di smp, ya memang dulu Ryan Sangat tertarik dengan Sheila, namun karena Sheila pindah, Ryan tidak bisa meneruskan perjuangannya.
    Beberapa saat kemudian keluar sesosok pria yang disusul seorang wanita, tampaknya itu ayah dan ibu Sheila. “Loh, siapa ini Sheila?”,
    “itu pacar aku ma” Sontak Ryan kaget sekali, kenapa dia bisa dibilang pacar Sheila.
    “loh, anu, saya ini…”,
    “Dia Ryan pa, pacarku yang baru..”,
    “Ooh, gini dong Sheila, cari pacar yang ganteng”,
    “anu bu… saya…” Ryan tampak melihat Sheila menyuruhnya diam, dan menuruti kata katanya.
    “Mama sama papa mau kemana?”,
    “Looh kita mau pulang Sheila, kan udah dari kemarin disini…”,
    “aduh ma, aku disini dulu ya, nanti biar dianterin pacarku pulang deh…”,
    “Ya udah, Ryan, jagain Sheila ya, kami pulang dulu”,
    “i..iya bu, siap…” Lalu Segera Mama dan Papa Sheila pergi. Setelah itu Ryan mulai bertanya mengenai ulah Sheila itu. “Eh, Sheila, napa kok kamu bilang aku pacar kamu sih?”,
    ”udaah, ya biar gak ikut pulang dulu, hehe”,
    “kenapa emangnya?”,
    “Dirumah gak ada temennya, disini kan ada kamu, hehe”, Ryan bingung harus ngomong apa, karena ia justru senang karena dibilang pacarnya Sheila.
    “Ryan, masuk dalem yuuk”,
    “Ngapain? Disini aja, sungkan sama bibi mu”,
    “halah, gak papa, bentar deh aku panggil bibiku deh”. Beberapa saat kemudian Bibinya Sheila muncul, dan tampak membawa beberapa keranjang makanan.
    “Eh ada tamu, di ajak masuk aja itu temenmu Sheila”,
    “Iyaa, bibi mau kemana?”,
    “mau kerumah saudara, tapi kamu masih disini, jadi gimana kalau kamu jaga rumah dulu?”,
    “Iya deh bi…”,
    “Mas nya ini lama gak disini?”,
    “Ndak kok, saya..”,
    “Ryan nemenin Sheila kok bi…”,
    “ooh, ya sudah, bibi pergi dulu ya” Lalu Bibi Sheila segera pergi. Sheila tampak gembira sekali. “Sebenarnya kamu kenapa sih?”,
    “udah sini masuk dulu…”. Segera Ryan ditarik masuk kedalam rumah oleh Sheila.
    “Ryan, kamu mau ngentot gak?” Buset, Ryan makin kaget, tidak ada dipikirannya kalau cewek secantik Sheila akan mengatakan hal yang seperti itu.
    “Jangan ngawur kamu Sheila, kan kita baru…”, Belum selesai bicara, Sheila sudah mencium Ryan, bukan main kagetnya. “Udah deeh, kamu kan dulu pas smp suka banget sama aku kan?”, “itu kan dulu, kan sekarang…” Ryan menghentikan perkataannya, karena tentu ia tidak mau menyia nyiakan cewek secantik Sheila.
    “Sekarang aku masih suka kamu kok, Sheila”,
    “hee, gitu dong”,
    “emang kamu belum punya pacar ya?”,
    “aduh Ryan, aku itu nungguin kamu…”,
    “ya udah, kamu mau gak jadi pacar aku?”,
    “mau doong, uuummm” Sheila lalu mencium bibir Ryan, Entah dari mana anak sma seperti Sheila bisa menirukan gerakan gerakan orang dewasa, semisal memutar mutar lidahnya didalam mulut Ryan, atau cara mencium yang meningkatkan gairah. “mmm…mmm…slruup..mmm”,
    “cup…mmm..kamu blajar dari mana Sheila?”,
    “mm…cup….aku sering nonton film bokep sih…mmm…keknya nikmat…cup..mmm”.
    Setelah asyik bercumbu, Sheila menarik Ryan masuk kekamar bibinya. Lalu cewek itu segera melompat keatas kasur,
    “Ryan sayaang, sinii doong” Cowok sma seperti Ryan melihat cewek cantik menggodanya, mana bisa menolak, segera Ryan naik keatas kasur itu, dan memeluk Sheila.
    “Kamu udah ngebet banget kayaknya ya”, “pokoknya aku mau ngentot sama kamu, gak boleh ditolak! Hehe” Beberapa saat Ryan dan Sheila saling pandang dan terdiam, lalu Ryan tiba tiba mendekat dan melumat bibir manis Sheila.

    Sambil asyik menciumi cewek cantik itu, tangan Ryan mulai mengelus ngelus tubuh Sheila, tangannya sekarang sedang asyik mengelus perut mulus Sheila, perlahan dia naikan kaos hijau itu naik, terlihat sekarang bh Sheila masih menutup buah dadanya.
    “mmm…cup..mmm..udah pengen pegang toket ku ya yang?”,
    “kamu yang minta tadi, hehe”,
    “mm…cup…kamu udah pernah ngeseks gak sih yan?”,
    “belum sih”, “aku juga belum pernah..mmm..cup..mmm…asyik dong”,
    “kamu gak nyesel kan Sheilaku sayang?”,
    “gak deh, kan udah lama aku tunggu”. Kemudian mereka berhenti berciuman, dan membuka semua pakaiannya.
    Ryan hanya bisa terpesona dengan kemolekan tubuh Sheila, cewek manis itu tubuhnya mulus sekali, buah dada imut Sheila tidak begitu besar, namun itu sangat mempesona. Sheila masih menutup selangkangannya, jadi Ryan perlu menunggu untuk bisa menikmati memek perawannya itu.
    “Yaang, kok ngelamun, aku emang cantik banget ya? Haha”,
    “aduh Sheila, kamu itu bidadari, duh cantiknya, sini sini…” Dua anak remaja yang bugil itu terlihat mulai beraksi, Ryan yang penisnya sudah mendongak ketas itu, mendekati Sheila dan mulai meremas buah dada imutnya.
    “duh gemes, imut banget deh”,
    “mmmf…geli yan, mmmmf”. Lalu dikecupnya buah dada itu, Ryan juga menjilati puting merah muda Sheila. “uuuhf…mmmf…Sini Yang aku kocok kontolmu” Lalu Penis Ryan yang berdiri itu mulai dikocok tangan mulus Sheila, tampak Ryan merasakan kenikmatan luar biasa, tak pernah ia memimpikan dikocok penisnya oleh bidadari.
    “uuuuh…enak banget…Sheila…hebat kocokanmu…uuuh”. Sheila dan Ryan sedang asyik menikmati pengalaman pertama
    mereka.
    Croot croot, Ryan memuntahkan sperma keatas, dan mengenai buah dada Sheila.
    “uuuh, maaf ya yang, udah gak tahan”,
    “wah, aku belum pernah ngocok kontol cowok, ternyata yang keluar ini, sllruup..” Sheila yang cantik itu lalu menelan kepala penis Ryan dan menyedot sisa sperma didalam penis itu, Ryan hanya bisa merem melek merasakan kenikmatan itu.
    Setelah itu Sheilajuga menjilati buah dadanya sendiri yang dibasahi sperma Ryan. Sontak pemandangan indah itu membuat Ryan semangat lagi, Penisnya kembali tegak.
    “mmm… udah ngaceng aja yang, hehe”,
    “gak tahan aku sama kecantikanmu yang, sungguh aku beruntung”,
    “Hehe, ayo sini kamu masukin kedalem” Sheila kemudian merebahkan tubuhnya dan membuka kedua kakinya, Ryan sangat bahagia melihat vagina mulus Sheila hanya diselimuti bulu bulu tipis, apa lagi memek cewek barunya itu masih
    perawan.
    “Sini, biar aku lumasi dulu memiaw mu ya…mmm” Ryan mulai menciumi bibir vagina Sheila, lidahnya yang sudah masuk kedalam liang senggama itu mulai berputar putar menjilati seisi lubang nikmat itu,
    “aaahn…mmmf…uuuh…geli yan….ooooh”,
    “mmm…slurp..mmm…memek kamu wanginya menggoda yang…mmm” Ryan kemudian menjilati klistoris Sheila, ia juga asyik menggigit kecil klistoris itu, tampak Sheila makin mendesah keras.
    “aaahn…aaahn…mmmf…oooh..oooh” Tiba tiba Ryan merasa ada yang mengalir keluar dari lubang itu, ternyata air kewanitaan Sheila sudah keluar, segera Ryan menghisap memek Sheila untuk menikmati Air segar itu.
    “slruuup..mmm..slruuup..nikmatnya..mmm”, “oooh, Ryan, sayang…mmmf…uuuuhf”.
    “Sekarang Aku masukin penisku ya”,
    “mmmf..iya Ryan sayaang, puasin aku ya”, Pelan pelan kepala penis Ryan yang tegak itu sudah menempel dibibir vagina Sheila.
    Lalu sedikit demi sedikit penis itu mulai masuk kedalam, Sensasi luar biasa itu membuat Ryan menggigit bibirnya sendiri. Lalu penisnya berhenti karena ada sebuah dinding pelindung,
    “Sheila sayaang, keperawananmu buat aku yaa..”,
    “Iya Ryan sayang, aku….aaaaaaaahn!!!” Darah segar mengalir keluar dari memek Sheila, keperawanannya sudah diambil Ryan.
    Kemudian Penis anak sma itu segera mulai bergerak maju mundur,Ryan merasakan sensasi yang sangat luar biasa nikmat, dinding vagina sempit itu membuat penisnya dipijat terus dengan nikmatnya.
    “ooooh, nikmat banget yang, memekmu, oooh, kontolku diremas remas.
    “Ryan kemudian meningkatkan kecepatan gerakan penisnya, maju mundur maju mundur, penis itu asyik menyodok memek sempit Sheila.
    “aaah.,..aaaah…aaah…uuuh…oooh..mmmf…yaaan…uuuf…aaaahn”, Sheila yang mendesah terus itu tubuhnya mulai menggelinjang karena digenjot cowok idamannya.
    Ryan masih terus bergerak maju mundur menabrak Memek sempit Sheila dengan penisnya, mata cowok itu sedang terhenti melihat wajah Sheila yang memerah karena merasa kenikmatan, Ryan sangat senang dan bahagia, cewek secantik dan semulus Sheila kini jadi penikmat hasrat seks nya.
    Beberapa menit itu Ryan terus menggenjot dan meniduri cewek manis itu, Sheila hanya bisa menahan kenikmatan yang dirasakannya.
    “mmmf…yaan…uuuh..aaah…aku… udah gak tahan…aahn”, Penis Ryan yang masih bergerak didalam memek sempit itu terasa dibasahi Cairan kewanitaan Sheila lagi. Lalu Penisnya dicabut, dan Ryan yang ada diatas pacar barunya itu memeluk erat tubuh mulus itu,” Sheila, Aku cinta kamu.. oooh!” Crooot croot crooot Penis Ryan memuntahkan Sperma kearah perut dan buah dada Sheila.
    “mmm…Ryan sayang.. makasih ya… aku puas banget…, aku cinta kamu…”,
    “Sheila, terima kasih ya, kamu memang tercantik didunia ini…” Lalu Mereka berdua tersenyum dalam pelukan hangat.
    Setelah itu Sheila dan Ryan pergi kekamar mandi dan mandi bersama, meski sempat asyik berhubungan seks lagi disana, mereka memilih segera kembali keluar karena takut bibinya Sheila akan segera pulang. Sore itu Bibinya sudah kembali,
    “Wah, kalian masih anteng duduk disini ya”,
    “i..iya bi, sebenarnya saya mau nganter Sheila pulang”,
    “Iya, bibi Sheila tinggal gak papa kan?”,
    “iya deh, makasih udah jagain rumah ya..”, “Iya bi, Sheila pulang dulu ya…”. Lalu segera Sheila diantar pulang Ryan dengan motornya.
    “Yang, nanti kalau kita udah lulus, kita nikah ya…”,
    “Aku kuliah dulu dong Sheila sayaang”,
    “aduh, nanti jadi gak bisa ngeseks lagi dong..”,
    “ya nanti kalau mau kita ngeseks dirumahku bisa”,
    “yee, makasih ya yang”. Lalu Pasangan baru itu jadi makin dekat, beberapa kali mereka mencoba untuk berhubungan seks lagi.
    Entah kenapa pasangan ini bisa tetap bersatu dan akhirnya menikah.

    cerita seks, cerita sex, cerita bokep, cerita sex dewasa, cerita sex sedarah, cerita panas, cerita seks dewasa, cerita sex terbaru, cerita sex bergambar, cerita sex tante, kumpulan cerita sex, cerita dewasa hot, cerita dewasa sex, cerita sex hot, kumpulan cerita dewasa, cerita sex selingkuh, cerita dewasa bergambar, cerita seks sedarah, cerita dewasa sedarah, cerita bercinta, cerita seks terbaru, kisah sex,